A/N: Kei berbicara lewat ponsel = "Underline"


Chapter 2. Crying Together

~o~

'A-apa! Kau mau melakukan apa!?' Megumi berharap bahwa apa yang baru saja dikatakan Kei hanyalah lelucon atau bahwa Megumi salah mendengarnya. 'Kau bercanda kan!? Kau benar-benar akan putus dengan Hikari-chan!'

"Aku takut tidak, aku tidak bercanda." Kei mendesah.

Megumi memberinya ekspresi sedih dan terkejut. 'Aku hanya...tidak pernah berpikir... wow.'

"Aku hanya benar-benar harus memberitahu seseorang."

'Tapi. Apakah kau benar-benar yakin akan hal itu? Maksudku, kau menghabiskan lebih dari separuh hidupmu mencoba untuk mendapatkan perhatiannya! Dan sekarang kau mendapatkannya. Apakah kau benar-benar akan membiarkannya pergi dengan mudah!?'Megumi menulis di papan sketsanya.

"Yah..."

'Bukan hanya itu,' Megumi memotong kalimat Kei 'Apa yang akan terjadi pada Hikari? Dia akan terluka dan Akira, kemungkinan besar akan mencoba untuk membunuhmu! Dan apa yang akan terjadi antara kau dan Hikari?! Dan Hikari adalah orang yang hebat! Mengapa kau ingin putus dengannya? Aku tidak mengerti. Kei! Apa yang kau pikirkan!? Mengapa, Kei?! Kenapa?!' Sekarang Megumi sudah berlutut di bangku dan mengangkat papan sketsanya ke wajah Kei.

"M-Megumi?" kata Kei berusaha untuk menahan Megumi. "Tenang."

'OMG! Maafkan aku, Kei.' Megumi meminta maaf, setelah menyadari dia berada di tepi bangku.

"Tidak apa-apa. Aku mengharapkanmu untuk mengatakan hal itu. Setelah semuanya, akumenanyakan hal-hal yang sama pada diriku sendiri." Kei tampak kecewa lagi.

'Begitu. Tapi kalian berdua terlihat begitu serasi dan kalian adalah seperti dua kacang polong! Apa yang berubah?'

"Aku tidak benar-benar tahu apa yang berubah di antara kami. Sejujurnya, aku bahkan tidak tahu alasan sebenarnya aku putus dengan Hikari. Kupikir itu karena kami tidak bisa setuju untuk suatu hal. Semuanya hanya berakhir dengan pertengkaran. Bahkan jika berdebat tentang hal yang konyol, kami tidak pernah bisa setuju satu sama lain." Kei mendesah. "Aku tidak berpikir hubungan kami bisa terus seperti ini."

'Tapi bukankah setiap hubungan seperti itu?' Megumi menulis dengan pelan, yang mana menarik perhatian Kei. 'Semua orang pasti punya pertengkaran. Kita hanya harus belajar untuk saling memaafkan, sebaliknya tidak ada yang bisa diselesaikan.' Mata kei melebar ketika dia membaca. 'Tidak ada hubungan yang sempurna. Tidak ada yang bisa menghindari perselisihan. Setiap orang berbeda. Akan selalu ada saat di mana kita tidak bisa melihat dari sudut pandang lain, tapi kita tidak bisa menyerah begitu saja, jika tidak, tidak ada yang bisa bekerja.' Megumi menatap Kei, yang menatapnya kembali dengan ekspresi terkejut. 'Aku tahu kau mencintainya dan kau harus membiarkan dia tahu hal itu.'

'Kei. Jangan menyerah akan Hikari-chan.' Rambut Megumi melambai ditiupi angin, jatuh kepunggungnya seperti bunga sakura yang berguguran dan mengapung di udara.

Kei memberinya sebuah senyum lemah, tapi hangat. "Terima kasih, Megumi."

~o~

Beberapa hari telah berlalu. Semuanya tampak baik-baik saja. Semua orang sudah kembalimenikmati teh dan biskuit mereka seperti biasanya, tersenyum dan tertawa.

