―Kalau saja di kisah ini kita bisa mengukir kenangan manis bersama ...―

―Tapi aku tidak tahu apa kisah tersebut akan berlangsung demikian ...―

Sleeping Beauty

Cardfight! Vanguard belong to © Bushiroad & Itou Akira

This fiction belong to © Kuroko Milkshake Milkyland / Hyucchi

Chapter Two from Fourshoots.

Rate: T

Genre(s): Romance―Fluff, Parody, Humor, etcs.

WARNING(!):
Possitive!AU, Shounen-Ai, Parody, Failed Humor, Ultimate OOC, (beberapa) bahasa/kata nggak baku, etcs.

Don't Like Don't Read

Enjoy Reading~

.

.

Setelah menunggu cukup lama untuk bisa menjinakan kedua peri legendaris yang entah kenapa jatuh cintrong sama peri ketiga, akhirnya Kenji mentitah mereka untuk memulai upacara doa pemberkatan kepada putra mereka, Sendou Aichi. Seisi undangan yang mengisi sepanjang meja makan pun rela menghentikan acara makan daging kerang ajaib, hanya demi melihat proses upacara pemberkatan berlangsung.

Penasehat Kenji, yaitu Gai, memberi tanda kepada komposer musik yang berada di sisi ruangan untuk memainkan sebuah lagu klasik untuk mengiringi―

Je-Jreng Je-Jreng~

Tet Tot Tet Tot Tet―

'Ehbuset, lagu apaan tuh!?' Kenji, sang raja, hanya mampu melongo dengan tidak elitnya ketika musik mulai mengiringi ke seluruh penjuru ruangan. Tidak hanya dia, seisi undangan pun speechless dan sweatdrop dibuatnya. Dibanding lagu klasik, ini lebih mirip dengan lagu tarian samba yang diaduk-aduk dengan sirine ambulan dan iringan tamborin.

Ketiga peri yang sudah berbaris di posisi tanpa sadar melalukan facepalm secara serempak karena kehinaan lagu yang akan mengiringi tugas mereka. Nggak elit banget, ratusan tahun sekali mereka bisa dipanggil datang. Itu pun sempat melawan guna-guna dari paranormal brengsek yang diutus oleh Kenji. Pakai lagu Titanic kek, lagu You Raise Me Up kek, lagu Ennie Mennie kek. Eh ini, terlalu hina, bikin telinga yang tidak kuat tuli seketika,―sekalian saja mereka pakai rumbai-rumbai terus menari tarian Hawaii.

"Yu-Yuri, sepertinya ada kesalahan dengan lagu pengiringnya―" belum sempat sang raja memprotes kepada orang yang menyerahkan teks lagu kepada komposer―alias pelaku yang membuat Kenji malu di hadapan puluhan tamu―, Yuri meletakan telunjuknya tepat di depan bibir sang suami.

"Kau ini ngomong apa, sih, Kenji? Ini lagu yang sudah kupersiapkan dari jauh-jauh hari demi mengiringi pemberkatan putraku. Lagu yang sudah ku-mixing dan ku-remix pakai blender tujuh hari tujuh malam. Hebat, 'kan? Iya, 'kan?" dan pertanyaan dengan wajah bersemangat dari Yuri hanya mendapat respon wajah tolol suaminya. Sepertinya pikun Kenji kembali kambuh.

"Hah?"

Bletak.

"Aaargh!" Kenji berteriak dengan tidak elitnya saat rambut emasnya dipukul dengan panci ukuran jumbo, yang entah dari mana. Yuri menatap suaminya dengan tatapan singa garong.

"Ini lagu drama kesukaanku, Kenji! Lagu drama! Masa kau tidak tahu drama favorit istrimu sendiri!?" Yuri menggoncang-goncangkan kerah baju Kenji dengan frekuensi tinggi. Sehingga orang yang melihat Kenji sekarang mengira sang raja sedang melakukan teknik seribu bayangan(?).

"Dra-Drama? Drama a-apa? A-Aku tidak tahu, Yuri, sungguh. Ta-Tapi sekarang bukan acara fansmeeting, tapi pemberkatan putra kita―"

"Jangan banyak cincong! Kamu tidak tahu, sungguh keterlaluan! Ini 'kan drama kesukaanku, Kenji! Drama Ukik Ukik Cinta―"

Dan seketika seisi ruangan hening, termasuk para komposer yang berhenti memainkan lagu tidak senonoh tadi.

'Ukik? Itu bukannya bahasa monyet, ya?'

'Jadi kita disamakan dengan monyet?'

'Sejak awal aku tahu kalau ada yang tidak beres dengan raja dan ratu negeri ini.'

Karena suatu hal, adegan pun kembali diulang dari penasehat yang memberi tanda kepada para komposer untuk mulai mengiringi lagu. Abaikan cacing gila―ah, maaf, salah dialog. Maksudnya abaikan sang ratu yang menggeliat seperti cacing gila di pojok ruangan karena diikat hidup-hidup. Yuri yang tidak menerima kalau lagu pengiringnya diganti, mau tidak mau diikat dengan selotip bermotif bintang warna-warni dan dibiarkan di pojok ruangan oleh Kenji.

