Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : SAW V: Survivor
Cast : EXO
Genre : Thriller Horror
Rated : M
Type :Yaoi
Length :One Shot
Summary : Dia mendapatkan 'kehidupan'
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Kecuali cerita punya saya!
Warning : GORE!TYPO(s)! MISS TYPO! ABAL! ALUR KECEPETAN! OOC! Ada pembunuhan (kagak sadis kalau kata aku)
A/n : SAW V ini entah sadis atau tidaks ==' sepertinya tidaks. Maaf ya, ini baru selesai ketik tanpa edit langsung aku posting u,u
Thanks untuk yang menyempatkan dirinya untuk membaca FF ini *blowkissagain
Thanks bagi yang menyempatkan diri untuk memberi review
Susah lho buat FF kaya gini ._.
.
.
.
Terkadang aku tidak mengerti dengan apa yang berada di dunia ini. Dengan apa yang terjadi di dunia ini.
Aku sudah hidup bertahun-tahun di dunia. Aku sudah melewati banyak hal di dunia. Aku pernah mengalami suka dan duka di dunia. Hal itu menyenangkan dan menyedihkan. Tetapi... tidak pernah ada yang semembingungkan ini. Semenakutkan ini.
Apa salahku?
Apa yang kuperbuat sebelumnya?
Kurasa bukan aku yang melakukannya.
Tetapi siapa?
Pada kenyataannya...
Semua darah ini ada di tanganku.
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku yang mengakhiri mereka. Aku yang merebut napas terakhir mereka.
Tetapi apa yang aku perbuat?
Siapa aku?
Siapa di dalam diriku?
Ini sama sekali bukan aku.
.
.
SAW
V
"SURVIVOR"
A Horror-Thriller Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Jiwa itu masih berkeliaran..."
EXO's Time
"...disini."
.
.
.
Hup!
Xiumin melompat dari atas kapal feri pribadi yang salah satu dari mereka miliki. Suho mengikutinya dari belakang, disusul oleh Chen dan Tao. Baekhyun dan Chanyeol memandang kagum pada pemandangan yang pertama mereka tangkap di pulau kecil tidak berpenghuni ini, sebuah hutan yang cukup damai. Luhan mendekati keduanya dan berdiri di samping mereka, mengikuti apa yang keduanya lakukan. Sedangkan kelima lainnya turun dari kapal feri satu-per-satu seraya membawa ransel dan barang-barang milik sendiri.
"Wow, indah sekali~" Kris menggelengkan kepalanya dan memandang kagum pada pemandangan di hadapannya. Ia menggendong ransel dan perbekalan lain miliknya lebih mendekati tepi hutan di pantai itu.
Tao, Chen, dan Lay segera menyusul Kris. Memandang indah dengan apa yang mereka lihat.
Baekhyun dan Chanyeol turun perlahan dari feri, menyusul yang lainnya untuk mengagumi keindahan. Sedangkan Luhan, masih berada di atas feri. Memandang hutan itu seakan ada sesuatu yang terjadi.
"Apa disini benar-benar tidak ada penginapan?" tanya Kyungsoo.
Kai mengangkat bahunya.
"Lalu hanya kita saja yang berada disini?" Xiumin menambahi.
Kai kembali mengangkat bahunya dan menatap keduanya. "Who cares? Kita bisa bersenang-senang disini."
Kris dan Chanyeol mengangguk setuju mendengar ucapan Kai. Segera mereka membawa barang-barang mereka menuju pulau itu dan meninggalkan kapal feri di tepian.
.:o~o:.
"Apa memang benar-benar tidak berpenghuni?" Xiumin menatap sekelilingnya dan memastikan.
Lay yang tengah mendirikan tenda hanya meliriknya sedikit. Chen di sampingnya mengangguk. "Yup. Tapi pulau ini disewakan. Memangnya kau tidak tahu?"
"Tahu apa?" Xiumin menoleh ke arah Chen.
Chen memutar kedua bolamatanya. "Ayah Suho menyewanya satu minggu untuk kita. Jadi bisa dipastikan tidak ada orang lain selain kita disini." Suho terkikik kecil. "Kecuali jika ada yang tersesat."
Xiumin menggerenyitkan dahinya. "Kenapa aku tidak tahu?"
Chanyeol yang juga tengah membangun tendanya bersama Baekhyun melirik sinis ke arah Xiumin. "Kau pikir mengapa kita bisa liburan disini? Memangnya semuanya gratis, huh?"
Baekhyun tertawa kecil mendengarnya. "Memang gratis. Ayah Suho yang membayarnya, benar bukan?" ia melirik ke arah Chen dan Lay.
Chen dan Lay mengangguk setuju dan tertawa. Hal itu membuat Chanyeol mendengus dan memutar kedua bolamatanya. Suho yang tidak sengaja mendengar percakapan itu ikut tertawa mendengarnya.
Kai membenarkan tenda yang ia bangun bersama Tao. Sedangkan Sehun hanya duduk di pasir, menatap lurus ke arah pantai.
Tao berdecak pelan melihat Sehun yang hanya diam. Dia meraih segenggam pasir dan melemparkannya, tepat menengai kepala Sehun. Sehun membalikkan pandangannya dan mendapati Tao memandangannya menuntut.
"Kerjakan sesuatu, cari kayu untuk dibakar di dalam hutan!"
Sehun membalasnya dengan tanpa ekspresi. Ia membersihkan rambutnya dengan sekali kibasan rambut dan setelah itu berdiri. Luhan yang tidak sengaja melewati mereka untuk memberikan ransel Kai kepada pemiliknya terpanggil oleh Tao.
"Dan Luhan, temani Sehun mencari kayu!"
Luhan melirik Tao dan mengangguk. Ia memberikan ransel Kai kepada pemiliknya dan setelah itu berjalan menyusul Sehun yang mulai berjalan memasuki hutan.
Kris terkikik kecil, melirik ke arah Tao yang juga meliriknya.
"Well, agar mereka akrab." Tao mengangkat bahunya dan mendapat anggukan setuju dari Kris.
Sementara menuju ke dalam hutan, Sehun berjalan lebih dulu. Sedikit meninggalkan Luhan di belakangnya. Sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, berjalan santai seolah dia tahu isi dalam hutan ini. Luhan berusaha mengikutinya dengan sedikit cepat.
"Err... Sehun, bisa kau lambatkan langkahmu?" tanya Luhan hati-hati.
Sehun menghentikkan langkahnya seketika itu juga.
Luhan mengikuti hal yang sama seraya menatap punggung Sehun yang berjarak sekitar satu setengah meter darinya. Luhan mengusap tengkuknya perlahan.
"A-ah, mungkin langkahku yang terlalu... lambat."
Sehun membalikkan tubuhnya setelah mendengar kalimat itu. Luhan sedikit membulatkan matanya. Ia agak sedikit canggung dengan Sehun, tidak seperti ia pada kesepuluh temannya yang lain. Sehun sangat dingin, misterius dan jarang bicara. Itu yang membuatnya takut berada di samping Sehun. Ia berusaha untuk bersikap biasa dan mengakrabkan diri. Tetapi sepertinya ia tidak bisa.
Sehun kembali membalikkan tubuhnya setelah menatap Luhan dalam beberapa detik. Ia kembali berjalan dan Luhan yang sedikit kaget melihatnya segera melanjutkan langkahnya, berusaha untuk tetap berada di belakang Sehun.
"Um... Sehun," Luhan memanggilnya seraya menggigit bibir bawahnya setelah itu.
Sehun segera menghentikkan langkahnya lagi dan berbalik. Luhan berjalan perlahan mendekati Sehun dan menatap matanya untuk beberapa detik.
Tangan Luhan terulur perlahan, membersihkan sisa pasir di rambut namja dengan tinggi yang berbeda tiga senti darinya. Sehun diam, memperhatikan wajah Luhan dari dekat sedangkan namja yang diamati itu hanya fokus membersihkan rambutnya.
"Sudah~" Luhan tersenyum dan menarik dirinya sedikit menjauh dari Sehun.
Sehun masih terdiam, menatap wajah cantik dari namja di hadapannya. Luhan yang menyadari diamati hanya menundukkan wajahnya sedikit dan meminta maaf.
"M-mianhae... tadi aku hanya... melihat masih banyak pasir dirambutmu."
Sehun masih diam dalam beberapa detik dan kemudian kembali berbalik untuk berjalan. Luhan mengangkat wajahnya sedikit dan berusaha mengikuti Sehun kembali.
Sudah ia pikir, ia memang tidak bisa dekat dengan Sehun.
.:o~o:.
