Title : Unbeatable (Imperfection) [OVA]

Author : Enma R. Eyes

Rating : K-T

Genre : Romance, family

Pairing : Akashi Seijuurou x OC (You)

Disclaimer : Kurobas milik Fujimaki Tadatoshi, this plot is mine

Warning : FF lanjutan sekaligus selingan dari FF sebelumnya 'Unbeatable (Imperfection)' *bisa diklik dari profil ya ceritanya* dan ini special chapter yang berisi tentang bagaimana awal hubungan Akashi x OC (You), semuanya berisi flash back. Sangat direkomendasikan untuk membaca FF sebelumnya tapi ga usah baca yang sebelumnya juga gapapa sih ._.v sunnah kok hukumnya(?)

Yah tetep OOC sih kadang, terus kalo ada typo-typo gitu ya maap ye.. kemudian ini adalah FF yang tetep nista dan murni hasil imajinasi suka-suka aoethor, moga suka ye~~ happy reading, ciiin(?) #tebarluckyitemmidorima :3


chapter 5.4: Childhood [2 of 2]

## Flash Back ##

Akashi Seijuurou POV –

Anak perempuan itu terus memandangiku tanpa henti. Kedua tangannya yang terpangku membuatnya semakin asyik memandangku. Aku berusaha untuk tidak memperdulikannya. Aku pun hanya bermain dengan bidak-bidak shogi hingga mama gadis itu datang.

"Tuan putri, berhenti untuk mengganggu Akashi, kau ini ya..."

"Aku nggak gangguin Seijuurou kok ma, aku dari tadi cuma diem ngeliatin dia" ia menoleh pada mamanya dan bibirnya mengerucut dengan kedua pipinya yang digembungkan.

Sejenak aku melihatnya, oh dia imut juga rupanya.

Sadar gadis berbaju loli itu akan kembali memandangku, aku pun segera bermain dengan bidak-bidak shogiku lagi.

.

.

"Aku suka sama Seijuurou.. Seijuurou sangat tampan, Seijuurou juga manis!" gadis dengan rambut yang dikuncir dua ke bawah itu tiba-tiba berseru. Aku hanya dapat diam melihatnya.

"Ya ampun, tuan putri... kamu ini ya selalu saja bersikap yang aneh-aneh" mama gadis itu segera datang menghampirinya. Aku sendiri masih bungkam karena bingung harus bereaksi seperti apa.

"Hahaha tuan putri benar-benar menyukai Seijuurou ya, aduh imutnya... Seijuurou, gimana? Barusan ditembak tuh," aku segera menoleh karena okaa-san memegang kedua pundakku.

Aku pun kembali melihat gadis yang mengenakan dress berwarna soft pink itu lalu tangan kananku mulai membelai rambut bergelombangnya. Aku tidak tahu harus bereaksi apa. Karena kupikir rambutnya indah dan aku menyukainya makanya aku hanya bisa membelai rambutnya lembut.

Wajahnya sudah terlihat memerah dan okaa-san terlihat begitu senang dengan apa yang kulakukan. Aku pun hanya tersenyum tipis.

.

.

Malam ini aku ingin bermain bola basket di samping rumah. Aku pun berjalan menyusuri koridor tapi suara otou-san membuat langkah kakiku terhenti. Aku pun bersembunyi di balik dinding dan mulai mendengarkan obrolan otou-san dengan tamunya.

"Oh, apa kau akan membawa keluargamu juga?"

"Ya, aku akan membawa istri dan anakku, senpai"

"Ehm begitu. Untuk berapa lama memangnya? Lalu kapan berangkat?"

"Sebenarnya aku tidak tahu tepatnya sampai berapa lama aku disana, tapi sepertinya bukan untuk waktu yang singkat. Mungkin paling cepat lima tahun dan minggu depan aku sudah harus meninggalkan Jepang."

"Inggris ya? Itu negara asal istrimu, kan? Tidak apa-apa, kurasa kau pasti bisa beradaptasi dengan baik disana"

"Ya benar hehe mereka bilang mereka membutuhkan keahlianku makanya aku dipindahtugaskan disana untuk mengurusi marketing di Eropa, ya mau bagaimana lagi, senpai"

Kepalaku langsung tertunduk. Mataku menatap bola oranye yang berada dalam genggamanku. Seketika otakku segera dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang mengusikku. Aku pun segera kembali ke kamarku.

