Aku masuk ke dalam jebakan itu lagi . Wanita itu membuatku menggila , dia seorang pelacur cinta yang begitu memaksa , ia bagaikan salah satu anak kecil Ethiopia yang kurang makan , aku merasa iba melihatnya .
IN HIS MIND
Satu hal yang pasti . Wanita itu tidak pernah memilki teman yang benar-benar teman , orang yang benar-benar mencintainya yang dekat padanya .
Aku dan dia adalah salah satu dari orang-orang yang kesepian meskipun mereka berada di antara keramaian . Tapi , dia lebih lagi . Dia begitu kesepian , tapi ia begitu ambisius , terutama dalam mencari kebahagiaannya . Mengejar orang yang di sukainya , yaitu aku . Dari pertama kali matanyan menatap mataku , aku tahu kalau ia tertarik padaku , baik fisik maupun kepribadian . Baginya , mungkin aku adalah cowok cool yang di idamkannya saat ia masih SMA dan yang tak pernah di raihnya .
Aku merasa iba padanya dan aku juga sangat pasti akan hal itu . Aku bukan seorang hedonis . Iya , aku tidak suka berada di dalam dunia dugem , aku adalah orang yang tenang dan mencintai ketenangan . Aku suka suara burung yang berkicauan , suara air yang menetes maupun suasana hujan rintik-rintik yang sendu . Aku memang punya selera yang konservatif , tapi tak ada yang menentangku dalam hal ini .
Wanita itu selalu merayuku, sampai aku jatuh ke dalam perangkap penuh hasratnya . Layaknya tenggelam di dalam wine merah , semerah darah . Begitu memabukkan , sampai aku tenggelam dan sulit untuk berenang ke atas lagi . Aromanya juga membuatku pusing . Rasa iba itu lebih dari segalanya , lebih dari iba . Tapi , ini bukan cinta . Kita berdua mengisi botol kosong yang bernama ego di diri kita .
Tieria Erde , si pemilik nama ini memilki jiwa yang perfeksionis . Aku tidak mau menjadi gay dan meskipun aku menyebut diriku sebagai seorang yang menerima dirinya sendiri , di hati kecilku selalu berkata bahwa aku harus menjadi seorang yang "normal" bukan "penyuka sesama jenis" .
Wanita bisa di ibaratkan sebagai "obat pahit" yang harus kuminum , sedangkan laki-laki adalah "gulali" . Aku mengeyampingkan diriku yang sebenarnya , aku tidak akan memakan gulali itu , aku harus memakan obat pahit itu . Paling tidak , kita lihat sampai kapan aku akan bertahan dengan "obat pahit" yang kusebut wanita ini .
Cynthia Tan . Wanita Chinese yang memperlakukanku begitu spesial , tidak ada wanita yang pernah memperlakukanku seperti ini . Ia melakukan semuanya demiku , ia berusaha menyenangkanku . Dari waktu sampai uang , sepertinya ia akan berikan semuanya untukku . Padahal aku melakukan ini dengan sukarela , karena aku ingin dia senang . Aku iba dengannya , aku tak pernah benar-benar menunjukkan hal itu secara visible .
Aku tidak pernah jatuh cinta padanya . Tapi , aku selalu menyetujui semua kemauannya kecuali untuk tidur dengannya atau make-out dengannya . Aku masih menerima kecupan kecil darinya . Meskipun begitu , aku selalu merasa bahwa aku adalah seorang pengkhianat . Lockon , aku masih cinta sekali denganmu .
Cinta oh cinta . Banyak orang bilang kalau cinta pertama adalah hal yang paling sulit di lupakan dalm hidupmu . Iya , itu benar dan berlaku untukku . Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seorang pria . Pria brunette yang begitu baik , sopan dan sangat gentleman . Aku tahu dia bukan "si penyuka gulali" sepertiku , dia adalah laki-laki normal . Tapi , ialah seorang pria yang memutarkbalikkan semua yang ada di dalam kepalaku , ke arah yang lebih baik dan lebih menimbulkan kedamaian di hatiku . Semua kata-kata yang pernah di ucapkannya merasuk ke dalam hatiku , dan hal itu mungkin akan selalu kuingat sampai aku mati .
Hari ini , aku pergi bersama Cynthia ke restoran Thailand dan kali ini aku yang menentukan segala sesuatu . Bukan dia , karena ia menyerahkannya padaku .
