Ini fic pertama saya, jadi maafkan kalo ada typo/misstypo.
Boku wa Hikari Kengo, yoroshiku…
-VocaDorm-
Warning : Typo, misstypo, OOC, OOT, OOG, enam OC author nyangkut di sini, EYD gagal, humor garing ayam kremes (?), bahasa lu-gue dan aku-kamu (Awas, bukan AkuRoku ya... :D), bahasa gaul, gaje, ngaco, pendek, ngawur, kelewat aneh, segala unsur yaoi dan yuri (bila ada) hanyalah untuk hiburan semata, no pairing, hints-hints (kalo ada), ngawur tingkat dewa, dan saya bingung... #plak
Disclaimer : Seluruh Character di sini (kecuali OC, tentunya) adalah milik Crypton Future Media (Crypton Family), INTERNET Co. Ltd (INTERNET Family), dan para fans di sana (fanmade). Saya di sini hanya mempunyai cerita dan OC-OC-nya. Dan saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun.
-VocaDorm-
Sebelumnya di VocaDorm...
'Angket macem apa ini?' pikir seluruh warga VocaDorm dengan sweatdrop yang makin besar dari kepala mereka.
"YANG TIDAK MENGISI ANGKET JANGAN HARAP AKAN MELIHAT MATAHARI TERBIT BESOK!" suara yang menggema di seantero VocaDorm (bahkan sampai ke VocaDemyx) itupun membuat semuanya merinding disko dan buru-buru mengisi angket tersebut.
"Gua penasaran nih hasil angketnya..." kata Len sambil memakan sebuah pisang sekaligus kulitnya (?).
"Kayaknya ada yang aneh di angket ini..."
"Biarkan... Biar mereka nista..." jawab seorang bocah sambil terkekeh layaknya seorang maniak.
-VocaDorm-
VocaDemyx, 9 jam sebelum pengumuman angket…
Di sebuah ruangan yang dikenal sebagai Ruang Guru, terlihatlah beberapa guru yang sedang duduk-duduk di sini karena sedang tidak dalam jadwal mengajarnya. Entah mereka sedang mengerjakan tugas-tugasnya atau hanya sekadar mengobrol.
BRAAAAAAAAK!
Ya… Sampai seorang bocah berambut hitam datang dan membanting pintu ruang guru tersebut.
"Xongek mana Xongek?!" tanya bocah itu tanpa rasa malu sama sekali. Yang lainnya pun langsung menoleh ke arah bocah itu, mengerinyitkan alis mereka.
"SIAPA YANG MANGGIL-MANGGIL GUA, HAH?!" teriak Xongek dari belakang bocah berambut hitam tersebut. Bocah tersebut pun langsung tuli di tempat. Yang lainnya sweatdrop di tempat. Bocah berambut hitam itu pun langsung berbalik dan mundur sedikit sambil memasang sepasang sarung tangan pada kepala-maksudnya pada kedua kaki-Salah. Yang saya maksud adalah pada kedua tangannya. Harap abaikan yang sebelum-sebelumnya. Melihat sarung tangan yang bocah itu pakai, Xongek pun langsung bersiaga memasang sarung tangan miliknya. Aura berwarna kuning-kuning yang mengapund di empang setempat (?) itupun dengan cepat menyelimuti kedua bocah berambut hitam itu.
"Hei! Kalau kalian mau ribut jangan di sini. Nanti jadi tontonan yang lain…" kata IA yang sudah memakai sarung tangan ISG-nya dan mengeluarkan aura berwarna putih dari tubuhnya. Para penghuni ruang guru itupun langsung cengo saat melihat IA dengan aura berwarna putih yang keluar dari tubuhnya.
"Wew… IA belajar dari mana tuh ilmunya?" tanya Yuuma sambil menyikut Mikuo yang sedang membuat soal ulangan untuk siswa penghuni RKXI.
"Ehm… Entah. Jangan tanya gua lah… Mungkin aja dari padepokan VocaDorm(?)…" jawab Mikuo santai –Eh? Mikuo, lu punya indera kedelapan (?) ya? (Xongek : "Biar gua tebak, thor. Itu pasti karena indera keenam udah mainstream 'kan? | Kengo : "Bukan. Karena gua punya indera kesembilan (?)…" | Xongek : *swt*)
"O-oh… Oke…" tukas Xongek dan bocah berambut hitam itu berjalan keluar dari ruang guru VocaDemyx.
-VocaDorm-
"Ah! Elu mah ngagetin aja! Baru gua teriakin udah pasang ISG aja…" kata Xongek kepada bocah berambut hita tersebut.
"Hehe… Gomen gomen… Lagian pake teriak segala. CONGEK-an nih gua!" balas bocah itu setengah berteriak. Xongek pun menghadiahi bocah itu dengan deathglare terbaiknya. Bocah itupun nyengir kudanil.
