―"Apa hanya dengan adanya pangeran yang mengecup bibirku di saat aku terlelap, aku sudah menjadi dongeng si putri tidur?"―
―"Namun aku berpikir sebuah kisah cinta tidak akan sesimpel itu ..."―
Sleeping Beauty
Cardfight! Vanguard belong to © Bushiroad & Itou Akira
This fiction belong to © Twinted Twining Tails
Chapter Three from Fourshoots.
Rate: T
Genre(s): Romance―Fluff, Parody, Humor, etcs.
WARNING(!):
Possitive!AU, Shounen-Ai, Parody, Failed Humor, Ultimate OOC, (beberapa) bahasa/kata nggak baku, etcs.
Don't Like Don't Read
Enjoy Reading~
.
.
Aichi berjalan tertatih-tatih di tengah koridor sekolah. Perawakannya seperti kakek-kakek yang usianya sudah tidak lama lagi, langkah kakinya menyerupai siput yang baru pertama kali dapat kaki. Semua murid-murid yang berlalu lalang di jam istirahat pun hanya mampu sweatdrop melihat murid berparas lembut itu berjalan terseok-seok seakan baru saja mendapat serangan fajar.
'Aduh, sekolah ini sebenarnya sebesar apa, sih? Setiap kali aku mencoba menelusuri semua yang ada di peta, pasti masih ada tempat yang tersisa ...' batin pemuda bersurai biru tersebut. Ia adalah murid baru di sekolah bergaya konglomerat, dan mempelajari tempat-tempat di sekolah seluas taman bermain plus hotel plus pusat perbelanjaan plus pasar tradisional ini tidak mudah ternyata.
Ia sudah menghabiskan setengah waktu makan siang berdurasi dua puluh menit untuk mempelajari semua itu, tapi ternyata seperempat dari bagian sekolah saja tidak sampai ia ingat. Sekolahnya semasa SMP dulu tidak se-fabulous ini, yang bahkan kolam renangnya ada sepuluh dengan bervariasi bentuk. Nggak tahu pemiliknya mau bikin sekolah atau water-bom.
Belum lagi ke-duapuluh lab sekolah yang entah apa gunanya, taman sekolah yang luasnya setara dengan lapangan parkir dilengkapi air mancur setinggi lima puluh meter, tangga sekolah yang memiliki nada setiap diinjak, ukiran klasik yang super detail dan memiliki sejarah bahwa pembuatnya dulu menangis bombai saat membuatnya.
"Aichi,"
"Eh?" pemuda itu sedikit terperanjat tatkala sebuah suara yang familiar memanggilnya. Ia melirik ke belakang dan mendapati sosok berbalut pakaian formal khas guru menghampirinya. Senyum merekah terukir di wajahnya.
"Kak Daigo!" dan tanpa ragu lagi, lelah yang tadi menderahnya langsung hilang. Aichi pun berbalik dan menghampiri sosok kakak yang berusaha menjadi guru di sini bersama Leon, untuk mendampingi dan menjaga Aichi. Tapi jangan tiru kecurangannya saat menggunakan sihir di tes masuk dan mengganti surat lamaran calon guru lain menjadi berbau pornografi dan menghina-hina Supratno (nama disamarkan).
"Waktu istirahat masih lama, 'kan? Ayo ikut aku, kita ke ruang Leon untuk membicarakan sesuatu yang penting," bisik guru bersurai coklat yang diidam-idamkan banyak wanita tersebut. Aichi mengangguk.
Tapi tentu saja ia akan berjaga untuk tidak bergelanyut manja pada kakaknya itu seperti monyet di pohon pisang, mengingat sekarang status mereka di depan publik adalah guru dan murid, dan keformalitas harus tetap dijaga.
―twining tails―
Jglek.
Sesosok guru yang berpostur tubuh kecil memandang datar dua figur yang masuk ke ruangannya. Ya, beruntung karena kejeniusannya yang tidak didapat oleh kedua peri lain, ia bisa lulus menjadi guru di sini dengan fasilitas ruang guru pribadi.
"Wah, ruangan ini ..." dan Aichi terdiam sesaat. Ia tahu, di depannya ini ruang guru. Tapi ia tidak menyangka jika lantainya berkelap-kelip seperti pasar malam―plus ada nada ketika diinjak―, dan banyak sekali aksesoris-aksesoris mencolok macam boneka beruang seukuran manusia, pernak-pernik, baju-baju konglomerat berenda-renda manis, bahkan sampai cincin kawin(?) juga ada, "ru-ruangan apa ini!?"
Pria berjampul kembar tiga yang masih duduk di kursi guru hanya menghela nafas, ia tahu reaksi anak bermanik biru itu akan demikian, "aku sendiri juga tidak tahu―"
"Guru-guru pria berjenggot brengsek itu yang memberikannya. Mereka memang keparat! Sudah punya 143 istri di rumah, mereka masih mengincar Leon juga," Daigo menyahut cepat. Ia melipat kedua tangannya dan memasang ekspresi mengintimidasi pada barang-barang tersebut.
Aichi melebarkan matanya hingga berdiameter sepuluh senti, "APAAA!?" dia menganga syok. Membayangkan sosok yang ia sebut 'mama' itu berdampingan dengan guru-guru bonyok, bergaya om-om pedhofil, dan berkata padanya 'hey, baby, aku akan menjadi papamu sekarang.'
"TIDAAAAAAAAKK!"
Kemudian seisi sekolah langsung kalang kabut karena ada gempa dadakan.
Kita kembali ke cerita.
"Te-Tenanglah, Aichi. Aku yang mendapat barang itu dari mereka, bukan kau. Kau tidak perlu se-syok itu," Leon langsung bangkit berdiri dan menghampiri pemuda bersurai biru yang sekarang sedang bersujud dan membaca mantra-mantra.
"Kau benar―eh, tunggu, aku tidak merestui kau dengan mereka, Leon! Tidak akan pernah! Aku harus meminta Takuto untuk mengurangi pheromone-mu!" Daigo memandang posesif peri yang kelewatan cuek tersebut, "A-Aichi, tenanglah, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisiku sebagai papamu, tidak akan pernah!"
"E-Eh," Aichi meredah raut paniknya, "ta-tapi aku lebih menganggapmu sebagai sosok kakak, Kak Daigo ..." tukasnya. Sekarang giliran Daigo yang bermulut monyong begitu mengingat hal tersebut.
"Ta-Tapi, tapi, tapi saat kau kecil kau menganggapku pa―"
"Hentikan pembicaraan konyol ini, tidak akan ada akhirnya," Leon memicing matanya tajam, dan hal tersebut sukses membuat Daigo dan Aichi kelepek-kelepek seperti belut (baca: merinding), kemudian hening seketika.
"Bagus, nah ..." pemuda bersurai pirang itu berahli pada beberapa berkas di meja kerjanya. Lalu menatap Aichi penuh arti, seakan ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Misalnya gayung kesayangan Aichi bergambar tiniwingki dicolong tetangga lagi, atau Takuto dikira sapu sama tukang bersih kota, dan yah―
―oke, salah naskah.
"Aichi, kau tahu, 'kan. Sekarang usiamu menginjak enam belas tahun. Usia yang cukup matang, kau bukan anak kecil lagi melainkan remaja yang lebih kompleks dan dewasa," Aichi mengangguk polos. Ia pandangi kertas yang ada di tangan Leon penuh penasaran.
"Nah, karena itu struktur sel dari otakmu akan berkerja berbeda dari sebelumnya, seperti bagian dari nadi arteri dan vena yang memiliki impuls tersendiri dan berkerja melalui bagian otak. Belum lagi beberapa pori-pori tubuh yang―"
"Demi Raja Kenji menjadi profesor, tolong jelaskan dengan bahasa makhluk awam, Leon!" Daigo sudah protes duluan sebelum Leon menyelesaikan bicaranya. Sementara di sekitar kepala Aichi muncul kepulan asap, kedua insan lainnya langsung jawdrop.
"Ke-Kebakaraan!" kemudian Daigo langsung ditendang Leon sampai berguling-guling di lantai ruangan hingga berbunyi do-re-mi-fa-sol-la-si-do dengan kecepatan tinggi.
"Otak Aichi mengebul, bukan kebakaran, Dasar Sinting! Cepat ambilkan air!"
Karena pemeran utama tiba-tiba kebakaran―eh, maksudnya kepalanya berasap, jadi adegan dihentikan sebentar.
Camera Stand By.
Aichi memegang kompres air di sekitar keningnya, "Ha-Habisnya aku berusaha untuk mengerti apa yang mama katakan, ta-tapi otakku malah jadi berasap ..." adunya dengan ekspresi marah yang imut. Leon menggeleng-geleng, memang tidak mengherankan dia anak dari Mitsusada Kenji, sama-sama kurang upgrade.
