Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : SAW III
Cast : Chi Chi
Genre : Horror
Rated : T maybe? Salah ya?
Type : Yuri
Length : One Shot
Summary : A-zi menyaksikan sebuah pembunuhan
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Kecuali cerita punya saya
Warning : TYPO! ABAL! ALUR KECEPETAN! OOC! Ada pembunuhan (kagak sadis kalau kata aku)
A/n : SAW III yang tidak sadis hehe XD
Thanks untuk yang menyempatkan dirinya untuk membaca FF ini *blowkissagain
Thanks bagi yang menyempatkan diri untuk membere review
.
.
.
A-zi berjalan malas di apartment yang ia tinggali bersama ke-enam sahabatnya. Sudah hampir dua tahun mereka tinggal bersama dan sudah hampir dua tahun pula A-zi menyimpan rasa kepada salah seorang sahabatnya. Sui. Gadis berambut hitam kecoklatan sepunggung dengan mata hitam bening yang mampu membuat A-zi terpikat dengan pesonanya. Sifatnya yang periang dan kekanakkan mampu meluluhkan hati A-zi yang dingin. Ya setidaknya itu adalah anggapan orang-orang ketika pertama kali bertemu dengan A-zi.
A-zi sangat tertutup, dingin dan misterius. Dia sangat jarang bicara, bahkan kau bisa melupakan suaranya di esok hari. Tatapan matanya dalam dan menghanyutkan. Kau akan terperangkap dalam tatapannya jika kau menatapnya tanpa berkedip. Rambut coklat panjang dan lurus tanpa poni menambah kesan misterius pada dirinya. Hingga saat ini, ke-enam sahabatnya tak mampu membaca sifat gadis ini.
Langkah A-zi yang perlahan dan tanpa tujuan akhirnya menuntunnya ke ruang tengah, dimana sebuah ruangan terbuka terlihat jelas di sampingnya. Kamar Yoon Hyewon, atau mereka lebih senang memanggilnya Nara. Gadis berambut coklat tua pendek yang paling tidak dekat dengan A-zi. Ya walau sebenarnya A-zi memang tidak dekat dengan siapapun. Dia melihat Nara dan Sui, gadis yang ia cintai sedang membicarakan sesuatu di atas ranjang single size itu. Nara duduk bersila di hadapan Sui yang menekuk lututnya di dada dan memeluknya. A-zi tak berniat mengintip namun matanya tak ingin berpaling dari pemandangan itu. Ia takutkan sesuatu terjadi. Dan benar saja. Detik berikutnya A-zi mengepalkan tangannya erat ketika dilihatnya Nara mulai mencondongkan wajahnya dan mencium bibir tipis Sui. Mereka saling bertatapan sejenak lalu kembali berciuman ketika Nara yang memulai kembali. Kedua tangan Nara ditangkupkan di pipi Sui. Mengajaknya ke dalam ciuman yang lebih dalam dan panas. Tangan Sui perlahan mulai beralih ke arah tengkuk Nara. Entah di sengaja atau tidak, Sui mulai membaringkan tubuhnya dan Nara segera menindihnya. Tanpa membuang waktunya dengan pemandangan yang membakar hatinya, A-zi memilih berbalik arah dan berjalan ke arah pintu keluar. Disana ia bertemu dengan Boreum dan Semi, yang tengah melakukan selca di dekat pintu keluar. Dengan kebiasaan A-zi yang tak pernah menyapa, dia melewati Boreum dan Semi lalu keluar dari apartment. Memilih untuk mencari udara segar di bawah sana.
Setelah berjalan beberapa menit dari dalam apartment, langkah A-zi telah berada di trotoar pinggiran kota Seoul. Malam ini tak seramai biasanya. Mungkin gara-gara udara yang terlalu dingin membuat orang-orang malas untuk keluar. A-zi memasukan kedua telapak tangan di saku hotpants jeans-nya. Kaos tipis berwarna biru laut yang ia kenakan berkibar terkena terpaan angin dingin yang menembus kulit. Namun, A-zi sama sekali tak merasakan kedinginan, hatinya sedang panas. Di bakar api cemburu. Apa yang mereka berdua sedang lakukan sekarang? Melakukan sex? Mungkinkah itu? Ah, A-zi berharap hanya dia yang dapat menyentuh Sui. Bukan gadis bernama Nara itu.
