Hard to Say "Daisuki"
.
.
Disclaimer:
Pokoknya GS bukan punya aku! Tapi Athrun ama Kira punya aku! *ditendang*
.
Warning :
Super duper OOC, GaJe, menarik *dotendang karena ke-PD-an*, dll(dan lupa lagi).
Ah, sudah pasti typo di mana-mana
.
Spesial Thanks:
Ritsu-ken
wew... disambut oleh Ritsu-ken! Haha ucapanmu yang tentang Seme-Uke menambah daya khayalku dalam pembuatan Fict ini, repiuw lagi? *Plak*
Ishylotyzz
Hehehe... sorry gak bisa kilat, banyak kerjaan ni.. *alasan* ini udah update, jika berkenan silakan repiuw lagi... (_ _)
Vizta
Sudah lanjut! Baca lagi cuy!XD
And
All of Silent Readers...
Happy reading...
Cagalli Yula Atha uring-uringan sejak pagi tadi. Bagaimana gadis itu tidak uring-uringan jikalau sahabat si gadis, Lacus Clyne, tengah 'terkurung' di dunia lain sejak kemarin, lebih tepatnya sejak kejadian bento buatan Lacus yang diterima oleh sang pria pujaan, siapa lagi kalau bukan Kira Yamato?
Jika kalian membayangkan 'dunia lain' yang dimaksud oleh Cagalli adalah dunia di mana para makhluk macam Iblis, setan, malaikat, roh halus dan sebangsanya tinggal. maka kalian salah besar, karena yang dimaksud oleh Cagalli adalah ….
Cagalli melirik ke arah sahabat 'merah muda'nya yang sedang memangku tangan sembari tersenyum-senyum gaje. Sesekali kepalanya di goyangkan ke kiri dan kanan kemudian tersenyum lagi dengan rona merah – yang menurut Cagalli – menjijikan. Cagalli mendesah. Inilah 'dunia lain' yang dimaksud oleh Cagalli, dunia imajinasi seorang Lacus Clyne berkat senyuman seorang Kira Yamato.
Voila! Hanya dengan seulas senyuman dari seorang Kira Yamato – sekali lagi Cagalli menekankan HANYA SEORANG KIRA YAMATO – membuat seorang Lacus Clyne ….
Membuat seorang Lacus Clyne yang anggun menjadi ….
Membuat seorang Lacus Clyne pujaan semua orang menjadi ….
Menjadi….
Menjadi….
.
.
Kh….
.
Gadis tomboy berambut blonde itu tak mampu mendeskripsikan keadaan sahabatnya yang sekarang akibat efek sweatdrop yang parah.
"Ne, Lacus," panggil Cagalli akhirnya yang di sambut oleh pandangan bersinar-bersinar, entah Cagalli berhalunasi atau tidak, tapi gadis itu bersumpah melihat bintang yang berkerlap-kerlip di mata baby blue milik sahabatnya. Cagalli semakin frustasi karena disuguhkan pemandangan 'menyakitkan' mata itu.
"Argh! Bisakah kau berhenti memasang wajah yang menjijikan itu!" perintah Cagalli dengan suara yang keras dan sambil menjambak rambutnya sendiri, akibat frustasi tingkat akut karena ke-OOC-an sahabatnya itu.
"Hihihiihi,"
Bukannya marah atau apa karena dibilang 'memasang wajah yang menjijikan,' Lacus Clyne malah tertawa. Sekali lagi ditekankan, DIA MALAH TERTAWA dan tidak terlihat tersinggung sama sekali.
Cih, cinta memang benar-benar bikin orang jadi gila.
"Ah, Cagalli kalau marah imut deh~" puji Lacus sembari memamerkan senyum tercantiknya yang berakibat semua bulu kuduk Cagalli berdiri.
WHAT THE -
Dia di bilang imut?
Oh, beruntung sekali Lacus yang telah bersahabat sejak kecil dengan Cagalli sehingga gadis yang dijuluki pink princess itu lolos dari tinju yang biasa di'hadiahi' oleh Cagalli kepada orang-orang yang memanggilnya imut atau cantik.
"Kupikir kau mabuk nona Lacus Clyne," ucap Cagalli sewot, Lacus tertawa geli. Gadis itu kemudian berdiri dari duduknya sembari menangkupkan kedua tangannya di dada. Kemudian menggerakkan tubuhnya dengan irama, ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang dan berputar sambil bersenandung pelan.