"Nah, lu mau apa ngedatengin gua, Kengo?" tanya Xongek mengalihkan pembicaraan. Bukannya menjawab, bocah yang dipanggil Kengo itupun mengeluarkan segepok kertas berwarna hijau dari dalam tasnya.
"Wiiiih! Tumben lu ngasih duit. Arigatou~!" kata Xongek menerima kertas itu tanpa melihat apa sebenarnya isi kertas itu.
"Itu bukan duit, bego. Liat napa?" balas Kengo sambil menutup tasnya. Xongek pun melihat kertas tersebut dan sweatdrop di tempat.
"Lu mau nyuruh gua ngitung nih angket gaje?" tanya Xongek kecewa, dan dibalas oleh anggukan singkat tapi gaje dari Kengo. Xongek pun menghela nafas.
'Jiah… Gua pikir beneran duit… Tauknya…' batin Xongek kecewa. Ternyata Xongek itu mata duitan-#digampar
"Hmm… Ya… Boleh lah. Kapan dihitungnya nih angket?" kata Xongek meng-'iya'-kan permintaan Kengo.
"Ntar. Pas kiamat. Ya entar siang lah! Orang nanti sore mau diumumin juga! Dah ah! Gua tunggu nanti siang di Ruang CCTV VocaDorm. Lu gak ada jadwal kan? Jaa!" jawab Kengo sambil berjalan keluar dari areal VocaDemyx. Xongek pun sweatdrop di tempat.
"Et dah…" Xongek hanya menghela nafas dan kembali masuk ke ruang guru VocaDemyx.
"Eh, mau pada bantuin gak. Saya lagi ada 'sedikit' kerjaan..." kata Xongek meminta bantuan.
-VocaDorm-
3 jam sebelum pengumuman angket…
TOK TOK TOK!
"Masuk saja! Pintunya tidak dikunci!" kata yang di seberang sana (?). Xongek pun membuka pintunya dan masuk ke ruangan dengan beberapa layar pemantau di ujung ruangan.
"Youkoso..." kata bocah berambut hitam itu menyambut Xongek.
"Halah, lebay lu Kengo," balas Xongek skeptis. Kengo pun nyengir di tempat. Tapi cengirannya dia hentikan tatkala melihat sosok perempuan berambut pirang keputihan itu masuk ke ruangannya.
"Ah, halo IA-san!" sapa Kengo ramah.
"Halo juga." kata IA balas menyapa Kengo.
"Ei, kenapa ngajak-ngajak IA-san?" tanya Kengo sepelan mungkin kepada Xongek.
"Gak cuma IA kok! Yang lain juga dateng…" kata seorang pemuda berambut teal itu menunjuk kerumunan di belakangnya yang terdiri dari seorang pemuda berambut pink, seorang pemua ber-beanie, seorang pemuda yang sedang mabuk (?), seekor kelinci (?), dan beberapa orang yang warna rambutnya unik sekali (?). Kengo pun sweatdrop di tempat.
"Kenapa banyak bener yang dateng? Dikata mau hajatan apa?" tanya Kengo dengan wajah pucat.
"Itu karena…"
FLASHBACK!
"Hmm… Ya… Boleh lah. Kapan dihitungnya nih angket?" kata Xongek meng-'iya'-kan permintaan Kengo.
"Ntar. Pas kiamat. Ya entar siang lah! Orang nanti sore mau diumumin juga! Dah ah! Gua tunggu nanti siang di Ruang CCTV VocaDorm. Lu gak ada jadwal kan? Jaa!" jawab Kengo sambil berjalan keluar dari areal VocaDemyx. Xongek pun sweatdrop di tempat.
"Et dah…" Xongek hanya menghela nafas dan kembali masuk ke ruang guru VocaDemyx.
"Eh, mau pada bantuin gak. Saya lagi ada 'sedikit' kerjaan..." kata Xongek kembali ke ruang guru dan meminta bantuan.
Krik… Krik…
"Gak ada? Oke fain(?)! Biar gua yang dapet gaji tambahan aja sendiri!" kata Xongek mendramatisir. Mendengar kata 'gaji tambahan', seluruh guru yang lagi asik-asiknya mangkal di sana pun langsung berebut minta ikut membantu Xongek. Dasar guru-guru mata duitan… #dilemparbersama
"Oya, emang kerjaannya apaan?" tanya Luki penasaran.
"Udaaaah, liat aja nanti…" jawab Xongek sambil tersenyum iblis-#digamparXongek
FLASHBACK OFF!
"H-hoo…" kata Kengo dengan keringat dingin mengucur dari dahinya.
'Mampus, bisa bokek nih gua kalo gini…' pikir Kengo pasrah. Tapi pikirannya langsung beralih pada seekor kelinci berbulu ungu yang ikut bersama mereka.
