Ini fic pertama saya, jadi maafkan kalo ada typo/misstypo.
Boku wa Hikari Kengo, yoroshiku…
Warning : Typo, misstypo, OOC, OOT, OOG, enam OC author nyangkut di sini, EYD gagal, humor garing ayam kremes (?), bahasa lu-gue dan aku-kamu (Awas, bukan AkuRoku ya... :D), bahasa gaul, gaje, ngaco, pendek, ngawur, kelewat aneh, segala unsur yaoi dan yuri (bila ada) hanyalah untuk hiburan semata, no pairing, hints-hints (kalo ada), ngawur tingkat dewa, dan saya bingung... #plak
Disclaimer : Seluruh Character di sini (kecuali OC, tentunya) adalah milik Crypton Future Media (Crypton Family), INTERNET Co. Ltd (INTERNET Family), dan para fans di sana (fanmade). Saya di sini hanya mempunyai cerita dan OC-OC-nya. Dan saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun.
Disclaimer tambahan : Saber milik Type-Moon selalu...
-VocaDorm-
Sebelumnya di VocaDorm...
"Ada apa, Hikari-sensei?" Tanya Rin.
"Oya, kalian sini deh. Ikut saya..." Kata Kengo mengisayaratkan mereka semua untuk mengikutinya dengan satu jari. Yang lainnya saling bertatapan, lalu mengikuti sang tetua VocaDorm tersebut.
"Let the fun begin... Now..."
-VocaDorm-
"Hm?" Tanda tanya besar muncul di benak gadis berambut gulali tersebut.
"Kenapa, Luka-senpai?" Tanya Toma melihat Luka kesusahan.
"Pintunya... Coba deh dibuka..." Kata Luka seraya menyingkir dari pintu. Toma pun mencoba menarik pintu tersebut dengan tampang seperti A*e *a* (Kengo : "Nama disensor demi menjaga kerahasiaan..." XD) yang sedang mengangkat barbel. Yang lainnya pun hanya sweatdrop melihat tingkah bodoh bocah satu ini.
"Toma, pintunya didorong... Bukan ditarik..." Kata Dell sambil tertawa miris. Toma pun hanya facepalm di tempat. Lalu dia pun memegang kenop pintu tersebut lalu mendorongnya.
"Tadai..." Kata-katanya menggantung, tapi pintunya belum terbuka.
.
.
.
"Pintunya masih dikunci?" Tanya Meiko ke Luka.
"Nggak kok, sumpah. Orang tadi udah gua buka..." Kata Luka berargumen.
"Pintunya sih gak dikunci..." Kata Toma masih memegang kenop pintu VocaDorm.
CKLEK!
"Lihat?" Biasanya kalo dikunci bunyinya gak kayak gini. Tapi ini udah gak dikunci..." Kata Toma lagi
"Terus kenapa gak dibuka?" Tanya Rei dan Rui yang udah gak sabaran pengen masuk. Mungkin mereka ingin ber-twincest-ria lagi. XD #dihajarRei
"Masalahnya, berat banget bos..." Jawab Toma sambil nangis bombay. Yang lainnya cuma sweatdrop, tapi juga penasaran tentang apa yang dimaksud dengan kata 'berat banget'.
"Kok berat? Bukannya pintunya cuma dari kayu ya?" Tanya Piko.
"Keliatannya... Tapi pintunya kayak diganti sama beton yang dicor deh..." Jawab Toma miris.
"Ha?" Yang lainnya pun hanya bisa jawdrop di tempat mendengar perkataan Toma yang tidak bisa diterima akal sehat itu. Akhirnya, Gakupo pun mengeluarkan katana miliknya.
"Ch-chotto! Lu bisa ditangkep polisi, BakaNasu!" Kata Luka berusaha mencegah samurai terong ungu banci taman lawang itu. #ditebasmati
"Pintunya harusnya dibuat dari kayu kan? Mending ditebas aja biar kita bisa nerobos masuk..." Gakupo pun menghunuskan katanya ke arah sebuah pintu yang tidak berdosa (?) itu.
"Dancing Samurai, HEA!"
Lagu Dancing Samurai pun berkumandang (?). Dan yang lainnya langsung nari-nari gaje. #plak!