"Kau tahu betapa senangnya aku ketika Kira-kun menerima bento yang kubuatkan untuknya?" cerita Lacus dengan rona pipi yang merah. Kelopak matanya tertutup, menghayati setiap debaran yang terasa panas namun menyenangkan ketika memori otaknya mengulang peristiwa saat Kira Yamato menerima bento buatannya.
Menghiraukan Cagalli yang tidak merespon ucapan Lacus, Lacus kembali bercerita, "Membayangkan saat Kira-kun memakan bekal yang kubuatkan untuknya membuatku berdebar-debar," kemudian gadis pujaan semua orang di Orb Senior High School itu menghampiri Cagalli dengan histeris.
"Duh Cagalli, Kira-Kira apa yang akan dikatakan oleh Kira-kun ya? Apakah masakan yang kubuat itu enak? Apakah Kira-kun akan sakit perut karena memakan makanan yang kubuat ya?" tanya Lacus super duper khawatir. Cagalli menghela nafas frustasi.
"Tenanglah, aku sudah mencicipi masakanmu dan buktinya aku baik-baik saja," ucap Cagalli menenangkan. "Lagipula masakanmu enak kok, aku salut deh padahal itu masakan pertamamu," ucap Cagalli lagi, berusaha menenangkan Lacus dengan setengah hati. Lacus tersenyum agak kaku, kemarin, setelah Kira menerima bento buatannya, gadis itu langsung ambil langkah seribu karena jantungnya sudah tidak kuat lagi menahan detakan yang semakin mendekati over maksimum karena mendapat 'serangan' maut dari Kira sehingga tidak sempat melihat reaksi Kira saat memakan bento buatannya itu.
"Iya, semoga saja seperti itu, ya kan?" harap Lacus kemudian memasang senyuman lagi, kali ini, gadis itu sudah tidak memasang ekspresi yang membuat sahabat tomboynya itu mencak-mencak. Cagalli tersenyum saja.
"Kau lebih cantik kalau bersikap seperti ini," ucap Cagalli tersenyum seperti seorang pemuda yang memuji... er…. Kekasihnya?
"Hehehe" hanya itu tanggapan dari Lacus.
Cagalli ikutan tersenyum, Hm… satu yang dipelajarinya dari seseorang yang sedang jatuh cinta, mood dan tingkah mereka selalu berubah secara drastic hanya dalam waktu beberapa detik….
OOOoooOOO
Langkahnya menggema di lorong sekolah. Semua orang langsung mengalihkan pandangan mereka kepada sosok yang memang selalu menjadi pusat perhatian. Orang-orang yang berada di jalur depan kedua orang yang tengah berjalan anggun itu langsung menyingkir ke samping dan ikut-ikutan menatap mereka.
Lacus Clyne menebar senyum anggunnya ketika orang-orang di sampingnya menatapnya penuh kekaguman. Berbeda dengan sahabatnya, Cagalli Yula Atha yang hanya memasang wajah datar namun terlihat anggun dan er… sedikit maskulin?
Sukses membuat para kaum hawa menjerit tertahan karena 'ketampanan' seorang Cagalli, membuat Cagalli langsung merinding disko. Hei, setomboy apapun dia, dia itu masih normal! Garis bawahi kata 'normal' itu.
Sementara para perempuan menjerit tertahan karena Cagalli, para lelaki di sekitar lorong tempat Cagalli dan Lacus berjalan tengah berblushing ria, malah ada yang sampai mimisan karena – mungkin – membayangkan sesuatu yang agak berbau rated M akibat terlalu lama melihat keindahan tubuh dan kecantikan Lacus yang bak titisan sang dewi.
"Seperti biasa kalian selalu menarik banyak perhatian orang-orang," suara seseorang di belakang Cagalli-Lacus membuat keduanya menoleh dan menampilkan ekspresi yang berbeda. Athrun Zalla, putra dari Patrick Zalla, salah satu anggota dewan rakyat yang di segani di Negara Orb ini.
"Zalla-kun," panggil Lacus anggun sembari memamerkan senyum anggunnya.
