Ini fic pertama saya, jadi maafkan kalo ada typo/misstypo.

Boku wa Hikari Kengo, yoroshiku…

-VocaDorm-

Warning : Typo, misstypo, OOC, OOT, OOG, enam OC author nyangkut di sini, EYD gagal, humor garing ayam kremes (?), bahasa lu-gue dan aku-kamu (Awas, bukan AkuRoku ya... :D), bahasa gaul, gaje, ngaco, pendek, ngawur, kelewat aneh, segala unsur yaoi dan yuri (bila ada) hanyalah untuk hiburan semata, no pairing, hints-hints (kalo ada), ngawur tingkat dewa, dan saya bingung... #plak

Disclaimer : Seluruh Character di sini (kecuali OC, tentunya) adalah milik Crypton Future Media (Crypton Family), INTERNET Co. Ltd (INTERNET Family), dan para fans di sana (fanmade). Saya di sini hanya mempunyai cerita dan OC-OC-nya. Dan saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun.

Disclaimer Tambahan : Segala anime dan game serta produk yang disebutkan di sini bukanlah punya saya. Saya cuma minjem nama doang...

-VocaDorm-

Sebelumnya di VocaDorm...

"Halo? Apa masih ada orang yang normal?" Tanya Kengo.

"Sebentar... 'Dukun pembuat ramuan ajaib! Menerima pembuatan segala jenis ramuan!'. Heh? Ramuan?" Tanya Rei setelah membaca brosur tersebut.

"Ampuh kok! Dijamin seratus persen!" Kata gadis itu sambil mengancungkan jempolnya.

-VocaDorm-

VocaDemyx, RKX, !0.00 WVX

Sekarang adalah waktu istirahat bagi seluruh siswa VocaDemyx. Entah apa karena mereka malas ke kantin, mereka lebih memilih untuk tinggal di dalam kelas selamanya sampai ajal menjemput mereka (?).

"Len, kok lu sukanya makan pisang mulu sih kayak monyet?" Tanya Piko sambil memutar-mutar ekor USB-nya.

"Itu karena gua monyet juga! Ya nggak lah! Emang lu pikir gua kayak monyet apa? Orang gua ganteng gini..." Jawab Len setelah melahap pisangnya. Rin, Miku, dan Gumi langsung muntah berjamaah. XD

"Lah lu sendiri ngapain makan USB (?) ?" Tanya Len yang memperegoki Piko sedang mengemut ekor USB-nya.

"E-eh, yang ini..." Jawab Piko sambil ngemut ekor USB-nya dengan santai.

"Gak bisa dimakan..." Lanjut Piko masih mengemut USB-nya. Keliatannya dia korban iklan coklat-makan-coklat... #plak

"Heeh..." Len pun hanya menggerutu kesal.

"Oke, CUT! Piko, Len! Lu berdua menghayati banget sih? Orang cuma RP juga..." Tegur Miki selaku sang sutradara dari adegan iklan tadi.

"Loh, emangnya kenapa? Bukannya menghayati itu bagus?" Tanya Len berusaha berargumen.

"Ya... Bagus sih... Cuma lantainya gimana? Kan bentar lagi udah mau masuk lagi..." Kata Miki sambil menunjuk lantai yang bernasib malang (?) tersebut. Piko, Len, dan yang lain pun melihat ke arah yang ditunjuk dan hanya bisa bercengo ria melihat bekas muntah yang warna dan baunya tidak karuan itu. Lalu yang lainnya sontak melihat ke arah Rin, Miku, dan Gumi-pelaku perenggut kesucian lantai (?) itu. (Xongek : "Thor, kenapa mesti ditulis perenggut kesucian? Apa nggak terlalu ambigu? Kasian kan readers yang masih di bawah umur..." #ditabok)

"Eh? Eheheh..." Gumi hanya nyengir gaje.

"O-oke deh... Kita bersihin ya!" Miku pun langsung ngacir ke luar diikuti oleh Gumi dan Rin yang masih tertawa garing.

"Ckckck... Akting sih akting... Tapi yang ini keterlaluan..." Kata Aiko sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

"Betul itu..." Balas Winona sambil melihat 'genangan' itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan dengan kata-kata.

