Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Naruto Uzumaki and Sasuke Uchiha

Warning: YAOI, Mungkin OOC, Typo, mungkin ide pasaran, dan kekurangan lainnya.

.

.

Don't Like, Don't Read

.

"Aku memberimu dua pilihan."

Minato membuka pembicaraan setelah mereka sampai di ruang kerja. Naruto duduk di sofa coklat kayu dan Minato duduk di hadapannya.

Dua pasang iris dengan warna yang sama saling menatap.

"Pertama, Kau akan melanjutkan sekolah di KIHS dengan pengawalan yang ketat," Minato menatap putranya. Menunggu respon.

"Hal apa yang telah merubah pikiranmu, Otou-sama?" Minato tak menjawab. " –dan juga, aku tak perlu pengawal. Aku bisa menjaga diri."

"Kau bisa menjaga diri. Tapi tidak dengan menjaga kepercayaanku," Minato berucap dengan suara dingin. Tak bisa menerima kelakuan Naruto selama dua tahun terakhir.

"Kau bahkan menyembunyikan semua dariku!" seru Naruto tak terima.

"Dan kedua," lanjut Minato, mengabaikan pernyataan Naruto. " –kau bebas melakukan apapun yang Kau inginkan, jika Kau bersedia kukirim ke London, dengan syarat…Kau tidak diperbolehkan kembali ke Konoha.

Naruto menggeram. Ia sudah menduga hal ini, ayahnya tidak akan mungkin memberikan pilihan yang akan menguntungkannya.

"Apa tidak ada pilihan yang lebih baik?"

Minato terlihat berpikir. "Kau bisa melanjutkan sekolah di rumah ini seperti biasanya."

Cih. Harusnya ia tak kembali, ia tak masalah menggembel, asal tak diperlakukan seperti ini.

Dikurung sejak Sekolah Dasar bukanlah kenangan yang patut diingat. Bahkan, seingatnya saat masih di Taman Kanak-kanak ia tak diperlakukan seperti ini.

"Kau tidak berhak memperlakukanku seperti ini!" Naruto setengah berteriak.

Minato tersenyum –dingin. "Bahkan aku memiliki hak atas nyawamu," ia bangkit, berjalan kearah jendela kaca besar di belakang meja kerjanya. "Kau harusnya sadar diri Naruto, meninggikan suarapun Kau tidak berhak."

Naruto benar-benar membenci semua ini.

Ia tidak pernah bisa menentukan pilihan untuk hidupnya. Ia merasa bagaikan bunraku*. Tak dapat bergerak jika tak ada tuan yang menggerakkannya.

Kebebasannya direnggut.

"Aku membencimu. Sangat."

Minato tersenyum mendengarkan putranya.

Dan Naruto membenci dirinya yang tak bisa berbuat apapun.

.

"Kita sudah sampai, Naruto-sama."

Kakashi menyadarkan Naruto dari lamunannya. Seorang pengawal membukakan pintu mobil untuk mereka.

Beberapa hari setelah percakapan dengan ayahnya. Sekarang, di sinilah Naruto –berdiri di halaman Konoha International High School.

Kemeja putih dengan dasi merah marunnya tertiup angin musim gugur. Celana dengan warna yang sama dengan dasinya membalut kakinya yang kokoh.

Ia berdiri menghadap bangunan bergaya Victorian bercat cream. Pohon sakura dan momoji yang daunnya telah menguning tertanam di sepanjang jalannya. Halaman depannya luas dan terlihat lenggang.

"Sebaiknya Anda menggunakan ini Naruto-sama." Kakashi menyerahkan sweater hitam, Naruto menolak.

"Berhenti memanggilku dengan embel-embel itu," desis Naruto.

"Maaf, Naruto-sama."

Naruto mendecih, mendengarkan panggilan pria paruh baya di belakangnya.

Mereka lalu berjalan di bawah payungan pohon-pohon yang daunnya telah menguning. Tak lupa pula, empat orang pengawal berpakaian serba hitam dan bersenjata, mengekor di belakang Naruto dan Kakashi.

'Brengsek,' umpat Naruto.

Ayahnya benar-benar tak mengizinkan ia menghirup kebebasan. Walau di sekolah sekalipun.

Ya. Naruto memilih pilihan pertama. Setidaknya ia tak terkurung di mansion itu selamanya.

"Selamat pagi Namikaze-kun, Hatake-san," seorang wanita bersurai coklat disanggul rapi, menyambut kedatangan mereka di pintu masuk.

"Anda tidak perlu seformal itu, Inuzuka-san," ucap Kakashi, menyambut uluran tangan wanita di hadapannya.

"Kalau begitu Anda juga Hatake-san."

Lalu mereka tertawa. Naruto yang berdiri di samping Kakashi mencibir.

