Chapter 3. Letting You Go

~o~

Megumi mendesah saat dia bersandar di pintu kamarnya.

*Flashback:

"Apakauakan pergi ke festival besok malam?" tanya Kei.

"Festival?" tanya Megumi, yang duduk di sampingnya di bangku taman.

"Yahiro mengajakmu untuk pergi ke festival besok malam bukan? Untuk bertemu pacar barunya. Apa kau akan pergi?" tanya Kei sambil menatap Megumi.

Megumi tersenyum. "Aku tahu itu mungkin bukan ide terbaik untuk pergi setelah apa yang baru saja terjadi... tapi aku akan pergi."

Kei menatapnya dengan heran. "Kau benar-benar akan pergi? Apakah kau akan baik-baik saja?"

"Akutidak tahu. Tapi aku tidak akan tahu, jika aku tidak mencoba."

"Aku akan pergi denganmu..."

End of Flashback*

Megumi mencengkeram bajunya dengan keras. Ba-ThumpBa-ThumpBa-Thump. Jantungnya berdetak dengan cepat. 'Aku tidak tahu apakah itu karena aku diajak pergi untuk bertemu pacar Yahiro atau karena Kei ikut bersamaku.' Dia mendesah. Dia berjalan ke sofa dan duduk di sana, menatap ke luar jendela kamarnya. 'Aku ingin tahu apakah ini adalah ide yang bagus. Bisakah aku mengatasinya? Aku akan bertemu dengan gadis yang Yahiro ceritakan, gadis yang begitu dibanggakan. Aku ingin tahu seperti apa dia. Mungkin seseorang yang tidak takut untuk menunjukkan perasaannya. Sekarang aku berpikir tentang hal itu, apakah Yahiro yang menyatakan perasaannya pada gadis itu atau sebaliknya?' Dia bertanya-tanya untuk sementara waktu, kemudian dia menarik kakinya ke dadanya. 'Kurasa itu bukan urusanku, benarkan?' Dia mendesah sekali lagi.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Dia segera mengambilnya.

To Megumi,

Aku akan menunggumu di dekat gedung bisnis yang ada di dekat taman. Jam04:30. Aku sudah bicara dengan Yahiro. Dia tidak keberatan kalau aku juga ikut. Aku akan menjemputmu jam 4. Ngomong-ngomong, apa kau benar-benar tidak apa-apa pergi ke festival itu?

From Kei,

Megumi mulai membalas.

To Kei,

Terima kasih Kei. Ya, sama sekali tidak terlihat seperti aku punya pilihan lain, bukan? Selain itu, ini harus menjadi hari peringatan akhir cintaku pada Yahiro. Aku tidak yakin apa yang akan terjadi, tapi aku bersedia untuk mencari kau yakin ingin ikut?

From Megumi.

To Megumi,

Bahkan walaupun kau berkata seperti itu, apa kau akan baik-baik saja?Dan satu-satunya alasan aku ikut adalah kau. Aku tidak benar-benar peduli dengan si brengsek berambut ungu itu.

From Kei.

To Kei,

Jangan mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik kasih. Sampai ketemu besok jam 04:30.

From Megumi.

Megumi menutup ponselnya. 'Kei... tunggu! Dia hanya ikutuntuk... ku!?' Jantungnya mulai berdetak sangat cepat dan darah bergegas menuju ke pipinya. Dia menarik kakinya lebih dekat dengan ke dadanya. 'Hal seperti membuatku bahagia.' Dia tersenyum lembut. 'Mungkin ini bukanlah hal yang buruk.'

~o~

Mata Megumi dan Kei berkedutan melihat pemandangan tersebut. 'GADIS ITU MIRIP AKIRA-CHAN! Jika rambutnya masih tetap panjang, ya benar.' Mereka berdua memikirkan hal yang sama dengan mulut mereka yang terbuka.

Berdiri di samping Yahiro, gadis berambut violet yang bergelombang, bermata coklat, tersenyum bahagia pada kedua teman Yahiro yang berdiri bingung di depannya

"Kei, Megumi, ini pacarku Mia." Yahiro memperkenalkan mereka. "Mia, ini adalah teman-temanku Megumi dan Kei."

"Senang bertemu dengan kalian berdua. Semua teman Yahiro, adalah temanku." Mia tersenyum hangat.

"Yah senang bertemu denganmu juga, Mia." Kata Kei.