TING TONG TENG TONG!

"Fyuh, untung abis ini olahraga. Jadi gak bakal ada yang liat 'genangan' ajaib ini..." Kata SeeWoo menghela nafas.

"Yaaah... Si dewa mabok lagi..." Kata Shiroumi sambil meregangkan badannya.

"Iya ya... Kenapa juga guru olahraganya dia?" Tanya Nero.

"Entahlah... Yang jelas Kengo-san ada hubungannya dengan semua ini." Jawab Shiroumi sambil mengangkat bahu Nero (?).

"WOY! Ngapain gua diangkat-angkat?!" Tanya Nero sewot setelah dia diturunkan oleh yang mengangkatnya tadi..

"Gomen, soalnya kalo ngangkat bahu sendiri udah mainstream sih,,," Jawab Shiroumi sambil memeletkan lidahnya dan berhadiah timpukan hape dari yang bersangkutan.

SKIP TIME...

"Haaaah... Akhirnya nyampe juga..." Kata Rena setelah sampai di depan VocaDorm.

"Iya... Ngomong-ngomong, hari ini dingin banget ya?" Kata Akagane sama Akaito yang sedang menggosokkan kedua tangannya.

"Iya apa? Kok gua gak kedinginan?" Tanya Kaito dan Kaiko berbarengan.

"Itu karena lu berdua pake jaket dan syal terus! Gak panas, gak dingin. Pasti pake jaket!" Balas Akaito.

"Eh, Luka-san di mana? Kok dari tadi gak keliatan?" Tanya CUL.

"Oh iya ya... Dari tadi belum keliatan... Padahal kuncinya sama dia kan?" Jawab Miku.

.

.

.

"Nani?" Tanya Mayu dengan muka 'yang-bener-lu-?' yang dibalas dengan tatapan 'beneran-deh-suwer' dari Miku yang kembali dibalas dengan tatapan 'ciyus-?-miapah-?' yang hanya dibalas dengan 'jangan-mulai-alay-deh'.

"Yah... Gak bisa masuk dong..." Kata Rui kecewa.

.

.

.

Satu... Dua... Ti-

"DOBRAAAAK!" Sontak mereka pun menabrakkan diri mereka sendiri ke pintu VocaDorm. Luka yang baru kembali sambil mengunyah sebuah takoyaki pun hanya bisa jawdrop sampe takoyakinya tumpah gara-gara kecerobohannya sendiri. (Kengo : "Iuuuuuuh!" #digeplaktuna)

"WOOOOOOOY! Lu pada ngapain sih?! Sini dah, gua buka pintunya!" Teriak Luka sambil membuka kunci pintu VocaDorm.

CKLEK CKLEK

"He?" Luka pun memiringkan kepalanya sejenak.

"Kenapa, Luka-senpai?" Tanya Toma.

"Ada kuncinya satu lagi di dalem. Jadi gak bisa dibuka dari sini..." Jawab Luka santai.

.

.

.

BUGH! BUGH! BUGH! BUGH! BUGH! BUGH! BUGH! BUGH!

"WOY! BUKA PINTUNYA! SIAPAPUN YANG DI DALAM! SOMEONE! BUKA DONG! HOOOOOI! KAU DENGAR APA YANG AKU TERIAKKAN?! PLIIIIIIISSS! YANG LAINNYA KASIAN! BELUM PADA MAKAN (?)!" Kata Luka sambil menggedor-gedor pintu dengan kedua tangannya secepat kilat (?) sambil berteriak sebisanya. Yang lainnya hanya sweatdrop di tempat karena melihat kekonyolan Luka.

"So OOC, right?" Bisik Oliver ke Gumiya yang dibalas oleh anggukan oleh yang bersangkutan.

"Iya, iya gua bu-"

BUK! BUK! BUK! BUK! JDUAGH!

Bocah berambut hitam yang membuka pintu dari dalam itupun bernasib naas karena mental oleh pukulan telak dan membabi-buta dari seorang maguro-hime. #digeplaktuna

Sedangkan Luka yang merasakan sesuatu menghilang dari gedorannya pun berhenti sesaat dan mendapati pintu VocaDorm yang sudah dibuka dan seorang bocah berambut hitam yang tersungkur di pojok ruangan dengan kondisi muka yang mengenaskan.

