Title : Vongola Café
Genre : Mystery / undecided
Pairing : Undecided, slight Allx27
Warning : Sho-ai, OOC, AU
Colabfic with Ciocarlie-senpai
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
Inspirated by Ghost Only Manga © Shin and Yui
…
Chapter 2, Second Life?
…
"Sepertinya ayah dan ibumu tidak pernah ada Tsunayoshi?" anak kecil itu menoleh, menatap mata biru pria berambut kuning yang tampak muncul tiba-tiba. Tidak ada ketakutan akan fakta bahwa pria itu muncul tiba-tiba, anak itu tersenyum tipis dan kembali bermain dengan mainannya.
"Mereka sedang sibuk, tetapi tidak apa-apa—Tsuna sudah biasa seperti ini kok," seolah tidak terjadi apapun, seolah ia sudah biasa diperlakukan seperti ini—dikucilkan oleh orang-orang disekelilingnya.
"Kau benar-benar tidak apa-apa Tsunayoshi?"
"Tidak apa-apa… lagipula, …-san bersama denganku," tersenyum lebar kearah pria itu, dan dibalas dengan senyuman lembut dan tepukan hangat di kepalanya sebelum pria itu memposisikannya duduk di hadapan Tsuna untuk bermain dengannya.
…
Membuka mata hazelnya, menemukan dirinya berada di kamarnya—mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya membuka mata sepenuhnya dan bangkit dari tempatnya duduk. Menguap lebar, merenggangkan tangannya ke atas sambil melihat jam dinding yang ada di kamar bernuansa abu-abu itu.
'Masih ada waktu untuk bersiap-siap,' menggaruk kepala belakangnya dan berdiri dari tempat tidur bergaya Victorian itu dan menuju ke kamar mandi. Diantara kamar yang ada di rumah itu, memang kamar Tsuna yang tampaknya paling terlihat modern dan juga terang, 'ngomong-ngomong—sejak tinggal di rumah ini sepertinya aku tidak pernah terlambat ataupun mengantuk walaupun aku hanya tidur setengah dari waktu tidurku…'
…
'Sudahlah tidak perlu difikirkan,' menggelengkan kepalanya dengan cepat dan segera bersiap-siap untuk sekolah yang dimulai satu jam lagi itu, 'mimpi semalam aneh, rasanya seperti memori yang terlupakan…'
Mengingat pria berambut kuning yang wajahnya tidak pernah bisa ia ingat, terdiam sejenak dari pekerjaannya untuk membasuh muka dan menyikat giginya.
"Siapa sosok itu?"
…
Berjalan kebawah, tidak ada siapapun disana—hanya ada suasana remang-remang dan juga suara jangkrik musim panas yang terdengar dari hutan yang mengelilingi mansion itu.
"Aku berangkat—"
"Berhenti anak muda—" seseorang memegang kerah belakangnya, membuat Tsuna menghentikan langkahnya dan melihat sosok G yang tampak mengantuk dengan kantung mata yang tebal dan juga rambut yang acak-acakan. Memang, waktu pagi hingga siang adalah waktu para penghuni rumah lainnya untuk tidur.
"G—G-san, ada apa?"
"Aku sudah menyiapkanmu sarapan," menunjuk makanan Jepang yang tampak berada di atas meja kecil bergaya Eropa, membuat Tsuna terkejut karena tidak biasanya ia bisa sarapan di mansion itu mengingat kalau semuanya masih tertidur saat jam segini, "kau harus makan dulu—"
…
"G-san membuatkannya untukku?" langkah G terhenti saat mendengar hal itu, tidak menjawab apapun dan mendengus pelan.
"A—apakah ada yang salah? Boss menyuruhku untuk membuatkanmu makanan agar kau tidak lemas saat berada di sekolah," menoleh dengan sedikit semburat merah di wajahnya, membuat Tsuna terkejut karena tidak menyangka Hibari akan seperduli itu padanya—yang sebenarnya ditujukan untuk Giotto yang menyuruh G, "cepatlah makan atau kau akan terlambat! Bekalmu juga sudah ada di sana…"
"Ya, terima kasih G-san!"
