Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : SAW VI: Black Tears
Cast : SHINee
Genre : Thriller Horror
Rated : M
Type : Yaoi
Length : One Shot
Summary : Dia belum berhenti
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Kecuali cerita punya saya!
Warning : GORE!TYPO(s)! MISS TYPO! ABAL! ALUR KECEPETAN! OOC! Ada pembunuhan (kagak sadis kalau kata aku)
A/n : SAW VI ini tidak sadis ._. kenapa? Karena ide sadisnya untuk SAW VII XD mwehehehe
Thanks untuk yang menyempatkan dirinya untuk membaca FF ini *blowkissagain
Thanks bagi yang menyempatkan diri untuk memberi review
.
.
.
Luhan meremas rambutnya keras, berusaha untuk tidak mendengar semua tuduhan yang menyakiti kepalanya. Menyiksa pikirannya. Dan membuat jiwanya beradu dengan sesuatu dalam dirinya.
Tetapi pemuda itu, pemuda yang berdiri di hadapannya tidak membiarkan ia bebas dengan pikirannya. Oh Sehun—atau mungkin si Dewa Hitam—itu menyeringai dan terus berbicara. Kedua bolamatanya hitam keseluruhan.
Luhan menunduk, menjerit lalu melotot memandang Sehun. Terjadi ketika matanya berwarna merah. Tetapi kembali lagi ke warna sebelumnya—dimana Luhan-lah yang mengendalikan—dan kembali menjerit kesakitan. Luhan dan Dewa Merah dalam dirinya berebut untuk mendominasi.
"Kau pembunuh, Xi Luhan."
Tuduhan itu lagi. Luhan menjerit untuk yang kesekian kalinya. Segala tuduhan itu, bercampur dengan jeritan dalam pikiran cukup menyiksanya dan membuat ia berteriak seperti kesurupan.
Sehun tertawa melihat Luhan semakin menunduk dan langkahnya berjalan mundur, benar-benar tersiksa dengan segala tuduhan yang ia berikan. Sementara Dewa Hitam merasa puas menyiksanya.
"Luhan... Tanganmu sendiri yang mengantarkan teman-teman kita pada kematian. Hahaha."
Luhan meremas rambutnya semakin kuat. Dia berusaha melawan sang Dewa Merah dalam dirinya. Tetapi ia tertekan dengan segala tuduhan dari Sehun. Otaknya berusaha meyakini dirinya bahwa ialah pemilik raga yang ia tempati.
"B-bukan aku... y-yang..."
Sehun berjalan mendekat secara perlahan. Tawanya berganti dengan senyuman sinis yang kontras dengan matanya yang seluruhnya berwarna hitam.
Sehun memperhatikan Luhan yang menjerit, yang tidak bisa menerima apa yang ia katakan. Kuku jari Luhan terasa menyatu dengan helaian rambut itu. Berusaha untuk menghentikan sakit. Sakit di kepalanya yang sangat menyiksa.
"Luhan... Luhan..." Sehun memperjelas seringainya. "Karenamu, mereka semua tengah menjerit di neraka."
Tap.
Luhan berhenti dalam setiap pergerakannya. Sehun mengangkat salah satu alisnya, menantang Luhan yang menundukkan wajahnya.
"Apa kau mau menyusulnya?"
Tanpa Sehun—Dewa Hitam—sangka, Luhan segera berlari ke arahnya lalu mencekiknya keras.
"Terkutuk kau, Hitam!"
Sehun tercekik oleh Luhan. Matanya membesar. Lalu sebuah gejolak terasa dari dalam tubuhnya. Tanpa bisa ia kendalikan, Sehun memuntahkan cairan hitam dari dalam mulutnya.
"Aaaghh!"
Brak!
Sehun tertunduk diam. Kedua tangannya diborgol, masing-masing di lengan kursi. Dihadapannya—setelah sebuah meja—berdiri lima orang laki-laki. Tiga orang mengenakan celana hitam dan kemeja putih panjang beserta nametag, sisanya mengenakan jeans dan kemeja lain. Sehun tetap tidak bergeming sementara lima orang itu melontarkan berbagai pernyataan dan pertanyaan.