Orang lain sudah pakai teknologi touchscreen, dia masih pakai telepon tali.
"Baiklah, singkat kata, sekarang kamu adalah remaja yang harus mengenal dan memasuki dunia percintaan," Aichi langsung menganga mulutnya. Ia tidak mengira jika saat ini datang juga. Dan apa pula hubungan nadi manusia dengan cinta, hah, orang pintar memang berbeda dunia, pikir Aichi.
"Ka-Kalau itu, aku cukup tahu, Ma. Aku sering menonton drama 'Tukang Bubur Naik Tangga', kok," kemudian Leon dan Daigo bersamaan facepalm.
'DEMI RAMBUT TAKUTO JADI SAPU LIDI, INI MASALAH CINTA! BUKAN MASALAH TUKANG BUBUR, AICHI! PEKAHLAH SEDIKIT!' Daigo rasanya ingin menangis melihat sosok yang ia pandang sebagai adik seperti itu. Ini semua pasti karena adanya gen Kenji di dalamnya. Kenapa manusia biadap macam itu bisa jadi Raja? Gen seperti itu harusnya dimusnahkan!
"Bukan itu maksudku," Leon mengelus dadanya sabar, "kami ingin mencari pasangan hidup untukmu, Aichi. Kami ingin kau menemukan cinta sejatimu, di sekolah ini," dan ini bukan pertama kalinya Aichi dibuat mingkem karena ucapan pemuda bermanik violet tersebut.
"Ci-Cinta sejatiku!?" Leon mengangguk.
"Ta-Tapi ini terlalu tiba-tiba, me-memang menikah usia muda sedang nge-tren seperti di sinetron 'Anak Ketukar-Tukar', ta-tapi aku belum siaap! Huwaaa!" Aichi beringsut ke belakang punggung tegap Daigo mencari perlindungan.
Leon menggaruk-garuk pelipisnya, ia sudah menduga reaksi pemuda yang kelewatan lembut itu akan demikian. Tapi apa boleh buat, Ratu Yuri sudah mengirim data calon pasangan Aichi yang juga ada di sekolah ini. Ia ingin pertemuan Aichi dengan calon pasangannya diadakan secepat mungkin, sebelum Siti (nama samaran diganti) sudah berbuat macam-macam.
Memang, sebelum ulang tahun Aichi yang ke-tujuh belas tiba empat bulan lagi, mereka sudah harus mempersiapkan segalanya, tanpa memberi tahu Aichi mengenai kenyataan sebenarnya.
"Kau tidak boleh seperti itu, Aichi. Bukannya kau menyayangi Leon sebagai mamamu? Hormatilah permintaan terakhirnya ini―"
BRAAK.
Daigo melayang ke tembok hingga muncul retakan yang menjiplak tubuhnya.
"Coba ulangi, Brengsek?"
"... ma-maksudku ... permin ... taan penting ... darimu ..." kata Daigo terbata-bata, merasa bagaimana maknyusnya lemparan Leon yang membuat cita-citanya untuk membuat bintang laut di tembok tercapai. Melebihi enaknya daging kerang ajaib atau mencoret-coret foto Siti (nama disamarkan).
"Ungh, benar juga, sih ..." Aichi menunduk. Raut cemas terlukis jelas di wajah tampan nan lembutnya. Dan tepukan di pundak refleks membuatnya kembali mengangkat kepala. Leon tersenyum ke arahnya.
"Tenang saja, sejak kapan aku merencakan hal buruk kepadamu, hm?" tanya Leon berusaha untuk meyakinkan. Namun raut wajah Aichi masih belum berubah.
"Mungkin saja kau bisa menciptakan kisah cinta yang manis, tidak kalah dari―um, sinetron 'Anak yang Tertukar-Tukar' itu ..." dan pemuda bersurai biru tersebut langsung berbinar-binar. Leon memaksakan sebuah senyum, walau dalam hatinya berkata,
'Sialan yang membuat sinetron biadap tersebut! Akan kupastikan mereka semua tertukar-tukar dan tidak akan pernah kembali ke asalnya!' Leon tersenyum keji dengan efek background api yang membara, Daigo hanya mampu bergidik melihatnya.
―twining tails―
"Woi ..." seorang pemuda berwajah angkuh menghampiri pemuda lain yang baru saja beristirahat di ruang ganti. Ruang ganti untuk murid basket pria lebih tepatnya, "akhirnya ada berita lebih lanjut mengenai pertemuan Anda dengan putra mahkota Royal Paladin,"
"Hah, mana, woi?" dan tampaknya pemuda bersurai merah acak-acakan itu tertarik. Ia langsung menyambar kasar kertas gulungan yang dibawa si surai donker tadi.
"Aku mau bilang 'di kertas itu', tapi sudah kamu ambil duluan, woi," sahut si surai biru tua, membenarkan tatanan rambutnya yang menjulang ke atas melawan gravitasi.
"Putra mahkota Royal Paladin sudah pindah ke sekolah ini, woi. Dan dua calon pelamar lain yang akan menjadi sainganmu juga bersekolah di sini, lho, woi," tambahnya, kemudian duduk di salah satu kursi di ruangan tersebut. Toh, sedang sepi dan hanya ada mereka berdua di sana.
"Yang bener, woi?" pemilik surai merah acak-acakan tadi terkejut, "pangeran di sekolah konglomerat ini 'kan banyak banget, woi. Emang siapa saja?"
"Nggak tahu, woi ..."
"Kampret," cibir si rambut merah seraya menatap malas gulungan tadi. Abaikan dengan cara bicaranya yang memang agak kelainan, plus hanya sang pengikutnya tadi yang mampu mengerti. Dia adalah pangeran sulung dari Kerajaan Narukami yang berbakat di bidang olahraga. Sudah berapa medali dan piala kemenangan yang ia koleksi, sampai medali langka berbentuk sempak juga dia punya.
Ia mendapatkan medali tersebut dari pertandingan basket yang ring-nya diganti celana dalam―eh, tunggu, salah naskah.
Srak.
Pemuda yang akrab disapa Ishida Naoki itu pun membuka gulungan tersebut, membaca tiap kata di sana dalam diam. Sementara pengawal pribadinya, yang juga diikut-sertakan bersekolah di sini, Katsuragi Kamui, diam menunggu.
"Dengan bersamanya surat ini, Anda sebagai calon pelamar Putra Mahkota Royal Paladin, diperbolehkan untuk menemuinya di lingkungan sekolah mulai hari ini, bahkan jangan segan untuk mampir ke kediaman yang disembunyikan dari kota, yaitu―" kemudian Naoki berhenti membaca, ia menautkan alisnya sambil mengacak bentuk mulutnya yang entah sudah manggap model apa. Ikan mas atau ikan cupang, entahlah.
"What? Demi buaya berantem dengan kera sakti― apa-apaan maksudnya ini!?" Naoki mengacak-ngacak rambutnya dengan sebelah tangan. Kamui yang sudah di posisi kerennya pun hampir jantungan melihat pangeran kawalannya tiba-tiba berteriak.
"A-Ada apaan memangnya, woi?" ia bertanya ragu-ragu. Kemudian mencuri intip ke surat gulungan yang masih ada di genggaman tangan sang pangeran olahraga tersebut.
"Duh, aku sudah nggak ngerti, woi. Coba kamu lihat ini, deh, woi," kemudian Naoki berbagi gulungan itu dengan pemuda yang sudah menemaninya dari lima tahun lalu. Kamui melihat bagian yang ditunjuk Naoki dengan seksama, kemudian langsung jawdrop di tempat.
Alamat:
Jalan xxx, blok. xxx/ no. xxx
Kecamatan xxx, daerah xxx.
PS: Untuk informasi lebih lengkap, tanya orangtua Anda
"KAMPRET, SUDAH SURUH DATANG TAPI ALAMATNYA DISENSOR, GIMANA AKU MAU CARI, WOOOIII!?" Kamui yang sudah tidak santai pun bangkit berdiri dengan backsound sinetron bagian jeng-jeng-jeng-jeng (suara diimajinasikan sendiri). Karena dia yang akan kesulitan di sini mencari alamat, Naoki 'sih nyantai saja di istananya sambil mandiin naga. Naoki pun ikutan berdiri.