"Bentar… Kok kelincinya kayak pernah liat ya?" tanya Kengo sambil menunjuk kelinci ungu tersebut.
"Hm? Ooh… Kelinci itu… Masa gak inget sih? Kan dia itu-"
POOF!
CRAT! CRAT! CRAT!
Dan para cowok yang sedang berada di sana pun langsung tepar dengan darah segar yang mengucur dari hidung mereka.
-VocaDorm-
Lima menit kemudian…
"Ini kenapa coba bisa ada dukun nyasar ke sini?" tanya Kengo menunjuk sang dukun –yang diketahui bernama Yuzuki Yukari –yang tentu saja sudah kembali memakai pakaiannya.
"Entahlah… Tadi kayaknya ada kumpulan kelinci lagi lari, ya udah saya ikutin aja. Eh taunya malah nyasar ke sini…" jawab Yukari panjang lebar tapi tidak jelas-#digetok
"Hooo…" kata Kengo dan yang lainnya (min Xongek) ber-'hoo'-ria. Tunggu, berarti yang sadar kalo Yukari ada di antara mereka cuma Xongek dong?
"Ekhem. Oya, Kengo-san. Kalo boleh tau, emangnya ada 'kerjaan' apa ya di sini?" tanya Luki mengalihkan pembicaraan.
"He? Ooh… Ayo masuk!" perintah Kengo menyuruh kerumunan manusia berambut warna-warni layaknya pelangi itu masuk ke dalam ruang monitor CCTV yang luasnya tidak mencapai dua kali tiga meter itu. Dan anehnya, mereka semua mau saja berdesak-desakan di dalam. Bahkan sampai ada yang tersangkut di langit-langit ruangan.
"Oke. Ini dia kerjaan yang gua maksud," kata Kengo sambil menaruh tumpukan kertas berwarna hijau yang dia bawa dari laci meja yang terdapat di pojok ruangan –Tunggu, bagaimana caranya Kengo melewati lautan manusia warna-warni tersebut dan membuka laci? Padahal yang lainnya susah payah berdesakan sampai ada yang semaput di tempat. Oke, abaikan yang tadi. Intinya Kengo menaruh tumpukan kertas berwarna hijau tersebut di sebuah meja kecil sembari berkata, "ngitung angket!"
"Ngitung angket?" tanya semua yang ada di sana (min Kengo & Xongek) dengan tampang (sok) polos. Kengo pun mengangguk.
"Ntar gua bayar deh. Suwer!" kata Kengo tersenyum lebar. Yang lainnya pun bersorak gembira. Sedangkan Xongek hanya menatap Kengo tidak percaya.
"Ei, Kengo. Emang lu mau bayar mereka pakai apa?" tanya Xongek berbisik ke Kengo. Kengo pun menunjukkan sebuah kantung kecil sebagai jawabannya. Xongek pun sweatdrop di tempat.
"Serius nih? Cuma kacang sukro sebungkus kecil?" tanya Xongek tidak percaya.
"Iyalah. Masa iya anggaran VocaDorm abis Cuma buat ginian doing?" jawab Kengo sambil berbalik dan keluar mencari udara segar. Xongek hanya bisa tertawa getir. Mengetahui bahwa teman seperjuangannya hanya akan diupahi sebungkus kecil kacang sukro.
-VocaDorm-
Akhirnya, karena merasa ruang monitor CCTV terlalu sempit untuk mereka semua menghitung angket. Kengo pun memindahkan mereka semua ke dalam ruang tamu VocaDorm dan menyuruh mereka menghitung angketnya dengan khidmat.
.
.
.
"Oke… Udah semua kan ngitung angketnya?" tanya Xongek yang mengkoordinir penghitungan angket.
"UDAAAAAAAAAAAAAAH!" koor yang lainnya dengan kekuatan suara 20.001 Hz (?) yang menyebabkan telinga Xongek menjadi Xongek-an. #ditabokXongek
"O-oh… Oke. Sini gua liat hasilnya." Kata Xongek meminta hasil penghitungan angket gaje bin ajaib itu. IA pun berdiri dan menyerahkan selembar kertas berisi hasil penghitungan suara yang diterima oleh Xongek dan langsung ia teliti.
BRAK!
"YOOO!" teriak Kengo sambil membuka pintu dengan kekuatan inhuman. Yang lainnya pun langsung terlonjak kaget.
"Udah selesai belum ngerjain angketnya?" tanya Kengo sambil cengar-cengir sendiri seperti orang gila-#plak!
"UDAAAAAAAAAAH!" koor yang lain. Membuat Kengo tuli mendadak.