"Apa yang terjadi pada saudara Xi Luhan, tuan Oh Sehun?"
Sehun tetap diam.
Namja dengan nametag Lee Jinki tetap menunggu jawaban dengan sabar, sedangkan Choi Minho—disampingnya—hanya memutar kedua bolamatanya. Dua namja lagi yang mengenakan nametag—Kim Jonghyun dan Kim Kibum—saling melirik, melakukan kontak bisu. Sedangkan terakhir Lee Taemin, sedang menatap jam tangannya.
"Bisa kita percepat interogasi ini?" tanya Minho.
Jinki menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Sehun—sementara ke-empatnya berdiri di belakang.
"Baiklah, mungkin Anda tegang dalam situasi ini," Jinki bicara kembali. "Saya Lee Jinki, kepala polisi yang akan membantu Anda disini dengan dua polisi lainnya."
Sehun tetap tidak bergeming.
"Lalu dua laki-laki ini," Jinki menunjuk Taemin dan Minho secara sopan. "Mereka adalah detektif. Mungkin Anda tegang karena interogasi ini dilakukan oleh lima orang sekaligus, tetapi—"
"Cepat katakan saja apa yang terjadi disana!"
Kibum memberikan death glare ke arah Minho yang memotong kalimat Jinki. Minho mendengus, sementara Jinki memokuskan pandangannya pada tersangka di depannya. Jonghyun melirik ke arah tangan Sehun yang diborgol.
"Jadi, bisa Anda ceritakan apa yang terjadi?"
Sehun tetap menunduk diam dan hal itu semakin membuat Minho geram. Kibum menahan dada Minho, mencegahnya untuk melakukan atau mengatakan apapun. Jonghyun melihat Jinki sekilas, lalu pada Sehun. Sedangkan Taemin memerhatikan gerakan Sehun dengan seksama. Dan Jinki tetap fokus.
Kepala Sehun bergerak sedikit, terangkat. Pergerakkan itu membuat kelima orang dalam ruangan itu menatapnya. Dengan gerakan seperti itu, dengan perlahan wajahnya terlihat.
Lalu mereka berhadapan dengan sosok tanpa ekspresi yang menatap kelimanya kosong dengan seluruh matanya yang berwarna hitam.
"A-apa itu?"
Perlahan, cairan mulai mengalir sedikit demi sedikit dari bolamata Sehun.
Air mata hitam.
.
.
SAW
VI
"BLACK TEARS"
A Horror-Thriller Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Jiwa itu masih berkeliaran..."
SHINee's Time
"...disini."
.
.
.
"Jadwal wawancara sekitar dua jam lagi, pers sudah menunggu di luar."
Seorang staf menahan Jinki yang tengah berjalan dengan Kibum dan Taemin di koridor.
Jinki mengangguk, "sekarang hubungi Kangnam, minta ia mengurus segala persiapan."
Staf itu mengangguk lalu meninggalkan ketiganya.
Jinki kembali berjalan bersama Kibum dan Taemin. Ketika mereka berbelok di koridor lantai enam itu, pandangan Jinki segera teralih ke sebelah kanan, menatap suasana di luar dari dinding kaca sambil berjalan.
"Jadi kronologisnya seperti apa?" tanya Kibum, matanya mengarah pada Taemin.
Taemin menarik napasnya.
"Yang aku ketahui, mereka dilaporkan hilang karena tidak ada kabar pada hari ketiga dan ke-empat. Ayah dari Joonmyeon—salah satu korban—mengatakan bahwa anaknya berjanji untuk menghubungi beliau setiap hari, jadi ia melaporkan hal ini kepada polisi, dan ternyata mereka sudah ditemukan tidak bernyawa dan membusuk. Oh Sehun duduk bersila di dekat bekas api unggun, tanpa ekspresi. Disampingnya terdapat mayat Xi Luhan yang menganga dan membusuk."
Kibum mengangguk mengerti. Sedangkan Jinki tetap pada pandangannya menembus kaca.
"Sepuluh orang lain terbukti dibunuh oleh Luhan, sedangkan Luhan sendiri bukan dibunuh oleh Sehun."
