Ini fic pertama saya, jadi maafkan kalo ada typo/misstypo.
Boku wa Hikari Kengo, yoroshiku…
-VocaDorm-
Kengo : "Aand this is it, the second special chapter!"
Xongek : "Chapter ini akan menceritakan kenapa VocaDorm bisa jadi rumah atletik instan."
Kengo : "Yap! Oh ya, BACAIN DISCLAIMER-WARNING!"
Xongek : "H-h-h-h-ha'i!"
Warning : Typo, misstypo, OOC, OOT, OOG, enam OC author nyangkut di sini, EYD gagal, humor garing ayam kremes (?), bahasa lu-gue dan aku-kamu (Awas, bukan AkuRoku ya... :D), bahasa gaul, gaje, ngaco, pendek, ngawur, kelewat aneh, segala unsur yaoi dan yuri (bila ada) hanyalah untuk hiburan semata, no pairing, hints-hints (kalo ada), ngawur tingkat dewa, dan saya bingung... #plak
Disclaimer : Seluruh Character di sini (kecuali OC, tentunya) adalah milik Crypton Future Media (Crypton Family), INTERNET Co. Ltd (INTERNET Family), dan para fans di sana (fanmade). Saya di sini hanya mempunyai cerita dan OC-OC-nya. Dan saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun.
-VocaDorm-
"Ha?" Yang lainnya pun hanya bisa jawdrop di tempat mendengar perkataan Toma yang tidak bisa diterima akal sehat itu. Akhirnya, Gakupo pun mengeluarkan katana miliknya.
"Umm... 'Yang bisa mencabut pedang Excalibur akan dinobatkan sebagai raja'... Hah?" Kata Shiroumi sambil mengerenyitkan alisnya sambil sweatdrop.
"Oh ya, aku merasakan aura aneh di sini. Lebih baik kalian berhati-hati... Mata aimashou..." Kata gadis itu pergi dari VocaDorm.
"Sialan, lu pada bilang dong kalo tangganya mun... Eh, mundur? Sejak kapan tangga di sini jadi eskalator?" Tanya Rei curiga.
-VocaDorm-
"Oke, yang tadi itu beneran gila." Kata Miku memecah keheningan-ralat, maksudnya suasana ruangan yang saling berlomba mencuri nafas demi kebutuhan oksigen. Bahkan Rinto, Lenka, Rei, dan Rui tidak berani melakukan adegan twincest karena takut kebutuhan akan kadar oksigen meningkat.
"Betul itu… Hosh…" Balas Akagane sambil mengelap mukanya sendiri dengan sebuah handuk yang entah sejak kapan dia pegang.
"Eh, tadi gak pada nyadar ya? Kotak ngambang itu nggak ada di sini pas kita udah masuk." Kata CUL sambil menggerakan kedua jari telunjuknya seperti sedang menggambar sebuah kotak. Yang lain pun memunculkan tanda tanya di bawah kaki mereka (?). (Kengo : "Karena di atas kepala udah (ke)terlalu(an) mainstream…")
"Kotak ngambang?" Tanya Gumi meyakinkan, yang dibalas oleh anggukan mantap dari yang ditanya.
"Ooh, kotak gaje yang dibilang 'Kotak Pandora' itu ya?" Kata Len menebak.
"Yup..." Balas CUL sambil mengacungkan jempolnya.
"Omong-omong soal itu. Iya juga ya, kayaknya gua gak liat kotak ngambang gaje itu di ruang tengah…" Balas Kaito.
.
.
.
Keheningan pun terasa. Yang lainnya masih berusaha memerah susu sapi dari otak mereka #plak! Maksudnya, berusaha memeras otak mereka untuk membuahkan lampu neon (?) dari kepala mereka yang berkapasitas mulai dari pentium setengah (Kaito) sampe pentium empat (Luka). #ditimpukeskrim.
"Terus kenapa alat aneh bin gaje yang tadi dipencet Rei langsung ngilang gitu aja? Kan aneh. Emang itu alat dari Zathuro (?) apa?" Tanya Nero.
.
.
.
Another awkward silence...
"AAAH! KALO GINI MAH GAK ADA ABISNYA! MENDING GUA NGEMIL DULU DAH!" Teriak Rin sambil turun ke bawah.
