Ini fic pertama saya, jadi maafkan kalo ada typo/misstypo.
Boku wa Hikari Kengo, yoroshiku…
-VocaDorm-
Warning : Typo, misstypo, OOC, OOT, OOG, enam OC author nyangkut di sini, EYD gagal, humor garing ayam kremes (?), bahasa lu-gue dan aku-kamu (Awas, bukan AkuRoku ya... :D), bahasa gaul, gaje, ngaco, pendek, ngawur, kelewat aneh, segala unsur yaoi dan yuri (bila ada) hanyalah untuk hiburan semata, no pairing, hints-hints (kalo ada), ngawur tingkat dewa, dan saya bingung... #plak
Disclaimer : Seluruh Character di sini (kecuali OC, tentunya) adalah milik Crypton Future Media (Crypton Family), INTERNET Co. Ltd (INTERNET Family), dan para fans di sana (fanmade). Saya di sini hanya mempunyai cerita dan OC-OC-nya. Dan saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun.
Disclaimer Tambahan : Segala character yang disebutkan di sini bukanlah milik saya. Mereka adalah milik pembuatnya masing-masing
-VocaDorm-
Sebelumnya di VocaDorm...
"Are, efek gaje dari alat tadi masih ada ya?" Gumam Rin sambil mendorong pintu VocaDorm.
"... Yah, udah seru-seru dibuat gaje. Eh, malah ada defuse kit-nya..." Kata Xongek yang dengan berat hati menaruh sebuah tombol besar berwarna merah bertuliskan 'RESET' di atas tangga.
"NAH! ITU ORANGNYA! HAJAAAAARR!" Teriak Kaito memberi aba-aba untuk memukuli sang tetua dorm tersebut.
-VocaDorm-
Tak terasa sudah sebulan sejak VocaDorm menjadi rumah atletik instan, Kengo pun memutuskan untuk mengunjungi mereka untuk kontrol mingguan.
"Konbawa min-What the?! Apa-apaan ini?!" Teriak sang tetua VocaDorm saat ia masuk tanpa izin ke dalam ruang tengah VocaDorm.
Terlihat beberapa orang yang sepertinya sedang melakukan praktek seperti di SMP sekian (?) di dunianya sang author. Seperti Rui dan Rei yang masih asik berciuman, Gumi dan Gumiya yang duduk bertolak belakang dengan muka blushing, Rin dan Len yang (entah kenapa) sedang melakukan pocky game (padahal waktu King of Games Len melakukanya dengan ogah-ogahan), Neru yang mendorong Nero ke dinding dan pelan-pelan mendekatkan wajahnya (feeling deja vu?), Kaito dan Kaiko yang melakukan adegan serupa dengan Len dan Rin (hanya saja memakai es krim) dan yang paling parah adalah Rinto yang menindih Lenka sambil menciumnya dan hampir menjadi 'adegan lemon sore hari'.
"Halo? Apa masih ada orang yang normal?" Tanya Kengo.
.
.
.
Tidak ada yang menjawab.
"Ha-Oh, itu dia..." Kata Kengo sambil menghampiri beberapa orang yang sedang jawdrop di tempat dengan sangat tidak elitnya.
"Ekhem, Luka. Mereka kenapa bisa kayak gini?" Tanya Kengo dengan nada serius.
"Gak tau nih. Dari kemaren sore tuh. Pengecualian bagi Rinto dan Lenka, mereka udah dari kemaren pagi..." Kata Luka sambil mengangkat bahunya. Yang lainnya pun mengganguk mantap.
Mau tahu apa yang sebenarnya terjadi? Mending kita tengok keadaan para penyebar twincest ini dua hari sebelum sang tetua VocaDorm datang.
-VocaDorm-
RKXI, 09.00 WVX
GLUK GLUK GLUK!
"Haaaah... Olahraga yang tadi itu parah banget!" Kata Gakupo sambil mengelap kepalanya dengan sebuah handuk kecil.
"Tapi mending lah, daripada dua hari lalu? Ruangan yang nggak ada gravitasinya?" Balas Akaito dengan nada bercanda.
Anak laki-laki kebagian berganti baju di dalam kelas, sedangkan sisanya berganti baju di dalam toilet pria #plak! Maksud saya toilet wanita.