"Jadi, ini tendaku dengan Lay dan Kyungsoo," Suho menunjuk ke arah tenda di belakangnya. "Karena tenda paling besar, yang kanan diisi oleh Xiumin, Kris, Chen dan Tao. Di sebelah kiri tendaku milik Chanyeol, Baekhyun dan Kai."
Lay mengangguk setuju seraya memainkan pisau lipat di tangannya.
"Aish.." terdengar gerutu dari Kai.
Suho meliriknya dan bertanya, "Apa kau keberatan?"
"Tentu saja iya!" jawab Kai, lalu melirik ke arah Chanyeol dan Baekhyun. "Aku tidak bisa satu tenda dengan orang yang akan bermesraan."
Chanyeol terkikik kecil mendengarnya, begitupula Suho.
"Tapi kurasa tidak ada yang mau bertukar tempat," Suho melirik ke arah Luhan dan Sehun. "Karena tenda paling ujung itu akan ditempati oleh mereka berdua." Lalu menunjuk ke arah keduanya.
Tao segera mengangguk cepat dan Kris tertawa menanggapinya. Kai mendesah pelan dan akhirnya mengalah.
"Okay. Tenda terakhir untuk Sehun dan Luhan."
Kris tertawa kembali. "Okay. Sekarang pembagian tenda sudah selesai. Sekarang persiapkan untuk makan malam dan api unggun, sebentar lagi gelap datang."
Suho mengangguk. "Ayo bawa barang kalian ke tenda masing-masing!"
Luhan meraih ranselnya perlahan dan menggendongnya. Ia berjalan perlahan menuju tendanya dan menarik napas. Sepertinya ia memang akan selalu berada di sekitar Sehun, tanpa bisa menyentuhnya.
.:o~o:.
"... eonjekkaji babogachi ulgoman isseul geoya."
Baekhyun mengakhiri lagunya dan mendapat tepuk tangan dari yang lainnya setelah itu.
Kini keduabelas dari mereka tengah duduk melingkari api unggun, setelah makan malan mereka dengan ramen instan. Beberapa dari mereka mengenakan jaket, tidak bisa membohongi udara dingin di sekitar mereka. Tetapi tidak untuk Sehun dan Kris, mereka tampak biasa saja dengan udara di sekitarnya.
"Okay," Baekhyun memberikan gitar kepada Kyungsoo. "Sekarang giliranmu."
"Aku?" Kyungsoo menunjuk dirinya sendiri dan Baekhyun mengangguk. Disusul oleh anggukan dari beberapa lainnya. Kyungsoo menarik napas dan menerima gitar itu. Lalu ia menatap semuanya.
"Okay, kalian ingin aku nyanyikan lagu apa?"
Chen mengangkat kedua bahunya. "Terserah."
"Bittersweet." Kris menarik kepala Tao dan menyandarkannya di bahunya. Ia menatap Kyungsoo, memintanya untuk menyanyikan lagu itu.
"Super Junior?" tanya Kyungsoo.
Kris menjawabnya dengan anggukan.
"Ah, haruskah aku menyanyikan lagu itu?" Kyungsoo mengusap tengkuknya. "Kurasa agak menyeramkan."
"Kenapa?" Chanyeol terkikik. "Apa gara-gara berita tentang kematian mereka lima hari yang lalu, huh?"
Kai, Xiumin, Lay dan Chen tertawa kecil mendengarnya.
"Kau pikir arwah mereka akan membunuh kita jika kita menyanyikan lagunya?" tanya Lay, dibalas oleh tawaan Kris dan Suho.
Kyungsoo menggeleng pelan. "Bukan itu, hanya saja menakutkan."
"Menakutkan?" Kris tertawa kecil. "Coba tanya pada Luhan, apa Henry sangat menakutkan saat ia lihat mayatnya?"
Mereka, kecuali Sehun, segera menatap ke arah Luhan. Luhan yang tidak sengaja melamun, sedikit tersentak, kaget karena diperhatikan. "Eh?"
"Apa begitu menakutkan?" tanya Kris lagi.
"Apanya?" tanya Luhan.
"Mayat Henry Lau." ucap Lay. "Bukankah kalian teman kecil? Kau melihat mayatnya setelah autopsi, bukan?"
Chen mengangguk. "Orangtua kalian saling kenal."
Sehun melirik sedikit ke arah Luhan di sampingnya. Luhan hanya tergagap kecil, tidak tahu harus menjawab apa.
"A-ah, ne... tapi..." Luhan segera memejamkan matanya. Berusaha melupakan bayangan ketika ia datang ke rumah sakit untuk melihat mayat Henry. Sial, terlalu menakutkan. Ia tidak bisa jika harus mengingatnya lagi.
"Oh, dear, kalian membuat teman kita bersedih." ucap Baekhyun. Segera menggeser duduknya dan merangkul Luhan. "Jangan pikirkan lagi, okay?"
Luhan mengangguk kecil dan mengusap wajahnya.
"Sorry guys..."
Suho melirik ke arah mereka yang memancing obrolan ini. Ia sedikit membulatkan matanya, menyuruh mereka untuk meminta maaf kepada Luhan karena telah mengingatkannya kepada teman baiknya yang telah meninggal.
"Sorry..." ucap Lay.
Baekhyun melirik ke arah Chanyeol dan sedikit membesarkan kedua bolamatanya, menyuruh Chanyeol untuk meminta maaf.
Chanyeol menggaruk tengkuknya dan meminta maaf. Kemudian Kris pun mengikutinya.
Luhan menggeleng pelan. "No, it's okay, guys. Aku hanya teringat akan... begitu menyeramkan may—"
"Stop, okay? Mari bicarakan hal yang lebih menyenangkan." seru Kai.
Xiumin dan Suho mengangguk setuju.
Sehun mendesah pelan dan kemudian berdiri dari duduknya. Ia membersihkan sedikit pasir dari celananya dan segera masuk ke dalam tenda miliknya. Beberapa dari mereka melirik kepergian ia, yang lainnya hanya acuh dan mengangkat bahu.
Sedangkan Luhan, mencuri pandang untuk menatap Sehun pergi.
.:o~o:.
Keesokan harinya, di pagi hari, beberapa dari mereka sudah mulai bermain di pantai. Berlari-lari, bermain sepak bola yang mereka bawa dari rumah. Sementara Sehun hanya duduk di salah satu batuan karang—membentuk tebing—yang tidak jauh dari mereka, memandang lautan luas dengan tenang. Sedangkan Lay sedang memasak bersama Tao, dan Luhan memilih untuk membantu daripada bermain bola.
"Apa ini nasi goreng ham?" tanya Luhan, seraya melirik ke arah Lay yang sedang menggoreng menggunakan kompor dan tabung gas kecil. Lay mengangguk dan tersenyum. "Yap, kesukaanmu."
"Omona~ rasanya aku sudah sangat lapar sekarang~" seru Luhan.
Tao yang tengah mengiris bawang terkikik kecil mendengarnya, sementara Lay hanya tersenyum seraya melanjutkan masaknya.
"Sebentar lagi panggil yang lainnya untuk makan ya." ucap Lay.
Luhan mengangguk cepat.
Tao meliriknya dan tersenyum. "Ah, bagaimana malammu dengan Sehun?" tanyanya, sedikit menggoda Luhan.
Luhan segera meliriknya dan membulatkan matanya. "A-apa maksudmu?"
"Tidak ada maksud apa-apa." Tao tertawa kecil seraya melirik ke arah Lay yang juga meliriknya. "Hanya bertanya pertanyaan wajar. Apa kau salah mengartikan kalimatku?"
"A-ah itu..." Luhan menggaruk tengkuknya, sedikit menundukkan wajahnya untuk menutupi pipinya yang tiba-tiba memanas.
Lay melirik ke arah Luhan dan tertawa. "Kurasa kalian saling menyukai."
Luhan segera mengangkat wajahnya dan menggeleng cepat.
Tao mengangguk, ia berhenti mengiris bawang dan menatap Lay. "Sayangnya mereka seperti air dan minyak. Tidak bisa bersatu. Berbeda dengan aku dan Kris, Kai dan Kyungsoo, dan Chanyeol dan Baekhyun."
Lay mengangguk setuju mendengar pendapat dari Tao.
Luhan mengalihkan pandangannya, dan tak sengaja terarah pada Sehun yang masih mengamati lautan. Luhan memandangannya dengan seksama. Sepertinya ia memang menyukai namja itu. Terlalu menyukainya.
