Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : SAW IV: Sacrifice
Cast : Super Junior
Genre : ThrillerHorror
Rated : M (kayaknya ._.)
Type : Yaoi
Length : One Shot
Summary : Dia menginginkan empatbelas nyawa
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Kecuali cerita punya saya!
Warning : GORE! TYPO(s)! MISS TYPO! ABAL! ALUR KECEPETAN! OOC! Ada pembunuhan (kagak sadis kalau kata aku)
A/n : SAW IV yang entah sadis atau tidak. Yang pasti kalau mau baca SAW IV ini harus baca SAW II DBSK yang remake. Okay?
Thanks untuk yang menyempatkan dirinya untuk membaca FF ini *blowkissagain
Thanks bagi yang menyempatkan diri untuk memberi review
Susah lho buat FF kaya gini ._.
.
.
.
Kyuhyun masuk ke dalam sebuah ruangan yang terasa sangat dingin—menurutnya. Ruangan yang begitu sepi dan terlihat kosong—hanya ada sebuah ranjang dorong di tengah ruangan. Ranjang yang Kyuhyun yakini ada seseorang yang terbaring disana. Terbaring dibawah selembar kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya.
Kyuhyun menutup pintu dengan gerakan pelan. Dia mulai melangkahkan kakinya mendekati ranjang itu, dengan kaki yang gemetar, dengan seluruh hatinya yang masih belum bisa menerima kenyataan. Matanya menerawang—berharap sesuatu yang akan dilihatnya hanyalah sebuah bualan. Berita yang didengarnya hanya sebuah lelucon. Hanya lelucon untuk ditertawakan bersama, bukan? Dia berharap begitu.
Setelah jaraknya dengan ranjang itu sudah mendekat, Kyuhyun menghentikan langkahnya. Terlalu berat untuk mendapatkan jarak yang sangat dekat—melebihi kata dekat. Dia hanya bisa berdiri mematung disana. Tak ingin berkutik untuk sementara waktu. Hanya menatap sesuatu yang terhalang oleh kain putih dengan tatapan yang begitu menyakitkan.
Kyuhyun menarik napasnya panjang. Dia mulai mengangkat tangan kanannya, mendekatkannya kearah kain putih yang sama sekali tak bergerak itu. Apa mungkin yang akan dilihatnya di balik kain putih ini kenyataan? Sebuah fakta? Sesuatu yang benar-benar harus diterimanya? Dengan tangan yang mulai bergetar itu, Kyuhyun menarik kain dari ujung ranjang. Mengangkatnya sedikit dan kemudian menyibaknya.
Tak mungkin.
Mengapa berita yang didengarnya itu benar?
Mengapa semua ini adalah kenyataan?
Mengapa salah satu tangannya hilang sampai ke siku?
Mengapa laki-laki ini hanya terbujur kaku dengan tubuh yang sangat pucat?
Mengapa laki-laki ini harus seseorang yang dia kenal?
Mengapa laki-laki ini harus seseorang yang dia sayang?
Mengapa laki-laki ini harus seseorang yang dia cinta?
Mengapa laki-laki ini harus DIA?
MENGAPA?
"C-Ch-Chang...min..."
Bahkan, lidahnya sama sekali kesulitan untuk mengucapkan nama itu.
Mata Kyuhyun bergetar menahan tangis. Dia sama sekali masih belum bisa mempercayai bahwa yang terbaring kaku tanpa nyawa dihadapannya ini adalah seseorang yang ia cintai. Yang sama sekali belum sempat untuk menjadi miliknya. Yang sama sekali belum bisa menyatakan cinta ketika dia masih di dunia.
Kenapa Tuhan begitu jahat kepadanya?
Dia hanya punya satu doa selama ini. Dia hanya menginginkan satu hal kepada Tuhan. Dia hanya ingin Changmin memilikinya, menjadi miliknya. Tetapi mengapa Engkau ambil dia terlalu cepat? Bahkan sangat cepat?
"K-kau jahat Min..." seluruh kalimat yang keluar dari mulutnya terasa kaku. Terasa sulit untuk mengingat bahwa yang dia ajak bicara hanya bisa diam. Dengan bibir yang pucat dan jantung yang tak berdetak. "...kukira kau akan menembakku akhir-akhir ini..." Kyuhyun tertawa menyakitkan. Dia menyentuh wajah Changmin dengan jari-jari panjangnya, dan merasakan permukaan kulit yang dingin itu. "...ternyata kau dan Tuhan mempermainkanku. Kau lebih senang untuk bertemu Tuhan sekarang."
Dengan gerakan perlahan, Kyuhyun merendahkan tubuhnya. Mengistirahatkan pipinya di dada yang tak terbalut kain lagi. Kyuhyun meraih salah satu tangan Changmin yang masih utuh, dan kemudian menggenggamnya.
Kyuhyun memejamkan matanya, berharap menemukan detak jantung di dada itu. Berharap menemukan suatu tanda kehidupan. Tetapi yang dia rasakan hanya dingin. Kyuhyun meremas tangan itu kuat, menyalurkan seluruh emosi yang bercampur dalam dirinya.
"Jika kau seperti ini..."
Kyuhyun membuka matanya dan mendorong sedikit wajahnya. Berniat untuk melihat wajah Changmin. Dia tersenyum miris dan mengecup dagu Changmin.
"...aku akan menjadi sepertimu."
Dan dengan cepat mata Changmin terbuka. Dengan bolamata berwarna merah.
.
.
SAW
IV
A Horror-Thriller Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Jiwa itu masih berkeliaran..."
Super Junior's Time
"...disini."
.
.
.
Leeteuk berjalan kearah ruang tengah dorm Super Junior di lantai sebelas. Kali ini semua member Super Junior berada di dorm itu—dikarenakan rasa khawatir kepada Kyuhyun yang mengurung dirinya semenjak mendengar berita kematian DBSK—Changmin—kemarin. Dia melihat Donghae, Eunhyuk, Shindong dan Kangin yang tengah menonton berita di televisi. Berita yang memang sedang hangat untuk diperbincangkan. Tentang kematian kelima teman satu agensi mereka.
"...tidak ditemukan sidik jari apapun. Polisi mencurigai bahwa kematian kelima member DBSK ini didalangi oleh seseorang yang ingin balas dendam atau iri dalam persaingan ketat industri musik Korea. Saat ini polisi masih berusaha untuk menemukan barang bukti yang dapat membantu untuk—"
"Donghae, ganti saluran televisi-nya." kata Leeteuk yang langsung membuat ke-empat orang yang duduk di sofa itu berbalik dan melihatnya yang menggeleng pelan.
Eunhyuk segera meraih remote TV di atas meja ketika mendapat peringatan dari sang 'umma' mereka. Dan Eunhyuk menekan tombol berwarna merah yang membuat layar TV berubah menjadi hitam. Dia memilih untuk mematikan televisi.
"Jangan membuat Kyuhyun semakin terpuruk jika dia melihat berita itu." katanya pelan. Lalu mencuri pandang kearah kamar Kyuhyun dan Sungmin dimana maknae itu mengurung diri disana. "Kasihan dia."
Donghae dan Eunhyuk mengangguk menanggapi.
"Aku tidak bisa melakukan apapun untuk menghibur Kyunie."
Leeteuk berbalik ke sumber suara dan mendapati Sungmin berjalan kearah mereka—dengan secangkir teh di tangannya. Sungmin mengangkat bahunya dan kemudian membuang napas.
"Bahkan dia tidak membiarkan aku masuk ke dalam."
"Ya Tuhan, adakah sesuatu yang dapat men—"
Tett~ tett~
Suara bel dari pintu depan dorm menginsterupsi kalimat Eunhyuk. Eunhyuk dengan terpaksa menelan kalimatnya kembali dan menatap kesal kearah pintu. Dia mendengus pelan. Donghae yang melihatnya segera mengacak rambut kekasihnya itu.
"Coba buka pintunya." kata Leeteuk.
Sungmin mengangguk dan berniat untuk berjalan kearah pintu. Namun seseorang telah mendahuluinya untuk membuka pintu—dari arah dapur. Mereka menatap laki-laki bertubuh atletis itu membuka pintu dorm.
"Kalian datang, Zhoumi? Henry?" katanya.
Henry dan Zhoumi mengangguk dan kemudian melangkah masuk ketika Siwon—laki-laki yang membuka pintu—mempersilahkan.
"Kami tidak mungkin untuk tidak datang mengingat Kyuhyun begitu ter—"
"Tak perlu dibahas." Heechul memotong. Dia datang dari dapur bersama Hangeng disampingnya.
Zhoumi dan Henry mengangguk mengerti. Sungguh, suasana seperti ini terlalu aneh jika disangkutpautkan dengan dorm Super Junior yang tak pernah luput dari tawa atau kejahilan mereka. Namun sekarang semuanya harus saling memahami, salah satu anggota mereka tengah terluka. Dan mereka harus berusaha untuk membuat dia kembali dari segala keterpurukannya.
"Dimana Kuixian?" tanya Zhoumi kepada Heechul.
Heechul berbalik dan menunjuk kearah kamar Kyuhyun dan Sungmin dengan dagunya. "Tak pernah keluar sejak kemarin."
Henry menggeleng pelan dengan tatapan yang miris. Dia berjalan menghampiri Eunhyuk dan Donghae di ruang tengah dan duduk di salah satu sofa single yang kosong. Dan kemudian beberapa orang yang berada di dapur—Yesung, Ryeowook, Kibum—datang ke ruang tengah, berkumpul bersama yang lainnya.
"Hari ini semuanya tidur di sini. Jangan ada seorangpun yang meninggalkan dorm ini. Mengerti?"
Semuanya mengangguk mendengar peringatan sang leader.
"Bagus! Aku harap kalian bisa membuat Kyuhyun untuk keluar dari kam—"
Cklek!
Semua pasang mata segera menoleh kearah sumber suara—tepatnya kearah sebuah pintu yang terbuka. Pintu dari kamar Kyuhyun dan Sungmin itu terbuka semakin lebar dan kemudian menampilkan seseorang yang sudah memakai piyama dengan wajah yang tak seburuk mereka lihat kemarin. Tak semasam kemarin. Entah mereka salah lihat atau apa, yang jelas ada sebuah garis melengkung di bibirnya. Sebuah senyuman tipis.
"Wah, semuanya sedang berkumpul ya?" tanyanya.
Leeteuk maupun yang lain hanya terdiam. Kyuhyun memiringkan kepalanya dan menggerenyitkan dahinya. Kemudian dia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ya ampun, apakah tak ada seseorang yang akan memasak makan malam untuk hari ini? Sekarang limabelas member sedang berkumpul, apa kalian tak kelaparan?"
Dan kemudian tawa pelan Eunhyuk terdengar, membuat beberapa pasang mata kini teralih menatapnya. Eunhyuk mengangkat bahunya pelan dan turun dari atas sofa.
"Oh, Kyuhyun-ah," dia berlari dan menabrak tubuh Kyuhyun dengan pelukannya. "kau kembali."
"Aku kembali?" Kyuhyun terkekeh pelan. "Ayolah hyung, jangan bercanda. Apa gara-gara aku baru keluar dari kamar kau begitu merindukanku? Eum?"
Heechul hendak menghampiri Kyuhyun dengan tatapan kesalnya. Bagaimana tidak? Semua member menghawatirkannya dan ternyata seseorang yang dihawatirkan itu hanya tertawa seolah tak terjadi apa-apa? Seolah tak terjadi sesuatu ketika dia mengurung diri di kamar? Dia menggenggam tangannya keras dan hendak untuk melangkah, namun tangan Leeteuk menahan dadanya. Heechul menoleh kearah Leeteuk yang hanya menggeleng pelan. mengisyaratkan untuk tidak berbuat sesuatu yang tergesa-gesa kepada maknae mereka.