Rinto (yang tempat duduknya memang di belakang) telah selesai berganti baju dan hanya duduk memperhatikan dari pojokan kelas. Karena biasanya saat dia seperti ini, dia akan melakukan adegan twincest di dalam kelas bersama Lenka. (Kengo : "Jangan ditiru ya! Hanya orang-orang sesat saja yang seperti ini!" #dibunuhRinto)
"Haah... Kok Lenka-chan lama amat ya?" Kata Rinto sambil menghela nafas.
FYUUUU~ TUK~
"Apaan sih ini?" Ternyata sebuah pesawat kertas menabrak dengan mulus (?) kepala Rinto. Karena terlanjur esmosi (?), Rinto meremas dan membejek-bejek kertas tersebut dengan kedua kakinya. (Kengo : "Karena dengan kedua tangan itu udah mainstream...")
Tapi, ia berhenti meremas kertas tersebut setelah melihat sebuah tulisan di kertas tersebut. Rinto pun membuka kertas yang sudah lecek bahkan sudah seperti bubur kertas (?) itu dan membacanya. Setelah membaca apa yang ada di dalam, Rinto pun mulai senyum-senyum gak jelas, ketawa kecil, lalu tawa maniak di bagian akhir. XD
"Eh, kenapa lu Rinto?" Tanya Kaito yang baru kembali ke tempat duduknya (di depan Rinto) sambil mengemasi pakaian olahraganya.
"E-eh, nggak kok. Gak apa-apa..." Kata Rinto sambil melambaikan kedua tangannya, berusaha mengelak. Kaito pun hanya menghela nafas dan memasukkan bajunya ke dalam tas lalu mengeluarkan... Es krim?
"Eh, emang boleh makan waktu jam pelajaran?" Tanya Rinto kepada Kaito yang mulai melahap es krimnya dengan satu gigitan.
"Selow aja, abis ini pelajarannya IA-sensei. Dia mah baik, gak galak kayak Hikari-sen..." Belum sempat Kaito menyelesaikan ucapannya, pintu kelas dibuka oleh seorang guru berambut hitam dengan dark aura mengelilinginya.
"Shion-san, bisa ikut saya?" Kata Xongek sambil mengisyaratkan Kaito untuk mengikutinya dengan satu jari.
"Hikari-sensei, gak usah gitu juga dong ngajaknya..." Kata Kaito sweatdrop. Oh la la, ternyata jari yang digunakan untuk mengisyaratkan Kaito adalah jari tengah. XD #ditabokXongek
"Oh, oya. Maaf. Sekarang ikut saya..." Kata Xongek sambil berjalan keluar. Kaito pun dengan ogah-ogahan mengikuti langkah kaki guru berambut hitam tersebut.
"Yap... Satu korban lagi..." Kata Akaito setelah Kaito keluar.
"Kayaknya gua mesti SMS si Rei nih..." Rinto pun mengambil hape yang dia taruh di kolong meja dan mulai mengetikkan sesuatu.
Sementara itu, di RKX...
"Ekhem...Jadi untuk mencari bla bla bla, kita pindahkan bla bla bla ke sini, lalu operasikan hitungannya." Seorang guru berambut coklat berkacamata sibuk menuliskan sesuatu di papan tulis.
"Hoaaaam..." Rei pun menguap layaknya kudanil ngantuk (?), lalu dia merasakan sesuatu bergetar di saku celananya. Rei pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan hapenya. Dia pun menunduk agar tidak terlihat oleh Kiyoteru.
"Rei! Rei! Lu diliatin sama Hiyama-sensei!" Kata Rui sambil menyenggol pelan kembarannya itu. Rupanya Rei tidak sadar kalau dia sedang diperhatikan oleh Kiyoteru.
"Hmhmhmhmhm..." Rei pun tertawa pelan.
"Apa yang lucu, Kagene-kun?" Tanya Kiyoteru yang sudah berada di bangku Kagene bersaudara.
"E-eh?! G-gak kok!" Kata Rei yang buru-buru melempar hapenya ke dalam meja. Anehnya tidak terdengar suara benturan antara hapenya dan mejanya. Entah mejanya dikasih peredam suara atau hapenya tahan banting tanpa suara (?).
.
.
.