Suara kendaraan yang berlalu lalang tak menulikan pendengaran A-zi. Samar-samar dia mendengar teriakan minta tolong seorang gadis dari salah satu gang terpencil diantara dua bangunan tinggi yang merupakan sebuah rumah susun dan sebuah salon. Dengan langkah perlahan A-zi mendekati gang sempit itu. Mata dingin A-zi menangkap sebuah adegan yang sangat memilukan. Seorang gadis SMA tengah diperkosa oleh tiga orang remaja berandalan secara bergiliran. Gadis itu menangis. Tak dapat melawan ketika namja terakhir yang memperkosanya melakukan hal bejat itu. Gadis itu berusaha mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk melawan mereka bertiga. Namun, yang dapat gadis malang itu lakukan hanyalah merintih dengan linangan air mata, berusaha mendapat pertolongan. A-zi diam melihat pemandangan itu. Hatinya sama sekali tak tergerak untuk menyelamatkan gadis sekolahan itu. Tanpa sengaja, kedua bola mata gadis itu bertemu dengan tatapan dingin A-zi. A-zi tetap diam ketika gadis itu mencoba meminta pertolongan kepadanya dengan komunikasi bisu. Gadis itu menangis, sangat mengharapkan pertolongan A-zi. Namun, A-zi tetap diam. A-zi tetap diam ketika salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah pisau lipat dan mengarahkannya ke arah gadis malang yang tak mau berhenti menangis, memohon ataupun berteriak. Namja terakhir sudah selesai memuaskan nafsu birahinya. Kini, namja yang memegang pisau lipat itu tanpa segan-segan menusukkannya ke arah leher gadis malang itu. Gadis itu merintih dan berteriak kesakitan. Matanya tak beralih dari pandangan A-zi. Dia sangat membutuhkan pertolongan A-zi. Namja itu menusukkan kembali pisaunya di leher untuk yang kedua kalinya. Darah memuncrat keluar bersamaan dengan tusukkan ketiga yang diterima gadis itu. A-zi tak bergeming. Tak melakukan sesuatu. Gadis itu memandang A-zi dengan tatapan sayu, sangat membutuhkan pertolongan. Dan pada tusukkan ke-empat, gadis itu kehilangan nyawanya. Gambaran terakhir yang terekam dalam memori gadis itu hanyalah tatapan dingin A-zi.
A-zi merasakan sesuatu masuk ke dalam dirinya. Tatapan gadis itu, bayangan gadis itu, semuanya masuk ke dalam pandangan A-zi. Dengan langkah yang tak bisa ia kendalikan, A-zi berjalan masuk ke dalam gang sempit itu. Dia mendekati mayat gadis itu. Ketiga namja pemerkosa itu menyeringai, mereka mendapatkan korban baru. Namun A-zi tak memperdulikannya. Dia berjalan mendekat hingga ujung sandal biru tuanya menyentuh kepala gadis itu. Kepala A-zi tertunduk. Matanya seolah terkunci dengan mata gadis yang telah menjadi mayat itu. A-zi merendahkan tubuhnya dan tiba-tiba gadis itu memuncratkan darah terakhirnya. Darah itu menodai kaos A-zi. A-zi kembali menaikkan tubuhnya. Ketiga namja itu mulah berjalan mendekati A-zi. A-zi diam. Dia memejamkan matanya lalu membukanya kembali. Kini sekelilingnya berubah. Dia berada di ruang tengah dorm-nya tanpa ia ketahui mengapa ia berada disini. A-zi mengarahkan kepalanya ke arah pakaiannya. Noda darah itu mengotori bajunya. Bau darah segar menyeruak di hidungnya. Yang ia saksikan tadi nyata. Dan ia berpindah tempat dengan waktu yang sangat tak masuk akal juga sangat nyata.
Plok!