BRAK!
Ups, saking emosinya Rin dia sampai lupa cara menutup pintu yang baik dan benar...
.
.
.
"Pusing gua! Pada ngomongin hal gaje!" Kata Rin sambil mengobrak-abrik kulkas untuk mencari sesuatu~ Yang ada di hatimu-#plak!
"Ah, yatta! Akhirnya ketemu juga kau, mikan-chan~." Kata Rin sambil mengeluarkan seplastik jeruk bali (?) yang dia beli kemarin.
TOK TOK
"Siapa?" Teriak Rin dari dapur VocaDorm.
"Xongek desu. Ada yang perlu saya bicarakan sebentar." Kata yang di atas sana #ditabokXongek. Maksudnya, kata yang di seberang sana.
"Ha'i, tadaima..." Rin pun dengan malasnya mendorong pintu VocaDorm.
"Are, efek gaje dari alat tadi masih ada ya?" Gumam Rin sambil mendorong pintu VocaDorm.
Di luar...
"Kok lama banget..." Gumam bocah berambut hitam pendek yang dari tadi menunggu di depan ruang pintu.
"Pintunya didorong dari sini kan?" Gumamnya lagi sambil mencoba mendorong pintu tersebut. Maklum, walau masih kelewat muda. Tenaga Xongek lumayan kuat untuk ditahan.
"Hm?" Dia sepertinya bisa mendorong pintu tersebut. Tapi yang dia heran adalah, ada seseorang yang (menurutnya) menahan pintunya. Xongek pun hanya bisa sweatdrop di tempat setelah tahu siapa yang menghalanginya untuk masuk ke VocaDorm.
Back at Rin's Place...
"HMMMMMPPPPPHHHHH!" Rin masih terus berusaha mendorong pintu VocaDorm.
'Yah, pintunya jadi berat banget...' Pikir Rin. Sepertinya dia lupa prinsip engsel...
TOK TOK!
"Iya sensei?" Teriak Rin masih sambil mendorong pintu VocaDorm dari dalam.
"Kau yang mendorong pintunya, Rin?" Tanya Xongek dari seberang sana.
"Iya!" Teriak Rin masih mendorong.
"Boleh saya beri saran?" Tanya Xongek dari luar.
"Jangan sekarang, sensei. Saya lagi coba buka pintunya!" Teriak Rin.
.
.
.
'Ini orang kelewat baka atau gimana sih?' Pikir Xongek sweatdrop.
"Ya udah... Orang pintunya ditarik dari dalam..." Kata Xongek santai.
.
.
.
"Heh?" Rin pun melihat ke sudut pintu, di mana engselnya terpasang. Lalu facepalm di tempat karena menyadari kebodohannya sendiri.
"Ha'i, tadaima..." Kata Rin menari pintu VocaDorm sambil cengengesan. Xongek yang kesabarannya hampir (bisa dibilang) habis hanya menghadiahi Rin dengan deathglare maut andalannya.
"Yang lain pada di mana?" Tanya Xongek.
"Pada di atas. Lagi ngedumel soal kejadian aneh di sini." Jawab Rin sambil mengupas jeruk balinya.
"Kejadian aneh? Kebetulan... Lebih baik kita naik saja..." Ajak Xongek sambil naik. Rin pun mengikuti setelah menelan satu buah jeruk bali bulat-bulat (?).
.
.
.
Di kamar cowok...
"Konbawa!" Sapa Xongek seraya membuka pintu.
"Konbawa, sensei!" Koor yang lain.
"Wah, tumben-tumbenan Hikari-sensei dateng gak sama Kengo-san. Ada angin apa nih?" Tanya Gumi kepada bocah berambut hitam tersebut.
"Yah, cuma mau ngejelasin beberapa hal. Oh, dan jangan panggil 'sensei'. Kita nggak lagi di lingkungan VocaDemyx." Kata Xongek sambil tertawa kecil.
"Oh, oke. Hikari-san." Balas Gumi sambil memberikan salam Nazi (?) yang segera dikeroyok seluruh warga VocaDorm.
"HOI! LU MAU DITANGKEP AGEN PBB APA?! PAKE HORMAT BEGITUAN SEGALA!" Bentak Luka kepada gadis berambut hijau ber-tendril itu.