"Ah, Luhan, bisa kau ambilkan air rebusan itu?" Tao menunjuk ke arah panci tanpa tutup berisi air mendidih yang ia buat beberapa menit yang lalu. Luhan segera mengalihkan pandangannya ke arah Tao. "Aku butuh itu untuk membuat sesuatu. Bisa kau bawakan kemari?"
Luhan mengangguk dan berjalan untuk meraih panci berisi air mendidih itu. Ia berjalan mendekati Tao dan tanpa dapat ia kendalikan, tangannya menyiramkan air itu ke arah Tao.
Byur!
"Akh!"
Tao segera memundurkan tubuhnya dan meringis. Ia bergerak cepat untuk menghindar, namun belum terlalu cepat ketika menyadari bahwa tangannya terkena air panas itu.
Luhan membulatkan kedua bolamatanya dan menjatuhkan panci itu pasir. Lay segera berhenti memasak dan mengambil mengambil sebotol air dan menyiramkannya ke tangan kanan Tao. Tao meringis.
Luhan menutup mulutnya, bingung harus melakukan apa. Kris yang tak sengaja melihat kegaduhan dari tempat mereka memasak, segera berlari mendekati tempat itu dan terkejut.
"Astaga, Tao!"
Ia segera mendekati Tao dan bertanya apakah ia baik-baik saja. Tao hanya terkekeh pelan.
Luhan menggigit bibir bawahnya, "M-maafkan aku..."
Tao mengangguk, masih meringis sesekali. "Tidak apa. Beruntung gerakanku cepat, jadi bukan wajahku yang kena."
Lay segera melirik Luhan dan menggeleng pelan. "Lain kali hati-hati, ya."
Luhan mengangguk pelan. Namun masih tidak percaya bahwa ia yang melakukannya. Luhan menatap tangannya perlahan.
Bukan, rasanya bukan ia yang melakukannya.
Mana mungkin ia sengaja melakukan itu.
Pasti ada yang salah.
Dari kejauhan, Sehun memperhatikan apa yang dilakukan Luhan.
.:o~o:.
Luhan duduk di tepi tebing yang diduduki Sehun pagi tadi. Ia memandang lautan biru yang terhampar luas di hadapannya. Beberapa kali ia menghembuskan napas. Ia merasa sangat bersalah. Jika Tao tidak berhasil menarik dirinya sendiri, mungkin wajah Tao sudah rusak terkena air mendidih itu.
Luhan memandang tangannya perlahan.
Tetapi ia rasa bukan ia yang melakukannya. Tetapi siapa? Hanya ia yang mengendalikan tubuhnya sendiri.
Luhan memejamkan matanya secara perlahan.
Ia perlu ketenangan seperti ini.
"Hei,"
Luhan membuka matanya dan mengarahkan kepalanya ke atas, ke sumber suara. Di sampingnya, Xiumin sudah berdiri dan tersenyum padanya. Xiumin mengambil posisi duduk perlahan di samping Luhan. Luhan tersenyum tipis melihatnya.
"Sedang apa?" Xiumin bertanya.
Luhan menggeleng pelan dan kembali menatap lautan. "Hanya menikmati pemandangan."
"Oh~" Xiumin membawa pandangannya juga menatap lautan. "Yang lain mau membuat permainan nanti malam."
"Permainan apa?" tanya Luhan, melirik sedikit ke samping.
Xiumin masih menatap lautan dan terkekeh kecil. "Survivor katanya. Hahaha, lucu. Jadi kita akan dibagi dalam enam kelompok. Lalu mulai berpencar untuk mengambil makanan orang yang ditemuinya." Lalu melirik ke arah Luhan. "Nanti kita dibekali sebatang coklat. Lalu kita harus menemukan kelompok lain dan merampas coklatnya."
Luhan membuka sedikit mulutnya, mencerna apa yang dikatakan Xiumin. "Tetapi kenapa namanya Survivor?"
Xiumin tertawa kecil. "Tanyakan saja pada Suho."
"Ah~" dan kemudian Luhan ikut tertawa. "sepertinya seru."
"Tentu saja." Xiumin tersenyum dan kemudian kembali memandang laut. "Aku senang kita semua dapat berlibur disini. Meninggalkan penat di kampus untuk sementara."
Luhan hanya diam, tidak menanggapi Xiumin. Ia menatap namja dihadapannya. Entah mengapa, yang ia lakukan adalah mendorongnya keras hingga jatuh ke arah laut yang berada sekitar tiga meter dari tebing tempat mereka duduk.
Byur!
Luhan segera mengerjapkan matanya cepat dan melirik ke bawah.
"A-astaga... Xiumin!"
Luhan dapat melihat gelembung-gelembung dan sedikit putaran air, dimana tempat Xiumin terjatuh. Luhan berteriak panik, memanggil Xiumin namun tidak ada jawaban.
Kai yang berada di dekat tebing segera terjun ke laut untuk menyusul Xiumin. Luhan menutup mulutnya, masih memandang tidak percaya ke arah bawah.
Suho, Chen dan Kyungsoo segera mendekat ke arah tepi. Luhan dapat melihat Kai muncul dari permukaan seraya menyeret Xiumin. Laut di dekat tebing karang itu memang sedikit dalam, karena memanjang ke arah lautan.
Setelah mendekati tepi, Kai segera menggendong Xiumin dari air dengan bridal style. Membawanya cepat ke daratan, dimana Suho, Chen dan Kyungsoo menatapnya khawatir.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Kyungsoo.
Kai segera membaringkan Xiumin di pasir dan mengusap sedikit darah yang keluar dari pelipisnya. "Hanya terbentur karang. Tetapi kurasa tidak parah." ucap Kai seraya menekan dada Xiumin.
Xiumin terbatuk kecil. Kai menekan kembali dadanya dan memberikan sedikit napas buatan.
Luhan masih berdiri di atas karang. Menatap tangannya seraya menggigit bibir.
Apa yang salah pada dirinya?
Apa yang telah ia lakukan?
Luhan kembali melirik ke arah Xiumin dan yang lainnya di pasir. Dan tanpa sengaja, pandangannya bertemu dengan Sehun yang menatapnya dari kejauhan.
.:o~o:.
Hari sudah mulai malam. Setelah mereka makan malam, Kris dan Suho menyuruh semuanya untuk mempersiapkan diri untuk permainan mereka.
Luhan masih berada di dalam tenda, memilih untuk menjauh dari orang-orang. Ia rasa ada yang tidak beres dari dirinya. Ia tidak tahu apa, tetapi ia rasa ia harus menjaga jarak dari semuanya.
Lalu, Luhan melihat ada seseorang yang berjalan ke arah tendanya. Luhan menatap pintu tendanya, menunggu orang itu membuka dan akhirnya menampakkan diri.
"Chanyeol?"
"Kenapa masih disini?" tanya Chanyeol.
Luhan menggeleng pelan dan mendesah. "Kupikir aku tidak akan ikut."
Chanyeol menyipitkan matanya dan masuk ke dalam. Dia duduk di hadapan Luhan dan menepuk kepalanya.
"Kau harus ikut. Kita tidak mungkin meninggalkan kau disini sendiri atau meninggalkan salah satu grup dengan hanya satu anggota."
"Tapi aku—"
Chanyeol menggeleng dan tersenyum. "Bukan salahmu."
Luhan menatap Chanyeol seraya mengulum bibir bawahnya.
"Yang terjadi pada Tao dan Xiumin hanya kecelakaan kecil biasa. Jangan kau pikirkan. Kami semua tidak membencimu. Lagipula mereka berdua baik-baik saja. Tao dan Xiumin masih hidup." Chanyeol terkekeh. "Kalau kau membunuh mereka, baru kami akan membencimu."
"T-tapi aku hampir membunuh mereka!"
Chanyeol tertawa kecil. "Aniya, Sayang. Itu hanya kecelakaan kecil."
"T-tapi..."
Chanyeol menyentuh tangan Luhan dan menggenggamnya. "Semuanya akan baik-baik saja. Tao dan Xiumin sudah berlari-lari lagi. Tidak ada yang membencimu."
Luhan menarik napasnya dalam.
Chanyeol tersenyum lagi dan menarik Luhan keluar. Luhan hanya mengikutinya dengan perlahan.
"Luhan! Chanyeol! Ayo cepat! Pembagian grup~!"
Chanyeol segera berlari seraya menarik Luhan ikut bersamanya. Mereka ikut berkumpul dengan yang lainnya di dekat api unggun.
"Okay, masing-masing orang sudah memegang coklat bukan?" tanya Kris.
Suho memberikan dua batang coklat kepada Chanyeol, dan Chanyeol memberikannya satu pada Luhan.
