Traveling to Jogjakarta

Yeaaaaah chapter 2 update berbarengan dengan chapter 1. Cerita ini akan berakhir di chapter 2 alias chapter ini. Semoga cerita ini menghibur anda-anda semua. Saya akan sangat merasa tersanjung kalau reader-reader sekalian suka cerita saya. Oke gak usah banyak bacot lagi dan langsung saja ke cerita. Enjoy everyone. Don't like don't read.

Chapter 2

Tlogo Putra-Bukit Merapi-The cloud ocean

Ada yang mengatakan pada kalian kalau bahwa berpergian ke tempat yang belum pernah kita kunjungi atau liat itu menyenangkan? Jawabannya adalah tidak dari Higurashi Kagome alias saya. Yaaa meskipun hal itu merupakan hal yang menyenangkan! Haduu kata-kataku gak nyambung banget.

Sekarang kami semua, -Sango-aku-Miroku-Irwan, sedang memberesi barang-barang kami. Ternyata memang tidak menyenangkan kalau hanya empat hari. Butuh waktu yang lebih lama untuk menjelajahi kota Jogjakarta yang kubilang unik ini. Setelah memberesi dan memasukkan baju kotor dan barang-barang lain alias oleh-oleh sudah masuk ke dalam koper, aku memberesi berbagai barang yang akan kubawa untuk petualangan hari ini.

Meskipun aku hanya membawa jaket yang sudah terpasang di tubuhku sejak tadi malam karena kedinginan layak berada di kutub. Selain itu aku membawa satu botol air minum dan sepasang pakaian ganti. Kami berangkat pukul setengah tiga sore. Pertama kami akan pergi ke bukit merapi.

Kami pergi ke sana menaiki mobil yang disewakan. Hanya perlu waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di lokasi dari villa. Saat sampai sana, udara masih sedingin kutub -lebay banget-. Hanya butuh uang 2 ribu untuk masuk ke sana. Saat memasuki tempat itu, kulihat ada papan bertulis Goa Jepang dan Plawangan menuju kanan. Hm.. Goa Jepang. Kenapa namanya Goa Jepang? Sebuah misteri yang harus dipecahkan!

"Sango-chaan!" Teriakku pada Sango yang sedang berbicara dengan Irwan di pintu masuk.

Ia menoleh "Nanika?" Balasnya dengan wajah datar. Seperti orang tak niat.

"Ayo kita pergi ke sini?" Kataku sambil menunjuk ke arah papan yang tadi kubaca.

Sango berjalan mendekatiku "Goa.. Jepang?" Tanyanya sambil melihat kembali papan itu.

"Yup! Aku ingin melihat seperti apa goa itu!" Kataku mantap.

Ia terlihat menimbang-nimbang "Baiklah! Tapi kita harus bilang pada Irwan dan Miroku dulu!" Ia berteriak memanggil keduanya.

Miroku dan Irwan berjalan mendekati kami "Kalian ingin ke sana? Benar? Jaraknya jauh sekali loo!" Irwan mengingatkan kami berdua. Aku dan Sango. Memangnya ia pikir fisikku tidak kuat?

"Ya! Kami mau ke sana! Tidak papa kan?" Tanyaku semangat dengan waja berbinar-binar.

Irwan menghela napas "Baiklah! Kami akan ikut! Tapi, kalau sudah capek bilang aja. Nanti kita langsung balik!" Irwan mengingatkan kami.

"Aku tidak akan capek!" Balasku sombong.

Yees! Let's Go! This is our adventure!

.

.

Hm.. Kutarik kembali kata-kataku saat kubilang aku tidak akan lelah. Buktinya, sekarang baru sepuluh menit berjalan menaiki tangga-tangga itu aku sudah lelah. Kakiku pegal semua. Tapi, demi memenuhi rasa keingintahuan ku, aku akan berjuang dan bertahan.

Tapi dilihat-lihat, gunung ini tinggi sekali yaa. Hampir sama seperti gunung Fuji tidak ya? Sepertinya sama. Kami berempat masih terus mendaki. Semakin lama kami semakin tinggi. Maksudku yaa mendaki semakin tinggi. Tak kusangka udara mulai menghangat. Kubuka jaketku kemudian mengikatnya di sekeliling pingganggu.

