Ini fic pertama saya, jadi maafkan kalo ada typo/misstypo.
Boku wa Hikari Kengo, yoroshiku…
-VocaDorm-
Warning : Typo, misstypo, OOC, OOT, OOG, enam OC author nyangkut di sini, EYD gagal, humor garing ayam kremes (?), bahasa lu-gue dan aku-kamu (Awas, bukan AkuRoku ya... :D), bahasa gaul, gaje, ngaco, pendek, ngawur, kelewat aneh, segala unsur yaoi dan yuri (bila ada) hanyalah untuk hiburan semata, no pairing, hints-hints (kalo ada), ngawur tingkat dewa, dan saya bingung... #plak
Disclaimer : Seluruh Character di sini (kecuali OC, tentunya) adalah milik Crypton Future Media (Crypton Family), INTERNET Co. Ltd (INTERNET Family), dan para fans di sana (fanmade). Saya di sini hanya mempunyai cerita dan OC-OC-nya. Dan saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun.
Warning tambahan : Tidak ada kelinci yang disakiti di dalam pembuatan fic ini... #plak
-VocaDorm-
Sebelumnya di VocaDorm...
"Loh, emangnya kenapa? Bukannya menghayati itu bagus?" Tanya Len berusaha berargumen.
"WOY! BUKA PINTUNYA! SIAPAPUN YANG DI DALAM! SOMEONE! BUKA DONG! HOOOOOI! KAU DENGAR APA YANG AKU TERIAKKAN?! PLIIIIIIISSS! YANG LAINNYA KASIAN! BELUM PADA MAKAN (?)!" Kata Luka sambil menggedor-gedor pintu dengan kedua tangannya secepat kilat (?) sambil berteriak sebisanya. Yang lainnya hanya sweatdrop di tempat karena melihat kekonyolan Luka.
"Game disamain sama dunia asli?! Sungguh 'cemerlang'." Balas Toma sweatdrop.
-VocaDorm-
"Nah, kalian boleh duduk di sana..." Kata seorang bocah berambut hitam dengan warna mata senada itu sambil menunjuk dua buah kursi seperti yang biasa ada di lapak-lapak penjual soto (?). Dua orang yang mengikutinya pun hanya duduk di tempat yang ditunjuk.
"Jadi... Saya ingin tanya kepada kalian..." Kata bocah berambut hitam itu serius. Yang ditanya pun hanya bisa menenggak racun tikus-#plak!
REPLAY!
"Jadi... Saya ingin tanya kepada kalian..." Kata bocah berambut hitam itu serius. Yang ditanya pun hanya bisa mengenggak air liur mereka sendiri.
"Kenapa kalian ngeguna-gunain yang lain biar mereka ngelakuin hal-hal seperti yang terdapat di video SMP sekian (?) ?" Tanyanya masih dengan nada serius.
"Emang video SMP sekian itu yang kayak gimana ya?" Tanya salah satu dari mereka yang berambut honey-blonde beriris aquamarine itu dengan wajah (sok) polosnya. Bocah berambut hitam di depannya pun langsung facepalm di tempat.
"... Tidak perlu dijelaskan. Menurut kabar burung sih ada adegan-adegan yang... Errr, you know better than me, right?" Jawab bocah berambut hitam itu sambil memasang tampang 'you don't say'.
"Waaah, Kengo-san berarti pernah nonton ya?" Tanya bocah berambut hitam beriris emas dengan nada jahil.
"Enggak lah. Kan itu cuma kabar burung doang. Atau jangan-jangan kamu yang udah nonton? Wah... Pantesan kalian udah berani ngelakuin 'itu'..." Jawab Kengo mengambil dugaan. Kedua orang yang berdiri di hadapannya inipun langsung membelalakkan hidungnya (?). #plak!
"Udahlah, itu gak penting. Sekarang yang saya mau tanya, di mana kalian dapat ramuan untuk ngeguna-gunainnya?" Tanya Kengo lagi.
"Entahlah... Saya nemu di jalan kok..." Kata Rei santai.
"Yang bener?" Tanya Kengo memastikan.
"Bener deh! Ciyu-"
"STOP! Jangan mulai alay deh lu pada!" Potong Rinto kesal dengan pertarungan alay-alayan ini.
"Oh...Oke." Rei pun kembali tenang. Dan Kengo kembali memasang tampang seriusnya.
