Chapter 4. Finally Find the One
~o~
Setelah menikmati makanan lezat, yang dimasak oleh Mia. Mereka mengemasi barang-barang mereka dan bersiap-siap menghadiri festival. Perjalan yang ditempuh tidak begitu jauh, karena festival diadakan di taman, tetapi tentu perjalan memakan waktu lama, karena banyak orang yang menuju taman tersebut, mengakibatkan jalananan menjadi padat, itu bukan hal yang mudah.
Keempat orang itu berusaha untuk tetap bersama-sama, terutama karena Mia dan Yahiro, yang... bagaimana kita harus mengatakannya... saling menggoda satu sama lain di tengah jalan. Hal itu terasa sedikit menjijikan bagi Kei, menyebabkan dia berpaling dan menciptakan jarak di antara mereka. Megumi, di sisi lain, menemukan hal tersebut benar-benar menggemaskan.
Sambil berjalan di belakang pasangan itu, perasaan cemburu dan kesepian, menusuk hati Megumi. Melihat dua orang di depan mereka, hanya membuatnya hatinya sakit. Dia memperlambat langkahnya untuk menciptakan sedikit jarak. Dia tersenyum sedih. Megumi perlahan-lahan berhenti berjalan, menundukkan kepalanya dan menggenggam tas di tangannya dengan erat. 'Walaupun aku tidak ingin mengakuinya, tapi aku tidak bisa terbiasa melihat hal ini.'
Megumi merasa sebuah tangan menyentuhnya, mengejutkannya dan dengan cepat menoleh ke sumber sentuhan itu. Kei berdiri di sana tersenyum. Dia menunduk mendekatkan bibirnya di telinga Megumi, menyebabkan Megumi merona. "Jangan khawatir, aku ada di sini. Jika kau merasa kesepian, pegang saja tanganku." Bisik Kei. Wajah Megumi semakin memerah. Kei berdiri tegak dan tersenyum geli. Megumi memalingkan wajahnya dengan cepat, matanya tertutup penuh murni.
'Kupikir aku tidak bisa menyembunyikan emosiku dari Kei.' Jantungnya berdetak cepat.
"Kurasa aku bukan satu-satunya yang menonton adegan kedua pasangan itu... aku benci mengakuinya, tapi aku juga agak cemburu..." genggaman Kei pada tangan Megumi semakin dikencangkan. Megumi menatap Kei dengan ekspresi cemas.
'Aku hampir lupa... Kei sudah putus dengan Hikari-chan. Kupikir aku tidak memikirkan perasaan Kei.' Megumi menatap Yahiro dan Mia, kemudian menatap Kei dengan kening berkerut. 'Memandang Yahiro dan Mia pasti mengingatkannya pada saat dia melakukan yang sama pada Hikari-chan. Kukira itu lebih sakit jika kau kehilangan seseorang ketika kau sudah bersama-sama dengannya, dibandingkan dengan kehilangan seseorang yang sama sekali belum menjadi milikmu, benar?'
"Mmm, ada apa dengan tampang itu?" Kei menyentil pipi Megumi, membangunkannya dari lamunannya. "Ayolah. Kedua Love Birds kecil itu sudah semakin jauh."Kei menarik Megumi mengikuti kedua temannya.
'Aku ingin tahu apa dia, mengetahui konsekuensi... Kei... apa yang kau pikirkan?'
~o~
"Sial. Kupikir kita kehilangan mereka." Kei menggaruk kepalanya, melihat sekeliling dengan bingung, tangannya masih memegang tangan Megumi. "Mungkin kita harus terus mengawasi mereka, terutama di kerumunan seperti ini."
Sementara itu, Megumi masih menatap Kei, khawatir. Sesekali Kei akan melirik dan Megumi akan berpaling dengan wajah memerah.
"Bagaimana kalau kita duduk dulu?" tanya Kei, menunjuk bangku dekat di sekitar tempat mereka berdiri. Megumi mengangguk. Mereka berjalan ke bangku tersebut dan duduk.