"Eh, emang yang tadi hormat gaya apaan?" Tanya Gumi polos. Yang lainnya hanya headbang di tempat mendengar jawaban gadis wortel satu ini.
"UDAH AH! YANG PENTING JANGAN NGASIH HORMAT KAYAK TADI LAGI!" Teriak Lenka tepat ke telinga Gumi, yang menyebabkan gendang telinga Gumi pecah. #ditimpukwortel.
"Oh, oke deh..." Jawab Gumi yang udah tuli. #ditimpuklagi.
"Oh iya, tadi Hikari-san mau cerita apa?" Tanya Akaito yang ngerasa seperti melupakan sesuatu yang penting.
"Tentang kotak gaje yang ngambang tadi pagi." Jawab Xongek bertele-tele, nggak padat, dan gaje (?). #plak!
FLASHBACK ON!
Setelah Xongek menggiring Rinto dan Lenka ke ruang guru...
"Kalian ini apa-apaan sih? Mau nanti direkam terus dimasukin ke Ibox (?) kayak di sekolah yang ada di dunia author-san?" Kata Xongek menasihati mereka. Rinto dan Lenka pun hanya menggeleng. Xongek pun hanya menghela nafas.
IA IA Naito obu desaiaa~
Ponsel Xongek berbunyi. Dia pun mengangkat panggilannya tanpa melihat namanya.
"Jiah, ringtonenya'IA IA-Night of Desire' dia..." Gumam Rinto pelan.
"Halo?" Tanya Xongek kepada yang di seberang sana. Xongek terdiam agak lama sambil sesekali menganggukan kepalanya. Rinto dan Lenka pun hanya bisa menatap Xongek penasaran.
"Oh, oke. Bisa tunggu sebentar?" Kata Xongek sambil menekan tombol 'hold' di ponselnya, lalu berbalik menatap Rinto dan Lenka yang (tanpa sepengetahuannya) sedang ber-twincest-ria lagi dengan tanpa beban. Xongek sebagai seorang 'anak teladan' pun hanya berusaha menarik paksa Rinto dari pelukan Lenka. Kenapa Rinto? Karena katanya kalo dia narik Lenka, nanti dibilang cari-cari kesempatan. Mau dibawa ke mana mukanya sebagai seorang guru? Ya dibawa ke dengkul lah. #ditabokXongek
"KALIAN BISA GAK SIH GAK BER-TWINCEST-RIA DI TEMPAT UMUM?!" Teriak Xongek sambil menarik Rinto yang masih saja melakukan adegan 'indah tapi menyesatkan' itu dengan Lenka.
"Aaah, sensei mah ganggu aja nih? Atau sensei minta dicium ju-" Tanya Rinto dengan nada jahil.
DUAKKK!
"Bisa bilang sekali lagi?" Tanya Xongek dengan nada yang menyeramkan.
"I-iie, nande mo nai desu!" Jawab Rinto yang mukanya ringsek ke dalam karena dihadiahi oleh sebuah bogem mentah dari tangan Xongek.
"J-jadi, Rinto-nii yaoi? Rinto-nii selingkuh? Rinto-nii-" Tanya Lenka mendramatisir sebelum kembali dibungkam oleh Rinto. Xongek hanya bisa jawdrop selagi mencerna apa yang Lenka bilang.
'What the... Setinggi apa imajinasi kedua orang ini?' Pikir Xongek yang terheran-heran melihat kedua makhluk kuning-kuning yang ngambang di jamban ini. #ditimpuk.
"Kalian. Bisa dihentikan?!" Teriak Xongek. Sontak Rinto dan Lenka langsung melepaskan diri masing-masing.
"H-ha'i?!" Kata mereka berdua gelagapan.
"Kalian boleh kembali ke kelas. Jangan diulangi!" Kata Xongek sambil mempersilahkan kedua bocah honey-blonde itu keluar. Niatnya, dia ingin memarahi mereka habis-habisan. Tapi, berhubung ada panggilan 'orang penting', Xongek buru-buru mempersilahkan mereka keluar.
FLASHBACK OFF!
