Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : SAW II (New Version) (Sebenernya di blog aku ada yang original version, maksud aku itu versi lama, jadi bahasanya masih berantakan, kalau yang ini aku udah perbaiki bahasanya *walaupun tetep jelek)

Cast : DBSK

Genre : Horror

Rated : T maybe? Salah ya?

Type : Yaoi tapi kagak keliatan o_o

Length : One Shot

Summary : Mereka menonton sebuah cideo di YouTube

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Kecuali cerita punya saya

Warning : TYPO! ABAL! ALUR KECEPETAN! OOC! Ada pembunuhan (dikit sih, kagak sadis)

A/n : Ini FF SAW II yang DBSK tapi New Version. Aku buat ini soalnya di SAW yang Original Version (?) bahasanya berantakan (walaupun yang ini juga gak jauh beda berantakannya)

Thank's untuk yang menyempatkan dirinya untuk membaca FF ini *blowkissagain

Thank's juga untuk YouTube

.

.

.

M-I-Y-A-B-I

Changmin terkekeh kecil ketika mengetikkan enam huruf terangkai di kolom pencarian situs video terkenal, YouTube. Dia kemudian menekan tombol 'enter' dan setelah itu halaman yang semula menampilkan video performance Super Junior-Mr Simple berubah menjadi pilihan video yang tak layak untuk ditonton oleh anak dibawah umur. Dia tersenyum. Matanya mengamati pilihan video yang akan ia pilih lebih dahulu.

Yoochun yang memainkan handphone disampingnya mulai tertarik dengan apa yang sedang dilihat oleh maknae DBSK itu. Dia meninggalkan kegiatan pesan singkat ria-nya dan memilih untuk melihat Changmin. Dan matanya segera membulat lebar setelah melihat apa yang sedang diamati Changmin.

"Ya! Heh, anak kecil! Jangan lihat yang begitu!" kata Yoochun seraya berusaha untuk menutupi mata Changmin.

Changmin bereaksi di duduknya. Dia berusaha menyingkirkan tangan Yoochun dari matanya dengan sebelah tangan—karena tangan yang satunya memegang laptop, menjaganya agar tak jatuh. "Y-ya! Hyung! Bagaimana kalau laptopku—aish! Hyung lepas!" kata Changmin.

Yoochun segera meletakkan handphone-nya di atas meja—disamping segelas orange juice milik Changmin. Dia mendorong tubuh Changmin ke samping dan setelah itu dia merebut laptop apple warna putih milik Changmin. Membuat namja tinggi itu menggerutu setelahnya. "Ish! Jangan lihat video Miyabi! Kalau kau mimpi basah nanti malam bisa repot semuanya!" kata Yoochun.

Changmin membenarkan posisi duduknya dan mengerucutkan bibirnya. "Ish hyung." Dia merapikan rambutnya—yang memang sudah berantakan. "Bilang saja kalau ingin ikut menonton. Tidak usah merusak tatanan rambutku. Ish!"

Dan sebuah jitakan mendarat di kepala Changmin. "Heh otak mesum, kenapa kau tak ambilkan saja aku cemilan dan kita lihat video lain yang tak akan mengundang nafsu birahimu? Aish! Aku tak mau jadi korban jika kau benar-benar horny!"

Kali ini Changmin menggembungkan pipinya kesal. Dia melipat kedua tangannya di dada—persis seperti anak umur lima tahun yang tidak dibelikan balon oleh ibunya.

Yoochun terkekeh melihat reaksi Changmin. Dia mulai menghapus nama Miyabi dari kolom pencarian dan mulai berpikir untuk mengganti sesuatu disana.

"Bingung 'kan mau cari apa? Sudah kukatakan buka saja Miyabi. M-I-Y-A-B-I. Miyabi!" kata Changmin.

Yoochun mengacuhkan ucapan Changmin. Dia mulai memutar otaknya untuk mencari ide tentang video apa yang akan menyenangkan dilihat di situs ini.

"Tak tahu malu. Memangnya itu laptop siapa? Huh?" Changmin masih menggerutu seraya memandang Yoochun. Sedangkan Yoochun memang tak ada niat untuk membalas ucapan Changmin.

Kemudian seseorang datang ke ruang tengah. Dia berjalan kearah sofa panjang—dimana Yoochun dan Changmin duduk disana. "Heh! Suara ribut kalian terdengar sampai dapur!" kata Jaejoong. Setelah itu dia segera duduk disamping Yoochun. "Sedang apa kalian?"