A-zi berbalik ketika seseorang menepuk pundaknya. Son Jong Ae atau yang lebih akrab dipanggil Peach kini berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya. Matanya membelalak dan menatap A-zi dari atas sampai bawah.
"A-zi, apa yang terjadi? Mengapa ada darah di bajumu?"
A-zi mengangkat salah satu alisnya. Mulutnya menyeringai secara tiba-tiba. Kilatan yang berbeda terlihat dari dalam bola matanya. A-zi mengeluarkan sebuah benda yang tak pernah ia masukkan ke dalam saku celananya. Sebuah pisau lipat berlumuran darah. Dia membuka pisau itu perlahan. Mata Peach membelalak. Tanpa meminta penjelasan, Peach segera berlari ke arah dapur ketika A-zi mengejarnya. Dia berlari dengan tergesa hingga tak sengaja kakinya tersandung kaki meja. A-zi menyeringai melihat kondisi itu. Dia berjalan mendekati Peach dan mendorongnya keras ke pintu kulkas.
"A-apa yang kau lakukan?" Peach menjerit sebisa mungkin di tengah rasa takutnya. A-zi menendang dada Peach agar membuatnya terdiam. Peach meringis seketika.
"K-kau kenapa A-zi?" Peach berusaha mendapatkan jawaban. Tangannya memegang dadanya yang terasa sangat sakit akibat tendangan itu.
A-zi merendahkan tubuhnya dan menatap Peach sendu. Kedua bola matanya menyiratkan kesedihan, rasa sakit dan kekalahan.
"A-zi, hnn… Kau kenapa?"
Masih dengan seringainya, dalam satu gerakan A-zi menancapkan pisaunya di kepala Peach. Menembus otaknya dan mengakibatkan pendarahan hebat di dalam kepalanya. Peach terbatuk darah beberapa kali dengan mata yang membelalak. Nyawanya tercabut bersamaan dengan A-zi ketika mencabut pisaunya dari kepala Peach. Dia mengambil posisi berdiri dan terkekeh kecil.
"A-astaga! Peach!"
A-zi berbalik ketika mendengar sebuah suara. Jiyou berdiri dengan tubuh yang bergetar tak jauh darinya. Hanya terpaut sekitar tiga meter. A-zi kembali menyeringai. Dia berlari dengan gerakan yang lebih cepat dari Jiyou dan berhasil menangkap tubuhnya yang melarikan diri. Jiyou meronta. A-zi segera mendekatkan ujung tajam pisaunya ke mulut Jiyou. Tubuh Jiyou bergetar semakin hebat. Tangan A-zi mencengkram lengannya kuat sedangkan ujung pisau mulai beralih dari mulut menuju leher. Jiyou menahan napasnya dan menelan ludah berkali-kali. Tak dapat ia sembunyikan ketakutannya jika pisau itu menembus lehernya.
"Me-mengapa k-kau laku..kan ini?"
A-zi memiringkan kepalanya dan terkekeh pelan. Dia menjilat pipi Jiyou dan kembali menatapnya.
"Ka-katakan!" Jiyou meminta jawaban dengan satu bentakan.
A-zi yang merasa tak suka di bentak mulai memandangnya dengan tatapan dingin. Tanpa ragu, ia tancapkan pisau itu tepat di leher Jiyou. Jiyou memuntahkan darahnya, tepat mengenai wajah A-zi. A-zi menyeringai. Dia menancapkan pisau itu untuk yang kedua kalinya dan membuat luka yang lebih besar. Darah kembali keluar dari mulut Jiyou. A-zi melepaskan tubuh Jiyou dan terbanting di atas lantai dingin. Dia membiarkan pisau itu menancap, menemani Jiyou di tengah kematiannya. Dia berjalan meninggalkan dapur ke arah sebuah kamar. Kamar Park Semi dan Lee Boreum.
Dia membuka pintu itu perlahan. Di dalam sana A-zi dapat melihat Semi sedang memainkan handphone-nya di ranjang dan sepertinya Boreum berada di dalam kamar mandi dengan air shower yang mengguyur tubuhnya. Semi menyadari kehadiran seseorang, namun ia tak berniat untuk melihatnya. Ia lebih senang bermain dengan handphone-nya.