"Nah, grup siapa yang mendapatkan 3 batang coklat pertama disini, mereka yang menang."
"Jadi kita harus kembali dengan tiga batang coklat?" tanya Kyungsoo.
Kris mengangkat kelima jarinya.
"Kau bilang tiga." Kai memutar kedua bola matanya.
"Tiga milik orang lain, dua milik diri sendiri dan partner. Jadi kalian tidak boleh kehilangan coklat kalian. Apa dapat dimengerti?"
Semuanya mengangguk paham.
Kris tersenyum lebar. "Okay, pembagian kelompoknya, dengarkan baik-baik. Suho dengan Lay. Chanyeol dengan Xiumin. Kyungsoo dengan Baekhyun. Chen dengan Tao. Aku dengan Kai. Dan terakhir~" Kris melirik ke arah Sehun dan Luhan. "Tentu saja kalian."
Sehun hanya diam sementara Luhan mengangguk ragu.
"Semuanya memakai jam tangan, jaket dan membawa senter, 'kan?" tanya Suho.
Semuanya mengangguk, kecuali Sehun.
"Okay, kita bisa mulai sekarang!" Suho tersenyum.
"Saat aku bilang 'mulai', tolong memasuki hutan dari arah yang berbeda, okay?"
Semuanya mengangguk kembali, lagi-lagi Sehun tidak mengikuti.
"Alright!" seru Kris. "Satu... dua... mulai!"
Dan setelah Kris berteriak, ia segera menarik tangan Kai dan mengajaknya berlari memasuki hutan. Yang lainnya segera menarik partnernya dan melakukan hal yang sama. Sedangkan Sehun hanya memasukkan tangannya ke dalam saku jaket dan mulai berjalan terlebih dahulu. Luhan segera melirik Sehun dan menyalakan senter. Dengan cepat ia berjalan di belakang Sehun dan mengikutinya.
Mereka mulai memasuki hutan yang sangat sepi dan gelap. Luhan menggigit bibir bawahnya, berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Sehun. Namun namja itu hanya berjalan dengan acuh, tidak memperdulikan Luhan yang menerangi jalan mereka.
Dan beberapa lama kemudian, keduanya sampai di bagian hutan yang sangat lebat dan menyeramkan. Luhan melangkah hati-hati, menjauhi tersandung akar. Sehun masih berjalan dengan acuhnya.
Perjalanan mereka hanya ditemani keheningan, hingga akhirnya Sehun membuka mulutnya.
"Mengapa?"
Luhan terkesiap dan menatap Sehun di sampingnya. Sehun masih berjalan dan Luhan berusaha menyeimbanginya seraya kebingungan.
"A-apanya yang—"
"Mengapa kau lakukan itu pada Tao dan Xiumin?"
Luhan membulatkan matanya dan menunduk. Ia menghentikan langkahnya.
"B-bukan aku..."
Mendengar jawaban itu, Sehun menghentikan langkahnya dan berbalik. Dia menatap Luhan yang menunduk.
"Kau ingin mencari perhatian?"
Luhan segera mengangkat wajahnya dan menggeleng cepat. "T-tidak! Aku tidak—"
"Lalu?"
Luhan menggeleng lagi. "I-itu bukan aku, Sehun..."
Sehun terdiam sebentar lalu memajukan langkahnya hingga berdiri di depan Luhan. Luhan kembali menundukkan wajahnya, takut.
"A-aku sama sekali... tidak bermaksud melakukan itu..." Luhan memejamkan matanya rapat. "T-tolong jangan benci aku..."
Sehun masih diam, menatap Luhan yang menunduk.
"Itu... s-sama sekali bukan aku..."
Merasa tidak mendapat respon, Luhan mengangkat sedikit wajahnya dan mendapati Sehun masih menatapnya dari dekat. Ia menggigit bibir bawahnya sedikit keras, menahan dirinya untuk tidak menunduk.
Namun dalam keheningan seperti ini, yang tercipta bukanlah rasa takut Luhan. Melainkan perasaannya kepada namja yang masih menatapnya lekat dari jarak setipis ini. Luhan menelan ludahnya sedikit, tergiur untuk menyentuhnya.
Selama ini ia memikirkan untuk menyentuh seorang Oh Sehun.
Berada dalam dekapannya... diciumnya...
Perlahan ia memberanikan diri, memiringkan wajahnya dan memejamkan mata lalu mengecup sepasang bibir di hadapannya. Hanya mengecup lalu memberanikan diri untuk memperdalam kecupan itu. Namun beberapa detik setelah itu ia segera menarik wajahnya kembali dan membuka mata.
Sehun masih menatapnya dan Luhan sedikit malu dengan tatapan itu. Namun Sehun tetap memandangnya dingin, tanpa ekspresi.
"M-maafkan ak—"
"Apa kali ini kau juga mau mengatakan bahwa itu bukan kau?"
Luhan sedikit membulatkan matanya dan menggeleng.
Untuk ini, ia yakin melakukannya dengan akal sehatnya.
"Aku sangat membencimu."
Deg!
Luhan segera menatap Sehun dan menatapnya kaget. Hanya tiga kata. Hanya tiga kata yang namja itu lontarkan tetapi sudah cukup membuat jantungnya hancur menjadi berkeping-keping. Luhan menggeleng pelan. Matanya sedikit berkaca-kaca. Ia masih tidak percaya bahwa kalimat itu yang akan ia dengar dari mulut namja itu.
Luhan segera mengusap matanya, menutupi air matanya yang tiba-tiba terjatuh.
"A-aku sungguh minta m-maaf... huks... karena..."
Luhan kembali mengusap matanya, menunduk. Ingin rasanya ia menangis. Sakit. Perasaannya memang jatuh pada orang yang salah. Pada orang yang sama sekali tidak pernah meliriknya sedikitpun.
Luhan mengangkat wajahnya dan mencoba tegar untuk menatap namja itu. Namun yang ia dapatkan adalah dorongan keras dari Sehun, membuat punggungnya membentur pohon dengan lumayan keras dan hisapan dalam di bibirnya.
Kedua pasang bolamata Luhan menatap Sehun yang memejamkan matanya, menghisap bibirnya dengan dalam.
Apakah benci berarti cinta?
Perlahan Luhan menutup kelopak matanya, tersenyum dalam ciuman dan memilih untuk menangkup pipi Sehun dan memperdalam ciuman. Sehun semakin menghimpit tubuhnya terhadap pohon, menyelipkan salah satu pahanya diantara paha Luhan.
Keduanya berciuman semakin dalam ketika Sehun menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Luhan, merebut lidahnya dan ia hisap kuat. Sehun menarik tubuh Luhan dan membaringkannya pada rerumputan di samping pohon. Luhan membiarkan senter dari tangannya terjatuh. Ia segera melingkarkan lengannya pada leher Sehun dan membiarkan namja itu berada di atasnya.
Sehun menggigit bibir bawah Luhan dan menghisapnya. Sementara tangannya mengusapi dada Luhan, turun perlahan dan kemudian masuk ke dalam kaos yang digunakan Luhan. Sehun menyentuh nipple-nya dan memelintirnya. Luhan mendesah pelan dalam ciuman itu.
Sehun memilih bergerak cepat. Ia segera meraih celana Luhan dan menurunkan lalu melepaskannya. Tangannya kemudian menurunkan resleting jeans-nya lalu kancingnya. Masih mengendalikan mulut Luhan, tangannya melebarkan kedua paha Luhan dan berada di antaranya.
Sehun melepaskan ciumannya dan beralih pada leher Luhan. Luhan menengadahkan kepalanya, masih memejamkan matanya dan menikmati jilatan, gigitan dan hisapan Sehun pada lehernya. Luhan yakin Sehun meninggalkan kissmark, tetapi ia tidak peduli. Yang ia inginkan adalah Oh Sehun. Oh Sehun yang kini menyentuhnya.
Sehun menumpu tubuhnya dengan satu tangan pada tanah, sedangkan tangan lainnya berada di paha Luhan. Luhan meletakkan tangannya pada rambut Sehun, mengaitkannya pada helaian-helaian itu.
Tidak salah bukan memberikan dirinya yang belum pernah disentuh siapapun kepada orang yang ia cintai dan juga mencintainya?
Sama sekali tidak salah.
Dan setelah itu, Luhan memejamkan matanya semakin rapat ketika ia merasakan ada benda asing yang memasuki tubuhnya kasar. Ia menggeram dalam kesakitan, tetapi Sehun hanya menghisap lehernya di beberapa daerah dan membiarkan dirinya bergerak dengan sangat kasar di dalam Luhan.