"NGGH! MMMMH! UUUNGH! NNNGH!" semua tamu yang tanpa sengaja mencuri lirik ke arah ratu kerajaan hanya mampu sweatdrop. Seumur-umur mereka datang ke jamuan istana, hanya di Kerajaan Royal Paladin yang ratunya diperlakukan seperti tahanan hina.

"Upacara pemberkatan dimulai. Ketiga peri legendaris, melingkupi Daigo, Takuto, dan Leon satu persatu akan maju mendekati Sendou Aichi dan memberikan doa berkat kepadanya," pastur berkulit maskulin dan rambut bagaikan iklan shampoo bernama Ezel pun mulai memberi aba-aba. Lagu pengiring―yang sudah diperbaiki naskah teksnya―mengalun dengan indahnya.

Dengan percaya diri, peri pertama dari ketiga peri legendaris yang bersurai coklat pun maju dari barisan. Tapi sebelumnya ia terlebih dahulu menginjak kaki peri di sebelahnya dengan kekuatan yang setara dengan badak. Membuat wajah empunya yang semula tenang langsung berubah menjadi ornamen bengkak.

'Daigo brengsek! Balas dendam, sih, balas dendam, tapi jangan injak kakiku di tengah acara juga!' maki Takuto dalam hatinya. Ingin ia mencakar Daigo hidup-hidup sekarang. Tapi mengingat mereka berada di tengah acara, ia pun mengurungkan niatnya. Mungkin setelah acara selesai baru ia menyeret Daigo lalu memasukannya ke dalam kloset hidup-hidup.

"Hai, bayi mungil. Aku, Daigo, akan memberikan pemberkatan pertama padamu~," lalu peri bermata coklat itu mulai mengayung-ayungkan tongkat ajaibnya di atas Aichi. Semua pasang mata memandangnya dengan serius, sampai-sampai diameter matanya menjadi lima sentimeter.

Sring.

Terlihat cahaya berwarna kebiruan mulai mengitari sang bayi. "Jadilah engkau anak yang sehat. Tumbuh menjadi sosok yang baik hati dan selalu ramah tamah kepada orang lain. Hatimu selembut kain sutera dan perawakanmu seindah bunga musim semi yang mekar~," seiring dengan berakhirnya doa yang diucapkan, sinar itu perlahan merasuki tubuh mungil yang masih tertidur tersebut.

Perlahan tapi pasti, bayi mungil itu membukakan kedua mata birunya, lalu tersenyum ke arah Daigo.

'ASTAGA ANAKKU, TERLALU ADORABLE DAN UNFORGETTABLE!' jerit Yuri dalam hatinya, terlalu bahagia melihat anaknya pertama kali tersenyum. Sayangnya bukan untuk raja maupun ratu yang merupakan orangtuanya sendiri. Jahatnya ...

Dan karena senyum mungil itu juga membuat semua tamu undangan mimisan massal entah karena apa. Kalau Yuri sudah kelepek-kelepek seperti ikan lele, dan semua tamu undangan nosebleed, apalagi Daigo yang melihat dari dekat? Peri tertinggi dari dua lainnya langsung meresleting(?) mulutnya dengan ekspresi tidak kuat. Dengan bergetar ia mundur dari posisi karena bagiannya sudah selesai.

"Ah, e-ehem. Berikutnya doa pemberkatan dari peri kedua. Peri kedua, di-dipersilahkan untuk maju," bahkan Ezel yang memiliki tatapan segarang singa melolong pun tidak kuat dengan senyuman beracun yang merupakan senjata pertama Sendou Aichi.

Takuto sempat menendang Daigo―dengan terang-terangan―sampai wajah tampan itu berciuman indah dengan bermeter-meter lantai, sebelum ia terbang mendekati ranjang bayi. Leon hanya cengo melihat sang peri pertama yang memamerkan pantatnya di depan umum karena ulah peri bersurai putih tadi.

'Persetan kau, Takuto!' gerutu Daigo seraya berusaha bangkit berdiri.

"Hei, bayi yang manis~, Takuto akan memberikan doa pemberkatan kedua padamu," peri bertubuh terkecil dari ketiga peri sempat memutar ranjang bayi sebentar seraya mengayungkan tongkat ajaib di tangannya. Tongkat itu terarah ke atas, sebuah cahaya berwarna kehijauan muncul dan berputar-putar di atas langit ruangan. Semua pasang mata tertuju ke sana.

"Saat kau besar kelak, kau akan memiliki suara emas yang indah. Dirimu diberkati dengan aura bersahabat yang mampu membuat makhluk hidup mana pun sayang dengan sentuhanmu." Aura kehijauan tadi langsung melayang menuju ranjang bayi, lalu menyelimuti tubuh mungil itu dan masuk ke dalamnya.

Mata biru Aichi mengerjap-ngerjap lucu sesaat, kemudian ia tersenyum untuk kedua kalinya. Bibir halus merah mudanya terbuka, "Da? Nya! Nya!" kemudian berseru untuk yang pertama kali, membuat Kenji dan Yuri bersamaan memasang wajah hina, karena sebelumnya Aichi hanya menangis saja jika bersuara pada mereka.

'DAMN! TOO CUTEEE!' tapi Yuri tidak mampu menahan keimutan putra kecilnya yang bersuara imut itu. Ia sudah tidak kuat. Hati ini tidak kuat lagi menahan keimutan putranya yang bahkan tidak sebanding dengan keimutan dirinya. Ampun, deh, ratu. Pedenya minta ampun.