A-zi naik ke atas ranjang dan mendorong tubuh Semi hingga handphone-nya terlepas dari genggamannya. Semi membelalak ketika dilihatnya wajah dan pakaian A-zi yang berlumuran darah. Dia hendak berteriak namun tangan A-zi menahannya. A-zi duduk di atas perut Semi dan menyeringai.
"Hmpph… Zi… Hmpphh…"
Kedua tangan Semi memukul tangan A-zi berulang kali, meminta untuk di lepaskan. A-zi menggeleng dengan senyuman jahatnya. Dia mengarahkan jari telunjuknya sendiri ke arah mulutnya, mengisyaratkan Semi untuk diam.
Dengan satu tangan yang menahan mulut Semi, satu tangan A-zi yang bebas menggapai cangkir teh yang berada di atas meja nakas samping ranjang. A-zi memukulkan cangkir itu ke kepala Semi dan membuatnya hancur berkeping-keping di sekitar rambut Semi. Semi merintih kesakitan. Matanya berusaha terbuka walaupun ingin terpejam karena pukulan keras yang di terimanya. Luka yang ditimbulkan oleh pukulan itu mulai mengeluarkan darah merah kental dan berbau anyir.
A-zi melepaskan tangannya dari mulut Semi. Semi merintih kesakitan. Tangannya menahan darah dan rasa pening di kepalanya. A-zi–masih dengan seringainya–mencengkram pipi Semi hingga Semi dapat kembali melihat mimik wajah A-zi yang menakutkan. A-zi menggapai pecahan cangkir itu dan mulai memasukannya satu persatu ke dalam mulut Semi. Semi tersedak. A-zi mendorong pecahan itu hingga lebih masuk, melukai rongga mulut bahkan tenggorokan Semi. Semi menangis dengan tangan yang mencoba melawan A-zi dengan cara memukulnya. Namun A-zi tak bergeming. Ia memasukkan pecahan kaca itu hingga habis masuk ke dalam mulut Semi. Semi kembali tersedak. Darah mengalir keluar dari dalam mulutnya. Tubuh Semi terkejang beberapa kali sebelum akhirnya dia menyusul Peach dan Jiyou disana.
A-zi turun dari atas ranjang kingsize milik Semi dan Boreum itu. Dia berdiri lalu berjalan ke arah kamar mandi dimana ada Boreum disana. Dibukanya pintu itu perlahan dan dilihatnya tubuh telanjang Boreum sedang mandi di bawah pancuran air shower. Boreum tak menyadari kehadiran A-zi, mungkin diakibatkan oleh suara air yang cukup deras. Boreum memejamkan matanya dan mengusap rambutnya. Dalam situasi itu, A-zi menarik shower dari tempatnya berada. Air membasahi baju A-zi, membuat darah dari bajunya mengalir bersama air ke arah saluran pembuangan. Merasakan air menghilang, Boreum membuka matanya. Kepalanya menunduk ke bawah dan melihat darah mengalir bersama air. Mata Boreum membelalak lebar. Ketika ia berbalik, gerakannya bersamaan dengan A-zi yang melilitkan tali shower di leher Boreum. A-zi melilitkannya berulang kali hingga pada putaran terakhir ia menariknya kuat. Tangan Boreum berusaha melepaskan tali shower yang mengerat lehernya. Mulut Boreum terbuka, mencoba bernafas. A-zi semakin mengencangkan cekikannya. Mata Boreum memerah. Perlahan cairan merah kental keluar dari sudut mata Boreum. Tubuh Boreum melemas. Dengan satu kali hentakan yang mengencangkan tali itu, Boreum kehilangan nyawanya dan terjatuh di lantai.
A-zi menyeringai. Dia membuka pintu kamar mandi dan keluar dari kamar mandi. Lalu dia keluar dari kamar itu, meninggalkan dua gadis lagi yang di bunuhnya. Dia berjalan ke arah dapur dan mendekati mayat Jiyou di lantai. A-zi mengambil pisaunya dari leher Jiyou. Darah segera mengalir kembali dari luka itu. Tujuan A-zi selanjutnya adalah kamar Nara.
