Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Naruto Uzumaki and Sasuke Uchiha

Warning: YAOI, Mungkin OOC, Typo, mungkin ide pasaran, dan kekurangan lainnya.

.

.

Don't Like, Don't Read

.

Kosong.

Itulah hal pertama yang Deidara dan Itachi temui saat menginjakkan kaki di rumah sederhana bercat abu-abu.

Mereka pikir akan menemukan sesuatu yang menarik saat mengunjungi rumah ini.

Tapi nyatanya tidak.

Terutama Deidara. Raut kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.

Rumah ini terlihat seperti memiliki penghuni jika dilihat dari luar, karena halamannya yang indah terawat dan juga tidak adanya sampah atau hal lain yang dapat merusak pemandangan.

Tapi saat melihat ke dalam, tak ada satupun benda.

Benar-benar tak ada.

Kosong.

Jangan tanyakan bagaimana cara mereka dapat membuka pintu.

"Sejak kapan?" Deidara berucap lirih.

Padahal Deidara berharap dapat menemukan sesuatu jika ia datang ke sini. Menemukan hal yang dapat menguntungkannya.

Lalu untuk apa ia berjudi mempertaruhkan semua hanya untuk mencuri dengar.

"Brengsek," umpatnya memukul tembok.

"A-ah. Kupikir akan melihat sesuatu yang menarik," ucap Itachi dengan tangan bersedekap.

Deidara berbalik, menunjuk wajah Itachi. "Kau…dan keriput sialanmu itu sungguh tidak berguna."

"Haaah. Kau menyalahkanku?" ucap Itachi menyingkirkan tangan Deidara. "Bahkan aku membolos bekerja hanya untuk menemanimu."

Jelas Itachi menyesal. Bayangkan saja, ia membuang waktu dan uang –walau uang tak berarti apapun, hanya untuk ke Suna dan setelah sampai, ia tak mendapatkan apapun yang menarik.

Sungguh menyesal.

"Aku tidak pernah meminta Kau untuk menemaniku."

Lalu kekesalannya bertambah karena kelakuan manusia norak di hadapannya. Bukankah dia yang meminta Itachi untuk mengantarkannya ke Suna. Lalu setelah ia membuang waktu berharganya hanya untuk mengantar Deidara, sekarang ini yang didapatkannya.

Tidak tahu terimakasih.

Itachi meninju wajah Deidara. Benar-benar meninju dengan penuh perasaan dan kekuatannya.

"Brengsek. Kau memukulku."

Itachi menginjak punggung Deidara yang jatuh tengkurap karena pukulannya.

"Aku sudah menahan pukulanku."

"Aku akan menuntutmu."

Itachi tertawa mendengar ucapan Deidara. Tidak mungkin Deidara berani melakukan hal seperti itu. Jika ia melakukannya, itu sama saja seperti ia menantang malaikat maut.

"Ayo kita kembali," Itachi berjalan tanpa menghiraukan Deidara yang kesakitan karena pukulannya.


Sepi dan sunyi.

Suasana itulah yang menyapa Sasori saat pertama kali menginjakkan kaki di terminal Konoha.

Hanya beberapa orang saja yang masih setia menemani malam.

Perjalanan Suna menuju Konoha bila ditempuh melalui jalur darat sangatlah lama. Membutuhkan waktu satu hari bahkan lebih.

Sasori menghela napas, merapatkan jaket yang ia kenakan. Udara musim gugur sudah terasa di penghujung musim panas seperti ini.

Ia berjalan sepanjang trotoar. Memilih untuk berjalan kaki dibanding menggunakan kendaraan umum. Mengulur waktu adalah tujuannya.

Di malam seperti ini, warga Konoha memilih untuk berdiam diri dibanding berjalan-jalan di sepanjang kota. Hanya beberapa orang saja yang berkeliaran menikmati angin malam yang sesungguhnya tidak bersahabat.

Lalu Naruto.

Dia menghilang beberapa menit setelah kereta berhenti.

Sasori tahu Naruto memang keras kepala, tapi ia tak menyangka Naruto akan benar-benar keras kepala seperti ini.

Sasori berpikir bahwa Naruto akan langsung kembali ke mansion bersamanya, begitu dia menginjakkan kaki di Konoha. Tapi nyatanya dia menghilang entah ke mana.