"Are?" Luka pun hanya memasang tampang bingung.

.

.

.

Dan kalian tahu reaksi Luka melihat ini?

"YEEEY! TERNYATA GUA PUNYA KEKUATAN SUPER! YEEEY!" Luka pun meloncat-loncat kegirangan. Yang lainnya pun makin sweatdrop dibuatnya.

'Luka-sama lagi gila, tapi dia tetap cantik...' Tidak usah dikasih tau siapa yang berpikiran begini. Sudah jelas dialah sang banci samurai terong ungu taman lawang. #ditebas

"Oh ya, ada apa dengan miniatur ini?" Tanya Luka sambil menunjuk sebuah miniatur medan pertempuran seperti yang ada di Dynasty Warrior 5.

"Ooh... Ini? Nanti kita mau coba duel satu lawan satu. Tapi rame-rame (?)..." Jawab si bocah berambut hitam yang mukanya ringsek ke dalam itu.

"Dan dapet dari mana ini desain miniaturnya, Kengo-san? Kok kayak pernah liat?" Tanya Oliver lagi.

"Ooh, kalo desain mah saya dapet dari DW5." Jawab bocah berambut hitam bermuka ringsek tadi yang diketahui bernama Hikari Kengo itu.

"Game disamain sama dunia asli?! Sungguh 'cemerlang'." Balas Toma sweatdrop.

"Wah, seru nih kayaknya!" Kata Gakupo menimpali.

"Wuit! Banci dilarang ikutan!" Balas Kengo sambil memasang evil smirk.

"Tunggu dulu! Emangnya gua banci?" Tanya Gakupo.

"Pikir aja sendiri..." Jawab Kengo sambil memeletkan lidahnya.

"POKOKNYA GUA IKUT! HARUS IKUT!" Teriak Gakupo. Wah, jiwa samurainya bangkit. :D

"Yooosh! Ayo kita mu-"

"Sebentaaaar!" Perkataan Rinto tadi langsung dipotong oleh Kengo.

"Kalian kan butuh senjata buat main di sini..." Kata Kengo sambil membuka sebuah rak kecil yang berisi banyak senjata semacam parang, pisau, pedang, katana, tombak, cakram, brass knuckles, tongkat penyihir, dan lain-lainnya di dalam situ. Jangan salah, biarpun banyak jenisnya, tapi cuma ada satu jenis. Yang menjadi masalah (?) adalah...

"Kok ukurannya unyu-unyu (?) semua sih?" Tanya Lenka sambil mengambil sebuah tombak dan hampir saja dijadikan tusuk gigi (?) oleh Lenka kalau sang tetua VocaDorm tidak menghentikannya.

"E-eeeh?! Jangan dijadiin tusuk gigi dong! Susah buatnya nih!" Kata Kengo sambil merebut tombak mini tersebut dan menaruhnya di tempat yang seharusnya.

"Ooh... Ngerti-ngerti. Jadi kita harus saling tarung di arena mini ini?" Kata Dell sambil menyeruput kopi kalengannya.

"Iyap!" Kata Kengo sambil mengangguk mantap.

"Nanti di dalem arena bakal ada lifebar di atas kepala kalian. Kalau lifebar tersebut habis, kalian bakal otomatis di-kick dari arena. Got it memorized?" Kata Kengo menjelaskan peraturan mainnya.

'Kok gua kayak pernah denger kata-kata yang terakhir dah?' Pikir Akagane yang merasa agak deja vu dengan perkataan Kengo.

"Nah, sekarang kalian masuk dulu ke sini!" Kata Kengo mengeluarkan sebuah terowongan yang menyusut di bagian luarnya. Yang lainnya pun masuk (walaupun mereka ragu akan kegunaan alat tersebut).

.

.

.

"Nah, kalian boleh pilih senjatanya." Kata Kengo. Yang lainnya pun hanya jawdrop melihat senjata yang tadi mereka lihat seukuran tusuk gigi, sekarang berubah menjadi senjata yang bisa mereka bawa-bawa...