Kami sudah menemukan 4 kolam amfibi. Meskipun aku tidak terlalu percaya juga karena bentuknya seperti guci saja. Setelah beberapa saat berjalan sehabis melewati kolam ke-4, kami menemukan persimpangan. Sango sudah kelelahan dan udara semakin panas. Ia duduk di bangku di bawah sebuah pohon kecil.

"Kau sudah lelah, Sango-chan?" Tanyaku sambil menghampirinya di 3 anak tangga bawah. Ia masih mengatur napasnya. Wajanya memerah. Sudahlah kulanjutkan saja sendiri "Miroku! Kau temani Sango-chan di sini ya? Aku ingin melanjutkannya sendiri!" Balasku kemudian berjalan lagi dari sana. Tidak kupedulikan Miroku yang memanggil namaku. Pokoknya aku akan tetap melanjutkan perjalanan ini.

Tanpa menunggu siapa-siapa lagi, aku kembali menaiki anak tangga itu berharap akan segera menemukan Goa Jepang. Namun, setelah berjalan selama sepuluh menit, aku tidak menemukannya. Aku masih berjalan sedikit ke depan. Perasaanku lama kelamaan juga tidak enak. Sepertinya aku sedikit merinding. Ya iyalah diliat saja semakin ke dalam suasananya semakin tegang dan sedikit agak gelap karena cahaya tertutup banyak pohon.

Setelah melihat sebuah batu yang pecah, aku memutuskan untuk kembali. Di jalan kembali -kira-kira setengah perjalanan dari persimpangan- aku melihat Irwan "Sedang apa kamu di sini?" Tanyaku sambil berjalan

"Tentu saja menyusulmu!" Katanya sambil mengatur napas "Ayo cepat kita kembali! Sango dan Miroku sudah menunggu!" Ia berjalan meninggalkanku. Iih.. Apaan sih urusannya?

Aku pun berjalan mendekati Irwan. Aku berjalan melewatinya tidak peduli ia yang tertinggal di belakangku. Tapi ternyata aku tidak tega. Kutunggu dia untuk mengatur napasnya baru kami turun ke bawah menyusul Sango dan Miroku. Beberapa ratus meter dari persimpangan, aku melihat Sango dan Miroku sedang duduk di bangku "Ayo kita turun!" Sahutku kepada keduanya.

Keduanya meng-iyakan kemudian kami semua turun diikuti Irwan di belakang mereka. Tampaknya Sango sudah baik-baik saja, soalnya ia suda terlihat lebih segar.

Turun jauh lebih mudah. Tapi harus berhati-hati agar tidak tergelincir atau keseleo. Sekali kau terpeleset atau salah menginjak pijakan, kau akan jatuh dan menjadi benda tak berbentuk. Saat perjalanan kembali, kulihat masih banyak orang yang naik ke atas. Bahkan ada yang sedang merekam. Merekam apa mereka? Di kaki bukit ini merekam? Gila apa mereka?

Setelah sudah sampai di bawah, aku masih menyempatkan diri untuk berjalan ke sekitar. Aku berjalan menuju taman tempat untuk menikmati pemandangan merapi. Betapa malangnya diriku, saat aku kembali dari taman, aku meliat sebuah papan. Kutanyakan pada Irwan apa tulisannya ternyata itu adalah jalan pintas untuk samapi lebih cepat ke goa Jepang. Kenapa hari ini sial sekali?

Aku depresi kemudian berlari melewati pos utama dan meloncat 2 anak tangga sekaligus turun dari tempat itu kemudian berlari ke mobil. Aaah.. enak! Udara sudah menghangat. Aku setengah berlari menuju mobil dan menunggu cukup lama sampai semuanya sampai ke mobil. Setelah semua sudah berada di dalam mobil, Irwan kembali menyetir mobil meninggalkan bukit merapi.

"Jangan nyalakan AC!" Kataku kepada Irwan yang hendak menyalakan pendingin mobil "Kita buka saja kacanya!" Setelah berkata itu, aku membuka kaca. Dingin banget! Lebih dingin dari pada menggunakan AC. Keputusan yang buruk telah kulakukan.

Aku bingung saat Irwan menelusuri jalan menuju villa "Kita mau kembali ke hotel?" Tanyaku sambil melihat ke arah jalan. Irwab tidak menjawab. Aku mendengus kesal. Di depan ada patung monyet. Bukannya ke kanan, tapi dia ke kiri "Kita mau kemana?" Irwan tidak menjawab lagi.