"Hyung, Yoochun hyung menggangguku!" kata Changmin, mengadu.

Jaejoong mengacuhkan ucapan si maknae. Dia lebih tertarik pada apa yang sedang dilakukan oleh si Cassanova. Jaejoong memperhatikan Yoochun yang bingung untuk menulis apa di tab pencarian.

"Yoochun, coba cari trailer film SAW VII, aku ingin melihatnya." kata Jaejoong.

Yoochun mengangguk. Dia lebih setuju pada ide Jaejoong daripada ide si monster makan itu. Yoochung mengetikkan "movie trailer SAW VII" di kolom kosong itu dan tak perlu menunggu lama, halaman YouTube sudah menampilkan beberapa video yang cocok dengan kata kunci itu.

"Temanku bilang film-nya seru." ucap Jaejoong lagi.

Changmin mencuri pandang untuk melihat kayar laptop. Kemudian dia menariksalah satu ujung bibirnya. "Pabbo hyungdeul, kenapa tak cari SAW yang pertama? Kenapa harus langsung loncat ke-tujuh?"

Yoochun melirik Changmin dan menyikut lengannya. "Tertarik juga untuk melihat video pilihan kita? Eoh? Bukankah kau ingin melihat video Miyabi?" goda Yoochun.

Changmin mengalihkan pandangannya pura-pura kesal sementara Yoochun tertawa. Jaejoong masih memperhatikan video-video yang masih berjajar, berupaya untuk memilihnya satu. "Video porno koleksimu kan sudah banyak Min, untuk apa masih lihat Miyabi di YouTube?" kata Jaejoong tanpa melihat Changmin.

Changmin dengan terpaksa mengalihkan lagi pandangannya kearah Jaejoong dan Yoochun. Dia mengerucutkan bibirnya lagi. "Masih kurang bany—"

"Yoochun, klik video yang paling bawah itu! Aku penasaran!" kata Jaejoong memotong ucapan Changmin.

Changmin menelan kalimatnya dengan terpaksa. Dia menggerutu lagi.

Yoochun mengalihkan pandangannya pada layar laptop. Berusaha mencari video yang dimaksud Jaejoong. Yoochun menunjuk pada satu video paling bawah. "Yang ini?" tanyanya.

"Yap. Yang warna hitam itu."

Yoochun segera mengarahkan kursor kearah video berdurasi tujuh detik itu dan meng-klik-nya. Jaejoong mulai merapatkan tubuhnya kearah Yoochun—untuk melihat video dengan lebih jelas. Sementara Changmin yang penasaran juga ikut merapatkan tubuhnya kearah Yoochun. Mereka menunggu video itu menyala.

Sebelum video itu selesai melewati masa buffering, Junsu datang mendekati ketiga sahabatnya di sofa panjang itu. Dia berdiri di belakang sofa—tepat di belakang tubuh Yoochun—dan mengintip pekerjaan mereka. "Hei, sedang apa?"

Dan pertanyaan itu sukses membuat Changmin loncat sedikit dari duduknya. Dia segera menoleh ke belakang dan melihat Junsu yang nyengir melihat reaksi Changmin. Changmin segera memukul lengan Junsu keras. "Demi apapun yang ada di dunia ini, kau hampir membuatku kena serangan jantung hyung!" katanya marah.

Junsu hanya tertawa dan dibalas oleh Yoochun. Sedangkan Jaejoong masih terfokus pada layar laptop dan Changmin hanya menggerutu—lagi.

Buffering selesai.

Jaejoong sumringah. Entah kenapa dia begitu penasaran dengan video itu. Jaejoong segera menepuk lengan Yoochun, "Yosh! Chun, klik video-nya!"

Yoochun dengan senang hati menekan video itu. Sedangkan Junsu, yang belum dijawab pertanyaannya hanya ikut menikmati tontonan yang ditampilkan.

Dan video dimulai.

Detik kesatu hanya layar hitam dan suara samar.

Detik kedua hanya layar hitam dan suara samar.

Detik ketiga hanya layar hitam dan suara samar.

Changmin merapatkan duduknya pada Yoochun—lebih merapat. Dia curiga akan ada gambar menyeramkan yang akan mengangetkan mereka.

Detik keempat hanya layar hitam dan suara samar.

Junsu meletakkan kepalanya di bahu Yoochun—mencoba untuk melihat video itu dengan jarak yang lebih dekat.

Detik kelima hanya layar hitam dan suara samar.