Sesampainya di kamar, segera kututup pintu kamar dan melempar bola oranye itu ke dalam sebuah keranjang, tempat biasa aku menyimpan bola itu. Lagi-lagi aku menundukkan kepalaku. Otakku hanya melintaskan wajah gadis itu.

Dia akan pindah? Ke Inggris? Kenapa? Kenapa jauh sekali? Kenapa juga harus mendadak? Minggu depan...?

Kedua mataku segera melirik beberapa bingkai foto yang ada di kamarku. Satu diantaranya adalah fotoku dengannya. Foto itu baru saja diambil sekitar dua bulan yang lalu. Saat kedua keluarga kami berlibur ke Hokkaido. Sebuah kebun yang dipenuhi dengan bunga Moss pink dan Shiba sakura menjadi background foto itu. Ya aku dan dia sedang mengunjungi Hokkaido Garden waktu itu. Dia yang mengenakan kaos berwarna hijau tosca dan rok selutut berwarna putih berdiri begitu dekat denganku. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia dan aku yang mengenakan kaos berwarna merah bata dengan celana pendek berwarna coklat tua hanya tersenyum tipis.

Aku menyukainya.

Aku menyukai gadis itu tapi aku belum pernah mengutarakan perasaanku padanya. Selama ini yang kutahu ia juga menyukaiku. Terbukti dengan kejadian tempo lalu saat ia mengutarakan tentang isi hatinya tapi aku hanya bisa membelai rambutnya. Bahkan tanpa memberi komentar apa aku juga menyukainya atau tidak.

Mungkin aku sedikit terlambat menyadarinya. Ya menyadari kalau ternyata aku juga menyukainya. Disaat kupikir semuanya akan berjalan baik-baik saja seperti biasanya. Aku dan dia yang selalu bersama. Dia yang selalu menyukaiku. Dia yang selalu tersenyum senang di depanku tapi sepertinya itu semua hanya keinginanku. Lalu bagaimana? Jadi, aku akan sendirian sekarang..? Apa benar aku akan sendirian?

Aku tidak mau.

.

.

"Seijuurou, tolong kemari! Otou-san ingin memberitahumu sesuatu" ayah memanggilku dan aku pun hanya berjalan menghampirinya.

"Ada apa, otou-san?" aku bertanya.

"Sini, duduk disini" ia menepuk tempat disebelahnya menyuruhku duduk.

Aku pun kembali memenuhi perintahnya. Aku duduk disamping otou-san. Tak lama okaa-san juga duduk disampingku.

"Begini, mungkin ini terlalu cepat untukmu, Seijuurou" otou-san menatapku dalam. Aku pun hanya dapat mendengarkannya. "Otou-san sudah memutuskan untuk mengadakan perjodohan untukmu dan itu akan dilaksanakan pada akhir pekan ini" sambungnya membuatku diam membatu.

Kenapa? Perjodohan apa? Aku bahkan masih kecil. Umurku masih tujuh tahun dan aku tidak tahu siapa yang akan dijodohkan ayah denganku. Ayah, aku hanya menyukai dia, bukan yang lain.

"Otou-san akan menjodohkanmu dengan anak dari sahabat otou-san. Kau sudah mengenalnya dengan baik. Dia adalah tuan putri, teman sepermainanmu" setelah itu aku pun hanya memandang otou-san. Awalnya, dengan pandangan shock tapi tak lama sebuah senyuman kemenangan segera muncul di raut wajahku.

"Kau tidak keberatan kan, Seijuurou?" tanya otou-san padaku dan aku pun hanya menggeleng.

"Tidak apa-apa, otou-san." dan aku pun menunjukkan senyumku di depan kedua orang tuaku. Kulihat okaa-san tersenyum lega dan otou-san menepuk pundakku sesekali.

"Otou-san bangga padamu, Seijuurou. Kau memang anak yang baik".

.

.

"Seijuurou kenapa? Seijuurou pasti nggak suka ya sama aku? Ehm nggak apa-apa kok, Seijuurou bisa bilang sama papa jadi acara perjodohan kita bisa batal"

"Bukan itu..." langkah kakiku tiba-tiba terhenti membuat gadis itu menabrak punggungku dan mengaduh kemudian dia kembali bertanya, "T-terus...?"

