Mati. Bu Sunny walaupun membolehkan siswanya makan dan tidur di kelas, dia tidak memberi toleransi pada siswa yang sibuk sendiri *main-main* dan ribut di kelas. Pasti dia mengira aku dan Yunho tidak serius mengerjakan tugasnya.
"Ibu harap kalian tidak sedang bertransaksi komik lagi seperti minggu lalu."
Aku bisa melihat Yunho tersenyum kikuk karena ketahuan. Begitu pula dengan ku yang menggaruk-garuk kepala. Beberapa teman bahkan menertawakan sikap kami. Sedangkan Ahra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tapi sepertinya Tuhan masih berbaik hati melepaskan kami dari hukuman Bu Sunny. Guru manis itu membereskan mejanya dengan segera. Tapi dari sudut mata aku masih bisa menangkap wajahnya yang beberapa kali memandangi ku dan Yunho.
"Berterima kasihlah pada guru piket, karena kalau tidak kalian berdua sudah berada di toilet sekolah sekarang." Ucapnya ketika melewati bangku kami.
"Dasar. Kayak nggak punya waktu aja. Tau sih ada yang lagi jatuh cinta. Tapi nggak segitunya juga kan? Sampai diomelin guru. Haduh, Jae.." keluh Ahra yang duduk mepet tembok.
"Asan cuma nanya aku udah selesai apa belum kok. Kami nggak ngomongin macem-macem." Kedua jariku membentuk huruf V berada di depan wajahnya.
"Iya-in aja deh." Jawabnya malas lalu berlalu dari kelas.
"Hey, Ahra. Ya! Ahra. Tunggu aku." Tapi dia sudah lebih dulu menggandeng lengan Boa, teman sekelas kami yang lain.
Aish... ada apa dengannya? Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Sudah beberapa hari ini dia mengabaikanku. Dia juga terlihat kesal tiap kali aku berdekatan dengan Yunho. Omo! Apa Ahra juga menyukai Yunho? Huwaaaa.. Andwee..
.
.
Love Is Never Gone
Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Other casts
Rate : K
Genre :
Author : ayy88fish
Disclaimer : Chara bukan milik saya. Saya hanya meminjam nama untuk menuangkan imajinasi yang tercipta dalam pikiran saya. Tapi cerita milik saya.
Warning : GS for uke, bahasa tidak sesuai EYD, gaje, typo(s). No beta. No edit.
a/n : Ayy sedang mencoba sesuatu yang baru. Menulis dengan gaya berbeda tentang school life dan teenage. Mengenang kembali masa-masa sekolah dan berspekulasi tentang apa yang akan terjadi di masa depan –ketika sudah tidak mengenyam pendidikan lagi-. Sebuah cerita ringan yang tidak memiliki banyak konflik *pengennya*. Yah, tapi berhubung ayy suka ama yang romantis-romantis, jadi mungkin akan nyelip dikit. Meskipun nggak tau menurut readers romantis apa nggak. So, mohon kritik dan sarannya. Selamat menikmati ^^
.
.
'Sepertinya kecurigaanku tentang Ahra yang menyukai Yunho semakin menguat deh. Buktinya, dia semakin menghindar dariku dan beberapa kali pindah bangku kalo lagi nggak ada guru di kelas. Dia juga nggak menyertakan ku dalam kelompok kalau ada tugas. Belum lagi setiap jam istirahat dia menghilang entah kemana. Teman sekelasku sejak SD itu, membuat ku jadi berprasangka buruk padanya. Ini sudah tidak bisa dibiarkan. Aku harus bertanya langsung padanya. Kalau begini terus, lama-lama aku bisa kurus karena memikirkannya. Jaejoong, hwaiting!'
Aku berkaca sambil mengepalkan tangan. Niat tulus nan suci ku harus tercapai hari ini. Aku nggak mau hubungan kami merenggang karena alasan yang nggak jelas. Harusnya kalau dia memang menyukai Yunho, dia memberitahukan ku bukannya diam-diam. Aku akan dengan senang hati mundur teratur jika itu terjadi.