"Ahem. Namikaze-kun, sebaiknya Anda berpakaian lebih rapi dan mengikuti peraturan sekolah ini."

Kakashi yang berdiri di samping Naruto memperhatikan tuan mudanya lebih jelas. Ia sedikit terkejut. Bukankah tadi Naruto sangat rapi. Lalu sejak kapan kemejanya tidak dimasukkan dan dasinya tidak digunakan dengan seharusnya, bahkan tali sepatunyapun diikat asal.

"Maafkan aku, Inuzuka-san," Kakashi sedikit membukuk. Hana Inuzuka hanya tersenyum.

"Anda boleh meninggalkannya, Hatake-san," Hana membuka pembicaraan setelah beberapa detik terdiam. Dan menjabat tangan yang diulurkan padanya. Lalu mengintruksi Naruto agar mengikutinya.

"Kalian ditugaskan untuk menjaga Naruto-sama," seru Kakashi pada keempat pengawal di hadapannya setelah Naruto tidak terlihat. "Selama berada di lingkungan sekolah, tetap awasi dia. Tak ada waktu bagi kalian untuk bersantai. Kalian mengerti!"

"Kami mengerti!" koor para pengawal Naruto.


"Aku sangat mencintaimu. Tak bisakah kamu mempertahankan cinta kita?" seorang wanita bersurai pirang pucat dan beriris aquarium menahan pergelangan seorang pria bersurai raven panjang yang dikuncir rendah. Air mata membasahi wajah sang wanita.

Sang pria menatap –merendahkan. "Cinta? Aku bahkan tak mencintaimu." Iris kelamnya menatap tajam dan menarik tangannya yang ditahan.

"Tidak. Kita saling mencintai," seru wanita tak terima. "Bahkan aku tak tahu kesalahanku, hingga kamu meninggalkanku?"

Senyum mencemooh terlukis di wajah tampannya. "Hidupmu adalah kesalahanmu," balas sang pria. Lalu pergi meninggalkan wanita yang menangis, meratapi nasib yang dialaminya.

"Ok. CUT. KERJA BAGUS ITACHI, INO."

Seorang pria tua, berteriak mengakhiri syuting yang tengah dilakukan. "Bagian kalian sudah selesai."

Itachi bernapas legas, berjalan menuju kursi kayu dan duduk menyamankan diri.

"Itachi-kyuun~" seorang pria menghampiri Itachi yang tengah beristirahat. Botol mineral disodorkan pada Itachi. Itachi menerima, membuka segel, lalu meminumnya.

Sang pria mendudukkan diri di samping Itachi. Kepala bersurai orangenya diletakkan pada bahu Itachi. Manja.

Itachi tersedak. Mengernyitkan kening dengan tingkah absurd si pria.

"Tachi-kyuun, seharusnya Kau menggunakan peran pengganti. Wanita itu genit sekali," iris violetnya menatap tajam seorang wanita yang duduk tak jauh dari tempatnya.

Itachi menyingkirkan kepala sang pria. "Itu namanya tidak professional."

"Tapi aku tak suka dengan tingkah wanita itu," kepalanya diletakkan kembali pada bahu Itachi.

"Itu bukan urusanmu," Itachi menyingkirkan kepala itu lagi.

Si pria meletakkan kembali kepalanya pada bahu Itachi.

Mereka terus melakukan hal yang sama. Berulangkali.

Tak menyadari puluhan pasang mata yang menonton mereka.

"Hentikan kegiatan bodoh ini Kyuubi!" jerit Itachi, berdiri, menyebabkan Kyuubi Namikaze –pria bersurai orange terjatuh, pelipisnya membentur sandaran kursi.

"Aw," Kyuubi meringis, pelipisnya berdenyut. "Kau keterlaluan Jii-cwhan."

"Hentikan panggilan menjijikkan itu."

Kyuubi tertawa, menggoda pria tampan dengan tanda lahir di wajahnya ini adalah hal yang ia sukai. Tapi sayang, ia tak bisa melakukan hal ini setiap hari.

"Kau sungguh pemalu," Kyuubi berdiri, kepalanya disandarkan pada bahu Itachi, sebelah lengannya melilit lengan Itachi, jemarinya yang lain digunakan untuk memainkan kacing kemeja Itachi. Napasnya ditiupkan pada wajah Itachi. Menggoda?

Itachi bergidik, tubuhnya menegang, keringat meluncur melalui pelipisnya.

Bibirnya bergerak, merapalkan sesuatu.

"Ho-homo," bisiknya.

"Homo!" serunya, melepaskan diri dari Kyuubi. "Homo," ucapnya mengulang perkataan.

Kyuubi memutar bola mata. "Kau selalu mengataiku Homo. Padahal ciuman pertamaku, Kau yang mengambilnya," Kyuubi berucap datar.

"Itu kecelakaan."