Luhan menggigit bibirnya keras dan meremas rambut Sehun erat. Ini benar-benar sakit, jauh dari apa yang ia bayangkan.
Semua orang mengatakan bahwa sakit hanya pada awalnya, selanjutnya kenikmatan yang akan dirasakan.
Tetapi mengapa ini sakit sekali?
Luhan berusaha membuka matanya, ingin melihat Sehun di atas tubuhnya. Luhan membiarkan mulutnya terbuka, melepaskan desahan-desahan dari kenikmatan yang diberikan oleh tubuh diatasnya. Tetapi Sehun hanya memejamkan matanya tanpa mengeluarkan suara. Mulutnya tertutup rapat. Hanya terdengar geraman sesekali.
Luhan menutup matanya kembali. Ia berusaha menikmati kenikmatan dalam rasa sakit ini. Sungguh, ia ingin meminta Sehun untuk bersikap lebih lembut kepadanya. Ini terlalu kasar. Luhan memang belum pernah melakukan seks, mungkin ia tidak tahu batasan lembut dan kasar dalam kegiatan ini. Tetapi menurutnya Sehun bergerak terlalu kasar padanya.
Ingin ia meminta Sehun untuk lembut, tetapi ia takut kegiatan ini akan terhenti. Maka, Luhan hanya dapat mengeratkan tangannya pada rambut Sehun. Sampai ia rasakan bahwa hasratnya sudah terpenuhi dan keluar, dan ia rasakan cairan hangat itu memenuhi tubuhnya. Berasal dari Sehun. Namja yang ia cintai.
Dengan napas terengah, Luhan melepaskan tangannya untuk meremas erat rambut Sehun dan mulai membuka mata. Sehun menatapnya dingin dan berdiri. Dia membenarkan rambutnya dan menyeletingkan kembali jeans-nya.
Luhan masih sedikit terengah, mengambil posisi duduk secara perlahan, meraih senter di dekatnya dan membantunya untuk meraih celananya. Luhan dapat melihat ada cairan putih mengalir dari dalam tubuhnya, beserta cairan merah.
Apa sekasar ini jika melakukannya dengan orang yang kau cintai?
Sehun menatapnya dengan tatapan dinginnya ketika Luhan masih memperhatikan dirinya yang berdarah.
"Kau tidak mengerti arti kata 'benci'?" Luhan menatapnya secara perlahan. "Sudah kubilang sebelumnya, aku sangat membencimu. Bahkan aku tidak sudi untuk menyebut namamu."
Luhan merasakan matanya kembali bergetar.
Benci... artinya cinta?
Tidak. Ia salah.
Benci tetaplah benci.
Oh Sehun membencinya.
"Kau benar-benar mendesah dibawahku." Sehun membuang ludahnya ke sembarang arah. "You're such a slut."
Sehun merebut satu-satunya senter yang mereka miliki dan berjalan terlebih dahulu. Meninggalkan Luhan yang masih membeku disana. Meninggalkan Luhan yang masih tidak mempercayai dengan apa yang ia dengar.
Luhan merasakan dirinya begitu hina.
Tidak...
Tidak...
Tidak!
Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan dan mulai menangis terisak. Bagaimana bisa dia mengartikan kalimat Sehun sebelumnya sebagai kata cinta? Bagaimana bisa hal itu terjadi?
Sekarang Sehun telah memperlakukannya seperti seorang pelacur. Dan Luhan merasakan hal itu.
Mengapa ini semua bisa terjadi, Tuhan?
Apa yang telah kuperbuat sebelumnya?
Perlu beberapa waktu untuk Luhan menangis. Ia tidak tahu harus melakukan apa terhadap dirinya. Benar-benar menjijikan.
Perlahan, Luhan menarik tangan yang menutupi wajahnya. Ia membuka matanya perlahan.
Dan ia merasakan ada sesuatu yang mengambil alih dirinya.
Luhan perlahan berdiri, mengenakan dan membenarkan seluruh pakaiannya kembali dan mulai berjalan di hutan lebat itu. Hanya ditemani cahaya rembulan dan instingnya.
.:o~o:.
"Jangan cepat-cepat jalannya!" seru Tao.
Chen melirik ke belakang dan terkekeh. Ia menunggu langkahnya sejajar dengan Tao dan kemudian merangkul pundaknya.
"Kris tidak akan marah, 'kan?"
Tao terkekeh. "Tentu saja tidak."
Keduanya kembali melihat sekeliling, dengan senter di tangan Chen—mengingat tangan kanan Tao sedikit terluka karena tersiram air panas. Tao menghela napasnya. Mereka sudah berkeliling sejak tadi tetapi masih belum dapat menemukan teman mereka yang lainnya.
Chen mengarahkan senternya ke sekitar, membantu pengelihatan mereka. Tao sedikit merapatkan tubuhnya pada Chen dan Chen hanya terkikik kecil.
"Dingin?" tanya Chen.
Tao menatap Chen dan menjawab, "Takut."
"Aigo~" Chen tertawa. "Kau lebih tinggi dariku, masa penakut~?"
Tao memutar kedua bolamatanya. "Tinggi bukan alasan untuk tidak takut, pabbo."
Chen tertawa kembali. "Okay, okay, maaf."
Tao mengerucutkan bibirnya dan melihat sekitar. Tidak ada yang bisa ia lihat selain pepohonan di hadapannya. Tao dan Chen sama sekali belum menemukan cahaya senter dari kelompok yang lain.
"Apa kita terlalu jauh?" tanya Tao.
Chen meliriknya bingung. "Maksudmu?"
"Mungkin kita masuk hutan terlalu jauh." Tao menghentikan langkahnya dan menatapnya. "Daritadi kita tidak melihat tanda-tanda ada siapapun."
Chen mengarahkan senter ke sekelilingnya. Tao benar juga. Mereka rasa sudah berjalan jauh, tetapi tidak melihat sedikitpun tanda dari yang lainnya.
Chen berdiri di depan Tao dan menatapnya balik. "Mungkin kita harus balik arah."
Tao mengangguk setuju dan menatap ke belakangnya. "Lagipula, disini terlalu lebat. Menyeramkan." Ia mengusap lengannya lalu mengembalikan pandangannya ke arah Chen.
Namun, tepat ketika ia menatap Chen, sesuatu menghantam keras kepala namja dihadapannya. Membuat mata namja itu melebar sebelum akhirnya menutup dan terjatuh. Tao melihat ada sebuah batu berukuran kepalan tangan orang dewasa berada di samping kakinya. Batu yang sedikit bernoda darah itu yang Tao pikir menghantam kepala Chen.
"Chen!"
Tao segera mendudukkan tubuhnya dan menggoyang-goyangkan tubuh Chen. Chen pingsan seketika. Tao bergerak panik, melihat sekelilingnya, berusaha menemukan seseorang.
"Tolong!" teriak Tao.
Ia kembali mengguncangkan tubuh Chen dengan satu tangan dan menepuk pipinya.
"Astaga. Siapa yang melakukan ini?!" teriaknya.
Tao mengarahkan kepalanya ke belakang, bersuaha untuk menemukan petunjuk. Dan ketika ia mengembalikan kembali pandangannya, seseorang telah berdiri di hadapannya.
"L-Luhan?"
Luhan menyeringai tipis mendengar namanya dipanggil.
"Thanks God. Entahlah, t-tadi tiba-tiba Chen jatuh karena..." Tao menggernyitkan dahinya kemudian. "Kemana Sehun? Kenapa kau sendiri?"
Luhan hanya diam dan mendudukkan tubuhnya perlahan di samping tubuh Chen. Tao masih menepuki pipi Chen, berusaha untuk menyadarkannya.
"Bisa kau bantu teriak? Mungkin akan ada yang mendengar kita."
Tao kembali mengarahkan pandangannya ke belakang, berharap ada cahaya senter milik temannya yang lain. Tanpa ia tahu, Luhan meraih batu yang berdarah itu dan mengangkatnya.
"Ngh..."
Tao mendengar lenguhan pelan dari Chen. Ia segera mengembalikan pandangannya dan mendapati Chen sedikit membuka matanya.
"Nh... a-apa—"
Bug!
Tao membulatkan matanya lebar menatap Chen yang belum sempat berbicara, kini wajahnya di hantam oleh batu besar itu. Tao menatap kaget kepada Luhan, yang mengangkat kembali batunya dan memukulkannya kembali pada wajah Chen.
"L-Luhan! Apa yang kau lakukan?!" Tao menjerit dan mendorong tubuh Luhan dengan satu tangan.