"Ah, Ryeowook hyung dan Sungmin hyung, ayo kita memasak untuk makan malam. Kupikir semuanya sudah merasa kelaparan." kata Kyuhyun seraya melepaskan pelukan Eunhyuk.
Sungmin dan Ryeowook yang semula diam akhirnya mengangguk. Mereka melenggang kearah dapur dengan Kyuhyun yang mengekor di belakang. Kangin yang melihat hal itu menggeleng pelan, kemudian dia menyaut kecil. "Kyu, kalau bisa kau tak usah ikut memasak. Bisa-bisa kami semua keracunan." candanya.
Kyuhyun menoleh dan menghentikkan langkahnya. Dia tersenyum kearah Kangin yang masih melihatnya. "Aku akan melakukannya."
Dan beberapa member lain ikut tertawa mendengar candaan itu.
Ya, candaan itu.
Dan Kyuhyun kembali melanjutkan langkahnya dan menghilang dari ruang tengah menuju dapur bersama Sungmin dan Ryeowook.
Heechul membuang napasnya perlahan. "Aku tak percaya maknae itu bisa kembali dalam kurun waktu yang sangat cepat."
.:o~o:.
"Kau sudah bisa memasak, Kyu?" tanya Donghae bercanda. Dia memasukkan sesendok sup lagi ke dalam mulutnya. "Ini enak."
Member lainnya mengangguk dan Kyuhyun hanya tersenyum menanggapinya.
"Kukira tadi Kyuhyun akan mengacaukan kami ketika memasak sup, tetapi ternyata enak." kata Sungmin dan semua member tertawa.
Kyuhyun menolehkan pandangannya ke samping—tepat kearah Zhoumi yang duduk di sampingnya. Dia menyentuh tangan Zhoumi yang memegang sendok. "Zhoumi-ge, suka tidak dengan masakanku?" tanya Kyuhyun manis.
Zhoumi menelan ludahnya ketika Kyuhyun bertanya dengan nada manis kepadanya. Sungguh, pada kenyataannya namja berambut merah ini memang menyukai Kyuhyun. Ah, ralat, banyak namja di Super Junior maupun di boyband lainnya menyukai Kyuhyun. Siapa juga yang bisa menolak pesona yang memancar dari Kyuhyun? Ya walau semuanya tahu bahwa maknae itu mencintai Changmin. Tetapi Changmin sudah tak ada sekarang, apakah ini sebuah kesempatan untuk Zhoumi?
"A... masakanmu enak, Kuixian."
Kyuhyun tersenyum lagi. Dia melanjutkan acara makannya dengan tenang sementara member lain mulai bercanda dan saling menjahili.
Dan mereka tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ah, kurasa aku sudah kenyang." kata Eunhyuk pelan. "Aku mengantuk."
"Sepertinya aku juga." Kibum menanggapi.
"Kepalaku mulai berat."
"Euh, kenapa aku mengantuk sekarang?"
"Se-sepertinya aku akan ke kamar."
"Aku juga."
Dan...
Bruk!
Keempatbelas member Super Junior kehilangan kesadarannya di ruang makan.
Kyuhyun meletakkan sendoknya diatas mangkuk. Dia memegang pinggiran meja dan mendorong kursi ke belakang. Kemudian dia berdiri dari posisi duduknya, memandang keempatbelas temannya dengan sebuah senyuman.
"Dia bilang, aku harus membawa kalian jika aku ingin bertemu dengan Changmin. Maaf ya hyungdeul, maaf juga ya Mochi. Aku hanya ingin bertemu dengan Changmin. Rasanya akan menyenangkan menukarkan empatbelas nyawa dengan satu nyawa."
Kau bisa bertemu denganku jika kau menuruti ucapannya.
.:o~o:.
"Euh..."
Zhoumi menyentuh kepalanya yang agak pening dan berat dengan perlahan. Matanya agak kesulitan untuk terbuka, namun dengan gerakan pelan dia mulai bisa membuka matanya secara sempurna. Menampilkan pemandangan lain dari yang terakhir dia lihat. Terakhir yang berada dihadapannya adalah meja makan, beberapa makanan dan minuman, dan juga Sungmin serta Kibum yang duduk dihadapannya. Namun sekarang dia dapat melihat Kyuhyun diatas tubuhnya—duduk tepat diatas perutnya. Zhoumi mengerjapkan matanya melihat Kyuhyun yang tersenyum kearahnya.
"Ku-Kuixian? Kenapa kita ada disini?" tanya Zhoumi.
Kyuhyun menggeleng pelan. Dia mulai membuka satu-per-satu kancing kemeja yang dikenakan oleh Zhoumi. Zhoumi menatap Kyuhyun bingung, namun dia tak bisa melawan. Pertama, dia mengharapkan Kyuhyun melakukan hal ini. Kedua, kedua tangannya diikat oleh tali ke ujung ranjang, dia tak bisa menggerakan tangannya sama sekali.
"Zhoumi-ge menyukaiku bukan?" tanya Kyuhyun dengan nada menggoda.
Zhoumi menelan ludahnya. Dia tak bisa berbuat apapun ketika Kyuhyun mulai menciumi dadanya.
"Kuixian."
Kyuhyun mendongak, dia segera mencium bibir Zhoumi dan membiarkan namja berkebangsaan China itu melumat bibirnya kasar. Siapa juga yang tahan jika Kyuhyun yang begitu menggoda mengajaknya untuk berciuman secara intens?
"Ahh... Z-Zhoumi-ge..."
Dan desahan itu membuat Zhoumi semakin liar untuk menyerangnya.
Kyuhyun menurunkan tangannya dan meraba perut Zhoumi—menggodanya. Dia kemudian memasukkan tangannya ke dalam celana Zhoumi dan meraih sesuatu yang mulai mengeras di dalam sana. Zhoumi menyeringai dalam ciuman itu. Bukannya dia berhianat, tetapi dia benar-benar mengharapkan adegan seperti ini. Adegan dimana Kyuhyun yang akan menyerahkan diri kepadanya.
"Good boy." kata Zhoumi pelan ketika merasakan tangan Kyuhyun menurunkan celana miliknya. Dia dapat merasakan Kyuhyun mulai mengocok miliknya dengan mudah—dengan tempo cepat karena sudah tak terhalangi oleh celana. Zhoumi kembali menyambar bibir Kyuhyun dan melumatnya. Dia tak peduli dengan kedua tangannya yang sama sekali tak bisa menggerayangi tubuh Kyuhyun. Dia cukup puas dengan uke yang mengambil alih permainan.
Zhoumi merasakan miliknya sudah sangat menegang. Dia melepaskan tautan bibirnya dari bibir Kyuhyun dan menatapnya yang mulai terengah.
"Kuixian, bisa kau membuka talinya? Aku akan memuaskanmu."
Kyuhyun menggeleng dengan senyuman. Dia melepaskan tangannya dari milik Zhoumi dan berganti meraih sesuatu yang dia letakan di ujung ranjang dekat kaki Zhoumi. Sebuah pisau dapur panjang.
"Nah, Kuixian, buka talinya sekarang." kata Zhoumi lagi.
Namun yang diajak bicara lagi-lagi hanya menggeleng dengan senyuman.
Zhoumi menelan ludahnya agak ketakutan ketika Kyuhyun mundur dan kini duduk di atas pahanya. Zhoumi dapat melihat Kyuhyun kembali meraih junironya dan mendekatkan sisi tajam dari pisau mendekati miliknya. Zhoumi menahan napasnya sebentar.
"Ku-Kuixian... apa yang akan kau lakukan?" tanyanya.
Kyuhyun menggeleng lagi. "Zhoumi-ge, nikmati saja. Rileks." katanya.
Zhoumi mulai meronta—berusaha melepaskan tali pada tangannya. Namun ikatan itu terlalu kuat, memakai simpul tali mati. Dapat dirasakan tubuhnya menegang ketika Kyuhyun menggoreskan pisau itu pada kulit alat vitalnya. Dengan gerakan horizontal, sisi tajam yang dingin itu membuatnya ketakutan.
"Ku-Kuixian, jauhkan benda itu. Jauhkan pisau itu!" perintahnya. Namun sekeras apa dia memerintah, Kyuhyun tidak akan menuruti permintaannya.
Kyuhyun malah semakin memainkan sisi tajam itu pada alat vital Zhoumi. Dia menyeringai tipis.
"Kuixian, cepat jauhkan benda itu sekarang juga!"
"Ah, sepertinya aku terlalu mengulur waktu." Kyuhyun mengganti posisi tangannya dalam menggenggam pisau dapur panjang itu. "Kurasa, dia juga sudah bosan menunggumu."
Dan tepat ketika Zhoumi hendak bertanya, Kyuhyun segera menggoreskan pisau itu secara nyata pada alat vital Zhoumi dengan gerakan memutar dan kemudian menyayatnya.
Srett
"ARRGGHHH!"
Teriakan itu mengawali kegiatan Kyuhyun selanjutnya. Dia menyayat alat vital Zhoumi dengan ganas, dan darah mulai membasahi tangannya dan kemudian menyembur ke baju Kyuhyun ketika Kyuhyun menusukkan ujung pisau ke lubang kencing milik tubuh dibawahnya. Lelaki berambut merah itu tak henti-hentinya berteriak kesakitan.
"AARRGGHH! AARRGGH!"
Kyuhyun terkekeh pelan mendapati tubuh Zhoumi mulai mengejang. Kyuhyun meraih benda tumpul yang sudah hampir kehabisan darahnya dan kemudian memotongnya.
Crakk
"Ah, aku memotongnya."
"AAARRGGGGHHHH!"
Teriakan yang lebih panjang dan menyakitkan keluar dari mulut Zhoumi ketika Kyuhyun berhasil memotong alat kelaminnya. Dia tak henti berteriak melihat darahnya mulai menyembur keluar, dan rasa panas dan sakit yang menyayat itu mengiringinya. Kyuhyun mengangkat alisnya dan kemudian membuang potongan alat vital itu. Belum puas dengan yang dikerjakannya, Kyuhyun mengarahkan pisaunya pada lubang anal Zhoumi dan kemudian menusukkannya.
Sratt
"AAARRGGGHHH!"
Dan kulit itu robek bersamaan dengan perbuatan Kyuhyun. Zhoumi tak henti berteriak—walaupun suaranya sudah mulai melemah mengingat darah yang keluar dari tubuhnya sudah terlalu banyak. Hanya perlu menunggu dalam hitungan detik, Kyuhyun yakin Zhoumi akan kehilangan nyawanya.
Sratt
Dan Kyuhyun menusukkan pisau itu lagi.
Sratt
Dan lagi.
Sratt
Dan untuk yang terakhir kalinya.
Sratt! Sratt!
"Ah, satu nyawa sudah kuberikan untukmu. Tigabelas lagi. Tunggu aku Shim Changmin."
Aku menunggumu jika kau menuruti ucapannya.
.:o~o:.
"Euh..."
Leeteuk menggelengkan kepalanya pelan, merasakan kepalanya berat dan terasa pening. Dia mencoba menyentuh kepaalanya namun tangannya sulit untuk digerakan. Leeteuk berusaha meraih sesuatu namun dia menyadari bahwa tangannya telah diikat ke belakang sekarang—beradu dengan sandaran kursi yang terbuat dari kayu jati.
"Saengdeul?" panggilnya pelan. Namun yang dia dengar adalah suara samar sesuatu yang dimasak menggunakan teko alumunium.
Dia mencoba untuk membuka matanya namun yang dirasakannya adalah ada sesuatu yang menutupi pengelihatannya. Yang menahannya dengan mengelilingi kepalanya. Sepertinya ada seseorang yang mengikat sesuatu pada matanya.
"Ah, apa yang terjadi? Jangan bercanda. Hei!"