Kibum masih menatap Taemin. "Apa dia bunuh diri?"
Taemin menggeleng. "Tidak ada tanda bunuh diri. Mulutnya menganga lebar dan matanya memutih sepenuhnya. Dan juga bukan serangan jantung."
Reaksi yang diberikan oleh Kibum adalah tatapan kaget dan bingung.
"Apa motifnya?"
Disaat keduanya saling menatap, suara pelan Jinki menyita perhatian. Mereka melihat Jinki yang menyentuh dinding kaca dengan telapaknya dan memandang keluar.
"Itu yang berusaha kita cari, bukan?" tanya Kibum.
Jinki menggeleng perlahan. "Ganjil. Kurasa ini jauh berbeda dengan kasus biasanya."
Diluar, kilat mulai berhambur menembus awan, seperti membelah langit. Awan hitam berkumpul. Sepertinya akan ada hujan besar.
Apakah ini... pertanda?
.:o~o:.
"Kenapa matanya bisa menghitam seluruhnya? Setahuku gejala buta bukan seperti itu." Minho menyesap kopinya sedikit.
Suasana di cafetaria lantai satu itu tidaklah ramai seperti biasa. Mungkin orang-orang lebih suka pada kesibukkan dan tugasnya, daripada untuk mengistirahatkan diri sejenak hanya dengan sekedar meminum kopi. Berbeda dengan Minho dan Jonghyun yang duduk di samping jendela, lalu asisten laboratorium analisis darah yang duduk di sudut kanan dan dua orang staf yang mengobrol di sudut lain.
"Mirip iblis di film horror yang sering aku sewa." kata Jonghyun, lalu melirik keluar. "Lihat. Pers berusaha menerobos masuk. Berbagai stasiun televisi berebut untuk mendapatkan berita tentang Oh Sehun."
Minho mengangguk. "Sial. Sepertinya dia memang pesulap."
Duar!
Lalu suara petir menginterupsi.
"Kalau dia pesulap, kenapa tidak meloloskan diri?"
Minho mengangkat bahu dan menyesap kopinya. "Bukan urusanku."
"Kau ini detektif atau bukan?" Jonghyun memutar kedua bolamatanya.
"Aku lebih tertarik kalau tersangka utamanya wanita cantik. Namja cantik juga tak apalah."
Jonghyun terkikik. "Xi Luhan. Dilihat dari mayatnya, dia cantik. Dia sepupunya Henry Lau Super Junior bukan? Dia pernah tampil di KBS."
"Masalahnya, dia sudah mati."
Duar!
Petir kembali menggelegar di angkasa.
Minho berdecak kesal dan menatap keluar jendela. "Ini kasus aneh, sama juga seperti kematian DBSK beberapa pekan lalu."
.:o~o:.
Minho melirik Taemin yang menatapnya aneh. Ia mendesah pelan lalu menatapnya. "Ada apa?"
Taemin menggeleng pelan lalu menjauhkan pandangannya dari Minho. Ia memilih untuk memandang kaca dua arah yang menampilkan Sehun dalam ruangan interogasi, yang hanya tertunduk diam.
Minho mengangkat bahunya tidak peduli dan melangkah menuju pintu ruangan itu. Taemin meliriknya dari ekor mata. Dan merasa ketahuan, ia segera mengalihkan kembali pandangannya.
"Katakan saja jika ada yang mau kau bicarakan."
Taemin menundukkan kepalanya. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua sekarang.
"Tidak.." Taemin berbisik pelan.
Minho tetap diam, menatapnya. Menunggu ia berbicara.
Belum sempat Taemin melontarkan sepatah kata lagi, Jinki datang bersama dengan Kibum. Taemin mengangkat wajahnya dan menatap Minho.
"Baiklah, kalau tidak ada."
Minho meraih kenop pintu dan membukanya lalu masuk ke dalam ruangan interogasi. Taemin menarik napasnya berat lalu menatap keadaan di dalam dari balik kaca. Jinki berdiri di sampingnya sedangkan Kibum membereskan berkas di meja.