Sepertiga laki-laki yang ada dalam radius tempat Lacus berada langsung tepar karena mimisan tingkat akut.
Ruang UKS Orb High School terancam penuh lagi.
"Kalian mau ke mana?" tanya Athrun Zalla, kehadiran pemuda berambut biru itu menambah hysteria tertahan dari para perempuan di sekitar sana, merasa bersyukur karena jarang-jarang trio idola di sekolah mereka bertemu seperti itu.
"Memangnya ada urusan apa denganmu?" tanya Cagalli balik dengan nada judes seperti biasanya. Athrun hanya tertawa sambil sweatdrop. Entah apa salah Athrun pada seorang Cagalli sehingga gadis itu selalu bersikap temperamen padanya.
Ah, Athrun, kalau saja kau lebih teliti melihat rona merah samar yang ada di pipi Cagalli, kau pasti tahu apa jawabannya….
"Sst… Pangeran Cagalli dan pangeran Athrun sedang memperebutkan putri Lacus," bisik-bisik itu terdengar di telinga Cagalli, membuat dada Cagalli panas membara. Hei, apa semua perempuan di sini benar-benar memanggilnya dengan sebutan 'pangeran'?
Dan sepertinya bisik-bisik itu terdengar juga di telinga Lacus.
"Anu, Zalla-kun, Cagalli-chanbisakah kita bicara di tempat lain saja?" tanya Lacus dengan senyumnya yang begitu menggoda dengan sedikit penekanan di beberapa kata untuk menyindir para Cagalli's fans.
Athrun yang memang pintar membaca situasi membalas senyum Lacus.
"Tentu saja."
Cagalli mendecih.
OOOoooOOO
Tempat lain itu adalah perpustakaan tua yang selalu dipakai Lacus dan Cagalli untuk 'mengungsi' dari serbuan para fans mereka.
Athrun yang pertama kali di ajak mereka bersiul kagum ketika memasuki perpustakaan tua tersebut.
"Tempat persembunyian yang bagus," puji Athrun. Perpustakaan yang mereka datangi terlihat dari luar memang jelek dan tidak terurus, namun begitu masuk ke dalam, perpustakaan bergaya kuno yang artistic langsung menyapa mata mereka. Di tambah berpuluh-puluh rak buku yang memanjang sampai langit-langit gedung perpustakaan. Buku-buku di dalam gedung terawatt dengan bersih.
"Terima kasih," ucap Lacus senang karena tempat persembunyiannya di puji.
"Boleh aku melihat-lihat buku-buku di sebelah sana?" tanya Athrun sembari menunjuk rak buku yang berisi banyak buku-buku tebal. Lacus mengangguk mempersilakan.
"Setidaknya aku harus berterima kasih kepadamu," ucap Cagalli lirih. Mendengar itu Lacus hanya tersenyum.
"Ya, ada saatnya kau juga membenci dirimu yang tomboy," ucap Lacus sembari tersenyum. Cagalli melirik Lacus dengan semburat merah, membuat Lacus langsung tersenyum.
"Zala-kun memang orang yang baik," ucap Lacus berbisik, membuat pipi Cagalli semakin memerah saja. "Tapi kalau kau tetap memperlakukannya seperti itu, dia bisa salah paham, tahu!"
"Aku... hanya... kau tahu kan? Aku bingung harus bertindak apa jika berada di dekatnya," ucap Cagalli lirih sembari memalingkan wajahnya.
"Bersikaplah sedikit manis kepadanya," ucap Lacus setengah menggoda, membuat Cagalli langsung menghadapkan wajahnya dengan gusar. Namun sebelum gadis itu bersiap buka suara, Athrun sudah ada di dekat mereka.
"Buku-buku di sini bagus-bagus," ucap Athrun dengan dua buah buku di tangannya. "Jika Kira tahu ada perpustakaan dengan buku sebagus ini..."
"Eh?" pekikan tertahan dari Lacus membuat Athrun langsung menatap Lacus bingung. Lacus yang merasa tidak enak berdehem sebentar kemudian tersenyum agak kaku.
"Zalla-kun mengenal... Ki... ekhem... Yamato-kun?" tanya Lacus berusaha sebiasa mungkin.
"Tentu saja. Dia itu teman sekelasku," Informasi terbaru tersebut segera di simpan di memori otak Lacus. "Memang kenapa?" tanya Athrun membuat Lacus menggeleng.