'Tunggu dulu, Kei memang mengatakan bahwa dia datang ke sini untukku, tapi aku tidak bisa berhenti khawatir tentang dia...' Pegangan Megumi di tangan Kei mengencang, melupakan bahwa dia masih memegang tangan Kei. Kei rupanya menyadari tingkahnya.
"Kau terus melakukan itu." kata Kei, membuat Megumi berpaling dan menatapnya dengan bingung.
'A-apa yang kulakukan?' Megumi melepas tangan Kei untuk menulis, membuat Kei merasa kehilangan kehangatan.
"Kau terus menatapku. Apa ada sesuatu di wajahku?" Kei menyentuh wajahnya untuk memeriksa. Megumi menggeleng sebagai respon dan menghindarkan kepalanya. Dia mempelajari gerakan Megumi, karena Megumi memegang erat buku sketsanya dan mati-matian mencoba untuk menyembunyikan rasa malunya.
'Aku membuat diriku mudah dibaca!' Megumi menggigit bibir bawahnya dan menutup matanya.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Apa itu ada hubungannya dengan Yahiro?" tanya Kei dengan nada khawatir. Megumi sekali lagi menggeleng. "Mmm... mungkin saja, apa itu ada hubungannya dengan kehadiranku?" tanyanya lagi, membuat Megumi tersentak. "Apa keberadaanku di sini membuatmu merasa tidak nyaman?"
'T-tidak!' kata Megumi. 'Aku sangat menghargai keberadaanmu, itu hanya…'
'Hanya apa?'
Megumi menurunkan mata dan membuka mulutnya, tapi dengan cepat menutupnya kembali. 'Tidak apa-apa.' Kata-kata itu ditulis dengan jelas di buku sketsa.
"Aku tidak yakin. Aku tidak berpikir kau akan memasang tampang khawatir jika tidak terjadi apa-apa." Kei tertawa.
Megumi mengembungkan pipinya, membuatnya terlihat seperti tupai. 'Mungkin aku memang secara alami kadang terlihat khawatir."
"Jadi kau bisa menjelaskan mengapa kau terus meremas tanganku setiap kali kau menatapku?" Kei membuat contoh dengan sedikit mengepalkan tangannya dan membukanya kembali. Wajah Megumi berubah warna menjadi pink. Kei melihat saat Megumi mencoba untuk menulis, tetapi terlalu gemetar untuk menyelesaikan sebuah kata.
'I-ittu-uu ka-renaa' tulisanya berantakan, sulit untuk dibaca, tapi Kei masih bisa melihat hurufnya dengan jelas.
"Katakan saja padaku. Dan jangan khawatir, jika itu adalah sesuatu tentang Yahiro, aku tidak akan memberitahu siapa pun. Percayalah."
'Ini tidak ada hubungannya dengan Yahiro.' Beberapa detik berlalu sebelum Megumi mengganti halaman baru di bukunya. 'Nah, tidak benar-benar...'
"Yah? Siapa?" tanya Kei.
Megumi menggigit bibir bawahnya. Matanya diturunkan, poninya menutupi matanya. 'Kau.'
Angin malam bertiup, menyebabkan rambut Megumi berkibar, menyembunyikan mata dan ekspresi khawatirnya.
~o~
"Aku?" Kei bertanya, kebingungan. Megumi mengangguk. "Ada apa denganku?"
'Aku hanya sedikit bingung tentang mengapa kau datang ke sini, meskipun...' Dia membalik halaman berikutnya. 'meskipun…'
"Terlepas dari kenyataan bahwa aku putus dengan Hikari... benar?" kata Kei sebelum Megumi bisa menulisnya.
Mata Megumi melebar karena terkejut. Dia menatap Kei dengan mulut terbuka, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Kei mendesah. "Sampai saat ini," ia berhenti sejenak dan bersandar pada bangku di belakangnya. "Aku benar-benar tidak tahu jawabannya." Kata-katanya menyebabkan Megumi cemberut.