"Kita akan ke Tlogo Putri!" Jawab Miroku menggantikan Irwan. Tlogo Putri? Apa itu?

Irwan terus menyetir menelusuri jalan-jalan yang sempit itu. Aku tidak memperatikan malahan hanya menerawang melihat aspal. Jalan yang sempit, di dalam hutan, dan saat sore menjelang malam. Haah teringat lagi deh. Masalah menyebalkan itu.

"-chan! Kagome-chan!" Kudengar seseorang memanggilku. Kutoleh kepalaku. Sango.

Aku berbalik malas "Nanika?" Tanyaku dengan wajah bete.

"Kau marah?" Tanyanya. Aku tertawa kecil "Marah ya?" Tanya Sango sekali lagi.

Aku berhenti tertawa "Tidak! Apa alasanku untuk marah padamu?" Sango hanya menanggapinya dengan senyuman kecil. Setelah percakapan yang singkat itu, ia kembali diam. Aneh, setelah kembali dari merapi dia menjadi pendiam.

Irwan menyetir melewati beberapa desa sampai pada akhirnya sampai pada sebua tempat yang cukup luas. Aku meliat beberapa kendaraan yang mirip mobil namun atasnya terbuka. Ingin dibilang mobil sepertinya bukan. Ingin dibilang yang lain aku tak punya ide "Ayo turun!" Kata Irwan pada kami. Lantas kami semua turun dari mobil. Setelah keluar dari mobil, aku diam bersender di badan mobil sedangkan Irwan, Miroku dan Sango mengunjungi seseorang di tengah daerah yang luas itu membicarakan sesuatu.

Beberapa saat kemudian, Irwan kembali dengan membawa seseorang. Siapa dia?

"Dia yang akan membawa kita keliling tempat ini. Kau sudah penasaran kan? Terlihat sekali di wajahmu yang berbinar-binar itu!" Kata Irwan sambil menuntun kami semua menuju sebua mobil yang sudah terparkir di depan mobil kami "Naiklah! Kita akan pergi menggunakan ini. Namanya Jeep" Waaah! Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.

Aku berlari kecil menuju kendaraan bernama jeep itu kemudian berdiri di samping jeep dan meloncat-loncat kecil. Aku benar-benar tidak bisa diam sekarang. Setelah dipersilahkan oleh pemandu untuk naik ke jeep, aku pertama kali yang meloncat naik seperti orang dikejar setan. Jeep kami mulai berjalan meninggalkan tempat yang aku tidak tau namanya itu.

Kami pergi melewati desa-desa yang awalnya kami lewati untuk menuju tempat tadi. Selanjutnya terus berjalan sampai kami melewati sebuah jembatan. Di bawah jembatan itu, tidak terlihat adanya sungai. Yang ada hanya beratus-ratus bahkan beribu-ribu batu-batu atau bisa kita bilang material-material. Waduuuh, bisa belajar tentang alam nih. Hihi seru juga.

Aku mengambil satu atau beberapa foto di tempat itu. Setelah selesai berfoto, jeep kembali berjalan dan kami siap melanjutkan perjalanan. Sehabis ini, aku akan mengatakan bahwa ini adalah jalur yang sangat unik. Kami melewati jalan yang terbuat dari batu-batu dan pasir. Disekitarnya terdapat banyak sekali tumbuhan dan tanaman liar. Kata Irwan, di sini merupakan tempat kejadian gunung meletus yang memakan banyak nyawa. Ribuan nyawa. Waah seram sekali.

Letusan yang terjadi di sini terjadi beberapa tahun lalu. Sekitar ribuan nyawa dimakan oleh letusan gunung api. Banyak desa yang habis hancur oleh magma letusan. Aku tidak bisa bayangkan betapa menderitanya orang-orang yang tinggal di sekitar sini. Seluruh harta benda mereka hilang. Banyak anggota keluarga mereka yang meninggal. Bahkan ada yang tidak dapat selamat.

Aku memperhatikan jalan yang kami lewati. Semakin lama, jalanan semakin banyak terdapat bebatuan menyebabkan jalan kami bergoyang-goyang. Aku dan Sango menjulukinya "Jalan roker" karena saat kami melewati jalan ini seperti kami sedang memainkan music roker. Unik banget.

