Lacus Clyne hanya bisa blushing dengan cerita gadis pirang di hadapannya. Sementara Cagalli hanya membuang muka malu, dengan semburat merah di pipi tentu saja.
"Ya ampun.. Ya ampun.. ya ampun..."
Hanya itu yang bisa diucapkan Lacus dengan wajah sumringah dan kedua telapak tangan yang dia pertemukan. Mata baby bluenya mulai berbinar-binar senang. Well, Lacus mulai kembali OOC.
"Aku tidak tahu ada kejadian seperti itu saat aku tidak ada di perpustakaan Cagalli-chan," ucap Lacus. "Lalu apa jawaban Zala-kun?" tanya Lacus. Cagalli gelagapan. Wajahnya kian memerah.
"Dia bilang, iya," kata Cagalli lirih. Wajahnya semakin memerah ketika mengingat kejadian di perpustakaan.
"Yokatta!" Lacus melonjak kegirangan. Mengayun-ngayunkan kedua tangan Cagalli yang diapitnya erat-erat. Gadis dengan helaian pink yang indah itu kemudian menutupkan kedua matanya dengan senyum kebahagiaan yang tersungging sambil masih mengapit kedua telapak tangan Cagalli.
"Kuharap, aku sangat berharap semoga kisah cinta kita berakhir dengan happy end," kata Lacus seperti memanjatkan doa. Cagalli yang melihat Lacus berdoa sepenuh hati hanya menengok ke arah lain. Apakah kisah cintanya dengan Athrun bisa berhasil sementara yang Athrun sukai bukanlah dirinya melainkan sahabat pinknya ini? "Kau kenapa Cagalli-chan?"
Cagalli menggeleng kemudian menepuk kepala Lacus pelan.
"Kau juga akan berkencan kan? Dengan Yamato?"
Wajah Lacus memerah kemudian mengangguk perlahan. Cagalli tersenyum.
"Good Luck."
"Cagalli-chan juga.. Good Luck."
Cagalli hanya mengangguk singkat.
Hard to Say "Daisuki"
.
.
Disclaimer:
Pokoknya GS bukan punya aku! Tapi Athrun ama Kira punya aku! *ditendang*
MV-nya vocaloid = World is mine (Kagamine Len) dan First love candid (Kagamine Len, Rin)
.
Warning :
Super duper OOC, GaJe, menarik *ditendang karena ke-PD-an*, dll(dan lupa lagi).
Ah, sudah pasti typo di mana-mana
.
Pairing:
Kira x Lacus, Athrun x Cagalli dan Kira x ...
Spesial Thanks:
Ritsu-ken; Ishylotyzz; VerinRei; agnes BingBang; ervan76; eurekabigail; Magus-15Ichigo; Ann Kei; Puding-tan; Miyaki osward; haruka; holmes950; Hoshi Uzuki; jeffrey simanjuntak inversy, gakari-chan, Guest 1, guest 2 and All Silent readers
Happy reading...
Semoga Chapter ini gak begitu mengecewakan... :D
Seorang pemuda berambut biru tengah menyandar di tembok dekat gerbang masuk taman bermain sembari melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Bosan karena sejak lima belas menit yang lalu pemuda itu memelototi jam tangannya, pemuda yang mempunyai wajah tampan nan memesona itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana dengan gaya cool sembari matanya melihat-lihat ke sekeliling, mencari sesosok gadis yang mengajaknya bermain ke tempat ini.
"Ck," Athrun Zala, nama pemuda berambut biru itu berdecak sebal. Pasalnya, pemuda itu sudah berada di sana sejak tiga puluh menit yang lalu dan gadis yang mengajaknya bermain belum juga datang. Cagalli Yula atha terlambat selama tiga puluh menit, atau mungkin dia tidak akan datang?
Athrun menyandarkan kepalanya ke tembok dan menatap langit biru dengan awan-awan putih yang berarak riang di atas sana.
"Sepertinya aku dipermainkan olehnya~" kata Athrun dengan nada yang dipaksakannya sesantai mungkin, untuk meredam rasa kecewa yang mendadak muncul entah kenapa.
"Siapa yang mempermainkanmu bodoh!" ucap sebuah suara di depan Athrun membuat pemuda itu segera menatap ke depan dan tercengang. "Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Cagalli dengan pipi yang merona merah. Sejujurnya gadis itu malu dengan penampilannya yang sekarang.