"Erde , kamu ada acara tidak hari ini , sampai malam maksudku ?" Wanita itu bertanya padaku layaknya seorang anak yang baru saja mengalami masa pubernya .
"Oh , aku tidak ada . Bagaimana denganmu?" Aku mau mendedikasikan waktuku di Dublin ini untuknya , menyenangkan wanita ini .
"Kamu mau tidak temani aku keliling Dublin?" Dia bertanya selayaknya dialah si turis , bukan aku . Wajahnya begitu berseri-seri , sambil memakan Cassava itu bersamaku .
Ia makan dengan begitu bersemangat , tapi juga dengan senyum . Sampai saus putih dari Cassava itu terlihat seperti lilin meleleh di bibirnya .
"Erde ..." Aku mengusapkan tissue di bibirnya , menghapus noda itu . Bukannya aku perhatian padanya , aku cuma mau membuatnya merasa bahwa usahanya merayuku tidak sia-sia .
"Panggil Tieria saja ... Kita kan bukan dua orang yang saling tidak mengenal" Aku selalu berusaha terlihat seperti lelaki 'normal' di depannya . Aku tak mau mengecewakannya ,sebagai seorang satu-satunya wanita yang bisa memperlakukanku dengan begitu spesial . Aku selalu berusaha untuk tidak mengalihkan perhatianku darinya , meskipun beberapa laki-laki membuatku mengalihkan pandanganku darinya .
"Iya , Tieria ..." Ia menjawab dengan centil , tangan kurusnya menggengam tanganku dengan lembut ,dan aku tidak menolak hal itu . Kali ini makan , aku yang bayar dan aku bisa lihat dirinya yang terlihat seperti anak kecil yang mendapat hadiah natal ketika aku membelikannya lollipop di dekat restoran Thailand itu . Cynthia , apa aku benar-benar bisa meninggalkanmu?
Kami berkeliling Dublin , termasuk jembatan di sungai Liffey yang hari itu terlihat begitu indah . Kami terlihat seperti pasangan yang sedang berpasangan . Aku , dengan trench coat berwarna krem milikku dengan dia yang membiarkan rambutnya di gerai lurus panjang dan indah , dengan tubuh yang dibalut oleh trench coat hitam dan lipstik yang diolesi warna merah , semerah kumbang yang menyatu alami dengan warna kulitnya .
Kami berdua makan crepes sambil memandangi langit kemerahan yang begitu indah , yang sudah lama sekali tak pernah kupandangi seperti ini . Tapi , di balik langit merah itu , ada banyak sekali pasangan yang melakukan hal yang sama denganku dan ada beberapa di antara mereka yang menarik perhatianku .
Seorang wanita tua dengan lelaki muda yang berciuman .
Pasangan remaja punk dengan rambut biru dan pink yang berciuman , membuat metal-metal piercing di bibir mereka berbunyi .
Pasangan kakek-nenek yang sudah tua . Dimana si nenek mendorong kakek itu yang terlihat sangat rapuh .
Seorang remaja perempuan dengan perut hamil tua yang berjalan-jalan bersama pacarnya .
Pasangan homoseksual . Di mana laki-laki yang satunya mengingatkanku pada Lockon . Rambutnya bergelombang , meskipun pendek . Berwarna coklat , meskipun jauh lebih gelap dari Lockon .
Lockon . Aku benar-benar tidak rela membiarkanmu pergi begitu cepat dari hidupku . Kau pergi sebelum aku menyatakan bahwa aku sayang kamu , bahwa aku bukan manusia biasa .
Tapi , tiba-tiba Cynthia menanyakan padaku pertanyaan yang agak sulit untuk di jawab.
"Namamu itu dari kata Tierra , kan? Yang aku tahu arti Tierra adalah bumi" Wanita itu menatapku layaknyaseorang remaja putri dengan rasa ingin tahu yang tinggi .
"Ehm... Sepertinya begitu" Aku benar-benar terdiam .
"Orang tuamu pasti enviromentalist" Aku benar-benar bingung dengannya , apalagi ketika ia menyebutkan hal-hal tentang orang tua .
"Orang tua ... Aku anak yatim piatu . Aku tinggal dengan teman-temanku" Bapa pendusta membisikkan kata-katanya padaku .
"Oh ..." Wanita itu menatapku dengan mata iba .
"Aku turut bersedih" Ia kembali menggengam tanganku dengan lembut , dan makin sulit untukku menolaknya .