"TOLOONG!"

"Ha-Hati ini sudah tak tahaan!"

Kemudian semua tamu pingsan dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Ternyata Aichi memiliki hissatsu kedua, yaitu suara unyu. Setelah tadi ia membuat persediaan liter darah tamunya menipis, sekarang bayi bermata biru itu sukses membuat semua tamu pingsan. Dan sebelumnya tolong abaikan sang raja yang masih memasang tampang tololnya.

"Se-Sebenarnya ada apa, sih? Pada main tembak-tembakan, ya? Kok aku nggak diajak?" kemudian sang raja bersurai emas langsung mendapat hadiah lemparan sandal dari Leon.

PLAK.

"AAAAAAARGHHHH!"

"Anu, bisa dilanjutkan acaranya, tidak?" tanya Ezel menyelah, yang ternyata selamat dari hissatsu suara unyu-nya Aichi.

Camera Stand By.

Setelah semua tamu kembali mendapatkan jiwa mereka, dan Takuto sudah kembali ke barisan peri lalu perang injak-injakan kaki dengan Daigo, acara pun kembali dilanjutkan. Ezel berdehem kalem sebelum mulai berkata, "Berikutnya doa pemberkatan dari peri ketiga. Peri ketiga diharapkan maju."

Dengan tenang dan kalem, peri yang mengundang tatapan beringas dari tamu laki-laki itu pun maju. Ah, abaikan bagian 'mengundang tatapan beringas dari tamu laki-laki' tadi, karena tamu tersebut langsung khilaf setelah mendapat tatapan yang lebih mengerikan dari Daigo dan Takuto.

Leon mendekat ke arah ranjang bayi dan melihat isinya yang tengah menggerak-gerakan tangannya dengan bersemangat. Sosok mungil tersebut menatap Leon dengan mata berbinar, peri bersurai pirang itu membalas tersenyum lembut ke arah Aichi.

"Nah, aku akan memberimu―"

BYUUUUSH.

Belum sempat Leon memberkati bayi mungil tersebut, tiba-tiba angin kencang tak bersahabat menembus masuk begitu saja dari jendela ruangan. Cuaca yang semula tenang kini berubah menjadi berawan gelap diiringi petir-petir yang menyambar. Abaikan rakyat-rakyat Royal Paladin yang sudah kalang kabut di luar karena panggung dangdutnya disambar petir.

JDAAR.

CTAR.

"A-Apaan ini?!" Yuri berseru dramatis―entah sejak kapan ia meloloskan diri―, ditambah efek zoom-in yang terlalu berlebihan, juga komposer yang langsung memainkan backsound sinetron bagian tegang. Setahunya tidak ada adegan ini dalam daftar acara, ia langsung memandang suaminya meminta penjelasan. Eh, tahunya sang suami sedang melamun dengan wajah gobloknya.

"DEMI KERANG MENARI, KENJIII! SAMPAI KAPAN SINDROM BENGONG TANPA ALASANMU TOBAT, HAH!?"

"Hah, apa!? Ada apa, Yuri!? Siapa yang menari!? Kerang siapa yang menari!?" kemudian Kenji langsung ditendang sampai kepalanya masuk ke dalam drum salah satu komposer. Sang komposer yang sudah tenang di posisi pewenya langsung jantungan karena tiba-tiba Kenji menabrak drumnya dengan kecepatan jet.

GUBRAAK.

"Ngepet, siapa yang berani-berani menganggu Leon-ku yang sedang melakukan pemberkatan, hah!? Tiada ampun! Akan kuberi jurus Tendangan Cahaya Bintang, baru tahu rasa dia!" Daigo sudah komat-kamit duluan seperti pedagang Cina hanya karena pemberkatan Leon terpaksa berhenti karena aura negatif yang mendadak terasa kuat di sekitar istana.

"Sabar, Daigo. Sepertinya aku mengenal aura negatif ini, tidak salah lagi," sahut Takuto dengan ekspresi seriusnya. Sementara Leon tidak bergabung bersama mereka berdua karena merasa harus melindungi Aichi sekarang.

"Lihat, ada bayangan hitam di sana!" salah seorang tamu menunjuk ke sebuah jendela besar di atas ruangan dengan takut-takut. Semua pasang mata mengikutinya.

CTAAR.

GLEGAAR.

BHUUUSH.

Dan dari jendela besar yang menganga itu tersebar asap hitam dalam kadar banyak, sampai-sampai seisi ruangan langsung sakit TBC. Batuk-batuk nggak karuan kayak orang yang tinggal menunggu 'dipanggil'. Kecuali Daigo dan Takuto yang bisa melindungi diri mereka dengan sihir. Plus Leon dan Aichi yang juga dilindungi sihir.

Ampun, deh, maunya ngelindungin diri sendiri.

"OHOHOHOHO! OHOHOHOHOHOHO!" dan tiba-tiba saja suara tawa mengerikan menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Semua pasang mata menatap horror satu sama lain.

"Si-Siapa 'tuh yang ketawa? Serem banget, kuntilanak saja ketawanya nggak semengerikan ini ..." salah satu undangan berkomentar dengan tidak berdosanya.