"Ah... tidak hanya saja... terlihat berbeda," ucap Athrun gugup dengan sedikit rona merah di pipi. Cagalli menunduk malu, dilihatnya penampilannya saat ini. Rambutnya yang panjangnya hanya sebahu itu dihiasi jepit rambut berwarna emas yang diletakan di dekat telinga. Padahal Cagalli hanya menambah satu jepit itu tapi entah kenapa imagenya terlihat berbeda di mata Athrun. Ditambah dengan pakaian Cagalli saat ini yang agak feminim.
Memang sih, Cagalli biasanya tidak pernah berpakaian seperti ini. Biasanya, Cagalli selalu memakai kaos kebesaran dipadu jaket, celana panjang dan sepatu sneakers atau sepatu sport. Tapi sekarang Cagalli memakai one piece berpotongan high wist berwarna kuning pucat sepanjang lima senti di atas lutut sebagai pengganti kaos kebesaran yang sering digunakannya. Cagalli masih memakai celana jeans sebagai kebawahannya, tapi panjangnya hanya selutut dan Cagalli memakai sandal high heels setinggi lima senti yang serasi dengan warna cardigan yang dikenakannya.
Cagalli sekarang benar-benar menjelma menjadi gadis feminim yang... cantik.
"Ja-Jangan memandangku seperti itu!" bentak Cagalli malu ketika Athrun tidak berhenti memandangnya. Gadis pirang itu merutuki penampilannya hari ini yang tentu saja ini karena ulah Lacus yang dengan semangat mendadani dirinya dengan satu kalimat yang tidak bisa dibantah Cagalli.
"Aku kan hanya ingin membuatmu tampil beda di kencan pertamamu, Cagalli-chan... Aku kan sahabatmu, aku kan ingin sekali membantumu," kata Lacus dengan mata berkaca-kaca yang membuat Cagalli luruh, menyerah dan pasrah dengan apa yang dilakukan Lacus kepadanya.
"Maaf, tapi Cagalli-san, kau terlihat... um..." Pipi Athrun memerah sedikit. "...Cantik."
Hening.
Sedetik... dua detik... tiga...
Blush!
Wajah Cagalli sempurna memerah. Gadis itu merasakan panas di wajahnya yang telah dirias dengan make up natural. Mungkin karena malu, gadis itu langsung berseru 'Apa yang kau katakan, hah?' sambil berlari terburu ke arah Athrun, tak menyadari bahwa alas kaki yang dikenakannya kini bukanlah sepatu sneakers yang biasa digunakannya melainkan sepatu high heels yang belum terbiasa dipakainya sehingga...
Bruk!
Cagalli terjatuh dengan tidak elitnya.
Hening selama beberapa detik.
Blush.
Lagi muka Cagalli memerah, lebih merah daripada sebelumnya. Gadis itu menunduk dalam, malu. Sementara Athrun hanya menghela napas sekaligus kasihan juga melihat wajah Cagalli yang sudah memerah, berkeringat dingin karena ulah high heels yang dikenakannya. Berjalan mendekati Cagalli, Athrun kemudian mengulurkan tangan mendongak, menatap Athrun yang setengah membungkuk dan memasang senyum canggung, dengan satu buah sweatdrop.
"Sini, kubantu!"
Mau tidak mau, Cagalli menerima uluran tangan Athrun.
~Hard to Say Daisuki – Ini Kencan! ~
Lacus Clyne menoleh ke sekeliling sembari memegang tas jinjing kecilnya, mencari sesosok pemuda yang telah mengajaknya ke taman bermain hari ini.
"Apa aku terlalu cepat?" lirih Lacus. Gadis berambut pink itu kemudian meneliti tiap inchi pakaiannya. "Apa penampilanku bagus hari ini ya?" tanya Lacus lagi, tak sadar bahwa tindakannya yang meneliti pakaiannya sambil bergerak ke kanan kiri, seolah sedang menari itu menarik perhatian banyak laki-laki yang langsung berkasak-kusuk dengan rona merah, termasuk Yamato Kira yang ada beberapa meter dari Lacus.
Ya, Yamato Kira memandang Lacus tanpa kedip. Melihat Lacus yang lebih cantik dari biasanya. Perpaduan cantik dan anggun. Sempurna.
Berdehem sebentar, Kira berjalan mendekati Lacus.
"Lacus-san."
Lacus menoleh ke kanan, mendapati Kira yang tetap saja terlihat menawan. Gadis itu tersenyum dengan rona merah di pipi yang membuatnya semakin cantik.