Dia menoleh ke samping dan cemberut. 'Jawabanmu membingungkan!'
"Aku tahu," Kei tertawa ringan. "Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti, tapi" Dia membungkuk ke depan, menaruh sikupnya di paha. "Kehadiranku di sini, mungkin sepenuhnya berkaitan dengan putus dari Hikari-chan." Tangannya saling terkait dan ibu jarinya ringan menggosok jempol yang lain, saat ia berbicara. "Ketika aku menemukan bahwa Hikari berselingkuh, bagian dari diriku, bagaimana aku mengatakan ini... bagian dariku tahu bahwa hal ini akan terjadi. Kurasa aku begitu terfokus pada kenyataan bahwa aku mendpatkan gadis yang aku impikan selama ini, aku tidak pernah menyadari bahwa hal itu akan berakhir dengan begitu cepat."
'Kei…'
"Tapi, setelah perselisihan datang dan perkelahian dimulai, aku mulai mengatakan 'Eh, apa yang telah aku lakukan sehingga hal ini terjadi padaku?'" Dia mendesah. "Pada awalnya aku tidak banyak memikirkan tentang hal itu, karena semua pasangan pasti melewati hal tersebut. Tapi hal itu mulai menjadi lebih sering terjadi dan perkelahian kami menjadi lebih agresif, sehingga tidak melihatnya membuatku tenang."
'Tapi ketika pernah kalian berdua bersama dengan anak-anak yang lain, kau tampak bahagia dan senang. Kau pasti merasa senang melihatnya, bukan?' Megumi mencoba untuk menemukan sisi baik untuk hal itu.
"Kami berdua memutuskan bahwa kami akan berpura-pura akur di depan kalian. Hal itu hanya akan menyebabkan kecemasan bagi kalian jika kami tidak akur. Dan aku akan minta maaf lagi atas insiden yang terjadi beberapa waktu lalu. Kami tidak seharusnya bertengkar sejauh itu. Aku hanya benar-benar perlu untuk menjauh darinya."
Megumi memberinya tatapan sedih. 'Jadi dengan kata lain, kau hanya ikut denganku supaya kau bisa menyibukanmu dengan hal lain agar bisa melupakannya.' Kata-katanya mengejutkan Kei.
"T-tidak. Jangan salah paham dulu. Tentu saja aku ingin melupakan Hikari-chan, tapi aku tidak akan menggunakan masalahmu dengan Yahiro sebagai selingan." Kei mencoba menjelaskan danmelambaikan tangannya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku setuju untuk datang tanpa satu pun pikiran tentang Hikari. Aku benar-benar memang datang ke sini untuk menemanimu. Dan mungkin lima persennya adalah untuk melihat pacar baru Yahiro."
Megumi menatapnya dengan bingung. "Apa maksudmu?"
"Nah, kau telah mengikuti Yahiro sekitar satu tahun ini dan tiba-tiba dia bilang dia punya pacar baru. Aku mengkhawatirkanmu dan ingin memastikan bahwa kau akan baik-baik saja. Kau selalu memikirkan orang lain sebelum dirimu, jadi kupikir kali ini, aku bisa melakukan sesuatu untukmu."
Megumi tersipu mendengar kata-kata Kei.
"Tapi kurasa semua yang kulakukan hanyalah membuatmu bertambah khawatir padaku, ya? Aku sama sekali tidak membantu." Kata Kei sambil tertawa.
'Siapa yang bisa menyalahkanku jika aku mengkhawatirkanmu. Kau selalu begitu senang bersama dengan Hikari-chan. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan bagaimana perasaanmu, jadi itu adalah kejutan besar bagiku." Megumi cemberut.
"Kurasa benar itu adalah kejutan yang besar."