Duduk di meja dan memakan makanan yang disiapkan oleh G. Tampak juga G yang duduk di hadapannya dan hanya menatap Tsuna yang memakan makanan itu.
"Aku salut dengan pengetahuan memasakmu G-san, ternyata orang yang berpengalaman selama 400 tahun itu memang berbeda ya," hampir saja kepala G terantuk di meja mendengarkan perkataan Tsuna. Entah apa alasannya, tetapi tampak G yang sweatdrop dan menghela nafas panjang.
"Empat ratus tahun?"
"Semuanya juga berkata seperti itu—kau memang sudah hidup selama 400 tahun bukan?" Tsuna bertanya inosen dengan tatapan bingung dan tanda Tanya imajiner.
"A—anggap saja seperti itu," G tampak menghela nafas dan menatap kalender di dekat mereka yang menunjukkan tanggal 21 Juni saat itu. Terdiam sambil menghela nafas, tampak tatapannya yang terlihat sedih sejenak.
"Ada apa G-san?"
"Huh—oh tidak," menggeleng cepat dan mencoba untuk menghindar dari pertanyaan Tsuna, melihat kembali kalender itu, "aku punya adik yang seumuran denganmu Tsunayoshi…"
"Hm? Seumuran denganku?"
"Saat terakhir kali aku melihatnya sih, namanya adalah Gokudera Hayato…" terbatuk yang dibuat-buat, seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak diketahui oleh Tsuna, "orang-orang mengatakan kalau kami sangat mirip meskipun aku tidak bisa menerimanya…"
"O—Oh begitu, aku jadi ingin melihat adik G-san seperti apa—" tertawa pelan dan menyuap sendok terakhir makanan itu, "—mungkin aku bisa melihat hantunya kalau memang ia masih belum tenang seperti kakaknya…"
"Hei, apa maksudmu itu—"
"Ahahaha tidak apa-apa," Tsuna tertawa dan melihat jam dinding di dekatnya, menunjukkan bahwa 30 menit lagi sekolah akan dimulai. Dengan segera bangkit dan akan menaruh makanan itu di tempat cuci, "ah—aku bisa terlambat, aku pergi ke sekolah dulu G-san!"
"Baiklah—" G tampak menatap Tsuna yang dengan cepat mencuci semua piring yang tadi ada diatas meja, "oh, bocah itu menitipkan ini untukmu—" memberikan dua buah kertas pada Tsuna yang langsung dibuka olehnya, "—katanya titipan kalau kau kembali kemari saat pulang sekolah."
Ini adalah daftar belanjaan yang kemarin belum kau belikan…
Harus dapat hari ini, atau kau akan dapat akibatnya Herbivore!
Dan—untuk jalan pulang, kau bisa menjemput seseorang kemari? Aku punya alamatnya untukmu…
Jemput dia pukul 17.00 tanpa ada kata terlambat.
Kau tidak berhasil, kamikorosu…
Tsuna tampak jawdrop saat melihat memo dari Hibari itu—benar-benar khasnya yang menyuruh tanpa memikirkan nasib orang yang disuruhnya. Melihat alamat yang ditujukan oleh Hibari, seketika itu juga wajahnya memucat saat menyadari sesuatu.
"I—inikan kompleks pemakaman kuno…"
"Semoga berhasil—" melambaikan tangannya dan menguap pelan, berbalik dan mengibaskan tangannya menjauhi Tsuna.
…
Setelah tugas belanja ia selesaikan hingga pukul 16.15, ia segera bergegas menuju ke alamat yang dituju karena jaraknya yang cukup jauh dan mungkin memakan waktu hingga 1 jam kesana. Berlari dengan beberapa kantung belanjaan—mungkin beberapa orang bisa saja menatapnya aneh karena membawa belanjaan sebanyak itu tetapi tujuannya adalah kuburan.
Sampai di kompleks perkuburan saat pukul 17.00 tepat, mengambil nafas dan mencoba untuk melihat sekeliling sambil membaca catatan letak batu nisan yang harus ia kunjungi. Hari sudah semakin gelap, langit berubah menjadi orange dan tampak suasana disana semakin remang.