"DAN APA PULA DIA MENYURUHKU MENANYAKAN HAL TIDAK MASUK AKAL KE ORANGTUAKU, WOI!? AKU BISA-BISA DIKIRA TOLOL OLEH ORANGTUAKU KEMUDIAN DIKARANTINA DI HUTAN AMAJON, WOOI!" Naoki ikut-ikutan nggak santai. Semua ini karena dulu ia pernah mendapat surat seperti ini saat usianya menginjak sepuluh tahun:
Selamat, Anda memenangkan tiket liburan ke Gunung Krakatau (active version) bersama keluarga Anda. Untuk informasi lebih lengkap, silahkan tanya tukang cuci Anda (yang pakai Ronsi, yah).
Kemudian Naoki langsung dikarantina karena dikira kelainan.
Tragis banget, 'kan, yah? Titanic saja tidak sesedih kisah Ishida Naoki, duh.
"Hah, coba kutanya pada Misaki, deh, woi," kemudian Kamui berjalan pergi keluar ruangan. Naoki tampak bertanya-tanya, tapi sebelum ia mengeluarkan suara, Kamui terlebih dahulu membalikan badan sebelum menutup pintu ruang ganti.
"Dia pengawal dari salah satu pangeran yang menjadi sainganmu, mungkin dia bisa membantuku mendapat informasi lebih baik daripada surat itu. Dan jangan coba-coba tanya pada orangtuamu sebelum aku memberi kode, Naoki."
"A-Aku mengerti, woi ..."
―twining tails―
Plak.
Pemuda bermanik crimson merengut ketika kepalanya dipukul dengan gulungan karton, cukup sakit pula. Ia menatap ke arah pelaku seraya mengerucutkan bibirnya, "Kok Misaki jadi galak begitu, sih?" suaranya terdengar merengek, tidak pantas untuk usianya yang sudah menginjak tujuh belas tahun.
Perempuan yang memiliki surai ungu pucat mendengus, kemudian menggeleng-geleng melihat kelakuan pangeran kawalannya tersebut.
"Ini karena kelakuanmu yang terlalu kekanak-kanakan, Pangeran Ren," ucapnya dengan nada dingin nan tegas. Kalau pria lain, yang berbadan sebesar badak sekalipun, langsung kedap-kedip cukup mendengar suara Misaki saja, tapi berbeda dengan pangeran bersurai panjang ini.
"Mananya yang kekanak-kanakan, Misaki?"
"Semuanya," Misaki membalas singkat sembari berkacak pinggang. Dan, oh, jangan lupa dengan gulungan karton yang masih setia dipegang tangan kanannya, berjaga-jaga jika sifat kekanak-kanakan Ren kembali kumat.
Ren hampir menangis, ia menghentak-hentakan kedua kakinya secara perlahan menahan hasrat,"Misaki jahaaat! Masa aku tidak boleh menonton film kesukaankuu!?"
"Ini masih di sekolah, Ren. Aku tahu prestasimu di bidang akademik memang luar biasa, tapi pertahankan semua itu agar tidak jatuh di lain hari. Kau bisa menonton di istana nanti,"
"Tapi aku mau sekaraang! Aku mau menonton Thisnei Projen, Misakiii! Yang ada lagu Let it Gong dari Demi Potato! Misaki, ayolaah~," Ren terus merengek. Padahal tampangnya seperti pangeran tampan yang diimpikan banyak orang, eh kelakuannya kayak anak TK yang masih ngedot. Misaki hanya mampu bersujud memohon pengampunan dari pohon durien terdekat.
"Berisik, Ren! Projen, Projen, makan 'tuh Projen!" kemudian Ren hampir keselek sesuatu yang berbentuk balok, karena Misaki melempar benda itu pas timing-nya dengan Ren yang mangap.
"Ohok, adu-duh ... apaan, nih?" dan ternyata yang dilempar pengawal wanitanya itu adalah sebuah keju ber-merk Projis. Pemuda bersurai merah itu langsung memasang ekspresi what the hell dan melempar keju keluar jendela. Turut berduka cita bagi yang―
Brek.
"WOI, SIAPA NIH YANG LEMPAR KEJU KE MUKA GUE, WOOOI!?"
Bodo' amat, batin Ren cuek.
"Aku mau Projen, Misakii! Bukan Projis!" Misaki memutar bola matanya jengah. Kenapa ia harus mendapat tugas menjaga pangeran macam ini, sih?
"Itu tidak penting, Ren. Sekarang prioritaskan calon pasangan hidupmu kelak, Pangeran dari Royal Paladin," mendengar itu, sedikitnya Ren tertarik ke topik pembicaraan lain. Ia melirik gadis bersurai pendek dengan ekor matanya.
"Sudah ada berita lebih lanjut?"
Misaki mengangguk. Akhirnya Ren terahlikan ke topik pembicaraan lain. Bisa gila dia kalau pemuda bersurai panjang itu terus merengek ingin menonton Projen di sekolah. Dengan apa? Dia pangeran tunggal yang cukup berkuasa, mudah saja membangun televisi raksasa di mana pun yang ia mau, 'kan?
Gadis tersebut memberikan surat gulungan yang diterimanya dari yang mulia raja dan ratu Kerajaan Gold Paladin, "Putra mahkota dari Royal Paladin sudah pindah sekolah kemari, namanya Aichi, di kelas 11-Krisan. Dua guru baru, Leon di bidang Biologi dan Daigo di bidang Matematika merupakan pengawal pribadinya,"
Ren mengangguk dengan seksama, sepertinya lebih senang mendengarkan dari Misaki langsung daripada membaca kata-kata di surat tadi.
"Begitu, ya. Baiklah, aku harus tampil sesempurna mungkin jika bertemu dengannya nanti," ucapnya dengan nada percaya diri. Misaki tersenyum kecil, sisi ambisius dari Ren akhirnya kembali pulih.
"... sebelum itu aku ingin menonton Prozen dulu, Misaki,"
Kemudian Misaki menjedukan kepalanya ke meja belajar hingga bolong.
―twining tails―
Seorang pemuda bersurai pirang menampakan seringai kecilnya. Ia bertumpu di meja milik teman sekelas menunggu reaksi pemuda lainnya yang masih membaca surat gulungan. Lama ia menunggu, surat gulungan belum tersingkirkan dari hadapannya―mengingat posisinya yang bertumpu berhadapan dengan pangeran―.
"Hm ..." tapi kedua telinganya langsung mendelik bagaikan telinga kucing tatkala suara pangeran kawalannya terdengar. Seringai anehnya kembali muncul, membuat beberapa murid lain yang juga berada di kelas saat jam istirahat pun cengo melihatnya.
Itu yang mengkawal pangeran manusia atau cheetah garong?
Atau campuran keduanya?
"... jadi alamatnya, menggunakan kode?" suara bariton itu tertuju pada sang pengawal bermanik perak tadi, terbukti ketika surat gulungan disingkirkan, kedua mata mereka langsung beradu. Pemilik surai pirang dan mata keperakan tadi terkikik.
"Kau bicara seakan-akan kau bisa memecahkan kode aneh itu, Pangeran Kai~,"
"Berisik, kau yang akan suruh mencari nanti," mendengar itu, Miwa―nama pengawal pribadinya―langsung mingkem seperti anak ayam keselip di kandang bebek.
'Demi kecebur di sumur, bisa jadi bangke aku kalau disuruh cari tuh alamat! Amit-amiit! Aku masih belum mau mati muda kali! Aku belum jajan rendang nendang juga di kantiin! Aku belum kuliah jurusan tamborin jugaaa! Pokonya aku nggak sudi!' batin Miwa dalam hati dengan efek backsound tante-tante girang karaokean.
Kai melipat kembali gulungan surat tadi dengan ekspresi datar. Kemudian menyimpannya di laci meja belajarnya. Ia bertopang dagu dan memandang keluar jendela.
"Aichi, ya ... seperti apa orangnya, ya ..." tanpa sadar dari bibirnya berucap demikian. Membuat Miwa yang masih sibuk dengan pikiran kuliah tamborin, beli cincin kawin, beli kerbau tunggangan dan lain-lainnya langsung teralihkan kepada pangeran bersurai brunet tersebut.
"Kau tertarik dengan perjodohan ini?"
Manik hijau Kai tertarik ke arah Miwa yang menatapnya penasaran, "Apa terlihat seperti itu?" ia malah bertanya balik.
Si pirang mengendikan bahunya, "Mungkin, habisnya jarang kulihat kau tertarik dengan sesuatu kecuali ilmu berpedang," jawabnya jujur.
"Begitu, entahlah," kemudian Kai melipat kedua tangannya di belakang kepala, memasang ekspresi dingin khasnya, "habis aku bosan menjomblo,"
Hah, apa? Barusan ibu-ibu nyuci kepeleset terus nyebur ke kali?
Ada maling ayam nyangkut di pagar Pak RT?
Ada cewek natap jemuran karena ditinggal orangtua liburan ke Timor Leste?