Abaikan yang tadi...
SRING! WEEEET! (?)
Ternyata katananya Gakupo langsung memble kayak tali lasso koboi (?).
"Aduh, kekuatan banci taman lawangnya kurang nih cyiiin!" Kata Gakupo dalam mode bancinya. Yang lainnya pun melakukan ritual headbang berjamaah kecuali empat orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan (you know who I mean). XD
"Dasar banci..." Gumam Lenka pelan setelah mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Manis..." Gumam Rinto sambil menjilati bibirnya sendiri.
"Terus, lu pada ngapain?" Tanya Gumi sambil menunjuk Rei dan Rui yang 'keterusan' melakukan adegan twincest.
"Woi! Lu kalo mau ciuman jangan di sini! Di jamban (?) aja sana!" Teriak Akagane selagi berusaha menarik Rei dari pelukan Rui. Begitu juga Rena yang menarik-narik Rui agar lepas dari Rei.
"Ah, apaan sih?! Kalo di jamban mah kita bakalan ngelakuin *sensor* kali..." Kata Rui membentak Akagane. Yang lainnya pun langsung jawdrop mendengar kata-kata yang dikeluarkan dari gadis berambut hitam itu (min Rei).
'Mulai sekarang mereka gak boleh dibiarin masuk toilet berdua.' Kata yang lain dalam hati. (Xongek : "Parno banget sih... Lagian boleh gitu cowok-cewek masuk jamban berdua?" *sweatdrop*)
"Lu berdua apa-apaan sih! Masih di tempat umum juga?!" Bentak Akaito kepada sepasang kembar yang mengidap twincest ini. Yang dibentak pun hanya nyengir kudanil (?).
"Eh, ini pintunya mau diapain nih?" Tanya Rena berusaha mengembalikan topik pembicaraan ke arah semula.
"Oh iya, pintu..." Kata Gumiya kembali ingat akan tujuannya kemari.
"Nah, sekarang mau diapain nih? Pedangnya Gakupo cacat sih..." Eluh Kaito sambil ngemut es krim.
"Mau pake ISG?" Tanya Shiroumi. Sepuluh murid baru yang baru masuk VocaDorm itu memunculkan tanda tanya besar dari kepala mereka.
"ISG?" Tanya CUL.
"Oh ya, kalian belum punya ya? Lebih baik nggak usah..." Kata Shiroumi santai.
"Kenapa nggak usah?" Tanya Oliver kepo. (Kengo : "Pisang kepo?" *ditendang* | Xongek : "Itu pisang kepok, aho!")
"Karena ISG-nya juga di dalem..." Jawab Shiroumi sambil pundung. Yang lainnya sweatdrop seketika.
'Kalo gitu ngapain lu bilang-bilang segala?!' Kata yang lain sambil nge-rage.
"Yah, berarti mau gak mau kita dorong aja ini pintu..." Kata Rin menyarankan.
"Ah, tumben lu bener Rin!" Kata Dell asal ceplos.
"Diem ah, sekarang ayo dorong!" Balas Rin yang sudah bersiap mendorong pintu VocaDorm yang tiba-tiba jadi berat entah kenapa. Yang lainnya pun berdiri di depan pintu VocaDorm.
"DORONG!" Teriak Rin memberi aba-aba. Yang lainnya pun mulai mendorong pitu VocaDorm yang aneh dan ajaib itu.
"DORONG! DORONG!" Walaupun terlihat mereka semua sudah mengeluarkan oto mereka, pintu gaje itupun tetap tidak bergeming sama sekali.
"Hosh... Hosh... Itu pintu atau tembok sih?" Kata Rinto sambil memburu nafas.
"Ho-oh... Hosh..." Kata Piko menimpali.
"Kok kayak dicor ya itu pintu?" Tanya Rena.
"Kan tadi udah gua bilangin pintunya kayak abis dicor, gimana sih?" Kata Toma bertanya balik sambil memasang tampang 'you-don't-say-?'