"Hei! Hei! Sekarang kita kemana?" Tanyaku pada Irwan yang duduk di depan bersama pemandu.

Irwan masih melihat ke depan. Entah ia mendengarkan atau tidak "Di sini kita akan mengunjungi empat macam kali. Pertama-tama kita akan pergi ke kali yang bernama kali kuning!" Kali kuning? Hm hm beberapa lagi nama yang unik.

Aku tidak membalas perkataan Irwan dan melihat ke depan sambil berdiri. Tubuku bergoyang-goyang ke sana kemari karena jalanan roker itu. Hahaha memikirkannya membuatku ingin tertawa.

Yap, sekarang kami sudah sampai ke kali Kuning. Di kali Kuning ada sungai yang airnya mengalir dikit. Jalan-jalan di sini juga banyak sekali material-material bekas letusan gunung. Hm di sini kami tidak banyak berfoto. Tapi, Sango menerorku seperti seorang penjahat untuk berfoto dengannya. Haduh, aku lupa dengan sifatnya yang juga tukang penasaran sepertiku. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku juga hampir mirip dengannya.

Kemudian kami pergi ke tempat selanjutnya. Kali Opak. Di tempat ini tidak terlalu terlalu ramai seperti kali Kuning. Sama seperti sebelumnya, di sini banyak sekali material-material. Sango kembali menarikku untuk berfoto dengannya. Bahkan, Miroku dan Irwan juga kena imbas. Sango meneror kami semua hanya karena FOTO! Ya sudah, aku hanya tertawa sedih mengikuti niatnya. Tapi aku suka kok berfoto di tempat yang jarang aku kunjungi.

Selanjutnya Kali Gendel. Yep, namanya yang unik menambah rasa penasaranku. Kalian tau? Beda dengan kali-kali yang lain, kali yang satu ini mempunyai satu hal yang sangaaat hebat sekaligus mengagumkan. Ada sebuah batu yang sangat besar- mungkin sepulu atau lebih kali besar dari manusia – yang menyerupai wajah manusia. Wiii, aku bener-bener kegirangan begitu melihat batu itu.

Kami mengambil waktu yang lebih lama berada di tempat ini. Aku dan Sango mengambil foto lebih banyak dari pada kedua laki-laki itu. Bahkan aku sampai memanjat batu yang besar itu. Pokoknya seru. Aku tidak tau apa aku harus bersikap biasa atau berlebihan "Oooi, Sango-chan! Ayo cepat naik!" Sango langsung berlari mendekati batu kemudian memanjatnya sampai sejajar denganku "Miroku! Fotoin kita dong" Kataku pada Miroku yang tenga berbicara pada pemandu kami.

"Mana kameranya?" Tanya Miroku. Aku celingak-celinguk mencari kamera itu.

"Di sini kameranya!" Sango melambai-lambaikan kamera itu. Heh, gimana ya kalau kamera itu kelempar dan jatuh? Di situ banyak lagi fotonya. Kuharap apa yang kuimajinasikan tidak terjadi. Kemudian entah karena aku sedang sial atau memang tempat ini tidak suka padaku, kamera yang dilambai-lambaikan oleh Sango benar-benar terlempar.

Aku membelalakkan mataku "Akh! Kamernya!" Oh no~ Jika kamera itu rusak, semua datanya akan hilang. Termasuk foto-foto saat di Borobudur. Tapi, alam menyelamatkanku. Dengan sigap Irwan langsung menangkapnya. Fiuuh!

"Hei! Kalau pegang kamera yang benar dong!" Protes Irwan. Makasi banyak Irwan. Aku terselamatkan.

Sango hanya tersenyum jahil "Hehe, maaf. Aku akan lebih berhati-hati!" Yah, kuarap apa yang kau katakan itu dapat terwujud. Karena mengingatmu memang orang yang cukup ceroboh.

Setelah puas bermain dan berfoto, kami kembali pergi ke tujuan berikutnya. Kali Adem. Namun, di sini kami tidak berbuat apa-apa selain mengambil beberapa foto pemandangan. Soalnya, sebentar lagi waktu akan menunjukkan pukul enam dan tempat yang kami kunjungi tadi akan tutup pukul enam sore.