Dan kemudian yang Leeteuk dengar adalah suara lenguhan lain dari beberapa sisi di sekitarnya. Leeteuk meronta—berusaha melepaskan ikatan tangannya.
"H-hyung? Hyung? Hyungdeul, apa yang terjadi?"
Sebuah suara yang berasal dari samping kirinya membuat Leeteuk menolehkan kepalanya—walau dia tak bisa melihat kali ini.
"Sungmin? Sungmin, kau baik-baik saja?"
Leeteuk dapat mendengar hembusan napas lega dari namja penyuka warna pink itu.
"Hyung, apa yang terjadi? Siapa yang melakukan hal ini? Siapa yang mengikat tanganku dan menutup mataku?"
"Aku tidak tahu Sungmin-ah," kata Leeteuk pelan. "Apakah ada pencuri yang masuk kesini? Kurasa aku sudah mengunci pintu sebelum kita makan malam."
"Apa yang terjadi?"
Dan kemudian suara lain menyusul.
"Euh, ke-kepalaku pening sekali."
"Donghae? Eunhyuk? Kalian tak apa-apa?" tanya Leeteuk khawatir.
"A-aku baik-baik saja hyung. Tetapi apa yang terjadi? Siapa yang melakukan lelucon ini? Ini tak lucu!"
"Tenang Donghae-ah."
"Siapa yang menutup mataku?"
"Tenang Eunhyuk-ah."
Leeteuk masih berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya, tentu saja dengan berusaha untuk menenangkan dongsaeng-nya. Lebih baik berpikir positif terlebih dahulu. Mungkin ini hanya kerjaan seseorang member untuk menghibur Kyuhyun.
Eh? Kyuhyun?
"Kyuhyun?" panggil Leeteuk, namun suara lain yang terdengar di telinganya.
"Aish! Apa-apaan ini? Hei, siapapun lepaskan ikatan tangan dan mata ini! Kau ingin membuat masalah denganku?"
"Tenang Heechulie."
"Ah apa yang terjadi?"
"Shit! Siapapun buka pengikat kepala ini! Kau ingin berurusan denganku?"
"Kangin-ah."
"Ya Tuhan, siapa yang melakukan hal ini?"
"Siwon-ah."
"Argh! Lepaskan! Kau membuatku kesal!"
"Heechulie."
"Siapa yang melakukan hal ini?"
"Lebih baik sekarang semuanya tenang." Ucapan Leeteuk menginsterupsi. Membuat semua yang sibuk mengumpat ataupun bertanya menutup mulutnya. "Sekarang, semua yang berada disini sebutkan namanya. Aku tahu sekarang ada seseorang yang mengikat dan menutup mata kita, dan aku mohon semuanya tenang. Tenang, ini hanya sebulah lelucon—mungkin."
"Sungmin."
"Siwon."
"Heechul."
"Shindong."
"Eunhyuk."
"Donghae."
"Aku." Terdengar helaan napas. "Kangin."
"Hangeng."
"Yesung."
Leeteuk mengangkat alisnya. Lalu diam dan hening.
"Lalu?"
Dan diam lagi.
"Kemana Kyuhyun, Kibum, Henry, Zhoumi dan Ryeowook?" tanya Leeteuk.
Yang lainnya hanya menggeleng—gerakan yang sama sekali tak bisa mereka lihat.
"Hei! Kyuhyun-ah! Henry-ah!" panggil Sungmin yang sudah mulai panik sekarang—bahkan sangat panik. "Jawab kami! Zhoumi! Kibum! Ryeowook!"
Dan kemudian terdengar suara kursi yang diseret—bunyi decitan dari kaki kursi dan lantai yang bergesekan. Beberapa ada yang bergidik pelan, ada yang masih berusaha membuka ikatan di tangannya dan juga ada yang menendang-nendang angin.
"Jika ini lelucon, aku tak akan memaafkan siapapun dalangnya!" Ancaman Kangin terdengar seperti angin di telinga seseorang yang menarik kursi itu. Dia hanya mengulas segaris senyuman.
"Saengdeul, dimana kalian?"
"H-hyu-hyunghh..."
Leeteuk menghela napas lega. "Kibumie? Itukah kau?"
Dan beberapa orang lain mulai mencari sumber suara. "Itu suara Kibum? Dimana yang lain?" tanya Yesung. "Ryeowookie?"
"Kibumie, kau baik-baik saja?" tanya Leeteuk lembut. Agak curiga dengan suara lemah dari Snow White Super Junior itu.
"H-hyunghhh... a-aku..."
"Kibumie? Gwenchana? Kau dimana? Kau bisa melihatku?" tanya Siwon khawatir. Dia mulai meronta dari kursinya dan berusaha melepaskan talinya. Walau dia mempunyai otot-otot yang besar itu, tetapi saja simpul mati pada tali itu sulit untuk terbuka. Apapun yang dilakukannya seperti sia-sia.
"Kim Kibum?" panggil Leeteuk lagi.
Kemudian dia dapat mendengar derap langkah seseorang mendekatinya. Leeteuk segera bergerak waspada. Namun yang diterimanya adalah sebuah tangan yang membuka ikatan pada matanya. Leeteuk segera mengerjapkan matanya cepat, menyesuaikan cahaya sekitar. Dan yang dia lihat dihadapannya adalah sesuatu yang membuatnya berteriak.
"ASTAGA! KIM KIBUM!"
Kim Kibum. Kibum yang terlihat lemah sekarang, diikat di kursi sama sepertinya—dan mereka—namun yang berbeda adalah kedua bolamata indahnya yang sudah tidak berada di tempatnya. Hilang. Hingga yang Leeteuk lihat sekarang adalah cairan kental berwarna merah pekat yang turun dari bekas tempat matanya.
"Hyu-hyungghh..."
"A-a-astaga. Ki-Kibum..."
Leeteuk segera mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang membuka matanya—yang kini tengah membuka satu-per-satu ikatan mata beberapa dongsaengnya. Mereka semua berontak, namun yang terjadi setelah mereka melihat pemandangan di depan adalah diam, dan mata yang berkaca-kaca.
"Kyu-Kyuhyun?"
"CHO KYUHYUN! APA YANG KAU LAKUKAN?" teriakan dari Cinderella Super Junior itu hanya mengundang tawa dari pemilik nama yang disebut.
Setelah membuka semua ikatan mata, Kyuhyun berjalan mendekati Kibum—yang posisinya berhadapan dengan kesepuluh member Super Junior lain yang masih terikat tali—dan otomatis juga mendekati sesuatu dibalik kain putih—selimut—yang disimpan di samping kiri dan kanan Kibum.
Leeteuk tak bisa menahan air matanya sekarang. "Ka-katakan jika ini semua hanya lelucon kalian..."
"Lelucon?" Kyuhyun mengangkat alisnya. Dia meraih sesuatu di dalam sebuah mangkuk yang berada diatas meja makan—di belakang tubuhnyan dan Kibum—dan segera melemparkannya kearah Leeteuk, tepat ke dadanya. "Apa mata kiri Kibum masih kau harap sebuah lelucon?"
"Arrgghh!" Leeteuk menjerit ketika bolamata berlumuran darah itu jatuh di pahanya.
Sungmin segera menutup mulutnya rapat—merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam perutnya. Semua tubuh yang terikat itu bergetar, ketakutan. Sementara Kyuhyun hanya tertawa seraya mengusap darah yang masih mengalir dari lubang mata Kibum.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Siwon pelan. Dia tak bisa menahan airmata yang meluncur mulus dari matanya—melihat seseorang yang dicintainya telah buta dan sekarang sedang berusaha bertahan hidup dengan darah yang masih mengalir dari lubang matanya.
"Brengsek! Brengsek kau Cho Kyuhyun! Lepaskan aku! Apa yang kau inginkan, huh? Kau gila!" bentak Kangin. Dia meronta-ronta dari duduknya, berharap bisa meloloskan diri.
Wajah Leeteuk sudah tak bisa dikatakan kering lagi. Dia menangis sesenggukan melihat salah satu dongsaengnya yang kini buta karena perbuatan maknae mereka. "Ka-katakan apa yang kau inginkan, Kyuhyun."
"Cepat katakan atau aku akan membunuhmu!" Heechul menimpali dari tempatnya duduk. Dan namja itu telah menangis sekarang. "Jangan sakiti siapapun!"
"Kyu-Kyuhyun... apa yang kau lakukan? Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik jika kau ada masalah." kata Donghae pelan. Dia menatap Eunhyuk—yang duduk disampinngnya—menangis sekarang. Sama seperti dirinya. "Jangan sakiti Kibum... kumohon..."
"Kyuhyun... berhenti lakukan hal gila." kata Shindong.
Kyuhyun mengangkat alisnya. "Berhenti? Bahkan aku belum memulai." Dan dalam sekali gerakan jarinya masuk ke dalam lubang mata kanan Kibum dan mengorehnya.
"Arrghhh... hyu-hyunghhh..."
"Jangan lakukan hal itu!" jerit Leeteuk. "Cepat katakan apa keinginanmu dan lepaskan Kibum!"
Kyuhyun menggeleng pelan. "Ini bukan keinginanku hyung. Ini keinginan dia. Jika hyung ingin semuanya berhenti, memohonlah pada dia. Bukan padaku. Aku hanya menjalankan perintahnya."
"Dia! Dia! Siapa yang kau maksud dengan dia?" bentak Heechul tak sabar.
Hangeng menggeleng pelan melihat Heechul. Dia mengisyaratkan Heechul untuk tak berbuat sesuatu yang mempunyai kemungkinan akan mencelakakan Kibum—yang berada di tangan Kyuhyun.
Rnnyykk
Terdengar suara menjijikan ketika Kyuhyun mengeluarkan jarinya dari lubang mata Kibum. Sungmin membulatkan matanya, dia merasakan gejolak dari dalam perutnya ingin segera dikeluarkan. Meminta untuk dimuntahkan. Namun sekuat tenaga dia tahan muntahannya.
"Kumohon jangan lakukan hal itu..." pinta Leeteuk, air matanya tak pernha berhenti mengalir. "A-aku akan berlutut jika kau mau."
Kyuhyun menggeleng pelan. Dia mengusap sesuatu yang tertutupi selimut di samping kiri dan kanan tubuh Kibum yang mulai melemah.
"Lepaskan kami hiks... Kyuhyun... kumohon..." kata Eunhyuk sesenggukan.
Kyuhyun menggeleng. Dia mengacak rambut Kibum pelan dan tertawa. "Aku punya pilihan untukmu, hyung. Kau harus memilih satu diantara tiga. Kau siap?"
Leeteuk hendak bertanya namun gerakan cepat Kyuhyun yang membuka kedua selimut yang menutupi sesuatu di samping tubuh Kibum membungkam mulutnya.
"Tadaaa~!"
Dan napas kesepuluh orang yang berada disana—kecuali Kibum dan Kyuhyun—terhenti selama beberapa saat. Terlebih untuk seseorang yang duduk diujung—dekat lemari pendingin—yang hanya bisa membulatkan matanya tak percaya.
"Ryeo... Wookie?" pertanyaan itu seperti tertahan di dadanya. Terlalu miris dan sakit melihat belahan jiwanya yang berada di samping kiri Kibum. Dengan keadaan yang benar-benar memprihatinkan. "Woo-Wookie..."
"HENTIKAN SEMUANYA CHO KYUHYUN!" bentak Heechul. Dia berusaha menahan air matanya sedangkan tubuhnya berontak, berusaha untuk lepas. "JANGAN SAKITI SIAPAPUN LAGI!"
Dan Leeteuk benar-benar tak bisa menahan airmatanya ketika dilihatnya kondisi dua orang lainnya lebih menyedihkan. Ryeowook, yang berada di samping kiri Kibum kini hanya tertunduk lemah, dengan mulut yang berlumuran darah dengan memar berwarna biru di kulit sekitar mulutnya. Sedangkan, Henry, yang berada di samping kanan Kibum—dengan tubuh yang juga terikat pada sebuah kursi, seperti Kibum, Ryeowook dan mereka—menunduk lemah, dengan darah yang menetes ke pahanya. Leeteuk tak tahu berasal dari mana darah itu, dia tak bisa melihat wajah Henry lebih jelas.