A-zi berjalan ke arah kamar Nara dengan pisau dalan genggamannya. Dia membuka pintu kayu itu dan masuk ke dalam. Matanya memandang ke arah ranjang. Seringainya hilang. Nara dan Sui tertidur di atas ranjang, hanya memakai pakaian dalam mereka. Hati A-zi semakin sakit. Matanya menyiratkan kekejaman dan rasa sakit. Dia berjalan tergesa ke arah ranjang dan dengan segera A-zi tancapkan pisau itu di perut Nara sehingga membuat Nara terbangun paksa. Nara memuncratkan darah dari mulutnya lalu meringis. Sui terbangun dengan suara itu. Butuh beberapa detik bagi matanya untuk menangkap apa yang terjadi. Setelah mengerti, Sui berteriak ketakutan. Nara meringis menahan sakit.
"Aaarrgh! Nara!" Sui berteriak histeris dan panik.
Nara memejamkan matanya, mencoba melawan rasa sakit. Dengan segala usahanya, Nara turun dari ranjang dan berdiri di hadapan A-zi.
"Zi… Enhh… W-wae?"
A-zi menggeleng dengan tatapan menyakitkan. Dia menarik tubuh Nara lalu mendorongnya ke arah dinding hingga kepala Nara terbentur. Nara terjatuh di lantai.
Mata A-zi segera menangkap gerakan Sui yang berniat kabur. A-zi segera mendorong tubuh Sui ke atas ranjang lalu duduk di atas tubuh Sui, sama seperti apa yang ia lakukan terhadap Semi.
"W-wae A-zi… Wae?"
Sui mulai menangis di tengah rasa takutnya. A-zi membelai pipi Sui lembut lalu menatapnya sendu.
"Wae? Hiks…"
Sui semakin menangis ketika A-zi menjilat pipinya lalu beralih ke bibirnya. A-zi mencium Sui dengan lembut. Melumat bibir bawah lalu bibir atas Sui secara bergantian. Lidahnya menyapu permukaan bibir Sui. Air mata tetap mengalir dari mata Sui, namun matanya terpejam. Mengerti arti ciuman ini. A-zi mencintainya. Sui selalu menyadari tatapan A-zi yang berbeda kepadanya, perhatian lebih A-zi kepadanya, rasa sayang A-zi kepadanya. Sui mengerti kali ini. A-zi benar-benar mencintainya. Semua terasa berbeda. Ciuman yang A-zi dan Nara berikan berbeda. Rasa nyaman hanya dapat dirasakan Sui dengan sentuhan A-zi.
Brak!
Mata Sui terbuka. A-zi terjatuh dari ranjang ketika Nara melempar sebuah kursi ke arah tubuh A-zi. A-zi meringis di lantai. Nara mencabut pisau dari perutnya secara paksa. Rasa panas dan perih membakar bersamaan di lukanya. Namun Nara tak peduli. Dia segera menghampiri A-zi dan menendang punggungnya. A-zi meringis kesakitan. Nara hendak melayangkan satu tendangan lagi namun A-zi segera mendorong tubuhnya hingga membentur jendela. A-zi mengambil kesempatan untuk bangkit sebelum Nara kembali melawannya. A-zi berjalan mendekati Nara dengan langkah sempoyongan. Nara mulai berdiri, melawan rasa sakit. Mata A-zi melebar, tersirat kemarahan di matanya. Dia mendorong tubuh Nara hingga menabrak jendela dan…
Prang!
"Nara! A-zi!" Sui menjerit.