Di dalam ruangan Minho berjalan ke arah kursi di hadapan meja dan duduk menghadap Sehun. Sehun masih menunduk. Tangannya masih diborgol pada kursi. Lalu Minho melipat satu kakinya diatas kaki lainnya.
"Sudah mau bicara, Tuan Oh?"
Sehun tetap diam dan Minho masih menatapnya.
"Begini, aku ingin kau menceritakan kronologis dari semuanya. Atau mungkin, kau tahu alasan Luhan mengapa ia membunuh teman-teman kalian?"
Sehun tetap tidak bergeming.
Minho melirik ke arah kaca dua arah, bertanya apakah ia boleh kasar kepada Sehun atau tidak.
Ada dua ketukan lembut dari balik kaca itu. Artinya; tidak.
Minho memutar kedua bolamatanya, lalu menatap Sehun kembali.
Dibalik kaca itu Taemin masih memperhatikan keduanya. Jinki meliriknya sedikit, lalu menepuk pundaknya.
"Ada apa?"
"Hm?" Taemin menanggapi. "Tidak ada apa-apa."
"Jinki..." Jinki berbalik, menatap Kibum yang berjalan ke arahnya seraya memberikan beberapa berkas. "Tidak ada penjelasan logis mengenai air mata hitam."
"Ada kasus seperti ini sebelumnya?" Jinki menerima berkas itu.
"Tidak ada." Kibum memperhatikan Jinki yang membaca deretan kalimat pada lembaran-lembaran. "Di Korea tidak pernah ada."
Jinki meliriknya. "Negara lain?"
"Ada di Jerman." Kibum berdeham. "Kasus ditutup karena tidak ada pemecahan."
"Pelakunya?"
Kibum mendesah pelan.
Taemin hanya memperhatikan gerak-gerik Minho di dalam sana, yang berusaha untuk melakukan komunikasi dengan Sehun.
Jinki menatap Kibum perlahan—karena tidak mendapatkan jawaban. Kibum menatapnya dengan tanpa harapan.
"Mati."
Di dalam sana, Minho memukul meja lumayan keras.
"Aku minta kau bicara!"
Sehun tidak menjawab apapun. Hanya diam. Sejak tadi tidak ada perubahan. Suara yang menjawab Minho hanya benturan borgol dengan kursi yang terkadang terdengar samar.
Minho mencondongkan tubuhnya. "Begini, Tuah Oh Sehun. Kami membutuhkan penuturan Anda untuk kasus ini. Mau tidak mau Anda harus membantu kami. Kecuali jika Anda bisa menghidupkan kembali teman-teman Anda yang sudah meninggal." Minho memandangnya sinis. "Atau mungkin benar tentang desas-desus bahwa Anda adalah seorang pesulap?"
Sehun tetap tidak bersuara.
Kibum dan Jinki mulai mengalihkan pandangan mereka ke arah kaca dua ara itu, untuk memantau apa yang dilakukan Minho. Sudah cukup mereka mengenal Minho yang emosional. Agak ragu juga meminta Minho untuk mengintrogasi, seharusnya mereka memberikan tugas itu pada Taemin atau Jinki.
Minho menarik napas dan melirik ke arah lain, mencoba meredam emosinya. Tapi semakin lama kegiatan ini terasa memuakkan. Mau Sehun menyembunyikannya selama apapun, pihak kepolisian akan melakukan sesuatu yang munngkin kasar untuk membuatnya bicara.
"Kau takut dakwaan bersalah? Kau takut dihukum atau mendekam di penjara?"
Tapi pertanyaan itu lagi-lagi tidak mendapatkan jawaban.
Taemin berniat masuk melihat Minho yang sepertinya tidak bisa menghadapi Sehun. Namun pergerakannya terhenti saat—
Brak! Klik!
Minho menggebrak meja dengan tangannya dan pintu yang terkunci sendiri dalam waktu bersamaan.
Jinki dan Taemin saling menatap lalu bergegas mendekati pintu ruangan itu dan mencoba membukanya. Namun itu benar-benar terkunci. Kibum yang kaget pun berusaha untuk tidak panik, dan mencari kunci di meja yang cukup berantakan.