"Ja-jangan lakukan ini... kumohon hentikan..." pinta Siwon pelan.
Sungmin akhirnya memuntahkan semua makanan—yang dimakannya beberapa jam lalu—yang belum tercerna sempurna ke lantai. Rasanya begitu mual dan pusing. Dan airmata yang terus mengalir itu begitu mengganggunya.
"Hoeekkk... hooeeekkk..."
Terdengar suara lagi dari sudut lain. Tepatnya dari arah Eunhyuk yang duduk diantara Donghae dan Siwon. Dia mengeluarkan semua yang belum dicerna lambungnya dengan baik.
"Hoeekkk..."
"Euh, hyung, jangan mengotori lantai." kata Kyuhyun terkekeh. Dia memandang Leeteuk yang masih menangis. "Ah, bagaimana hyung? Kau sudah mengerti dengan apa yang kukatakan?"
Leeteuk menggeleng lemah. "Kumohon Kyuhyun... hentikan semuanya."
"Uh-ha, hyung harus memilih satu. Begini, biar kujelaskan. Hyung pilih satu orang untuk hidup, dan dua orang untuk mati. Mudah 'kan? Tapi jangan sampai hyung salah pilih, kau bisa menyesal nanti."
Leeteuk menggeleng lagi. "Jebal Kyu. Lepaskan semuanya."
"Ini saatnya kau bersikap egois hyung. Kau harus memilih satu untuk dua dikorbankan."
"Kumohon... jangan..."
"Aku akan melakukan apapun untukmu Kyuhyun. Tetapi tolong bebaskan kami semua. Kau boleh membunuhku setelah ini, tetapi lepaskan Kibumie..." pinta Siwon memelas. Dia menangis, tak bisa menahan air matanya.
Tuuuutt tuuutt
Sebuah suara menginterupsi kegiatan memohon mereka. Kyuhyun mengalihkan pandangannya kearah kompor yang menyala. Ah, akhirnya air yang dimasaknya matang pada waktu yang tepat. Kyuhyun terkekeh pelan. Dia berjalan mendekati kompor dan setelah itu mematikannya. Dengan senyuman di wajahnya, Kyuhyun meraih gagang teko—yang terbungkus karet sehingga tak membuat kulitnya terkena panas—dan membawanya mendekati tempat Kibum dan yang lainnya. Dia meletakkan teko itu di atas meja dan kemudian merenggangkan otot tangannya.
"Aku mulai bosan sekarang." Kyuhyun menguap pelan. "Bisakah hyung pilih sekarang? Aku mulai mengantuk, kurasa dia juga mulai kebosanan."
"PERSETAN DENGAN DIA YANG KAU MAKSUD! SEKARANG LEPASKAN KAMI DAN AKU AKAN SEGERA MEMBUNUHMU!" bentak Kangin tak sabar. Dia bergerak—meronta keras—dalam duduknya dan membuat kursinya terjatuh terjungkang ke belakang bersama tubuhnya. "Ukhh..." dia meringis pelan.
"Hyung, bisakah kau diam sebentar? Aku sedang berbicara dengan Leeteuk hyung." kata Kyuhyun. Dia berjalan di belakang Kibum, Ryeowook serta Henry dan kemudian mengacak rambut mereka bergantian.
"Dimana Zhoumi?" tanya Heechul kali ini.
"Hyung, jangan mengalihkan pembicaraan. Kau hanya perlu duduk tenang dan menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Leeteuk hyung. Kau tidak perlu menghawatirkan Zhoumi, dia sedang tidur di kamar." Kyuhyun berhenti di belakang Ryeowook dan mencium puncak kepalanya. "Nah, sekarang, Leeteuk hyung, siapa yang kau pilih?"
"Kyu... hentikan..."
Kyuhyun menggeleng. Dia menarik kasar rambut Ryeowook hingga namja manis itu menengadahkan kepalanya. "Hyung pilih Ryeowook hyung?" Kyuhyun meraih sesuatu di dalam mangkuk yang sama seperti sebelumnya—tempat mata kiri Kibum—dan melemparkannya kasar kearah Leeteuk, tepat ke dadanya. "Dia sudah kehilangan lidahnya."
"Aaarkkhh!" Leeteuk menjerit ketika lidah berlumuran darah kental itu jatuh ke pahanya, berbenturan pelan dengan bolamata Kibum disana. Leeteuk menggeleng dan meronta, berusaha menjauhkan kedua bagian tubuh dari dongsaengnya itu. "Hentikan! Hentikan! Hentikaaaaaaaaannn!"
Kyuhyun tersenyum. Dia melepaskan tangannya dari rambut Ryeowook secara kasar dan beralih ke belakang Kibum. Dengan gerakan yang sama, Kyuhyun menarik kasar rambut Kibum hingga membuat namja yang juga manis itu menengadah. "Atau Kim Kibumie hyung yang kini telah buta?" tanyanya seraya meraih sesuatu lagi dari dalam mangkuk tadi dengan tangannya yang bebas. Bolamata Kibum yang lainnya. Kyuhyun meremas bolamata itu dan menghasilkan bunyi menjijikan yang kembali membuat Sungmin dan Eunhyuk kembali memuntahkan isi perutnya.
Krnnykk
"Hoeeekkkk! Hoeeekkk..."
Leeteuk menutup mulutnya dengan kedua belah bibirnya agar tak memuntahkan isi perutnya.
Kyuhyun melepaskan tangannya secara kasar dari kepala Kibum dan beralih ke belakang Henry. "Atau si buta dan bisu, Henry-ah?" dan ketika Kyuhyun menarik rambut Henry secara kasar ke belakang, sepuluh orang yang duduk disana—kecuali Kangin yang terjengkang ke belakang—dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi pada Mochi kecil mereka. Kulit di sekitar mulutnya juga membiru dan berlumuran darah seperti Ryeowook sedangkan kedua matanya terpejam dan juga berlumuran darah. Terpejam karena kelopak mata dan kulit di bawah matanya telah dijahit asal dengan benang berwarna hitam. "Beruntung aku belajar merajut ketika kecil. Lihat, karyaku indah bukan?"
Kali ini Shindong yang tak dapat menahan gejolak dari dalam perutnya. Dia memuntahkan seluruh makanan dan minuman yang telah dicernanya. Mengotori lantai sama seperti dengan apa yang dilakukan oleh Sungmin dan Eunhyuk.
"BERHENTILAH CHO KYUHYUN!" bentak Heechul. Dia menangis sejadinya melihat para dongsaengnya hampir kehilangan nyawa. Hangeng yang berada di samping kanan Heechul—dan di samping kiri Yesung—hanya dapat mengeluarkan air mata. Menangis tanpa tahu harus melakukan apa.
"Hyung, kau sudah punya pilihan?" Kyuhyun mendorong kepala Henry dengan kasar. Dia berjalan mendekati meja dan meraih teko—memegang gagangnya—dan kembali berjalan di belakang tubuh Henry, Kibum dan juga Ryeowook.
"Siapa yang ingin kau selamatkan? Si buta, si bisu, atau si buta dan bisu? Eum?"
"Kyu, hyung mohon... jangan lakukan hal ini... apa y-yang membuatmu menjadi se—perti ini Kyu?"
Kyuhyun mengangkat salah satu alisnya kesal. Dia berhenti di belakang Kibum dan menarik rambutnya kembali secara kasar. Dengan gerakan cepat, Kyuhyun menyiramkan air panas itu ke dalam lubang mata Kibum sebelah kanan.
"Satu."
Ssrrr
"Aaarrgghh!"
"HENTIKAN KYU! KAU BISA MEMBUNUHNYA!" pinta Siwon keras. Kali ini Choi Siwon benar-benar menangis. Benar-benar memohon dan meminta. "Kumohon... kumohon... akan aku berikan semuanya untukmu jika kau lepaskan Kibumie. Kumohon..."
Kibum mendorong kepala Kibum kasar dan segera menarik rambut Ryeowook di sampingnya. "Siwonie hyung saja bisa egois, mengapa kau tak bisa hyung?" tanya Kyuhyun pelan. Dia kembali memiringkan teko panasnya dan kali ini menyiramnya ke wajah Ryeowook.
Ssrrr
"JANGAN!" jerit Leeteuk.
"Hrrhhh! Hhhh!"
Sekarang air mata di wajahnya sudah membasahi seluruh inchi kulit putih itu. Terlalu basah. Terlalu banyak. Terlalu sakit.
"Kumohon Kyuhyun jangan lakukan itu! Jangan lakukan hal itu! Kau gila! KAU GILA!" teriak Yesung. Dia meronta dalam posisi duduknya dan mencoba untuk lepas. Sedangkan Hangeng yang duduk di sampingnya sedang berusaha untuk membuka ikatan tali di tangannya—dengan cara menggesekannya ke kayu jati di kursi rangka yang didudukinya. Dia berharap bisa melepaskan ikatannya dan segera menyelamatkan para dongsaengnya.
"Hentikan Kyuhyun! Kami mohon!" pinta Donghae. Sedangkan Eunhyuk hanya tertunduk lemas di sampingnya. Dia tak bisa melihat pemandangan menyedihkan di hadapannya lebih lama lagi.
Kyuhyun menggeleng. Dia berjalan di belakang Henry dan menarik rambutnya kasar. "Hyung, kau sudah punya pilihan atau belum?"
"Kumohon Kyu... kumohon jangan lakukan hal itu..." pinta Leeteuk.
Kyuhyun menyeringai tipis. "Tiga." Dia segera menyiramkan air panas yang masih tersisa banyak di teko itu di wajah Henry. Henry tak dapat berteriak. Dia hanya menggerang kesakitan. Rasa sakit yang lebih banyak ditanggung oleh namja kecil mereka.
"Hrrrhhh! Hhhhhhhrrr!"
Geraman itu seperti permintaan tolong. Meminta untuk permainan ini segera diakhiri. Biarkan dia yang mati, dia tak suka menahan sakit terlalu lama.
"H-Henry-ah..." ucap Eunhyuk pelan. Dia menaikkan sedikit wajahnya dan melihat wajah Henry yang mulai mengerut terkena panas.
Kyuhyun berjalan lagi kearah Ryeowook. Dia menarik rambut Ryeowook lagi secara kasar dan menengadahkannya. "Masih belum punya jawaban hyung?" tanya Kyuhyun kepada Leeteuk.
Leeteuk menggigit bibir bawahnya diantara tangis yang tak bisa ia tahan. Dia sudah merasa sakit di lehernya karena menahan sesenggukan. Dia harus kuat, dan harus segera memilih.
"Kau harus mengehntikkan ini Kyu—"
"Empat." Ucapan dan gerakan Kyuhyun menginterupsi ucapan Leeteuk. Kyuhyun segera menyiramkan lagi air panas itu ke wajah Kibum, dan membuatnya mengerang kepanasan.
"—hyun—JANGAN LAKUKAN HAL ITU! Baik, baik, aku akan memilih!"
"Aarrghhh..." bahkan teriakan kesakitan itu terlalu lemah dan menyakitkan untuk di dengar.
Hangeng masih berusaha untuk melepaskan ikatannya. Sementara Yesung dan Siwon memandang cemas kearah Leeteuk, mereka tidak mau belahan jiwa mereka yang dikorbankan. Biarlah mereka dikatakan egois sekarang. Egois memang menjadi salah satu sifat manusia bukan?
"Hyung... hyung... kumohon selamatkan Wookie. Kumohon hyung..." pinta Yesung pelan yang langsung mendapatkan death glare dari Siwon yang duduk di sisi paling ujung—sama seperti Yesung.