"Kira-kun."
"Kau sudah lama menunggu? Maaf aku terlambat."
Lacus menggeleng. Menunggu Kira bukanlah kegiatan yang dibenci Lacus, justru sebaliknya.
"Ayo, kita masuk," kata Kira kemudian berjalan mendahului Lacus. Lacus yang kaget segera mengejar Kira dengan berlari-lari kecil.
~Hard to Say Daisuki – Ini Kencan! ~
"Oi, Athrun."
"Hm..."
Dibalik punggung Athrun, Cagalli Yula Atha hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang bukan dia banget. Merah. Sangat merah.
"Tu-turunkan aku!" kata Cagalli setengah berteriak sambil masih menyembunyikan wajahnya di punggung Athrun yang lebar. Sekilas, Cagalli dapat mencium bau tubuh Athrun yang khas.
"Diam dan tenanglah!" perintah Athrun tegas. Pemuda itu lantas kembali memperbaiki posisi Cagalli yang digendongnya sementara Cagalli semakin membenamkan wajahnya di punggung Athrun dan semakin erat mengalungkan kedua lengannya di leher pemuda berambut biru itu. Debar jantung terdengar keras di telinga Cagalli saat ini, dan semoga Athrun tidak mendengar debaran jantungnya.
"Yosh!"
Cagalli mendengar Athrun bergumam kemudian menurunkan gadis itu dari gendongannya. Cagalli hanya menurut dan duduk di trotoar jalan di dalam taman bermain.
"Ternyata kau berat juga Cagalli –"
Bletak!
"Ittai~" Athrun mengusap kepalanya yang benjol karena dipukul Cagalli sementara Cagalli hanya melipat kedua lengan di dada sambil menoleh ke arah lain, ngambek.
"Urusai!"
"KuKira kau akan lebih manis sedikit," gumam Athrun dan Cagalli memilih untuk tidak menanggapi. Athrun hanya bergumam sebentar sebelum berbalik pergi.
"Tunggu sebentar di sini," kata Athrun kemudian berlari pergi. Lima belas menit kemudian Athrun datang dengan sandal selop hak rendah dan beberapa plester. "Kemarikan kakimu," kata Athrun sambil berjongkok. Cagalli menurut, membiarkan tangan Athrun mengobati pergelangan kaki kirinya yang agak memar karena high heels sial yang digunakan Cagalli. Begitu kencan ini selesai, Cagalli bersumpah akan mencekik leher Lacus karena telah memaksanya memakai sepatu high heels yang menyiksanya.
"Dan ini."
Athrun menyerahkan sepasang sepatu itu kepada Cagalli. "Kau tidak mungkin memakai sepatu itu lagi kan?"
Cagalli menunduk kemudian membuang muka.
"Aku tidak meminta kau membelikannya!" katanya, gengsi. Sementara Athrun hanya menghela napas karena ucapan Cagalli. Ya... muluk juga sih sebenarnya mengharapkan Cagalli tersenyum mengucapkan terima kasih. Sementara Athrun menghela napas pasrah, Cagalli merutuki kalimatnya yang terkesan kasar. Harusnya di saat begini Cagalli mengucapkan terima kasih kepada Athrun dan bukannya malah sok jual mahal seperti ini.
"Bersikaplah sedikit manis kepadanya,"
Cagalli mengingat perkataan Lacus saat di perpustakaan beberapa waktu lalu. Dimodali dengan nasihat Lacus itu, makanya Cagalli dengan keberanian yang dikumpulkannya, memanggil nama Athrun dengan intonasi selembut mungkin, tidak kasar seperti biasanya.
"Apa?"
"Hm.. uhuk.. anu... saki wa arigatou," kata Cagalli dengan pipi merona. Athrun hanya bisa terpana. Telinganya tidak salah dengar kan? Cagalli yang selalu bersikap memusuhi dirinya di sekolah mengucapkan terima kasih kepadanya? Dengan gayanya yang malu-malu pula?
Entah kenapa, ucapan terima kasih dari Cagalli membuat Athrun menyunggingkan sebuah senyum.
"Jaa, lalu kita akan mulai bermain dari wahana apa?" tanya Athrun dan Cagalli tersenyum dengan semangat dan mulai berceloteh mengenai wahana yang ingin dinaikinya.