Minho menelan ludahnya; melirik ke arah pintu lalu ke arah Sehun yang masih diam.
"A-apa-apaan ini?!" Minho agak berteriak, menatap ke arah kaca dua arah dan bicara pada orang-orang yang menunggu di luar.
Tapi Sehun tetap diam.
Minho berdiri perlahan, ia rasakan kakinya bergetar. Dengan agak berlari ia menghampiri pintu, cukup cepat sampai ia tersandung.
Bruk!
Oleh sesuatu yang tidak kasat mata.
Terdorong oleh panik, Minho segera bangkit ke arah pintu lalu mencoba membukanya. Tapi sialnya pintu itu benar-benar terkunci.
Jari-jari Sehun bergerak patah-patah, lalu kukunya bergesekkan dengan lengan kursi yang terbuat dari besi; menghasilkan bunyi kriet! yang menyakitkan pendengaran.
"Yah! Buka pintunya!"
Bugh!
Minho tertarik oleh suatu kekuatan hingga terpelanting jauh dari pintu, dan tubuhnya menabrak dinding. Minho meringis dan berusaha berdiri, tapi sesuatu mendorongnya kasar hingga menabrak dinding lainnya.
Di luar ruangan, Jinki mencoba mendobrak pintu sedangkan Kibum masih berusaha mencari kunci. Taemin melirik ke arah kaca dua arah itu dan membulatkan matanya.
"Minho! Astaga!"
Jinki dan Kibum melirik ke arah kaca dua arah itu dan cukup tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Minho masih meringis di dalam ruangan, tapi dia terdorong lagi ke sisi lain. Kemudian—
Krak!
"Aaaaaghh!"
Kaki kanan bawahnya menekuk dengan sendirinya dan membuat tulang keringnya patah hingga menembus keluar.
"H-hubungi yang lain!" perintah Jinki.
Kibum melupakan mencari kunci dan meraih telepon untuk menghubungi staf lain—maupun Jonghyun.
Taemin mencoba meyakinkan dirinya bahwa yang ia lihat tidak nyata, tapi semuanya benar-benar terjadi di depan pandangannya.
Minho merintih sampai mengeluarkan air mata, dan bermandikan keringat. Sedangkan Sehun tetap diam di tempatnya—tidak ada pergerakan aneh sejak tadi.
"S-siapa kau s-sebenarnya?"
Tangan Minho mencoba memegangi kakinya yang mengeluarkan cukup banyak darah, tapi lagi-lagi tubuhnya terdorong dan menghantam dinding.
Bugh!
Lalu ia berdiri—tidak! bukan Minho yang melakukannya, tapi sesuatu yang tidak tampak. Minho semakin ketakutan, dan Taemin semakin panik di luar sana.
"C-cepat lakukan sesuatu, Jinki! Cepat!"
"Aku mencoba!" kata Jinki, dan masih berusaha mendobrak pintu walau bahunya mulai berdenyut sakit.
Dekat dengan dinding, kepala Minho membentur dinding berulang kali dengan sangat keras—suaranya sangat kontras terdengar. Lagi, dan lagi.
Minho merintih keras di dalam ruangan.
Kemudian kaki kirinya membengkok berlawanan arah dengan sekali hentakkan, membuat tulang keringnya ikut patah hingga menembus kulit.
"Aaagghh! Berhenti!"
Kemudian tubuh Minho terjatuh, namun karena tidak bisa menumpu, kedua tulang keringnya yang menembus keluar kembali patah—krak!—karena beradu dengan lantai.
Lima orang staf—polisi juga—masuk ke dalam ruangan itu dengan tergesa. Taemin sedikit bersyukur dan segera menunjuk ke arah kaca dua arah yang menampilkan adegan mengerikan. Semuanya tampakn terkejut namun teringat bahwa ini bukan saatnya untuk memikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi.
Jinki menyingkir dari pintu dan membiarkan mereka mencoba mendobrak.
Minho menggeleng dan menangis dengan kondisinya sekarang. Sehun yang tetap diam bisa melukainya separah ini.
"S-siapa kau? Ugh... a-apa semua ini?"
Tapi selalu tidak ada jawaban.