"Dicor?" Kata Neru bertanya balik yang dibalas dengan anggukan pelan dari Toma dan Rena. Lalu muncullah hape (?) dari kepalanya. (Kengo : "Karena lampu-lampu jaman sekarang udah mainstream..." XD #ditimpukhape)
"Woi, shota topeng monyet! Roadroller lu gak dibawa ya?" Tanya Neru kepada bocah shota honeyblonde yang sedang makan pisang sambil nongkrong di jamban terdekat (?). #digilesLen
"Gua gak shota, tuyul hape! Dan gak! Roadroller gua ditinggal di sekolah!" Balas Len yang berhadiah timpukan hape dari Neru dan Nero. (Rin : "Poor you, Len..." XD)
"Ambil sono! Sama kakak lu!" Kata Neru yang himedere-nya aktif. Melihat hal ini, Len hanya berkeringat dingin.
"H-ha'i, ojou-sama!" Kata Len langsung ngacir sambil narik tangannya Rin.
Lima menit kemudian...
"Nah, tuh anaknya dateng..." Kata Neru sambil menunjuk Rin dan Len yang sedang nge-drift pake roadroller (?) mereka.
"Lu mau apaan nyuruh gua bawa ini roadroller?" Tanya Rin kepada sang tuyul hape tersebut. #dibunuh.
"Dobrak pintunya pake roadroller lu!" Perintah Neru.
.
.
.
"Neru, otak lu udah melayang entah kemana ya? Tapi persetan dengan itu. Ayo, Len!" Kata Rin sambil ngegas roadroller tercintanya. Begitu juga dengan Len.
"Siip... Satu..." Len memberi aba-aba dengan suara pelan.
"Dua..."
"Ti..." Belum sampai hitungan tiga, Rin dan Len memacu roadrollernya dengan kecepatan F1. Mendengar gemuruh roadroller, yang lainnya langsung menyingkir dari depan pintu VocaDorm kecuali Meiko yang sedang mabok.
"MEIKO-SENPAI! AWAS!" Teriak yang lainnya, tapi naas. Teriakan mereka semua diacuhkan oleh Meiko, dan...
BRMMM! CRAAAAT! BRUAK!
May we skip this bloody scene, please?
Nasib Meiko pun sekarang sama naasnya seperti Xongek yang tadi pagi dilindes oleh orang yang sama. (Xongek : *bersin*)
"Yosh! Pintunya kebuka!" Kata Rin sambil nari gaje.
"Aduuuh... Untung nyawa gua banyak (?), jadi gak langsung mati deh..." Kata Meiko yang dengan susah payah bangun dari tempat peristirahatan terakhirnya. #plak
"Et ya, Meiko udah kayak kucing aja..." Gumam Luka sambil geleng-geleng kepala.
"Eh, dipikir lu udah mati..." Kata Akaito ngasal yang berhadiah timpukan botol sake kosong dari Meiko.
"Diem lu, BAkaito!" Teriak Meiko setelah menggetok kepala Akaito dengan botol sake kosong. Tapi yang dia dengar adalah suara pundung dari seorang cowok dan seorang cewek yang sama-sama biru yang sedang ngemut es krim.
"Hiks... Apa salah kita sampe kita dibilang baka?" Kata Kaito pundung.
"Watashi wa wakaranai sa, hiks, onii-san..." Kata Kaiko yang juga pundung. Yang lainnya langsung sweatdrop melihat drama FTV liveshow abal-abal ini.
'Idiiih, malu dah gua punya pacar baka-nya selangit...' Kata Miku ber-sweatdrop-ria.
Sekarang pintu VocaDorm itu telah rubuh, tapi roadroller Rin dan Len masih teronggok (?) di depan VocaDorm. Kenapa? Kalian pikir pintu VocaDorm selebar apa sampe dua roadroller muat ke dalem sekaligus? Ya enggak mungkin selebar itu lah... (Reader : *sweatdrop*)
"Nah, sekarang masuk yuk!" Kata Len setelah mereka (Rin dan Len) memundurkan roadroller mereka. Miku pun melangkah masuk ke dalam. Tapi belum ada satu langkah di sana, badannya sudah melayang seperti layangan putus. #plak
"K-KYAAAA!" Miku pun berteriak sambil memegangi roknya (masih dalam keadaan melayang, tentunya...).
"Wuo-wuo-wuo! Kenapa lagi nih?!" Teriak SeeWoo yang penasaran dengan teriakan Miku dari dalam.