"Oya, Rinto. Rei. Saya tanya sekali lagi. Kalian mendapat ramuan seperti itu di mana?"
"Oooh... Kalo itu. Mending kita aja yang nganterin besok pagi..." Kata Rinto sambil berdiri.
"Hmm... Oke! Besok pagi kita berangkat ke sana! Terima kasih infonya, Rei, Rinto. Kalian boleh kembali ke kamar..." Kata Kengo sambil keluar dari ruang interogasi (?). Rinto dan Rei pun hanya mengekor dari belakang.
.
.
.
SKIP TIME
"Etto, buat apa kita dikumpulin di sini? Ini kan masih pagi. Hari minggu lagi!" Kata Rin setengah menggerutu.
"Iya nih... Mau ngapain coba... Hik (?)..." Kata Meiko yang mukanya sedikit merah...
"Err, Meiko-senpai kenapa?" Tanya Dell yang mukanya seger-seger aja. Mungkin saja dia abis minum kopi segalon (?)... #plak
"Abis ngabisin sake segalon..." Kata Luka sambil mengucek matanya. Seluruh penghuni kamar cowok pun hanya jawdrop di tempat.
"Oke! Udah pada siap?" Tanya Kengo dengan kaus putih dan celana training berwarna hitam.
"Yaaa..." Teriak yang lainnya lesu.
"Yah, semangat dong! Pagi-pagi gini emang enaknya lari pagi, kan?" Tanya Kengo yang sudah berada di luar sambil berlari di tempat. Yang lainnya pun hanya mengikuti Kengo dengan muka lesu.
.
.
.
Setelah berlari-lari kecil ke sana kemari membawa alamat (?) JENG! JENG! #plak!. Ekhem. Maksudnya berlari-lari -tiba, Rei berlari menyusul Kengo yang berada sedikit di depan .
"Nah, di sini tempatnya. Kengo-san!" Kata Rei sambil menunjuk ke arah sebuah tanah lapang yang beraura aneh.
"Oke! Stop!" Kata Kengo memberi aba-aba untuk berhenti. Yang lainnya pun (karena kaget) langsung berhenti mendadak dan terjatuh. Naas bagi Piko yang berada di depan. Dia harus tertimpa oleh seluruh warga VocaDorm karena aksi berhenti mendadak berjamaah (?) ini.
"I-itte..." Kata Piko mengelus-elus punggungnya yang hampir patah itu. #ditimpukUSB
"Kau yakin di sini?" Tanya Kengo memastikan. Yang dibalas dengan anggukan mantap dari dua orang pakar twincest itu. #dibunuh
"Kok yang ada cuma lapangan ko..." Kengo menghentikan omongannya dan memperhatikan sekitar.
"Rinto, kamu ngapain bawa ISG ke sini?" Tanya Kengo yang melihat Rinto memasang ISG miliknya.
"Buat munculin di mana tempatnya lah... Yang lain juga pada bawa kok..." Kata Rinto sambil menunjukkan kerumunan warga VocaDorm yang sudah siap dengan ISG milik mereka masing-masing.
"Hmmm... Kemaren ISG saya ditinggal di ruang interogasi si-OH! Ini dia ISG saya!" Kata Kengo sambil merogoh saku celananya.
"Bai de wei aniwei baswei (?), kenapa pada pake ISG nih?" Tanya Kengo.
"Just wait and see." Jawab Rei santai.
"Dark Annihilator!" Rinto pun merentangkan tangan kanannya ke depan. Sebuah bola cahaya pun muncul dan menghisap benda yang terlihat seperti tirai tipis itu. Kengo pun mulai mengerti apa yang Rinto maksud.
"Hoo..." Kengo pun juga ikut merentangkan kedua tangannya ke depan.
"Cross Techinque : Distortion Vacuum!" Dari kedua tangannya, muncul seperti gerbang yang terbuka dan menghisap sesuatu yang menutupi tempat tersebut sekejap mata.
"Whoa..." Yang lainnya pun terkagum-kagum dengan apa yang ada di hadapan mereka sekarang. Sebuah bangunan besar bernuansa mistis yang ada di hadapan mereka pun mulai melahap mereka semua (?). #plak! (Xongek : "SALAAAAAAH! Re-Take!")
Re-Take!