"I-ini semua senjata yang tadi ukurannya unyu-unyu itu?!" Tanya Lenka kaget.

"Betul sekali!" Jawab Kengo sambil mengangguk.

"Ya udah deh. Mending sekarang kita milih..." Kata Rin sambil mengambil sebuah parang dan memasukannya di sela-sela ikat pinggangnya (?) seperti jagoan Betawi (?).

.

.

.

-VocaDorm-

Mereka semua (plus Kengo) sekarang telah berada di arena yang telah ditetapkan. Sekarang kita tengok keadaan Piko dengan dual knife-nya.

"Ini cuma harus jalan-jalan sambil nyari lawan terus dikalahin kan?" Gumamnya sambil terus berlari. Sampai ia bertemu dengan sesosok gadis dengan staff yang dia pegang erat-erat.

"HEAA!" Piko pun langsung berlari dan menyiapkan kedua pisaunya di depan dadanya untuk segera menyerang gadis tak bernyawa-#plak! Maksudnya, gadis tak berdosa itu.

FYUUUH! CLANG! BUGH!

Pisau yang tadi dipegang Piko tiba-tiba terpental karena bertabrakan dengan angin ribut yang tiba-tiba datang ke arahnya. Piko pun ikut terpental bersama kedua pisaunya.

'A-apa?! Angin?!' Pikir Piko yang sepertinya mengenal orang yang mengeluarkan angin tersebut.

"M-masaka..." Katanya sambil berusaha bangkit. Bar di atas kepalanya sudah seperempat habis. Gadis itu mulai memposisikan staff-nya di samping badannya dan mulai mengangkatnya seperti ingin memukul bola tenis (?).

-VocaDorm-

"O-oh, ayolah! Bukannya dua lawan satu itu curang?!" Kata Len sambil bersiaga dengan machette miliknya. Di hadapannya sekarang adalah si Shion maniak es krim dan Shion penggila cabe. Mereka berdua memegang schimitar (Kaito) dan nunchaku (Akaito) masing-masing. Akaito sedang memainkan nunchaku-nya untuk gaya-gayaan., sedangkan Kaito masih memegang schimitar-nya dengan waspada. Len melihat kondisi dengan waspada. Meskipun Akaito terlihat main-main, dia tidak bisa menyerang Akaito begitu saja karena ada Kaito yang masih siap siaga. Makanya, kalau tak tahu arah. Tanyakan pada peta. XD #plak!

Oke, abaikan yang terakhir.

Bar di atas kepala Len sudah berkurang setengah, begitu juga dengan Akaito. Tapi bar milik Kaito masih utuh.

'Cih... Kayaknya bakal kalah di sini...' Kata Len pasrah sambil menyerang Kaito.

"HAAAA!"

CRING!

Kaito yang masih siap siaga itupun kaget dengan keputusan yang dia buat. Dia masih menahan machette milik Len dengan schimitar miliknya.

"Len? Lu gila ya? Orang Akaito lepas dari penjagaan gitu! Malah nyerang gua!" Kata Kaito masih menahan serangan Len.

"Yah, nggak apa-apa lah... Daripada celana lu..." Kata Len sambil melirik ke bawah. Kaito pun melirik ke bawah dan mendapati kalau celananya kedodoran dengan hanya memakai boxer bermotif es krim. Kaito pun melihat sekeliling untuk sekedar melihat apakah ada orang atau tidak.

"Heh, di sini tuh gak ada orang. Mana mungkin ada yang ngeliat!" Kata Kaito percaya diri sambil masih menahan machette milik Len.

"Lah, terus yang di sana siapa dong?" Tanya Len sambil melirik ke sesosok gadis berambut teal yang tepar karena terkena anemia akut. Bar di atas kepalanya juga sudah habis.

"Miku? Ngapain dia ke sini?" Gumam Kaito heran.

HATSUNE MIKU, AUTOMATIC KICKING IN THREE SECOND!

"Suara apaan tuh!" Tanya Len yang kaget dengan suara yang muncul dengan cara ajaib tersebut (?). Kaito pun langsung melepaskan dirinya dan langsung menebas Len. Reflek, Len pun menahan dengan machette-nya.