"WOY! MASUK APA! GUA PENGEN LIAT JUGA NIH!" Teriak SeeWoo kesal. Karena penasaran dan dia di belakang, SeeWoo pun mendorong semuanya masuk ke VocaDorm entah gimana caranya (?). Setelah masuk ke dalam VocaDorm, yang terdengar dari luar adalah suara-suara jeritan para gadis yang sedang diperkaos. #dibunuhbersama. Ehem, maksudnya adalah suara-suara seperti ini.
"KYAAAA!"
"Waaaw... Merah muda..."
"Gakupo hentai!"
"JDUAK!"
"PLUOOOK!"
"Woy, jangan pada berantem apa?!"
"Kuri! (?)"
"GRRRROOOAAAAAARRRRR! (?)"
Abaikan yang terakhir. Sepertinya ada Kuriboh dan naga Indosiar (?) nyasar ke sini. #salahfandom #ditabokkaryawanIndosiar
Orang-orang yang lewat di depan VocaDorm pun hanya melongo ke dalam dengan tatapan heran dan horror.
'Bocah-bocah sarap!' Pikir mereka heran. Yang sedang berjalan sambil membawa anak segera menutup telinga dan seluruh tubuh anaknya dengan perban sehingga terlihat seperti mumi nyasar (?).
Back at VocaDorm...
"WHOAAAAA!" Yang lainnya pun masih berusaha untuk diam di tempat. Di antara kekacauan tersebut, Winona melihat seperti ada puting beliung yang tertancap di tanah (?). Dirasa cukup kuat untuk menahan mereka semua. Winona pun berusaha susah payah menggapai seonggok angin tersebut. (Winona : "Never underestimate the power of wind!" *senyum gaje* | Kengo : *sweatdrop*)
"Minna! Pegangan di sini!" Teriak Winona saat ia sudah berhasil memegang angin tersebut. Yang lainnya yang meilhat Winona hanya bisa jawdrop di tempat melihat gadis berambut hijau tersebut bisa diam di tempat dengan hanya berpegangan pada angin.
'Gile, yang bener aja! Masa pegangan sama angin?!' Pikir yang lain selagi jawdrop di tempat-Oh enggak deng, mereka lagi melayang gaje kayak layangan putus. #plak!
"Ya udahlah... Ayo!" Kata Dell mengajak teman-temannya untuk mengikuti Winona. Akhirnya setelah semuanya memegang angin tersebut, pegangan mereka berubah menjadi sebuah tugu batu berbentuk pedang-atau lebih tepatnya, seperti sebuah pedang yang tertancap pada sebuah batu. Lalu, pedang batu tadi mulai bercahaya.
"Awww!" Teriak CUL sambil menutup matanya. Yang lainnya juga segera menutup mata mereka.
"Waw, silau men!" Kata Shiroumi yang udah make kacamata hitam entah sejak kapan.
"Hm?" Shiroumi lalu tercengang melihat sebuah tulisan muncul dari batu tersebut.
"Ada apa?!" Tanya Miki yang masih menutup matanya.
"Ada tulisan gaje muncul dari sini!" Jawab Shiroumi berusaha mengidentifikasi tulisan ajaib yang baru saja muncul di depan matanya.
"Apa tulisannya?" Tanya Mayu masih berpegangan pada tugu batu tersebut. For your info, ruangan tengah VocaDorm sekarang tidak memiliki gaya gravitasi.
"Sebentar..." Shiroumi memicingkan matanya untuk melihat tulisan gaje tersebut dari balik kacamata hitamnya.
"Umm... 'Yang bisa mencabut pedang Excalibur akan dinobatkan sebagai raja'... Hah?" Kata Shiroumi sambil mengerenyitkan alisnya sambil sweatdrop.
'Masa iya cerita raja Arthur bisa nyasar ke sini?!' Pikir Shiroumi nge-rage.
"Apa tulisannya?!" Kali ini Oliver yang bertanya.
"Nggak tau, ini kayak legenda raja Arthur..." Jawab Shiroumi masih sweatdrop.
"Legenda Raja Arthur? Ooh... HAH?! KENAPA MONUMENNYA BISA NYASAR KE SINI?!" Teriak Oliver bertanya balik.