"Kai―maksudku, Pangeran Kai, ka-kau nggak salah bicara, 'kan? I-Iya, 'kan? Atau karena telingaku sudah tidak dibersihkan sejak zaman dinosaurus bangkit lagi―a-aku tidak percaya ini,"
"Perlu kuulang? Aku bosan menjomblo," kemudian Miwa langsung jawdrop hingga ke lantai kelas. Seisi kelas pun langsung menjerit histeris karena prestasi Miwa dalam menganga(?) kemudian berlari tunggang langgang ke luar kelas.
"Ka-Kamu nggak salah dialog?"
"Sepulang sekolah nanti kau harus mencari alamat tadi sampai dapat―"
"Oke, Oke, santai dulu, oke?" Miwa kembali mengatup mulut, kemudian mengada kedua tangannya di depan pangeran bungsu dari Kerajaan Link Joker. Ia mengacak-ngacak rambut pirangnya sebentar, berusaha meluruskan apa yang belok di otaknya sekarang.
'Demi Siti makan soto sate, yang benar ini? Pangeran Kai, yang jago di bidang akademik, bidang olahraga, ilmu berpedang, dan gantung penjahat di tiang, bosan menjomblo!?' inner Miwa menggila. Ia kira pangeran kawalannya itu menganggap enteng masalah perjodohan ini, apalagi Kai memiliki dua saingan nanti, 'kan?
"Terus apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku ingin melihat seperti apa calon pasangan hidupku," jawab si brunet, singkat dan datar. Miwa tambah merinding kemudian lari-lari sampai ke atap kelas melawan gravitasi saking syoknya. Oke, ia semakin mencolok setelah atraksi menganganya tadi dan sekarang bisa berlari ke atas dengan posisi terbalik.
Ia calon pesirkus mungkin.
"Ow, santai dulu Kai, kau ingat 'kan kau memiliki dua pesaing lain, dari Kerajaan Narukami dan Kerajaan Gold Paladin," setelah puas berlari-lari mengitari kelas, pemuda bermanik perak tersebut kembali duduk di hadapan Kai. Murid-murid lain yang mengintip dari luar kelas hanya sweatdrop melihatnya.
"Itu urusan kecil," kemudian pembicaraan mereka terhenti karena bel tanda pelajaran dimulai berdering.
―twining tails―
Glegar.
Petir terus menyambar, bagaikan sekilat cahaya di tengah kegelapan yang tiada akhir. Awan kegelapan terus menggentayangi istana anti listrik yang dipimpini oleh Siti (nama disamarkan). Sang pemimpin berjubah gelap mengetuk-ngetuk tiap jarinya di meja, menciptakan dentingan tak berarti di ruangannya yang sunyi dan gelap.
"Sudah bertahun-tahun menjelang kejadian waktu itu, sebentar lagi saat-saat yang kuinginkan akan tercapai, ufufufufu ..." ia menyeringai jahat. Walau wajahnya lebih mirip tukang angkot waria daripada penjahat. Para anak buahnya (yang tidak tampak sedari tadi saking gelapnya istana) ikut menyeringai senang.
"Ratu, kutukan Anda tidak mungkin hilang sekalipun seisi Royal Paladin sudah memusnahkan jarum pintal, 'kan?"
"TENTU SAJA!" rupanya Siti (nama disamarkan) sedang tidak santai, sehingga pertanyaan ringan saja dia anggap pernyataan cerai. Anak buahnya meringsut takut kayak berhadapan dengan anjing bulldog. Oh, rupanya Siti (nama disamarkan) setara dengan bulldog―
"Tidak akan ada yang bisa mengenyahkan kutukanku, ratu paling cantik sejagad raya! Yang bahkan lebih seksi daripada Julia Ngeres dan Yuni Sarap! Tiada tandingannya, ahahahahahaha!" salah satu bawahannya kemudian mencuri lirik ke arah (karena konten mengandung unsur yang tidak benar, jadi disensor) majikannya.
'Apaan, dada triplek tapi ngaku-ngaku seksi ...' batinnya.
"Me-memangnya apa yang akan tuan―"
"DIAM, JENGKOL! DAN PANGGIL AKU BAGINDA RATU TERMULIA TERCANTIK TERSEKSI TERIMUT MENGGEMASKAN BIKIN MIMPI BOCHOR-BOCHOR!" Siti menatap nyalang ke arah anak buahnya. Mereka semua tampak terkejut, walau kemudian menatap satu sama lain dan mengangguk kecil.
"Ba-Baiklah, Baginda ratu termulia tercantik terseksi terimut menggemaskan bikin mimpi bo-bocor-bocor, apa yang akan Anda lakukan kalau kutukan itu berlangsung?" Siti (nama disamarkan) mengangkat sudut bibirnya.
"Tentu saja mengambil ahli Royal Paladin. Mereka akan terpuruk jika putra mahkota tiada, jadi aku akan manfaatkan kesempatan itu untuk mengambil ahli kerajaan tersebut," katanya dengan nada sarkastik. Ia kemudian membayangkan akan tinggal di kerajaan yang kelap-kelip (baca: banyak lampu), makanan dan minuman mewah di mana-mana, terang, banyak pohon nangka, bisa berkebun.
Wah, pasti asyik, tuh.
Memang alasannya untuk menguasahi Royal Paladin tidak ada elit-elitnya.
"Tapi, Baginda ratu termulia tercantik terseksi terimut menggemaskan bikin mimpi bocor-bocor, Anda harus memikirkan bagaimana Anda beraksi nanti. Agar keberadaan Anda berkesan di mata lainnya!" usul salah satu si anak buah membuat Siti (nama disamarkan) berpikir.
"Benar juga―"
"Dan apa Anda mengingat kapan putra mahkota Royal Paladin berulang tahun, Baginda ratu termulia tercantik terseksi terimut menggemaskan bikin mimpi bocor-bocor?" Siti (nama disamarkan) hampir keselek lidah sendiri mendengarnya. Benar juga, ia mengutuk Aichi mati di hari ulang tahun tapi nggak tahu kapan itu pangeran ulang tahun.
Lihat, siapa yang kampret sekarang.
"A-Aku tahu, kok! Kalian jangan sembarangan menghinaku, ya―"
"Ngomong-ngomong, Baginda ratu termulia tercantik terseksi terimut menggemaskan bikin mimpi bocor-bocor―"
"DIAAAAM! JANGAN POTONG PEMBICARAANKU!" Siti (nama disamarkan) menatap kesal ke arah pengikut-pengikut setianya, yang rela berkerja di bawah perintahnya tanpa bayaran. Daripada entar dikutuk jadi kecebong sama Siti (nama disamarkan).
"Ta-Tapi, 'kan, Baginda ratu termulia tercantik terse―"
"NGOMONGNYA NGGAK PERLU RIBET-RIBET, PRET! LANGSUNG SAJA NGOMONG MAU APA!" Siti (nama disamarkan) tambah jengkel. Kalimat sependek karet gelang jadi keulek-ulek seperti gado-gado rasa es krim karena nama panggilannya yang berbelit.
"Habis tadi disuruh nggak boleh panggil tuan, harus panggil 'Baginda ratu termulia tercantik terseksi terimut menggemaskan bikin mimpi bocor-bocor', 'kan?"
"Iya, padahal aku sudah hafal mati-matian juga," Siti (nama disamarkan) hanya mampu menepuk jidatnya. Oke, dia berusaha untuk sabar. Daripada nanti kelepasan mengutuk mereka semua jadi kecebong berenang di matahari, terus dia nggak punya anak buah satu pun, bagaimana dia mau beraksi keren-keren coba?
"Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan tadi, cepat!" makinya seiring dengan sambaran petir dari balik jendela, yang membuat wajahnya semakin seram.
"Bagaimana kita harus mengurus ketiga artis BL―eh, maksudnya ketiga peri legendaris yang terus mengawasi putra mahkota sampai sekarang?" kata mereka takut-takut, yang lain mengiyakan dengan anggukan.
"I-Iya, terutama yang punya tendangan cahaya bintang, Tuan!"
Tendangan gak jelas begitu ditakutin. Benar-benar nggak ada yang beres.
"Yang rambut sapu juga bikin ngeri, serasa kita mau diterbangin pakai sapu raksasa, hyiii!"
Apa hubungannya rambut sama diterbangin sapu, Bejo?
"Jangan lupa bawa pulang yang cantik terakhir itu!"
"Setujuuu!"
Kemudian Siti (nama disamarkan) langsung melempar siapa pun bertatapan mesum keluar jendela, terus nyebur ke kali terdekat. Biarin mereka jadi makanan ikan cupang peliharaan Siti (nama disamarkan).
