Bocah laki-laki itu menatap kiri dan kanan. Bola matanya memancarkan ketakutan ketika di sekelilingnya tidak ada siapa-siapa, hanya ada kegelapan dan kehampaan di tempat dia berdiri. Bocah berambut coklat itu menangis.
"Kowai..." ucap Bocah itu lirih. Matanya berkaca-kaca. Bocah itu menunduk, ketakutan mengisi setiap inchi tubuhnya. Takut... takut... kenapa tidak ada siapa-siapa di sini?
"Daijobu," suara itu membuat si bocah laki-laki mendongak. Seorang gadis berusia 17 tahunan berada di depannya, tersenyum lembut kepadanya. "Daijobu, aku ada di sini..."
Si bocah laki-laki itu tersenyum lega.
Hard to Say "Daisuki"
.
.
Disclaimer:
Pokoknya GS bukan punya aku! Tapi Athrun ama Kira punya aku! *ditendang*
.
Warning :
Super duper OOC, GaJe, menarik *ditendang karena ke-PD-an*, dll(dan lupa lagi).
Ah, sudah pasti typo di mana-mana
.
Spesial Thanks:
Ritsu-ken; Ishylotyzz; VerinRei; agnes BingBang; ervan76; eurekabigail; Magus-15Ichigo; Ann Kei; Puding-tan; Miyaki osward; haruka; holmes950; Hoshi Uzuki; jeffrey simanjuntak inversy and All Silent readers
Happy reading...
Semoga Chapter ini gak begitu mengecewakan... :D
Kira membuka kedua matanya, menampilkan iris lavendernya yang langsung menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru langit itu. Kira menghela nafas, memegang keningnya yang sudah tidak terasa panas. Pemuda itu beranjak bangun kalau saja dia tidak merasakan sesuatu berada di atas punggung tangan kirinya. Kira tersentak. Apa ada orang selain dirinya?
Kira menoleh, mendapati seorang gadis berambut pink yang tengah tertidur dengan posisi duduk. Kepalanya berada di tepi ranjang Kira dengan menjadikan punggung tangan Kira sebagai bantalnya.
Muka seorang Kira Yamato memerah.
Lacus Clyne?
Apa yang dilakukannya di sini? Di kamarku?
Kira mencoba mengingat-ingat. Ah ya dia ingat! Dia pingsan di saat Lacus menjenguknya. Ukh, memalukan sekali...
Kira melirik jam yang ada di meja dekat tempat tidurnya dan terhenyak. Sudah jam tujuh malam dan seingatnya Lacus menjenguknya sekitar jam empat sore.
Dia menungguiku selama tiga jam?
Tanya Kira dalam hati. Bingung tapi ada juga perasaan senang dalam hatinya. Kalau begitu kata-kata yang ada dalam mimpinya tadi...
Perlahan tangan Kira mengusap puncak kepala Lacus, membuat sang pemilik kepala menggeliat kemudian membuka matanya dan terkejut dengan posisi kepalanya sehingga gadis itu dengan secepat kilat langsung menegakkan tubuhnya kembali, dengan muka yang sangat memerah gadis itu menunduk terlebih ketika menyadari sepasang mata Kira tengah menatapnya, wajah Lacus benar-benar seperti kepiting rebus.
"Ki-Kira-kun..."
"Maaf membuatmu terbangun," ucap Kira membuat Lacus menggeleng. Gadis itu kemudian menoleh ke arah jendela yang menampilkan langit gelap.
Lacus menganga.
"Ya Tuhan!" pekik Lacus panik. Dia melirik jam kecil yang ada di kamar Kira dan makin panik ketika mengetahui jam berapa sekarang. "Ah, Kira-kun aku harus pamit pergi, maaf karena aku tidak bisa menungguimu, Kira-kun," sesal Lacus. Kira menggeleng kemudian tersenyum simpul.
"Aku tidak apa-apa Lacus-san, lebih baik kau pulang sekarang," ucap Kira. Lacus mengangguk kemudian berdiri dan menunduk sebentar.