Saat itu aku tak langsung menjawab. Aku mengatur nafasku. Dapat kurasakan jantungku berdetak tak karuan. Ah gadis di belakangku ini... ia benar-benar membuatku gila.

"Aku juga suka sama kamu makanya aku nggak mau batalin perjodohan ini" akhirnya aku bisa mengutarakan perasaanku selama ini. Sempat aku berpikir bahwa mungkin aku tak pernah punya kesempatan untuk melakukannya.

Kini aku bisa melihatnya. Kedua matanya menatapku seakan tak percaya. Aku juga dapat melihat bahwa kedua matanya mulai berkaca-kaca. Oh, tolong jangan menangis dan aku pun mulai membelai rambutnya lembut. Aku memang suka membelai rambutnya.

Sejenak tak ada yang bersuara. Begitu hening dengan hembusan angin yang menerpa wajah kami.

"Nanti di Inggris, jangan pernah suka sama anak laki-laki manapun ya dan jangan lupa untuk terus menghubungi Seijuurou. Yang paling penting... jangan pernah berhenti untuk menyukai Seijuurou." aku pun tersenyum manis padanya. Karena ia akan pindah besok, tak lupa aku memberinya pesan.

"S-Seijuurou" dapat kudengar bahwa ia memanggilku dengan suaranya yang bergetar. Dia pun menangis. Kepalanya tertunduk dengan kedua bahunya yang naik-turun. Aku kembali tersenyum kecil dan segera kuhapus air matanya.

Aku mendapatkan tatapan kaget itu sekali lagi. "Kenapa menangis? Harusnya kau senang, kan?" aku bertanya sembari menunjukkan senyumanku padanya.

"Aku senang kok. Aku senang Seijuurou menyukaiku. Aku akan terus menyukai Seijuurou meski aku tak ada disini, Seijuurou tenang saja" gadis dengan dress berwarna putih itu ikut tersenyum. Aku balas tersenyum padanya.

Hubungan diantara kami pun dimulai semenjak hari itu. Aku yang menjadi seorang pangeran dan dia yang menjadi tuan putri. Aku pikir Tuhan pasti telah merencanakan ini semua. Benang merah yang telah terhubung ini semoga tidak akan pernah putus. Sampai kapanpun, aku ingin tetap bersamanya. Aku menyukainya, sangat menyukainya.

Meski untuk waktu yang bahkan aku tak tahu pasti aku tak bisa menemuinya tapi aku yakin suatu hari dia akan kembali. Dia akan kembali padaku dan disaat itu, separuh dari hidupku pasti akan terasa sempurna. Ya dengan kembalinya dia di sisiku.

Because I love you so... I think I can't lose you, ever

This relationship is a gift from God and I will keep it well

Nobody can't steal it from me, no one

Akashi Seijuurou POV end –

## Flash Back end ##

##F.I.N##


A/N: yohaa! finally update juga ini OVA tralala~ sudah complete ya ^^

hmm yg part 6 juga sudah saya buat, tinggal edit-edit dikit dan posting, smoga readers tidak kehilangan antusiasme-nya ya *ih author ngarepnya ketinggian deh -_-" #timpuksaya *-*

baiklah, silahkan berikan pendapat anda semua tentang panpik nista ini, smoga ga ada yg gegar otak ringan(?) karena baca panpik saya yg abal semua T^T huweee

btw chap ini kan 5.4 itu kebetulan sama dengan no jersey aoaka.. 5 itu abang mine, 4 abang juuro ^^ wkwkwk *ok abaikan intermezzo ga penting ini -..-

oh ya ini balesan untuk yg ga sign in, yg pake akun, ane udah bales tjoyy~

aoki: iya adaaa ^^ gatau juga knapa saya bikin OVA #tuing~ cieee AkaOC(?) hoho untuk aokise-nya nanti aku kasih cupris(?) deh jiahaha *maaf akhir-akhir ini saya mulai labil, tolong dimaklumi, nee~ :(

baiklah seperti biasa, ucapan terima kasih buat yg udah mau baca, trus follow juga, fave juga, aduh saya terharu :"( terima kasih untuk para kolega(?), aoethor tjintah kaliandt, nanoedajo!

last...

R

E

V

I

E

W