Mendengar cerita Xongek barusan, muka Rinto dan Lenka langsung memucat. Dan yang lainnya hanya memandangi mereka dengan tatapan 'gila-lu-berdua-masih-berani-aja-ngelakuin-'itu'-d i-depan-Hikari-sensei'.
"H-Hikari-san. Bisa tolong jaga rahasia ini hanya di antara kita?" Kata Rinto memohon.
"I-iya sensei! Saya kasih pisang tanduk setandan (?) deh!" Tambah Lenka.
"Sudahlah, aku belum selesai bercerita..." Kata Xongek sweatdrop mendengar kedua bocah honey-blonde di depannya ini, biarpun dalam pikirannya ia ingin mengambil pisang yang ditawarkan Lenka. Lumayan buat pisang goreng sore-sore. (Kengo : "Jadi ngiler saya..." *q*)
FLASHBACK ON!
Setelah Rinto dan Lenka pergi, Xongek pun buru-buru merogoh hapenya dan membuka kembali panggilan yang sempat ia tahan tersebut.
"Halo?" Tanya Xongek saat membuka kembali teleponnya.
"Ya? Kenapa lama?" Kata yang di seberang sana balik bertanya.
"Biasalah, ada pasangan twincest yang harus kuseret. Tadi apa rencanamu?" Kata Xongek dengan kepo tingkat dewa poseidon (?).
"Rencananya ya? Jadi..."
SKIP TIME
14.00 WVX. Gerbang VocaDorm...
"Nah, kuncinya harusnya di sini, kan?" Gumam Xongek sambil melihat ke bawah karpet. Namun, dia merasakan sesuatu menancap tangannya saat dia meraba-raba di bawah karpet.
"IIIIIIIYYYYAAAAAAAAAAAAAUUUUUUUUUUUUWWWWW!" Xongek pun terbang sampai langit ke tujuh (?) karena tangannya mengagetkan seekor landak yang sedang tiduran di bawah karpet.
Lima menit kemudian...
"Aduh... Kenapa juga itu landak mesti tiduran di atas kuncinya sih!" Kata Xongek sambil mencabuti duri-duri landak yang menancap di tangannya. Dengan susah-payah, akhirnya Xongek pun bisa melepaskan seluruh duri-duri yang menancap di tangannya, tapi sayangnya tangan Xongek sekarang memuncratkan (?) banyak sekali darah, seperti kalau kepala yang dipenggal. #ditabokXongek.
"Nah." Xongek pun mengepalkan tangannya yang telah dicelup ke sebaskom betadine dan diperban seperti mumi. Dia pun membuka kuncinya, dan masuk ke luar (?).
"Sekarang... Mana baranya yang dimaksud?" Katanya sambil mencari-cari sesuatu di hatimu #plak. Maksudnya mencari sesuatu di ruang tengah VocaDorm.
"Nah! Ini dia barangnya!" Kata Xongek sambil menghampiri kotak gaje yang ngambang tersebut.
"Oke... Kita liat apa aja yang ada di dalam..." Kata Xongek sambil membuka isi kotak tersebut tanpa mengindahkan peringatan yang tertulis di sana.
"Hm?" Xongek pun mengobrak-abrik isi kotak tersebut dan menemukan enam buah alat beserta buku panduannya.
"Etto... 'Alat yang paling atas disebut 'Gravity Zero (Code-1)'. Alat ini akan mengubah ruangan sekitar menjadi area anti-gravitasi. Pasang ini di langit-langit ruangan yang ingin dijadikan rumah atletik'..." Xongek pun melongo ke arah kotak tadi sambil mencari sebuah barang dengan kode '1'. Lalu dia mendapati sebuah alat aneh semacam satelit dengan angka '1' di badan alat tersebut.
"Yang ini mesti ditaruh di atas ya?" Katanya sambil mengambil barang tersebut dan melemparnya ke atas. Anehnya, setelah dilempar. Bukannya jatuh, malah langsung menempel di langit-langit. Entah bagaimana caranya.
"Nah, selanjutnya... 'Jika sudah, tanamkan 'Seed of Invisible Air (Code-2)' di dalam tanah. Ini akan membuat sebuah pilar angin transparan'... Hah? Alat macam apa ini?" Kata Xongek sambil mengambil sebuat botol bertuliskan '2' dan menuangkan isinya di lantai (tentunya tutup botol sudah di buka).