"Sip! Nih bayarannya! Gak usah protes dan cepetan keluar! Anak-anak dah mau pulang!" kata Kengo sambil memberi (baca : melempar) sebungkus kecil kacang Sukr* kepada semua yang ada di sana. Tadinya mereka sudah mau protes begitu menerima upah mereka. Tapi semua berubah saat Kengo menyerang-#plak!
Singkat cerita, seluruh guru VocaDemyx (min Xongek plus Yukari) pun pulang ke alamnya masing-masing dan Kengo dan Xongek kembali ke markas rahasia mereka (baca : Ruang CCTV VocaDorm). Xongek yang telah selesai meneliti hasil dari angket yang sebenarnya tidak terlalu gaje tersebut.
"Nih hasilnya," kata Xongek memberikan selembar kertas berwarna hijau yang ia pegang. Kengo pun menerimanya dan membacanya sekilas. "Gimana?"
"Hum…Kurang greget dan terlalu mainstream…" jawab Kengo santai. Tidak sadar kalau pernyataannya tadi membuat Xongek ber-gubrak-ria.
"Lha terus mau diapain lagi nih angket?" tanya Xongek.
"Kita tuker aja pemenangnya…" jawab Kengo santai.
"Heh? Dituker gimana maksudnya?"
"Ya dituker lah! Masa lu gak tau sih! Nih, contohnya yang tercantik tulisannya Luka. Nah, tuker aja jadi siapa kek!" kata Kengo menjelaskan. Xongek hanya jawdrop sambil manggut-manggut di tempat.
'Kalo gitu caranya kenapa lu adain angket begini?!' pikir Xongek kesal.
"Ya udahlah… Sini gua tuker-tukerin…" kata Xongek sambil meminta kertas berwarna hijau tersebut. Kengo pun memberikannya dan pergi keluar. Tapi, sebelum dia pergi ke luar…
"Kengo! Nih udah jadi!" kata Xongek berteriak. Kengo pun berbalik dan langsung mengambil kertas hijau tersebut dan memeriksa isinya sambil mnahan tawa.
"Pfft… Ini beneran nih?" tanya Kengo menahan tawanya sebisa mungkin. Awas! Ntar malah keluar angin dari belakang lagi-#kick
"Serius lah! Kapan gua ngerjain ginian gak serius coba?" jawab Xongek balas bertanya sambil memasang cengiran kudanil. Kengo pun tertawa terbahak-bahak, entah karena isi angket yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa atau jawaban Xongek yang sepertinya kurang meyakinkan.
"Bwahahaha! Oke-oke! Gua siap-siap dulu ya! Jaa!" teriak Kengo sambil keluar Ruang CCTV VocaDorm. Xongek pun mulai memperhatikan persiapan Kengo dalam pengumuman angket gajenya.
Tok Tok!
"Hm? Siapa?" tanya Xongek.
"IA desu. Boleh aku masuk?" jawab yang di seberang sana.
"Masuk aja! Gak dikunci kok!" teriak Xongek. Pintu pun terbuka dan muncullah sosok seorang gadis berambut pale-blonde semata kaki berpakaian casual berwarna hitam dan rok berwarna pink.
"Konbawa," sapa IA ramah.
"Konbawa mou…" kata Xongek balas menyapa.
"Sedang apa?" tanya IA berbasa-basi sedikit.
"Ehm… YA, lihat saja sendiri…" jawab Xongek sambil mempersilahkan IA melihat ke layar monitor CCTV yang ditempatkan di ruang tamu VocaDorm. Ia pun melihat layar itu sebentar, lalu hanya manggut-manggut di tempat.
"Jadi angketnya udah mau diumumin?" tanya IA lagi. Yang hanya dijawab oleh anggukan dari Xongek.
"Iya… Dan… Kengo minta sesuatu yang gila di angketnya…" jawab Xongek sambil memberikan secarik kertas berwarna hijau yang berisi hasil angket yang sudah dia modifikasi tersebut. IA pun mmbaca isi dari angket itu, dan hasilnya IA pun berusaha mati-matian untuk menahan tawanya.
"Benar tidak apa-apa kita jahili mereka?" tanya IA sambil menahan tawanya saat melihat kertas yang sedang dia baca.
"Biarkan... Biar mereka nista..." jawab Xongek sambil terkekeh kecil, lalu berubah menjadi tertawa layaknya seorang maniak.
-End-
VocaDorm
Kengo : Akhirnya update juga chapter terakhir! Yeeeeiy! \(^o^)/
Xongek : Kenapa lama bener update-nya?
Kengo : Biasalah… Ujian…
Xongek : Sip dah!
Kengo : Oh yah, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat semua yang udah review, fav, alert, serta ngebaaca fic ini. Arigatou gozaimasu! (_ _)
Xongek : Nah… Untuk terakhir kalinya di fic ini…
Mind to Review?