"Ja-jangan hyung! Kumohon semalatkan Kibumie! Dia begitu berharga hyung! Dia sangat berharga!" balas Siwon dengan gelengan kepalanya yang menuntut.
Yesung berontak. "Jangan hyung! Kumohon! Ryeowookie harus hidup hyung! Aku mohon! Aku mohon!"
"Hyung! Kibumie kau lebih berharga hyung! Kumohon!"
Perdepatan dari dua pihak itu membuat air mata Leeteuk semakin meluncur jatuh, sangat banyak. Bagaimana bisa para dongsaengnya benar-benar begitu egois dalam menentukan hal ini. Mereka hanya memilih orang yang mereka cinta, padahal semuanya adalah keluarga. Tetapi mengapa seperti ini?
"Tidak! Ryeowook jauh lebih berharga!"
"Kibum harus diselamatkan hyung! Kibum yang harus hidup! Kumohon!"
"Ryeowook lebih—"
"Bunuh Henry." Dan suara dingin dari seseorang itu membuat mereka semua mengarahkan pandangannya ke sumber suara—kecuali untuk Kibum, Henry dan Ryeowook. "Jika harus ada yang dibunuh, bunuh Henry."
"Hee-Heechulie, w-wae?" tanya Hangeng pelan.
Heechul menoleh kearah Hangeng di samping kanannya dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Dia menggelengkan kepalanya perlahan. "Jangan biarkan Mochi itu tersiksa begitu lama, Han. Lebih baik dia mati daripada harus menahan semuanya." Dan kemudian pandangan Heechul jatuh pada Leeteuk yang berada di samping kirinya. "Pilih dia, biarkan Henry mati jika itu yang diinginkan oleh Kyuhyun."
"Brengsek kau Cho Kyuhyun! Bahkan kami belum mengetahui apa motifmu membunuh seperti ini!" teriak Kangin dari posisi jatuhnya. Dia tak bisa bangun kembali, hanya dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan.
"Bagaimana Leeteuk hyung? Kau akan memilih Henry-ah juga?" tanya Kyuhyun manis. Dia berjalan ke belakang tubuh Henry dan menarik rambutnya kasar. "Atau kau ingin melihatnya merasakan air panas lagi?"
Leeteuk menggeleng pelan. Dia melihat Heechul meminta persetujuan, dan Heechul hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Kemudian pandangan Leeteuk kembali kearah Kyuhyun. Dia menahan sesenggukannya sebentar.
"Henry-ah, bisa kau dengar kami?" tanyanya lembut.
Henry mengangguk sejauh yang dia bisa.
"Maafkan hyungdeul. Maaf, kami tak ingin melihatmu tersiksa terlalu lama. Hyung mencintaimu, kami semua mencintaimu. Maka dari itu kami tak ingin melihatmu seperti ini, Henry-ah. Bo-bolehkan, hyung mengakhiri hidupmu... hiks... se-sekarang?"
Dan dapat dilihat sebuah angguka lemah dari namja yang merupakan maknae jika dihitung dengan Super Junior M. Leeteuk tersenyum miris. Dia melihat Kyuhyun yang menyeringai kearahnya.
"Kau sudah menentukannya hyung?" tanya Kyuhyun.
Leeteuk mengangguk lemah.
Kyuhyun meletakkan teko di tangannya ke atas meja makan dan segera meraih pisau dapur—di meja dapur belakang dekat kompor. Dia kembali mendekati Henry dan mulai menggoda kesepuluh orang yang tengah menahan napas itu dengan cara menggoreskan pisau itu secara lembut di pipi Henry.
"Jangan sakiti dia terlalu lama... hyung mohon..." pinta Leeteuk.
Kyuhyun mengangkat bahunya. Dia meraih dagu Henry dan mengcengkramnya kasar. Dengan satu kali gerakan, Kyuhyun menusukkan pisau itu masuk ke dalam mulut Henry.
Crakk
Dan mengeluarkannya kemudian menusukkannya lagi,
Crakk.
"Hoeeekkk..." terdengar suara muntahan lagi dari arah Sungmin.
Kyuhyun tertawa. Beberapa orang yang melihat adegan itu menutup matanya, kecuali untuk Hangeng, dia tetap fokus pada pekerjaannya untuk berusaha melepas ikatannya. Sebelum semuanya terlambat.
"Sekali lagi." Kekehan lembut Kyuhyun terdengar ketika dia menusukkan pisau itu lagi, namun kali ini berhasil menusuk tengkuk lehernya. Dan gerakan yang terakhir itu berhasil membuat Henry kehilangan nyawanya. Dia terlalu sering mengeluarkan darahnya.
"Hoeeekkk..." suara muntahan lagi.
"Ah, ayolah Sungmin hyung, berhenti memuntahkan isi perutmu di lantai."
Kyuhyun membiarkan pisau itu menancap di mulut Henry, membuat sobekan secara vertical. Kyuhyun kembali meraih teko panasnya dan berjalan di sekitar Kibum dan Ryeowook.
"Sesuai perjanjian, harus dua nyawa yang dikorbankan. Siapa satu lagi hyung?"
Leeteuk mengarahkan pandangannya kepada Heechul, dia menggelengkan kepalanya, tidak tahu akan jawabannya. "Aku tak mau ada yang mati lagi, Heechulie."
"Hyung, kumohon jangan bunuh Kibumie..." pinta Siwon terisak.
"Ja-jangan bunuh Ryeowook. Dia harus hidup."
"Oh ayolah, jika kalian sibuk berdebat hal yang tak penting seperti itu, kalian akan membunuh keduanya." Kyuhyun memutar kedua bolamatanya melihat darah yang tak berhenti keluar dari kedua belah pihak. "Kalian cengeng seperti anak TK."
"Please hyung... biarkan Kibum hidup."
"Bun-bunuhhh... a-akuhh..."
Suara lemah itu menginterupsi perdebatan mereka. Semua pasang mata terarah kepada Kibum—kecual Kangin. Mereka memandang si Snow White yang kini menampilkan segaris senyuman itu dengan miris. "La-lagipulahh... a-aku memang... t-tak bergun..na bukan? Bu-bunuh a-aku... i-inih sak..kit..."
Siwon menggeleng pelan mendnegar jawaban itu. Dia bergerak dalam posisinya. "Kumohon... Kibumie, kau harus bertahan untukku."
Dan yang Siwon lihat hanya sebuah gelengan lemah dan sebuah senyuman tipis.
Leeteuk berusaha menahan air matanya. Dia kembali menatap Heechul, meminta jawaban. Dan Leeteuk dapat melihat Heechul mengangguk menyetujui.
"Jadi, bagaimana hyung?" tanya Kyuhyun.
Leeteuk mengembalikan pandangannya kepada Kyuhyun. Dia menahan senggukannya kembali dengan lemah. "Kim Kibum."
"Kibumie hyung?" tanya Kyuhyun. Dia melepaskan pisau di mulut Henry dan membuat darah semakin banyak mengalir membasahi tubuh tak bernyawa itu. Kyuhyun berdiri tepat di belakang Kibum dan mendekatkan ujung pisau ke leher Kibum. "Ada lagi yang ingin kalian ucapkan?" tanya Kyuhyun kemudian.
Leeteuk mengangguk pelan. "Kibumie, kau mendengar hyung 'kan?" dan dapat Leeteuk lihat bahwa Kibum mengangguk lemah. "Maafkan hyung. Maafkan kami semua. Maafkan Kyuhyun yang telah membuatmu menjadi seperti ini. Kau tak salah memilih. Kau benar menginginkan kematian, hal itu tak akan menyakitimu lebih lama. Kami mencintaimu Kibumie... huks... ingat, kami mencintaimu, begitupula dengan Kyuhyun... kami huks... semua mencintaimu."
Kyuhyun memutar kedua bolamatanya lagi. Pisau itu mendekati pipi mulus Kibum dan mengulitinya secara perlahan.
"Cepat bunuh dia!" teriak Yesung.
Siwon menggeleng lemah. "Kibumie... Kibumie... aku mencintaimu... Kibumie..."
Kibum hanya tersenyum lemah, memberi isyarat kepada Siwon bahwa dia baik-baik saja. "Na-nadohh..."
Kyuhyun mengiris sedikir kuli pipi Kibum dan melemparnya asal—mengenai Siwon. Siwon berontak. Dia menggeleng pelan dalam tangisnya.
"Bunuh Kibum! Jangan menyiksanya sepertin itu!" perintah Heechul.
Kyuhyun mengangkat bahu pelan. Dia mendekatkan sisi tajam pisau kearah pipi Kibum yang lain dan mengirisnya pelan.
"A-arrkhh..."
Rintihan lemah itu membuat hati Siwon semakin mencelos sakit. Dia menggeleng, tak mau menerima kenyataan. "Tuhan menunggumu di Surga, Kibumie..." katanya berusaha menghibur semua yang mendengar termasuk dirinya sendiri.
Kyuhyun membuat gerakan melingkar—asal—di pipi yang seharusnya berwarna putih bersih itu dan merobeknya. Membuat otot pipinya—wajahnya—terlihat sekarang.
"Bunuh dia, Kyuhyunie... hyung mohon..." pinta Leeteuk.
Kyuhyun akhirnya mengangguk senang. Dia mendekatkan sisi tajam itu ke leher Kibum dan menusukknya tepat di adam apple-nya.
Crkkk
Dan tusukkan itu mengambil nyawa Kibum sekarang.
Crkkk
"Nah, kalian hanya perlu menjawab pertanyaan mudah bukan?"
Semuanya hanya diam. Terlarut dalam kesedihan mereka, dalam air mata. Kyuhyun mengusap pipinya yang ternoda oleh darah—entah milik siapa—dan tersenyum mendekati Ryeowook.
"Ry-Ryeowook?" panggil Yesung pelan.
Namun yang dipanggil hanya diam dengan wajah yang tertunduk. Leeteuk segera mengarahkan pandangannya kearah Ryeowook, dan air matanya tak kunjung berhenti sekarang.
"Wookie? Woo-Wookie... kau amsih bersama ka-kami?" tanya Yesung pelan.
Namun yang diajak bicara tak memberikan gerakan kehidupan sama sekali. Bahkan dada itu sekarang sudah tak mengembang dan mengempis.
"Ryeowook? Ryeowook?" panggil Yesung khawatir.
Kyuhyun hanya terkekeh pelan dan berjalan kearah meja dapur dimana peralatan memasak disimpan. Dia memilih beberapa parutan keju berbagai ukuran. "Kalian terlalu lama mengulur waktu sih, lihat, Wookie hyung jadi ikut mati deh." kata Kyuhyun tertawa. Dia memilih parutan keju yang paling besar dan membawanya mendekati meja makan—yang berhadapan dengan kesepuluh orang yang masih hidup itu.
"Setan apa yang merasukimu? Huh?" tanya Yesung, air matanya mengalir lagi mengetahui Ryeowookie-nya telah menyusul kepergian beberapa dongsaengnya.
"Hanya dia. Dia masuk ke dalam tubuhku dan membantuku." Kyuhyun memberikan jeda. "Dia bilang akan membawaku pada Changmin jika aku memberinya empatbelas nyawa kalian." Dan seketika itu juga mata Kyuhyun berubah menjadi merah. Hanya sekitar satu detik ketika nada suaranya juga tiba-tiba berubah.
"Persetan dengan dia! Lepaskan kami sekarang juga!" bentak Kangin—dengan posisinya yang masih sama seperi tadi, terjungkang ke belakang dengan kursinya sehingga kepalanya berada di bawah.
