Invisible : Can you see me waiting on you?
Summary:
Ketika aku datang padamu, namun kau tak menyadari kehadiranku..
Pairing:
Ichigo Kurosaki and Rukia Kuchiki(Inside Ichi-Hime)
Rate:
T
Genre:
Angst/Romance
Disclaimer:
just master Tite Kubo had authority with Ichigo and Rukia :D
Warning:
AU, maybe typo(s), and maybe OOC, mohon maaf apabila ada kesamaan cerita/ide/tempat, first publish si newbie Don't Like, don't read
A/N: ditujukan orang yang merasa takut kehilangan dan sudah kehilangan..
Chapter 4
...
If i can go back, i will replace your place
...
Operasi Rukia sudah selesai, Ichigo dan Momo berdiri dari tempatnya masing-masing dan ikut mendorong tempat tidur Rukia menuju kamar VVIP. Berbagai macam alat dipasangkan pada gadis mungil ini. Momo sempat meneteskan air matanya, sedangkan Ichigo hanya menatap sendu sang mungil.
" kurosaki, bisa bicara sebentar?" ucap Ishida.
Ichigo menggangguk dan mengikuti Ishida. Lalu,dia berhenti sebentar, dan berkata pada Momo
"Momo, jaga Rukia. Hubungi aku kalo ada apa-apa" ucap Ichigo
" baik Kurosaki-san" ucap Momo sambil mengikuti tempat tidur Rukia yang memasuki kamar inapnya.
Cukup lama, Ishida memikirkan berita yang akan di sampaikan pada sahabat karibnya didepannya ini.
" Ishida, ada apa sebenarnya?" tanya Ichigo
"Kurosaki, sebagai sahabat aku hanya bisa mendukungmu. Kuchiki-san kemungkinan untuk sembuh sangatlah sulit" ucap Ishida menjelaskan.
Jiwa Ichigo hancur berkeping-keping lebih dari apapun.
" ..tidak mungkin..." gumam Ichigo pelan
" Peluru itu merobek selaput paru-paru Kuchiki-san, walau tidak melukainya tapi, itu membuat kuchiki-san sulit bernafas dan tidak bisa bertahan hidup. Terlebih lagi Kuchiki-san koma dan tidak bisa diprediksi kapan akan sadar. Kurosaki, bersabarlah dan tetap berdoa untuk kesembuhan Kuchiki-san" ucap Ishida lagi
Ichigo terdiam, tatapannya kosong . Apa yang harus ia lakukan untuk membuat Rukia-nya bertahan? Apa yang akan ia jelaskan dengan Byakuya nanti?
Persetan dengan orang yang mengincarnya, harusnya ia yang terbaring disana bukan Rukia-nya. Harusnya ia yang akan mati bukan Rukia-nya
" Kurosaki.." panggilan Ishida, mampu menghempaskan Ichigo kembali kedunia nyatanya.
" Ini adalah kesalahanku Ishida.." bisiknya lirih
"Kurosaki, ini bukan kesalahanmu. Ini kecelakaan." Ishida mencoba menenangkan.
BRAAK
Ichigo menggebrak meja dan menarik kerah baju Ishida. Ishida terperangah, namun ia hapal betul sahabatnya, ia melakukan ini karena merasa bersalah..
" aku yang membuat Rukia seperti ini, melukai perasaannya, menghancurkan impiannya membangun rumah tangga bersamaku dengan bertunangan dengan Inoue yang sedang sekarat dan aku membuatnya sekarat sekarang. HARUSNYA AKU YANG DISANA BUKAN DIA, HARUSNYA AKU MENYADARI BAHWA ADA ORANG YANG MEMBUNTUTIKU!" teriakan Ichigo berhenti dengan terlepasnya kerah baju sahabatnya. Ia tersungkur didepan sahabatnya.
"KUROSAKI!" bentak Ishida
" Kuchiki membutuhkanmu, sekarang maupun nanti. Hal yang kau harus pegang adalah menunggunya sadar walau itu tak mungkin sekalipun. Aku tau ini sulit untukmu. Aku mendengar rencana pertunangan itu dan jika aku jadi kau, aku akan melepaskan orihime dan menemani kuchiki disaat terakhirnya." Ucap Ishida lagi.
" inoue sekarat, ia sakit parah. Apa yang harus kulakukan Ishida?" lirih Ichigo
" aku mencintainya Kurosaki"
Jawaban Ishida sungguh menghentakkan si sulung kurosaki ini.
" maksudmu?"
"aku mencintainya, biarkan aku yang menggantikan posisimu. Kau hanya perlu bertahan diposisi kuchiki-san saja. " ucap Ishida sambil berjalan keluar dari ruangannya.
Lagi-lagi jawaban Ishida membuat Ichigo hilang kata-kata.
I realized that i should be your side not besides someone else...