Yoochun mulai merasa tegang karena dia yang tepat berada di hadapan laptop. Dia juga agak takut jika tiba-tiba akan ada gambar setan perempuan atau sejenisnya yang akan memenuhi seluruh layar.

Detik keenam hanya layar hitam dan suara samar.

Jaejoong mengerutkan keningnya. Dia berharap ada sesuatu yang lebih selain warna hitam dan suara yang terdengar agak samar.

Detik kejutuh hanya layar hitam dan suara samar.

Dan video berakhir.

Changmin bernapas lega—karena dia sempat menahan napasnya pada detik ketiga video. Junsu membuang napasnya dan Yoochun melemaskan kembali tubuhnya yang sempat menegang—takut.

Dan mereka diam dalam beberapa saat.

"Ish! Video apa itu?" gerutu Changmin pada akhirnya. Dia tak menyadari bahwa dalam beberapa detik 'sesuatu' telah mengambil alih sesuatu dalam dirinya.

Begitupula dengan ketiga orang lainnya.

Jaejoong menggaruk kepalanya. "Kukira akan terjadi sesuatu yang aneh." kata Jaejoong. Yoochun mengangguk menanggapi.

Junsu mengangkat wajahnya dari bahu Yoochun. "Memangnya kalian menonton apa sih?" tanya Junsu.

Jaejoong berdiri dari duduknya ketika Changmin ehndak menjawab pertanyaan Junsu. "Molla. Jaejoong hyung saja sedang kurang kerjaan. Dasar, pabbo hyung!" Dan Jaejoong berbalik mendengar namanya di panggil.

"Min, aku mau buat cake di dapur. Tak ada jatah untukmu, ya?" kata Jaejoong dengan nada yang dibuat semanis mungkin. "Oh, dan juga kau makan malam saja diluar. Aku tak akan masak banyak hari ini." lanjutnya.

Changmin yang menyadari adanya peringatan bahaya dari Jaejoong segera membulatkan matanya lebar. Dia menuduk minta maaf di tempatnya duduk. "Mianhae hyung. Mianhae. Tadi bukan aku yang mengatakannya! Tadi mulutku saja yang tak mau diajak kompromi! Dia belum makan dari siang hyung." kata Changmin memelas.

Yoochun dan Junsu tertawa melihat tingkah Changmin. Sedangkan Jaejoong hanya melenggang pergi begitu saja kearah dapur, tanpa memperhatikan sang maknae yang mengerucutkan bibirnya lagi.

"Aku akan ke kamar." kata Yoochun akhirnya. Dia memberikan laptop itu kembali kepada Changmin dan mulai berdiri dari duduknya. Kemudian Yoochun beranjak kearah kamarnya, tanpa membawa handphone-nya di meja.

Junsu segera loncat dari belakang sofa dan duduk di tempat bekas Yoochun. Dia menatap kearah layar ketika Changmin mulai membuka tab baru.

.::.

Yoochun menutup pintu kamar ketika dia sudah masuk ke dalamnya. Dia berjalan kearah ranjang single size miliknya. Segera didudukan tubuhnya disana. Entah mengapa, Yoochun merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Ada sesuatu yang tak dapat dia kendalikan. Namun dia mengacuhkannya.

Namun bayangan video berwarna hitam itu tiba-tiba berputar di benaknya. Membuat kepalanya agak pening ketika memikirkannya. Yoochun segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Memcoba untuk mengurangi rasa pening yang tiba-tiba datang itu. Dia menggeliat pelan di ranjang, dengan tangan yang berada di kepalanya.

"Arkh..." dia mendesah pelan.

Kemudian dia membuka matanya ketika dirasakannya ada sentuhan kasar di kulit lengannya. Tetapi yang ia temukan nihil. Tak ada apapun disana. Yoochun merasakan sentuhan kasar itu semakin menusuk kulitnya. Menggaruk sesuatu. Yoochun berusaha menahan rasa pening di kepalanya dengan rasa sakit yang aneh di lengannya. Dia memandangi lengan kanannya yang mulai memperlihatkan garis panjang berwarna kemerahan dari ujung pergelangan tangan hingga ujung lengan bawah.

Garis panjang lain mulai tampak di lengannya yang lain. Memanjang. Berwarna merah dan datang secara misterius. Yoochun menahan sakitnya. Dia berniat turun dari atas ranjang namun garis panjang lain tiba-tiba tampak di kedua kakinya. Di sekitar betisnya.

Dan Yoochun menggigit bibir bawahnya.