Kyuhyun terkekeh pelan. Dia berjalan mendekati Siwon di sudut sebelah kiri dan mulai mengelus kepalanya. "Kenapa Siwonie hyung begitu kehilangan Kibumie? Bukankah hyung menyukaiku? Eum?" tanya Kyuhyun lembut. Dia menempelkan parutan keju itu di pipi Siwon. Siwon menelan ludahnya dengan susah payah, dan keringat mulai turun membasahi wajahnya. "Tak usah setegang itu hyung."
Hangeng menggerakkan tangannya lebih cepat, ikatannya hampir putus. Heechul yang merasaka gerakan aneh dari Hangeng, menoleh kearahnya.
"Apa yang kau lakukan?" bisik Heechul.
Hangeng hanya mengisyaratkan Heechul untuk diam. Dia masih berusaha sekuat tenaga.
"A-apa yang kau inginkan?" tanya Siwon pelan.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya tanda tak suka, namun senyum yang memuakkan itu masih terhias di wajahnya. "Hyung tidak mengerti juga? Aku harus membunuh kalian semua. Kalian mau, bukan?"
"K-kau berjanji hanya akan membunuh... dua dari mereka."
Kyuhyun memukul kepala Siwon kesal. "Itu bukan salahku. Kalian yang terlalu mengulur waktu dan membuat Ryeowook hyung kehabisan darah dan akhirnya mati. Mengapa kau bodoh sekali, huh?"
Siwon meringis pelan ketika Kyuhyun menarik rambutnya ke belakang dan membuatnya menengadah. Kyuhyun segera mendekatkan parutan keju itu di leher Siwon dan menggeseknya pelan.
"Erkkh..."
"Sshh, jangan berbicara jika tak ingin pisau-pisau kecil yang tajam ini melukai lehermu terlalu dalam." kata Kyuhyun.
Heechul memandang Hangeng tergesa, dia membutuhkan suatu tidakan. "Sudah lepas?" bisiknya tak sabar.
"Se-sedikit lagi." jawab Hangeng. Dia menggesekkan tali itu dan secara tak sengaja membuat kulit tangannya sedikit terluka. Tapi itu bukan sebuah masalah besar. Yang harus dipermasalahkan adalah keselamatan teman-temannya.
"Kyu, jangan sakiti siapapun lagi... bu-bunuh saja hyung... jangan sakiti siapapun. Hyung mohon..." pinta Leeteuk terisak.
Kangin yang masih dalam posisi jatuhnya menendang angin kesal. "Jangan mengucapkan hal itu! Kau tak perlu mengorbankan dirimu! Tak ada yang harus mati lagi sekarang!" Kangin mengerang marah. "Lepaskan kami Cho Kyuhyun!"
Kyuhyun semakin menggesekkan pisau pada parutan keju itu di leher Siwon. Dengan tawanya yang memuakkan. Membuat kulit Siwon terkelupas seperti keju yang diparut kasar.
Krrkk
Krrkk
Krrkk
"Arrkhh... hen-hentikan..." rintih Siwon lemah.
Namun yang diajak bicara hanya sibuk memarut kulit leher Siwon.
Krrkk
Krrkk
"Aarkkh...sak—sakit..."
"Sshh, kau menyakiti dirimu sendiri." kata Kyuhun pelan. Dan kembali dalam kegiatan menyerut kulitnya.
Krrkk
Krrkk
"Hentikan Kyuhyun! Hentikan!" jerit Sungmin dan menggelengkan kepalanya. "Jangan sakiti siapapun." Pintanya.
Tetapi, seperti biasa, permohonan mereka hanya angin di telinga Kyuhyun. Dia tak mempedulikan siapapun. Dia hanya perlu membawa nyawa-nyawa itu lepas dari raganya.
Krrkk
Krrkk
"Aahhh... aarrkkkh..."
Srrt
Heechul mengembalikan pandangannya kearah Hangeng. Hangeng tersenyum tipis, dia berhasil membuka ikatan talinya. Tangannya berdarah—hasil bergesekkan dengan kayu secara kasar. Heechul mengangguk melihat tatapan Hangeng yang seolah bertanya apa dia harus bertindak atau tidak. "Hati-hati." bisik Heechul pelan.
Hangeng mengangguk ragu dan mencuri kesempatan untuk berdiri.
Krrkk
"Hentikan Kyu! Jangan sakiti Siwon! Hyung mohon... huks... hyung benar-benar memohon..."
Kyuhyun hanya tertawa dengan gerakannya memarut kulit leher Siwon. Hasil potongan tipis kulit leher yang kini berserakan di paha Siwon. Yang mengalirkan darah kental pekat.
Krrkk
Hangeng segera berlari kearah Kyuhyun dan mendorong tubuhnya terhadap dinding, membuat parutan keju itu menggesek kasar leher Siwon karena gerakan tiba-tiba itu. Memotong salah satu saraf di lehernya, dan darah segera mengalir keluar.
"Hangeng!"
Hangeng menahan tubuh Kyuhyun dengan tubuh dan dinding di belakang tubuhnya. Kyuhyun menggertakan giginya. Dengan satu gerakan, Kyuhyun menendang Hangeng tepat di alat vitalnya.
"Aarrrggghhh!"
Dan kesempatan itu Kyuhyun gunakan untuk mendorong tubuh Hangeng dan berlari mendekati Kangin yang terjungkang di lantai. Dia meletakkan kakinya diatas kepala Kangin.
"Aarrgghhh!" Hangeng mengerang kesakitan, dia besusaha untuk bangkit dari duduknya.
"Hyung, jangan lakukan hal yang nekat..." kata Eunhyuk pelan.
"Jika hyung mendekat, Kangin hyung tak akan selamat." ancam Kyuhyun.
Hangeng berusaha berdiri dengan gerakan pelan. Heechul dan Leeteuk memandang Hangeng khawatir. Sedangkan Donghae berusaha untuk menolong Siwon, namun dia tak bisa melakukan apapun.
"Siwon... kau masih bisa mendengarku? Siwon?" tanya Donghae. Dia hanya bisa memanggil nama itu melihat Siwon yang mulai terkejang. Satu atau mungkin beberapa saraf penting di leher Siwon sepertinya terpotong, dan itu membuatnya kesulitan bernapas ketika darah semakin banyak mengalir. "Kumohon Siwon... bertahanlah."
Eunhyuk yang duduk di samping Donghae ikut khawatir. Namun lagi-lagi mereka tak bisa melakukan apapun selain berbicara. "Siwon, bertahanlah."
Hangeng memajukan satu langkahnya dan hal itu membuat Kyuhyun segera menginjak kepala Kangin dan emmbuatnya membentur lantai dengan sangat kasar.
Bugg!
"Enghh..."
"Kangin-ah!" teriak Leeteuk.
"Jika hyung maju satu langkah, aku akan membunuh Kangin hyung."
Hangeng masih memegangi sesuatu diantara selangkangannya yang berdenyut sakit. Heechul memerintahkan Hangeng untuk diam, namun lelaki berkebangsawaan China itu malah melangkahkan lagi kakinya.
Bugg!
"Sudah kukatakan! Diam di tempat jika tak ingin Kangin hyung mati!" jerit Kyuhyun.
Kangin mulai merasakan pening di kepalanya. Pandagannya muali berkunang-kunang.
"Jangan mendekat!"
Bugg!
Dan satu injakan lagi di kepala.
"KYUHYUN HENTIKAN!" jerit Leeteuk. Dia menangis terisak dan tak bisa melakukan apapun. "BUNUH SAJA AKU! BUNUH AKU DAN LEPASKAN SEMUANYA!"
Bugg!
Kyuhyun menginjak lagi kepala Kangin dan kali ini lebih keras dari pada sebelumnya.
"Ukkh..."
"Siwon? Kau masih bisa mendengarku? Siwon? Choi Siwon!" panggil Donghae, namun yang di panggil tak menyahut. Hanya tertunduk lemah dengan darah yang masih mengalir dari lehernya. "Siwon!"
"Kyuhyun, hentikan semuanya." pinta Shindong. Lelaki itu mulai terisak dalam tangisnya.
Hangeng mencoba untuk berdiri, namun yang dia lakukan hanya membuat Kyuhyun semakin marah dan menendang kepala Kangin sekarang.
Bugg!
"BERHENTI!" jerit Leeteuk lagi.
Kyuhyun menggeleng marah. Dia menendang kepala Kangin lagi, lagi dan sekali lagi.
Bugg!
Bugg!
Bugg!
"Kalian membuatku marah!"
Bugg!
"Akkhh..."
"Hentikan! Hentikan! Hentikan!"
"Hyukie, Siwon pergi." kata Donghae pelan.
Eunhyuk menggeleng tak percaya. Namun yang dia lihat memang kenyataan. Siwon kini tertunduk dengan wajahnya yang mulai membiru—kehilangan banyak darah. Dan dadanya sudah tak terlihat mengembang maupun mengempis sekarang.
Bugg!
Dan itu injakan terkahir yang Kangin terima sebelum nyawanya melayang.
"KANGIN-AH!" Leeteuk menjerit dan meraung keras. Dia menangis melihat namja yang dia cintai kini telah mati dengan kepala yang sedikit remuk dan bocor. Leeteuk menggeleng tak percaya. Dia tak mau menerima kenyataan.
"Diam di tempat!" teriak Kyuhyun melihat Hangeng yang kini sudah berdiri sempurna. Kyuhyun segera meraih Sungmin dan menekan leher namja itu dengan lengannya. "Jika kau bergerak lagi, Sungmin hyung yang akan mati!" ancamnya.
"Hangeng, berhenti bergerak!" perintah Heechul. Dia memandang miris kearah mayat Kangin dan kemudian kearah Leeteuk yang terisak. "Kita sudah kehilangan dua nyawa lagi, jangan membuat angkanya bertambah."
Hangeng mengangguk pelan menyetujui.
"Me-mengapa kau la-lakukan ini Kyu?" tanya Sungmin terbata.
Kyuhyun mengeratkan lengannya di leher Sungmin. "Diam, atau kuputuskan lehermu."
"Okay, okay Kyu. Sekarang katakan apa yang kau inginkan?" tanya Hangeng.
Kyuhyun menggeleng. Dia menarik Sungmin beserta kursinya mendekati meja dapur panjang. "Jangan mendekat jika ingin Sungmin hyung hidup." Dan menyeretnya—lehernya—dengan kasar mendekati pisau-pisau panjang lainnya.
"A-aku tak akan mendekat, tetapi aku mohon... lepaskan Sungmin... jangan sakiti siapapun lagi Kyu..." kata Hangeng berusaha lembut.
Kyuhyun menggeleng. Dia meraih salah satu pisau panjang itu dan mengganti lengannya yang menahan leher Sungmin menggunakan pisau. "Mendekat satu langkah, leher ini akan putus."
Hangeng menelan ludahnya kasar. Dia mencoba untuk tenang dan tidak bertindak gegabah.
"Se-sekarang katakan, apa yang bisa kami lakukan agar kau melepaskan Sungmin."
"Kembalikan Changmin." jawab Kyuhyun pelan. Semuanya terdiam. Kyuhyun menaikkan salah satu alisnya menantang. "Tak bisa melakukannya bukan? Hm?"
Eunhyuk menggeleng pelan. "Dia sudah meninggal Kyu. Kumohon, jangan lakukan hal gila seperti ini." katanya pelan. Dia memandang Sungmin yang menelan ludahnya dengan susah payah. Berusaha untuk tenang ketika keringatnya semakin banyak membasahi wajahnya.
Hangeng mencuri gerakan untuk memajukan langkahnya, namun sayang, hal itu dilihat oleh Kyuhyun.
"Jangan melangkah dari tempatmu!" bentak Kyuhyun dan dengan sekali gerakan dia menyayat leher Sungmin dengan pisau di tangannya.
Crakk!
Dan leher itu putus dari tempat asalnya dan jatuh menggelinding di lantai.
"AARRGGHH!"