'Dan aku tidak akan mengatakan bahwa kau tidak banyak membantu.' Kata-katanya menangkap perhatian Kei. 'Jika kau tidak ada di sini aku sudah akan pulang sejak tadi dan menangis di suatu tempat.' Megumi memiringkan kepalanya ke samping dengan senyum sedih. 'Tapi aku benar-benar mengagumimu bisa berada di sini. Kau membantuku menenangkan diri dan berpikir, dan untuk itu aku bersyukur. Aku sangat senang aku punya teman sepertimu.' Megumi tersenyum hangat dengan air mata di matanya. Kei tersenyum kembali, dia menyeka air mata itu dan dengan lembut menepuk kepalanya. "Terima kasih."
"Akulah yang seharusnya berterima kasih."
Megumi menatapnya dengan ekspresi terkejut, yang segera berubah menjadi senyum hangat dan ramah.
Ba-Thump Ba-Thump.'Eh? Apa ini?' Pikiran itu memasuki kepala Kei. 'Ini terasa nyaman...'
~o~
Buzz Buzz sesuatu bergetar di saku Kei, mengembalikannya pada kenyataan. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.
"Halo?" jawab Kei. "Oh, Yahiro. Kau dimana? Kami kehilangan kalian di kerumunan." Dia mendengarkan sejenak. "Eh? Kau dimana! Itu seperti berada di sisi lain dari taman! Bagaimana kau bisa sampai di sana?" Kei menggaruk kepalanya. "Oi, itu bukan kesalahan kami. Megumi dan aku..." Kei menatap Megumi dengan tatapan bingung. "Eh, tidak apa-apa. Jadi, bagaimana sekarang? Kami tidak bisa berjalan ke sisi lain taman ini." Dia membuat wajah kesal dan mendesah. "Oke. Kedengarannya bagus. Sampai nanti." Dia menutup ponselnya dan mendesah.
'Yahiro bilang apa?' tanya Megumi.
"Karena kita berada di sisi yang berlawanan di taman ini, Yahiro meminta kita untuk menunggu mereka di dekat pohon sakura besar di bagian timur taman saat pesta kembang apinya selesai." Kata Kei. "Ini masih lumayan lama sampai kembang api dimulai. Bahkan masih belum gelap. Apa kau ingin melakukan sesuatu sambil menunggu kembang apinya?"
Megumi berpikir, sampai sesuatu di belakang Kei menangkap matanya. Wajahnya menjadi lebih santai. 'Ayo kita main di arcade!' Dia menunjukkan toko arcade.
Kei menoleh untuk melihat toko itu, lalu mengangguk. "Ya. Sepertinya menyenangkan."
Mereka tersenyum dan berjalan menuju toko tersebut.
'Mungkin ini bisa membuat Kei tidak memikirkan Hikari-chan…'
~o~
'Wow! Kau benar-benar jago bermain, Kei-kun!' Megumi memegang bukunya dengan takjub. Kei tersenyum.
"Aku memainkan banyak video game dengan adikku karena dia selalu menantangku. Akhirnya aku jadi mahir bermain." Dia melirik Megumi. Melihat cara mata gadis itu berkilau, cara senyumnya dan ekspresi kagumnya. Dia menyadari bahwa dia sedang mengagumi figur Megumi dan dengan cepat menoleh dan melanjutkan permainannya dengan rona merah di pipinya.
Megumi melihat gerakan tersebut dan tersenyum.'Aku senang Kei bisa bersenang-senang.'
"Megumi, apa kau ingin main?"
'E-eh!? Aku? Aku tidak terlalu bisa."
"Ayolah. Aku akan mengajarimu." Kei meraih tangan Megumi dan menariknya ke depan. Megumi tersipu. Kei menempatkan kontroler lain ke tangan Megumi. "Lihat. Kau gunakan joystick untuk bergerak, A untuk pukulan, B untuk melompat, X untuk menendang dan Y untuk menghindar. Kau juga bisa menekan dua kali pada tombol tersebut untuk melakukan combo. Kau mengerti?"