Mungkin bagi orang biasa, tempat ini tampak sepi tanpa ada sosok apapun disana—tetapi bagi Tsuna, jam segini adalah waktu dimana para hantu mulai muncul dan bangun dari tidurnya. Dan saat ini suasana tampak sangat ramai dengan berbagai macam hantu.
'Hi—Hibari-san benar-benar ingin membunuhku!'
"Nomor G02, menapaki tangga di sekeliling kuburan, mencoba untuk menahan tangisnya dan terus mencari nomor yang dimaksud. Mendapatkan urutan G, dan mencoba untuk mencari nomor 2. Menemukan makam yang diinginkan, tetapi yang membuatnya terkejut adalah saat menemukan seseorang yang tampak berdiri di depan makam itu.
"Eh—" menatap pemuda berambut perak dengan mata hijau tosca yang membelakanginya dan juga menatap makam itu, yang membuatnya terkejut adalah bahwa orang itu bukanlah hantu—tetapi manusia. Dan semakin mengejutkan saat melihat fakta bahwa orang itu sangat mirip dengan sosok hantu yang ia kenal dengan baik.
'G—G-san?'
Sepertinya pemuda itu menyadari keberadaan Tsuna dan menoleh untuk kemudian terdiam tidak mengatakan apapun selama beberapa saat.
"Se—selamat sore…" mencoba untuk melihat makam yang menjadi tujuannya untuk berhenti, gerak-geriknya membuat pemuda itu mengerutkan alisnya dan menatap Tsuna.
"Kau ada perlu dengannya?" menunjuk dengan jempolnya kearah makam yang ada di belakang pemuda itu, Tsuna tidak mungkin mengatakan kalau ada seseorang yang menyuruhnya menjemput entah siapa yang berada di depan makam itu bukan?
"A—aku mengantarkan bunga untuknya—entah dari siapa," sepertinya ia mengerti kenapa Hibari menaruh list Bunga di memo untuk ia beli. Sedangkan Tsuna, tidak bisa membayangkan kalau Hibari sendiri memiliki ketertarikan akan bunga.
"Bunga?" Tsuna mengangguk, pemuda itu tampak masih bingung walaupun ia memberikan gestur untuk Tsuna bisa meletakkan bunga itu di depan batu nisan itu. Melihat nama yang ada di batu nisan itu—
"Gabrielle?" terkejut dengan nama yang ada disana, bukannya tidak mengenal nama itu, bahkan ia mengenal dengan baik nama yang taboo untuk disebutkan di Vongola Café itu.
…
"Eh apa?"
Melihat kearah Tsuna, mencoba untuk mendengar dengan baik apa yang menjadi pertanyaan dari satu-satunya manusia ditempat itu.
"Iya, tidak mungkin namamu hanya G. kan? Siapa nama aslimu?"
…
Hening sejenak, tampak angin yang berhembus dingin disekeliling mereka tanpa ada satu orangpun yang mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Tsuna. Sebelum akhirnya seseorang datang—pemuda berambut melon berwarna biru muda.
"Nfufufu—kau ingin tahu nama aslinya Tsunayoshi?" mengangguk dengan sangat antusias, Spade tampak mendekati Tsuna.
"OI KEPALA MELON!"
Tidak menghiraukan teriakan dari G, ia mendekat dan berhenti didepan telinga Tsuna.
"Nama aslinya adalah—"
…
"Gabrielle—G-san?"
"Bagaimana kau bisa kenal dengan G?" menaikkan sebelah alisnya, pemuda berambut perak itu tampak terkejut mendengar nama yang disebutkan Tsuna.
"E—eh," Tsuna menatap kearah tanggalan yang ada di makam itu, 28 Juli. Jadi, sikap aneh dari G yang ia lihat adalah karena satu minggu lagi adalah hari kematiannya. Tetapi tahun dari kuburan itu—
"Huh—10 tahun yang lalu?" menaikkan sebelah alisnya, yang ia tahu dan ia dengar adalah G sudah hidup selama 400 tahun. Bahkan ia lupa kalau pemuda ini masih ada dan menunggu jawabannya.
'Aku memiliki adik yang seumuran denganmu—'
"G—Gokudera-kun?" menunjuk dengan mata terbelalak, dan mulut sedikit terbuka—tidak percaya kalau ia akan bertemu dengan adik dari G—bahkan dalam keadaan hidup seperti sekarang.