Malam itu adalah malam teramai di kelab SACRACY . Cynthia makin panas untuk mengajakku berdansa dan malam itu aku tidak bisa menolak ajakan gilanya . Meskipun aku tidak ikut berdansa di atas meja seperti dia . Tapi , yang pasti dia makin 'gila' dalam merayuku . Tapi ,ia melakukanya untuk memuaskan egonya .
Puluhan kali , ia berusaha menyenggolkan tubuhnya padaku , dengan cara yang sangat 'pelacur' . Ia juga berusaha membuatku mabuk . Meskipun aku minum sebanyak itu , aku tak akan mabuk semudah itu sejak aku adalah seorang innovator , hal itu perlu di catat baik-baik . Tapi , aku bisa lihat Cyhthia agak mabuk , maka itu dia mengajakku balik ke hotel .
Aku membiarkannya istirahat sebentar di ruanganku . Ia sudah berusaha merayuku dengan gerakan-gerakan nan-senonohnya . Wanita itu benar-benar agresif . Cynthia .. oh .. Cynthia .
Tapi , aku tetap menolaknya . Tiba-tiba saja ia berteriak padaku "Kamu banci ya!?" dengan sangat kerasnya dan juga dengan nadanya yang tinggi . Entah kenapa hal itu bisa membuatku naik pitam .
"Maksudmu apa?" Aku berjalan mendekat padanya .
"Kamu selalu bertindak layaknya seorang wanita ! Aku butuh seorang laki-laki ! BUKAN BANCI!" Wanita itu berteriak padaku , seperti orang gila .
Hal itu membuatku jadi rela untuk tidur dengannya , meskipun aku sempat menyakitinya layaknya seorang yang melakukan sexual abuse . Agak keterlaluan , tapi sepertinya dengan sedikit memar , ia tidak marah denganku .
Di tengah malam , kami sempat berbincang-bincang .
"Tieria .. Aku minta maaf ya" Katanya dengan wajah yang sedang kuobati .
"Aku yang seharusnya minta maaf karena hal ini ... Aku sudah membuatmu memar begini" Kataku padanya .
"Kamu tahu kan aku cinta kamu" Kata wanita itu padaku , pernyataan yang begitu melankolis , dan ia mulai menyentuh bibirku , mencoba menciumku . Meskipun beberapa kali aku berpikir untuk menghindar . Dia menciumku dan aku menciumnya balik .
Kami menjadi terikat di dalam hormon vasopresin atau apalah . Yang pasti , ciuman itu benar-benar berpengaruh kuat bagiku maupun dia .
Tapi , ini masihlah sebuah hubungan terlarang .
Cynthia bukanlah seorang single , ia punya suami . Meskipun suaminya jarang pulang dan hampir tidak pernah pulang . Suaminya hanya mengirimkannya uang dan foto-foto dia di tempat kerjanya .
Cynthia punya Joel . Anaknya .
Aku bukan seorang heteroseksual sejati . Mungkin biseks . Tapi , yang pasti aku pernah jatuh cinta pada seorang lelaki .
Kami sudah layaknya seperti orang berpacaran dan aku menikmati hal itu . Tapi , dia lebih seperti teman yang menggunakanku untuk memenuhi hasrat-hasratnya . Tapi , ia mencintai aku meskipun aku tidak benar-benar mencintai Cynthia . Hampir setiap hari dalam 1 bulan itu aku bersama Cynthia , menikmati jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersamanya di Dublin .
Sekarang , aku benar-benar 100% selingkuhannya . Dalam berbagai hal .
Tapi , tanggal 12 Maret 2309 adalah hari yang membuat diriku menjadi orang yang miserable .
Pagi itu , bell kamarku berbunyi dan aku masih menggunakan piyama biru kesayanganku yang di belikan oleh Cynthia . Cynthia ada di tempat itu .
Aku membukakan pintu itu dan sesosok laki-laki berbadan besar muncul di depanku , ia seorang Chinese , dengan kacamata berbingkai hitam dan menggunakan kemeja lengan panjang , mengantarkan sebuket bunga biru .
Ia melemparku sampai punggungku terbentur ke tembok dan itu begitu sakit , meskipun tidak ada tulang yang retak .
"Mana Cynthia ?!" Ia berteriak di kamarku , sementara aku sudah tidak kuat untuk bergerak lagi .
