Chapter 2: After wakeup


Pagi cerah menyapa Konoha, dan juga tak luput sinar mentari menyapa tiga manusia yang sedang tidur pulas tersebut. Naruto pun bangun dan memberikan 'morning kissu' pada dua kekasihnya, Tsunade dan Mei.

"Ohayo, Tsunade-chan... Mei-chan." Naruto menyapa kedua kekasihnya yang baru bangun karena ciumannya.

"Ohayo, Naruto sayang / darling." Ucap bahagia Tsunade dan Mei.

"Tsunade-chan, apa kau tak ada pekerjaan di gedung Hokage sana?" Tanya Naruto. Tsunade mengucek kedua matanya dan memandang lelaki berambut kuning itu. "Ahh... tidak ada sama sekali, kalaupun itu ada, aku serahkan pada Shizune. Dia tahu kalau aku sedang tidur bersamamu disini. hehehe."

"Uasem, ngapain disebarin sih, Tsu-chan?" Kesal Naruto yang tak ingin hubungannya dengan sang hokage diketahui banyak orang. "Rapopo kok, biar greget aja kalo aku punya pacar tampan sepertimu. Ia kamu~... kamu kamu~~ :v" Tsunade melanjutkannya. "Lagian Shizune seneng kok kalo aku gak jomblo lagi."

Naruto merasakan seperti aura jahat yang keluar dari tubuh Tsunade. "DAN AKU.. TAK MAU SELAMANYA.. DIBILANG.. PERAWAN TUA..." Ia mengatakannya dengan tertawa jahat. Keringat ketakutannya mengalir dari kepalanya, berharap sesuatu yang tak diinginkan takkan terjadi.

"Te-te-tenanglah... Tsunade-chan jangan khawatir. K-kau masih muda dan cantik kok, bahkan wanita paling cantik yang pernah ku kenal. Aku sangat bahagia dapat memilikimu, Tsunade-chan. Percayalah." Amarah Tsunade yang tinggi, perlahan-lahan mulai mereda. Merah merekah di pipinya. Senyum bahagianya telah kebali.

"Arigatou, Naruto sayang." Ucapnya sambil memeluk erat pacarnya itu.

"Hei, apa kau sudah selesai bermesra-mesraannya, aku juga pengen?" Mei yang dari tadi menunggu gilirannya merasa jengkel diabaikan Naruto. "Ogah -_- :v" Tolak mentah-mentahnya. "H-hah..? Kau menolakku?! Kkau lebih memilih melayani si nenek sihir itu dari pada aku?!"

"Jadi kau sudah tak cinta lagi denganku, Naruto?! Aku benci kamu Naruto-baka!" Mei meluapkan kekesalan pada Naruto dan Tsunade. Ia juga mengalihkan pandangannya sambil menyilangkan tangannya, saking kesalnya Mei menggelembungkan pipinya, nagmbek seperti anak kecil.

Dengan menyeringai, Naruto melirik Mei yang kesal. "Kau marah yach~, Mei-chan~~?" Mencoba menggodanya sesekali. "TIDAK! Aku tidak marah sama sekali!" Mei mencoba menyembunyikan kemarahannya. "Haha. Ampun dah~, dasar tsundere." Naruto melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Mei dari belakang, membuat wanita tersebut terkejut.

Bibirnya mendekat dan memulai membisikkan sesuatu pada telinga Mei.

"Sikapmu yang "bodoh" itulah yang membuatku semakin cinta padamu, Mei-chan~" Mantra cintanya sukses membuat mukanya memerah padam dan hati Mei menjadi luluh, ditambah lagi sambaran ciuman Naruto di lehernya semakin melemaskan tubuhnya.

"Ahh.. hhh... Naruto, kau nakal. Aku semakin mencintaimu, Naruto darling." Ucap Mei diiringi dengan suara desahan. Tak mau kehilangan kesempatan, Mei meletakkan salah satu tangan Naruto pada dadanya yang besar dan meremasnya. "Ahh..ahh.. lebih keras lagi, Naru." Tak lama hingga 60 detik mereka berhenti. Tsunade senang Naruto dapat meredakan ketegangan mereka.

Naruto mendekatkan kedua kekasihnya dan mengatakan "Aku sangat bahagia memiliki dua bidadari seperti kalian. Aku takkan melepaskan ataupun meninggalkan harta karun yang paling berharga dalam hidupku ini."

Tsunade memeluk erat Naruto, dan menggenggam tangan Mei. "Aku juga ingin kita bertiga hidup bersama selamanya. Iya kan, Mei?" Tsunade bertanya pada Mei. "Iya, selama kita bersama, suka duka akan kita jalani." Jawab Mei.