Namun, entah bagaimana Kei tidak merasa lebih baik. Malam sebelumnya dia telah mengatakan pada Hikari bahwa dia mencintainya, tetapi sesuatu tidak terasa benar. Tidak hanya terasa benar, tetapi dia memiliki dorongan yang kuat untuk memberitahu Megumi tentang hal itu. Sekarang ketika dia berpikir lagi tentang hal itu, Megumi sudah banyak membantunya hari itu dan dia tidak membalas kebaikannya.

Kei melirik Megumi dari sudut matanya. Dia melihat Megumi dengan bahagia menyeruput tehnya. Kei menutup mata dan mendesah.

"Apa ada yang tidak beres, Kei?" tanya Hikari.

"Tidak, aku baik-baik saja." Dia memberinya Hikari sebuah senyum. Kei mengeluarkan ponselnya dan mulai mengirim pesan pada seseorang .

To Megumi,

Aku ingin bicara denganmu. Ketika semuanya sudah pulang. Apa bisa?

From Kei.

Megumi mendongkak dan menatap Kei, yang masih terus melihat ponselnya.

To Kei,

Tentu! Apa itu ada hubungannya dengan Hikari-chan?

From Megumi.

Kei melirik Megumi, yang juga sedang meliriknya.

To Megumi,

Bukan. Ini tentang kamu.

From Kei.

Megumi memberinya tampang bingung.

To Kei,

Aku? Ada apa denganku?

From Megumi.

To Megumi,

Kau akan tahu nanti.

From Kei.

~o~

Semua orang sudah pulang, kecuali Megumi dan Kei.

'Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Hikari-chan?' tanya Megumi.

"Berjalan dengan lancar. Kami bahkan akan kencan Jumat ini." balas Kei. "Tapi cukup tentang aku dan Hikari. Aku memanggilmu ke sini untuk berbicara tentangmu."

'Aku?'

Kei tersenyum. "Karena telah membantu hubunganku dengan Hikari, aku ingin membalas budi." Megumi menatapnya dengan bingung. "Aku akan membantumusupaya bisa mendapatkan Yahiro."

'Eh?'

"Dengar. Yahiro dan aku adalah teman sejak kecil. Aku tahu satu atau dua hal tentang orang itu. Percayalah padaku, lain kali saat kau punya kencan, aku akan diam-diam ikut untuk membantumu."

'Kei...?'

"Aku tahu! Mengapa tidak Sabtu ini saja?" seru Kei.

'Eh? Tapi bukankah katamu kau punya kencan dengan Hikari Jumat ini?'

"Ya, tapi itu sehari setelah kencanku. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik. Aku akan mengurus semuanya." Kei tersenyum.

'Bukannya aku tidak menghargai apa yang kau lakukan, tapi...mengapa kau melakukan ini?' tanya Megumi.

Kei memberinya senyum hangat. "Karena kau, aku masih bersama-sama dengan Hikari." Kata-katanya mengejutkan Megumi. "Aku benar-benar akan putus dengan Hikari untuk alasan yang tidak jelas. Tapi setelah berbicara denganmu, aku bisa melihat dengan jelas sekarang."

'Kei...'' Oke.'

~o~

'Aku tidak bisa melakukan ini!' Megumi menutup matanya rapat-rapat saat dia berteriak pada dirinya sendiri. Dia memegang papan sketsa di depan dadanya sambil menunggu Yahiro datang.

"Jangan khawatir, Megumi." Sebuah suara berasal dari ear bud di telinganya. "Aku ada di sini untuk membimbingmu."

Megumi cepat-cepat meraih ponselnya dan mulai mengetik.

To Kei,

Aku tidak berpikir aku bisa melakukannya! Ayo katakan saja pada Yahiro untuk melupakan pertemuan ini!

From Megumi.

"Sudah terlambat untuk mundur sekarang. Selain itu kupikir aku melihat Yahiro dalam perjalanan! Santai saja."

Megumi berusaha keras untuk bersikap normal dan tenang. Dia mulai berkedut dan menggeliat di kursi tempat dia duduk di sebelah toko kopi.

"Tenang, Megumi! Dia datang."

Beberapa detik berlalu sebelum Yahiro tiba-tiba duduk di kursi tepat di depan Megumi, dan menyebabkan Megumi tegang. Yahiro meletakan lengannya di sandaran dan menyilangkan kakinya.