'Kuharap kita bisa menjadi teman baik.' Megumi tersenyum, menunjukkan buku sketsanya. Kei menyadari kalau Megumi telah mengganti papan sketsa yang dibeli Yahiro dengan buku sketsanya. Mia mengamati buku tersebut, dengan tampang bingung.

"Apakah kamu...bisu?"

'EH?!' Megumi terkejut. 'Ti-tidak! Aku... yah...itu…'

"Itu adalah cerita yang panjang, dia menggunakan buku untuk melindungi suaranya. Dia bisa bicara, hanya saja, dia sangat menjaga suaranya dengan baik. Ya sangat." Kei menjawab untuk Megumi.

"Oh. Itu aneh, tapi bisa dimengarti." Mia menepuk tangannya dengan bahagia.

'Wow. Mirip seperti Yahiro. Sedikit tidak sopan.' Pikir Kei.

"Maafkan aku. Aku lupa memberitahukan hal itu padanya." Yahiro menggaruk kepalanya. "Bagaimana kalau kita pergi sekarang?" Dia dan Mia berjalan pergi, bergandengan tangan.

'Dia melupakanku dengan begitu cepat.Hal itumenyakitkan.' Mata Megumi melunak penuh kesedihan. Kei melihat hal itu dari sudut matanya.

"Ayo kita pergi sebelum kita kehilangan jejak mereka." Megumi mengangguk. Kei meletakan tangannya di bahu Megumi dan dengan lembut menarik mengikuti Yahiro dan Mia.

~o~

'Akhirnya jalan-jalan ini berakhir hanya dengan 'menonton pasangan itu bermesraan''. Megumi mendesah. 'Aku ingin tahu apakah ini adalah kencan pertama mereka bersama sebagai pasangan. Yah, kupikir aku tidak harus menyebutnya 'kencan' ini kelihatannya hanya untuk saling mengenal, karena aku dan Kei ada di sini juga.' Megumi berpikir lagi dan aura kesal tiba-tiba mengelilingi dirinya. 'Atau ini hanya cara Yahiro untuk membuatku jengkel? Mungkinkah dia melakukan ini untuk menyingkirkanku?' Dia melihat ke arah pasangan di depannya. Dia mengamati Yahiro dengan gembira menertawakan Mia. Dia tersenyum. 'Tidak… dia jatuh cinta padanya.'

Kei menatap Megumi dari sudut matanya, dan mengikuti pandangannya, ke arah pasangan yang bahagia itu. Dia cemberut. Dia berbalik, melihat toko topeng. "Oi, Megumi. Apa kau ingin melihat-lihat topeng?"tanya Kei.

Sebuah ekspresi gembira melintasi wajah Megumi. 'Bolehkah kita pergi?'

"Tentu saja." Kei tersenyum dan memimpin jalan. Megumi mengikutinya. Yahiro menangkap sekilas saat mereka pergi.

Mereka berjalan ke toko topeng. 'Wow! Sangat indah!' Mata Megumi berkilau. Dia merasakan sebuah tepukan di bahunya, dan berbalik ke arah tersebut. Kei berdiri di sana, mengenakan topeng dengan ekspresi konyol dan fitur yang sangat aneh. Megumi menatap untuk sementara waktu, dengan mata terbuka lebar.

Sebuah tawa tiba-tiba keluar dari mulut Megumi. 'K-Kei! Kau tampak konyol!' Tulisannya semua berantakan karena dia terlalu banyak tertawa.

Kei melepas topengnya, dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Dia kemudian tersenyum pada Megumi. 'Sesuatu tentang cara dia tertawa dan tersenyum, menghangatkan hatiku.' Kemudian Kei mulai ikut tertawa juga.

Setelah mereka berhenti tertawa, mereka terus melihat topeng-topeng yang lain.

Kali ini giliran Kei yang mendapat satu tepukan kecil di bahu. Dia berbalik dan melihat Megumi mengenakan topeng babi yang sangat ekstrim. Kei mulai tertawa. "Apa-apaan itu!?" katanya sambil tertawa. Megumi melepas topengnya, dan ikut tertawa.

"Oi." seseorang memanggil mereka dari jauh. Yahiro dan Mia muncul dari kerumunan, melambai pada mereka. Megumi meletakan kembali topengnya, dia dan Kei buru-buru menghampiri Yahiro dan Mia.

"Oh Megumi, aku melihat sebuah toko pakaian yang lucu di dekat sini. Maukah kau ikut dan melihat-lihat bersama denganku?" Mia bertanya dengan nada bersemangat kemudian meraih tangan Megumi.