Megumi mengangguk tidak yakin.
"Jadi tujuan dalam permainan ini adalah kau perlu menyelamatkan sang putri dan melawan semua monster dan zombie sebelum mereka sampai di sana lebih dulu, cukup sederhana, bukan?" Dia tersenyum. "Jadi, ayo kita mulai."Kata Kei sebelum menekan tombol start.
(Beberapa menit kemudian)
"Ah! Megumi ke kiri!"seru Kei, sambil menekan tombol sangat cepat.
Megumi, tidak mampu untuk berbicara, membuat wajah terkejut dan penuh tekad, mencoba mengikuti arah Kei. Dia menekan tombol hampir secepat Kei, tapi lebih lambat.
"OI, Megumi! Itu bukan kiri, itu kanan!" kata Kei sambil tertawa dan mengejutkan Megumi, yang membuatnya melompat kaget. "Pergi ke kiri!"
Megumi siap untuk berteriak frustrasi, tapi terhalang oleh tangan Kei yang menutupi mulutnya, karena kita semua tahu apa yang akan terjadi jika dia berteriak. "Kau tidak bisa melakukan itu. Fokus saja." Kei melepas tangannya dan terus bermain. Megumi mengikutinya.
"Woah. Nah, itu yang ingin kulihat."Kata Kei mempercepat langkahnya.
(Game selesai)
"Woah, permainannya menyenangkan!" Kei tertawa setelah meletakan kembali kontrolernya. "Aku tidak tahu kau bisa bermain seperti itu. Kau benar-benar hebat."
'Aku bahkan tidak tahu aku bisa melakukannya. Kita akhirnya mengalahkan semua monster dan zombie, sebelum mereka bisa mencapai sang putri." Megumi tersenyum.
"Yeah, tapi kau hampir membunuh sang putri dalam proses." Kei tertawa.
'Ini bukan salahku kalau sang putri mirip seperti ratu zombie yang cantik." Megumi cemberut, lalu ikut tertawa bersama Kei.
"Maukah kau mencoba permainan yang lain?"
'Ya.' Sesuatu di belakang Kei menarik perhatian Megumi. Matanya kemudian melebar.
'Oh tidak!'
"Eh? Megumi-chan?" Kei melambaikan tangannya di depan wajah Megumi.
"Takashima?" Sebuah suara yang akrab menyapa Kei.
Kei menoleh. Di sana, berdiri dengan seorang pria yang tak dikenal adalah Hikari, mantan pacarnya.
'Segalanya akan manjadi canggung sekarang...' Megumi berkata pada dirinya sendiri.
~o~
"Ah, Takashima itu kau rupanya. Oh, hai Megumi-chan." Hikari menyapa dengan canggung, bingung kenapa Megumi bisa bersama Kei di tempat seperti ini. "Apa yang kalian lakukan di sini? Setauku kau jarang bermain video game, Takashima."
"Kami bermain di sini untuk menunggu pesta kembang api. Itu adalah ide Megumi untuk bermain dan aku sudah banyak memainkan video game dengan adikku, jadi hal ini tidak asing bagiku." Kei menjawab dengan nada yang terdengar hampir dingin. Megumi menyadari ekspresi gembira di wajah Kei sudah menghilang dan matanya mulai menerawang.
"Oh, jadi kau di sini untuk melihat kembang api. Kami ingin mengecek game-game baru di sini." Hikari tersenyum. "Ngomong-ngomong, ini adalah pacarku, Ichimura Kisa. Ichimura ini adalah teman-temanku Kei dan Megumi."
"Senang bertemu kalian." Ichimura sedikit membungkuk member salam sambil tersenyum.
"Senang bertemu denganmu." Kei melakukan hal yang sama, tetapi tampak sedikit sedih.