Yoochun merasakan garis berwarna kemerahan itu mulai tampak di wajahnya. Di sekitar matanya. Yoochun tak dapat melakukan apapun. Kepalanya terlalyu pening untuk berdiri. Dan rasa sakit yang mulai timbul di setiap inci tubuhnya mulai membuatnya kesakitan.

Yoochun menahan napas.

Srekk

Garis-garis panjang itu mulai membelah—menjadi dua bagian. Merobek kulit dan memperlihatkan otot-otot yang semula terbungkus oleh kulit. Yoochun membulatkan matanya. Seluruh bagian tubuhnya yang semula mendapat goresan itu mulai robek—membuka. Termasuk garis di wajahnya. Kulit itu mulai robek dan melepas kulit wajahnya.

"Aaarggghhh!"

Yoochun berteriak—menjaerit—kesakitan sebelum akhirnya garis itu merobek perutnya. Membuatnya menjadi dua bagian. Dan terlepas dengan organ tubuhnya.

.::.

Junsu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Dia melihat layar laptop yang kini sedang Changmin arahkan ke video performance Super Junior—lagi. Junsu menoleh kearah Changmin dan mendapati si maknae sering tersenyum sendiri ketika melihat part dari maknae Super Junior—atau jika kamera tak sengaja menyorotnya. Junsu hanya menghela napas dan memilih untuk memejamkan matanya.

Bahkan mereka tak mendengar suara teriakan Yoochun di dalam kamar.

"Hyung, ini hanya pendengaranku saja yang benar atau kau juga merasa bahwa suara Kyuhyun itu sangat seksi?" tanya Changmin seraya tersenyum kearah layar laptopnya.

Junsu menggeleng pelan. Bukan gara-gara dia tak tahu jawabannya, dia menggeleng karena melihat tingkah maknae mereka. Sudah pernah Junsu—bahkan Jaejoong, Yunho dan juga Yoochun—menyuruhnya untuk menyatakan perasaanya terhadap Kyuhyun. Bukan terus menjadi pengagum rahasianya seperti ini. Tetapi si maknae DBSK itu sepertinya terlalu takut. Takut jika Kyuhyun tak mau menerimanya.

"Hyung, jawab~" Changmin merengek seraya menyikut lengan Junsu.

Junsu membuka matanya dan melihat kearah Changmin. Dia mengedikkan bahunya dan kemudian berdiri dari duduknya.

Changmin menarik sebelah alisnya. "Hyung mau kemana? Jawab dulu pertanyaanku tadi~"

Junsu menoleh dan menjulurkan lidahnya kepada Changmin. Changmin melotot kearahnya. Sedangkan Junsu hanya terkekeh kecil. Dia berhasil membuat Changmin kesal. Changmin segera menendang tulang kering Junsu dan membuatnya terdorong menabrak meja.

"Ya! Shim Changmin!"

"Hahahaha!" sesaat Changmin tertawa sebelum menyadari apa yang telah terjadi di atas meja.

Junsu mengaduh kesakitan. Dia mengusap tulang keringnya dan kemudian berniat untuk memukul Changmin. Tetapi matanya lebih dahulu mendapati sesuatu yang terjadi di atas meja. Orange juice milik Changmin tumpah mengenai handphone Yoochun yang berada di sampingnya. Dengan panik Junsu segera meraih handphone—yang sudah basah—dan segera memeluknya di baju.

"Astaga! Handphone Yoochun hyung!" teriak Changmin kaget.

Junsu segera memukul kepala Changmin. Dia berusaha untuk mengeringkan handphone Yoochun di bajunya. "Ya ampun, maknae setan! Belum puaskah kau seminggu kemarin telah memasukkan handphone-ku ke dalam akuarium di dorm Super Junior? Sekarang handphone Chunie juga? Ya ampun!"

Changmin terkekeh kaku. Dia menunduk minta maaf kepada Junsu. "Kumohon hyung, jangan adukan kepada Yoochun hyung. Kumohon, please~" Changmin mengeluarkan puppy eyes-nya yang sama sekali tak mempan pada Junsu.

Junsu membuang napasnya kesal. Dia berbalik dan segera berjalan kearah kamar Yoochun yang berada di dekat ruang tengah. Didengarnya Changmin masih berteriak minta maaf. Tetapi Junsu tak memperdulikannya. Dia segera masuk ke dalam kamar ketika dia sudah sampai. Segera dia menutup pintu tanpa menatap ruangan itu terlebih dahulu.

"Chunie, lihat perbuatan si anak setan itu!" kata Junsu mengadu.