"Ja, Oyasuminasai," ucap Lacus kemudian berbalik menuju pintu kamar Kira. Kira memandang punggung Lacus yang menjauhinya dengan senyum tulus.
Arigatou, Lacus-san, ucapnya dalam hati.
~Hard To say Daisuki – Ajakan Kencan~
"Untunglah kau segera keluar dari rumah Yamato-kun, kalau kau terlambat beberapa detik saja, entah apa yang akan terjadi pada rumah seorang Yamato Kira," omel Cagalli sambil melipat tangan di depan dada. Lacus hanya menggaruk belakang kepalanya sembari tertawa penuh dengan perasaan bersalah. Ya... dia sadar kalau malam ini dia sudah banyak merepotkan sahabatnya ini.
"Ukh~ Cagalli~" rengek Lacus sambil memeluk leher Cagalli, meminta maaf. Sementara Cagalli tidak merespon, entah pura-pura atau dia benar-benar marah kali ini. "Gomennasaine~" kata Lacus lagi. Cagalli melirik Lacus tajam kemudian kembali ke posenya tadi, jutek.
"Kau tahu bagaimana sulitnya mengelabui ayahmu?" tanya Cagalli membuat Lacus semakin merasa bersalah. "Kau menyusahkan, Lacus!" kata Cagalli lagi.
"Tapi –"
"Apa kau tidak mengerti keadaan tubuhmu sendiri,BODOH!" kali ini Cagalli berteriak, membuat Lacus terhenyak. Kemudian menunduk dengan murung. Sudah lama sekali Cagalli tidak membentaknya seperti saat ini, ini pertanda Cagalli benar-benar marah padanya.
"Nona Lacus, kita sudah sampai ke rumah anda sekarang," ucap supir menginterupsi dengan takut-takut. Siapa yang berani menginterupsi amarah Cagalli?
"Masuklah," ucap Cagalli singkat. Lacus memandang Cagalli nanar kemudian menunduk, sejurus kemudian dia mengangguk, keluar dari mobil Cagalli perlahan masih sambil menunduk. Dia tidak mempedulikan para maid yang menegur dan bertanya kepadanya dengan nada khawatir. Malah menatap mobil hitam milik Cagalli yang semakin menjauhinya.
~Hard To say Daisuki – Ajakan Kencan~
Bukannya Cagalli ingin memarahi Lacus, tetapi melihatnya dan menyadari sesuatu yang hanya diketahui oleh dirinya dan keluarga Lacus tentang keadaan Lacus membuat Cagalli sangat khawatir, dan kekhawatirannya berdampak pada kata-katanya yang keras itu.
Cagalli menjatuhkan tubuhnya ke ranjang king sizenya. Lagipula perkataan Athrun hari ini membuat Cagalli tanpa sadar melampiaskan kemarahannya kepada Lacus.
"Ne, Cagalli,"
"Apa?"
"Sepertinya aku menyukai Lacus,"
Cagalli mendesah, sepertinya besok akan menjadi menyebalkan.
~Hard To say Daisuki – Ajakan Kencan~
Pagi ini Lacus Clyne berjalan dengan lesu. Sepanjang perjalanan kepalanya ditundukkan. Awan mendung setia berada di atasnya. Para penggemar Lacus Clyne memandang pink princess itu dengan tatapan khawatir. Ada apa dengan putri pujaan mereka? Ini pertama kalinya Lacus bersikap seperti itu. Ditambah sekarang Lacus berjalan sendirian, tanpa ada Cagalli di sampingnya, padahal biasanya mereka itu satu paket. Di mana ada Cagalli di situ ada Lacus.
Lacus menghela nafas dengan berat. Memandang langit biru dari jendela tempatnya duduk sambil menopang dagu. Hari ini hari yang berat baginya. Semenjak semalam, tidak ada kabar dari Cagalli, Lacus merasa Cagalli benar-benar marah kepadanya, di tambah, bukankah hari ini Kira Yamato pindah sekolah?