Aku keluar kamar sambil menenteng ransel menuju ruang makan. Ayah, ibu dan Taemin adikku sudah duduk disana. Taemin adalah adik perempuanku. Dia sudah kelas 3 SD. Ibu suka sekali mengepang rambut sepinggangnya. Tubuhnya sangat sehat. Tingginya saja sudah sebahuku. Berbanding terbalik denganku yang mudah sakit-sakitan. Tapi sayangnya, ia cengeng. Mudah sekali menangis hanya karena hal-hal spele yang kadang tidak penting. Dijahili sedikit langsung meraung-raung dan merajuk. Tapi karena usia kami tidak terpaut jauh dan sering beraktivitas bersama, kami malah menjadi tergantung satu sama lain.
Ibuku seorang pegawai kantor pemerintahan. Tapi aku sangat mengaguminya yang mampu membagi waktu antara pekerjaan dengan tugas rumah tangganya. Ibu tidak pernah memarahi kami. Ibu tidak pernah mengomel apalagi memukul. Tapi jika kami melihat ibu diam dan tidak mau menanggapi kami, itu artinya ibu sedang marah. Hanya mood dan waktu yang bisa meredam kemarahan ibu.
Ayah juga seorang pegawai kantor pemerintahan juga. Tapi dia lebih fleksibel karena waktunya lebih banyak di lapangan. Ayah ku sangat tampan. Konon dulunya ketika masih bujangan, banyak gadis yang mencari perhatiannya. Banyak yang ingin menjadi kekasih juga istrinya. Namun ayah mengabaikan mereka dan jatuh cinta kepada ibu. Seorang gadis yang mengabaikan kepopulerannya. Yah, mungkin karena hal itu juga ayah jadi suami yang sangat menghargai dan menghormati istrinya. Meluluhkannya saja susah!
"Sepertinya anak ayah semangat sekali pagi ini."
Aku tersenyum lima jari dan duduk di kursiku. Taemin makan dengan lahap, kakinya bergoyang-goyang di bawah meja. Ibu duduk di belakangnya, mengepang rambutnya diselingi pita merah muda. Aku mengambil susu dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Lalu mengisinya kembali dengan air putih. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku.
"Wah, seafood!" mataku berbinar senang melihat sup makanan laut yang menghiasi meja makan bagian tengah.
"Ibu kan sudah janji pada mu, sayang."
"Terima kasih, Bu. Ibu yang terbaik! Ummmm... Enakkk.."
Kedua jempol tanganku mengacung ke udara. Menyatakan betapa lezatnya masakan koki kesayangan kami. Ibu memang tidak ada duanya!
"Ayah, Joongie ingin ekstra musik. Boleh? Bu Hyorin membuka kelas musik mulai hari ini."
Ayah menghentikan keasyikannya menyendok makanan ke dalam mulut. Terlihat ia berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.
"Gratis, Ayah. Kan ekstrakulikuler sekolah. Yah, please... Joongie nggak tahu mesti masuk kelas mana lagi."
"Um, sayang... Selain musik ada ekstra apa lagi?" tanya ibu.
"Menari, vokal, penelitian, teater, masak, debat, olah raga.. ehhh.. Joongie nggak mungkin deh masuk ke sana. Ceweknya aja kekar-kekar."
Ayah dan Ibu berpandangan sejenak lalu mulai berbicara kembali.
"Bagaimana kalau debat? Ayah lihat Joongie senang sekali bermain alibi dengan Taemin."
Oke. Aku tahu Ayah dan Ibu tidak mungkin mengabulkannya. Tapi apa mereka tidak mecoba berunding dulu? Siapa tahu kelak, bertahun-tahun kemudian aku bisa menjadi pianis terkenal karena hasil latihanku. Who knows?