"Sialan artis BL itu! Dia berani menyaingi kecantikan, keseksianku, dan kemolekanku rupanya!" Siti (nama disamarkan) semakin murka. Ia mulai membejek-bejek durien terdekat saking kesalnya dan membuat semua anak buahnya histeris seperti dikejar kecoa.
"Lihat saja, aku pasti akan mengirim mimpi buruk ke seisi Royal Paladin! Dan tidak akan ada yang bisa menghentikanku, sekalipun ketiga artis BL itu menghadang, ahahahahahahahaha!"
"A-Anu, mereka bukan artis BL ..."
Ikan cupang di luar sana bersorak gembira karena makanannya nambah lagi.
―twining tails―
Aichi kembali ke kelasnya setelah bel istirahat kedua berakhir terdengar. Ia duduk di kursi belajar sekolah yang berbau khas kayu jati dan diukir penuh kemewahan. Aichi mendudukinya dengan rasa bangga. Ternyata otak selola dan lama buffering macam dia bisa duduk di kursi ini juga.
Namun kemudian kedua alisnya bertaut tatkala mengetahui laci mejanya yang semula kosong terselip kertas―oh, atau lebih tepatnya beberapa lembar amplop surat.
'A-Apa ini?' pikirnya.
Melirik sekitarnya, tidak ada yang memperhatikan, ia pun mengambil ketiga amplop surat yang diletakan dengan posisi tak beraturan di dalam lacinya. Bentuknya pun luar biasa bagus. Satunya berwarna merah muda penuh ukiran khas berbentuk api, satunya lagi berwarna emas dengan hiasan pita bernuasa kemewahan, dan terakhir berwarna ungu dengan hiasan bintang yang berkelap-kelip mempesona.
Aichi ngiler duluan, padahal baru amplopnya yang dilihat.
Ampun, deh, dimana-mana orang nggak sabar lihat isinya.
Kembali melirik ke sekitarnya, dirasa aman, Aichi mulai membuka amplop tersebut dimulai dari yang berwarna ungu.
Aku calon pasangan hidupmu yang berasal dari Kerajaan Link Joker. Karena aku baru bisa melihatmu dari jauh, jadi aku ingin kita bertemu sepulang sekolah. Nggak pakai tapi-tapian. Tunggu aku di perkarangan sekolah bagian selatan.
Kai
'Ampun, ini mau ngajak ketemuan atau duel!?' Aichi sweatdrop melihat kesingkatan surat pertama yang dibacanya. Dan ia berpikir-pikir sejak kapan orang berinisal 'Kai' ini melihatnya dari jauh. Apa sejak pertama kali ia datang sekolah? Ah, entahlah ...
Berikutnya, ia mengambil amplop surat yang paling menarik perhatiannya sejak tadi, yaitu yang berwarna keemasan.
Yo, Juliet. Sepertinya kita berjodoh karena pertalian takdir mempertemukan dalam ikatan cinta. Aku belum pernah melihat rupa cantikmu yang pasti membuat hatiku hanya tertuju padamu. Aku tidak sabar untuk bertemu dan mengajakmu menonton Projen, jadi maukah kita bertemu sapa sepulang sekolah? Aku akan menunggumu di perkarangan sekolah selatan.
Your Romeo,
Ren
Aichi nggak tahu mau merona merah atau cengo dulu. Oke, kalimat di surat kali ini memang sesuai bayangan Aichi sejak pertama melihat amplopnya. Sosok 'Ren' ini begitu romantis, tapi apa maksudnya dengan 'menonton Prozen'?
'P-Prozen itu apa? Nama pertunjukan sirkus? A-Atau acara talkshow?' Aichi speechless seraya menggaruk-garuk poni birunya.
Berikutnya surat terakhir, yang memiliki bungkus amplop bertema merah dengan ukiran api yang sangat cantik dan menarik perhatian. Ia mulai membuka amplop tersebut dan mengambil isi suratnya.
Aku Ishida Naoki, woi. Salam kenal, ya, woi. Gini, nih, woi, kita kan belum pernah ketemu, woi. Jadi tidak ada salahnya kan kalau kita mencoba berbicara empat mata, woi? Perkarangan sekolah selatan sepertinya cukup romantis buat pertemuan pertama, woi. Jadi sepulang sekolah nanti tunggu aku di sana, ya, woi.
PS: 'Aichi' nama yang indah, woi.
Ishida Naoki
Gak tahu surat yang ini mau ajak ketemuan atau ngelawak. Aichi yang level otaknya memang setara dengan Kenji pun semakin bingung dibuatnya.
'Pe-Perasaan namaku bukan 'woi', deh ... tapi di akhir surat dia bilang namaku indah, tidak mungkin ini surat salah kirim kalau begitu. A-Aneh ...'
Tapi kemudian Aichi menghela nafas dan merapikan kembali ketiga surat tersebut, yang ajaibnya menempatkan tempat janjian di lokasi yang sama. Perkarangan sekolah bagian selatan. Jadi disaat itu juga, ia bisa bertemu dengan ketiga calon pasangan hidupnya yang dibicarakan oleh Daigo dan Leon tadi.
"Oke, sekarang buka buku pelajaran ke tiga lalu kerjakan halaman 116," selesai memberi intruksi, Daigo tampak antusias melihat kursi deretan ke empat, di mana Aichi yang tengah sibuk dengan beberapa surat yang ditujukan padanya.
Ia tersenyum jahil, 'Sepertinya ketiga calon pasangan Aichi sudah bergerak. Aku harus memberitahukan Leon dan Takuto nanti!' pikirnya semangat.
―twining tails―
Jam pulang sekolah berdering, banyak kereta kuda yang sudah memenuhi pintu utama sekolah guna menjemput murid-murid berprestasi mereka kembali ke kandang―eh, maksudnya ke mansion atau kerajaan mewah masing-masing.
Jumlah murid di sekolah bernuasa konglomerat ini memang sangat banyak, ada ribuan. Karena itu tidak heran jika jam pulang sekolah membuat halaman depan terlihat seperti lautan manusia.
Ren membiarkan beberapa murid lain yang menyapanya saat berpas-pasan, ia berjalan dengan langkah cepat menuju perkarangan belakang sekolah, yaitu bagian selatan. Tempat di mana ia sudah menentukan waktu menonton Prozen―eh, maksudnya bertemu dengan calon pasangan hidup tercinta.
Ia mengendus antusias wangi bunga yang menguar begitu ia melangkah keluar dari gerbang selatan. Sepi, memang, karena perkarangan selatan 'kan berlawanan arah dengan pintu utama yang menjadi tempat murid dijemput pulang.
Perkarangan belakang sekolah memang sangat luas, banyak macam pohon dan bunga menghiasi tiap sudutnya, plus taman labirin di tengah yang selalu bikin tiap murid yang kejebak di sana nangis dan ngompol.
(Let it Gong – Demi Potato – now playing)
―"Badai yang mendadak menerjang,"―
Ren berjingkrat-jingkrat menuruni tangga pendek, tapi begitu sampai anak tangga terakhir dia kepeleset. Jatuh dengan posisi muka duluan berduel―mencium tanah.
―"Kepeleset, deh, gue,"―
Ren bangkit berdiri seraya mengusap wajahnya. Ia melirik ke bawah dan menatap cairan keju yang merupakan dalang dari ketidak-elitannya jatuh.
―"Pengen diisolasi, dasar keju, kampreto,"―
Tapi kemudian Ren kembali berjingkrat-jingkrat menuju perkarangan seakan keju tadi bukan masalah. Ekspresi bahagia terpampang jelas di wajahnya.
―"Gini, nih, rasanya ketemu juliet~,"―
Ren melentangkan tangannya dan berputar-putar seperti mesin blender saking bahagianya.
―"Gak peduli, walau terjatuh,"―
Sementara dari kejauhan, datang sesosok figur lain yang sepertinya juga ada janji kemari. Ia datang dari arah perkarangan barat. Figur bersurai brunet itu sempat terkejut karena ada orang lain di tempat tersebut. Matanya memicing.
'Siapa 'tuh orang gila yang muter-muter di tengah taman? Waria? Atau jangan-jangan itu―'
―"Dia gila, gue gila. Sama-sama, nggak punya otak,"―
Kai menautkan alisnya seraya menggaruk pelipis ketika sosok asing itu mengitari pohon dengan berjingkrat-jingkrat. Perasaan pas dia lihat saat jam istirahat, 'Aichi' rambutnya nggak sepanjang itu, deh. Terus orang yang di depan dia ini siapa?