Aku cukup kecewa. Tapi… Banyak hal yang sudah aku ambil dengan foto. Jadi aku sudah puas. Sudah waktunya untuk pulang.

Di perjalanan pulang, aku melewati beberapa kuburan yang diberitahukan Irwan kalau tempat itu adalah kuburan warga yang meninggal akibat peristiwa letusan gunung api. Kemudian, kami juga melewati satu tempat yang tanamannya terkena Wedhus Gembel. Weleh, benar-benar nama yang unik. Selama di sini tidak ada satu pun nama yang kutahu. Semuanya asing di telingaku. Tapi itu justru yang menjadi daya tariknya.

Dan ada satu hal lagi. Tapi sebelum itu aku ingin memberitahukan kalau kami kembali melewati jalanan roker. Yaa sebenarnta jalan dari kali satu ke kali lainnya memang melewati jalan roker. Oh ya aku sampai lupa. Itu, ada tembok tanah yang sehabis terkena tanah longsor. Tidak parah, hanya tinggi sekitar 3 meter.

Kami kembali lagi ke tempat semula. Hmm perjalanan yang memuaskan sekaligus seru. Kira-kira kapan ya, aku bisa berkunjung ke sini lagi?

Yaaa kapanpun itu, jika aku punya kesempatan aku akan mengunjungi tempat ini lagi.

.

.

Sekarang aku berada di kamarku. Tubuhku kembali terbalut jaket plus selimut. Sango sudah tertidur pulas di sampingku. Heh, enaknya bisa tidur. Kenapa ya malam ini aku sulit sekali tertidur. Sudahlah, lebi baik aku membuat coklat panas untuk membantuku tidur.

Saat aku keluar kamar, aku meliat Irwan sedang menonton TV "Belum tidur?" Tanyaku padanya sambil menyeduh air panas.

Ia menoleh padaku sedikit kemudian memfokuskan kembali pikirannya pada acara di TV "Sebentar lagi!" Jawabnya singkat. Hmp, kenapa sih. Dia kok sepertinya tidak menyukainya, atau.. sebenarnya ia benci padaku? Ah sudahla! Ingat Kagome, kau masih punya kekasih di Jepang. Jangan hanya karena kau sedang bertengkar membuatmu menjadi berpaling pada lelaki lain.

"Ya sudah, aku kembali ke kamar. Itu di meja ada coklat panas. Jika kau tidak bisa tidur minumlah!" Kataku sambil menunjuk ke arah meja dapur. Kemudian aku berjalan ke kamar untuk tidur. Tapi, kalau dipikir baik-baik Irwan memang cakep sih. Haduuuh kenapa aku malah jadi mikirin dia? Udalah lebih baik aku tidur.

Selama beberapa saat mataku masih tidak mau diajak kompromi. Maunya membuka terus. Padahal aku sudah lelah. Haaah! Sudahlah pokoknya harus tidur! Karena harus bersiap-siap untuk pulang ke Jepang. Pukul sepuluh pagi kami- Aku, Sango dan Miroku -akan kembali ke Jepang.

.

.

Aku tidak tahu jam berapa aku tertidur pukul berapa, tapi yang penting pagi ini mataku seperti hanya memiliki tenaga sepuluh watt "Kagome-chan! Cepat bangun. Kita harus segera berangkat. Kau memiliki waktu setengah jam jika tidak ingin kami tinggal!" He? Memangnya sekarang jam berapa.

Aku merada ke arah samping di mana aku menaruh jam bekerku. Mataku membelalak lebar saat mengetahui jam berapa sekarang. Pukul setengah delapan pagi! Untuk pergi ke bandara butuh waktu sekitar setengah jam. Sedangkan waktu check in adalah dua jam sebelum pesawat lepas landas. Aduuh bagaimana ini? "Apa semua sudah siap?" Tanyaku pada Sango.

"Miroku dan Irwan sedang memasukan barang-barang ke mobil. Sudahlah cepat kau mandi. Makannya di jalan saja biar tak lama!" Tanpa perlu dikomando lagi, aku langsung melesat ke kamar mandi dan cuci muka juga sikat gigi. Tak perlu mandi. Sudah tak ada waktu.

Setelah selesai menyikat gigi, kumasukkan semua barang-barangku ke dalam koper. Aku berlari menuju mobil "Kau lama sekali sih?" Protes Irwan.