"Kau bahkan tahu namaku? Siapa kau—"
'Aku ingin kau menjemput seseorang—'
"Jadi begitu—" memegang tangan Gokudera, menariknya tanpa menjawab semua pertanyaan dari pemuda itu.
"H—hei, ada apa ini!"
"Ada seseorang yang ingin kutemui!" menoleh kearah pemuda itu dan pada akhirnya berlari menuju ke Vongola Café tempat yang lainnya berada disana untuk membuka toko.
…
"Apakah menurutmu ia akan datang lagi ke makammu G?"
Tampak pemuda yang disebut oleh G sebagai Giotto itu duduk di salah satu kursi sambil mengobrol dengan pemuda berambut Magenta itu. Menghela nafas, menggelengkan kepalanya pelan.
"Entahlah, ia sudah mendapatkan hidup yang lebih baik di Italia—"
"Tetapi ia selalu kesana satu minggu lamanya sebelum hari kematianmu bukan?" Giotto menatap sedih kearah G yang tampak menundukkan kepalanya sebelum menghela nafas berat dan panjang.
"Lalu apa yang harus kulakukan—bahkan ia tidak bisa melihatku lagi…"
"Tetapi—"
"Aku kembali!" tampak suara Tsuna yang membuat Giotto terkejut dan segera menghilang dari sana meninggalkan G sendirian menyambut Tsuna yang tampak tergesa-gesa. Berdiri dari tempatnya dan akan menghampiri Tsuna yang baru datang.
"Ah, kau sudah datang Tsu—" perkataannya terhenti saat melihat seseorang yang dibawa oleh Tsuna. Pemuda yang mirip dengannya, memiliki rambut perak dan juga mata hijau tosca—satu orang yang mengisi kehidupannya yang kedua, "—Ha…yato?"
"G-san, dia—"
"Hei apa-apaan kau ini—kenapa kau membawaku ketempat ini!" melepaskan tangan Tsuna dan melihat sekelilingnya dimana ia tidak bisa melihat para hantu yang ada di tempat itu, "lalu apa yang kau maksud dengan G! Ia tidak mungkin ada disini—ia sudah meninggal!"
"Tetapi G-san ada di—"
"Sudah kembali herbivore—" mendengar suara yang dikenalnya, tampak Hibari yang turun dengan aura gelap dan juga tekanan yang biasa terlihat di sekelilingnya. Mendekat dan melihat Gokudera yang ada disana, "—sukses membawanya eh?"
"Be—begitulah Hibari-san," Tsuna dengan segera bersembunyi di belakang Gokudera yang tampak bingung dengan apa yang dilakukan oleh Hibari. Sementara G tampak hanya terdiam dan menatap adiknya itu tanpa ekspresi yang berarti.
"Siapa kau?"
"Aku adalah pemilik tempat ini—selamat datang di Vongola Café, kami sudah menunggumu datang," menatap dingin dengan ekspresi datar, Gokudera bisa merasakan bulu kuduknya berdiri melihat tatapan Hibari itu.
"Memang siapa—dan apanya yang café, aku tidak melihat pegawai ataupun tamu di tempat ini!"
"Kakakmu berada disini—" baik G maupun Gokudera menatap Hibari yang blak-blakan mengatakan hal itu, "—ia menginginkan untuk bertemu denganmu…"
"OI HIBARI!" G tampak marah saat mendengar perkataan dari Hibari yang seenaknya saja itu. Namun, bukan Hibari kalau mudah mengalihkan perhatian begitu saja hanya karena G yang tampaknya kesal padanya itu.
"Kakak? Ja—jangan bercanda, ia tidak mungkin berada disini. Ia sudah meninggal 10 tahun yang lalu!" menatap Tsuna dan juga Hibari, G sendiri tampak menghentikan apapun yang sedang ia lakukan dan menatap Gokudera, "bagaimana mungkin ia bisa berada di sini sementara ia sudah tertidur di dalam tanah selama 10 tahun lamanya!"