Chen merintih kesakitan sementara Luhan sama sekali tidak bergeming. Ia membenarkan posisi tubuhnya dan kembali memukulkan batu itu keras pada wajah Chen.
"Luhan!"
Bug!
Bug!
Tao menggeram dan mendorong tubuh Luhan menjauh, lalu menindihnya. Dia berusaha merebut batu dari tangan Luhan menggunakan tangan kirinya, namun yang ia dapatkan adalah hantaman keras dari batu itu di kepalanya.
Bug!
"Akh..." Tao merintih kecil.
Luhan mendorong tubuhnya menjauh. Ia bangkit secara perlahan, mengangkat batunya tinggi lalu memukulkannya berulang kali dengan kasar terhadap wajah Tao.
Bug! Bug! Bug!
Dan mengakhirinya dengan pukulan yang paling keras.
Bug!
Luhan berdiri perlahan. Matanya menatap Chen yang terbaring berlumuran darah pada wajahnya. Luhan tahu ia belum mati, dadanya masih terlihat kembang kempis. Luhan berjalan mendekatinya dan kemudian mengarahkan alas sepatunya di atas wajah Chen. Tanpa aba-aba, Luhan menginjak wajah Chen dengan keras. Meremukkan beberapa tulang tengkorak wajahnya yang sudah retak.
Luhan mengangkat wajahnya dan menarik segaris seringai tipis. Ia mulai melangkahkah kakinya, meninggalkan kedua temannya yang kini sudah menjadi mayat.
.:o~o:.
"Ini bisa digunakan~."
Xiumin yang tengah memperhatikan sekelilingnya segera mengarahkan pandangannya ke arah Chanyeol. Namja itu meraih beberapa akar gantung dari pohon lalu memetik beberapa helai daun dan melingkarkannya di akar.
"Untuk apa?" tanya Xiumin.
Chanyeol nyengir, "penyamaran~!"
Xiumin memperhatikan Chanyeol yang sibuk dengan akarnya yang kini telah selesai, menyerupai topi. Ia mengenakannya di kepalanya dan kemudian membuat satu lagi.
"Memangnya akan terlihat?"
"Semua orang kan memakai senter," Chanyeol tertawa kecil dan berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
Xiumin hanya menggeleng lagi seraya mengarahkan senternya ke sekitar. Dia menyipitkan matanya ketika melihat pergerakan beberapa dedaunan di pohon rendah, sedikit jauh dari tempatnya berdiri.
"Nah!" Chanyeol memasangkan topi-akar-berhias-daun itu di kepala Xiumin. Xiumin menoleh, mendapati Chanyeol tersenyum tetapi ia segera menunjuk ke depan sebelum Chanyeol berkomentar.
"Ada seseorang disana." Xiumin berkata dengan nada berbisik.
"Dimana?" tanya Chanyeol. Matanya mengarah ke arah yang ditunjuk oleh Xiumin.
"Itu."
Chanyeol sedikit menyipitkan matanya untuk memperjelas pengelihatannya, tetapi ia tidak melihat ada seseorang disana. Ia menatap Xiumin dengan bingung.
"Tidak ada orang disana. Mana coklatmu?"
Xiumin menunjuk ke arah saku celananya tanpa melihat Chanyeol, dia tetap menatap ke arah yang disenternya.
Krrk..
"Sst... dengar? Ada yang berjalan kesini." Xiumin berkata dengan nada berbisik lagi.
Chanyeol memutar kedua bolamatanya lalu mencoba untuk menemukan sumber suara tersebut.
"Mungkin ular."
"Yah!" Xiumin sedikit menjerit dan menatap Chanyeol.
Chanyeol terkikik. "Kenapa?"
"Jangan menakutiku! Kalau itu benar ular berbisa bagaimana? Kau mau kita mati disini?"
"Kita tidak akan mati disini." kata Chanyeol tenang.
"Kita bisa mati disini, bodoh!"
"Siapa juga yang bisa membuat kita mati disini? Hm?"
"Aku."
Chanyeol dan Xiumin mengarahkan pandangan mereka ke arah sumber suara, tepatnya di belakang mereka. Dan yang mereka dapatkan adalah Luhan yang menyeringai. Belum sempat bertanya mengapa ada noda darah di baju dan di wajahnya, Luhan sudah menarik satu akar yang menggantung dan segera melilitkannya ke leher Xiumin lalu menariknya menjauh dari Chanyeol.
Chanyeol membulatkan matanya, hendak untuk menarik Xiumin kepadanya namun melihat Luhan semakin mengeratkan lilitan lehernya, ia berhenti.
"L-Luhan, apa yang kau lakukan?"
Luhan terkikik kecil, semakin melilitkan akar tersebut di leher Xiumin semakin erat ketika namja itu hanya merintih, berusaha mendapatkan napasnya.
Chanyeol dapat melihat mata Luhan berubah menjadi berwarna merah.
"Khh..."
"Xiumin..."
Krk!
Luhan menghentakkan tangannya, membuat lilitan itu semakin erat mencekik Xiumin. Mata Xiumin sedikit memerah, kesakitan. Mulutnya terbuka, berusaha untuk bernapas. Sedangkan kedua tangannya berusaha melepaskan tangan Luhan yang menahan akar itu di lehernya.
Chanyeol terdiam sebentar, tidak tahu bagaimana harus menyelamatkan Xiumin yang berada satu meter di hadapannya.
"Tidak ada yang membencimu, Luhan..." Chanyeol berbisik pelan.
Luhan menggeleng dan semakin mengeratkan lilitannya, sedikit kesal karena dia belum berhasil membawa nyawa Xiumin pergi.
"Kalau kau melakukan hal ini karena... takut kami semua membencimu... kau salah. Bukankah sudah kukatakan?"
Luhan mengeraskan rahangnya. Sementara Xiumin sudah mulai kehabisan tenaga untuk dapat kembali bernapas.
"Khhh.. akh..."
"Kami semua mencintaimu... Sehun juga."
Luhan menjerit ketika mendengar nama 'Sehun'. Dia memutar kepada Xiumin keras, menghilangkan nyawa Xiumin.
Chanyeol menggeram marah. Dia mendekati Luhan cepat lalu menonjok pipinya keras. Luhan merintih kesakitan. Dia tidak melawan pukulan Chanyeol, tetapi memilih untuk berlari menjauh dari sana. Menghilang dalam kegelapan.
Chanyeol meraih senternya lalu berlari ke arah lain untuk mencari teman-temannya yang lain.
"Xiumin, maaf."
.:o~o:.
Klik!
Suho melirik ke arah Lay yang mengeluarkan pisau lipat dari dalam sakunya.
"Kenapa bawa itu?" tanya Suho.
Lay tersenyum. "Jaga-jaga."
"Dari?"
Lay mengakat bahunya, berjalan mendahului Suho seraya mengarahkan cahaya senter ke sekitar. "Binatang. Akar. Atau apapun."
Suho hanya mengangguk, mengikuti Lay dari belakang seraya mengarahkan cahaya senternya juga untuk menerangi jalan.
"Dimana kita bisa menemukan yang lain?"
Lay mengangkat bahunya, tidak tahu.
"Mungkin kita terlalu jauh."
Lay berbalik perlahan ke arah Suho, dan seketika itu membulatkan matanya ketika melihat sebuah batu melayang mengenai kepala Suho.
Bug!
"Suho!"
Lay mengarahkan pandangannya ke sekitar, lalu mendekat ke arah Suho yang terjatuh perlahan. Tetapi sebelum ia dapat menggapai Suho, sesuatu—lebih tepatnya seseorang—menabrak tubuhnya hingga terjatuh.
"Akh!"
Dia, Luhan. Luhan menarik kedua tangan Lay ke belakang, menahannya lalu merebut pisau lipatnya.
Suho merintih dan mengerjap-erjapkan matanya. Tangannya menahan kepalanya yang terasa begitu sakit, hingga ia mendapati bahwa ada darah mengalir dari kepalanya.
"L-Lu... Luhan..."
Luhan tidak menanggapi Suho, ia berusaha untuk menahan Lay yang meronta.
"Apa.. kkh.. apa yang kau lakukan, Luhan?!" jerit Lay.
Luhan mencengkram keras kedua pergelangan Lay.
Suho merasakan pandangannya sedikit mengabur, namun ia masih berusaha untuk bangkit. Berusaha membantu Lay yang berada tak jauh di hadapannya.
Luhan mengarahkan pisau lipat di tangannya ke arah tangan Lay.
"Ukh... L-Lu..."