"APA!? SUARA TAWAKU YANG BEGITU SEKSI DAN INDAH INI, DIBANDINGKAN DENGAN SUARA KUNTILANAK!? TIADA AMPUN, KUKUTUK KAUU!"

JDAR.

Dan dalam hitungan detik, undangan berwajah (sok) tidak berdosa tadi langsung gosong seketika, kemudian berubah menjadi butiran debu dan hanya bersisa sepasang mata, seperti di kartun yang mengisahkan seekor kucing dan tikus yang kerjaannya bergulat tiap hari. Semua undangan dibuat getar-getir di tempat.

"GYAAAA! ADA BUTIRAN DEBU―Eh, salah dialog, maksudnya GYAAAA! DIA BERUBAH MENJADI BUTIRAN DEBUU!"

Sama aja, kek.

Semua pasang mata pun melihat ke atas dengan was-was. Makhluk macam mana yang tega-teganya mengacaukan acara suci putra mahkota Kerajaan Royal Paladin? Mungkinkah jin? Atau tuyul? Atau―oke, abaikan, karena sebentar lagi Supratno (nama disamarkan) yang masih tertutup asap hitam di atas sana akan menampakan diri.

"Daigo, Takuto, jangan-jangan dia―" belum sempat peri bersurai pirang yang tengah menjaga ranjang bayi berisikan Aichi menduga-duga, kedua peri lainnya menghampiri dengan ekspresi waspada.

"Iya, makhluk yang tinggal di wilayah 500 per menit itu. I-Ini mengerikan, darimana ia mendapat biaya ke wilayah Royal Paladin yang jaraknya bermil-mil dari kerajaan hitamnya?!" oke, Takuto semakin out of character, sampai dialog saja mulai salah sambung. Ia langsung dihadiahi lemparan sendal dari Leon, sehingga sekarang peri bermata ungu itu tidak beralas kaki lagi.

PLAK.

"A-Aduh!"

"Masalahnya bukan dia dapat biaya darimana, Rambut Sapu! Tapi untuk apa dia datang kemari!" Daigo ikut menasehati seraya menggeleng-gelengkan kepala. Ia sedikit menyesal karena telah menganiaya rival cintanya itu selama ini. Takuto menggaruk kepalanya dengan senyum kecil.

"Ma-Maaf, tapi―apa yang harus kita lakukan sekarang!? Dia membuat semua tamu undangan TBC!"

Mati saja kau, Takuto.

"HEI, KALIAN! RAJA KERING DAN RATU GURIH! AKU AKAN MEMBERI KALIAN PELAJARAN KARENA TIDAK MENGUNDANG AKU DALAM PESTA INI! AHAHAHAHAHA!" Supratno mulai menampakan diri dari balik asap tebal. Seisi ruangan terbelalak kaget.

GLEGAAR.

Petir semakin sahut menyahut. Asap tebal berwarna hitam yang semula redah pun kembali membabi buta hampir ke seluruh penjuru ruangan, diiringi tawa jahat sang penyihir kegelapan.

"AHAHAHAHAHAHAHAHA! AHAHAHAHA―ohok, ohok, ohok! Woi, Tono! Kurangin asapnya, Kampret! Ohok, ohok! AHAHAHAHA―ohok, ohok!"

"Tuh anak mau ketawa atau batuk, sih?" Leon hanya bisa speechless melihat bawahan bernama Tono tadi mulai mengurangi efek asap hitamnya.

"A-Anu, sepertinya Anda salah alamat. Kami memang mengadakan pesta, tapi bukan atas nama Raja Kering dan Ratu Gurih," Kenji selaku pemimpin negeri angkat bicara. Supratno langsung membelalak kaget.

"Be-Benarkah?" kemudian penyihir bertubuh pendek itu celingak-celinguk. Ia sweatdrop sendiri. "Oh, ma-maaf atas kekacauan yang kuperbuat, kalau begitu aku pergi dulu," kemudian ia mengibas jubah hitamnya dan pergi. Ralat, hampir pergi.

"Anu, Tuan, Anda nggak salah alamat. Cuma salah eja, yang benar Raja Kenji dan Ratu Yuri, bukan Raja Kering dan Ratu Gurih," salah satu bawahannya meralat. Kemudian Supratno kembali berbalik dengan efek zoom in dan kilat yang besar sebagai background-nya.

JDAAR.

"KALIAN BENAR-BENAR KETERLALUAN! MENGADAKAN PESTA DENGAN JAMUAN KERANG AJAIB, TAPI AKU TIDAK DIUNDANG? TIADA AMPUUN!"

"Benar dugaanku, dia Rekka, ratu dari wilayah Koin Paladin," seru Leon dengan ekspresi seriusnya. Yuri yang merasakan firasat bahaya pun langsung berlari menuju bayi kesayangannya, tapi sebelum tangannya menyentuh pinggir ranjang, sebuah kilat langsung membuat Yuri terpental dan bergelinding sampai menabrak tembok ruangan.

BRAK.

"Ohohoho, bahkan tiga artis BL yang sulit ditemukan pun diundang. Tapi kenapa aku tidak, Hah!? Aku bahkan lebih terkenal daripada mereka! Kalian tidak menghargai keberadaanku, Hah!?" wajah Rekka berkilat marah. Leon langsung mengorek tembok di pojok ruangan.