―"Ya gak waras, terus 'napaaaaa? Emang 'napaaa?"―
Yah, daripada diam di tempat terus penasaran, Kai pun menghampiri sosok yang dikira sinting tersebut. Sekarang figur tersebut bersujud kemudian berpose seakan memegang sesuatu―seperti pemukul kasti?
―"Let it Gong~ Let it Gong~ Jealous nggak usah ngomong,"―
Kemudian datang figur lainnya dari arah perkarangan timur. Ya, reaksinya nggak jauh dari Kai. Ia nggak tahu mau cengo atau jawdrop melihat sesosok figur bersurai panjang berpose ingin memukul bola baseball, mana pakai acara goyang pantat dulu lagi kayak kartun donalbebek.
'Siapa, tuh, woi? Si 'Aichi'? Ka-Kayaknya bukan, deh, woi. Dia main baseball sama siapa juga?' pikirnya. Naoki menggaruk-garuk rambut merahnya bingung, emang ada atraksi gratis ya di sekolah ini?
―"Let it Gong~ Let it Gong~ Akuilah kau jealoous~,"―
Sibuk dengan atraksi―eh, maksudnya semedi, Ren baru menyadiri kehadiran dua figur yang berada di tempat yang sama dengannya. Yang satu datang menghampiri, yang satu masih anteng di ujung pintu keluar perkarangan timur dengan wajah tololnya.
'Lho, siapa mereka? Apa salah satu dari mereka itu Juliet-ku? Mencurigakan, beraninya mereka melihat tarian khusus Let it Gong-ku sembarangan,' kemudian kedua maniknya tertuju pada pintu masuk menuju taman labirin. Ia tersenyum jahil, kemudian meloncat-loncat membayangkan ia adalah penari balet (walau terlihat seperti kelinci dari segi mana pun) ke dalam labirin.
―"Kau boker, bau lontong nyeker,"―
'Ha-Hah? Ngapain dia masuk ke sana? Siapa, sih? Bisa hancur rencanaku pedekate kalau tuh orang gila ada di perkarangan ini,' pikir Kai merasa harus mengamankan sosok aneh bersurai merah panjang tersebut. Ia segera menyusul masuk ke dalam labirin sebelum ketinggalan jejak.
―"Gue gilaaaaaaa, cinta rumit memang bikin kesel,"―
(Let it Gong – Demi Potato ― End)
"Dih, habis tuh orang bikin video klip Pro ... eh, Pro- apa, yah, woi? Oh, iya, Prozen, woi! Habis dia bikin video klip Prozen kok masuk ke sana―wo-woi, siapa lagi tuh yang nyusul dia masuk, woi!?" Naoki semakin bingung dengan apa yang terjadi di depannya sekarang. Niat ngajak ketemuan si putra mahkota Royal Paladin, eh malah disuguhin pemandangan yang tidak layak dari figur bersurai panjang yang sepertinya familiar.
Dan sekarang figur itu berjingkrat-jingkrat masuk ke dalam taman labirin dengan menyanyikan reff lagu Let it Gong, kemudian dari arah kejauhan ia melihat orang lain yang berlari menyusul sosok familiar tadi.
"I-Itu 'kan pangeran bungsu dari Kerajaan Link Joker, woi. Ka-Kalau nggak salah dia juga sainganku, yah, woi? Wah, jangan-jangan Aichi ada di dalam labirin, woi!? Tidak akan kubiarkan mereka mendahuluiku!" dengan kecepatan tinggi―berhubung dia juga aktif di klub atletik―, Naoki mengejar figur bersurai brunet yang sudah masuk ke dalam taman labirin.
Sementara beberapa menit setelah itu, ada sosok lain yang akhirnya mengisi kesunyian di perkarangan selatan. Ia datang dari pintu keluar gedung sekolah. Manik indahnya sesekali melirik ke sekitarnya dengan tatapan ragu.
Begini-begini, ini yang pertama kalinya Aichi mendapat janji bertemu dengan jodoh, dan tahu-tahu tiga surat sekaligus ia dapat. Tentu saja ada rasa malu dan gugup yang merambat di hatinya. Saking gugupnya Aichi sampai keluar masuk toilet sebanyak sepuluh kali sepulang sekolah.
Ia menggenggam ketiga surat tadi kemudian berjalan perlahan keluar gedung sekolah, di hadapannya perkarangan sekolah bagian selatan sudah menanti. Tapi apa daya, sosok yang Aichi tunggu ternyata tidak seorang pun ada di sana.
"E-Eh, kata Kak Daigo, perkarangan bagian selatan di sini, kok. Ta-Tapi kemana mereka? Apa jangan-jangan aku salah?" kemudian si helai biru melirik ke sekitarnya mencari petunjuk, dilihatnya sebuah papan gantung bertulis 'perkarangan sekolah selatan' dan menunjuk ke arah yang Aichi lihat tadi. Ia tidak salah, Daigo juga tidak membohonginya.
Ini tempat di mana ketiga figur yang merupakan calon pasangannya menjanjikan pertemuan sepulang sekolah. Lagipula, Aichi sudah telat sedikit karena ritualnya keluar masuk toilet saking gugupnya, harusnya tiga orang itu sudah datang duluan sebelum dia, 'kan?
'A-Apa mereka jam karet?' kemudian Aichi menatap ketiga surat yang terbungkus rapi beserta amplopnya dengan tatapan bingung.
"Let it Gong~ Let it Gong~ Ini kok gue nyasar~," kemudian ia langsung terperanjat kaget saat samar-samar mendengar suara nyanyian dari jauh. Arahnya dari perkarangan, atau lebih tepatnya taman labirin yang merupakan bagian utama dari perkarangan tersebut.
"Let it Gong~ Let it Gong~ Gue gak bisa pulang~," sekarang Aichi tambah sweatdrop mendengar suara itu kembali terdengar. Merdu dan manly memang, tapi liriknya tidak elit sekali, batin Aichi.
"Let it gong, Let it gong, kamu di mana, wooi!? Jangan nyanyi terus, Kampret!" kemudian suara lain yang juga asing ikut bersuara. Jika didengar dari posisi Aichi, maka arahnya terdengar sama-sama dari taman labirin. Aichi berkesimpulan jika ada dua pemuda di labirin tersebut, kemudian memutuskan untuk berlari mendekat agar bisa mendengar suara mereka lebih jelas.
"I don't care, kamu yang kampret~,"
"SIALAN, NGAJAK RIBUT, YA, WOI!? SINI AKU CARI KAMU SAMPAI DAPAT, SETAN!"
"Ck, ada satu lagi makhluk yang mau ganggu aku pedekate. Mengakulah siapa kau!"
"E-Eh. Ada suara satu lagi?" Jadi ada tiga orang di dalam (baca: kejebak) taman labirin ini. Aichi bisa mendengarnya jelas cukup berdiri di luar labirin. Lagipula ia tidak tahu siapa mereka, Aichi hanya mampu menyimpulkan jika tiga orang itu berada di dalam sana, tapi berada di posisi terpisah satu sama lain.
"AKU ISHIDA NAOKI, WOI! KAMU SENDIRI SIAPA, WOI!?"
"My name is Reeeeeeeen~,"
"GUE GAK NANYA KAMU, KAMPRET! DAN BERHENTI BERNYANYI LAGU LET IT GONG, DAMMIT!"
"Namaku Kai. Dan untuk apa kalian di sini?"
"E-EH!?" Aichi menutup mulutnya yang refleks bersuara. Ia terkejut, tentu saja. Ajaib ia bisa mengetahui nama mereka bertiga tanpa ngapa-ngapain, 'kan? Ia mendengarnya dengan jelas, mereka bertiga adalah calon pasangannya, Kai, Naoki, dan Ren.
Aichi terharu ternyata mereka tidak jam karet, melainkan kejebak di dalam taman labirin. Menyiapkan hati, ia pun menggenggam ketiga surat di tangannya dengan erat kemudian masuk ke dalam labirin tersebut bermaksud mencari mereka bertiga.
Tidak tahukah ia bahwa hal tersebut rencana terburuk yang pernah ada?
Otak pakai smartpret lagi bisa nyari orang di labirin.
―twining tails―
Misaki menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat kekonyolan yang terpampang jelas dari kaca jendela kelas. Ia memandang apa pangeran kawalannya berhasil atau tidak dalam pertemuan pertamanya dengan calon pasangan. Tapi melihatnya hanya membuat gadis itu semakin stress dan resah.
"Bersabarlah, Misaki. Aku tahu apa yang kau rasakan," Miwa yang duduk di samping Misaki berusaha untuk tidak tertawa. Tidak, ia tidak bermaksud mengejek pangeran tunggal dari Gold Paladin yang memang fanatik dengan Prozen itu, sama sekali tidak! Tapi apa yang dilihat mereka berdua―eh, maksudnya bertiga sungguh membuatnya sakit perut.