Minho merintih saat ia merasakan ada sesuatu yang menariknya kembali.
"Hentikan! H-hentikan!"
Kemudian tubuhnya terangkat. Darah mengucur dari kedua kaki, kepala bahkan hidungnya. Tubuh Minho terangkat menjauh dari lantai lalu terbanting .
Bugh!
Kemudian terbanting lagi!
Bugh!
Kemudian berlanjut berulang kali.
Taemin memukul-mukul kaca karena panik. Jinki menelan ludahnya tidak percaya sedangkan lima orang lainnya masih berusaha mendobrak.
Sampai akhinya—
BRAK!
pintu terbuka dan Taemin pikir ia bisa menyelamatkan Minho. Sampai pada detik itu juga seluruh lampu padam.
"A-apa?!"
Semuanya tampak hitam dan tidak terlihat—sialnya di ruang interogasi dan luarnya tidak terdapat jendela. Lima orang itu sepertinya melangkah masuk dengan hati-hati karena tidak ada suara gaduh—Minho yang dibanting ke lantai—terdengar.
"Kibum! Cari senter!" perintah Jinki. "Sial! Kenapa lampu darurat tidak menyala?!"
Tangan Taemin bergerak panik ke arah celana yang ia kenakan, mencoba mencari ponselnya. Tapi suara melengking dari kelima orang polisi mengalihkan perhatiannya sebentar. Taemin tetap berupaya meraih ponselnya, dan saat ia dapatkan, Taemin segera mengarahkan cahayanya ke arah kaca dua arah.
Minho sudah terbaring di lantai—tidak bergerak. Tak jauh darinya lima orang staf sudah terkapar berlumuran darah, tanpa nyawa.
Taemin membulatkan matanya dan mengarahkan cahaya ponsel ke arah dimana seharusnya Sehun berada.
Tapi tidak ada.
Deg!
Clap!
Lampu darurat berwarna ungu menyala di sekitar ruangan. Taemin memastikan pandangannya sendiri, dan Sehun memang sudah menghilang.
Jinki bergegas keluar dari ruangan itu dan mencari pertolongan, sedangkan Kibum berheti mencari senter dan menghampiri Taemin tergesa.
"S-sial! S-sebenarnya siapa dia?!"
Taemin menggeleng cepat dan memasukkan kembali ponselnya. Kibum kembali ke arah meja dan berniat untuk menghubungi staf keamanan.
Tapi pergerakannya terhenti saat Sehun muncul di hadapan wajahnya.
"K-Kibum!"
Taemin membulatkan matanya saat Sehun yang menunduk berada sangat dekat dengan Kibum. Taemin ingin menyelamatkannya, tidak sampai sosok itu mendorong Kibum menjauh tanpa sentuhan—sama seperti yang terjadi pada Sehun.
Bugh!
Tubuh Kibum terangkat lalu terdorong lagi ke dinding lainnya, lalu pada meja. Taemin yakin tulang pinggang Kibum akan terasa sangat sakit karena membentur ujung meja.
Ini bukan egois atau pengecut, tapi Taemin memilih untuk keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Kibum yang masih terbanting berulang kali.
"Sial! Sial! Sial!"
Taemin berhadapan dengan beberapa staf keamanan dan medis yang berlawanan arah dengannya, menuju ruangan tadi. Ada yang bertanya tentang keadaan di dalam, tapi Taemin menggeleng dan berusaha dengan cepat untuk pergi.
Lampu darurat terlihat kedap-kedip. Langkah Taemin di koridor terbilang sangat cepat untuk menuju tangga. Lalu disana dia bertemu dengan Jonghyun yang panik.
"Ada apa?!"
"Apa kau bertemu Jinki?" tanya Taemin.
Jonghyun menggeleng. Lalu Taemin menariknya untuk pergi meninggalkan lantai enam saat Jonghyun mau beranjak.
"Disana berbahaya!"
"Memangnya apa yang terjadi?"
Keduanya menuruni tangga menuju lantai lima dengan cepat.
"Sehun—dia, bukan! Sial! Dia membunuh Minho dan staf lainnya! Kibum juga!"