"Whoa..." Yang lainnya pun terkagum-kagum dengan apa yang ada di hadapan mereka sekarang. Sebuah bangunan besar bernuansa mistis yang ada di hadapan mereka membuat beberapa orang merinding ketakutan. Tapi mereka hanya masuk sambil merinding ketakutan.
"O-ojamashimasu..." Kata Rei mengawali.
"Siapa yang berani masuk ke sini? Hrmmm..." Kata seseorang sambil menggeram.
"He? Apaan nih?" Kata Aiko yang melihat sebuah tali yang menjuntai di samping pintu. Dia pun iseng menarik-narik tali tersebut.
TUING! TUING! (?)
CKLEK!
ZSAAAAASH!
"Oouch..."Semuanya pun langsung menutup mata mereka karena sebuah jarum menancap di mata mere-SALAAAH! Maksudnya karena cahaya menyilaukan menyeang mata mereka.
PRAK!
"Hei, kau! Berhenti!" Kata Shiroumi yang (masih sempet-sempetnya) memakai kacamata hitam dan melihat sang dukun kabur lewat pintu belakang sambil mengejarnya. Yang lainnya pun langsung mengikuti Shiroumi.
DRAP DRAP DRAP
Sang dukun bertudung kelinci inipun terus berlari sekuat tenaga diikuti oleh seluruh warga VocaDorm.
"Hosh... Hosh..." Setelah sepuluh menit berlari tanpa tujuan, sang dukun pun mulai kelelahan. Begitu juga warga VocaDorm yang mengejarnya. Tapi tak disangka, Akagane dan Akaito menerjang sang dukun dan menangkap sang dukun.
JDUAK!
"Tch..." Akagane mengusap-usap dahinya yang mendarat di aspal dengan 'mulus'.
"Loh, mana orangnya?" Tanya Len sambil menengok ke kanan dan ke kiri. CUL mendapati pakaian sang dukun yang teronggok (?) begitu saja di tanah dan melihat seekor kelinci yang berlari ke arah gang sempit.
"Eh! Itu dia!" Kata CUL sambil berlari mengejar kelinci tersebut. Seluruh warga VocaDorm cowok pun mengikutinya.
"Ini bajunya si dukun ya?" Gumam Kaiko sambil memeriksa pakaian yang tadi terlepas. Tak lama kemudian matanya terbelalak kaget. Dia pun lalu membisikkan sesuatu ke sang tetua VocaDorm. Mukanya mulai menampakkan ekspresi bingung, tapi sepertinya dia mengerti apa yang dibicarakan oleh Kaiko.
"Minna! Kalian cepat susul orang tadi!" Kata Kengo memerintahkan semua yang ada di sana untuk mengejar sang dukun.
"Oke!" Teriak mereka sambil berlari.
"Chotto matte. Kaiko, kau bawa pakaian yang kau dapatkan!" Perintah Kengo.
"Ha'i!" Kata Kaiko sambil berlari menyusul teman-temannya yang sudah ada di depannya.
'Kalau begini ceritanya mungkin cuma kebagian menginterogasi saja.' Pikir Kengo sambil berjalan santai ke arah ke mana semuanya berlari.
-VocaDorm-
At boys side...
"Cih, dia kok kenceng banget larinya?!" Tanya Toma menggerutu.
"Namanya aja kelinci..." Jawab Kaito sweatdrop.
"Ngejarnya gimana nih?!" Tanya Gumiya back to the topic.
"Aaargh!" Shiroumi pun menggerutu.
"E-eh?! Kelincinya belok!" Kata Gakupo sambil mencabut katananya dan menancapkannya di tanah agar yang lain bisa menggunakannya sebagai tumpuan untuk berbelok. Yang lainnya pun langsung membelokkan diri mereka dengan bantuan gagang katana milik Gakupo.
-VocaDorm-
At girls side...
"Kita kalo lari-larian gaje terus gak bakalan nemuin mereka!" Kata Miku kesal.
"Gimana gak gaje, orang setiap ada belokan kita belok ke kanan terus!" Balas Rena.
"Lah emang siapa yang nyuruh belok ke kanan terus?!" Tanya Miku tambah emosi.
"Elu kan?!" Jawab Rena berteriak pelan (?).
.
.
.
"Oh iya ya... Eheheh..." Balas Miku sambil nyengir gaje. Yang lainnya hanya sweatdrop.