Aku memincing kepada Ayah, karena jika jurus puppy eyes gagal, maka jurus merajuk biasanya akan lebih mempan. Ibu sih nggak bisa digoda dengan apapun. Sifatnya teguh bak batu besar di belakang rumah. *Batu karang udah mainstream*
"Uhm.. Baiklah. Tapi hanya boleh belajar drum. Ayah nggak mau lagi mengganti piano dan biola sekolah yang Joongie hancurkan karena kesal."
"Itu karena mereka tidak menyetel suaranya dengan benar, Ayah." Protesku tak terima karena Ayah mengingat kembali kejadian ketika aku masih sekolah dasar.
"Kau saja yang tidak bisa membedakan mana fa mana sol, sayang..."
JLEB
Yah, intinya aku memang nggak bakat musik. Oke. Istirahat nanti aku akan menyerahkan formulir pendaftaran yang dilingkari tinta hitam pada kata DRUM.
:
..Ayy8888fish..
.Love Is Never Gone.
:
Sesuai dengan niatku tadi pagi, aku menarik paksa Ahra ke belakang kelas sebelum di kabur lagi sama Boa. Aku nggak peduli sama tatapan aneh teman-teman. Kalo pakai cara halus nggak bisa, maka aku akan memaksa dengan kasar. Aku juga nggak peduli sama Ahra yang teriak-teriak nggak tahu malu sepanjang jalan. Yang aku butuhkan adalah kejelasan atas sikap nggak jelas Ahra akhir-akhir ini.
Ketika sampai di tempat yang dimaksud, aku melepaskan tanganku. Lalu menatapnya lama. Memastikan bahwa apa yang akan keluar dari bibirku bukanlah sesuatu yang akan merenggangkan hubungan kami kelak.
"Kau kenapa, sih? Tanganku sakit, tahu!"
Wajar aja sih kalo Ahra marah. Tangannya yang putih kelihatan banget memerah.
"Mian. Tapi aku ingin tanya sesuatu. Pikiranku kemana-mana gara-gara ini."
Ahra melipat kedua tangannya di dada. Pose jika ia sedang merasa 'bossy'.
"Kamu ngapa jauhin aku?"
"Nggak ada."
"Ada. Buktinya kamu nggak pernah ngajakin aku ke kantin lagi. Kamu juga nggak mau ngerjain tugas bareng-bareng lagi. Mau diajak pulang bareng malah udah ngilang duluan. Apa maksudnya?"
"Nggak ada. Lagi bosen aja kali." Ucapannya menggantung. Ia memainkan jari-jarinya di antara bibir tipisnya. Terkadang meniupnya pelan. Menghindari tatapan mataku yang menelanjanginya. Sikapnya kalo lagi nyembunyiin sesuatu. Sumpah deh, kamu nggak bisa bohong dari aku!
"Kamu suka sama Yunho?"
Ahra langsung menatapku. Ia tertawa sebentar kemudian diam karena tak ada respon apapun dariku.
"Ehem. Kayaknya kamu salah paham deh."
"Wajar dong kalau aku salah paham. Kamu mulai aneh gini sejak aku dekat dengan Yunho. Kalau kamu memang suka sama dia, aku nggak masalah tuh menjauh dari dia. Tapi tolong jangan kayak gini lagi. Kita temenan tuh udah dari orok. Nggak lucu kali kalau bubar gegara cowok."
Ahra malah ngakak dengar penjelasanku yang panjang lebar. Dikira aku lagi ngelawak kali ya. Padahal muka udah serius gini juga. Huft..
Ahra maju beberapa langkah lalu menepuk pundakku beberapa kali. Ia tertawa tertahan.
"Lucu?"
"Ahahaha..."
"Dasar gila." Ejekku.
"Habis kamu aneh deh. Mana mungkin aku suka sama si cakar ayam. Cakep sih, tapi kalo anak mami model dia sih aku ogah. Dikasih juga nggak mau. Buat kamu aja deh." Sisa tawanya masih ada.
"Lalu, apa alasan mu jauhin aku. Aku kan galau..."
"Aku cuma suasana baru. Oke? Swear aku nggak maksud apa-apa."