"Lu aja bingung, apalagi gua..." Jawab Shiroumi sweatdrop.
"Minna! Kita cabut batu ini barengan! TARIIIK!" Teriak Shiroumi memberi aba-aba kepada yang lain untuk menarik pedang yang diragukan keasliannya tersebut. Yang lainnya, anehnya. Langsung mengikuti Shiroumi tanpa banyak tanya. Mungkin ini yang dinamakan 'The power of kefefet (?)'. XD #plak
"TARIK!" Yang lainnya berusaha menarik batu itu ke atas.
KREK!
"Sedikit lagi! Ayo!" Teriak Toma yang mendengar bunyi seperti batu yang terpecah. Yang lainnya pun makin lelah, tapi makin bersemangat untuk mencabut pedang batu tersebut.
"UURRRGGGGHHH!" Seluruh penghuni pun mengeluarkan segenap tenaganya, sampai akhirnya...
KREK! CLANG! BRUKK!
... Pedang tersebut lepas, saudara-saudara. Saat pedang itu lepas, pedang itu terlempar dan gaya gravitasi di VocaDorm kembali menjadi normal. Dan naasnya bagi Gakupo yang ada di paling bawah, dia harus menerima hukum gravitasi alias ketiban 29 makhluk sesama penghuni VocaDorm tersebut. (Kengo : "Poor you..." XD #ditebasGakupo)
Tapi yang tidak mereka sadari adalah, pedang batu tadi berubah menjadi sebuah pedang asli saat terlempar ke udara. Dan saat menancap ke tanah, pedang tersebut berubah menjadi pusaran angin kembali.
"Aaah..." Gakupo malah tersenyum puas, seperti mendapatkan pemohonan terakhirnya sebelum mati. #ditebaslagi
"Punya Luka-sama sangat empuk..." Kata Gakupo yang terlihat seperti melihat surga. Oooh, sekarang kita tau kenapa Gakupo seneng-seneng aja ditiban oleh 29 orang. Mendengar kata-kata yang sangat ambigu tersebut dan melihat posisinya, Luka pun berusaha mengeluarkan diri dari tumpukan manusia tersebut.
"Sumimasen..." Sapa seseorang dari luar ruang tengah VocaDorm.
"H-ha'i?" Tanya Luka yang mendapati seorang gadis blonde beriris emerald sedang memperhatikan sekitar.
"Umm, saya tidak pernah melihat anda sebelumnya. Kalau boleh tahu, nama anda siapa ya?" Kata Luka masih sambil berusaha mengeluarkan diri dari tumpukan manusia itu.
"Ore wa Saber." Kata gadis tersebut sambil berjalan mengarah ke arah angin puting beliung itu, lalu mencabutnya dari lantai VocaDorm. Setelah dia mencabut pedang tersebut, angin puting beliung tadi seperti hilang dalam sekejap mata.
"Kalian sepertinya kesulitan, mau kubantu?" Tanya gadis blonde tersebut. Yang lainnya pun langsung mengangkat jempol mereka dengan aura 'blink-blink' di sekitar tumpukan manusia naas tersembut. Gadis blonde tersebut hanya menggelengkan kepalanya sebentar, lalu menghampiri tumpukan (sampah) manusia tersebut. #dibantai
Sepuluh menit kemudian...
"Aduuh... Remuk deh badan gua..." Kata Gakupo meringis sambil mengusap-usap punggungnya.
"Oh iya, tadi namamu siapa?" Tanya Aiko.
"Ore wa Saber..." Kata gadis tersebut sambil beranjak pergi.
"Oh ya, aku merasakan aura aneh di sini. Lebih baik kalian berhati-hati... Mata aimashou..." Kata gadis itu pergi dari VocaDorm.
"Saber? Nama yang aneh untuk penduduk lokal..." Kata Gumi berkomentar.
"Begitu juga untuk nama asing..." Tambah CUL.
"Ya udahlah, naik aja dulu yuk!" Ajak Rei sambil berjalan ke tangga dengan nafas yang hampir habis. Saat menaiki anak tangga tersebut, Rei merasa ada yang aneh. Sampai limat menit kemudian dia baru merasakan sesuatu yang aneh.