Megumi menatapnya dengan heran, kemudian menatap Kei, menunggu jawaban.

"Pergilah." Kei berbisik. Megumi kembali menatap Mia.

'Tentu. Aku akan senang bisa ikut denganmu.' Megumi tersenyum. Mia bertepuk tangan, memberikan Yahiro kecupan kecil di pipi kemudian meraih tangan Megumi lagi dan menariknya pergi.

"Kami akan segera kembali." Mia berteriak pada kedua pria itu.

Gadis-gadis ituberlari ke sebuah toko di sekitar situ. Mereka memasuki toko, menikmatinya barisan gaun yang ada. Mata Megumi berkilau dengan takjub.

'Wow. Ada begitu banyak gaun.'

"Aku tahu! Bukankah gaun-gaun ini cantik-cantik!"seru Mia. Mia menarik napas takjub saat dia melihat sebuah gaun kuning. Dia bergegas menuju rak tempat gaun itu berada dan mengambilnya, berbalik dan menunjukkan gaun tersebut pada Megumi. "Gaun ini terlihat cantik untukmu!"

~o~

Kei dan Yahiro duduk di bangku di sekitar toko pakaian tersebut. Kei melirik Yahiro, dan Yahiro juga meliriknya.

"Jadi... pacar barumu... dia tampaknya benar-benar baik." Kei menyatakan, lengannya terlipat dan kakinya disilangkan. Yahiro setuju dengannya. "Jadi bagaimana kalian berdua bertemu? Kau tidak pernah menyebutnya hingga kemarin."

Yahiro mendesah. "Mengapa aku harus memberitahumu? Siapa bilang kita berteman?"godanya.

"Ha! Aku adalah teman terdekatmu, jadi jawab saja." Kata Kei menyengir.

"Apa yang kau bicarakan. Megumi temanku."

Mata Kei menerawang. 'Kau benar-benar tidak tahu apa pun.' "Aku benar-benar ragu jika dia masih tetap menjadi temanmu setelah ini…" Kei tidak sengaja berbisik.

"Apa? Apa kau mengatakan sesuatu?"

"T-tidak . Tidak."Kei menutupi mulutnya. 'Sial!' "Lagi pula, jawab saja pertanyaanku."

"Nah, sebenarnya, kita bertemu secara tidak sengaja. Sebulan yang lalu, aku sedang berjalan pulang setelah bertemu dengan Megumi hari itu. Ketika aku tidak sengaja menabrak seseorang."

*Flashback:

BUMP. "OMG, maafkan aku." Seorang gadis menabrak Yahiro dan menumpahkan kopi pada sweaternya. Gadis itu mengambil tissue dan mencoba untuk membersihkan sweater Yahiro.

"Jangan khawatir tentang ini." Kata Yahiro.

"T-tidak. Aku akan membersihkannya." Dia terus membersihkan noda kopi yang sulit untuk hilang. Yahiro menghentikannya, dengan meraih tangannya.

"Kau akan membuatnya lebih buruk jika kau menggosok seperti itu."

"Aku tahu, aku sangat menyesal. Aku berharap aku bisa membersihkannya." Dia mulai menangis. "Oh, aku tahu. Bagaimana kalau aku membeli sweater baru saja untukmu?" dia bertanya.

"T-tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya. Hanya ada sedikit noda. Selain itu aku memiliki banyak sweater di rumah." kata Yahiro. Dan gadis itu mulai cemberut.

"Tapi... oh, aku akan membuatkan makan siang special untukmu." Gadis itu tersenyum, meraih tangan Yahiro dan berlari.

(Di rumah si gadis)

'Aku baru saja dibawa ke rumah orang asing untuk makan siang. Aku tidak tahu apakah aku harus ketakutan atau bahagia.' Mata Yahiro berkedut saat dia duduk di bangku, melihat gadis tersebut sedang memasak.

Gadis itu terus memasak. 'Dia entah bagaimana mengingatkanku pada seseorang…'

Beberapa menit kemudian masakannya siap. Gadis itumemberi sebuah piring untuk Yahiro, melemparkan celemek di sisi lain dari meja dan menunggu Yahiro untuk mengambil gigitan pertama, dengan mata me merasa agak aneh, tapi dia mulai memakan masakan gadis itu. Begitu makanan itu memasuki mulutnya, matanya melebar. "Ini lezat!"