"Baiklah, tolong perhatikan pelajaran yang akan disampaikan Kagene-san!" Kata Kiyoteru sehabis menggeledah kantong-kantong seragam milik Rei.
"Ha'i!" Jawab Rei singkat. Kiyoteru pun kembali ke depan kelas. Rei pun duduk dengan lega.
"Fyuuh... Untung gak ketauan..." Kata Rei sambil memeriksa laci meja tempat pelarian sang hape (?). Lalu terlihatlah muka horror dari sang twincest berambut hitam itu.
"TIDAAAAAAAAAAAAAAK!"
TENG TONG TENG TONG!
Teriakan Rei yang menandakan istirahat dimulai pun berkumandang bersama dengan bel sekolah.
-VocaDorm-
"Nah, Rinto-senpai. Apa yang menarik nih?" Tanya Rei kepada Rinto yang sedang mengupas sebuah jeruk.
"Baca aja nih..." Jawab Rinto sambil memberikan brosur aneh bin ajaib yang dia dapatkan tadi pagi.
"Sebentar... 'Dukun pembuat ramuan ajaib! Menerima pembuatan segala jenis ramuan!'. Heh? Ramuan?" Tanya Rei setelah membaca brosur tersebut.
"Gua punya rencana... Jadi... Wasweswoswasweswos... Nanti kita wasweswoswasweswos... Terus nanti yang lain jadi wasweswoswasweswos... Gimana?" Kata Rinto membisikkan sesuatu ke telinga Rei. Rei yang mendengarnya pun langsung tersenyum senang-coret. Dia tersenyum layaknya seorang maniak! #dibunuhRei
"Ooh, boleh banget tuh! Kapan kita mulai?" Tanya Rei sambil senyum-senyum gaje.
"Nanti siang kita ke sana!" Jawab Rinto sambil mengganggukan kepala.
"Siiip... Oke, nanti ya pulang sekolah!" Kata Rei sambil meninggalkan Rinto sendirian, sendirian, SENDIRI-#plak!
Oke, abaikan yang barusan...
.
.
.
SKIP TIME
"Rinto-senpai! Gomen kalau nunggu lama!" Kata Rei sambil berlari ke arah senpai-nya yang berambut honey-blonde.
"Kok lama? Abis melakukan 'itu' dengan Rui?" Tanya Rinto dengan nada jahil.
"Gak lah! Tadi baru inget gua dapet piket kelas. Nah, ayo berangkat!" Jawab Rei sambil berjalan keluar.
"E-eh, entar! Barangnya udah ada kan?" Tanya Rinto lagi.
"Udah dong... Kemon..." Jawab Rei sambil mengacungkan jempolnya.
"OKE!" Balas Rinto sambil mengekor di belakang Rei.
SKIP TIME
"Err, gak salah nih tempatnya?" Tanya Rei kepada Rinto sambil menyikut badannya pelan.
"Yeee, meneketempe (?)..." Jawab Rinto sambil mengangkat bahu Rei.
Kini mereka berada di sebuah bangunan mistis berbentuk kepala kelinci. Aura gelap di sana membuat gedung ini tidak bisa dilihat oleh siapapun. Jadi pantaslah kalau Rei dan Rinto tidak bisa melihat di mana tempat yang dimaksud. Darimana sang author tahu? Hanya sang penyebar brosur, sang author, dan yang di atas yang tahu... #dihajarmassa.
"Oya, Rei. Sarung tangan ajaib yang dua minggu lalu dikasih sama Kengo-san itu bisa dipake di sini gak?" Tanya Rinto.
"Hmm, harusnya bisa sih... Tapi gua gak bawa masalahnya..." Jawab Rei dengan pose berpikir.
"Ya udah kalo gitu..." Kata Rinto sambil memasang sebuah sarung tangan berwarna kuning terang.
FLASHBACK ON!
Dua minggu setelah VocaDorm berubah menjadi rumah atletik, sang tetua suku-#plak! Maksudnya sang tetua VocaDorm mengunjungi mereka untuk memberikan sebuah 'bingkisan' kepada sepuluh orang anak baru tersebut.
"Saa, ini adalah Imagionary Skill Gloves-disingkat ISG. Yah, cuma untuk self-defense sih. Tapi apa ruginya kita punya barang yang bisa membuat kita bak esper?" Kata Kengo setelah memberikan masing-masing dari sepuluh warga tersebut sepasang ISG.