"Apa?!"
"Tapi semuanya menakutkan!" kali ini keduanya berhasil menuruni tangga menuju lantai empat. "Kita harus pergi!"
"Kita tidak bisa kabur!" Jonghyun menghentakkan tangan Taemin dan membuatnya berhenti. "Apa kau mau mermbiarkan orang lain juga mati?!"
Taemin menggeleng dengan jantungnya yang terpacu tidak terkendali.
"Jonghyun! Taemin!"
Keduanya mengalihkan pandangan pada Jinki yang muncul dari koridor di lantai empat itu.
"Bagaimana keadaan—"
"Tidak terkendali! Semua mati!" Taemin membentaknya. "Darimana kau?"
"Massa mencoba menerobos masuk!" Jinki menyuruh Taemin dan Jonghyun mengikutinya berlari di koridor lantai empat. "Lihat!" lalu menunjuk dinding kaca.
Taemin dan Jonghyun menuruti ucapan Jinki dan melihat bagaimana liarnya mereka yang mencoba untuk menerobos masuk. Lalu mata kamera yang mengarah ke atas, berusaha mendapatkan gambar apapun yang bernilai.
Clap!
Lampu darurat padam, namun kondisi itu tidak terlalu berpengaruh karena cahaya dari luar yang membantu penerangan.
Duar!
Setelah suara petir, suara teriakan demi teriakan terdengar dari lantai di atas mereka—lantai lima. Jujur saja Jinki, Jonghyun dan Taemin ketakutan. Tapi mereka berusaha untuk menemukan jalan apapun.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini? Apa yang harus kita lakukan?!"
Bugh! Prang! Bugh!
Dan perhatian mereka tersita oleh suara gaduh yang tiba-tiba tercipta di ruangan itu. Meja, kursi, komputer dan alat lainnya terbanting ke arah lantai.
"Kita harus pergi dari sini!" seru Jonghyun, lalu berlari lebih dahulu ke arah tangga.
Tapi disana ada Sehun yang turun dari lantai 5 dan berjalan mendekat.
Jonghyun memundurkan langkahnya, mendekat pada Jinki dan Taemin.
"S-shit!"
Tubuh ketiganya bergetar karena takut. Sehun berjalan di koridor itu, dan bersamaan dengan langkahnya, kaca-kaca dinding mulai pecah satu-per-satu.
Mereka yakin kaca-kaca pecah yang berjatuhan itu bisa saja melukai kumpulan pers yang berada di luar gedung—terbukti saat terdengarnya jeritak sakit dan ketakutan dalam skala yang besar.
Tapi Sehun berjalan sambil menunduk, walau mereka yakin ada cairan hitam yang menetes dari mata seiring langkahnya.
"K-kita harus—"
Crak!
"—aaagh!"
Ucapan Jonghyun terganti oleh rintihan sakit saat satu dari beberapa pecahan kaca yang tersisa di sisi melayang dan menusuk tepat di bawah matanya. Bibir Jonghyun bergetar, berusaha menarik kaca itu menjauh, tapi suatu dorongnya membuatnya semakin masuk.
Crak!
Jinki yang panik menarik Taemin untuk berlari, tapi keduanya terjatuh karena dorongan dari sesuatu.
Tubuh Jonghyun ditarik mendekat ke arah Sehun, lalu beberapa pecahan kaca lain melayang, berkumpul menjadi satu dan kemudian menusuk ke dalam mulut Jonghyun.
Crak! Krett!
Taemin merintih dan berusaha bangkit, begitupula dengan Jinki. Mereka tidak peduli Jonghyun masih hidup atau tidak, tapi suasana ini begitu membuat mereka ketakutan.
Ada banyak suara di luar sana; teriakan panik orang-orang, massa yang berebut mengabil gambar, sirine polisi, ambulance lalu teriakan dari pengeras suara.
Taemin berhasil bangkit, namun kakinya tertarik ke belakang dan dia terantuk lantai. Kemudian tubuhnya tergusur ke arah Sehun, lalu terangkat.