'Ya ampun... Kenapa gak kepikiran dari tadi ya?" Gumam Winona sambil facepalm.
"Gusto Secret Bloodline Art : Gusto Wind Rider!" Seketika itu pula ada bis angin (?) yang langsung menggiring mereka semua ke langit.
"WHOAAAAA!"
-VocaDorm-
Back at boys side...
"Hah... Hah..." Yang lainnya pun hanya terus berlari mengejar kelinci tersebut untuk dijadikan sate kelinci (?). Tiba-tiba (dan tidak disangka), kelinci tersebut berhenti di depan sebuah tembok. Kelinci itu menengok ke kanan. Tembok juga. Di kiri. Tembok yang sama. Menengok ke belakang,
'Di sinikah aku akan berakhir?' Tanya kelinci itu dalam hati sambil menitikkan air liur-#plak! Maksudnya menitikkan air mata.
'Iie, masih ada cara 'itu'!' Batin si kelinci. Dia lalu menghadap ke arah kerumunan serigala lapar yang siap menerkam dirinya. (Xongek : "Thor, kok lu seneng banget masukin kata-kata ambigu akhir-akhir ini?" | Kengo : "Salahkan si ambigu generator itu...")
Kelinci tersebut mulai menutup matanya seraya berkonsentrasi.
"Nah, dia udah nyerah! Ayo kejar!" Teriak Rei sambil berlari lagi.
'Ayo... Sedikit lagi...' Batin sang kelinci.
"HEAAAAA!" Gakupo yang tingginya selangit itu menerjang ke arah kelinci itu.
POOOF!
CRAT! CRAT! CRAT! CRAT! CRAT! CRAT!
Genangan darah berwarna merah pun menghiasi seluruh penghuni kamar cowok yang gugur (?) di medan pertempuran. Hanya ada satu orang yang berdiri di sana, menatap sang dukun dengan keadaan jawdrop.
"E-etto..." Karena bingung, CUL tidak bisa mengatakan sesuatu yang ingin dia ucapkan.
"K-Kyaaaaaaa!"
At girls side...
"K-Kyaaaaaaa!"
"He?! Suara siapa tuh?!" Tanya Lenka yang mendengar jeritan ultrasonik (?) tersebut.
"Mending kita turun di sini!" Kata Luka sambil terjun ke bawah.
FYUUUU! DRAP!
Semuanya mendarat dengan mulus. Mereka pun mulai menelusuri jalan untuk mencari sumber suara.
"Chotto! Itu kan katananya Gakupo-senpai?!" Kata Neru sambil mengeluarkan katana milik Gakupo yang tertancap di tanah.
"Iya. Dan kenapa dari arah sini ada bau amis darah (?) ya?" Tanya Miki sambil menunjuk arah kiri mereka. Miki pun berjalan seakan tidak ada yang mengganggunya. Yang lainnya pun mengikuti Miki dengan perasaan tidak enak.
"Kaito-senpai gak dibunuh kan?" Tanya Miku ketakutan.
"Gak tau deh... Gua juga gak mau Gakupo mati sekarang..." Balas Luka gak kalah ketakutan.
"Hueeee! Kembaran gue yang shota! Huaaaa!" Rin pun menangis meraung-raung. Yang lainnya pun sweatdrop di tempat.
"Yah, kita berdoa aja lah. Semoga mereka selamat sentosa selamat panjang umur dan berbahagia (?) ..." Kata Aiko datar. Yang lainnya makin sweatdrop.
'Ini anak masih sempet-sempetnya bercanda pas lagi begini?!' Batin yang lain.
"He?" Kaiko yang merasa menginjak sesuatu melihat ke bawah pelan-pelan. Dan dia pun melihat cairan berwarna merah pekat beraroma khas. Kaiko pun langsung pingsan di tempat.
Apa saya pernah bilang kalau Kaiko itu sangat takut dengan yang namanya darah?
"K-Kaiko-chan!" Meiko langsung menangkap tubuh Kaiko yang hapir ternodai oleh darah.
"Eh, jangan lupa plastiknya!" Kata Winona sambil mengambil plastik yang sudah terlanjur terjatuh itu.
"Etto, Dukun-san (?). Bisakah kau pakai dulu ini?" Tanya Winona sambil memberikan bungkusan tadi.