Ichigo POV
'Peluru itu merobek selaput paru-paru Kuchiki-san, walau tidak melukainya tapi, itu membuat kuchiki-san sulit bernafas dan tidak bisa bertahan hidup. Terlebih lagi Kuchiki-san koma dan tidak bisa diprediksi kapan akan sadar.'
Mungkin aku sudah hancur sekarang, sangat hancur. Rukia...jangan pergi..
" Kurosaki-kun"
Tiba-tiba ada suara yang sangat familiar..ini suara..
" Orihime" suara Ishida membuatku mendongakkan wajahku yang sejak tadi kututup dengan kedua tanganku.
" Ishida-kun, Kurosaki-kun, sebenarnya Kuchiki san kenapa?" Inoue terus bertanya
Ishida hanya memandangnya datar, sedangkan aku hanya terdiam.
" astaga, kurosaki-kun. Bajumu.." ucap Inoue saat melihat bajuku banyak bercak darah. Ya, itu darah Rukia..
Ishida dengan tega mengatakan, "Kuchiki tertembak saat menyelamatkan Kurosaki"
Inoue pun jatuh terduduk dihadapanku, namun aku menahannya agar tidak limbung. Ishida menatapku tajam atas tindakan barusan.
"Kuchiki-san tidak mungkin mati kan?" tanya Inoue lagi. Kali ini air mata menggenang dipelupuk mata Inoue
Aku hanya bisa terdiam. Ishida hanya bisa memicingkan matanya dan seolah-olah berkata,
'lepaskan tanganmu itu dari Orihime, Kurosaki'
" Orihime, bukankah kau ada pemeriksaan hari ini dengan dokter Ulqiuora?" tanya Ishida yang mencairkan suasana agar tidak terlalu sedih atau memang ia ingin bersama Inoue..?
Inoue pun berdiri dengan atas bantuanku dan beranjak menuju Ishida.
" Kurosaki-kun, jaga kuchiki-san ya. Aku mohon " ucapnya tulus
Aku hanya mengangguk sambil memberikan senyum tulusku dan sempat melihat Ishida menoleh kearahku seolah-olah berkata,
' Dia tanggung jawabku, Kurosaki. Cepat buat Kuchiki-san sadar'
Aku membuka pintu kamar Rukia, terlihat banyak peralatan medis yang terpasang ditubuhnya, membuatku miris sekaligus ingin menangis. Wajahnya yang pucat, alat pernafasan yang menutupi hingga hidung mungilnya membuatku remuk. Hatiku sakit bukan kepalang.
" Rukia.." ucapku padanya yang masih terbaring. Gerak patah-patah dari nafasnya, membuatku ingin menukar takdir dengannya. Takdir yang membuatnya berjuang hidup.
" Kurosaki-sama" ucap seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet.
Ah aku lupa ada Momo, sekretaris Rukia. Aku menoleh dari arah sumber suara.
" Momo, sebaiknya kau kembali kekantor. Biar aku yang menjaga Rukia" ucapku padanya.
"ano, tapi Kurosaki-sama.." dia mengelak.
" tidak apa momo, lagipula Rukia membutuhkanku. Aku sudah minta izin agar tidak masuk kantor." Ucapku sambil memandangi wajah Rukia yang tak pernah berhenti tersenyum untukku ketika bertemu .
" Baiklah, Kurosaki-sama. Saya undur diri" ucapnya sopan dan membungkukan badannya.
Aku pun hanya mengangguk lalu mengambil kursi untuk berada disamping futon Rukia. Kugenggam tangan mungilnya erat, kutatap dia yang sangat damai. Wajahnya mengingatkanku pertama kali menciumnya. Akupun sering terkikik mengingat kejadian first kiss kami yang tak biasa. Namun, sekarang yang kulihat Rukia sedang tertidur panjang dan tiada yang tahu kapan dia bangun.
" Rukia.." aku memanggil namanya seperti mantra agar ia terbangun.
" Jangan pergi, aku tak bisa hidup tanpamu, Rukia" aku terus memanggil namanya hingga aku terlelap.
Rukia..
End Ichigo POV
I see you in my dream but i can't reach you anymore...
Normal POV
Ichigo tertidur disamping futon Rukia. Ia menunggu rukia-nya siuman hingga terlelap tanpa sadar. Dari balik pintu ada seorang wanita mengamati kamar Rukia.
" Kuchiki san, aku akan menolongmu" ucapnya sambil menatap sendu Rukia.
Tiba-tiba ada seorang perawat datang,dan menghampiri wanita tersebut.
" maaf anda siapa?" tanya seorang perawat
" saya hanya kerabatnya yang datang kemari, saya sudah selesai. Saya pamit dulu ya suster." ucap wanita berambut pink ini dan Kemudian berlalu.
Perawat ini hanya bisa memandang orang asing itu.