"Jadi, apa alasan khusus Kei mengatakan padaku untuk menghabiskan hari ini denganmu?" tanya Yahiro.

Jantung Megumi berdetak super cepat. 'Aku tidak tahu.'

"Hmmmm... jadi apa yang ingin kau lakukan hari ini." Dia menyeringai.

'Aku tidak tahu.' Megumi mengangkat papan sketsanya dengan gugup.

"Berjalan-jalan di taman." Kei berbisik melalui telepon .

'Mengapa kita tidak berjalan-jalan di taman saja?' tawar Megumi.

"Itu bukan ide yang buruk." Wajah Megumi berubah cerah. "Ini adalah yang pertama sejak sekian lama aku tidak ke taman." Yahiro tertawa kecil saat dia bangkit dari duduknya, menyebabkan Megumi jengkel.

"Nah, jangan hanya duduk di sana. Ayo pergi!" Yahiro berteriak pada Megumi. Megumi cepat-cepat berdiri dan berlari mengikuti Yahiro, kemudian berbalik dan melihat ke tempat di mana Kei sedang bersembunyi.

"Jangan khawatir. Aku ada tepat di belakangmu." kata Kei sebelum pindah dari gedung ke semak-semak, membuntuti Megumi dan Yahiro. Dia membuntuti mereka sepanjang jalan ke taman.

'Di sini indah. Aku suka datang ke taman ini.' Megumi tersenyum hangat menikmati pemandangan.

"Coba kutebak kau datang ke sini sendirian, huh?" Yahiro mulai tertawa dan mata Megumi berkedut.

"Huuuuuu... ingatkan aku lagi, mengapa kau mencintai brengsek ini?" kata Kei yang bersandar di sebuah pohon di dekat mereka.

'Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa aku mencintai Yahiro?' Megumi bertanya-tanya saat mereka terus berjalan. 'Tampangnya? Bukan' Dia menggeleng sambil memikirkan hal itu. 'Kedudukannya? Akurasa tidak. Kekayaannya? Tidak. Kepribadiannya? Jelas tidak! Lalu apa?'

BANG! Megumi menabrak pohon .

"Oi, Megumi! Apakah kau baik-baik saja?" Yahiro mengangkatnya dari tanah dan membersihkan kepalanya dari daun-daun. "Geez. Lain kali perhatikan ke mana kau berjalan. Kamu bisa melukai dirimu sendiri."

Wajah Megumi mulai memerah. Dia membersihkan dirinya yang penuh dengan daun, kemudian mengambil papan sketsanya. 'Terima kasih.'

'Oh. Itu. Aku jatuh cinta dengan hatinya.'

"Ayo duduk di sini." Yahiro duduk di bangku tepat di samping mereka.

"Apakah kau baik-baik saja, Megumi?" Kei bertanya. Megumi mengangguk sebagai jawaban .

'Aku jatuh cinta dengan hatinya. Tapi hanya itu saja. Kepribadiannya, aku mungkin akan benar-benar membencinya, tapi aku bisa melihat kehangatan dalam dirinya. Dia tega, tapi aku tidak berpikir itu karena disengaja. Diamendorong semua orang menjauh, tapi untuk alasan yang bisa diperdebatkan. Dia seorang individu yang membingungkan. Membuat aku bertanya-tanya apakah itu hal yang benar bagiku untuk jatuh cinta dengannya?' Megumi mengernyit saat memikirkannya.

"Ada apa dengan cemberut itu. Membuatku merasa seperti kau tidak mengagumi kehadiranku." goda Yahiro.

'Aku tidak pernah mengatakan itu.'Megumi tersipu.

"Hmmm... jadi, bagaimana latihan nyanyimu?" Yahiro meletakan tangannya di belakang kepala. 'Dia peduli, tapi...'

'Baik-baik saja. Aku belum belajar banyak, tapi aku merawat suaraku.'

"Kau harus berlatih lagi. Kauakan bisa bernyanyi dan tidak hanya di ruang terbuka."Kata Yahiro. 'Dan dia menyemangatiku, tapi...'

"Tapi itu akan terjadi dalam waktu yang sangat lama." Dia tertawa. 'Dia benar-benar sangat brengsek!'