Suho merangkak dengan lemah mendekati Luhan dan Lay. Luhan yang melihatnya segera menendang kepalanya, membuat Suho merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya yang berdarah.
Luhan menduduki paha Lay, masih menahan kedua pergelangan tangannya dengan satu tangan. Tangan Luhan yang satunya masih memegang pisau lipat milik Lay.
"Apa yang akan kau lakukan, Lu? Ukh! Kau kenapa?"
Lay masih meronta, berusaha untuk lepas. Luhan yang sedikit kesusahan untuk menahannya segera mendekatkan kembali uujung pisau itu pada jemari Lay, tepatnya ke arah kukunya.
"Luhan... apa yang—akh!"
Lay menjerit keras ketika ujung pisau lipat itu menusuk ke arah sela-sela kuku telunjuk kanannya dengan kasar. Luhan menyeringai. Dia menggerakkan ujung pisau yang sudah tertancap di sela-sela kuku dan lapisan dalam kuku lalu mencongkelnya keluar hingga kukunya terlepas.
"God! Fuck!"
Lay menjerit-jerit keras kesakitan. Rahangnya mengeras menahan rasa sakit, sedangkan kakinya menegang. Luhan terkikik melihat darah mengalir dari lapisan kulit tempat melekatnya kuku.
Suho mengerang, pandangannya semakin mengabur. Tetapi ia berusaha untuk mendekat kembali, untuk membantu Lay.
Mata Lay berair, sakitnya terlalu luar biasa. Ditambah ketika Luhan menarik jari tengah tangan kanannya lalu menusuknya kembali di sela-sela kuku dan mencongkelnya keluar.
"Aaaghh!"
Luhan tertawa keras, menarik jari manis tangan kanan Lay dan melakukan hal serupa.
"Luhan! Berhenti! Agh! Kumohon..."
Luhan menggeleng senang. Lay menggigit giginya, menahan sakitnya. Beberapa tetes air mata mengalir dari matanya. Lalu menghantamkan kepalanya ke tanah.
"Lu.. ukh... k-kau kenapa?"
Suho meraih batu yang sebelumnya menghantam kepalanya. Dia mengangkatnya dengan lemah, lalu mengumpulkan tenaganya yang tersisa dan melemparkannya tepat mengenai kepala Luhan.
Bugh!
Luhan merintih dan berhenti dengan mainan semulanya. Dia mengangkat kepalanya, menatap Suho dengan geram.
"K-kenapa... ukh... kenapa kau?"
Luhan membanting tangan Lay lalu berdiri. Dia membiarkan darah mengalir di pelipisnya. Lay mengerang, menggenggam tangan kanannya yang berdarah kemudian. Kehilangan tiga kukunya yang dicongkel secara paksa sungguh sakit.
Luhan berjalan mendekati Suho yang masih dalam posisi merangkak kesakitan. Tanpa basa-basi, Luhan mengangkat kakinya dan menginjakkan sepatunya terhadap kepala Suho. Menginjaknya berulangkali.
Bug!
Bug!
Bug!
Bukan pening lagi yang Suho rasakan, bahkan ia hampir kehilangan kesadarannya ketika sepatu itu menginjaknya berulang kali. Tangannya meremas tanah di sampingnya, lalu melemah dan kehilangan napas terakhirnya pada injakan yang ke belasan.
Luhan mengatur napasnya yang menggebu, lalu pandangannya terarah pada Lay yang masih menjerit menahan sakit.
"Aku muak dengan kalian semua."
Luhan mengangkat pisau di tangannya lalu menusukkannya tepat di kepala Lay. Menarikanya kasar lalu menusuknya lagi berulang kali.
Di malam itu, dia sudah berhasil membuat lima orang temannya kehilangan nyawa.
.:o~o:.
Krrk!
"Sst!"
Baekhyun melotot ke arah Kyungsoo ketika namja itu menginjak ranting. Kyungsoo menunduk minta maaf.
"Sudah aku bilang, jangan membuat suara." kata Baekhyun berbisik.
Kyungsoo mengangguk lagi lalu mengikuti Baekhyun di belakangnya.
"Kurasa aku melihat seseorang di depan, jadi matikan sentermu, kita pakai senterku."
Kyungsoo mengangguk lagi.
Mereka tetap berjalan mengendap mendekati sebuah pohon besar dimana Baekhyun seperti-melihat-seseorang-bersembunyi-disana. Kyungsoo tidak berniat untuk melihat sekitar, sedikit takut dengan suasana malam di tengah hutan yang mencekam. Hanya ada binatang malam dan sesekali deburan ombak yang terdengar.
Ketika langkah mereka semakin mendekati pohon besar tersebut, seseorang menarik tangan Kyungsoo dan Baekhyun.
"Aagh!"
Keduanya menjerit ketika orang yang menarik mereka merebut coklat dari saku keduanya. Mereka Kai dan Kris, yang kini nyengir sambil menggoyang-goyangkan coklat hasil pencurian mereka dari Baekhyun dan Kyungsoo.
"Gotcha, Baby~." Kai menepuk kepala Kyungsoo dan terkikik. Dia mengamankan coklat milik Kyungsoo dalam saku celana jeans-nya.
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, begitu pula dengan Baekhyun ketika melihat coklatnya di tangan Kris. Ia berusaha untuk merebutnya kembali namun perbedaan tinggi mereka membuatnya kesulitan.
"Lagian, dua namja manis seperti kalian dibiarkan satu kelompok. Mudah sekali menjadi mangsa."
Kyungsoo memukul lengan Kai kemudian setelah mendengar kalimat tersebut. Kai dan Kris hanya tertawa senang.
"Kita hanya butuh satu coklat lagi." kata Kris.
Kai mengangguk. Kyungsoo mengerucutkan bibirnya kembali dengan kesal.
"Yang kalah dapat hukuman?"
Kris mengangguk mantap. "Tentu saja."
"Apa hukumannya?"
Krrk!
Keempat namja itu segera mengarahkan pandangan mereka ke arah belakang, pada sumber suara dimana mereka mendengar suara ranting patah. Kai mengarahkan senternya dan melihat Luhan mendekati mereka dengan darah yang mengalir dari pelipis hingga rahangnya.
"L-Luhan!"
Kyungsoo segera mendekat, membantu Luhan berjalan mendekati mereka. Namun tanpa ia sadari, satu tangan Luhan terangkat, lalu menusukkan pisan di tangannya ke arah punggung Kyungsoo.
"Agh!"
Kai membulatkan matanya. "Kyungsoo!"
Luhan mendorong tubuh Kyungsoo, membuatnya terjatuh. Lalu sebelum Kai, Kris dan Baekhyun berhasil mendekat, Luhan menusukkan pisau itu di tengkuk leher Kyungsoo, lalu menariknya kembali.
Kai menjerit melihat kekasihnya terbaring berlumuran darah. Dia lebih memilih untuk mendekati Kyungsoo.
"B-Baby..." Kai membalikkan tubuh itu secara perlahan, bergerak panik mencari sesuatu untuk menahan darah yang mengalir dari punggung dan tengkuknya. Mulut Kyungsoo terbuka, berusaha bernapas. Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Luhan! Apa yang kau lakukan?!"
Kris menggeram dan berlari ke arah Luhan. Luhan menatapnya dengan matanya yang kini berubah kembali menjadi warna merah.
Kris mendorong tubuh Luhan tetapi gerakannya kalah cepat dengan tangan Luhan yang berhasil menusukkan pisau tepat di perut Kris. Kris terkesiap, melirik ke arah perutnya secara perlahan. Luhan menyeringai, lalu menggerakkan pisau yang masih menancap di perut Kris secara horizontal dengan kasar.
Kris merintih kesakitan. Kai berusaha menahan darah yang terus mengalir, tetapi dia harus membantu Kris. Baekhyun mendekat ke arah Kyungsoo yang sekarat secara perlahan. Kai yang mengerti hal itu segera berdiri walaupun berat, lalu mendorong Luhan menjauh dari Kris.
Luhan berhasil menarik pisau itu bersamanya. Kris jatuh terduduk secara perlahan. Dia masih menatap perutnya, yang kini robek karena gerakan horizontal yang mengoyak ususnya. Perlahan usus itu terlihat keluar dan menggantung dari luka besar itu.
"Apa yang terjadi padamu, huh?!"
Kai menjerit marah lalu menonjok pipi Luhan yang sudah sedikit lebam dengan tangannya. Luhan terjatuh di tanah. Kai mendekat, tetapi Luhan dengan cepat menendang perutnya sehingga Kai tersungkur menjauh.