Ukh... Saat mendengar Kira sakit, Lacus melupakan fakta bahwa kemarin itu adalah terakhir kalinya kesempatan untuk menyatakan suka kepada Kira. Dia benar-benar bodoh, padahal kemarin dia berada di dekat Kira, tapi dia malah tidak menyatakan perasaannya, padahal kemarin itu adalah hari terakhir Kira ada Di Orb.
Lacus mendesah pelan. Kenapa sih begitu sulit baginya untuk menyatakan 'suka' kepada Kira? Lacus ingin menangis saat itu juga, ditambah dengan hubungannya dengan Cagalli yang berantakan membuat Lacus semakin ingin menangis. Tapi Lacus menahannya, gadis itu menahannya karena dia tidak suka menangis.
"Clyne-san,"
Lacus tersentak ketika ada yang memanggilnya, dia menoleh ke samping, seorang anak perempuan berambut coklat tersenyum kepadanya.
"Ada yang ingin bertemu denganmu," ucapnya sembari menunjuk ambang pintu kelas. Lacus mengarahkan mata baby bluenya ke ambang kelas dan pipi Lacus merona merah saat itu juga.
~Hard To say Daisuki – Ajakan Kencan~
"Ki-Kira-kun, bagaimana keadaanmu?" tanya Lacus malu-malu.
"Seperti yang kau lihat, Lacus-san, kemarin maaf, karena telah merepotkanmu," ucap Yamato Kira sembari menghela nafas karena merasa bersalah, sebelah tangannya dia selipkan diantara helai rambut dark brownnya, pertanda bahwa pemuda itu salah tingkah. Sementara Lacus hanya mengangguk dengan rona merah di pipinya karena ini pertama kalinya lah mereka berbicara berhadapan seperti ini. "Lagipula seharusnya yang menanyakan kabar itu aku, Lacus-san," ucap Kira membuat Lacus menengadah, menatap wajah Kira yang terlihat khawatir?
"Memangnya kenapa Kira-kun? A-aku baik-baik saja kok," ucap Lacus tidak mengerti. Kira hanya menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, lagi-lagi kebiasaan yang selalu muncul ketika pemuda itu merasa gugup atau salah tingkah.
"Ng... mungkin hanya perasaanku saja, tapi hari ini kau terlihat tidak bersemangat, Lacus-san," Ucap Kira agak kaku namun terdengar sedikit nada kekhawatiran di saat dia berbicara. "Kupikir kau sakit karena kemarin menjagaku berjam-jam," ucap Kira lagi, perhatian, membuat Lacus Clyne hanya menatap wajah Kira dengan pandangan takjub seolah Kira baru melakukan hal yang tidak biasa dilakukannya. Ya... sebenarnya sih memang tidak biasa, mengingat Kira Yamato adalah pemuda yang terkenal dengan julukan si kutu buku yang anti-sosial. Bisa dihitung berapa orang yang mau bersama dengannya, itupun belum dihitung yang benar-benar ingin bersamanya karena menyukai pemuda itu bukan karena terpaksa bersamanya akibat ketiban sial satu kelompok dengan Kira Yamato dalam satu pelajaran misalnya.
"Ki-Kira-kun mengkhawatirkanku?" tanya Lacus dengan hati berdebar-debar, membuat tubuh Kira menegang disebabkan rasa kaget karena pertanyaan itu sepertinya kena telak. Karena pemuda berambut coklat itu langsung saja menoleh ke arah lain, salah tingkah. Melihat gerak tubuh Kira membuat Lacus tersenyum. Pipinya yang putih merona cantik. "A-arigatou, Kira-kun telah mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja," ucap Lacus sembari menunduk. "Daripada itu apa yang ingin Kira-kun bicarakan? Apa Kira-kun akan mengucapkan salam perpisahan?" tanya Lacus dengan wajah sendu.
"Salam perpisahan?" tanya Kira balik. Tak mengerti.