"Tidak apa-apa. Hanya aku selalu melihatnya di taman asyik membaca buku sendirian," ucap Lacus sekali lagi mencoba untuk tidak terlalu antusias membicarakan Kira. Cagalli mendecih, bisa juga anak ini menahan diri untuk tidak gila?
"Hahaha, Iya, Kira itu memang pecinta buku. Tadinya aku berfikir ingin membawanya kemari sekarang juga," ucapan Athrun itu membuat pipi Lacus langsung merah. Jantungnya berdetak kencang sekali, kemari. Kira, sang pujaan hati akan kemari... KYA! Inner Lacus berteriak-teriak girang.
"Sayangnya hari ini dia tidak masuk."
Eh?
"Katanya sih sakit." Ucap Athrun mengingat-ingat, tak menyadari bahwa gadis berambut pink itu kini tengah membatu di tempat. Otaknya mencerna dengan sangat lambat info yang lagi-lagi diambilnya dari Athrun, sumber terpecaya.
Ki-Kira-kun sakit? A-Apakah itu karena bento buatanku? A-apakah...
Sementara Lacus tengah menyalahkan dirinya sendiri, Cagalli Yula Atha hanya geleng-geleng kepala pasrah.
OOOoooOOO
Sesuai dengan saran Cagalli, kini Lacus tengah berada di depan rumah kediaman Kira. Berbekal keberanian dan perasaan bersalah, gadis itu nekat ke rumah Kira. Lacus menegak ludah sekali sebelum memencet bel pintu rumah Kira.
Siapa?
Suara yang terdengar dari speaker dekat Lacus berdiri membuat gadis bermata baby blue itu kaget – saking gugupnya – Lacus menyelipkan rambut panjangnya ke belakang daun telinga sebelum menjawab pertanyaan si pemilik rumah.
"A-anu, na-nama saya Lacus Clyne, saya kemari untuk menjenguk Kira Yamato-kun."
Cklek!
Pintu rumah terbuka, terlihatlah sesosok pemuda berambut coklat acak-acakan yang menatapnya dengan posisi tubuh setengah berbungkuk. Lacus menahan nafas.
"Ki-Kira-kun?"
OOOoooOOO
"Ma-Maaf," ucap Lacus sembari membungkuk ketika Kira Yamato meletakan secangkir teh untuknya.
"Maaf untuk apa?" tanyanya bingung. Lacus duduk dengan gelisah, merasa bersalah.
"Karena bento yang kubuat, ki-Kira-kun jadi..."
Hening. Lacus tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Melihat itu membuat Kira tertawa, Lacus yang bingung karena Kira tertawa langsung mengembungkan pipinya.
"Ke-kenapa tertawa?"
"Karena tingkahmu,tentu saja," ucap Kira membuat muka Lacus memerah. Me-memangnya tingkah memalukan apa yang dilakukannya dihadapan Kira?
Sementara Lacus tengah berbingung-bingung ria dengan pertanyaan tingkah memalukan apa yang telah dilakukannya, Kira, sambil mengulum senyum menatap Lacus.
"Kau itu ternyata lucu dan manis ya?" ucapan itu membuat muka Lacus langsung memerah – lagi. Kira mati-matian menahan tawa karena melihat wajah Lacus yang memerah. "Terima kasih sudah datang menjengukku, Lacus-san."
Seketika itu juga Lacus harus ekstra menahan kesadarannya agar tidak pingsan di tempat Kira saat itu juga.
OOOoooOOO
Entah bagaimana ceritanya sehingga Lacus kini berada di kamar Kira. Jujur saja kejadian ini begitu cepat sehingga Lacus tak bisa menjelaskan bagaimana bisa kini gadis itu berada di dalam kamar Kira, tengah duduk tepat di depan tempat tidur Kira dan Kira sendiri sedang terbaring dengan wajah tenang nan polos yang membuat jantung Lacus tidak kuat lagi menahan rasa untuk tidak berdetak secepat-cepatnya.