"Memangnya kau kenal dia?"

"Nggak, sih, tapi aku tahu kalau dia maling celana dalam hitam waktu di negaraku ada diskon besar-besaran," dan jawaban yang terlalu memalukan itu langsung membuat seisi ruangan hening. Rekka menepuk jidatnya kesal. Bawahannya di belakang hanya mampu menutup mulut untuk menahan tawa mereka.

"DIAAAAM!"

JDAAAR.

"DASAR ANAK-ANAK KURANG AJAR! SEBAGAI BALASAN KARENA KALIAN TIDAK MENGUNDANG AKU, MAKA AKU AKAN―" mata Rekka tertuju pada bayi yang merupakan objek utama di pesta perjamuan ini, "... mengutuknya. Ya, aku akan mengutuknya! Aku akan mengirim mimpi buruk yang tiada tanding pada kalian, Royal Paladin!"

"Astaga, anakku! Jangan lakukan sesuatu yang berbahaya pada anakku!" Yuri menjerit histeris, walau masih dalam posisi terbalik sehabis bergiling secara vertikal tadi. Daigo dan Takuto pun langsung mengambil ancang-ancang melindungi bayi mungil tersebut―mengingat yang satunya sedang memojok karena dikira artis BL.

"Pada umurmu yang ketujuh belas tahun, kau akan menyuci baju dengan Ronsi dan mati―"

Kemudian semuanya hening.

Oke, Rekka salah dialog. Kita ulang lagi adegannya.

"Pada umurmu yang ketujuh belas tahun, ketika jarimu tertusuk jarum pintal, kau akan mati dan seisi Royal Paladin akan diselimuti dalam kegelapan!" seiring dengan bacaan kutukan tersebut, gadis berambut bergelombang itu mulai menciptaan sihir hitam dari tongkatnya. Semua tamu langsung beringsut mundur ke tempat aman.

"Takuto, walau kau cebol, tapi kau tidak boleh lengah!" Daigo memperingati dengan ekspresi serius yang ada di komik-komik jadul. Pemuda bersurai putih di sampingnya hanya speechless.

"Aku tahu, tapi jangan bawa-bawa kata 'cebol' kenapa, sih?" keduanya pun mulai mengambil ancang-ancang untuk menangkis sihir hitam yang akan dilemparkan Rekka pada Aichi.

BSYAAT.

"AHAHAHA, COBA SAJA LAWAN KALAU BISA!" seru sang ratu atas kegelapan dengan ekspresi jahatnya. Dan yang membuat seisi ruangan cengo adalah sihir berbentuk bola hitam itu yang bergerak zig-zag seperti ular mesir.

"Huh, jangan meremehkan aku, ya ..." Daigo berucap tegar. Ia mengangkat kedua tangannya ke kiri dan ke kanan, kemudian mengambil ancang-ancang menendang―tunggu, sejak kapan ada bola di depan kakinya, sejak kapan dia memakai baju sepak bola, sejak kapan ada efek tornado di belakangnya―

"Rasakan ini! Tendangan Cahaya Bintang!"

JDAAAAK.

Oke, tolong abaikan pertarungan out of character tadi.

―milkyland―

Sayangnya, tendangan tolol dari peri bersurai coklat itu tak bisa menghentikan kutukan. Yang ada ia merusak lampu ruangan dan diminta ganti rugi. Oke, lupakan yang tadi.

Semuanya tak bisa menghentikan tatkala kutukan hitam tersebut terikrarkan dalam tubuh Aichi. Mereka hanya bisa diam ketika ratu kegelapan tersebut pergi dengan tawa jahatnya.

Ketika seisi ruangan diselimuti perasaan kacau dan sedih, Leon pun membawa sedikit pencerahan. Berhubung ia belum mengucapkan satu pun doa pemberkatan, jadi ia bisa membelokan kutukan tadi―karena kutukan tidak bisa dihapuskan.

Yang semula Sendou Aichi akan mati jika tertusuk jarum pintal, kini berubah menjadi 'Ketika kau berumur tujuh belas tahun, kau akan tertusuk jarum pintal lalu tertidur selama 100 tahun. Jika kau mendapat kecupan dari cinta sejatimu di bibir dalam kurun waktu 100 tahun itu, maka kutukannya akan lenyap. Tapi jika tidak, Sendou Aichi akan tertidur untuk selamanya.'

Begitulah bunyi pemberkatan―atau bisa dibilang pelunak kutukan yang diucapkan oleh Leon. Yang mampu membuat seisi istana bernafas lega untuk sesaat.

―milkyland―

"Kami pergi dulu, ya, Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu," seorang peri bersurai putih pamit kepada sepasang suami istri yang merupakan pemimpin negeri ini. Yuri mengangguk dengan ekspresi sedihnya. Ia tidak rela berpisah dengan putra kecilnya. Tapi jika tidak melindungi Aichi bersama ketiga peri di luar istana, kemungkinan besar sang ratu kegelapan yang licik itu akan kembali datang dan membahayakan anaknya.

"Tolong jaga Aichi kami baik-baik," Leon, yang berdiri di belakang Takuto seraya menggendong bayi kecil pun tersenyum kecil.