"Jadi, cara kerjanya bagaimana?" Tanya Piko sambil melihat sarung tangan itu.
"Namanya saja 'Imagionary', jadi hanya butuh imaginasi untuk menciptakan sesuatu semacam ini..." Kengo pun merentangkan tangannya ke depan seperti sedang memegang sebuah pedang, dan tak lama kemudian partikel udara di sana bergabung dan membentuk sebuah pedang (Readers : "Kita gak yakin itu pedang..."). Yang lainnya pun hanya terkejut bukan main.
"I-itu kan..." Kata Oliver sambil menunjuk pedang yang dipegang oleh Kengo.
"Yah, saya adalah spesialis 'Projector' yang bisa membuat ulang sebuah benda yang pernah kulihat..." Kata Kengo sambil kembali memejamkan mata, dan pedang angin tersebut kembali berubah menjadi pedang (yang diyakini oleh warga VocaDorm) sebagai Excalibur.
"What the..." Len hanya bisa speechless melihat sebuah pedang yang tiba-tiba muncul hanya dari kumpulan angin.
"I-itu... Excalibur?" Tanya Shiroumi.
"Yup..." Jawab Kengo pelan sambil melepas ISG-nya (yang otomatis membuat Excalibur menghilang).
"Serasa deja vu... Tapi bodo lah!" Kata Rinto yang ingin mencoba sesuatu.
"Chotto, kita lihat dulu kalian dapat elemen apa... Elemen biasanya dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing. Nah, Rinto. Kau boleh coba dengan mengepalkan tanganmu seperti ini." Kata Kengo sambil mengepalkan tangannya (tentunya sudah kembali memakai ISG), lalu muncullah seberkas cahaya yang membentuk sebuah berlian dan diselubingi oleh angin.
"He, kalo gitu artinya apa?" Tanya Miki.
"Kalo ini artinya elemen saya ada tiga ; angin, cahaya, dan cermin..." Kata Kengo sambil melebarkan telapak tangannya. Bersamaan dengan itu, birlian (?) tadi pun menghilang ditelan bumi.
"Ooh..." Rinto pun mengepalkan tangannya dan seberkas cahaya pun muncul dari kepalan tangannya.
"Woah..." Rinto pun kaget dengan sebuah cahaya yang ada di tangannya, begitu juga Kengo.
FLASHBACK OFF!
"Darkness Annihilation!" Rinto merentangkan satu tangannya ke depan dan memunculkan sebuah bola cahaya kecil yang saat itu juga banyak aura gelap yang terhisap masuk ke dalam bola tersebut. Lama-kelamaan rupa bangunan tersebut mulai terlihat.
"Nah, selesai!" Kata Rinto sambil meremas bola tersebut dan berubah menjadi butiran debu. (Kengo : "Aku tanpamu, butiran debu~." | Xongek : "Thor, jangan nyanyi. Nanti TPU setempat bendera kuning loh." | Kengo : "Oke...")
"Sumimasen! Kami masuk tanpa izin..." Kata Rei dengan agak takut-takut.
"Siapa yang berani masuk ke sini? Hrmmm..." Kata seseorang sambil menggeram.
"A-ano, mbah dukun (?) bisa buat segala ramuan kan?" Tanya Rinto sambil mengumpulkan segenap keberaniannya.
"Tentu saja... Wani piro?" Kata sang dukun tersebut sambil menyodorkan tangannya ke depan.
"Nih..." Rei pun mengeluarkan sebungkus sate (?) dari dalam tasnya.
"Sate kelinci bukan nih?" Tanya sang dukun.
"Cobain satu aja dulu kalo ragu..." Jawab Rei. Sang dukun pun membuka bungkusan sate tersebut dan melahap satu tusuk sate tersebut bersama dengan tusuknya.
'Set, ini orang normal gak sih?' Pikir Rinto jawdrop.
"Oke, ramuan apa yang kalian mau?" Tanya sang mbah dukun.
"Kami mau ramuan agar semua orang menjadi incest atau twincest!" Teriak Rei dan Rinto bersamaan.