"Kenapa makin lama makin gaje ya? Hmmm... 'Setelah itu, tempelkan 'Material Converter (Code-3)' di samping pintu dan atur bahan dan bobot pintu sesuai yang dikehendaki.'" Xongek pun mengeluarkan sebuah alat seperti PDA dari kotak tersebut dan segera menaruh alat tersebut dan mengaturnya.
"Sebentar... Yang ini ditaro di sini... Terus... Atur." Gumam Xongek sambil menaruh alat tersebut.
"Aturnya jadi besi yang beratnya 100 ton aja ya? Jangan ah, kasian mereka. Mending jadiin beton aja ya?" Gumamnya lagi sambil mengotak-atik pintu tersebut.
"Nah, selesai! Selanjutnya..." Xongek pun kembali ke kotak gaje tersebut.
"... 'Taruhlah 'Instascalator (Code-4)' jika ada tangga di dalam ruangan.'" Dengan mudah, Xongek pun menemukan alat yang dimaksud dan menaruh alat itu di samping tangga.
"Gimana ya reaksi mereka?" Kata Xongek sambil ketawa ala maniak iklan shampo (?).
"Cukup ketawanya..." Xongek pun kembali ke kotak gaje tersebut.
"... Yah, udah seru-seru dibuat gaje. Eh, malah ada defuse kit-nya..." Kata Xongek yang dengan berat hati menaruh sebuah tombol besar berwarna merah bertuliskan 'RESET' di atas tangga.
"Yang terakhir..." Xongek lalu melihat ke arah kotak gaje tersebut. Dilihatnya seperti tombol pemicu.
"Ah, yang ini mah gak pake buku panduan mah tau..." Kata Xongek sambil membawa alat itu beserta kotaknya keluar VocaDorm.
.
.
.
"Nah! Sekarang sudah siap!" Kata Xongek setelah membuang kotak kardus tersebut dan mengunci pintu VocaDorm.
"Satu! Dua! Tiga!" Xongek pun memencet pemicu itu, lalu cahaya dari alam gaje mulai menyelimuti VocaDorm. Tak lama setelah cahaya gaje itu menghilang, Xongek buru-buru merogoh ponselnya.
"Halo?" Tanya yang di seberang sana.
"Sudah siap..." Jawab Xongek sambil berjalan meninggalkan VocaDorm dengan gaya kalem. Tapi, setelah tiga langkah. Gaya kalemnya berubah menjadi seperti Spongebob yang sedang berburu ubur-ubur yang sedang menari ubur-ubur (?).
FLASHBACK OFF!
"Jadi begitulah kenapa VocaDorm bisa berubah jadi rumah atletik..." Kata Xongek setelah bercerita panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume. #plak.
"Hooo... Jadi Hikari-san yang ngelakuin ini semua?" Tanya Dell santai tapi sadis yang diikuti oleh dark aura dari seluruh penghuni.
"E-eh, cho-chotto! Yang ngerencanain itu Kengo-san. Suwer deh!" Kata Xongek sambil membentuk tanda 'peace' dengan kedua jarinya.
"Gak mau ta-"
"Konbawa... Eh?" Tiba-tiba Kengo nyelonong masuk.
"NAH! ITU ORANGNYA! HAJAAAAARR!" Teriak Kaito memberi aba-aba untuk memukuli sang tetua dorm tersebut.
"Eh? Eh? Kenapa nih? Whoa!"
BAK! BIK! BUK! PRANG! ZRASH! CRAT! BZZZT! FYUUUUUUNG!
Dan apa yang terjadi selanjutnya tidaklah lulus uji sensor. Intinya, Kengo a. k. a. sang tetua VocaDorm sekarang babak belur karena diamuk massa oleh penghuni VocaDorm sendiri.
T-B-C~
Preview Chapter 21 :
Virus incest-twincest menyebar di VocaDorm!
"Nah, dengan ramuan ini... Pasti kita berhasil..."
"K-kenapa yang lain jadi begitu?"
"HOI! APA YANG KALIAN SEMUA LAKUKAN DI SINI?!
Kengo : "Nah, selesai juga! Maaf ya kalo garing... *bow* Intinya..."
MIND TO REVIEW?