Gadis itu tersenyum lebar. "Aku senang kau menyukainya!"

Yahiro melanjutkan makanannya. "Ngomong-ngomong, aku Mia Yotta." Gadis memperkenalkan dirinya. "Aku Yahiro Saiga." Dia tersenyum ringan.

End of Flashback*

"Dan kami mulai sering bertemu sejak saat itu. Dan akhirnya kami berpacaran." Kata Yahiro.

"O-oh. Begitu rupanya." Kei memberinya tatapan aneh. "Aku masih bertanya-tanya mengapa kau tidak memberitahu siapapun tentang dia. Maksudku, kau terdengar begitu bersemangat ketika bercerita tentangnya pada Megumi."

"Ya... tunggu. Apa! Bagaimana kau tahu tentang hal itu!?" seru Yahiro. "Apa kau memata-matai kami!?" Dia terdengar sedikit panik.

"A-apa!? Tidak..." Kei berpaling. "Megumi menceritakan apa yang terjadi hari itu." Dia tertawa ringan. 'Sial. Aku harus berhenti melakukan ini.'

"Oh... bicara tentang Megumi... bisakah kau beritahu padanya bahwa... aku minta maaf." Ekspresi Yahiro melembut.

"Eh?"

"Ketika pertama kali aku menyebutkan tentang Mia, semua yang kukatakan adalah betapa hebatnya Mia." Yahiro menunduk dan mendesah. "Aku pasti benar-benar menyakitinya."

"Jadi, kau tahu tentang perasaan Megumi padamu?" tanya Kei.

"Tentu saja aku tahu. Aku bukan orang bodoh." Poni Yahiro menutupi matanya.

"Lalu, kenapa kau tidak menerima cintanya?"

Yahiro tersenyum. "Karena dia layak mendapatkan pria lain yang lebih baik dari diriku." Mata Kei melebar mendengar komentarnya. "Kau ingat apa yang terjadi dengan Akira-chan. Megumi layak menerima yang lebih dari itu. Dia pantas bahagia, tapi aku bukanlah orang yang bisa memberikan hal itu padanya." Yahiro mendesah.

"Yahiro..." Kei dengan lembut menepuk punggung Yahiro.

"Apa yang Megumi lakukan, setelah aku pergi?" Yahiro duduk tegak dan menatap Kei, dengan tatapan sedikit sedih.

Kei tersenyum. "Dia tersenyum dan berkata 'Aku mengharapkan kebahagiaan untuk Yahiro'."

Yahiro tersenyum hangat. "Katakan padanya, aku berharap baginya untuk menemukan cinta, sekali lagi, dan mungkin pria itu akan menjadi orang yang tepat baginya."

"Kurasa hal itu harus kau katakana langsung padanya."

"Yah..." kata Yahiro lembut sambil tersenyum.

~o~

"Kami sudah kembali!" Mia muncul, lengannya dan lengan Megumi saling terkait. Tangan mereka yang satunya lagi penuh dengan tas belanjaan.

"Akhirnya. Kalian telah berada di sana selama satu jam. Dan aku sudah kelaparan." Yahiro bangkit dan menepuk perutnya.

'Ya. Aku juga sudah lapar.' Tambah Megumi. Kei berdiri dan mengambil tas-tas dari tangan Megumi, yang dengan senang hati berterima kasih.

"Ini waktu yang tepat untuk makan." Kata Kei.

Mia mengangguk. Dia meraih keranjang yang ada di tangan Yahiro. "Aku membawa bekal. Ayo kita makan di taman, seperti piknik." Dia tersenyum bahagia.

(Di taman)

"Eh, aku lupa untuk membawa minuman!" kata Mia saat mengamati isi keranjang yang dia bawa.

"Aku akan membeli minumannya. Kurasa aku melihat mesin soda di dekat sini." Tawar Yahiro dan bangkit berdiri. "Jadi, minuman apa yang kalian inginkan?"

"Aku mau minum kopi." Kata Mia.

"Aku teh hijau." Kata Kei.

'Aku mau es teh.' Megumi menulis.

"Oke. Megumi, aku ingin kau ikut denganku." kata Yahiro sebelum beranjak pergi.

'Tentu.' Dia bangkit dan mengikuti Yahiro, meninggalkan Kei dan Mia.

Yahiro dan Megumi berjalan di sepanjang trotoar, penuh keheningan. 'Ini agak tidak nyaman...'