"Naoki juga, ngapain dia ikut-ikutan masuk ke sana, benar-benar idiot," Kamui juga menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin diantara ketiga pengawal pangeran ini, cuma Miwa yang nggak peduli sama pangerannya.
"Terus apa yang harus kita lakukan? Menelpon bantuan untuk mengeluarkan mereka bertiga?" Misaki bertanya dengan nada sarkatis. Ia menatap jengkel keluar jendela dari lantai tertinggi sekolah. Di mana ia bisa melihat jelas Ren masih menari bahagia padahal sudah kesasar sampai ke tengah labirin.
Memang anak ajaib dia.
"Ehehehe, jangan dulu! Jangan dulu! Ini menarik, tahu! Jarang-jarang 'kan kita melihat pangeran kita mengeluarkan sisi goblok-nya?"
Kemudian Miwa langsung meringis kesakitan ketika perutnya disikut keras Misaki dan kakinya diinjak Kamui.
"Misaki bisa mencari pacar lain kalau kamu nggak serius begitu, lho, Miwa," Kamui kembali bertopang dagu seraya memandang ketiga pangeran yang nggak tahu bagaimana nasibnya di dalam labirin sana. Ia bisa melihat Naoki kepincut emosi karena pangeran tungga dari Gold Paladin kawalan Misaki.
"Ba-Baiklah, aku minta maaf," Miwa mengerucut bibir dan melirik Misaki takut-takut. Sepertinya ia lebih hampa jika putus dari kekasihnya tersebut daripada pangeran kawalannya gak bisa keluar labirin. Memang edan.
"Hah, sebaiknya kita menunggu dulu―eh, ada yang datang," Miwa dan Kamui langsung menempelkan wajah mereka di kaca jendela ketika Misaki menyadari kehadiran orang lain. Gadis bersurai pendek tersebut langsung sweatdrop.
"K-Kau benar! Siapa itu?"
"Lihat di tangannya, Bodoh! Dia memegang amplop surat dari masing-masing pangeran kawalan kita!"
Misaki membulatkan kedua matanya, kemudian ikut-ikutan menempelkan wajahnya di jendela, hanya saja tidak serapat dua pemuda lain, "iya, dia putra mahkota Royal Paladin! Aku baru pertama kali melihatnya,"
"Heh? Yang benar?" Miwa melirik ke arah gadisnya. Misaki mengendikan bahu.
"Ha-Habis pengawalnya yang bernama Daigo enggan untuk memberikan―bahkan menunjukan fotonya," Miwa dan Kamui sweatdrop bersama-sama.
Over-protective detect.
"Be-Begitu, ya, apa boleh buat, setidaknya sekarang kita tahu," kemudian Miwa kembali mengfokuskan pandangannya keluar jendela, "he-hei! Sekarang anak itu ikut masuk ke dalam taman labirin! Dia tahu darimana pangeran ada di perkarangan bagian labirin!?"
"What the zork of mama, dia memiliki ilmu indera ke-tujuh!?" Kamui ikut-ikutan heboh dan tidak ingin melewatkan pemandangan ajaib tersebut.
Misaki menggeleng-gelengkan kepalanya, "kurasa kalian saja yang berlebihan."
―twining tails―
Leon menata setiap masakannya di meja makan. Hari sudah malam dan salah satu hari yang melelahkan pun berakhir. Seperti biasa, ia yang selalu membuat makan siang dan makan malam untuk kedua sahabat perinya beserta putra mahkota yang dijaga mereka.
"He!? Sup miso buatan Leon!? Asyiiik!" ia sedikit terperanjat kaget karena tahu-tahu ada beruang―eh, maksudnya Daigo sudah menyelinap masuk ke dapur dan mengintip aktivitasnya.
"Jangan habiskan semuanya, Aichi bisa menangis kalau dia tidak mendapat jatah sup misonya, kau ingat?" Daigo nyengir dan mengangguk. Kakak dan adik punya selerah makan yang hampir sama, teruntuk mereka addicted dengan sup miso buatan Leon. Hanya buatan Leon.
Makanya nggak heran Aichi ngambek sambil ngegayungin kepala Daigo dengan gayung tiniwingkinya karena kesal nggak kebagian jatah. Tentu Aichi kalah cepat, badannya juga mengandung gen Kenji yang patut dibumihanguskan.
"Tenang saja, aku rela membaginya setengah kalau malam ini aku dapat jatah," si pirang bergidik dan menatap Daigo yang sudah nyengir kayak setan kalap. Modus, 'kan. Ada maunya ternyata.
"Bukannya biasanya juga kau bagi setengah?"
"Aku akan memberi tiga seperempat untuknya kalau begitu," Leon tambah jengkel. Ini jatah makan malam atau pasar tradisional. Namun membayangkan Aichi yang meloncat-loncat girang karena dapat jatah sup miso lebih banyak, sepertinya tidak buruk.
"Hm, baiklah," demi buaya nyebur ke laut, betapa senangnya pemuda bermanik coklat tersebut. Dia bahkan langsung ambil handuk terus muter-muterin sambil teriak-teriak 'I'm the champion!'
"Hah, ada apa? Ada apa? Daigo jadi sarap?" kemudian Daigo langsung membekap kepala Takuto dengan handuk. Mereka bergulat dengan tidak elitnya entah yang sudah keberapa kali.
Tapi cukup na'as bagi Takuto. Baru datang sudah di-bully-bully.
"Ck, kalian diamlah. Merusak pemandangan saja," Leon melepas celemek dari tubuhnya kemudian menggantung kain berwarna hitam tersebut di samping wastafel, "ngomong-ngomong, di mana Aichi? Biasanya dia datang paling dulu atau tidak Daigo ke sini saat jam makan,"
Yah, kalian tahu alasannya kenapa, 'kan?
"Dia tidak keluar kamar sejak pulang sekolah," lapor Takuto setelah berhasil lepas dari jeratan handuk, kemudian menendang Daigo sampai kesangkut di jendela, "mungkin dia deg-deg-an sejak ketemu dengan calon pelamar-pelamarnya sepulang sekolah? Habis tadi dia pulang cukup sore, 'kan?"
"Bu-Bukan," Leon dan Takuto bersamaan melirik ke arah Daigo yang masih nyangkut di jendela tanpa ada niatan membantu pemuda itu, "Aichi diam di kamarnya karena kelelahan, katanya,"
"APA?" kedua manik violet Leon langsung melotot, "mereka, baru ketemu sudah berani melakukan hal tidak senonoh pada anakku? Akan kuberi pelajaran mereka―"
"Tunggu, tidak seperti itu!" dengan sihir, akhirnya Daigo melepaskan diri dan muncul di belakang Leon, memeluk pinggangnya, "Aichi bahkan belum bertemu seorang pun dari mereka. Rencana bertemu mereka batal karena semuanya terjebak di dalam labirin dan ajaibnya tidak bisa menemukan satu sama lain," lanjutnya.
"Ha-Hah? Si-Siapa suruh ketemuan di dalam labirin?" Takuto menautkan alisnya bingung, orang idiot mana yang janjian di tempat nggak lazim? Sementara Daigo hanya mengendikan bahunya sebagai jawaban.
"Aichi mati-matian mencari jalan keluar, setelah berhasil tahu-tahu langit sudah sore. Jadi ia memutuskan untuk pulang, begitu ceritanya padaku. Tidak heran kalau dia kelelahan, 'kan?" mereka bertiga memandang satu sama lain. Leon menghela nafas lelah kemudian melepaskan tautan tangan Daigo di pinggangnya.
"Begitu, sungguh disayangkan. Padahal aku sengaja memasak sup miso untuk merayakan pertemuan pertamanya dengan calon-calon pelamar yang sudah disiapkan Ratu Yuri," Daigo sedikit cemburu mengingat sup miso di meja sekarang bukan untuknya. Tapi tidak apa-apa, deh, 'kan ada jatah malam, pikirnya.
"Padahal kalau mereka bisa bertemu hari ini lebih mempersingkat waktu, 'kan? Ulang tahun Aichi yang ke-tujuh belas tinggal empat bulan lagi, kita harus cepat," suara Takuto terdengar resah. Dan hal itu membuat dua insan lainnya ikut larut dalam kesunyian.
"Benar, aku memang setuju dengan keputusan Ratu untuk memiliki tiga kandidat agar tidak terlalu memaksa Aichi, tapi ini terlalu mendadak. Kita harus cepat membuat Aichi memilih salah satunya sebelum terlambat," Daigo ikut bersuara seraya menarik salah satu kursi makan, duduk di sana.