"Kau bisa percayakan kepada kami." Yuri memang percaya dengan Leon, tapi ia sedikit ragu dengan si pemilik tendangan cahaya bintang dan juga si tukang salah sambung. Yah, kalian tahu siapa.

"Tenang saja, kami akan membesarkan Aichi penuh dengan kasih sayang kami!" Daigo menepuk dadanya sendiri tanda jika Kenji dan Yuri bisa mempercayakannya kepada mereka. Gadis bersurai merah marun itu bernafas lega.

Kemudian diam-diam dari semua penjuru istana, ketiga peri yang menyamar menjadi penduduk biasa pun membawa Aichi pergi melalui pintu belakang istana. Yuri mendengus kecil, ia menatap pintu di mana putra kecilnya tadi dibawa pergi. Kemudian menengok ke arah Kenji guna mengajaknya kembali masuk ke dalam, sebelum ia tahu kalau ternyata dari awal percakapan tadi Kenji sudah bengong duluan.

―milkyland―

"Bagaimana? Pondok ini cukup untuk ditinggali kita bertiga―maksudku, kita berempat, 'kan?" tanya Takuto pada dua peri lainnya, setelah ia berhasil menyelesaikan sebuah pondok beserta isinya dengan sihir. Daigo menggaruk-garuk sebentar dagu mulusnya, kemudian mengacungkan jempol pada rekan nomor duanya.

"Bagus! Ini cukup nyaman untuk ukuran pondok di tengah hutan!" Leon yang berdiri di samping Daigo pun ikut mengangguk setuju. Mereka langsung memasuki pondok rahasia di tengah hutan timur Royal Paladin, yang merupakan tempat tinggal mereka sementara dan membesarkan Sendou Aichi bersamanya.

Dan seperti yang peri pertama katakan, pondok ini tidak buruk dan cukup nyaman. Ada empat kamar untuk masing-masing individu, dapur yang berisi banyak bahan makanan, ventilasi udara yang cukup, mungkin mereka akan betah tinggal di sini.

Memprioritaskan Aichi dulu, Leon pun terbang ke kamar yang menurutnya cocok untuk kamar sang putra mahkota. Ia membaringkan bayi yang tengah mengisap jempolnya sendiri dengan ekspresi bahagia. Leon sempat tersenyum, kemudian ia berpikir untuk membuatkan makanan dan menyiapkan tempat tidur yang hangat untuk Aichi.

"Daigo, bisa tolong jaga Aichi sebentar untukku?" serunya ke arah luar kamar. Dan dalam hitungan detik peri bersurai coklat itu langsung muncul di samping Leon.

"Apa pun untukmu, Leon―"

Bletak.

Dan ekspresi penuh kharisma tadi langsung berubah menjadi abang bakso disepak begitu kepalanya dilempari batu bata oleh Takuto dari luar. "Awas kalau kau mencuri kesempatan, Beruang Sarap!" serunya dari luar.

"Setelah ini akan kutendang kau, Rambut Sapu!" maki Daigo dengan suara kecil, mengingat ada anak bayi di ruangan ini. Leon menghela nafas kemudian melepas tangannya yang tadi dipegang Aichi sebentar.

"HUUUUWAAAAAAAAAAA!"

Atap pondok mereka langsung melayang sepuluh meter ketika tangisan Aichi pecah. Daigo dan Leon bersamaan menutup telinga takut tuli dengan serangan mendadak tersebut. "Aish―ke-kenapa dia tiba-tiba menangis? Kencang sekali pula, aduh, telingaku sakit!"

"A-Aku tak tahu," si pirang kembali menghampiri Aichi guna menghiburnya. Bayi yang semula seperti kingkong kesambar petir itu langsung damai ketika tangan si pirang menyentuh dahinya sedikit saja.

'Diamnya cepat banget?' Daigo hanya bisa cengo. Leon pun juga, dan ketika ia menarik tangannya lagi, atap pondok mereka langsung melayang sampai menabrak burung yang terbang dengan pewenya tadi.

―milkyland―

Lima tahun kemudian, Aichi mulai tumbuh menjadi anak balita yang sangat manis. Ketiga peri itu menjaganya dengan baik dan penuh cinta, sehingga di umurnya yang menginjak lima tahun saja, ekspresi bahagia sudah terpancar di wajah lembut sang putra mahkota.

Di pagi hari, si kecil Sendou bangun dari tidurnya. Ia menengok ke samping, orang yang biasa ia sebut 'mama' tidak ada di sampingnya. Aichi langsung merengut, ia turun dari ranjangnya dan keluar kamar. Ia berjalan menuju dapur dengan wajah cemberut.

"Mama ..."

"Eh?" salah seorang peri yang semula sibuk membuat sarapan pun dikejutkan dengan suara lembut yang tiba-tiba mengalun di dapur. Ia menengok mendapati si kecil Aichi menggembungkan pipi ke arahnya.

Greb.

Aichi memeluk sosok itu dengan erat dari belakang. "Mama jahat mama kejam mama jahat mama kejam mama jahat mama kejam mama jahat―"

'Ehbuset, ngomongnya nggak pakai spasi,' batin figur yang dipanggil mama tersebut sweatdrop tatkala Aichi mengeluh seraya menggesek-gesekkan wajahnya di belakang sana.