"Dia benar-benar berubah dari seorang pria yang baik menjadi pria yang menyebalkan." Kata Kei sambil tertawa. Megumi tersenyum mendengarnya dan ikut tertawa sedikit. 'Kau benar. Tapi bisakah aku benar-benar memulai hubungan dalam kondisi seperti ini, atau setelah aku memulai itu hanya akan berantakan.'

"Hei, Megumi. Aku benar-benar harus mengatakan sesuatu."Kata Yahiro memulai. Megumi memberinya perhatian penuh padanya. "Aku sudah punya pacar sekarang."

Mata Megumi melebar mendengar kata-katanya .

"M-Megumi..." Kei bertanya khawatir .

"Bukankah itu menakjubkan? Aku tidak pernah berpikir aku akan jatuh cinta lagi setelah kehilangan Akira, tapi aku jatuh cinta lagi! Dia menakjubkan."Kata Yahiro penuh kegembiraan.

~o~

Di sisi lain di balikpohon

'Dia tidak bisa benar-benar serius berbicara tentang pacar barunya di depan Megumi!' Kei berkata pada dirinya sendiri. 'Apa yang dia pikirkan?! Apakah dia tidak melihat Megumi, atau sesuatu? Apakah dia buta ini? Apa yang salah dengannya?! Megumi telah mencoba untuk mendapatkan perhatiannya selama berbulan-bulan dan dia akhirnya mendapatkan pacar bahkan tanpa sepengetahuan Megumi?' Kei memperbesar lensa teropongnya agar bisa melihat dengan lebih dekat.

Yahiro terus berbicara tentang pacar barunya yang menakjubkan. Megumi menatapnya dengan ekspresi kosong, poninya menutupi matanya. Tidak ada kata-kata yang tertulis di papan sketsanya.

"Megumi?"

"Bukankah itu bagus!" Yahiro akhirnya selesai berbicara. Megumi menatapnya dan mulai menulis.

'Apa yang akan dia katakan?' Kei bertanya-tanya.

'Aku sangat gembira untukmu!' Sebuah senyum besar melintasi wajahnya.

'M-Megumi...' Kei yang terkejut dengan jawabannya .

'Dia terdengar hebat. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.' Megumi menulis lagi. Yahiro tersenyum kembali.

"Sebenarnya, bagaimana kalau kau datang saja ke festival besok malam. Kita bisa bertemu di sana."

'Kedengarannya sempurna.' Megumi dengan senang hati menerima ajakan tersebut.

'Itu menyakitkan.' Kei mengerutkan kening saat dia melihat Megumi tersenyum pada Yahiro. 'Hal itu menyakitkan, namun kau menyembunyikannya...Kenapa?'

~o~

Megumi berlari menuju jembatan untuk bertemu dengan Kei setelah Yahiro pergi. Di sana dia bertemu dengan Kei yang sedang cemberut.

'Ada apa, Kei?'

"Kenapa?"

'Eh?'

"Yahiro baru saja bilang kalau dia punya pacar dan semua yang bisa kau lakukan hanyalah tersenyum dan menurutinya, ketika hal itu menyakitimu. Mengapa kau menahannya?" Kei bertanya tegas.

Megumi tersenyum sambil mengerutkan kening. 'Karena itu menyakitkan.' Mata Kei melebar. 'Semakin banyak dia berbicara tentang pacar barunya, semakin besar rasa sakit tumbuh dan semakin besar keinginanku untuk menangis. Tapi aku tidak bisa. Yang bisa kulakukan adalah tersenyum.' Megumi berbalik dan memandang matahari terbenam . 'Ini lucu. Ketika kau bertanya mengapa aku mencintainya, aku memikirkan hal itu. Dan aku pernah jatuh cinta dengan hatinya...'

Kei merasa aneh ketika Megumi menggunakan kata pernah.

'Tapi hanya itu yang kucintai darinya. Semakin aku memikirkannya, rasa cinta itu berubah menjadi rasa kasihan. Satu-satunya alasan aku jatuh cinta dengannya hanyalah karena aku merasa kasihanpadanya dan harus melakukan sesuatu untuk membuatnya merasa lebih baik.' Megumi terkikik. 'Sulit untuk menuliskan ini. Apakah kau keberatan jika aku menggunakan suarakusebentar saja?'

Kei terkejut dengan tawaran itu. "Tentu, tapi suaramu."