"Iya, menurut kabar yang kudengar, bukankah hari ini Kira-kun pindah ke Tokyo?" tanya Lacus semakin sedih. Pemuda berambut coklat itu mengerutkan keningnya, kemudian perlahan Kira tersenyum.
"Sepertinya tidak."
Ucapan itu membuat Lacus cepat-cepat mendongak. Menatap pemuda dihadapannya dengan penuh pengharapan. Melihat binar-binar harapan di wajah cantik Lacus, diam-diam Kira tersenyum.
Entah kenapa Kira mulai menyukai senyuman Lacus.
"Maksudmu, Kira-kun?" tanya Lacus memaksa Kira untuk menjelaskan kalimat 'sepertinya tidak' tadi. Yamato Kira memasang pose berfikir. Seperti menimang antara ingin menjawab pertanyaan Lacus atau tidak, membuat Lacus Clyne gemas. "Kira-kun~?"
Dan Kira tertawa lepas melihat reaksi Lacus.
"Baiklah, baiklah," ucap Kira pura-pura menyerah. Kemudian pemuda bermata lavender itu tersenyum sebelum berbicara, Lacus blushing berat. "Aku tidak jadi pindah ke Tokyo, apa kau senang, Lacus-san?"
Lacus gelagapan. Rona merah muda mewarnai seluruh wajahnya. Bingung untuk menjawab pertanyaan lelaki yang ditaksirnya. Jika dia mengangguk, Kira-Kira apa jawaban dari Kira? Kalau dia menggeleng, tentu saja itu bohong kan? Duh...
"Ke-kenapa Kira-kun tak jadi pindah?" tanya Lacus, mengalihkan pembicaraan.
"Kau ingin aku pindah?"
"Bukan begitu!"
Entah kenapa Lacus merasa sekarang Kira jadi banyak menggodanya, padahal Kira biasanya tidak banyak bicara. Sebenarnya merupakan suatu kejadian langka pula Kira repot-repot menemui dirinya yang kelasnya dan kelas Kira cukup jauh, malah hampir berbeda gedung.
"Kau tidak mau bertanya kenapa aku mencarimu, Lacus-san?" tanya Kira dan Lacus semakin gelagapan.
"Me-memangnya ada apa?"
Dan Kira Yamato tersenyum.
~Hard To say Daisuki – Ajakan Kencan~
"Sepertinya kau senang sekali, Lacus-san." Lacus tersentak kaget mendengar seseorang menyapanya. Gadis berambut pink panjang itu menoleh. Mendapati pangeran nomor satu di Orb High School berjalan ke arahnya sembari tersenyum. Lacus mengembangkan senyum manisnya. Untungnya kini Lacus sedang berada di tempat yang jarang dilalui siswa. Karena kalau tidak, pasti ruang UKS di Orb High School akan kembali penuh oleh siswa lagi.
"Zala-kun," panggilnya riang ketika pemuda berambut biru itu mendekat ke arahnya. Athrun Zala tersenyum.
"Kau mau ke perpustakaan itu lagi?"
Lacus mengangguk, menyelipkan sehela rambutnya ke belakang telinga.
"Boleh aku ikut?"
Lacus mendongak, menatap Athrun dengan mata baby blue miliknya yang berkerlap-kerlip, kemudian mengangguk semangat.
Lacus berharap, dengan membawa Athrun ke perpustakaan, Cagalli akan memaafkan kejadian semalam.
Karena Lacus tahu pasti bahwa Cagalli menyukai Athrun.
"Lacus-san," panggil Athrun ketika Lacus dan dirinya telah berada di depan perpustakaan tua tersebut dan Lacus telah membuka pintu perpustakaan. "Aku ingin menanyakan sesuatu."
~Hard To say Daisuki – Ajakan Kencan~
"Aku tidak akan berbasa-basi, apakah kau menyukai Kira?"