"orang yang aneh" gumam sang perawat lalu bergegas pergi mengerjakan tugasnya.
Inoue baru saja keluar dari tempat pemeriksaan dan sangat terkejut ketika Ishida yang sedari tadi menunggunya didepan ruangan.
" Ishida-kun" panggilnya lembut.
" Orihime, bagaimana ada perkembangan apa soal penyakitmu?" sapa Ishida gugup.
" Umm.. perkembangannya cukup baik. Sel kankernya mulai terkikis ketika kemoterapi" ucap Inoue sambil tersenyum masam.
Ishida yang mengetahui akan hal itu tanpa sadar membawa Inoue kedalam pelukannya.
" aa..ano Ishida-kun..." ucap Inoue yang berusaha melepaskan pelukan dari Ishida.
"Biarkan begini Orihime.. biarkan aku memberi tenaga padamu" ucap Ishida yang tetap tenang dengan posisinya.
"Tapi Ishida-kun, aku.."
"Inoue relakan Ichigo untuk Kuchiki-san"
Mata Inoue membulat sempurna ketika Ishida mengucapkan kalimat itu.
"Ishida-kun..." ucapnya lirih
' aku mencintai Kurosaki-kun disisa umurku,apakah tidak boleh?'
" aku hanya ingin bahagia disaat terakhirku bersamanya" ucapnya hampir terisak. Air mata Inouepun tumpah ketika Ishida dengan teganya berkata seperti itu.
" Kuchiki-san lebih membutuhkannya, Orihime " ucap Ishida yang mempererat pelukannya.
FLASHBACK
Hari ini dimana reuni SMA KARAKURA. Semua alumni dan alumnus datang berkumpul untuk mengenang masa-masa kejayaan di SMA. Ishida, Inoue, Chad, Ichigo, dan Rukia berkumpul dalam satu meja yang sama.
" aku ke toliet bentar ya midget " celetuk Ichigo jahil sambil melengos ke toilet.
" huh dasar, baka. Awas saja dia " ucap Rukia sambil cemberut.
Chad mengobrol dengan Mizouiro, sedangkan Inoue dengan Tatsuki. Tinggallah Ishida dengan Rukia.
"Kuchiki-san.." panggil ishida.
"Hooh ada apa?" jawab Rukia sambil menoleh kearah Ishida.
" kau benar-benar menyukai Kurosaki?"
Rukia memerah seketika.
"ah itu ah.."
"aku sudah mengetahuinya, kuchiki-san. Tenanglah aku bisa jaga rahasia. Tapi kuchiki-san, kurosaki itu.."
"ah aku tau kok, dia memang keras kepala,possesif. Haha. Tapi justru itu, aku tak bisa hidup tanpanya. Sekalipun aku mati, aku hanya takut kehilangannya. Aku sangat mencintainya lebih dari apapun" ujar Rukia sambil tersenyum.
" aku akan mendoakan kalian " ujar Ishida membalas senyum Rukia
End Of Flashback
Inoue perlahan melepas pelukan dari Ishida. Ishidapun sedikit kecewa namun tetap memasang muka datar.
" aku pulang dulu ya, Ishida-kun" ucap Inoue dengan gugup.
" biar,aku antar kau pulang" ujar Ishida
" ah tidak usah, ishida-kun, aku biar sendiri saja" ucap Inoue lagi sambil berlalu.
Ishida hanya memandang punggung orang yang dicintainya itu menjauh.
' andai kau tau Orihime, aku mencintaimu'
love is never choose who the person you will be loved...
Seorang wanita berambut pink berdiri disuatu ruangan putih berbentuk persegi dengan simbol bintang ditengahnya. Dan dengan memejamkan matanya, Ia tampak merelaksasi tubuhnya. Tangannya ia letakkan diatas dan satunya lagi dibiarkan disamping tubuhnya. Tiba-tiba, ia mendengar suara wanita menangis tersedu-sedu. Wanita ini awalnya tampak ragu-ragu namun, ia pun beranjak dari simbol bintang ruangan tersebut menuju ujung sudut salah satu ruangan untuk menemukan sosok wanita yang menangis tersebut. Alangkah terkejutnya ketika ia merasa didalam alam bawah sadar, dan melihat seorang wanita berambut raven bermata violet.
" Kuchiki san..." ucapnya pelan
To be continue
RnR
Author Corner
Halo, maaf ya kalo nih cerita harus bersambung lagi. Well, apalagi aku bakal nambahin genre nih didepan jadi ada sedikit, misterinya gt. Hehe.. maaf juga kalo ada yang bingung sama ceritanya. Ini lagi dapet idenya beginian. Maaf ya :")
Ohiya terima kasih juga buat 15 Hendrik Widyawati –San yang udah review, sarannya juga terima kasih. Akan diperpanjang sampai yang author bisa per-chapter. Oke? Untuk yang lain ditunggu reviewnya :)