Seingatnya, tadi di ruang tamu, tiba-tiba saja tubuh Kira oleng yang langsung ditangkap oleh Lacus dan Lacus bisa merasakan panas tubuh Kira yang tidak biasa. Membuat Lacus secara spontan menyeret – atau menuntun – Kira ke kamarnya dengan susah payah mengingat kamar Kira berada di lantai dua. Lacus mesti bersusah payah menjadi penyangga bagi tubuh Kira yang beratnya dipastikan melebihi berat badan Lacus.
Ngomong-ngomong tentang menjadi penyangga...
PESH!
Wajah Lacus memerah dengan sangat padam. Ta-tadi... ta-tadi itu...
Bukankah tadi adalah kontak fisik pertama bagi Lacus? Menangkap tubuh Kira yang oleng ke depan dengan posisi Kira berada dalam pelukannya. Menuntun Kira ke kamarnya dengan sebelah tangan Kira tersampir di bahu Lacus dan sebelah tangan Lacus memeluk – atau memegang pinggang Kira.
"KYAA!" Lacus berteriak tertahan sembari kedua telapak tangannya yang mungil ditangkupkan ke kedua pipinya. Gadis itu bisa merasakan panas yang melebihi temperatur suhu tubuh biasanya mengumpul di pipinya, di tambah dengan keringat yang tiba-tiba saja merembes keluar dengan cukup deras.
Lacus berharap keringatnya tidak menyebabkan badannya bau di saat bersama Kira.
Ngomong-ngomong tentang Kira...
Lacus menatap wajah Kira yang tidur dengan damai, polos. Lacus tersenyum sendiri melihatnya. Wajah Kira yang tertidur begitu polos, berbeda dengan saat dia terbangun. Wajah datar tanpa ekspresi. Kira selalu memasang wajah datar yang sedikit tegang ketika bersama atau berada di dekat orang lain, namun pemuda itu melepaskan semua ekspresi wajahnya itu ketika dia sedang sendirian ditemani buku-bukunya. Tadipun Lacus cukup kaget melihat Kira-kunnya tertawa lepas seperti tadi.
Lacus memangku kepalanya di kedua telapak tangannya yang bersatu. Mata baby bluenya memandang Kira penuh sayang, memperhatikan wajah orang yang disukainya lekat-lekat. Hei, bagaimanapun juga ini pemandangan pertama yang dilihat oleh Lacus yang menurut Lacus akan menjadi pemandangan yang cukup langka. Kira yang terlihat polos seperti anak kecil. Andai saja dia membawa kamera, gadis itu sudah pasti akan mengabadikan pemandangan ini.
Lacus menghela nafas. Waktu cepat sekali berlalu, membuat Lacus mau tak mau harus kembali ke kediamannya atau nanti akan ada keributan besar-besaran yang terjadi di media massa karena Lacus yang terlambat pulang. Gadis itu beranjak berdiri, merapikan seragam sekolahnya yang berupa dress selutut berwarna biru muda dengan aksen ungu muda. Dilihatnya sekali lagi Kira yang masih tidur dengan nyenyak. Sebenarnya gadis itu ingin sekali membuatkan Kira bubur. Namun, mengingat dapur rumahnya yang hancur berantakan karena dia dengan nekat – meski hasilnya memuaskan, kata Cagalli – membuat bento untuk Kira, membuat gadis bermarga Clyne itu mengurungkan niatnya.
Jadilah gadis itu tersenyum lagi, membisikan ucapan pamit sebelum akhirnya berbalik pergi. Namun...
Grep! (?)
Langkah Lacus berhenti begitu telapak tangannya digenggam oleh seseorang yang sudah pasti digenggam oleh Kira. Memangnya siapa lagi kalau bukan pemuda itu? Setan? Tidak mungkin!
Lacus berbalik dengan muka merona – lagi dan mendapati Kira...
Yang tertidur dengan gelisah sembari bergumam tidak jelas.
Melihat itu Lacus terdiam. Apa Kira sedang bermimpi buruk? Entah apa yang diimpikan oleh pemuda itu namun Lacus tak tega meninggalkannya. Segera saja gadis itu kembali duduk sembari mengusap punggung tangan Kira dengan lembut.
"Ssh... daijobu, aku di sini."
Dibisikannya kata-kata yang selalu didengarnya dari sang bunda yang entah kenapa keluar begitu saja ketika melihat wajah Kira yang gelisah. Kata-kata itu dibisikannya berulang kali sampai akhirnya Kira menggeliat dan kembali tenang.