"I—ini adalah café yang khusus dibangun untuk para hantu Gokudera-kun," Tsuna tampak menatap G dengan tatapan khawatir lalu menatap kearah Gokudera, "walaupun kakakmu sudah meninggal, ia tetap saja berada di tempat ini…"
…
"A—aku tidak ingin bertemu dengannya," menggelengkan kepalanya cepat dan menutup matanya sambil menundukkan kepalanya. Menyenderkan tubuhnya dan memegangi kepalanya seolah berdengung hebat.
"Te—tetapi Gokudera-kun, apakah kau—"
"Hentikan! A—aku yang membuatnya tidak tenang," tampak takut dan menatap kearah lantai dengan sorot mata yang kosong, "i—ia pasti tidak tenang karena aku…"
"H—Huh?"
"A—akulah yang membuatnya tewas," tubuhnya semakin bergetar, sementara Tsuna dan juga yang lainnya tampak tertegun dan menatap kearah G yang tampak menatap adiknya dengan tatapan kosong, "a—aku yang membunuhnya. Karena aku dia meninggal—"
…
Karena perkataan dari Gokudera itu tampaknya membuat Tsuna harus membongkar kembali apapun yang ia ketahui tentang informasi mengenai G. Memutuskan untuk membawa Gokudera yang tampak tidak sehat dan meletakkannya di kamar yang ada di samping kamar G, Tsuna dan juga yang lainnya kembali bekerja untuk menjalankan Vongola Café itu.
Tsuna tidak bisa tenang, ia terus menerus memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Hibari hingga memanggil Gokudera, sementara dari yang ia tangkap—adik dari G itu mengatakan kalau ia yang membunuh G.
"Kau sudah mendengarnya bukan Tsunayoshi—" lamunannya terbuyar saat mendengar suara G yang tampak tidak menatapnya tetapi sedang berbicara dengannya, "—aku memang baru meninggal 10 tahun yang lalu. Tetapi kehidupanku memang sudah dimulai sejak 400 tahun yang lalu…"
"E—eh?"
"Tahu kehidupan selanjutnya—atau sering disebut reinkarnasi?" Tsuna mengangguk, membelalakkan matanya saat mengerti arah dari perkataan itu, "ya—tidak semua orang bisa mengingat tentang kehidupan mereka sebelumnya. Tetapi, karena sesuatu dan lain hal—aku bisa mengingat kehidupanku saat berada di masa 400 tahun yang lalu sejak aku lahir…"
"La—lalu, apa yang dimaksud Gokudera-kun dengan…"
"Ia hanya tidak bisa menerima kematianku—" tersenyum sambil menghela nafas, "—bukan karena ia aku tewas, karena bagaimanapun tugas seorang kakak adalah untuk melindungi adiknya bukan?"
…
'G—kau benar-benar tidak apa-apa pergi dalam keadaan seperti itu?' suara di handphone tampak terdengar cukup jelas. Pemuda berambut merah dengan tattoo di wajahnya sangat mencolok dibandingkan orang-orang yang lainnya. Menghela nafas, sudah berapa kali ibunya menelponnya untuk memastikan kalau ia tidak apa-apa.
"Tenang saja ibu—aku hanya sebentar bukan? Lagipula Hayato sudah lama menginginkannya," G tampak tersenyum dan melihat Gokudera kecil yang berada di sampingnya yang tampak senang dan bersenandung kecil, "aku juga sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit bukan?"
'Tetapi—kau harus berhati-hati G, jaga Hayato juga…'
"Tenang saja ibu, kami akan kembali secepatnya," tertawa dan mematikan handphonenya.
"Aniki, ayo cepat—lampunya akan merah!" menarik tangan G, mencoba untuk mengajaknya menyebrang dan kedalam toko yang ada tepat di sebrang jalan itu. G hanya menghela nafas dan mengangguk, berjalan dengan menggandeng erat adiknya yang berbeda 15 tahun darinya itu.
"AWAS!" suara orang-orang tampak terdengar saat tiba-tiba saja ada mobil yang melaju ugal-ugalan menuju ke arah mereka. Tidak sempat G merespon apa yang terjadi, tiba-tiba saja yang ia rasakan hanyalah benturan yang membuat tubuhnya merasakan sakit sebelum kegelapan memenuhi dunianya.