"Nah, sekarang keadaan kembali seperti semula!" Kata Kaito sambil menghunus schimitar miliknya.

-VocaDorm-

Seorang bocah berambut hitam berjalan menyusuri hutan yang gelap itu. Berjalan dengan pelan tapi pasti. Dia tampak belum menemukan musuh. Memang agak sulit mencari musuh dalam kegelapan, apalagi bagi Kengo yang lebih terbiasa bermain di area yang memiliki penerangan.

SREK!

"Dare?!" Bocah berambut hitam tersebut mengambil dual knife dari pinggangnya dan memposisikannya secara backhand. Namun yang dia lihat adalah seekor kucing dan seekor kelinci yang sedang berlarian.

"Hah... Kupikir sia-"

"Siapapun kau, menyerahlah sekarang!" Kata seseorang dari belakang dengan pedang di tangannya, menghunus leher Kengo. Kengo pun hanya menghela nafas.

"Oke.. Oke... Sungguh tidak sopan seorang samurai menyerang dari belakang. Bisakah kau berhadapan denganku? Satu lawan satu. Duel..." Balas Kengo agak sedikit kesal.

"... Kamui Gakupo!"

-VocaDorm-

Di VocaDorm...

TOK TOK

Seorang guru muda berambut hitam itu mengetuk pintu VocaDorm. Karena tidak ada jawaban, dia pun kembali mengetuk pintu. Merasa tidak digubris, dia pun hendak pergi. Tapi dia menyadari kunci VocaDorm yang masih tertancap di luar. Karena penasaran, dia pun iseng membuka pintu VocaDorm.

CKLEK!

"... Nggak dikunci?" Gumamnya pelan.

Dia pun masuk ke dalam VocaDorm dan mendapati sebuah miniatur hutan dan lahan yang luas terhampar di ruang tengah VocaDorm. Dan Miku yang tergeletak di sebelahnya.

"Miku?!" Guru berambut hitam tersebut langsung menghampiri gadis malang yang terkapar tersebut dan segera memeriksanya.

"Hmm, sepertinya dia kena 'diabetes'. Tapi bagaimana bisa? Kalau dia sedang bermain di sini?" Katanya. Dia pun meraba-raba samping miniatur untuk mencari sesuatu.

"Nah, di sini! Untunglah aku membawa ini hari ini!" Katanya senang sambil mengeluarkan sebuah metbook dan kabel data. Setelah dia nyalakan netbooknya, dia menyambungkan miniatur tadi dengan netbooknya dan membuka... Counter-Strike ZERO?

Dia pun langsung masuk ke spectator mode, melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana.

"Hmm, jadi Kengo-san yang mengajak mereka?" Gumamnya.

"Apa dia nggak tau kalo alat ini belum bisa berfungsi penuh?" Gumamnya lagi sambil membuka tabel battle log dan mengetik 'kick_all' dan memencet tombol 'Entar' (?).

.

.

.

"Harusnya bentar lagi mereka keluar..." Katanya pelan. Tapi dia mendapat pesan yang mengejutkan dari sang komputer.

"The process isn't responding because you click the 'Entar' button (?). Please put the code again and press 'Enter'."

Bocah berambut hitam inipun langsung sweatdrop melihat pemberitahuan yang terlihat di komputernya. Lalu dia melihat ke arah keyboard-nya dan mengetahui kalau tempat tombol 'Enter' yang biasa berubah menjadi 'Entar'. Dan tombol 'Enter' berada di tempat tombol 'Space' biasanya berada.

'Asdfghjkl! Siapa yang ngubah-ngubah tombol di netbook gua?!' Batinnya nge-rage. Sambil kembali menulis 'kick_all' di battle log dan memencet tombol 'Space' (Sekarang 'Enter')

-VocaDorm-

"Hosh... Hosh..." Toma memburu nafasnya. Begitu juga dengan Gumiya.

"HEAAA!" Mereka berdua menerjang dan menebas satu sama lain.

.

.

.

Terjadi keheningan yang agak lama, sampai terdengar suara aneh lagi dari langit ke tujuh (?).

ALL PLAYER, AUTOMATIC KICK IN THREE SECOND!