"Kenapa gua kayak diem di tempat ya?" Tanya Rei kebingungan. Yang lainnya pun hanya sweatdrop sambil memasang trollface. Lalu Rei pun melihat ke bawah dan mendapati anak tangga yang dia naiki terus bergerak mundur. Akhirnya dia pun menyadari satu hal. Dia belum naik-naik daritadi.
"Sialan, lu pada bilang dong kalo tangganya mun... Eh, mundur? Sejak kapan tangga di sini jadi eskalator?" Tanya Rei curiga. Yang lainnya pun hanya mengangkat bahu teman yang ada di sebelahnya (?).
"Eh, eh?! HUWAAAA!" Tanpa Rei sadari, ternyata eskalator itu berjalan semakin cepat melawan arah gerakan Rei. Sehingga bocah bermata emas inipun harus berlari untuk setidaknya berada di tempatnya sekarang. Yang lainnya hanya jawdrop melihat teman mereka yang sepertinya benar-benar ingin segera naik dari bangunan gaje yang diketahui bernama VocaDorm. Asrama mereka sendiri. XD
"Mau naik nih, bantuin Rei?" Tanya Len. Yang lainnya pun mengangguk.
"Yang penting masuk ke kamar dulu! MAJOOOOOOOOOOO!" Teriak Akaito layaknya seorang panglima veteran (?) sambil berlari ke arah Rei lalu menabrak Rei seperti banteng matador (?). Rei pun langsung mental menghantam pintu kamar cowok, sedangkan yang lainnya masih bersusah-payah berlari agar bisa naik ke atas. Rei yang tadi tidak sadarkan diri karena menghantam pintu kamar cowok (biarpun dari kayu, tapi tetep aja keras kalo didobrak...), melihat sebuah alat aneh di sampingnya. Dia pun lalu membaca instruksi pemakaian dari alat aneh tersebut. Lalu memencet suatu tombol merah bertuliskan 'RESET' pada alat tersebut.
"REI?!" Teriak yang lain saat mereka hampir sampai di atas. Tiba-tiba eskalator instan itu pun berhenti. Ruang tengah VocaDorm yang tadinya terlihat seperti habis kena badai kembali seperti semula. Dan pintu VocaDorm yang tadinya roboh gara-gara dihantam roadroller sekarang terpasang kembali di tempatnya.
Naas bagi yang lain, saat Escalario (?) #plak, maksudnya eskalator itu berhenti. Yang lainnya pun terjungkal ke lantai dua VocaDorm. Dan nasib Akaito pun sekarang tidak jauh beda saat Gakupo ditiban sama 29 warga VocaDorm. XD #dijejelincabe
"Aduuuuuh! Lepasin gua dong!" Teriak seseorang dari dalam tumpukan (sampah) manusia tersebut.
.
.
.
Entah bagaimana caranya, semuanya telah terpisah dari tumpukan tersebut. Len dan Rin memasukkan RR mereka ke dalam VocaDorm setelah pintunya kembali normal. Dan yang lainnya penasaran mendengar cerita Rei tentang alat aneh penyelamat hidup mereka.
"Dikira mau atletik apa?!" Kata Dell menggerutu kesal.
"Tauk nih..." Balas Kaito tak kalah kesal.
"Su-sudahlah. Biarin aja yang sudah lewat." Kata Miki meleraikan mereka berdua.
"Tapi itu alat aneh juga ya, masa langsung ngilang gitu aja abis dipake?" Kata Neru mengalihkan pembicaraan. Rei hanya mengangkat bahunya sambil menghela nafas tanda tak tahu.
T-B-C
Preview Chapter Special 2 :
Athletic House : Behind the Scene
"Sebentar... Ini ditaro di sini... Terus..."
"Gimana ya reaksi mereka?"
"Sudah siap..."
Kengo : "Yooosh! Selesai! Gimana chapter ini? Garing kah? Oke, apapun itu. Silahkan suarakan pendapat kalian di Pemilu 2014! Eh..."
Xongek : *puk-puk Kengo, ngasih skrip*
Kengo : *baca skrip* "Ah, gomen! Yang bener itu suarakan pendapat kalian di kotak review di bawah!" :D
MIND TO REVIEW?