"Berisik!" Kataku kesal.

Aku kembali ke dalam untuk mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh Sango. Setelah yakin aku sudah membawa semua barang-barangku, aku berlari lagi ke mobil kemudian masuk dan kami jalan.

Fiuh! Pagi yang heboh.

.

.

Untung! Kami masih bisa check in! Tepat! Kami harus berterima kasih pada Irwan yang sudah membantu kami. Sepertinya pendapatku padanya salah. Aku berjalan mendekari Irwan dan mengulurkan tanganku "Arigatou gozaimasu!" Kataku. Irwan mengulurkan tangannya kemudian menjabat tanganku "Atas semua bantuanmu selama kami berada di Jogjakarta. Karena bantuanmu, liburan kami sangat menyenangkan! Kuharap kita bisa bertemu lagi!" Kataku sambil tersenyum.

Irwan membalas senyumku "Sama-sama! Aku akan menunggu kalian kapan-kapan. Aku juga senang berkeliling dengan kalian!" Sango dan Miroku tersenyum bersama kemudian menjabat tangan Irwan. Miroku memeluk Irwan. Setelah sudah selesai mengucapkan salam perpisahan, kami masuk ke dalam untuk kepulangan kami ke Jepang.

"Kami akan merindukanmu!" Teriakku pada Irwan sambil melambaikan tangan. Aku melihat ekspresinya yang sedikit tersenyum kemudian membalas lambaianku dan aku menyusul Sango dan Miroku yang sudah mendahuluiku.

Aku menyusul keduanya. Sambil berbincang sedikit mengenai perasaan mereka akan meninggalkan kota Jogjakarta yang memiliki banyak misteri. Sedih juga meninggalkan kota ini. Meski ini hanya liburan selama empat hari, banyak kenangan yang kubuat bersama teman-temanku. Kuharap, suatu hari nanti, aku akan kembali lagi ke kota ini bersama dengan teman-teman dan keluargaku.

Pukul sepuluh pagi, pesawat sudah hendak untuk lepas landas. Aku memasang sabuk pengamanku kemudian menatap ke luar jendela. Seperti saat aku pertama kali datang ke sini saat sudah cukup tinggi terbang, semua bagaian tertelan lautan kapas. Pemandangan yang sangat indah. Gunung Salak dan Merapi bagai hidup di antara berjuta-juta kapas yang membentuk sebuah lautan di atas langit.

Aku memandang keluar jendela sambil tersenyum. Beberapa kalipun aku berfikir, misteri lautan kapas masi belum terpecakan. Aku juga tahu, mungkin sampai kapanpun, misteri itu tak akan terungkap.

Tapi, intinya aku senang pergi ke kota Jogjakarta.

Tujuh jam lamanya kami terbang dari kota Jogjakarta menuju Jepang. Sebelum pesawat terbang mendekati bandara, aku menyempatkan diri untuk meliat ke luar jendela apakah gunung Fuji, gunung yang sangat dibanggakan di kota Jepang juga dikelilingi oleh lautan kapas. Saat kulihat, terdapat cukup banyak sekali awan-awan yang menyelimuti bagian puncak Gunung Fuji.

Meski tak terlalu banyak, setidaknya Gunung Fuji tak terlalu jauh kalah dari lautan kapas milik Jogjakarta.

Setelah pesawat mendarat kami turun dari pesawat kemudian mengambil bagasi kami dan pergi ke luar bandara. Saat sudah sampai di luar, aku melihat sosok seorang laki-laki mengenakan kaos merah dibalut jaket abu-abu. Aku tau siapa dia. Setela yakin aku tau siapa pemilik sosok yang kukenal itu, aku berlari ke arahnya dan memeluknya.

Sama seperti misteri lautan kapas di atas langit, perasaanku padanya akan selalu menjadi misteri di dalam hidupku.

~THE END~

Akhirnyaaaaaaa! Traveling to Jogjakarta selesai juga.

Miwa seneng banget loooo. Akhirnya satu lahi fic Miwa selesai.

Untuk kata terakhir Miwa di cerita ini, Terima kasi atas dukungan teman-teman dan para reader yang sudah bersedia membaca dan member komen pada cerita Miwa. Semoga sukses dengan fic masing-masing.

Arigatou Gozaimasu!1