Naruto tersenyum lebar mendapatkan jawaban jelas dari kekasihnya. Sebagai hadiah, Ia memberikan 'forehead kiss' pada kening Mei dan Tsunade.

"Love you, Tsu-chan... Mei-chan." Ucap Naruto

"Love you too, Naru sayang/darling." Balas bahagia Tsunade dan Mei.

"Oh iya, apa kau hari ini tak ada pekerjaan, Mizukage-sama?" Tanya Naruto pada Mei. "Aslinya ada sih sedikit, tapi aku lebih ingin lebih banyak menghabiskan waktu denganmu, Darling." Jawab Mei bahagia.

Mendengarkan percakapan tersebut, memberikan ide bagi Tsunade "Yoss... kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat sarapan enak saja, perutku sudah lapar nih. Kau juga Naru sayang, Mei?"

"Ide bagus, kalau begitu, ayo!" Mereka bertiga mulai beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun disaat Tsunade dan Naruto akan beranjak dari kasur, kaki mereka keserimpet selimut dan akhirnya jatuh.

#GUBRAK!

Suara yang terdengar cukup keras, membuat Mei penasaran yang apa yang terjadi.

"Apakah kau rapopo, Tsuna-" "Ahh... lebih keras lagi, Naruto!" Tanya Naruto terpotong. Bukannya sakit yang didengar Naruto, namun desahan dari seorang wanita. Naruto yang mulai sadar, mencoba mengamati keadaan. Naruto tampak tak yakin dengan apa yang sedang terjadi sekarang ini, terutama.. telapak tangannya.

Mei yang mengamati kejadian tersebut lantas tertawa menggoda.

"Ara ara.. Darling memang sungguh 'ganas' yah, curi-curi kesempatan dalam kesempitan." Ternyata Naruto dan Tsunade terjatuh ke lantai dalam posisi Tsunade tertindih Naruto. Kedua telapak tangannya mendarat pada dada Tsunade yang begitu besar itu.

"Tsunade-chan?!" Teriak Naruto. "Mei-chan bantu aku bangun dong, kasihan Tsunade-chan." Pinta Naruto agar Mei menolongnya.

Namun Mei menggeleng-gelengkan kepalanya "Gak ikut-iku~t... gak ikut-iku~t :v"

"Ahh iblis lu, Mei-chan. Tenanglah Tsunade-chan, aku akan bangun." Naruto mencoba bangun dari tubuh Tsunade, namun "Ahh... Ahhh" Telapak tangan yang menjadi tumpuan Naruto untuk bangun, semakin menekan pada dada Tsunade. "Ah-! Gomen! gomen! Tsunade-cha-" "Lebih keras lagi, Naruto!"

"Tsunade-chan... -_-" Mei terkikih melihat kecerobohan mereka. Sambil meletakkan ujung tangan pada bibirnya "kukukuku... apa kau menikmatinya Tsunade?"

Tsunade yang sangat amat bahagia sekali, mengungkapkannya dengan tersenyum lebar "Lebih dari apa yang kuharapkan."

Setelah keadaan kembali normal, mereka beranjak ke dapur. Mei dan Tsunade melekat pada kedua tangan Naruto.

"Mei-chan, Tsunade-chan, pake baju dulu napa?" Mengalihkan pandangannya dari kedua pacarnya, Ia menanyakan pada mereka yang hanya memakai pakaian dalam, memperlihatkan hampir seluruh kulit mereka yang halus dan putih mulus tersebut.

"Halah... sebenarnya kau ingin melihatku yang telanjang ini kan? Ngaku aja, Yang." Goda Tsunade

"Ara ara... Naruto darling... EC-CHI~ :v" Goda Mei.

"Bodoamat -_-... sekarang nyiapin sarapan aja dah." Tangkis Naruto yang bergegas menuju dapur dengan hidung berdarah-darah alias mimisan.

"Oke Naruto sayang / Darling." Tsunade dan Mei bersemangat menemani Naruto ke dapur.

-TBC-


A/N: Ara.. ara... akhirnya nih fanfic menelurkan chapter kedua. heheh ga kepikiran bisa nyampai dua chapter. Nih cerita kelanjutanya sehabis mereka bangun. Semoga dengan adanya chapter 2. Fanfic ini semakin rame Aaamiin. (dari tadi ngomong ga jelas :v). Mohon maaf jika masih ada kesalahan atau ketidakseruan cerita.

Read and Review-nya yah, sekalian di-favorite. Terima kasih. :D

Ecxplorer Atlazcrew, out.