~Hard to Say Daisuki – Ini Kencan! ~
"Kau yakin ingin menaiki ini dulu?" Kira menunjuk wahana yang berdiri kokoh dihadapannya. Lacus Clyne mengangguk pasti. Berbalik memandang Kira dengan mata berbinar, Lacus tersenyum senang.
"Aku sangat ingin naik ini, Kira-kun," jelas Lacus membuat Kira tersenyum keki.
Sejujurnya Kira tidak begitu suka wahana ini. Tapi, berhubung Lacus menginginkannya, maka Kira hanya mengangguk saja dan dengan kaku ikut mengantri di wahana tersebut.
"Kira-kun, daijobu?" tanya Lacus melihat Kira yang sudah agak pucat. Menengok ke arah Lacus dengan gerakan kaku, Kira mengangguk. Meski Lacus tahu Kira berbohong, tapi Lacus tidak bisa membatalkan menaiki wahana ini karena mereka berdua sudah dipasangi sabuk pengaman dan wahana sudah mulai bergerak naik, bergerak perlahan hingga berada di puncak, dan...
WUSH!
"KYAAA!"
Roler coaster pun dengan riang menempuh relnya.
~Hard to Say Daisuki – Ini Kencan! ~
Cagalli Yula atha menatap kagum kumpulan burung merpati di hadapannya. Athrun Zala yang baru saja dari toko pakan memberikan makanan burung kepada Cagalli.
"Lempar saja makanan itu dan burung-burung akan mendekatimu," jelas Athrun dan Cagalli menurut.
Saat Cagalli melemparkan pakan burung di sekitarnya, sontak gadis itu dikerubungi oleh burung-burung merpati.
Cagalli tertawa riang.
"Ternyata kau bisa bersikap seperti perempuan juga ya?" gumam Athrun yang entah bisa dibilang gumaman atau bukan, yang jelas Cagalli mendengar gumaman Athrun dan itu membuatnya memberengut kesal.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Cagalli menantang, membuat Athrun langsung berdiri dengan tegak, gugup.
"Betsuni," katanya sambil tertawa garing.
"JANGAN BOHONG!"
DUGH!
Yups, ini pukulan kedua yang diterima Athrun hari ini.
~Hard to Say Daisuki – Ini Kencan! ~
"Kira-kun, kau baik-baik saja?"
Sembari memegang tembok sebagai penahan beban tubuhnya yang agak pusing, Kira mengangguk. Lacus yang merasa bersalah hanya menunduk tidak enak.
"Maaf, harusnya aku tidak mengajakmu naik wahana itu," kata Lacus merasa bersalah. Melihat itu Kira hanya tersenyum dan menepuk kepala Lacus.
"Tidak apa, Lacus-san, aku hanya kaget saja karena baru pertama langsung mengajakku bermain wahana yang seperti itu," kata Kira. Pemuda berambut coklat itu kemudian duduk di kursi dekat tembok yang tadi jadi penyangganya, dan Lacus mengikuti.
"Kau mau naik apa lagi sekarang?" kata Kira, tersenyum. Lacus memandang Kira kemudian menjawab dengan tanpa semangat.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Lacus. Kira mengangguk mantap.
"Kalau begitu, aku..."
Kruyuk...
Baik Kira dan Lacus sama-sama memandang perut Kira yang tadi berbunyi. Dengan muka memerah dan memalingkan wajah ke arah lain, Kira berkata, meski tanpa ada yang memintanya menjelaskan.
"Maaf, tadi aku belum sempat sarapan."
Lacus tersenyum. Meletakkan tas tangan yang dibawanya di antara dirinya dan Kira, Lacus mengambil dua kotak makanan.
"Mau mencicipi masakanku, Kira-kun?"
Dan Kira mengangguk.
~Hard to Say Daisuki – Ini Kencan! ~
Sepasang sejoli. Dengan pistol di masing-masing di tangannya, saling melirik dan melempar tatapan menantang.
"Siap?" tanya sang perempuan berambut blonde, dengan senyum sinis penuh tantangan. Pemuda berambut biru itu menarik pelatuk dan berbicara dengan tampang menantang yang satu tingkat lebih tinggi dari si gadis.
"Kapanpun," katanya sok cool.
Dan saat layar dihadapan mereka menampilkan angka yang berubah mundur, dari tiga menjadi satu, dan kemudian saat tiba-tiba saja di layar ada beribu makhluk entah apa yang bersikap seolah ingin menyerang mereka, mereka berdua langsung menodongkan pistol ke layar.