'Sedikit tidak ada ruginya.' Dia meletakkan papan sketsanya. "Kadang aku bertanya-tanya mengapa aku berusaha keras untuk mempertahankan suaraku, ketika semua yang benar-benar dapat kulakukan adalah membuat orang pingsan. Tapi ketika Yahiro mengatakan dia menyukai suaraku, aku memutuskan untuk terus mencoba mempertahankannya. Mungkin itu alasan lain aku jatuh cinta padanya."

Kei menemukan dirinya menyukai cara berbicara Megumi. Terdengar begitu polos, walaupun kata-kata yang keluar dari mulutnya, penuh kesedihan. Atau begitulah pikirnya.

"Jika kau jatuh cinta padanya, maka mengapa kau menyerah begitu cepat? Bahkan setelah semua pelajaran yang kau berikan padaku tentang tidak menyerah akan Hikari. Apa yang membuat keadaanmu berbeda dariku?" tanya Kei. Megumi berbalik menatapnya, kemudian berbalik lagi membelakanginya.

"Aku berpikir tentang pria seperti apa Yahiro itu, kemudian berpikir tentang apa yang akan terjadijika aku berpacaran dengannya. Apakah akan ada yang berubah? Apakah semuanya hanya akan berantakan pada akhirnya, atau hanya akan berakhir dramatis? Aku tidak berpikir aku bisa bertahan melewati hal itu. Mungkin membiarkan dia pergi adalah ide yang tepat..."

Kei mendesah. "Lalu apakah baik bagiku untuk mengatakan bahwa, aku putus dengan Hikari."

Mata Megumi melebar. "Apa?! Bahkan setelah hubunganmu berjalan dengan begitu baik?"

"Hubungan kami mungkin terlihat seperti itu. Kadang-kadang, jika kami beruntung, kami bisa setuju satu sama lain. Tapi hubungan kami seluruhnya sudah berantakan. Segala sesuatu yang kau katakan tentang hancurnya suatu hubungan sedang terjadi pada kami sekarang. Semuanya berubah, menghancurkan persahabatan kami. Dia bahkan menghancurkan kepercayaanku."

"Apa yang kau maksudkan dengan itu?" Megumi bertanya.

Kei bersandar di pagar. "Sehari sebelum kencan kami, aku menemukan bahwa dia berselingkuh. Dia memiliki percakapan panjang dengan pria lain. Pada awalnya kupikir itu hanya kerabatnya, tapi akhirnya aku bertanya pada Hikari tentang hal itu. Berubah menjadi pertengkaran besar. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa jika hubungan ini terus berlanjut, kita hanya akan semakin terpisah. Jadi, kita memutuskan untuk mengakhirinya, meskipun kita tahu hubungan itu sebenarnya sudah berakhir."

Megumi mengerutkan kening. "Kau bercanda!? Bahkan setelah semua yang kau lakukan, Hikari berselingkuh!?"

"Bahkan ketika kau mengatakan hal itu, rasa sakit yang kau rasakan terasa dua kali lipat dari rasa sakit yang kurasakan dan kau masih cukup kuat untuk menyembunyikan dengan begitu baik." Megumi terisak-isak. "Kau menyembunyikan emosimu dengan begitu baik, namun aku bisa merasa kau terluka. Rasanya sakit! Aku tahu aku berkata aku tidak akan menangis untuk diriku sendiri, tapi... biarkan aku menangis untukmu juga." Dia mulai menangis keras. Beberapa cegukan di sana-sini.

Sebuah tepukan lembut menyebabkan Megumi mengangkat wajahnya. Dan bahkan melalui air mata, dia bisa melihat Kei tersenyum. Sebuah pelukan hangat dan tegas membuat Megumi terkejut. Megumi segera balas pelukan Kei dan keduanya jatuh ke dalam atmosfer yang nyaman.

"Jika kau menangis untukku maka itu akan adil jika aku menangis untukmu juga." Saat Kei mengucapkan kata-kata itu, Megumi merasakan air mata menetes ke bahunya.

'Satu-satunya orang yang pernah aku tangisi adalah Yahiro... rasanya menyenangkan menangis untuk orang lain juga...'

"Terima kasih."

*Ba-thump*