Lagi-lagi Lacus mengulum senyum.
Meski tidak tahu apa yang diimpikan oleh Kira, Lacus berharap mimpi buruknya menghilang, berganti dengan mimpi indah yang kembali membuat wajah tidur pemuda itu damai.
Karena sebelah telapak tangannya masih digenggam oleh Kira, otomatis Lacus tidak bisa kemana-mana. Untuk mengisi waktu, matanya menjelajas isi ruangan kamar Kira.
Kamar Kira di dominasi warna biru. Biru yang lembut di mulai dari cat kamar, seprai sampai gordennya dengan warna biru yang beraneka ragam. Kamar Kira cukup rapi untuk seorang pemuda. Kata siapa laki-laki tidak bisa rapi?
Tapi ada yang terasa kurang di sini.
Entah kenapa suasana di sini begitu ... sepi?
Mengingat bahwa semenjak tadi Lacus tidak mendapati seorang pun di rumah Kira selain Kira sendiri membuat Lacus mengambil kesimpulan bahwa Kira memang tinggal seorang diri di sini. Di rumah yang cukup luas jika ditinggal sendiri.
Lacus tidak bisa membayangkan dirinya tinggal sendiri di rumah seluas ini. Ya... meski rumah Kira tidak seluas rumahnya, tapi tetap saja, tinggal sendiri itu tidak enak. Kesepian dan kosong.
Ah...
Lacus tersadar. Kembali menatap Kira. Mungkinkah tadi pemuda itu menggenggam tangannya karena dia tidak mau sendirian? Setidaknya meski Kira melakukannya tanpa sadar, justru alam bawah sadarnya menginginkan ada seseorang yang menemaninya, mengawasinya, siapapun itu.
Kesadaran itu membuat Lacus menyimpan telapak tangannya di atas punggung tangan Kira, menggenggam punggung tangan Kira. Dan meski sekilas, sudut bibir Kira melengkung ke atas, wajahnya menampilkan rasa senang dan tenteram.
Membuat Lacus bahagia...
Dan Jadilah Lacus berdiam diri di sana, sampai akhirnya gadis itu menyusul Kira ke alam mimpi dengan wajah tak kalah bahagianya dengan Kira.
Dengan Tangan saling bergenggaman.
OOOoooOOO
Lain Lacus, lain Cagalli. Jika Lacus tengah menikmati kebersamaannya dengan Kira, Cagalli Yula Atha tengah dilanda cemas setengah mati. Matahari sudah terbenam namun putri keluarga Clyne belum pulang juga. Membuat Cagalli harus mengarang-ngarang alasan agar keluarga Clyne yang memang terlalu mengkhawatirkan Lacus tidak menurunkan seribu pasukan khusus untuk mencari hanya seorang Lacus Clyne yang sebenarnya sedang bersama dengan sang pujaan hati.
Ya Tuhan... apa sih yang dilakukan oleh Lacus di rumah Kira hingga dia tidak ingat bahwa keluarganya itu selalu saja berlebih-lebihan jika mengenai dirinya?
Kini, mobil yang di tumpangi Cagalli telah berada di samping rumah Kira.
"Apa nona mau turun?" tanya sang supir sopan. Cagalli menggeleng. Menyandarkan punggungnya di sandaran mobil dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia akan menunggu di sini, hingga jam malam yang aman. Lebih dari itu, gadis itu akan menyeret Lacus pulang meski gadis itu tidak mau.
"Beritahu aku jika dua jam telah berlalu," perintah Cagalli kepada supirnya yang langsung menunduk sopan. Melihat itu, Cagalli menutup kedua matanya.
'Lacus Clyne, kau harus membayar semua ini nanti!' batin Cagalli mengancam.
...
To be Continued
...
Sorry Lama banget updatenya, karena... jujur saja bingung kenapa ceritanya jadi panjang begini ya?
Ah... Lacus jadi bener-bener OOC, gomenne (_ _)"
Btw, anw, aku gak nyangka lho bakal ada yang review... Ya Ampun... untuk seorang pemula di FGSD, tiga review dengan jumlah pengunjung yang lebih dari 30 bikin semangat buat lanjutin fict ini. Kalau cerita ini kurang berkenan, silakan curcol(?) di kotak review...
So... Mind to Review?