'Senang bertemu denganmu Ichimura-san.' Megumi tersenyum. Mata Ichimura melebar sebentar, kemudian tersenyum pada Megumi.
"Aku sudah bilang pada Ichi tentang kondisi Megumi. Bahkan, aku juga sudah menceritakan tentang teman-teman yang lain padanya."
'Ichi? Dia sudah memberinya nama panggilan, tetapi merekabaru saja mulai berkencan selama seminggu. Kecuali...' Megumi berpaling, matanya penuh kesedihan. 'Dia benar-benar berkencan dengan pria itu di belakang Kei... kurasa aku benar-benar tidak tahu anggota SA dengan begitu baik.'
"Meskipun begitu, hal ini agak aneh. Kau dan Megumi hampir tidak pernah berbicara, mengapa tiba-tiba berubah?" Hikari bertanya.
"Kami di sini karena masalah yang rumit. Apa maksudmu aneh?" Kei menaikan alisnya.
"Maksudku, aku tidak ingat kau benar-benar punya percakapan dengan Megumi dan sekarang kau bahkan membawanya ke festival kembang api dan juga arcade." Kata Hikari.
Entah bagaimana, apa yang dikatakan Hikari tentang Megumi, tiba-tiba membuat api kemarahan meledak dalam diri Kei. "Dan apa yang salah dengan itu?"
"Aku hanya mengatakan, Megumi adalah orang terakhir yang aku duga akan diajak bicara olehmu. Aku tidak bemaksud menyinggungmu Megumi." Kata Hikari.
'Iya, tidak.' Megumi tersenyum kebingungan.
"Apa kaubilang itu tidak normal jika akuberbicara dengan orang lain, selain kau, Akira atau Tadashi?" nada Kei berubah menjadi marah. Megumi melihat dia mengepalkan tinjunya. 'Apa yang dimainkan Hikari-chan?'
"Tidak sama sekali, aku hanya bilang bahwa hal itu mengejutkanku bahwa kau benar-benar bisa berbicara dengannya. Aku bahkan jarang berbicara dengan Megumi."
'Apa dia bilang Megumi tidak bisa mendapatkan teman karena tidak berbicara!?' Sebuah ekspresi marah muncul di wajah Kei. "Kau sebaiknya jaga ucapanmu."
Suara Kei menjadi tegas dan keras yang bisa didengar semua orang.
Megumi mengetahui ke mana hal ini akan terjadi dan dengan cepat mengambil ponselnya dan berpura-pura membaca pesan.
"sebelum aku mengambil jalan yang salah dan…"
Sebelum Kei bisa menyelesaikan kalimatnya, Megumi telah meraih tangannya dan berdiri di depannya. "Maaf Yahiro mengirim pesan padaku dan katanya dia sudah menunggu kita. Permisi." Kata Megumi sambil menarik Kei menuju pintu masuk. Dia berhenti sejenak dan menoleh ke arah pasangan tersebut. "Senang bertemu denganmu Ichimura-san. Sampai nanti Hikari-chan!" Dia tersenyum sebelum lari bersama Kei yang masih terkejut.
"O-oh, bye Megumi."Kata Hikari masih bingung.
Ba-thump' Apa yang kulakukan?' Megumi berpikir saat dia berjalan melalui kerumunan,dengan erat memegang tangan Kei.
~o~
Megumi dan Kei berhenti di pohon besar, sekitar beberapa blok dari arcade, terengah-engah. Keduanya kehabisan napas karena berlari. Mereka berdua duduk di bangku, karena kelelahan.
Megumi mampu menangkap sedikit napas untuk berbicara. Dia mengambil napas dalam-dalam. "Ada apa denganmu, apa kau gila!? Hah!? Marah hanya karena sesuatu yang begitu kecil! Aku tahu kau masih marah atas perlakuan Hikari-chan padamu, tapi ayolah! Apa yang akan kaukatakan jika aku tidak menghentikanmu!?" Megumi berhenti ketika menyadari apa yang baru saja dikatakan dan melihat wajah terkejut Kei. "K-Kei, maafkan aku!" Dia menutup mulutnya.