Entah teriakan siapa yang paling mendominasi, yang pasti semua yang masih hidup disana—kecuali Kyuhyun—menjerit ketakutan ketika mereka kehilangan Sungmin. Ketika namja termuda di Super Junior itu—selain Henry—telah membunuh roomate-nya. Membunuh salah satu diantara keluarga mereka lagi.
Kyuhyun terkekeh pelan. Dia meraih potongan kepala Sungmin dan melemparkannya kearah Hangeng yang seketika itu juga membuat tubuh Hangeng terjungkang ke belakang karena kaget.
"Aaarrgghh! Arrggh!" dia berteriak dan melemparkan potongan kepala itu ke sembarang arah, berguling kearah kaki Eunhyuk.
Eunhyuk segera menjerit. Dia memejamkan matanya dan menangis lagi.
"Arrggh! Donghae-ah! Ja-jauhkan! Jauhkan kepala itu!"
Suasana panik itu Kyuhyun pergunakan untuk berlari kearah Hangeng dengan pisau berlumuran darah di tangannya. Kyuhyun segera menebaskan pisau di tangannya sembarang arah.
"Hangeng awas!" teriak Heechul.
Hangeng yang menyadari Kyuhyun mulai mendekat dengan dirinya segera menggulingkan tubuhnya, dan alhasil pisau yang ditebaskan secara acak itu berhasil mengenai leher Shindong yang seketika itu juga membuatnya putus. Terlepas dari lehernya, sama seperti apa yang telah terjadi kepada Sungmin. Eunhyuk menjerit lagi, dan hal itu menarik perhatian Kyuhyun.
Kyuhyun menyeringai. Dia meraih kursi Eunhyuk dan menyeretnya menjauh dari Hangeng.
"Kau mendekat, Hyukie hyung yang akan pergi selanjutnya." kata Kyuhyun pelan.
Hangeng berdiri dari posisi bergulingnya di lantai.
Tubuh Donghae menegang ketakutan. Dia menggelengkan kepalanya dan menangis. "Jangan lakukan apapun kepada Hyukie. Aku mohon Kyu... jangan sakiti dia..."
"Hentikan semua ini Kyuhyunie! Hyung mohon... hyung sangat memohon kepadamu... hyung mohon..." pinta Leeteuk terisak.
Kyuhyun menggeleng lagi. Dia merobek paksa kaos yang dikenakan Eunhyuk dan melemparnya ke sembarang arah. "Satu gerakan, satu sayatan di tubuh indah ini."
"Hangeng hyung! Kumohon! Jangan bergerak! Jangan melakukan apapun! Dia bisa membunuh Hyukie! Kumohon diam di tempat!" pinta Donghae terisak.
Hangeng mengangguk pelan. Dia tahu, dia yang menjadi harapan kelima temannya untuk menyelamatkan mereka. Dan dia tak boleh melakukan kesalahan lagi. Dia tak boleh bergerak tergesa, hal itu akan membuatnya kehilangan satu nyawa lagi.
Heechul memandang Yesung yang sejak tadi hanya diam—yang berjarak satu kursi darinya. Yesung memberikan isyarat kepada Heechul untuk diam, dia sedang mencoba untuk melepaskan tali yang mengikatnya.
"Se-sekarang, apa yang harus kami lakukan?" tanya Hangeng memberanikan diri.
"Diam dan nikmati saja." jawab Kyuhyun dan kemudian tersenyum.
Kyuhyun mendekatkan ujung pisau yang berlumuran cairan merah pekat itu ke bibir Eunhyuk yang bergetar ketakutan. Kyuhyun tertawa pelan merasakan tubuh itu menegang. "Jangan takut Hyukie hyung." kata Kyuhyun berbisik. "Selama mereka diam, nyawamu mungkin akan selamat."
Donghae menggeleng pelan. Dia tak bisa hanya diam melihat kekasihnya tengah bergetar ketakutan dan menghadapi semuanya sendiri. Donghae meronta dengan gerakannya yang terbatas. "Ja-jangan lakukan apapun pada Hyukie. Kumohon..."
Kyuhyun tertawa lagi. Dia mencengkram rahang Eunhyuk dan mendekatkan sisi tajam pisau di bibirnya. Membuat beberapa bercak darah menempel di kulit putihnya yang penuh dengan air mata dan keringat. Kyuhyun meraih bibir merah yang memucat itu dan mengirisnya tipis.
"Ukkhh..."
"Jangan lakukan apapun pada Hyukie!" jerit Donghae.
Namun sepertinya dia menyesal karena telah berteriak. Kyuhyun membuat seringai lagi di wajahnya ketika dia mengiris lapisan bibir atas Eunhyuk dengan pisaunya. Hal itu mau tak mau membuat mereka semua berteriak lagi.
Srett
"AARGGHH!"
"JAUHKAN PISAU ITU DARINYA!" bentak Donghae.
Kyuhyun membuang lapisan bibir itu ke lantai dan kemudian menginjaknya dengan kaki telanjang. Ada sebuah bunyi menjijikan ketika lapisan bibir itu remuk dan hancur.
Krrnnykk
"Sudah kukatakan untuk diam." Kyuhyun menjilat darah yang keluar dari mulut tanpa bibir atas itu lagi. Eunhyuk menangis dan meringis, namun cengkraman di rahangnya terlalu keras. Dua tak bisa melakukan apapun selain meronta ketika Kyuhyun meraih bibir bawahnya.
Srett
Dan akhirnya lapisan bibir bawah itu terlepas dari mulutnya. Kyuhyun melemparkan lapisan bibir bawah itu kearah Donghae dan membuatnya berteriak keras.
"EUNHYUKIE!"
Dan yang bisa Eunhyuk lakukan hanya menangis lagi dan berteriak tertahan. Hangeng berniat untuk maju dari posisinya, namun tatapan Heechul menahannya.
"Jangan lakukan hal itu! Bunuh saja aku! Bunuh aku!" bentak Donghae. Dia menangis melihat darah yang mengalir dengan sangat banyak. "BUNUH AKU CHO KYUHYUN!"
Kyuhyun menggeleng. Dia memasukan salah satu tangannya ke dalam mulut Eunhyuk dan meraih lidahnya dengan cepat. Donghae menjerit ketakutan. Leeteuk menatap Hangeng dengan pandangan memohon.
"La-lakukan sesuatu Han..."
Dan hangeng hanya bisa menggeleng. Dia tak tahu harus melakukan apa sekarang.
Heechul menatap Yesung meminta, dan Yesung menganggukan kepalanya. Dia menggesekkan tali di tangannya ke kayu itu, dan tangannya tak luput dari darah yang dia hasilkan sendiri. "Sebentar lagi, hyung." bisik Yesung pelan.
Kyuhyun mendekatkan ujung pisau itu ke lidah Eunhyuk. Tubuh Donghae semakin menegang. "Jangan... jangan lakukan hal itu... kumohon... janga—"
Srett!
Dan lidah merah itu terputus sudah ketika Kyuhyun memotongnya dengan gerakan kasar. Eunhyuk segera memuntahkan banyak darah dari dalam mulutnya. Dan terbatuk dengan tersiksa.
Donghae membulatkan matanya. "EUNHYUKIE! BRENGSEK KAU CHO KYUHYUN!"
Kyuhyun dengan tenang melemparkan potongan lidah itu kearah Donghae. Dan Donghae segera terjungkang dari duduknya ketika potongan lidah itu terlempat mengenai wajahnya.
"AARGGHH!"
Kyuhyun tertawa pelan. Dia menggoreskan ujung pisau itu di dada Eunhyuk yang sudah tak terbalut apapun. Dia memandang Hangeng dengan tatapan menantang.
"Masih ingin melakukan sesuatu yang dapat membunuhnya?" tanya Kyuhyun tenang.
Hangeng menggeleng. Dia tak tahu harus melakukan apa sekarang. Dia hanya bisa menatap miris keadaan Eunhyuk sekarang.
"JANGAN BERANI KAU SENTUH EUNHYUK LAGI, BAJINGAN!" jerit Donghae, dia meronta dari posisi jatuhnya berharap bisa melepaskan diri.
Kyuhyun menggeleng pelan. Dia mendekatkan sisi tajam pisau kearah nipple kiri Eunhyuk yang menegang—karena rasa takutnya.
"Hyung bergerak atau berbicara, aku akan melakukan sesuatu lagi." katanya.
Leeteuk menggeleng pelan dan menangis. Heechul mengalihkan pandangannya terhadap Yesung yang masih berusaha melepaskan ikatan tangannya.
"Hrrkkhhh..."
Suara rintihan Eunhyuk yang tak terdengar jelas membuat Kyuhyun semakin merekahkan senyumannya. Dia mengiris pelan nipple kiri itu dan membuat darah merembes keluar dari sana.
"Rkkhhh..."
"Jangan lakukan itu..." pinta Leeteuk lemah.
Dan dengan sekali gerakan, Kyuhyun memotong nipple itu dan membuat darah memuncrat keluar. Membasahi dada Eunhyuk.
"APA LAGI YANG KAU LAKUKAN BRENGSEK! LEPASKAN EUNHYUKIE!" jerti Donghae.
Kyuhyun tertawa puas. Dia meraih satu nipple lagi dan memotognya secara kasar. "Rrkkhhh..."
"Hahahahaha, menyenangkan sekali." tawa Kyuhyun.
Dia melemparkan potongan nipple kecil itu ke sembarang arah. Dan dengan sekali gerakan yang tak bisa diduga, Kyuhyun menacapkan pisau itu tepat di puncak kepala Eunhyuk. Dan lagi, satu nyawa menghilang disana.
"Ya Tuhan..."
"APA? APA LAGI YANG BAJINGAN ITU LAKUKAN? APA YANG TERJADI PADA EUNHYUKIE?"
Hangeng sudah tak tahan dengan posisi diamnya yang seperti pecundang itu. Dia segera berlari kearah Kyuhyun yang tak siap menerima serangannya. Hangeng segera mendorong tubuh itu terhadap lantai dan menahannya.
"Berhenti sekarang juga!" bentak Hangeng.
Kyuhyun segera mencekik leher Hangeng yang berada di atas tubuhnya. Dan dia mendorong leher itu keatas agar Hangeng tak bisa membalas mencekiknya.
"Aakkkhh... kkhhhhh..."
Kyuhyun mengeratkan cekikan di leher Hangeng. Hangeng berusaha menggapai-gapai Kyuhyun, namun ia kesulitan. Dia menggunakan satu tangannya untuk mencoba melepaskan cekikan itu.
"Khhh... hhkkkk..."
"Yesung, cepat lakukan sesuatu! Cepat!" bisik Heechul tergesa. Yesung mengangguk mengerti. Sebentar lagi, sebentar lagi ikatan talinya lepas.
"Khhhkkk... khhhkkk..."
Entah hanya halusinasi Hangeng atau bukan, yang pasti kedua bolamata Kyuhyun berubah menjadi warna merah pekat. Dan tenaga yang disalurkan menjadi lebih kuat, mencekiknya lebih kuat. Hangeng hampir kehilangan napasnya.
"Khhhhkkk..."
Dia merintih pelan. Dengan gerakan kasar, Kyuhyun memutar leher itu ke samping hingga terdengar suara tulang retak dari leher Hangeng. Dan akhirnya satu orang lagi kehilangan nyawanya.
"HANGENG!"
Suara teriakan Heechul terdengar seperti sebuah kehormatan bagi Kyuhyun. Dia mendorong tubuh tanpa nyawa dihadapannya dan mulai berdiri dari posisinya. Matanya sudah berubah kembali, menjadi mata dari Cho Kyuhyun. Bukan mata milik dia.
Srett
Tali di tangan Yesung terlepas. Dia segera berdiri dan berlari kearah Kyuhyun, namun dengan sigap Kyuhyun mendorong tubuhnya balik membentur meja dapur, dimana wastafel berada. Kyuhyun menahan tubuh Yesung disana.