TEMBAK!
Athrun dan Cagalli tertawa riang menembaki para 'alien' di layar tersebut.
~Hard to Say Daisuki – Ini Kencan! ~
Dan setelah menaiki beberapa wahana yang menguji adrenalin, seperti roller coaster, rumah hantu, histeria, kora-kora, bermain game memasukan bola basket, hockey dan games dance, serta melihat beberapa pajangan, patung dan bunga-bunga yang ada di taman bermain Orb park, kini Lacus dan Kira sudah berada di dalam biang lala. Saling berhadapan.
"Kau senang?" tanya Kira sambil menatap Lacus. Sebelah tangan Kira menopang dagunya. Lacus yang ditatap oleh Kira sedemikian rupa hanya gelagapan, gugup. Terbatuk sebentar, Lacus memasang senyum tenang.
"Hn. Sangat senang," kata Lacus jujur. Seharian ini terasa menyenangkan dan berlalu begitu cepat. Tahu-tahu saja malam sudah lama menggantikan siang. Gadis berambut pink itu menatap Kira dengan baby bluenya yang berbinar senang. "Arigatou."
Kira mengangguk kemudian tersenyum.
Kemudian hening mengambil alih keadaan di sekeliling mereka.
Hening yang menenangkan sampai akhirnya Lacus memberanikan diri untuk bertanya.
"Anu... Kira-kun."
"Hm?"
"Kenapa Kira-kun mengajakku ke taman bermain?"
Pertanyaan itu terlontar tepat saat bianglala yang mereka tumpangi berada di paling atas. Mata lavender Kira dan mata biru Lacus saling menatap dalam. Dengan degup jantung yang menggila, Lacus menunggu bibir Kira bergerak membentuk sebuah kalimat.
"Aku..."
Lacus meneguk ludah ketika bibir Kira kembali bergerak, mengucapkan sesuatu namun sayang, Lacus tidak bisa mendengarnya dengan baik karena kembang api berbunyi tepat saat pemuda itu menjawab.
"... Begitulah," kata Kira sambil memasang senyum.
"Eh? Tapi aku tidak mendengar apa yang Kira-kun ucapkan," kata Lacus gugup dan penasaran. Yamato Kira hanya tersenyum lembut – sekaligus senyuman tidak mau dibantah.
"Tidak ada siaran ulang, Lacus-san."
~Hard to Say Daisuki – Ini Kencan! ~
"Huwa... kembang apinya indah."
Itu kalimat yang diucapkan Cagalli ketika melihat sinar warna-warni terlihat memeriahkan langit malam. Gadis itu menyandarkan kedua lengannya di pagar pembatas dan tersenyum melihat kembang api yang terus diluncurkan. "Meski suaranya sungguh sangat berisik," sungut Cagalli lagi, sebal.
Athrun tertawa. Seharian ini pemuda itu bisa melihat berbagai ekspresi yang diperlihatkan Cagalli dan entah kenapa Athrun menikmati waktu yang dihabiskannya hari ini bersama Cagalli, orang yang menurutnya membencinya.
"Cagalli-san," panggil Athrun yang hanya dijawab gumaman ringan oleh Cagalli. "Kenapa kau mengajakku kencan hari ini?"
Senyum di wajah Cagalli pudar. Gadis blonde itu memandang Athrun yang menatapnya ingin tahu.
Sedetik... dua detik...
"Aku..."
~Hard to Say Daisuki – Ini Kencan! ~
Lacus hanya bisa menunduk sambil tersenyum malu. Gadis itu menatap lengannya yang digenggam oleh Kira. Iya, mereka kini bergenggaman tangan, Kira yang menggenggam tangannya. Katanya karena Kira takut Lacus terpisah. Memang, pengunjung Orb park malam ini masih penuh, alasan Kira masuk akal...
Tapi bolehkah Lacus mengharapkan lebih? Misalnya alasan Kira yang sebenarnya bukan karena takut Lacus hilang atau mereka terpisah tapi karena... Kira memang ingin memegang tangannya?
Yeah, Lacus, berkhayalah sesukamu dan dapat dipastikan kau akan langsung mencium tanah begitu khayalanmu ternyata hanyalah khayalan semata.
Tapi Lacus, bukankah ada sesuatu yang seharusnya kau katakan kepada seorang Kira Yamato?
Well, yeah...
Pernyataan cinta.