Setelah beberapa detik penuh keheningan, Kei akhirnya bersuara."T-tidak... akulah yang seharusnya minta maaf. Maaf atas apa yang terjadi di sana. Aku tidak tahu mengapa aku begitu marah. Entah bagaimana, ketika dia mengatakan bahwa itu aneh jika kau menghabiskan waktu denganku, hal itu membuatku benar-benar jengkel dan marah. Aku tidak bisa mengendalikan tindakanku. Maaf." Kei menggosok punggung kepalanya. "Aku mungkin membuatmu malu, bukan?"
Itu seharusnya jadi kata-kataku. Akulah yang memotong pembicaraanmu dan kemudia kabur." Megumi tertawa kecil.
"Seolah-olah kau bisa melakukan sesuatu seperti itu…"
"Apa yang Hikari katakana tentangku... apa itu benar?" Megumi bertanya dengan gugup.
"Tentu saja tidak! Itulah yang membuatku sangat marah. Aku benci ketika dia menebak-nebak suatu hal seperti itu!" Kei mendesah. Megumi tersenyum pada dirinya sendiri.
"Oh dan tentang apa yang aku katakan tentang Yahiro menunggu kita... itu bohong. Aku hanya mengatakan hal itu supaya kita bisa pergi dari sana. Maaf." Megumi menunduk, malu dengan tindakannya.
"Terima kasih. Ini kedua kalinya kau menyelamatkanku dari kemarahanku. Bukan hanya itu, tapi kaubahkan menggunakan suaramu yang berharga. Dan untuk itu aku benar-benar bersyukur. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalasnya."Kata Kei sambil tersenyum lemah dan menepuk lembut kepala Megumi.
Mereka terdiam beberapa menit, keduanya melihat ke arah yang berbeda. Mereka memandang sekeliling mereka mulai dari sebuah bukit kecil sampai ke taman. Matahari perlahan terbenam, menyebabkan langit berubah menjadi campuran orange, kuning dan biru. Bunga sakura di pohon hanya membuat pemandangan semakin indah. Bunga berguguran saat ditiupi angin dan jatuh dengan lembut di rambut Megumi.
"Terima kasih, Kei."
"Eh? Aku benar-benar tidak melakukan apa pun."Kei menggaruk kepalanya.
"Tapi kau satu-satunya yang ada di sini untukku." Kata-kata Megumi menarik perhatian Kei. "Kau ada di sana bahkan ketika hal-hal menjadi rumit. Saat aku mulai meragukan diriku, kau bisa melihat langsung melaluiku, bahkan jika aku berusaha keras untuk menyembunyikannya." Dia mulai menangis. "Dan meskipun kita tidak pernah benar-benar berbicara satu sama lain sebelum ini, aku tiba-tiba merasa seperti bisa menaruh seluruh hidupku padamu. Ini aneh, bukan?" Dia memberinya senyum yang membuat jantung Kei berdetak kencang.
"Yah, sulit untuk tidak merasa khawatir padamu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, sulit untuk mengkhawatirkanmu, terutama ketika kau hampir tidak pernah memikirkan dirimu lebih dulu sebelum orang lain. Aku sangat suka hal itu dari dirimu, tapi kadang-kadang semua orang harus lebih memikirkan dirinya terlebih dahulu." Kei mengusap pipi Megumi, tersenyum padanya. Megumi tersipu mendengar kata-katanya.
Ba-Thump Ba-Thump Ba-Thump Megumi menyentuh tangan di pipinya. "Nah, itu salah satu hal yang sangat kusukai tidak pernah takut mengatakan pendapatmu." Senyum manis dan hangat di wajah Megumi membuat Kei merona.