Pertanyaan itu membuat Lacus tersentak. Gadis berambut light pink itu menunduk, menyembunyikan raut wajahnya yang mulai memerah. Melihat reaksi Lacus yang seperti itu saja membuat Athrun mendapatkan jawabannya. Pemuda berambut biru itu tersenyum kemudian telapak tangannya mengusap puncak kepala Lacus, refleks.
"Eh?" Lacus tersentak, mendongak dan mendapati mata hijau Athrun yang menatap dan tersenyum kepadanya. "Zala –"
"Jimat."
"Eh?"
Athrun menghentikan kegiatannya mengusap puncak kepala Lacus. Berbalik ke arah perpustakaan sembari meletakan kedua tangannya di belakang kepala, tertawa.
"Jimat agar percintaanmu dan Kira berjalan mulus."
Sontak, wajah Lacus memerah karena malu. Tanpa tahu bahwa ekspresi yang diperlihatkannya membuat Athrun meringis sakit.
~Hard To say Daisuki – Ajakan Kencan~
Cagalli serius menatap bukunya, Lacus duduk dihadapan Cagalli dengan kepala tertunduk sementara Athrun menatap bingung tak mengerti.
Apa yang terjadi pada sepasang sahabat ini? Dan atmosfer apa ini?
"A-Anu Cagalli-chan...," Lacus memulai pembicaraan dan gadis dengan julukan princess pink itu langsung mendapatkan delikan tajam nan sinis dari sahabatnya. "Ta-tadi malam... maafkan aku...," ucap Lacus terpatah-patah. Cagalli tetap asyik dengan buku tebalnya. Pura-pura tidak mendengar.
"Cagalli-chan~" Lagi, Lacus merengek dan gadis itu langsung keki ketika melihat lirikan tajam dari sang sahabat.
Ukh...
Tapi melihat Cagalli yang menghela nafas kemudian menutup bukunya membuat wajah Lacus tersenyum.
"Kau kumaafkan, Lacus. Tapi Kau – ugh! Jangan memelukku seerat itu Lacus, aku tidak bisa –"
"Aku takut... takut sekali kalau Cagalli-chan tidak mau memaafkanku."
Cagalli menghela nafas kemudian membelai rambut merah muda itu. Meski Lacus dipuja banyak orang, tapi tidak banyak orang yang bisa menjadi sahabat Lacus. Justru karena Lacus adalah pujaan semua orang, Lacus jadi tidak memiliki yang benar-benar teman, ironis memang.
"Maaf, aku mendiamkanmu," ucap Cagalli lembut. Diliriknya Athrun yang tersenyum lembut ke arah mereka berdua, meski Athrun tidak tahu masalah yang terjadi diantara Lacus dan Cagalli, tapi merasakan aura nyaman penuh persahabatan itu membuat Athrun tersenyum.
Melihat senyum itu, wajah Cagalli merona merah.
~Hard To say Daisuki – Ajakan Kencan~
Cagalli dan Athrun berada di perpustakaan tua itu. Mereka saling berhadapan dengan buku masing-masing yang menghalangi pandangan mereka. Diam-diam Cagalli melirik di sela-sela buku tebalnya. Melihat Athrun yang hanya memandang kosong buku yang sedari tadi di pegangnya.
Cagalli menghela nafas sebelum memanggil ketus nama pemuda berambut biru itu.
"Kau kenapa?" tanya Cagalli seketus mungkin. Athrun hanya terdiam, tertawa hambar kemudian. Membuat Cagalli benar-benar khawatir sekarang. "Hei, At –"
"Lacus-san menyukai Kira ya?"
Cagalli bungkam. Athrun memasang senyum. Ditutupnya buku yang semenjak tadi menjadi pengalih perhatian pemuda berambut biru itu. Cagalli memandang Athrun tanpa ekspresi.
"Bukannya kau tadi sudah menanyakannya pada yang bersangkutan?" tanya Cagalli membuat seolah satu panah menancap di dada pemuda berambut biru itu. Cagalli bertopang dagu, memandang Athrun yang sudah benar-benar terlihat frustasi karena patah hati.