'Aku tidak pandai membuat alasan.'

Sasori yakin, jika ia menginjakkan kaki di mansion Namikaze tanpa kehadiran Naruto bersamanya, ia akan dijadikan bulan-bulanan para Namikaze lain.

"Apa aku kabur saja," gumamnya.

Tidak.

Sasori menggelengkan kepala. Tidak mungkin ia bisa kabur. Kabur hanya akan membuatnya hidup dalam ketidak nyamanan.

Terlebih, salah seorang Namikaze telah tahu Naruto bersamanya.

Lalu ia akan ke mana? Hanya para Namikazelah orang yang dekat dengannya.

Ah. Beginilah nasib jika menjadi orang yang tertutup.

Sasori berjalan kearah taman dengan lampu yang temaram, lalu duduk di ayunan taman seorang diri.

Meratapi nasib.


AAAA

Teriakan super kencang itu berasal dari sebuah kamar apartemen di daerah pusat Konoha.

Pemilik kamar dengan tato berkanji Ai di dahi kirinya berteriak, karena seseorang dengan seenaknya masuk ke dalam apartemennya dan menggunakan dapurnya?

Tapi bukan itu masalahnya.

Ia berteriak karena terkejut.

Bagaimana cara orang tersebut bisa masuk? Di saat pintunya terkunci –menggunakan password dan kamarnya terletak di lantai 6. Hanya orang bodoh dan nekatlah, yang mau memanjat dinding dengan tinggi beratus-ratus meter.

Pencuri? Tidak. Pencuri tidak mencuri dengan sangat santai. Lagipula apartemen ini keamanannya terjamin.

Lalu?

"Kau mengejutkanku, Gaara."

Gaara menekan saklar –menyalakan lampu. "Harusnya aku yang berkata seperti itu Naru."

Gaara lega. Pikiran negative pun sirna dari otaknya. Seharusnya dia sadar sedari awal, hanya tiga orang termasuk ia yang mengetahui password kamar apartemen ini dan salah satunya adalah Naruto.

"Kapan Kau kembali?" Gaara mengekor di belakang Naruto yang berjalan menuju ruang santai. Mendudukan diri di samping Naruto yang setengah berbaring pada sofa panjang merah marun.

"Beberapa jam yang lalu dan aku mengantuk," Naruto memperjelas kata-katanya dengan menguap.

"Kamu mau tidur di dalam?"

Naruto menggelengkan kepala. "Aku tidak mau satu ranjang denganmu," ucapnya, bergidik.

Gaara tertawa. Berjalan menuju kamar untuk mengambil bantal serta selimut untuk Naruto.

"Jelaskan padaku besok pagi," tuntutnya.

Naruto hanya bergumam, menyamankan diri di bawah selimut tebal dan memejamkan mata.

"Oyasumi," bisik Gaara, menepuk kepala Naruto pelan. Berjalan, mematikan lampu, dan masuk ke ruangannya.

.

Pagi hari menggantikan malam.

Suara kendaraan yang berseliweran di jalanan dan suara bising lainnya, menjadi musik di pagi hari.

Tapi, suara-suara itu tak terdengar sampai kamar apartemen bernomor 906. Hanya suara gesekkan piring dengan sendoklah yang terdengar, menandakan aktivitas yang terjadi di dalamnya.

"Aku tidak pernah tahu kalau kamu pandai memasak."

"Heh. Jangan meremehkanku," Naruto tersenyum menyombongkan diri.

Mereka lalu terdiam, menikmati sarapan yang disajikan Naruto.

"Jadi?" Gaara bertanya setelah menyelesaikan sarapan. Menuntut penjelasan.

"Jadi?...Kau bersekolah di KIHS? Seragam musim panasmu keren."

Gaara mendecakkan lidah. Beginilah jika Naruto tidak ingin membahas hal yang memang tak ingin dibahas olehnya.

Mengalihkan pembicaraan dan bertingkah menyebalkan.

"Aku selesai dan aku pulang, Kau yang membereskan semuanya. Jaa~ Gaara," Naruto mendorong kursi, berdiri, melambaikan tangan, berjalan menuju pintu.

Gaara mengejar, menghalangi jalan dengan merentangkan kedua tangan.

"Jelaskan dulu."