Ba-Thump Ba-Thump Ba-Thump Mata Kei melebar. 'Ada apa ini?' Kei tersenyum pada menyadari sesuatu... 'Ah... itu adalah…'
"Megumi..." Dia mendapat perhatian Megumi. "Aku tahu ini kedengarannya mendadak, tapi..." Kei menggenggam tangan Megumi. "Mengapa kita tidak memulai hubungan bersama dan saling menyembuhkan satu sama lain?"
Wajah Megumi memerah. Jantungnya berdetak kencang. Mulutnya terbuka.
"Aku tahu kita berdua melewati hal yang rumit belakangan ini dan kau mungkin tidak ingin melakukan apa pun yang berhubungan dengan cinta, tapi…"
"Ya..." Suara Megumi begitu lembut, hampir seperti bisikan.
"Eh?" kata Kei tidak bisa mendengarnya.
"Aku bilang iya. Aku akan dengan senang hati memulai hubungan denganmu, Kei."
"Benarkah?! Aku sangat senang!" Kei memeluk Megumi, penuh sukacita. Dia melepas pelukannya dan tersenyum. Megumi memberinya senyuman manis dan hangat, tetapi untuk Kei, senyumnya adalah senyum paling manis dan paling lucu yang pernah dia lihat. Kei menyeka air mata di mata Megumi dan lembut mulai mengusap pipinya.
Tiba-tiba festival kembang api dimulai, mencerahkan langit malam, menciptakan pola dan warna indah di langit. Keduanya mulai memandang langit yang penuh cahaya.
Megumi menatap Kei dan melihat wajah cerahnya dan ekspresi bahagia. Dadanya terasa hangat dan nyaman.
Kei melirik Megumi dan tersenyum padanya, membuat Megumi tersipu dan berpaling. Kei menyentuh pipi Megumi membuat Megumi menoleh.
"Aku tahu ini sedikit lebih awal, tapi..." Kei menunduk dan mengecup bibir Megumi. Dia melihat wajah merah dan ekspresi kaget Megumi. Dia tertawa saat melihatnya.
"Ahhhhh, kupikir aku benar-benar telah jatuh cinta padamu." Kata Kei sambil mengedipkan mata dan tersenyum lebar.
~o~
'Cinta, satu jalan yang kau tempuh sambil membabi buta, tidak menyadari apakah ada bahya di depan atau tidak, adanya patah hati, sakit kepala dan argument yang tak pernah berakhir.Tapi cinta itu juga adalah jalan dimana kau dapat menemukan kedamaianmu, perlindungan dan kenyamananmu.
Aku berjalan sambil berpikir bahwa aku bisa melakukan ini, tetapi akhirnya jatuh pada setiap masalah yang menghadang. Sungguh menyakitkan… sangat. Aku tidak ingin menyerah setelah semua ini, tapi seseorang telah mencapai akhir sebelum aku. Lalu... aku menyadari bahwa aku bukan satu-satunya yang menempuh jalan ini. Di sisi lain ada orang lain, orang yang aku hormati dan iri. Aku tahu dia akan mengalami hal yang sama denganku, dan pemisah di antara kami menjadi semakin kecil dan semakin kecil saat kami mendekati akhir jalan kami, sampai akhirnya jalan itu menjadi satu.
Hanya ada satu jalan, tapi jalan yang panjang dan bergelombang. Kautidak bisa berharap untuk berjalan menuju cinta itu, tanpa menabrak dinding, tersandung batuatau sekadar kehilangan jalanmu. Jalan itu tidak selalu terang atau bersih... namun setelah kaumenemukan jalan itu halus dan rata, kaubisa berharap untuk menemukan sesuatu yang indah di sana.'Kata-kata lembut itu memenuhi kepala Megumi saat dia akhirnya bisa melangkah ke dalam satu jalan yang rata untuk di tempuh.
~o~The End~o~
A/N: Finally, this's the end. Thank you for reading this. Hope you like it. Please kindly leave me a review yeah. C U again :)