…
"Ja—jadi, karena kecelakaan itu G-san tewas?" Tsuna yang mendengarkan cerita G tampak sangat serius mendengarnya dan mencoba untuk mencerna semua perkataan dari G.
"Bukan, aku masih selamat di kecelakaan itu walaupun mata kananku jadi tidak bisa dipakai lagi," menunjuk perban yang menutupi mata kanannya, "bahkan Hayato yang saat itu sekarat karena terkena benturan cukup keras di trotoar itu."
"Lalu kenapa—"
…
"A—apa yang kau katakan G?!" ibunya tampak menatap G yang memaksakan dirinya untuk bangun dari tempat tidurnya dan menuju ke sebuah ruangan intensif yang menampakkan tubuh adiknya yang dihubungkan dengan semua alat-alat yang bahkan tidak ia ketahui fungsinya. Karena kecelakaan itu membuat jantungnya menjadi lemah dan hanya memiliki waktu sedikit untuk diselamatkan.
Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah tranplantasi jantung dalam waktu kurang dari 1 minggu.
"Apakah perkataanku kurang jelas ibu…" menghela nafas dan menatap ibunya yang masih tidak percaya dengan apa yang menjadi keputusannya, "bagaimanapun—umurku juga tidak panjang karena penyakit ini bukan? Daripada Hayato meninggal dalam waktu yang lama sementara ia harusnya hidup lebih lama lagi, lebih baik aku mendonorkan jantungku untuknya…"
"Te—tetapi, kalau kau melakukan itu…"
"Tidak apa-apa, lagipula aku sudah mendapatkan persetujuan dari ayah—" tersenyum lebar sambil menatap ibunya itu. Ia tahu, ayahnya hanya memikirkan Hayato yang merupakan anak kandungnya. G dan Hayato hanyalah saudara yang sama ibu—sementara ayah kandungnya sudah meninggal sebelum ibunya menikah lagi dan melahirkan Hayato.
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Tentu saja karena Hayato adalah adikku—" tersenyum tipis dan menghela nafas pendek, "—bukankah memang tugasku untuk melindunginya?"
…
"Kalau aku pergi, ibu bisa menggantikanku menjaganya bukan?"
…
"Yah, sebenarnya aku tidak ingin Hayato tahu kalau aku yang mendonorkan jantungku untuknya—" memangku kepalanya dengan sebelah tangan, tampak menghela nafas panjang karena mengingat semua itu, "—entah bagaimana ia bisa mengetahuinya…"
Melihat kearah Tsuna yang matanya sudah basah karena air mata, membuat G sweatdrop karena Tsuna.
"Hei-hei, aku sudah meninggal sebanyak 2 kali, apakah kau fikir aku tidak bisa mengatasinya?" G mencoba untuk menenangkan Tsuna yang masih menangis, "lagipula kehidupanku sebelumnya lebih menyusahkan…"
"Memang, bagaimana kehidupanmu sebelumnya G-san?" Tsuna yang sudah cukup tenang tampak menatap G yang terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun pada Tsuna tentang kehidupannya yang sebelumnya. Saat ia akan angkat bicara, tiba-tiba saja suara seseorang yang melangkah cepat terdengar dan terlihat Gokudera yang mencoba untuk melihat kekiri dan kekanan.
"Gokudera-kun?"
"Aku—mendengar suara aniki…"
…To Be Continue…
Oke ^^ chapter 2 selesai, dan menceritakan tentang G dan juga Hayato :p ternyata ketahuan kalau G itu memang hidup dimasa 400 tahun sama-sama Giotto, tapi dia pernah lahir kembali sampe 10 tahun yang lalu sebelum jadi hantu :3
Ah, makasih buat Ace Aihara (dikirain buat hantu itu cocoknya ke horror sih ' 'a tapi saya ganti deh ^^a ini Horror yang dimaksud itu bukan horror yang mencengangkan atau menakutkan sih makanya masukin humor buat genre kedua) dan X-Eddreine-X (Toko bahagia… Yang saya contek cuma dari Ghost Only kok, itu aja Cuma konsep ceritanya doang ' ') sudah review cerita ini ^^ makasih juga buat yang fave/Follow ceritanya ^^