"Hosh... Dari tadi kita belum selesai-selesai ya?" Tanya Toma.

"Iya... Dan sekarang semua yang main di sini di-kick gitu aja dari sini? Gak terima! Ayo selesaiin sekarang!" Teriak Gumiya yang bersiap menonjok Toma dengan brass knuckles miliknya.

THREE!

"HAAAAAAAAAAAA!" Toma pun menghunuskan tombaknya ke arah Gumiya.

TWO!

FUUU! (?)

Mereka saling melewati. Gumiya masih memasang pose hook kanan yang ia lancarkan, dan Toma masih memposisikan tombaknya sebagaimana tadi saat ia menghunus tombak tersebut di hadapan Gumiya.

ONE!

"Ah, sialan! Kita saling ngelewatin lagi..." Kata Gumiya yang sudah frustasi tingkat dewa. Kalau diihat, bar di atas kepala Gumiya dan Toma masih nyaris penuh. Salahkanlah akurasi serangan masing-masing yang memang sangat parah.

"Oke, game over..." Balas Toma yang juga nggak kalah frustasi.

AUTOMATICALLY KICKED ALL PLAYER!

"WHOAAAAA!" Mereka pun tersedot ke dalam lubang hitam.

-VocaDorm-

Back at VocaDorm...

"Uh..." Shiroumi yang bangun pertama. Dia melihat seseorang yang mirip dengan sang tetua VocaDorm sedang membereskan barang bawaannya. Sadar Shiroumi bangun, dia pun menoleh ke arahnya sebentar.

"Baguslah kau sudah bangun." Katanya pelan.

"Koko wa?" Tanya Shiroumi.

"VocaDorm desu. Aku memang sengaja meng-kick kalian semua dari sini." Jawabnya.

"Umm, kenapa kita semua di-kick?" Tanya Shiroumi lagi.

"Alat ini masih belum berjalan dengan benar. Kalau ada satu orang yang menang, dia akan selamanya terperangkap di sana karena alat ini selalu freeze saat ada yang menang..." Jawabnya. Satu per satu, yang lainnya mulai terbangun.

".. Dan lagi, aku ingin memodifikasi alat ini supaya dapat kompatibel dengan ISG." Lanjutnya seraya memasukkan miniatur itu ke dalam sebuah kardus.

"O-oi, Xongek! Apa yang menang selalu freeze?" Tanya Kengo setelah dia sadar.

"Yah, bisa dibilang seperti itu. Jangankan player, BOT pun freeze di dalam." Jawab Xongek.

"Ah, souka na..." Kengo pun memasang pose berpikir.

"Arigatou na, Xongek."

"Anytime, supervisor of VocaDorm!" Balas Xongek sambil melangkah pergi.

.

.

.

"Gila... Itu permainan serem amat ya?" Kata Shiroumi sambil merinding.

"Yah... Tapi seenggaknya kita masih selamat. Ya kan, Shiro-kun?" Kata Winona sambil tersenyum.

"Hhh... Yah... Mungkin..." Balas Shiroumi sambil menghela nafas.

-VocaDorm-

T-B-C~

Preview Chapter 23 :

Investigasi ke rumah sang dukun.

"Oya, Rinto. Rei. Saya tanya sekali lagi. Kalian mendapat ramuan seperti itu di mana?"

"Kau yakin di sini?"

"Hei, kau! Berhenti!"

-VocaDorm-

Kengo : "Oke... Chapter 22 selesai dengan dibawanya permainan yang baru saya temukan ke tempat reparasi setempat a. k. a. Xongek!"

Xongek : "Gua bukan tukang reparasi!" *nimpuk author pake obeng*

Kengo : "Oya... Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa saya bikin battle scene. Jawabannya adalah karena saya lagi gila main Dynasty Warrior 5..."

Xongek : "Sama mau ngasih tau, karena mulai minggu depan author akan ulangan. Minggu depan fic ini TIDAK akan update. VocaDorm akan di-update setelah author selesai UAS. Sekian dari saya!"

Kengo : "Next chapter! Identitas sang dukun di chapter lalu akan terkuak! Ada yang mau nebak?"

Xongek : "Kita tutup cerita ini dengan..."

MIND TO REVIEW?