"Oke, bentar dulu ya!" Kata sang mbah dukun sambil pergi ke belakang,, tak lama setelah itu muncullah cahaya gaje berwarna ungu dari belakang.
"Hiiy... Kayaknya kita salah tempat deh?" Bisik Rei kepada Rinto.
"Makanya itu... Kalo tau tempatnya kayak gini mah gua gak mau ke sini kali!" Balas Rinto.
"Nah, sudah ja-"
CTREK!
Tiba-tiba seluruh ruangan menjadi terang. Dan sang dukun pun ternyata adalah seorang gadis berambut violet yang diikat dua ke bawah dan memakai jaket ber-hoodie telinga kelinci.
'Set! Dia dukun apa anak sekolah?!' Pikir Rinto jawdrop.
'Tampang kayak anak sekolah. Tapi udah jadi dukun? Hiiy...' Pikir Rei yang merasakan kalau bulu keteknya (?) berdiri.
"-di. Ini dia pesanan kalian!" Kata gadis itu sambil meletakkan sebuah botol bening berisi air putih (yang terlihat) normal.
"Ini ampuh gak, mbah-Eh, maksudnya mbak dukun?" Tanya Rinto sambil berusaha mengangkat rahangnya.
"Ampuh kok! Dijamin seratus persen!" Kata gadis itu sambil mengancungkan jempolnya.
"O-oke deh, arigatou gozaimasu!" Bocah berambut hitam dan honey-blonde itupun langsung mengambil kaki seribu-#plak! Maksudnya mengambil langkah seribu dan meninggalkan tempat gaje tersebut.
Back at Present Time...
"Ooh... Jadi gitu ceritanya..." Kata Kengo sambil melepas ISG-nya.
"Jadi, apa akar dari semua ini?" Tanya Miku khawatir.
"Sepertinya ramuan yang dibeli Rinto dan Rei tadi..." Jawab Kengo.
"Oh ya, yang tadi pake apaan meriksanya?" Tanya Rena.
"Yang tadi? Itu adalah Refrain Memory. Dan lagi aku memakai ramuan, tapi ramuan itu tidak akan bekerja tanpa ISG terpasang di tangan..." Jawab Kengo sambil mengeluarkan sebotol cairan gaje yang diakuinya adalah 'Refrain Memory' itu.
"Jadi, sekarang apa yang harus dilakukan?" Tanya Toma.
"Gampang. Tapi gua mesti minta tolong sama Winona, onegai..." Jawab Kengo sambil melirik ke arah Winona.
"Ya udahlah, daripada mereka makin parah..." Kata Winona sambil menunjuk Rinto dan Lenka yang hampir memasuki tahap lemon.
"Oke... Light Cage!" Bersamaan dengan sang tetua VocaDorm mengangkat tangannya, sebuah pilar tembok cahaya menghalangi mereka yang tidak terkena twincest dan yang tekena twincest.
"Secret Bloodline Art : Blessing of Gusto!" Winona pun merentangkan kedua tangannya, dan angin lembut pun datang dan memulihkan mereka semua, mulai dari Kaito, Kaiko, Gumi, Gumiya, Len, dan Rin. Pengecualian bagi ReiRui dan RintoLenka yang udah kelewatan.
"E-eh?! Kyaaa! Rinto-nii! Lenka-nee!" Teriak Len dan Rin bersamaan. Suara cempreng mereka membuat seluruh kaca dalam radius seratus meter (termasuk VocaDemyx) pecah semua.
.
.
.
Hari itu akhirnya berakhir dengan tenteram dan damai-Oh, pengecualian buat Rinto dan Lenka yang terus melakukan aksi twincest walaupun sudah tidak menjurus ke arah lemon.
T-B-C, dengan damai (?).
Preview Chapter 22 :
Perang Sepi di Kota Liliput
"Oh ya, ada apa dengan miniatur ini?"
"Game disamain sama dunia asli?! Sungguh 'cemerlang'."
"Nah, kalian boleh pilih senjatanya."
Kengo : "Oke... Cepet banget ya... Minggu ini saya udah mulai ulangan harian. Desember UAS, februari ujian praktek, maret udah UN!" *pundung*
Xongek : "Maklum lah... Derita anak senior... Daripada ngeliatin sang author pundung, mending saya tutup dengan kata..."
MIND TO REVIEW?