A-zi mendorong tubuh Nara membentur jendela, membuatnya pecah dan Nara terlempar keluar dari jendela. Namun, tangan Nara mencengkram pergelangan tangan A-zi, membawanya jatuh bersamanya. Sui segera turun dari ranjang dan berlari ke arah jendela. Matanya membelalak dan berair di saat yang bersamaan ketika di lihatnya kedua tubuh itu jatuh, menghempas trotoar dengan sangat keras. Tubuh Nara hancur di samping A-zi. Kepala Nara pecah dan seluruh tulangnya patah. A-zi memejamkan matanya. Lalu matanya terbuka lemah dan ia mendapati ia terkapar berlumuran darah di samping mayat gadis SMU yang diperkosa, bersama ke tiga mayat namja pemerkosanya yang mati mengenaskan. Salah seorang namja tewas dengan kepala terpenggal, yang satunya tewas dengan perut terkoyak dan usus yang keluar dan namja terakhir terpisah empat bagian. A-zi menyeringai tipis. Dia kembali memejamkan matanya lalu membukanya perlahan. Tubuhnya kembali berada di samping mayat Nara. A-zi tersenyum simpul. Matanya menatap ke arah jendela dimana ia jatuh. Sui menangis disana, dan menjerit. A-zi kembali memejamkan matanya perlahan, dan ia tak pernah membuka matanya kembali. Untuk selamanya.
.::.
Promosi
Baca FF-ku yang judulnya The Time ya ^^
Yaoi, yang mainnya DBSJ a.k.a DongBangSuJu
Nah, siapa aja yang request SAW selanjutnya aka SAW IV yang mainnya Super Junior? Eum, sepertinya itu masih direncanakan karena SuJu kebanyakan personil *olalalala*
Nah, waktunya balas review SAW II : DBSK version
kangkyumi : hehehe, Changmin mati, of course :p gomawo ya~ aku akan semangaaaaaaaaaaaaattt
BumBumJin : bukan salah aku ya hehe :p kalau begitu jangan dibayangin *author mionta digeplak* hehehe inilah SAW III. Kalau mau, silahkan menonton videonya
chidorasen : hehehe makasih :D ohahaha kebanyakan semuanya pada ngeri di bagian Jaejoong ama Changmin ya. Hm, SAW I biasa aja kok *smirk
Liu HeeHee : Oh ya? Hm, untuk SuJu dan SHINee aku pertimbangkan lagi kekeke
kyuminchullie : annyeong juga dan salam kenal ^^ hm, itu sih bagaimana author ya kekeke *smirk
Kim Hae Sun : Yap :) tentu saja sudah pernah ._. Nanti aku buat deh yang SJ
Max Hyera : Huooo, atur nafaaaaaasss dan hembuskaaaan *lu kata mau ngelahirin* Nah, authornya bakal bingung kalau buat yang SJ, secara 15 orang mbak -,- Yap, SAW tuh film yang sadis tapi saya Cuma ngambil judulnya doang yang sama, FF-nya beda jauuuuuuuuhhh sama film SAW
rararabstain : annyeong :D tuh kan, pada ngeri di bagian Jaejoong sama Changmin ya hoho. Wah, kayanya bener-bener pada nungguin yang SJ ya kekekeke. Yap itu link-nya, monggo dicoba
KeayCL-CassiELF : hollla jugaaaaaaaaaaaa :D karena aku seorang psikopat (?) *ngek* gomawo ya~ wah nyumpahin saya mati nih? Nonton aja videonya kekeke *smirk
Kim kyukie qendt : Annyeong jugaaaaa :D eits, nae Changminnie? Tidak bisa *bawa Changmin kurung di kulkas* nanti deh SJ kapan kapan hoho
Saeko Hichoru : Annyeong juga :D OMG gomawo~ :). Yap, aku sudah bikin horror lagi kekeke. Ne cheonmaneyo~ buat HanChul lagi ne~
HaeTripleS : Hm, mirip Final Destination darimananya ya? Menurut aku FF ini gak mirip sama sekali sama FD ._. *saya udah pernah nonton FD 1-5* dan juga saya gak bilang kalau FF ini ngikutin dilm SAW, saya cuma ngambil judul yang sama doang dikarenakan semua yang mati pasti berhubungan dengan melihat, ceritanya juga memang beda sama SAW :)
KimHanKyu : jangan stress *hug* #sayasokkenal. Kan ada guling yang nemenin tidur kekeke
Cho Kyu Rin : Hehehe XD makasih. Aku udah apdet lagi hehehe
Untuk semuanya terima kasih banyaaaaaaaaaaaaaaaakkk :D
Yang inginkan SAW IV, review ya :D