"Aichi, kau tahu kalau aku harus mengurus dapur. Kalau kau ingin ada yang menemanimu tidur sampai kau terbangun, tidurlah dengan papamu," figur bersurai pirang itu menunjuk kamar Daigo yang pintunya terbuka lebar, di mana ada figur yang tidur dengan tidak elitnya di sana. Tangan kaki nggak tahu posisinya ke mana, ranjangnya berantakan, mulutnya menganga indah siap dicekokin sendal kapan saja.

"Nggak mauu!" Aichi mulai ngambek, "papa tidurnya brewokan! Nanti Aichi ditimpa gimana!? Papa juga bau kereta!"

'Ehbuset, siapa yang ngajarin dia ngomong seperti ini!? Daigo Setan, Takuto Bajingan! Kugantung kalian di jemuran nanti!' batin sosok bersurai pirang itu kesal.

Entah siapa yang memulai, Aichi kecil sudah menilai Leon sebagai mama, Daigo sebagai papa, dan Takuto sebagai pembantu rumah tangga―e-eh, tunggu, yang terakhir salah dialog, maksudnya Takuto sebagai papa kedua. Hal itu bukan kemauan mereka bertiga, karena Kenji dan Yuri pasti bisa syok berat kalau Aichi tidak tahu orangtuanya yang sebenarnya.

Si kecil Aichi juga lebih senang tidur dengan Leon daripada tidur sendiri atau tidur di kamar Daigo dan Takuto. Hal tersebut tentu saja membuat Daigo dan Takuto sakit hati, anak yang mereka ganti popoknya dan mereka timang penuh sayang lebih memilih bersama Leon―dengan catatan modus agar mereka bisa grepe-grepe 'dia' kalau Aichi tidak bersamanya.

Tapi nyatanya, harapan tidak semuluk itu.

―milkyland―

"Mama! Bagaimana? Bagus, tidak?" Leon menatap anak yang dididik dan dijaganya selama enam belas tahun ini. Sosok yang terlihat tampan tersebut menunjukan seragam barunya karena ia baru pindah sekolah di tahun ini. Leon menggeleng-geleng membuat Aichi menampakan ekspresi bingung.

"Dasimu berantakan, kancingmu ada yang terlewat satu, blazer-mu juga tidak rapi. Ayo, kemari," Aichi sempat gelagapan dulu menyadari penampilannya sebelum mendekati Leon agar pemuda bersurai pirang itu membetulkan pakaiannya, "dan aku sudah bilang, jangan sebut aku 'mama' lagi. Aku bukan ibumu, kau tahu?"

Pemuda bersurai biru terkekeh, di tengah aktivitas Leon yang membetulkan seragamnya, ia membelai surai pirang milik Leon. Membuat pemiliknya terdiam. "Habisnya kau yang menjagaku sejak kecil seperti ibuku," katanya.

"Leon, Aichi, kalian sudah selesai belum?" di tengah aktivitas dua insan itu, sesosok figur dari luar pintu tiba-tiba saja menyembulkan kepalanya. Aichi menoleh dan tersenyum.

"Kak Takuto!"

"Astaga, Aichi. Masa' sudah besar seragamnya masih dibetulkan?" pertanyaan itu mengundang cemberut di wajah Aichi. Takuto hanya tertawa seraya memain-mainkan rambut ratanya.

"Hei, jangan marah dulu. Aku hanya bercan―" sebelum Takuto menyelesaikan ucapannya. Ia terlebih dahulu menerima tendangan dengan efek sinar yang luar biasa hingga terpental ke samping. Suara bedebum terdengar keras. Aichi dan Leon terkejut bersama-sama.

"Awas kalau kau berani membuat Aichi sedih, Dasar Rambut Sapu!" seru si pelaku yang menendang Takuto dengan tidak elitnya. Figur bersurai coklat itu langsung mencuri lirik ke arah dua insan di dalam kamar.

"Kau cocok sekali dengan seragam itu, Aichi!" Daigo melangkah masuk ke dalam ruangan dan mengelus helaian rambut Aichi penuh sayang. Ia sudah menganggap sang putra mahkota layaknya saudara sendiri. Begitu pula Aichi. Pemilik manik biru itu paling ingat jika Daigo adalah orang yang selalu memberi makanan favorit Aichi di tengah makannya, memberikan Aichi berbagai baju-baju baru, mengajaknya keliling kota, dan melakukan hal menyenangkan lainnya.

"Terima kasih, Kak Daigo! Aku pasti akan bersekolah dengan giat!" Leon menepuk pundak Aichi tanda ia sudah selesai membereskan pakaian Aichi yang berantakan tadi. Pemuda bersurai biru itu langsung melangkah semangat keluar kamar dan meraih tasnya.

"Ayo, Aichi. Kereta kudanya sudah siap, kita berangkat sekolah. Karena letak sekolahnya cukup jauh, kita harus berangkat lebih awal," Takuto yang sudah mendapat nyawanya kembali pun menyiapkan kendaraan.

"Ya, maaf merepotkanmu, Kak Takuto,"

"Tak masalah untuk adikku sendiri~," balas Takuto cepat segera menaiki kursi untuk kemudi. Tiga insan lainnya masuk ke dalam kereta berwarna hitam simpel. Yang tak lain adalah Aichi sebagai murid baru, beserta Daigo dan Leon yang menjadi guru baru di sekolah baru Aichi. Dua ekor kuda berwarna coklat langsung menarik kereta.