Junsu menaikkan wajahnya untuk melihat Yoochun—yang berada di kamar. Namun seketika itu juga matanya membulat kaget. Junsu menjatuhkan handphone Yoochun yang dia keringkan di bajunya.

Dengan bibir yang bergetar, Junsu berjalan mendekati Yoochun.

"Chun-Chunie! Astaga!" dia berteriak dengan keras dan segera naik keatas ranjang. Dimana tubuh Yoochun sudah sobek—terbelah—menjadi beberapa bagian. Dia dapat melihat otot-otot bercampur darah yang berserakan di atas ranjang. Berserakan memenuhi seluruh tempat di ranjang. Bahkan Junsu sudah tak dapat melihat kaki dan tangannya. Junsu menutup mulutnya dengan tangan, bersamaan dengan setetes air mata yang turun dari pelupuk matanya. Dia berusaha menahan rasa mual di tengah segala emosi yang bercampur di benaknya.

"Yoochun..."

Junsu segera berlari kearah pintu kamar. Dia meraih kenop pintu dan berusaha membukanya. Namun entah mengapa pintu itu tiba-tiba terkunci. Junsu menekan kenop pintu—ke bawah—berkali-kali namun pintu itu tak kunjung terbuka. Junsu segera memukul pintu putih itu dengan keras.

"Changmin! Buka pintunya! Changmin!"

Junsu memukul kembali pintu itu dengan keras—hingga tangannya memerah. Namun pintu itu memang tak dapat dibuka. Dan Changmin yang sejak tadi dipanggilnya tak kunjung datang. Junsu menendang pintu itu.

"Shit! Buka pintunya Shim Changmin!"

Sshhh

Junsu merasakan ada angin di belakang tubuhnya. Dia merasakan ada sesuatu yang tak beres selanjutnya. Junsu memilih untuk berbalik secara perlahan. Dia membalikan tubuhnya dan tiba-tiba ada sebuah energi yang mendorongnya kearah pintu—di balik tubuhnya—secara keras. Junsu meringis pelan ketika punggungnya menabrak pintu dengan sangat keras. Ketika Junsu akan berdiri—membenarkan posisinya—energi itu datang lagi dan menghempaskan tubuh itu ke dinding.

Junsu terjatuh dan kembali meringis.

"Arkkhh..."

Baru ketika dia akan mencoba kembali untuk berdiri, energi itu menghempaskan tubuh Junsu kearah lemari dan membuatnya kembali jatuh. Dan kembali meringis.

Junsu berusaha untuk bangkit secara perlahan.

"Astaga, siapa kau?" Junsu berteriak kepada angin. Dia menekan perutnya yang terasa panas—sakit. Hempasan itu seperti sebuah tendangan untuknya. Junsu mencoba berdiri lagi.

Sebuah lampu tidur di samping ranjang tiba-tiba terangkat—terbang. Junsu membulatkan matanya ketika dia melihat pemandangan itu. Dia mencoba untuk bangkit tetapi lampu tidur itu lebih dahulu terlempar kearah Junsu—tepat di kepalanya.

Prakk!

Lampu itu pecah berkeping-keping dan melukai kepala Junsu. Menusuk di beberapa bagian kepalanya. Junsu meringis lagi. Dia mulai terbatuk-batuk.

"A-as-astaga..."

Dan pecahan-pecahan lampu itu melayang dan dengan segera menusuk leher Junsu. Membuatnya segera kehilangan napas ketika pecahan itu menyeruak masuk ke dalam lehernya. Menggores kulitnya. Dan merobek seluruh sarafnya.

Junsu kehilangan nyawanya oleh sesuatu yang tak terlihat.

.::.

Bukan tak ingin membantu, tetapi Changmin memang tak mendengar suara teriakan Junsu dari dalam kamar—sama seperti Yoochun sebelumnya.

Changmin masih sedikit panik di tempatnya duduk. Dia telah menumpahkan minumannya pada handphone Yoochun—yang baru dibelinya tiga minggu yang lalu. Dia sedang berharap agar Junsu tak mengadukannya kepada Yoochun. Tapi terlambat. Dia telah melihat Junsu masuk ke dalam kamar Yoochun.

Changmin membuang napasnya dan meletakkan laptopnya di meja—di sisi satunya yang tak terkena tumpahan juice. Dia segera beranjak kearah dapur untuk mengambil sebuah lap.