Lelaki besar itu menarik lengan kurus Cynthia , melemparnya ke ranjang . Padahal Cynthia baru saja selesai berdandan .
Lelaki itu melemparkan buku kuning yellow-page ke Cynthia , sampai wajahnya berdarah . Lalu ia mengangkatnya dan melemparnya ke tembok . Menamparnya sambil berteriak .
"Dasar Pelacur! Berani-beraninya kamu selingkuh dariku!Apa yang kurang dariku?" Laki-laki itu kembali menamparnya , sampai wajah Cynthia berdarah .
" Tieria , tolong aku ..." Cynthia tampak begitu menyedihkan , aku ingin bergerak menolongnya .
"Oh , jadi si gepeng Tieria ini yang jadi gigolomu?" Lelaki itu menyebutku sebagai seorang gigolo dan ia langsung menghampiriku , berdiri tegak di depanku . Mengeluarkan uang yang banyak dari dompetnya .
"Kamu butuh uang?" Ia menunjukkan tumpukan uang yang banyak itu padaku dengan wajah yang sedih .
"Ambil ini semua dan jauhi istriku untuk selamanya" Laki-laki besar itu melemparkan setumpukan uang itu padaku , menarik Cynthia keluar dari kamar itu secepatnya sambil menutupi wajahnya .
Cynthia . Aku minta maaf aku tak bisa melindungimu . Sama seperti Lockon , aku kembali kehilangan orang yang memperlakukanku dengan baik .
14 Maret 2309 .
Bangun sendirian dari tempat tidur . Kembali menatap kaca , melihat wajah feminin itu lagi . Tubuh yang kurus dan sama sekali tidak berotot , rambut yang sering lepek . Berbeda dengan meister-meister lain yang punya muscly dan terlihat macho . Aku tidak pernah mengerti kenapa Cynthia bisa jatuh cinta padaku , seorang laki-laki yang feminin ini , aku bitchy lagi . Cynthia , terimakasih sudah mau mencintaiku .
Hari ini aku memutuskan untuk pergi dari Dublin .
Benar-benar berbeda dari hari pertama kudatangi tempat itu , tidak ada lagi bunga bertaburan . Kartu pos cinta dimana-mana . Semua tampak berbeda dan tidak ada lagi wanita yang menemaniku makan di restoran fast food .
Aku secepatnya berusaha agar keluar dari Dublin . Aku adalah pengaruh buruk bagi Cynthia .
Menunggu di airport itu bagaikan menunggu orang mati untuk bangkit hidup . Begitu lama , baru kali rasanya 1 jam begitu lama .
Tiba-tiba PDA-ku berdering , menyatakan bahwa ada e-mail masuk .
"Tieria , maafkan aku . Aku cinta kamu . Aku tidak akan pernah bisa meraihmu .
Aku punya anak dan suami . Tapi , sekali lagi aku mau bilang ke kamu .
AKU CINTA KAMU"
Itu isi e-mail wanita itu . Aku hanya bisa membalasnya .
"Cynthia . Maafkan aku . Aku yang membuatmu terjerumus dalam berbagai hal ini.
Tapi , ketahuilah bahwa aku sayang kamu"
Aku tekan "SEND" dan e-mail itu terkirim langsung ke Cynthia .
" Terima kasih mawar birunya"
Aku mengirimkan sebuket bunga biru pada Cynthia , tanpa nama ke rumahnya .
Aku memastikan bahwa bunga itu diterima Cynthia dan tidak ketahuan oleh suaminya .
Aku memastikan bahwa Cynthia akan tersenyum ketika membaca surat kecilnya .
DON'T WORRY BE HAPPY
Kisah ini tidak berakhir seperti komedi romantis . Kisahku tidak akan menjadi kisah di telenovela-telenovela . Cynthia tidak mengejarku di airport . Kadang-kadang ia mengirimkan e-mail dan ini hanya seperti pertemanan biasa .
Tapi , satu hal yang pasti . Kita berdua pernah jatuh cinta satu sama lain .
THE END .
Author's little note :
Okay , pandanganku mungkin berbeda dengan kalian . Aku melihat Tieria bukan sebagai seorang homoseksual . Lebih ke biseksual , tapi lebih condong ke 'gulali' .
INI BENAR-BENAR TERAKHIR .
THANK YOU FOR READING .
YOUR COMMENTS/REVIEWS/CRITIQUES ARE MY PLEASURE .