"Hyung, jangan memaksakan diri." kata Kyuhyun lembut. Dia menekan tombol di meja bawah wastafel, dan kemudian sebuah suara terdengar.
Krrk
Kyuhyun menahan leher Yesung dengan satu tangannya sedangkan tangannya yang lain menarik tangan kanan Yesung. Dia mendorong tangan itu untuk masuk ke dalam saluran pembuangan.
Krrk
"Akhh..."
"Yesung! Menyingkir!" teriak Heechul.
Namun Yesung tak bisa melawan. Tenaga Kyuhyun—bukan Kyuhyun—terlalu kuat. Kedua bolamata Kyuhyun berbuah kembali menjadi merah. Itu artinya, dia, yang Kyuhyun masuk sedang menguasai dirinya.
Krrk
Suara dari penggiling sisa makanan di saluran pembuangan terdengar semakin keras di telingan Yesung ketika tangannya mendekati lubang pembuangan. Yesung mulai kesulitan untuk bernapas, dia tak punya cukup tenaga untuk menahan cekikan dan dorongan tangan Kyuhyun pada tangannya.
"Yesung!" Leeteuk menjerit ketika dilihatnya tangan Yesung mulai masuk ke dalam saluran pembuangan. "Yesung, tahan tanganmu!"
Tetapi teriakan itu tak bisa Yesung dengar lagi ketika tangannya masuk sempurna ke dalam saluran pembuangan. Dan bersamaan dengan itu penggiling makan di dalam saluran pembuangan perobek jari-jarinya. Menghancurkannya dan memotongnya menjadin potongan kecil.
Kyuhyun melepaskan cekikan di leher Yesung.
"AARGGGHHH! ARRGGHH!"
Dan membiarkan pemuda itu berteriak kesakitan.
"Yesung! Yesung!" dan kedua namja yang melihat adegan itu hanya dapat memanggil namanya. Tak bisa melakukan apapun, termasuk Donghae yang masih terdiam dalam posisi jatuhnya.
Kyuhyun menyeringai. Dia meraih pisau lain di meja dapur dan menusukkannya ke puncak kepala Yesung, sama seperti yang telah ia lakukan terhadap Eunhyuk.
Satu nyawa lagi telah pergi.
"Sudah cukup! Semuanya sudah cukup! Berhenti Cho Kyuhyun! BERHENTI MELAKUKAN SEMUA INI TERHADAP KAMI!" bentak Heechul.
Matanya sudah sangat basah oleh air mata. Hampir semua dongsaengnya telah tiada, bahkan belahan jiwanya juga sudah pergi dari sisinya. Sekarang hanya empat nyawa tersisa. Dirinya, Leeteuk, Donghae dan bajingan kecil itu.
"BERHENTI! SEMUANYA SUDAH CUKUP!" bentaknya lagi.
Heechul hanya meronta-ronta berharap ikatan pada tangannya terlepas. Namun sangat sulit. Membutuhkan waktu yang lama untuk melepaskan tali ini seperti yang dilakukan oleh Hangeng dan Yesung.
"Ah, tiga nyawa lagi. Sepertinya mudah." kata Kyuhyun dan kemudian terkekeh.
Kyuhyun meraih oven kue berukuran sedang diatas meja dapur dan mengangkatnya. Dia membawa oven itu dalam pelukannya dan berjalan menghampiri Donghae yang masih belum bisa beranjak dari posisinya.
"Katakan selamat tinggal kepada semuanya, Donghae hyung." ucap Kyuhyun lembut.
Leeteuk menggeleng dan meronta. Dia tak ingin ada nyawa yang hilang lagi. Jika harus ada yang mati, dia rela itu dirinya. Asalkan bukan para dongsaengnya yang ia cintai. Ia rela.
"Jangan lakukan itu Kyu... kumohon... bunuh saja hyung, jangan bunuh yang lain... hyung mohon..."
"Menjauh dariku bajingan!"
Kyuhyun mengangkat alisnya, menatap Donghae. "Goodbye." Dan kemudian dia menjatuhkan oven berat itu tepat di wajah Donghae. Meremukan wajah itu dan membuatnya kehilangan napas dan nyawa dengan singkat.
"DONGHAE!"
Kyuhyun tertawa puas melihat pekerjaannya. Kini dia melangkah mendekati Heechul. Dia sudah bosan untuk mengulur waktu dalam permainan ini. Mungkin mempercepat kematian akan mempercepat pula jalannya untuk bertemu dengan Changmin.
"Hyung, sekarang giliranmu." kata Kyuhyun seraya berdiri di belakang Heechul.
Heechul merasakan tubuhnya menegang. Namun sekeras apapun dia memohon, Kyuhyun pasti akan membunuhnya sama seperti yang lain. Dia hanya diam saja ketika tangan Kyuhyun bergerak di sekitar pelipisnya.
"Hyung, rileks saja." kata Kyuhyun. Jarinya mulai menyentuh mata Heechul pelan.
Leeteuk menggeleng melihat adegan itu. Dia menangis dengan kekuatan yang dia bisa. Dia tak sanggup melihat orang terakhir yang hidup bersamanya akan lenyap di tangan sang maknae sebentar lagi.
"Lakukan saja apa yang kau mau, tetapi jangan bunuh Leeteuk. Itu permintaan terakhirku, kumohon..." kata Heechul pelan.
Tetapi yang diajak bicara sama sekali tak menyahut. Dia malah semakin mendekatkan jari-jarinya ke mata Heechul. "Hyung, tenang saja." Dan dalam sekali gerakan, Kyuhyun menelusupkan jarinya ke dalam mata Heechul dan mengoreknya keluar. Membuat kedua bolamata itu jatuh ketika Kyuhyun berhasil mengoreknya keluar.
Krrnnyykk
Suara menjijikan itu mengiringi dua bolamata yang terjatuh dan menggelinding di sekitar kaki Heechul. Kedua lubang mata Heechul segera mengeluarkan darah. Sakit. Namun yang dilakukan oleh Heechul hanyalah tersenyum.
"Semoga ini dapat membuatmu puas, Cho Kyuhyun."
Dan setelah itu, yang Heechul rasakan adalah putaran keras di lehernya. Memotong tengkuknya dan dia segera kehilangan nyawanya.
Satu nyawa tersisa.
"Heechul... Heechul... hiks... bunuh saja aku, Kyuhyun... buatlah i-ini menjadi cepat... a-aku tak sanggup..." kata Leeteuk lemah.
Leeteuk memejamkan matanya mendengar kalimat terkahir dari mulut Heechul. Samar, dia dapat mendengar suara langkah Kyuhyun mendekat. Leeteuk mengatupkan bibirnya. Mempersiapkan dirinya. Mengikhlaskan dirinya jika memang dia harus mati untuk membuat maknae-nya puas. Semoga dia telah menjadi hyung yang baik untuk mereka. Semoga dia bisa diterima di sisi-Nya jika ia memang harus mati sekarang.
"Hyung, kau memang baik." Dapat Leeteuk rasakan Kyuhyun mengusap kepalanya lembut. "Terima kasih kau telah mengijinkanku untuk melakukan hal ini untukmu." Leeteuk merasakan sebuah benda dingin menyentuh lehernya. Tajam. Dan kasar. "Selamat tinggal hyung. Aku mencintaimu."
JLEB!
Dan itu adalah nyawa terakhir yang Kyuhyun persembahkan untuk dia. Dia yang berjanji akan mengembalikan Changmin kepadanya.
.:o~o:.
"Aku sudah melakukan semuanya. Sekarang, bisakah kau bawa Changmin kepadaku?"
"Dia ada disampingmu sekarang."
"Changmin? Disampingku? Aku tak bisa melihatnya?"
"..."
"Changmin?"
"..."
"Changmin? Kau bersamaku?"
"..."
"Hei! Bukankah kau sudah berjanji untuk membawaku kepada Changmin?"
"Kyuhyun-ah..."
"Ch-Changmin?"
"Terima kasih telah melakukan semuanya untukku."
"Changmin! Changmin dimana kau? Mengapa aku tak bisa melihatmu?"
"Aku ada dihadapanmu. Bersama dia."
"Dia? Dia sedang bersamamu? Hei, dimana kalian?"
"Aku ada dihadapanmu, Kyu."
"Tetapi aku tak bisa melihatmu!"
"Kau ingin bersama denganku?"
"Ya Changmin! Aku ingin bersama denganmu! Itu alasan aku membunuh empatbelas anggota keluargaku! Aku hanya ingin bersamamu!"
"Dia bilang, dia inginkan satu nyawa lagi."
"Sa-satu nyawa lagi? Nyawa—nyawa siapa yang harus aku ambil?"
"..."
"Hei, Shim Changmin!"
"Nyawamu."
"Ny-nyawaku?"
"Kita bisa hidup bersama disini Kyu."
"Disini? Dimana Min?"
"Di tempat yang sangat panas. Tempat dimana dia tinggal."
"Pa-panas?"
"Apakau kau ingin bersamaku, Kyu?"
"Y-ya, tetapi bagaimana caranya? Bahkan aku tak bisa melihatmu sekarang."
"Ambil jantungmu keluar, dan kita akan hidup bersama."
"Kau berjanji?"
"Dia yang mengatakannya Kyu. Dia yang berjanji kepadamu."
"Te-tetapi... benarkah aku bisa bersama denganmu? Se-selamanya?"
"Ya, Kyuhyun. Selamanya. Selamanya kita akan selalu bersama di tempat yang penuh dengan api ini."
"K-kau tidak akan meninggalkanku lagi, bukan?"
"Aku tidak akan meninggalkanmu, selama kau mengikuti ucapan dia."
"Ba-baiklah. Aku akan memberikan nyawaku kepadanya."
"Lakukanlah. Ambil pisau itu dan berikan jantungmu sebagai persembahan."
"Seperti ini?"
JLEB!
"Ya, seperti itu."
JLEB!
"Kau melakukannya dengan baik."
"S-sak-sakit Min..."
"Tenang Kyu. Kita akan bersama selamanya. Sebentar lagi. Kita akan bersama. Selamanya. Selamanya. Selamanya."
.:o~o:.
Promosi
Baca FF-ku yang judulnya The Time ya ^^
Yaoi, yang mainnya Super Shinki or DBSJ a.k.a DongBangSuJu
Olalalala saya sudah memenuhi keinginan kalian yang meminta SAW IV adalah Super Junior
Euh, dan SAW IV ini harus dibaca setelah membaca SAW II yang DBSK, karena ceritanya berhubungan (?)
Nah, sekarang waktunya balas review SAW III: Vengeance (Chi Chi)
kangkyumi : Ehehehe gomawo ne :3 nih sudah aku buatin yang SuJu. Semoga sukaaaa :D
Park Nara Quinnevil : Hahaha aku sudah memenuhi requestmu. SAW IV SJ dengan Kyuhyun sebagai main cast ehehehe XD gomawo ne
The : Okay. Request sudah dilakasanakan (?) gomawo ya :D
Max Hyera : Ehehe kalau yang SJ ini udah tambah menyeramkan belum? Tapi aku akhirnya bikin yang SJ kan ehehehe XD gomawo ya~
rararabstain : Annyeong :D mukanya jangan masam dong ekekekke :p eh ini udah ada yang SJ, tapi panjang abis hoho moga gak bosen bacanya. Ehm, The Time itu pairnya KyuMin, YooMin, YunJae, HanChul, HaeHyuk dll. Pair berubah sewaktu-waktu kekekeke XD gomawo ya
Nah, semoga SAW IV ini banyak yang review
AMIN ^^
Thanks buat semuanya *hug satu-satu*
Akhir kata
Review? :3
.
PS: Who's next for SAW V?
*inggris jelek, maksain*
Oh ya, ada yang tinggal di Bandung gak? Ada yang nonton SS3 bareng gak nanti di Blitz?