Di dapur dia melihat Jaejoong sedang menunggu kue-nya matang di dalam oven. Changmin berjalan kearah meja dapur dan meraih lap—yang mungkin telah digunakan Jaejoong.

Jaejoong yang melihat kedatangan Changmin menoleh. "Hei Min, tadi kenapa Junsu berteriak?" tanyanya.

Changmin hanya mengerucutkan bibirnya. "Tadi aku menendang Junsu hyung. Lalu dia menyenggol meja dan juice-ku tumpah mengenai handphone Yoochun hyung."

Jaejoong menggeleng. "Ya ampun. Yoochun baru membeli handphone itu tiga minggu yang lalu." kata Jaejoong.

"Aku tahu hyung." jawab Changmin. Dia berbalik dan berniat untuk meninggalkan Jaejoong. "Hei Min, Yunho kemana?" dan pertanyaan itu membuat Changmin kembali berbalik. Dia menatap Jaejoong, "katanya sih ke kantor SME. Ah aku tak tahu." jawabnya acuh.

Jaejoong hanya membulatkan mulutnya, berkata 'oh' tanpa suara. Jaejoong berjalan kearah meja dapur tempat dimana dia meletakkan beberapa buah untuk menjadi penghias es krim yang baru ia beli kemarin di dalam lemari pendingin.

"Oh ya Min, bisa bantu aku dulu?" tanya Jaejoong. Dia memasukkan beberapa strawberry dan anggur ke dalam sebuah mangkuk berwarna putih. "Bisa kau cucikan ini?"

Changmin menoleh kearah Jaejoong. Dia masih mengerucutkan bibirnya. Jaejoong tertawa. "Nanti kau kuberi jatah makan malam deh." Dan dengan kalimat itu membuat Changmin kembali tersenyum. Dia berjalan kearah Jaejoong dan meletakkan lap yang semula di pegangnya disana. Kemudian dia menerima mangkuk dari tangan Jaejoong dan berjalan kearah pencuci piring. Changmin meletakkan mangkuk di bawah keran dan mulai menyalakannya.

Jaejoong tersenyum kecil. Dia kembali pada oven-nya dan menunggu kue kering di dalam sana matang.

Changmin mulai mencuci beberapa buat strawberry dan anggur dengan air yang mengalir. Dia membersihkan semuanya satu-per-satu. Mungkin bagi Changmin jika menyangkut dengan makanan semuanya harus sempurna. Dan pada saat Jaejoong tak melihat, Changmin memasukan satu strawberry ke dalam mulutnya—kemudian mengunyahnya.

"Changmin, jangan dimakan." dan suara itu membuat Changmin menoleh. Dia terkekeh pelan melihat Jaejoong yang menatap kearahnya.

"Hanya satu hyung." katanya terkekeh.

Jaejoong kembali menunggu kue dalam ovennya sementara Changmin kembali membersihkan buah-buah kecil itu. Kemudian matannya menangkap sebuah benda perak di samping keran. Changmin meraihnya dan kemudian memperhatika benda itu.

"Hyung, cincin siapa ini?" tanya Changmin.

Jaejoong menoleh kearah Changmin, kemudian dia mengangkat bahunya. "Sudah lama cincin itu ada disana. Mungkin punya Yoochun." jawabnya.

Changmin menanggapinya secara acuh. Ketika dia berniat untuk meletakkan cincin itu ke tempat semula, tiba-tiba cincin itu terjatuh dan masuk tepat ke dalam saluran air—pembuangan di bak cuci piring. Changmin membulatkan matanya.

"Ya ampun! Hyung! Cincinnya masuk!" kata Changmin tak sabar.

Jaejoong hanya membuang napas kesal dan kemudian menatap Changmin. "Ya ampun. Kau mmebuat masalah lagi, Changmin." kata Jaejoong

Changmin tak bisa terkekeh kali ini. Mana mungkin 'kan setelah dia menyiram handphone Yoochun dengan juice-nya, sekarang dia menghilangkan cincinnya—yang masih diperkirakan milik Yoochun. Changmin memasukan tangannya ke dalam lubang itu—yang memang cukup untuk tangan—hingga sebatas lima senti diatas pergelangan tangannya.

"Changmin, tak usah dicari. Lagipula cincin itu sudah lama ada disana. Pasti pemiliknya juga sudah lupa." kata Jaejoong.

Changmin menoleh tak setuju. "Kalau cincin ini masuk—uh tersangkut, kalau cincin ini masuk pasti akan mengganggu penghancur makanan di saluran ini hyung. Mana mungkin kita harus membenarkan saluran ini lagi setelah baru beberapa hari yang lalu kita memanggil tukang untuk memperbaikinya. Ish, mana ya?" kata Changmin.