Sehun masih menunduk, lalu mengarahkan tangannya ke atas dan menebaskannya ke samping. Taemin terlempar keluar jendela dan Jinki tidak tahu nasibnya.
Jiniki bangkit dan berlari. Sehun menggerakkan tangannya kaku, lalu berjalan ke arah Jinki berlari. Langkah Jinki berhasil melewati barang-barang yang berjatuhan. Targetnya hanya satu—tangga. Tapi ia perlu memutar untuk mencapainya karena jalan lain untuk menuju kesana terhalang Sehun.
Tapi kemudian tubuhnya seperti tertarik oleh sesuatu, dan kemudian terbanting ke arah meja. Jinki merintih dan sadar bahwa tubuhnya tertarik lagi, ke arah belakang dan kemudian terjatuh di depan Sehun.
Bugh!
Jinki merintih. Jarinya berusaha meremas lantai—kukunya bergesekkan—dan berusaha bangkit. Tapi Sehun membantingnya lagi.
"A-apa—apa yang kau inginkan?!"
Sehun menunduk lalu menarik Jinki kemudian mencekiknya. Jinki membulatkan mata, tepat saat Sehun menatapnya.
Matanya hitam penuh dan mengeluarkan cairan hitam.
Dan Sehun menyeringai.
Jinki terbatuk beberapa kali dan mencoba melepaskan. Kemudian dia meliriik ke bawah, lalu menendang kaki Sehun.
Tapi hal itu malah membuat Sehun terjatuh menimpanya.
Bagh!
Jinki tidak memperkirakan dirinya akan jatuh, dan itu tepat menuju dinding kaca yang sudah pecah. Tapi sialnya beberapa pecahan masih menempel kokoh pada tempatnya, jadi punggungnya tertusuk pecahan itu.
Sedangkan bagian bahu dan kepalanya tidak menyentuh lantai. Berada di sisi luar, Jinki menyadari saat angin berhembus kencang.
Lalu air mulai berjatuhan dari langit, seiringan dengan suara petir yang menggelegar.
Dan Sehun masih mencekiknya.
Jinki merontak dan berusaha melepaskan cekikannya itu, tapi semakin ia bergerak, cekikannya semakin kuat. Jinki bisa mendengar teriakan dari bawah sana—mereka menyakiskan bagaimana Jinki dicekik oleh Sehun.
Hujan turun semakin deras. Jinki terbatuk tidak terkendali saat cekikan itu menguat.
Namun ia memiliki sebuah ide.
Mungkin jika ia mengorbankan dirinya, semuanya bisa berhenti.
Jinki berusaha memutar tubuhnya, tapi kesulitan karena punggungnya tertusuk pecahan kaca yang menempel. Tapi ia menggunakan kakinya, berusaha menendang Sehun. Lalu tangannya beralih meremas lengan Sehun, dan dengan tenaga yang tersisa ia menarik Sehun terbalik dan melemparkan ke luar gedung.
Tapi Sehun menarik tubuh Jinki—membuat punggungnya tersayat kasar oleh pecahan kaca—dan membuat keduanya jatuh dari lantai empat.
Tubuh keduanya jatuh, menimpa massa yang tidak sempat menghindar.
Tapi setidaknya, Jinki membuatnya berhenti.
Itu yang Jinki pikirkan sebelum napas terakhirnya dihembuskan.
Hanya saja Jinki tidak tahu, bahwa yang terhempas ke tanah hanyalah ia.
Tidak ada Sehun disana.
.
.
.
.
Kita lihat lanjutannya di SAW VII okaaaaa
Req siapa pemainnya? :3
Cewe yaaaa, biar rame mweheheh
Sebelumnya maaf karena lama sekali menunggu ff ini
Karena entah kenapa saya jadi susah ngefeel sama SHINee ;;
HUWE MIANHAEYOOOO
MAAF KALAU JELEEEK
But, please respect :'
Oh ya, hari ini aku post ff lain juga:
URBAN LEGEND
PHENOMENON 3
Jangan lupa baca ff-ku yang lain yaaaaa :D
MOTHERFUCKER
SINFULLY DELICIOUS
TEENAGE: LOVE, LIES AND LUST
review pweaaaaaaseee