Leon mengangguk, "nasib seluruh Royal Paladin juga ada di tangan kita. Daigo, Takuto, kita harus berjuang sekalipun nyawa taruhannya," kedua insan lainnya mengangguk.
Atmosfer mencekam yang menyelimuti ruangan itu tanpa sadar dirasakan oleh seorang insan yang berada di balik pintu dapur. Niatnya untuk pergi ke dapur demi makan malam pun terhenti dan mendengarkan apa yang seharusnya tidak ia dengar.
Aichi mengernyitkan dahinya mendengar perbincangan serius yang dilewatkan ketiga kakaknya tersebut, yang sama sekali tidak ia mengerti. Tidak, ia seharusnya mengerti. Ia topik pembicaraan mereka dan seharusnya Aichi tahu.
Tapi mengapa ia merasa tidak nyaman dengan semua ini?
'Ka-Kak Daigo, Kak Takuto, Kak Leon juga ... mereka menyembunyikan sesuatu dariku. Ra-Ratu Yuri itu 'kan ratu negeri ini, a-apa hubungannya ratu denganku? Ada apa di hari ulang tahunku yang ke-tujuh belas nanti? Kenapa mereka menyembunyikannya?'
Ternyata cerita sudah menuju puncak dramatis, saudara-saudara―eh, tunggu, salah naskah.
Karena ketidaksengajaan, rahasia kecil pun terbocorkan hingga sampai pada si tokoh utama cerita. Di tengah kekhawatirannya yang melanda, Siti (nama disamarkan) juga sudah merencanakan sesuatu jauh-jauh hari sebelum rencana jahatnya berjalan. Akankah Aichi menemukan kebenarannya? Apa salah satu dari ketiga kandidat pangeran tadi akan menjadi penyelamat atas segalanya?
.
.
.
[Sleeping Beauty, 3 of 4]
To Be Continued
.
.
.
A/N: Ohok, maaf update-nya lama, ya. Sebagai gantinya, chapter ini panjangnya over daripada biasanya, 7000 words, lho, kurang puas apa coba? :p Jadi maafin, yah? #plak. Pangeran hanya satu itu sudah terlalu mainstream, jadi di sini kasih tiga kandidat pangeran, hohohohoho. Cerita sudah mendekati konflik utama, dan maaf jika parody-nya kelewatan karena otak author melenceng dan gagal ingat tentang cerita Sleeping Beauty, jadi dimiringin sedikit, deh, ya #inibanyakpret.
Soal plesetan lagu, aslinya berjudul Let it Go (Demi Lovato) dari film animasi berjudul Frozen. Tapi di sini diplesetin menjadi Let it Gong (Demi Potato) dari Prozen(?) #ditendangfansfrozen.
Ada yang bisa menyanyikannya dengan versi plesetan, nggak? /plak. Dan kami minta maaf kalau ada yang nggak mudeng sama lagu Let it Gong(?) entah karena nggak pernah mendengar lagu aslinya atau gimana #sujud.
And, warn. Ingat dua genre utama cerita ini? Romance is just slight-genre. Jadi jangan harap ada adegan yang menjorok ke serius, oke? #wink. Because we love fluff-romance! #mananyayangfluffpret #dikeroyok.
Dan bagi yang bingung di bagian Daigo ingin Takuto mengurangi pheromone Leon.
Pheromone itu hormon alami yang dimiliki manusia. Hormon ini berkerja untuk menarik perhatian pasangan. Hormon Pheromone yang dikeluarkan manusia biasanya hanya 30%. Nah, rahasia di sini Leon kelewatan enteng jodoh(?) adalah karena pheromone-nya yang melebihi batas normal :p #ditendang.
Bagian Ren lagi nyanyi lagu Let it Gong(?) itu reff bagian kedua, makanya terakhir dia dengan tidak berdosanya berteriak 'My name is Reeeeeeen~,' seperti Elza di Prozen(?).
Reply Review:
Chacharat: Iya, Yuri terlalu fanatik sama drama, sampai pemberkatan anaknya kudu pakai drama-song(?). Iya, asapnya nggak asli, masa Rekka harus bakar-bakar dulu sampai ada asap, jadi dia meminta Tono untuk mengeluarkan asap buatan. Hehehe, iya, sedikit LeonAi walau hubungannya nggak lebih dari saudara atau ibu dan anak(?). Thanks, ya~
Cece Mayuyu: Boleh saja ngakak, tapi entar kotak ngakak-nya dalam bahaya, lho(?). Kenji di chapter kemarin memang kelihatan epic-fail-nya. Iya, sayangnya saat besar Aichi nggak pakai hissatsu-hissatsu-nya lagi #yaiyalah. Daigo nggak bakal grepe Aichi, hanya over-protective, kok, muehehehe. Iya, ketawain saja tuh si Supratno dan Tono, siapa suruh bikin asap buatan, kerennya maksa #kalianyangbikinkan. Semoga chapter ini juga bikin kamu ngakak sampai kotak ngakaknya rusak :9
Izumo Mikoto: Hahaha, terima kasih warn-nya, tapi mereka berdua sudah kapok, kok. Malah makin ke sini ketahuan 'kan siapa yang sering ngomong kasar diantara ketiga peri itu? #smirk.
Ama: Ya, ampun, kamu nggak kuat kenapa? #ambigudetect. Kenji di sini memang terlalu berprestasi, jadi maklumi saja, ya. Supratno tidak ada sense kerennya, jadi ujung-ujungnya malah jadi ngelawak, deh. Ohok, tenang, Leon masih pakai pengaman(?) kok, jadi nggak bakal punya banyak anak :9 #ditampol.
KOLINnoKOLIN: Ya, ampun, masa sampai dikira orang gila? Hati-hati, nak, selain kotak ketawa rusak, nanti dikarantina kayak Naoki gimana #authordibejek. Pasti update selalu :-) Terima kasih dukungannya, dear!
Dracokid: Ketawanya dijaga, ya, entar kotak ketawanya rusak, muehehehe. Iya, bacanya jangan di mall atau di tempat umum, terlalu berbahaya #apanya. Yah, walau ujung-ujungnya mama dan adek kamu sudah curiga ada apa-apa #plak. Aichi kecil di sini silahkan dibayangkan sendiri, nggak babak belur, kok, siapa yang berani mukul dia coba? #lirikdaigodanleon. Umur ketiga peri legendaris jalannya lebih lama dibandingkan manusia biasa, itu rahasia keawetan-muda mereka, hehehehe. Good luck too for you!
Kujo Kasuza: Chapter kemarin kurang kerasa? Sungguh kamvreto(?), nih chapter ini kasih 7000 words untuk is fict-nya saja, masih belum puas? :9 Ngakaknya hati-hati oke? Entar kotak ngakak-nya rusak siapa yang berabe #kepo. Iya, chapter kemarin ketiga peri plus raja dan ratu plus supratno yang banyak beraksi, hihihihi. Prince charming-nya ada tiga, nih, masih rahasia siapa yang Aichi suka, muehehehe #dipilihayodipilih. What, kamu jadi banci taman lawang―#bukan #kidding. Yosh, pasti update terus.
Cosmic Pretty Re-Ina: Yuhuuu, Ina. Request-nya sudaah, maaf atas kenundaannya yang terlalu lama, ya, maaf bangeet! :"( Eh, kok nangis Leon jadi mama? Imej-nya nggak cocok, ya? #dibakar. Daigo dibilang gak cocok bisa nangis dia, Takuto memang dari sana-nya kurang minum susu Zeet, sih #kokpromosi. Kenji nggak sadar-sadar kayaknya, walau gen-nya diwaspadai(?) oleh tiga peri, wkwkwkwkwk. Thanks dukungannya ;)
Snowy Coyote: Ngakaknya hati-hati, kotak ngakak-nya dalam keadaan urgent #gakgitu. Aichi memang unyu dari sananya, kok. Sudah sma juga tetap unyu, hehehe. Peluk cium boleh, tapi culik jangan, bisa dikeroyok sama Daigo dan Yuri nanti #plak. Daigo sama Takuto memang keroyokannya nggak pake santai, mereka juga ada sihir supaya lukanya cepat pulih :9 Hahaha, iya, Rekka menggali lubang kubur sendiri tuh. Terima kasih sudah menunggu chapter ini :)
Beigefrontal: Terima kasih pujiannya, ya. Hati-hati jangan ngakak berlebihan, kotak ngakaknya rusak entar. Kekacauan di chapter tiga sudah hadir, semoga kamu sukaa, ya :)
Review please?
Kritik dan saran dibutuhkan kami untuk improvasi.
Twining Tails undur diri. Sampai jumpa di chapter berikutnya! Semoga kalian terhibur!
[5 Juni 2014]