Ting!

Jaejoong mengangkat bahunya seraya membuka pintu oven. Dia melihat kue keringnya yang sudah jadi. Dan dia tersenyum.

"Hati-hati, penghancur makanan itu tajam—seperti pisau blender. Jangan sampai jarimu terluka." kata Jaejoong seraya mengeluarkan nampan alumunium pertama berisi kue kering dari dalam oven—setelah sebelumnya dia memakai sarung tangan. Kemudian dia meletakkannya di atas meja dapur.

"Ish, susah sekali sih. Euh, dimana tersangkutnya?" kata Changmin seraya masih mengoreh saluran di bak cuci piring itu. Sementara indra penciumannya sudah dapat mencium harumnya kue buatan Jaejoong. "Hyung, kuenya jangan dulu dicoba. Aku harus yang pertama mencobanya." lanjut Changmin. "Euh, susah sekali!"

Jaejoong terkekeh pelan. Dia menunduk menghadap oven untuk meraih nampan kedua. Namun tiba-tiba sesuatu yang tak terlihat mendorong kepalanya masuk ke dalam oven dan segera pintu oven menutup keras. Menahan kepala Jaejoong agar tak keluar dari oven.

Mata Changmin membelalak kaget—mendengar benturan keras dari arah Jaejoong. "Jaejoong hyung! Astaga!" dia berusaha untuk melepaskan—mengeluarkan—tangannya dari dalam saluran tetapi sepertinya tersangkut. Dia melihat Jaejoong yang berusaha terlepas dari dalam oven.

"Astaga! Ya Tuhan! Ch-Changmin! Panas! Arrghhh ini sangat panas!" jerit Jaejoong.

Changmin tak bisa berhenti membelalakan matanya melihat hyung-nya menjerit kepanasan. Sementara dia berusaha mengeluarkan tangannya dari dalam saluran, dia mendengar sebuah bunyi yang membuat napasnya terhenti.

Klik

Suara itu, suara yang Changmin kenal. Suara itu suara tombol untuk menyalakan penggiling—seperti pisau—di dalam saluran air di bak cuci piring itu. Changmin membulatkan matanya dan berusaha untuk melepas tangannya.

"Arrgghh! Ya amp—panas! Argh panaaas!"

Changmin dapat melihat asap mulai keluar dari dalam oven. Sementara di dalam oven wajah Jaejoong sendiri sudah melepuh—mengelupas—akibat dari panasnya oven yang memanggang kulitnya. Jaejoong memukul oven itu berkali-kali—sebagai bentuk pelampiasan rasa sakitnya. "Arrgghh! Kumoh—arrgghh panas!"

Changmin tak dapat berbuat apa-apa. Dia sendiri sedang ketakutan ketika suara pisau penggiling—untuk menghancurkan makanan mulai terdengar.

Dan mata Changmin membelalak lebih lebar daripada sebelumnya.

Krrkk

"Arrgghh! Astaga! Arrghh! Kumohon tolong ak—arrgghh!"

Changmin menjerit keras ketika pisau-pisau itu mulai berputar dan memotong seluruh jarinya. Menggiling seluruh jarinya. Changmin berteriak kesakitan. Dia tak dapat menyelamatkan Jaejoong dan juga tak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Kemudian sebuah dorongan dari sesuatu yang tak terlihat membuat tangan Changmin semakin masuk ke dalam saluran—menggilingnya hingga ke pergelangan tangannya.

"Aarrgghh! Arrggh—hyung! Aaarrggghh!"

"Panas! Kumo—panas! Arrggghhh! Arrgh! Yun—panas!"

Dan keduanya akan menghadapi rasa sakit sebelum kematian mereka.

.::.

Air—juice—yang menggenang di atas meja mulai bergerak secara perlahan. Dengan gerakan yang sangat tak masuk akal, air itu jatuh ke lantai dan berjalan ke kolong meja. Kemudian menggenang disana. Tanpa ada siapapun yang tahu. Tanpa ada siapapun yang melakukannya.

Sesuatu itu mengincar seseorang.

Cklek

Pintu depan terbuka. Seorang namja yang dikenal dengan nama Jung Yunho, leader dari boyband DBSK itu masuk ke dalam dorm. Dia melepas sepatunya di rak samping pintu dan kemudian berjalan ke arah ruang tengah. Tanpa mencium sesuatu. Tanpa merasakan suatu keganjilan.