"Tak ada yang perlu dijelaskan."

"Kenapa tidak mencari di Rumah Sakit-"

"Gaara," Naruto mendesis.

Gaara menunduk. Seharusnya ia tidak bertanya, harusnya ia tak mengatakan itu. Naruto sangat tidak suka jika ada yang mencampuri urusannya. Sekalipun itu Gaara.

Naruto selalu merasa dia bisa menyelesaikkan semuanya seorang diri. Tak ada ruang bagi orang lain untuk membantunya. Kecuali, orang-orang tertentu yang telah ia setujui untuk membantunya.

"Kau tidak perlu merasa bersalah," Naruto menepuk kepala Gaara yang tingginya tak melebihi Naruto. Menggeser tubuh Gaara, mengenakan sepatu, lalu membuka pintu.

"Kau bisa terlambat, jika terus mematung Gaara," tegur Naruto, lalu menghilang di balik pintu.


Mansion itu bergaya Eropa modern yang identik dengan kemewahan, dengan cat putih yang menjadi warna utamanya. Terletak di atas danau buatan dengan jembatan batu-bata kokoh coklat tua yang menjadi penyambung jalan. Rumput hias hijau membentang di halaman dengan berbagai macam bunga dan tumbuhan hias, serta beberapa bukit kecil di sudutnya dengan bunga sakura yang tertaman, menambah keindahannya.

Dinding tinggi dangan gerbang bercat putih menjulang, dengan beberapa orang berpakaian hitam yang menjaganya.

Dan seorang pemuda berdiri di depan gerbang.

Seorang penjaga bergegas membukakan gerbang, setelah tahu siapa sang pemuda. Penjaga lain berbaris, membungkuk, menyambut kedatangannya.

Ia berjalan dengan angkuh dan berhenti di tengah mereka. "Kalian pikir jarak gerbang dengan pintu dekat. Kendaraan," katanya dengan suara tenang namun mengancam.

Seorang penjaga berlari dan kembali dengan menggunakan buggy car. Sang pemuda mendudukan diri di jok penumpang.

Setelah sampai. Pintu utama yang tebuat dari kayu jati dengan ukiran indah terbuka lebar dengan beberapa pelayan yang berbaris, membungkuk, menyambut kedatangannya.

Sang pemuda berjalan dengan gaya yang elegan, dagunya terangkat. Sombong. Itulah kesan utama yang terlihat.

Seorang pelayan mengekor di belakangnya. "Nyonya di ruang musik. Tuan," lapornya, lalu mengundurkan diri.

Ia terus berjalan melewati ruangan-ruangan dengan fungsi tersendiri. Interior unik namun indah dan berbagai prabotan mahal menghiasi tiap ruangan. Melalui ruang keluarga, menaiki tangga.

"Naruto."

Ia terus berjalan menaiki anak tangga, tak mengidahkan suara berat dan dalam yang memanggilnya.

"Naruto."

Ia tetap berjalan.

"Namikaze Naruto!" sekali lagi suara itu memanggil. "Diam di tempatmu!" serunya tegas.

Naruto terdiam di tengah tangga, pandangannya lurus ke ujung anak tangga.

"Kemari!"

Naruto mendecih, terpaksa menuruti perintah orang di bawah sana.

"Aku pulang, Otou-sama," katanya dengan suara pelan dan sedikit membungkuk setelah sampai di hadapan orang tersebut.

Minato Namikaze, nama orang tersebut –ayah dari Naruto. Menatap tajam sang anak karena telah membuatnya kesal. Naruto membalas tatapannya.

"Ke ruanganku," Minato berbalik dan Naruto mengekor dengan setengah hati.


"Ke mana perginya, bocah itu."

Sasori bergumam sepanjang jalan, terus mengulangi perkataannya.

Ia berdiri di pinggir trotoar, menunggu pergantian lampu lalu lintas. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan tampangnya yang sangat kusut.

"Aku lapar, aku tak punya uang, ke mana aku pulang," Sasori terus saja bergumam, tak menyadari seseorang yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Menahan tawa.

"Kuberi makan dan tempat tinggal…dan Kau menuruti semua keinginanku," tawar seseorang di sebelahnya.

Sasori menggelengkan kepala. "Tidaaak," jawabnya, masih menunduk dan berjalan saat pergantian lampu.