Baekhyun menangis melihat temannya sekarat, hampir kehabisan napasnya. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk menahan semua darah yang terus mengalir keluar. Kedua mata Kyungsoo terkadang terpejam, lalu membuka kembali dengan lemah. Baekhyun menarik tangan kanannya lalu menggenggam jemari itu.
"Kyungsoo... tolong... jangan pergi... hiks," matanya mengarah perlahan ke arah Kris yang terkapar dengan usunya yang sudah keluar. "Hiks... Kris.."
Kai merintih pelan, berusaha menahan sakit di perutnya, tepat ketika Luhan bangkit lagi. Kai mendekat kembali. Luhan menjerit lalu menusukkan pisau di tangannya ke arah mata Kai yang tidak bisa menghindar.
"Aaghh!"
Luhan memutar pisau yang masih menancap di tangan kiri Kai sehingga mengeluarkan suara menjijikan. Baekhyun menjerit, bersamaan dengan Kyungsoo yang kehilangan napasnya, bersamaan dengan Kris.
Kai merintih, berusaha memukul Luhan dengan tangannya. Tetapi Luhan berhasil menendangnya hingga terjatuh. Luhan menarik pisau di mata Kai dan menancapkannya kembali. Dia menginjak dada Kai, menggenggam pisau dengan kedua tangan dan menancapkannya berulang kali dengan liar.
Sudah dapat dipastikan bahwa Luhan berhasil mencabut nyawa Kai.
Baekhyun yang sadar dirinya dalam bahaya segera berdiri, berbisik meminta maaf pada Kai, Kris dan Kyungsoo, lalu mengambil tindakan. Dia tidak mau melawan Luhan, pilihan yang ia ambil adalah melarikan diri.
Luhan merintih pelan lalu menarik pisaunya dari mata Kai yang sudah terkoyak. Dia mengusap darah yang mengotori wajahnya lalu berlari untuk mengejar Baekhyun.
Baekhyun tidak tahu ia berlari ke arah tepian pantai atau ke arah hutan yang semakin dalam. Yang ia pikirkan sekarang hanya melarikan diri.
"Tolong! Tolong!"
Baekhyun membiarkan air matanya mengalir. Dia berusaha membawa larinya cepat, namun tetap berhati-hati agar tidak tersandung. Berniat untuk menghindari akar, tetapi kakinya yang lain tanpa sengaja tersandung batu. Baekhyun terjatuh.
Luhan yang berlari tidak jauh darinya menyeringai. Baekhyun berusaha bangkit tanpa menatap ke belakang. Tetapi Luhan berhasil menarik rambutnya kasar dan tanpa membiarkan sepatah kata keluar dari mulut Baekhyun, ia menyayat leher Baekhyun dengan gerakan memutar.
Srett
Baekhyun tercekik, sedangkan darahnya memuncrat keluar. Luhan menyayatnya kembali semakin dalam, masih dalam gerakan memutar. Dengan kasar, sampai akhirnya kepala itu terpisah dari tubuhnya.
"Hahaha, Sehun! Lihat! Aku akan membuatmu menyesal karena tidak mencintaiku! Hahaha!"
.:o~o:.
Chanyeol berusaha mengatur napasnya ketika ia sampai di pesisir, tempat tenda-tenda mereka. Dia melihat sekitar dengan cepat, berusaha menemukan siapapun untuk meminta pertolongan. Tetapi tidak ada siapapun. Hanya suara desiran ombak, api unggun yang membakar kayu, dan bulan yang bisu yang menjawab kepanikannya.
"Siapapun! Dimana kalian?!"
"Aku disini."
Chanyeol membalikkan tubuhnya secara perlahan. Seseorang berjalan ke arahnya, dari dalam hutan. Sudah bisa ditebak bahwa ia adalah Luhan. Bajunya berlumuran darah, menghias seringai di wajahnya yang bernoda darah juga. Tangan kanannya menggenggam pisau, dan tangan kirinya membawa sesuatu.
Kepala Baekhyun.
Dia melemparkannya ke arah Chanyeol yang tidak dapat menahan rasa terkejutnya.
"B-Baek... hyunie..."
Luhan tertawa. Chanyeol menangis, menatap kekasihnya yang hanya ia bisa lihat kepalanya. Tetapi ia sadar bahwa ia tidak bisa terpuruk dana menjadi lemah karena hal itu. Luhan bisa membunuhnya dengan mudah. Chanyeol menggeram dan berlari ke arah Luhan lalu mendorongnya hingga terjatuh di pasir. Luhan mengangkat tangannya yang menggenggam pisau, namun Chanyeol menepisnya kasar hingga menjauh. Tangan Chanyeol segera melingkar di leher Luhan lalu mencekiknya.
"Mati kau, Luhan! Kenapa kau berubah menjadi iblis seperti ini?!"
Luhan memukul lengan Chanyeol berulang kali. Mulutnya terbuka, berusaha untuk bernapas. Chanyeol mengeraskan rahangnya dan mencoba untuk membunuh Luhan dengan cekikannya. Tetapi Luhan berhasil menendang perut Chanyeol, membuatnya tersungkur menjauh hingga cekikannya terlepas.
Luhan terbatuk beberapa kali dan bangkit dengan cepat, lalu mendekat ke arah Chanyeol dan rambutnya. Dia melihat sekitar, api unggun dekat dengan posisi mereka. Luhan segera menarik rambut itu sehingga menggusur tubuh Chanyeol ke arah api unggun. Chanyeol berusaha menahan tubuhnya tetapi Luhan telah berhasil membanting wajahnya mengenai api unggun yang masih menyala, membakar kayu dan menghasilkan bara api. Wajah Chanyeol terbakar. Luhan menginjak punggungnya, membuat Chanyeol tidak dapat meloloskan diri.
Luhan menghentakkan kakinya, merasa puas mendengar jeritan sakit dari Chanyeol. Wajah Chanyeol mengelupas, terbakar lalu membuatnya mati.
Luhan kembali tertawa, perlahan lalu menjadi mengerikan. Dia menengadahkan kepalanya, menatap bulan. Ada rasa puas yang menyelubungi tubuhnya. Matanya memerah kembali, seluruhnya. Ternyata seperti ini rasanya membuang rasa sakit yang orang lain torehkan untukmu.
"Sudah puas?"
Luhan terusik dengan sebuah suara. Dia mengarahkan pandangannya ke sekitar dan mendapati seseorang duduk di batuan karang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia Sehun.
"Oh Sehun..."
Sehun melompat dari atas tebing. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan berjalan mendekat ke arah Luhan.
Luhan menjauhkan dirinya dari tubuh Chanyeol.
Tap.. tap... tap...
Sehun berhenti ketika jarak mereka sudah sekitar satu meter. Sehun menatap mata merah itu, tanpa ekspresi. Tetapi wajah Luhan perlahan berubah. Mimiknya menjadi begitu rapuh, dan waarna matanya berubah menjadi warna aslinya dengan perlahan.
"Sehun..."
Sehun mengangkat satu alisnya.
"Kenapa... t-tidak bisa mencintaiku?"
Sehun terkikik pelan, memainkan jari di saku jeansnya.
"Sehun mencintaimu."
Luhan sedikit membulatkan matanya dan menatapnya bingung, namun kesedihan tetap tersirat di wajahnya.
"Kau... m-mencintaiku?"
Sehun tertawa sarkatis. "Sehun mencintaimu. Aku tidak."
"M-maksudmu?"
"Luhan, Luhan.." Sehun menggeleng, lalu tertawa merendahkan. "Ada Dewa Merah di dalam dirimu, itu yang membuatmu menjadi iblis seperti ini."
Luhan hanya diam. Mungkinkah itu... yang membuatnya lupa akan teman-temannya dan memilih untuk membunuh mereka semua?
"Dewa Merah selalu memilih orang lemah yang tersakiti seperti kau. Dan kau dapat dengan mudahnya mengikuti apa yang dibisikkanNya dalam benakmu. Walaupun Dia memang bisa mengendalikan tubuhmu." Sehun menyeringai, "berbeda denganku. Aku sudah menguasai tubuh ini lebih dahulu daripada Dia padamu."
Mata Luhan berubah menjadi merah, lalu kembali menjadi warna semula. Luhan menyentuh kepalanya.
"S-siapa kau?"
"Aku?" Sehun menyeringai. Kedua mata Sehun berubah warna menjadi hitam seluruhnya. "Aku Dewa Hitam. Kau tidak menguasai para jiwa sendiri, Merah."
Pada saat itu, Merah bertemu dengan Hitam.
.:o~o:.