"Jae?" Yunho memanggil nama kekasihnya. Dia segera duduk di sofa panjang—yang berhadapan dengan meja—dimana ada sebuah laptop milik sang maknae yang masih menyala. Yunho melirik ke sekelilingnya. "Jae? Yoochun? Min? Junsu?"

Dan tak ada yang menyahut.

Yunho mengedikkan bahunya dan meraih laptop Changmin dari atas meja.

Dan pandangannya langsung teralih pada tab di halaman yang menampilkan sebuah video yang sudah ditonton. Ah, bukan videp performance Super Junior. Video berjudul SAW dengan durasi tujuh detik itu menarik perhatian Yunho. Yunho mengarahkan kursor ke tombol replay dan menekannya.

Video berwarna hitam selama tujuh detik dengan suara aneh yang sedikit samar.

Yunho merasakan ada 'sesuatu' yang merebut sesuatu dari dalam tubuhnya.

Piip piip

Low battery

Sebuah kolom kecil tiba-tiba muncul di layar laptop dengan tulisan 'low battery'. Yunho menghela napasnya. Malas sih untuk mengisi baterai laptop milik si maknae setan itu, pikirnya. Tapi dia masih ingin mengotak-atik benda itu, ingin mencari sesuatu yang aneh di laptopnya. Mungkin banyak foto Kyuhyun yang disimpan oleh adiknya yang paling kecil, yang dia anggap adalah anaknya itu.

Yunho meletakkan laptop itu di atas meja. Dengan langkah berat, Yunho meraih charger—yang memang sudah Changmin siapkan—di sofa single di depan sofa panjang—bersama dengan tas laptopnya. Dia meraih charger itu dan kemudian membawanya kearah dinding, dimana ada sebuah steker—colokan listrik—yang tertempel di dinding. Yunho mencolokkan kabel tersebut ke socket dan kemudian berjalan kembali kearah sofa panjang bersama dengan ujung dari charger.

Genangan air dari kolong meja mulai berjalan keluar. Air itu mendekati langkah Yunho yang berjalan mendekati laptop. Dan ketika kaki Yunho mengenai air itu,

Bruk!

Dia terpeleset dan jatuh dengan kepala yang membentur meja.

"Auw..." dia meringis kecil.

Ketika dia berniat untuk berdiri, matanya menangkan suatu keganjilan yang tak bisa diterima oleh akal sehat. Kabel charger—yang ikut terjatuh mengenai genangan juice—tiba-tiba sobek dari ujung di dinding hingga ujungnya di tangan Yunho. Sobekan besar dan panjang tampak jelas dihadapan mata Yunho. Membuat kawat-kawat tembaga berbahaya di dalam kabel terbuka itu bersentuhan langsung dengan air yang menggenang lantai dan juga membasahi sebagian tubuh dan tangan Yunho.

Mata Yunho membelalak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dan di detik itu juga, suara listrik yang berhasil menghanguskan dan membawa pergi melayang nyawa orang terakhir penghuni dorm itu terdengar. Dan juga dialah orang terakhir yang menyaksikan video YouTube berjudul SAW itu disana.

Tertarik untuk menyaksikannya?

Video di situs YouTube berjudul SAW dengan durasi 7 detik?
Ingin mencoba? .com/watch?v=FcyZkqFhFKY&list=UUwJILuoqDZnGEZ0c1JkL1EQ&index=11&feature=plcp

.::.

Balesan review SAW

kangkyumi : hehehe gomawo X3 nunggu SAW II? Ya Tuhan, ada yang nunggu juga. Nah sekarang udah ada. Mian kalau gak rame hehehe. Habis ini remake ulang dari yang aslinya. Yang aslinya dibikin bulan januari kemaren. Hehe gomawo ya~

Liu HeeHee : mini drama mereka ya? Kok aku gak tau? Perasaan gak ada lgo *perasaan aku doang

BumBumJin : awawawaw mianhae ya kalau kurang sadis. Saya lagi gak ada ide. Namanya juga remake ulang. Dan oh ya, kalau nanti SAW III gak di remake, bakal original version *sekedar informasi

KeayCL-CassiELF : salam kenal juga :D wah tengKYU ^^ aslinya film SAW tuh gak kaya gini ._. saya cuma nyontek judul doang kok. Mau lanjut? Ini ada SAW II (tapi beda cerita hoho)

Untuk kalian berempat yang udah review gomawo ya ^^

Makasih banyak

Mind to RnR? :3