"Yakin?"
"Hu'um."
"Abis ini jangan diulangin ya."
"Iya."
"Sumpah?"
"Iyaaaaaaa!"
"Awas loh kalo boong. Aku bilangin ama tante Soo Ae baru rasa." Ancamku yang tentu saja tidak akan membuatnya takut.
"Diiih.. Udah dibilang iya juga."
"Awas kalo diulangin lagi."
"Iya, SESEK!"
:
..Ayy8888fish..
.Love Is Never Gone.
:
Satu masalah udah selesai. Tinggal satu lagi yang menyangkut masa depanku di sekolah ini selama dua setengah tahun ke depan. Iya, soalnya ekstrakulikuler juga jadi sesuatu yang bernilai di sekolahku. Ku pandangi lagi formulir di tanganku dengan lesu. Aku baru saja dari ruangan Bu Hyorin. Niatnya sih mau nyerahin tuh kertas, tapi begitu dia baca apa yang ku pilih, dia malah ketawa-ketawa. Mau nggak mau, bibir seksiku ini maju sepuluh senti.
"Ada yang salah, Bu?"
Bu Hyorin langsung berhenti ketawa dan melihatku dengan tatapan geli. *bukan jijik ya*
"Nggak. Ihihihi.."
Lah, katanya nggak lucu tapi malah cekikikan gitu. Aku kan jadinya tersinggung.
"Kalau nggak diterima juga nggak papa. Nanti saya coba ke tempat lain." Ucap ku sok lemas. Bayangin, belum mulai aja aku udah ditolak secara nggak langsung. Muka ku nggak cocok ya jadi pemusik?
"Kalaugitu saya permisi dulu, Bu. Sudah mau bel masuk." Aku membawa formulirku kembali ke kelas.
Ketika aku sudah hampir sampai pintu, Bu Hyorin memanggil namaku.
"Kim Jaejoong. Sebentar. Aduh, kamu kok merajuk gitu sih. Maaf ya. Ibu nggak bermaksud gitu kok. Sini. Mana formulirnya tadi. Biar ibu simpan dulu."
Aku menyerahkan kembali kertas yaang sudah ada di tangan ku kembali ke atas meja. Setelahnya aku pamit kembali ke kelas. Sepanjang jalan, aku mencoba mengingat-ingat kembali apa yang salah dari selembar kertas nyaris lecek itu. Dan ketika istirahat kedua berakhir aku baru ingat. Aku mengisi kolom 'alasan memilih DRUM' adalah "Karena ayah dan ibu khawatir saya akan menghancurkan alat musik lainnya karena ketidaksabaran saya dalam belajar dan harus menggantinya."
"Dasar bodoh."
:
..Ayy8888fish..
.Love Is Never Gone.
:
"Tumben lesu." Yunho menarik kursinya kemudian duduk di sebelahku. Dia menggoyang-goyang lenganku yang menjadi tumpuan kepala.
Kedua tanganku terlipat di atas meja. Kepalaku menelungkup di sana. Entah kenapa kepalaku rasanya berat sekali. Perutku mules luar biasa. Kayak ada mesin penggiling di dalamnya. Belum lagi dari pinggang sampai kaki rasanya kayak mau lepas. Pegal kayak orang habis jalan berkilo-kilo jauhnya.
"Jae. Kamu demam? Kok badanmu panas?" kayaknya dia tahu gara-gara megang lenganku tadi. Uh, rasanya pusing. Mual juga.
"Aku antar ke ruang kesehatan, ya."
"Tolong ambilin air, Yun. Di tas ku. Tolong..." suara ku lirih banget. Udah kayak orang nggak punya tenaga sama sekali.
"Iya. Iya. Ini." Dengan sepat dia nyodorin sedotannya ke mulutku. Aduh, badanku lemes semua. Padahal udah lama nggak gini. Nggak lama kemudian, yang aku ingat cuma gelap.
:
..Ayy8888fish..
.Love Is Never Gone.
:
TBC
:
"M"040514