"Kau mendengar ya?"
"Ya, dan apa maksudnya 'jimat agar percintaannya berjalan'?"
Jleb lagi. Athrun benar-benar tak bisa berkutij dengan pertanyaan dari gadis berambut pirang dihadapannya ini.
"Jadi, pangeran orb high school patah hati ya? Kasihan~"
JLEB!
Empat buah siku-siku mendarat beberapa buah di kepala yang dihiasi rambut warna biru itu. Pemuda itu mengangkat kepalanya sambil tersenyum keki.
"Silakan saja meledekku sampai kau puas Cagalli –"
"Kalau aku bagaimana?" potong Cagalli membuat Athrun terdiam. Mata hijau pemuda itu menatap tak mengerti gadis yang ada di hadapannya.
"Maaf?"
Cagalli menghela nafas. Berhenti menopang dagu dan menatap lekat-lekat pemuda yang dijuluki pangeran itu.
"Athrun Zala," Cagalli Yula Atha memanggil nama lengkap pemuda berkulit pucat dihadapannya yang masih dalam keadaan shock itu. "Berkencanlah denganku!"
Dan sambungan itu membuat mata hijau Athrun membulat dengan diameter yang paling maksimal. Meski tadi nada yang diucapkan oleh Cagalli lebih tepat disebut ajakan berkelahi dibandingkan ajakan kencan, Athrun tetap saja dibuat terkejut.
Athrun benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh gadis dihadapannya itu. Apakah Athrun boleh berfikir kalau Cagalli...
To Be Continued
Well... hampir setengah tahun Fict ini terabaikan cukup lama di Netty saya tercinta... Gomennasai minna~
Dan gak nyangka yang repiuw fict ini lumayan banyak. Di stat story juga selalu banyak... wih... benar-benar gak menyangka saya...
Untuk Chap berikutnya, paling ngaret satu bulan ya minna... ini janji saya...
Pojok Balesan Repiuw
Lanjutkan, aku suka ceritamu! Hoe... makash.. udah Lanjut silakan R&R. Kalau ada Unsur Angstnya lebih seru! Huaduh... sebisa mungkin saya menghindari angst di fict ini... udah kebanyakan bikin Fict yang genrenya nyerempet angst (_ _)".Ada beberapa Typo. Sip... semoga di chapter ini gak ada typo. Gak nyangka Author Naruto nyasar ke fandom GS/GSD. Sebenernya, sebelum ke fandom Naru aku silent readers di sini lho.. wkwkwk. Cagalli, aku sangat mengerti perasaanmu terhadap Lacus yang sedang berbunga-bunga itu. Weh... akhirnya ada yang mengerti tuh, Cagalli-chan. #Duagh.Banyakin adegan Kira Lacus ya! So Pasti! Chapter depan mereka kencan dong~ aye! \(n.n)/.Kenapa gak cepet di update? Ups.. maaf... akunya lagi patah hati kemarin-kemarin, jadi gak bisa ngelanjutin fict dengan penuh perasaan cinta gini. Kalau dilanjutin waktu moodnya jelek bisa-bisa bukannya Lacus yang menyatakan cinta ke Kira, tapi yang ada Kira dibunuh ama Lacus.. #malahCurcol. Lain kali AsuCaga dong! Ok deh… Chapter depan AsuCaga kok~ hehe
.
Next Chapter
Hari yang ditunggupun tiba...
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Ah... tidak hanya saja... terlihat berbeda."
Apanya yang berbeda?
.
"Anu... Kira-kun."
"Hm?"
"Kenapa Kira-kun mengajakku ke taman bermain?"
Dan kembang api berbunyi tepat saat pemuda itu menjawab.
.
"Jangan memaksakan diri!"
.
Yosh! Meski kayaknya seharusnya saya gak berhak memintanya, tapi saya tetap mau memintanya...
Just,
MINTA REPIUWNYA DONGGGG! #Dihajar
(n.n)