"Tapi Kau menciumku," Kyuubi tersenyum, jempolnya mengusap bibirnya perlahan.

Itachi terdiam. Ia mengingat bagaimana kecelakaan itu terjadi.

OSPEK sialan yang diadakan di Universitas. Kejadian itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu. Tapi Kyuubi maupun Itachi tak bisa melupakannya.

Terutama Kyuubi.

Kecelakaan itu sangat membekas diingatan dan hatinya.

Yang pada awalnya Kyuubi memang sudah tertarik dengan pria Uchiha itu, menjadi lebih tertarik lagi, karena insiden ciuman –yang kata Itachi adalah kecelakaan dan berkah bagi Kyuubi.

Terkutuklah Hidan dan Kisame.

Itachi yang menjadi salah satu panitia OSPEK harus ikut melakukan permainan –tutup mata, lalu tangkap seorang Maba untuk dihukum.

Kyuubi yang memang sudah terpesona oleh Itachi. Sengaja mengorbankan diri agar tertangkap, lalu setelah Itachi mendapatkannya, ia sengaja memberontak, menyebabkan Itachi menahan bahunya lebih erat.

Wajah mereka hanya berjarak beberpa centi, napas hangat itu menerpa wajahnya, ia mematung. Memandang wajah tampan itu lebih dekat adalah suatu hal yang selalu dibayangkannya. Lalu sekarang, bayangannya itu menjadi nyata.

Kyuubi yang tak menyia-nyiakan kesempatan, memperpendek jarak diantara mereka –tak mempedulikan beratus-ratus orang yang memandang mereka.

Kyuubi bisa merasakan bagaimana bibir dingin itu menempel dibibirnya yang lembap. Memanfaatkan perbuatannya, Kyuubi menyesap bibir itu perlahan, menyimpan tekstur dan rasa bibir Itachi diingatannya yang terdalam.

Lalu Itachi?

Ia mematung. Bibir itu terasa lembap dan hangat di bibirnya yang dingin. Ia bisa merasakan bagaimana bibir asing itu menghisap bibirnya perlahan. Itachi membuka penutup mata dan terkejut saat mengetahui siapa orang yang berdiri di hadapannya. Seorang pemuda –Kyuubi. Lalu secepat kilat ia mendorong Kyuubi menjauh.

Dan itu adalah ciuman pertamanya bersama seorang pria.

"Baiklah," Kyuubi membuyarkan lamunan Itachi. "Aku datang kemari untuk memberitahukan bahwa Otou-sama dan Kaa-san menginginkan kita makan malam bersama. Semuanya."

"Kenapa tidak menelpon atau menyuruh orang?"

Kyuubi terkekeh. Kenapa tidak menelpon atau menyuruh orang? Tentu agar Kyuubi dapat melihat pria bersurai raven tersebut.

Tidak taukkah Itachi jika ada kesempatan, Kyuubi akan mengikuti kemanapun Itachi pergi. Saat keluar apartemen, saat makan, saat bersantai di luar, saat di lokasi syuting. Kapanpun saat Kyuubi ada kesempatan.

Stalker. Itulah julukan yang tepat untuk Kyuubi.

Tapi sayangnya kesempatan itu tidak datang setiap hari.

Itachi mengernyitkan kening saat melihat raut Kyuubi yang berubah menjadi sedih.

"Bagaimana kalau kita kencan?" tawar Kyuubi dengan senyum yang lebar.

Itachi hanya mendengus dan berlalu meninggalkan Kyuubi yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Bangunan itu secara keseluruhan terbuat dari kaca.

Terlihat mencolok karena berdiri sendiri dan terletak di ujung tengah halaman belakang, juga aliran sungai kecil yang mengelilinginya dengan airnya yang jernih.

Sangat indah dan terlihat bercahaya karena pantulan sinar matahari.

Berbagai macam bunga tumbuh di dalamnya. Kolam terletak di tengah dengan air mancur yang menghiasinya. Meja dan kursi kayu putih terletak di atas lantai marmer dingin.

Seorang pemuda bersurai raven yang kontras dengan kulit pucatnya duduk di sudut, kelopaknya terpejam, jemari lentiknya menari di atas tuts putih.

Nada bahagia mengalun lembut, mewakili perasaannya.

"Musikmu terdengar berbeda, Sasuke-kun," seorang wanita bersurai indigo duduk di samping pemuda, jemarinya ikut menekan tuts piano.

Sasuke –pemuda bersurai raven membuka kelopaknya, memperlihatkan iris sekelam malam.

Ia hanya bergumam dan menghentikkan permainannya. "Apa," tanyanya datar.

"Tak sepantasnya Kau bersikap dingin, terlebih pada tunanganmu."

"Hentikan omong kosongmu Hyuuga."