"CUL-senpai! Daijobu ka?" Tanya Rui sambil menepuk-nepuk bahu CUL. Satu detik kemudian CUL pun menutup matanya untuk selama-WOY! Salah!
Re-Take!
Satu detik kemudian CUL pun mengedip-ngedipkan matanya. Dia masih berusaha memahami keadaan sekitar.
"Umm, apa yang terjadi?" Tanya CUL.
"Gak tau. Mereka semua langsung nosebleed pas aku berubah wujud ke wujud manusia." Jawab sang dukun yang sudah kembali memakai pakaiannya.
"Hoo, terus yang saya bawa di sini siapa dong?" Tanya seseorang di belakang mereka.
"Kengo-san!" Teriak mereka semua berjamaah (minus sang dukun).
"Yo!" Katanya sambil mengangkat tangan kanannya. Di sebelahnya adalah seseorang yang terlihat mirip dengan sang dukun tadi, tapi warna rambutnya adalah coklat hazel.
"Oh, dia? Dia adalah asistenku." Jawab sang dukun.
"Tuh kan, sudah kubilang bukan aku-ssu!" Kata gadis di sebelahnya yang langsung berlari pergi. Yang lainnya hanya sweatdrop (minus sang dukun).
"I know this thing would happen..." Katanya sambil berjalan ke arah tumpukan manusia yang berdarah.
"Oh ya... Namamu siapa?" Tanya sang tetua VocaDorm serius.
"Y-Yuzuki Yukari desu!" Jawabnya gagap melihat perubahan raut wajah Kengo.
"Hm. Hm... Kenapa kamu memiliki ISG seperti kami?" Tanya Kengo sambil menunjukkan ISG yang sedang dipakainya.
"ISG?" Tanyanya bingung.
"Iya, sarung tangan yang terpasang di tanganmu. Itu adalah ISG." Jawab Kengo sambil menunjuk sarung tangan berwarna violet yang sedang Yukari gunakan.
"Ini? Umm... Entahlah. Seseorang mengirimkannya padaku." Jawab Yukari bertele-tele, cair (?), dan gak jelas. #ditendang
"Ah, doesn't matter. Yang terpenting, kenapa kau membuatkan ramuan aneh itu untuk Rei dan Rinto?" Tanya Kengo lagi.
"Haaah..." Yukari menghela nafas luar-luar (?).
"Ya begitulah. Itu pesanan khusus yang hanya bisa dibayar oleh sebungkus sate kelinci." Jawab gadis berambut violet itu. Kengo pun hanya sweatdrop mendengat jawaban Yukari.
'Sate kelinci?!' Pikir yang lainnya jawdrop.
"Oke. Aku hanya ingin minta tolong agar jangan menerima pesanan ramuan yang aneh-aneh. Apalagi dari kedua bocah ini." Kata Kengo sambil menunjuk Rei dan Rinto yang masih ko-it.
"He?" Gadis itu memiringkan kepalanya.
"Oooh... Wakarimashita!" Kata gadis itu mengangguk mantap.
"Arigatou gozaimasu." Kata sang tetua VocaDorm menunduk.
"Oke, kita pulang sekarang! Oh ya, bawa juga mereka!" Perintah Kengo sambil menunjuk onggokan (?) daging berlumuran darah yang jumlahnya sebumi (?). (Kengo : "Karena selangit sudah mainstream." XD)
"H-ha'i..." Jawab mereka lesu.
-VocaDorm-
T-B-C~
Preview Chapter 24 :
... Sepertinya saya tidak akan memberikan preview untuk chapter depan. Saya masih ragu-ragu tentang kelanjutan ceritanya...
-VocaDorm-
Kengo : "Huahahaha! Akhirnya saya balik lagi setelah UAS! HUAHAHAHAHAH-" #dibekep
Xongek : "Jangan dengerin author-san. Dia lagi gila setelah UAS... Oh ya, kami ucapkan selamat buat Yami no Ryou karena sudah menebak sang dukun dengan benar! Kami ucapkan juga selamat kepada Yami Nova karena sudah mencoba menebak!"
Kengo : "Oh ya, ada yang bisa tebak siapa gadis yang mirip Yukari itu? Saya kasih hints-nya. Cari di FVI. Pasti ada!" #jduak
Xongek : "Itu aja untuk sekarang. Intinya..."
MIND TO REVIEW?