Lacus kembali blushing ketika sebuah suara membisikkannya tentang pernyataan cinta. Iya ya, sekarnag bisa dibilang mereka kencan, malam hari, di taman bermain, Bukankah ini saat yang tepat untuk... er... menyatakan cinta?
Maka, saat Lacus dan Kira berjalan dipinggir taman yang tidak begitu ramai, Lacus menghentikan langkahnya, yang membuat Kira otomatis berhenti. Bingung, Kira kemudian menoleh ke belakang.
"Ada apa, Lacus-san?" tanyanya sembari mengernyitkan dahi.
"Anu... Ada yang ingin kukatakan kepadamu, Kira-kun," ucap Lacus. Kira yang bingung kini benar-benar menghadap Lacus, mereka sudah tidak bergenggaman tangan lagi.
"Apa?"
"Itu..." Lacus meneguk ludah, kemudian memberanikan diri memandang wajah tampan Kira dengan rona merah di kedua pipi. "Kira-kun, sebenarnya sudah sejak lama aku..."
"Lho? Yamato... Kira?"
Suara itu menginterupsi. Membuat Kira menoleh ke kanan dan Lacus yang langsung down dengan air mata berlinang. Lagi-lagi gagal.
"Eh? Lunamaria Hawke...?" tanya Kira ragu ketika melihat seorang gadis berambut merah-violet pendek yang tersenyum ke arahnya. Karena namanya dipanggil, senyum gadis itu langsung mengembang.
"Ternyata kau benar Kira ya!" seru Luna girang. Gadis bermata biru itu kemudian berlari menghampiri Kira dan memeluknya.
Lacus shock.
"Apa kabar, Kira?" kata si gadis asing menurut Lacus sebelum menempelkan bibir mungilnya di bibir Kira.
Double shock.
Lacus merasa dia ditarik ke dasar bumi paling dalam.
SIAPA GADIS ITU?
.
To Be Continued
.
A/n :
Yosh! Update sebulan lebih dikit... gak terlalu ngaretlah ya... hehehe #DiTampol.
Btw, mohon maaf untuk chapter ini, karena jujur aja aku paling gak bisa bikin adegan kencan di taman bermain, itu susah banget... #BiasaBikinAdeganHurtSih.
Jadi kalau agak (atau beneran) jelek, mohon dimaklumi. Ini udah usaha maksimal saya... hehehe
Well, dan kenapa bisa ada Luna? Itu karena ada yang review adain ShinLuna... Jadi, kupikir gak apa-apalah ada Luna dan Shin. Pertama yang muncul Luna dulu... Dan ada hubungan apakah Luna dengan Kira?
Itu...
Ada di chap selanjutnya yang mungkin – mungkin lho ya – ending fict ini...
Penasaran? Makanya, Baca dan Review, minna! #TeriakPakeToa.
Balesan review
Guest 1: Hehe... Makasih pujiannya... semoga chapter ini gak begitu mengecewakan...
Guest 2 : Aish... Sensus penduduk? Maaf,tapi aku bukan penduduk bumi, aku kan penduduk di dunia kahyangan, jadi gak bakal bisa disensus... #DiRajam.
Tadinya juga mau Athrun x Lacus... tapi pas pikir-pikir... nanti lagi aja deh... #EH?
Makasih udah review... ditunggu reviewannya.
Ishylotyzz : (-_-)". Gak sampai setahun kok~ #LirikKeArahLain. Yosh! Terimakasih semangatnya, ini udah Update! Maaf kalau mengecewakan.
Ervan 76 : Hore! \(n.n)/ #DiCekek.
Alhamdulillah ya, sesuatu banget bisa update... akhirnya... Kayaknya Cagalli nyaris nembak Athrun deh... belum sampai nembak kok~ :D
Gakari-chan : Eh? Se-senpai? Tapi aku masih newbie di fandom ini lho.. (_ _)". Yosh! KiraLacus, AsuCaga dan ShinLuna lagi dalam proses... hehe. Selamat baca,semoga gak mengecewakan.
Yang review log-in aku Pm aja ya... (n.n)
Untuk kali ini belum ada spoiler... maaf ya.. belum kepiKiran lanjutannya... hahaha #Tendanged.
Dan.. bolehkah saya yang manis dan imut ini *MuntahMasal*meminta review dan congkrit atau apapun yang membangun kedepannya?
Warms regards,
Fuyu-yuki-shiro
08.08.12