"Kau yakin? Aku akan menggajimu setiap bulan."

"Hmmm," gumamnya. Ia berhenti saat menyadari sesuatu dan menengokkan kepala. "Eh…Eeeeh," serunya saat melihat siapa yang mengajaknya berbicara.

"Kau berisik, Danna."

"Deidara, aku terselamatkan," suaranya terdengar bahagia. "Aku menjadi gelandangan seharian."

"Sudah kukatakan, aku akan menggajimu tiap bulan bila menuruti setiap perkataanku."

"Tidak Deidara. Aku bersama Naruto, tapi dia meninggalkanku."

"Naruto bersamamu?" Sasori mengangguk lalu menggeleng. Deidara menaikan sebelah alis, berpikir; jadi selama ini Naruto bersama Sasori.

"Jadi, Kau mau menerima tawaranku?"

"Tidak, di mana mobilmu Deidara?" Sasori celingukkan, mencari mobil Deidara.

Ck. Menyebalkan sekali lelaki berwajah imut ini. Tidak bisakah dia merespon tawaran Deidara dengan lebih serius.

Sejak pertama kali menawarkan hingga sekarang. Tak pernah sekalipun Deidara mendapatkan respon.

Ah. Deidara memang mendapat respon; tidak lalu diabaikan.

"Jadi, di mana Deidara?"

Deidara menghela napas lelah, menarik lengan Sasori agar dia mengikutinya.

"Tunggu."

"Apalagi, Danna?" Deidara membalik badan saat Sasori menahannya. "Kau berubah pikiran?"

Sasori menggeleng "Hanya perasaanku saja," Sasori melirik ke atas –menyusun perkataan " –atau wajahmu memang terlihat lebih jelek?"

Jika bisa, Deidara akan menjatuhkan rahangnya sampai menyentuh tanah.


"Nee. Kaa-san," seorang wanita bersurai merah berdiri di samping piano yang tengah dimainkan oleh wanita lainnya.

Wanita yang duduk di kursi mendongak. Kerutan di wajahnya terlihat samar, tak memudarkan kecantikannya. Iris kelamnya menatap wanita bersurai merah, menanti kelanjutan pembicaraan.

"Aku dengar Naruto sudah pulang."

"Benarkah itu Karin?" suaranya mengalun lembut. "Aku akan menemuinya," Ia bangkit.

Karin menahannya. Menggeleng. "Otou-sama, sedang berbicara dengannya," Karin memaksa wanita yang lebih tua untuk duduk.

Sang wanita menurut, menunduk, memperlihatkan lebih jelas beban yang ditanggungnya.

Tbc.


A/N:

Buggy Car: mobil ini bentuknya macam-macam dan fungsinya juga macam-macam, memiliki dua buah jok. Salah satu contohnya adalah buggy golf. Biasanya di pakai oleh pemain golf, untuk keliling lapangan golf.

Dulu banget pernah nonton film yang pemainnya keliling taman bunga dengan make buggy yang bentuknya kayak buggy golf. Jadi, aku masukin di sini.

Tapi kalau informasinya salah, aku minta maaf. *Tee-he

Jadi, ceritanya keluarga Namikaze itu di sini kayaaa banget. Anggaplah begitu. Selain karna udah kaya dari buyutnya, Minato juga kaya karena hasil kerja kerasnnya. Mansion itu didapetinnya secara turun temurun. Bukan karna hasil jerih payah Minato.

Deidara ngeliat Sasori pas dia di jalan kembali dari Suna. ItaDei pulang-perginya make pesawat.

.

.

Terimakasih bagi semua yang menyempatkan diri mereview, memfav, bahkan memfollow. /sungkem

.

Ini lanjutkan?: Ini udah di lanjut.

Ini NaruSasu: Iya ini NaruSasu. Seme!Naru x Uke!Sasu.

Yang dicari Naruto itu Sasuke?: Ikutin aja ceritanya. Di chap 3 atau 4 bakal terungkap. Dan konfliknya juga akan terlihat seiring berjalannya chapter :)

Terimakasi bagi yang telah memberi saran dan kritik. Aku seneng banget ada yang ngerespon seperti ini. /kiss

.

Terimakasi bagi yang sudah membaca.

Saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan.

Ninndya