Sendou Aichi, menjalani kehidupannya seperti biasa bersama dengan tiga figur yang dianggapnya kakak tanpa tahu identitas dirinya yang asli. Tanpa ia tahu jika di dalam tubuhnya sudah terpendam suatu kutukan yang akan berlangsung menjelang umurnya ke tujuh belas nanti. Berhasilkah ia menemukan cinta sejatinya di sekolah yang sudah dipersiapkan Daigo, Takuto, dan Leon jauh-jauh hari? Apa nanti Supratno―eh, maksudnya Rekka akan kembali beraksi menjelang umur ketujuh belas tahun-nya Aichi?

.

.

.

[Sleeping Beauty, 2 of 4]

To Be Continued

.

.

.

A/N: Nah, lho, kenapa jadi empat chapter, yah? #dipancung. Maafkan kami, sepertinya penyakit overwords kami kembali kumat, kami terlalu asyik mendeskripsi sampai tanpa sadar bobotannya nggak cukuuup! Kami benar-benar minta maaf! #sujud. Untuk bawahannya Rekka, namanya pakai nama jadul nggak apa-apa, ya? Anggap saja half-oc #itumaksa. Padahal sebenarnya kami ingin menulis masa-masa Aichi dari umurnya kecil sampai enam belas secara kumplit (buset), tapi nggak tahu deh kalau begitu kami nulisnya sampai season berapa #dikiracintapitri. Terima kasih untuk yang sudah review, fav, follow dari chapter satu kemarin! Kami sangat terharu penpik gaje begini layak dapat respon juga (edan). Tunggu kegilaan berikutnya di chapter tiga, yah! XDD

Reply Review:

Dracokid: Waduh, sampai ngakak-ngakak di mall dan dikira orang gila? Kami tidak tahu apa-apa *plang*. KaiChi nggak, yah? Kami nggak kasih tahu dulu, tunggu saja di chapter depan, muahahaha :p Cara buat fanfict sudah dikasih tahu Saki, ya.

Cece Mayuyu: Inget, ngakak-ngakak entar kotak ngakak-nya rusak. Di sini Rekka ingin menjadi ratu yang ekonomis, tapi nggak mau ngaku. Makanya dia ngemodus dulu. Kourin nggak cocok teriak-teriak, Suiko juga, jadi kita pakai Rekka *plak*.

Cosmic Pretty Re-Ina: Chapter depan, Saya janji chapter depan! Saya janji! #yangrekuesnyaketunda. Yey, fans KenYuri juga? XD Saya juga baru kesengsem pairing ini karena mulai suka sama Yuri. Kami akan terus mempertahankan penulisan kami, tentu saja.

AnimeLovers and Dr. Tom ZX: Wahahaha, ini hanya fiksi dan sifat karakter tidak sama dengan yang asli. Jadi mohon maaf jika banyak karakter yang sangat ternistakan di sini. SE sudah di-update sama Saki, kok, jangan lupa mampir, ya!

Ama: Waduh, gulung-guling sampai kejedot, nggap apa-apa, tuh? DaiLeon itu rikues seseorang, jadi pasti banyak hints-nya di sini, muehehehe.

Yu si anak layangan: Ngakak ya ngakak saja. Hati-hati kotak ngakaknya rusak. Pff, ibu-ibunya nggak pesta sempak, hanya lempar-lemparan, kok (ngek). Kenji di sini memang sangat 'keterlaluan' dalam macam artian, jadi jangan cengo lihatin dia, ya. Whut? Suka TakuLeon juga? Sugee.

Rafa Ranmaru: Pembukaannya diawali ibu nyuci karena diawali 'suatu hari' sudah mainstream (gak). Aichi versi baby unyu, versi balita-nya juga ada #promosi. Daigo dan Takuto rebutannya main keroyokan, seperti ngelempar batu bata gitu-#adegankekerasan. Fujo selain Ratu Yuri itu, kamu :p

Snowy Coyote: Wahaha, opening-nya diawali ibu-ibu supaya nggak mainsetrum (eh). Iya, kami samarin nama Rekka supaya bikin penasaran (tapi gagal). Algos istirahat dulu, diganti Takuto, kasihan nih anak belum dapat giliran (eh).

Crystalia: Maaf soal ibu-ibu nyuci-nya. Supaya nggak mainsetrum aja (apaan). Supratno―eh, maksudnya Rekka memang berbeda dari ratu jahat lainnya, ohohoho.

KOLINnoKOLIN: Boleh saja ngakak, tapi hati-hati kotak ngakaknya rusak (korbansepongbob). Iya, Leon jadi uke si pemilik tendangan cahaya bintang dan si tukang salah sambung. Update selalu, dong~

Kujo Kasuza: No, imej Ren nggak cocok jadi koar-koar dan pelit begitu, makanya kami pilih Rekka (eh). KaiChi, nggak, yah? Nggak seru kalau dikasih tahu sekarang, hohoho. Makasih doanya soal UAN Gane, ya! Sukses selalu juga untukmu!

Review please?
Kritik dan saran dibutuhkan kami untuk improvasi.

Twining Tails undur diri. Sampai jumpa di chapter berikutnya! Semoga kalian terhibur!
[20 April 2014]