'Hei, kenapa kau memintaku ikut? Apa kau tidak bisa membawa beberapa kaleng minuman sendirian?" goda Megumi, menyebabkan wajah Yahiro memerah karena marah.

"Diam! Kaulah yang setuju untuk ikut, bodoh!" kata Yahiro, memasukan tangannya kedalam saku celananya. Megumi memberinya tatapan marah dan kesal.

'Jika kau tidak ingin aku di sini, maka aku akan pergi!' Megumi menulis sambil cemberut.

"Kau mungkin sebaiknya tetap bersamaku. Lagian kita hampir tiba. Aku melihat mesin soda di sisi lain jalan." Yahiro menunjuk ke seberang jalan. Megumi mendengus. Yahiro menatapnya. "Selain itu, ada yang ingin kukatakan padamu."

'Apa itu?' Megumi menatap Yahiro.

"Aku hanya ingin mengatakan..." Mereka berhenti saat lampu merah. "Maafkan aku."

Mata Megumi melebar. 'Eh?'

"Aku minta maaf atas sikapku terhadapmu selama ini, terutama kemarin, ketika kita bertemu. Ketika aku bercerita tentang Mia, semua yang aku lakukan hanyalah mengagumi Mia, dan aku tidak memikirkan perasaanmu." Kata Yahiro.

Mulut Megumi sedikit terbuka untuk mengatakan sesuatu, dengan segera tertutup lagi. Mereka mulai menyebrangi jalan itu.

"Aku tahu kau mungkin berpikir aku brengsek sekarang. Terutama, ketika aku tahu bagaimana perasaanmu padaku." Yahiro menatap Megumi, yang memandang jauh, poninya menutupi matanya. Yahiro mengerutkan keningnya, memutuskan untuk tetap diam samapai mereka tiba di seberang jalan.

Mereka tiba di mesin soda. Yahiro mengamati minuman yang ada, memasukkan coin dan menekan tombol pada mesin itu. Saat dia berlutut untuk mengambil minuman yang keluar dari mesim, Megumi mulai bicara. "Aku tidak berpikir kau brengsek."

Yahiro dengan cepat menoleh ke arah Megumi dengan kaget. Megumi tersenyum lembut. "Aku mengerti jika kau kau menceritakan tentang pacarmu dengan bangga, terutama karena dia, kemungkinan besarnya, adalah pacar pertamamu." Megumi tertawa kecil. Komentar itu sedikit membuat Yahiro marah, tapi perasaan itu segera segera hilang saat Megumi melanjutkan kalimatnya. "Sejujurnya, aku jatuh cinta dengan hatimu, bukan siapa kau atau apa yang kau lakukan. Tapi orang lain juga melakukannya. Aku mungkin bukan orang yang tepat untukmu. Jadi aku bangga mengatakan, bahwa aku akan mendukung dan berharap yang terbaik untuk hubunganmu." Dia tersenyum hangat. "Selamat, Yahiro!"

Yahiro menunduk, poninya menutupi matanya. Dan senyum muncul di wajahnya. "Terima kasih, Megumi."

~o~

"Aku merasa itu penghinaan bahwa kau menggunakan buku sketsa, bukan papan sketsa yang aku belikan untukmu." Kata Yahiro, mengambil dua kaleng minuman dan memasukannya ke dalam sakunya. Megumi memperketat cengkeraman pada dua kaleng lainnya dalam pelukannya. "Dan lagi kau malah menggunakan suaramu." Yahiro mendesah. "Itu membuatku merasa semua latihan yang kita lakukan bersama-sama hanya menbuang-buang waktuku saja."

Mata Megumi berkedut. 'Nah kalau orang seperti ini yang kau cintai, maka akuakan menarik kembali semua yang telah kuucapkan tadi. Terutama bagian dimana aku mengatakan dia tidak brengsek.'

"Tapi, setidaknya aku masih bisa berteman denganmu." Yahiro tersenyum pada Megumi, membuat Megumi tersenyum kembali. "Asal kau tahu saja, aku menyadari bahwa Mia mirip dengan Akira, tapi itu bukan alasan aku pacaran dengannya. Aku punya alasan lebih pribadi. Ada sesuatu tentang dirinya yang membuatku senang, tidak seperti orang lain."Kata Yahiro dan senyum Megumi semakin melebar.

'Membiarkan kau pergi akan terasa sulit, tapi aku tahu aku membuat pilihan yang tepat.'