Hinata Hyuuga tertawa dengan menutup bibirnya menggunakan punggung tangan –sopan dan anggun. "Kau menyakiti perasaanku Sasuke-kun," ucapnya sedih.

"Tak biasanya Kau bersikap akrab denganku. Apa yang Kau inginkan?"

Hinata tertawa lagi. Kali ini lebih kencang.

Sasuke mendecih. Tak bisakah dia menghentikan tawanya. Suara tawanya sangat menganggu pendengaran Sasuke.

"Baiklah," Hinata menghentikan tawanya. "Kau tahu ada siswa baru?"

"Hn."

"Hoo jadi Kau sudah tahu," Hinata menoleh menghadap Sasuke, menatapnya dengan lekat. "Kau tahu, dia mengaku sebagai Uzumaki."

Sasuke membuka sedikit bibirnya dan matanya terlihat sedikit membola. Perubahan yang terjadi pada wajahnya tidak akan terlihat bila tak diperhatikan dengan lebih seksama.

Lalu Hinata terbahak saat melihat perubahan pada wajah Sasuke. Sasuke berdiri, mendecih, menatap wanita Hyuuga itu tajam. Dan berlalu meninggalkannya.

Hinata menambah volume tawanya, lalu berdehem. "tak sepantasnya seorang wanita Hyuuga terbahak," gumamnya dan menyusul kepergian Sasuke.

.

Sasuke melambatkan langkahnya setelah dirasa Hinata tidak mengikutinya. Bel tanda pergantian jam sudah terdengar beberapa puluh menit yang lalu. Tak sepantasnya siswa teladan dan nomor dua –Sasuke tak mau mengakui hal ini, memberikan contoh buruk pada warga sekolah.

Ia berjalan ditengah koridor sepi. Merasa beruntung karena tidak ada siswa ataupun siswi yang akan menatapnya dengan buas. Sasuke sangat tahu ia memiliki wajah yang rupawan, mempesona, dan dapat memikat siapapun.

Kapanpun dan dimanapun ia terlihat, tak akan ada yang mampu berpaling darinya, semua mata akan tertuju hanya padanya. Bahkan waktu akan terasa berhenti bagi mereka yang terpesona akan ketampanannya.

Yeah. Bersyukurlah pada gen yang dimiliki Mama dan Papa, yang diwariskan padanya.

Sasuke menyeringai di tengah pikirannya.

Sasuke mempercepat langkahnya begitu melihat ujung koridor. Sedikit menggerutu tentang betapa bodoh dirinya, lalu apa guna lift yang telah disediakan pihak sekolah, jika ia masih menggunakan tangga.

Sasuke berjalan dengan santai di sepanjang koridor saat telah sampai di pijakan yang lebih datar. Lalu ia berhenti saat melihat pemuda bersurai kuning keemasan berjalan berdampingan bersama pemuda berkuncir tinggi.

Sasuke dapat melihat bagaimana iris sebiru lautan itu meliriknya dan bibir itu tersenyum sebelum menghilang di balik pintu.

Tbc.

A/N

Bunraku: Boneka khas Jepang, terbuat dari kayu dan digerakkan menggunakan tali oleh tiga orang dalang.

.

Maaf bagi yang tidak suka dengan kehadiran Kyuubi. Di sini aku masukkan Kyuubi sebagai kakak Naruto. Iris Kushina violet kan? Aku udah search. Dan Kyuubi dapet gen emaknya.

AAAAA maaf kalau romace ItaKyuunya nggak terasa atau malah terkesan maksa. Aku bener-bener payah dalam hal romance. Dan adegan tempel bibir itu aku udah hapus lalu ketik lagi, terus-terusan seperti itu.

Jadi ceritanya dulu waktu kuliah Kyuubi, itu juniornya Itachi. Dan kenapa aku buat Itachi sebagai actor? Aku gak ngertiiiii.

.

Dan karena satu minggu dari sekarang aku akan sibuk ngerjain tugas dan semesteran /mohon do'a kawan-kawan, aku updet lebih awal. Dan next chap mungkin agak lama atau bisa juga cepet.


Apa ada pasangan lain: Tentu ada dan akan terlihat seiring berjalannya cerita.

Sasuke mana: Karena pada minta Sasuke, aku munculin dia lebih awal dan interaksi NaruSasu mungkin akan terjadi di chap 4 atau 5.

Kapan romance: Romancenya perlahan aja ya :)

Apa Minato jahat: Gak ada orang tua yang jahat kan :)

Yang dicari Naruto siapa: Yang jelas bukan Sasuke.

Naruto sifatnya tertutup dan misterius: Dia gitu karena jarang bergaul –dikurung gitu sama babenya, tapi di luar sana dia punya beberapa kenalan saat dulu sering kabur dari rumah.

.

Terimakasi bagi yang sudah membaca.

Saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan.

Ninndya