Saat ini, aku tak lagi mengerti apa yang salah dengan diriku. Melihat sosoknya adalah hal yang paling mudah kulakukan. Suasana tenang yang tak pernah kusukai, kini menjadi sesuatu yang wajar. Apakah benar aku sudah mulai berubah? Atau aku hanya terombang-ambing dalam suasana?
Entahlah.
Aku tak lagi peduli.
Last Chance, Last Hope
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Hurt/Comfort, Drama
Pairing : NaruHina
Rated : T(eens)
Warning : semoga tidak typo, AU, OOC
Don't like? Just review ^v^
.
.
.
"Oi, Naruto."
Aku menoleh pada Kiba. Kali ini raut wajahnya menunjukkan bahwa ia menyembunyikan sesuatu.
"Apa?"
"Kau tidak ingin mengerjai Nona Besar itu sekali saja?" Kiba terkekeh senang dengan rencananya. Aku mengernyitkan keningku.
"Jangan macam-macam. Kau ingin aku dibunuh Ayahku di acara sahabatnya ini, hah?"
"Tenang saja, kau tak perlu mengotori tanganmu itu."
Aku mendelik tajam. Apa maksud Kiba? Apa yang ia rencanakan? Kiba kembali mengarahkan pandangan matanya kepada gadis itu. Sekarang, dia tengah berdiri sendirian di sudut keramaian. Jemarinya tengah menelusuri kue-kue kecil yang dihidangkan di meja-meja cantik.
"Lihat kesana, Naruto."
Aku mengikuti informasi yang diberikan Kiba. Tampak seorang waiter tengah menghampiri gadis itu dengan gelas-gelas wine yang tertata di nampannya. Aku terperanjat.
Kiba masih terkekeh menantikan rencananya berjalan.
"Kau…"
Kiba menoleh padaku dengan heran. "Hei, kau jangan tegang begitu, Na-Oi! Naruto!"
Aku tak lagi mendengar seruan yang dari Kiba. Yang kulihat, hanyalah sosok gadis itu yang terlihat semakin jelas. Mata beningnya yang tenang. Ekspresi dinginnya yang bergerak perlahan berbalik. Dan raut wajah terkejutnya saat bertukar pandang denganku.
"Namikaze-san?"
Yah, hanya itu.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
"Selamat datang kembali, Hinata-sama."
Aku menoleh pada bibi pengasuh yang sudah mengikuti keluarga kami sejak aku lahir. Aku tersenyum membalas sapaannya dan merapihkan sepatuku di rak sepatu. Bibi langsung menyiapkan sandal yang biasa kupakai di dalam rumah. Setelah memakainya aku berjalan menuju kamarku.
Aku melepas seragamku satu persatu dan mengambil yukata santai yang kupakai sehari-hari. Aku mengikat stagen di luar balutan obi-ku. Menggelung rambut panjangku membentuk sanggulan rapi dan memperkuatnya dengan setangkai tusuk rambut.
Setelah itu, aku keluar kamar dan berjalan menuju sebuah ruangan besar yang merupakan bagian utama dari rumah ini. Aku duduk bersimpuh untuk membuka pintu ruangan dan mengabari kedatanganku.
"Aku pulang, Otou-sama."
"Pergilah ke ruang barat. Guru sado-mu sudah datang."
"Baik, Otou-sama."
Sado- upacara minum teh, adalah salah satu rutinitas yang harus kulakukan sebagai putri sulung keluarga Hyuuga. Selain sado, aku harus belajar ikebana, tari tradisional, dan judo. Aku memang mempelajari judo sebagai langkah pertahanan diri, tapi bukan berarti aku ahli dalam hal ini.
"Onee-sama," aku menoleh pada sosok gadis yang memiliki mata serupa denganku. Ia adalah Hanabi, adikku. Ia mewarisi segala hal yang dimiliki ayahku. Rambut hitam, keahlian judo, dan kepercayaan diri. Tiga hal yang tidak kutemukan pada diriku.
"Ne, onee-sama." Hanabi menghampiriku dengan wajah antusias. "Otou-sama sudah memberitahu?"
"Otou-sama? Tentang apa?"
Wajah Hanabi berubah malas. "Belum, ya?" Aku menggeleng sebagai jawaban. Apa ayahku berniat mengatakan sesuatu tanpa sepengetahuanku?
"Teman Otou-sama mengadakan pesta kebun dalam waktu dekat."
"Ah, lalu? Bukannya itu hal biasa?"
"Ckckck, bukan hanya itu." Hanabi berdecak sambil menggerak-gerakkan telunjuknya. "Kali ini onee-sama wajib ikut."
"Eeeeh," aku tak bisa menutupi rasa heranku. Selama ini, aku dan Hanabi tidak pernah mengikuti Ayah ke pesta setiap koleganya. "Bagaimana denganmu?"
"Kata Otou-sama, aku masih tidak perlu ikut."
Aku tak mampu menanggapi kabar penting yang diberikan Hanabi. Aku hanya bisa menjalankan kursus sado-ku dengan terus memikirkan perubahan yang terjadi padaku.
Dan, hari yang dibicarakan pun datang. Aku benar-benar harus menghadiri acara ini. Aku memakai kimono yang telah disiapkan. Kimono baru yang berbahan ringan, sehingga tidak terasa gerah saat memakainya di awal musim panas seperti ini.
Aku memperhatikan sekelilingku saat tiba di kediaman yang lumayan megah itu. Banyak orang yang memperlihatkan kelasnya dengan busana yang dikenakannya.
"Jaga pandanganmu, Hinata. Kau tidak boleh memperlihatkan wajahmu ke sembarang orang."
Perintah dari ayahku menyadarkan tingkahku. Aku langsung menundukkan wajahku agar tidak tampak seperti tengah memburu sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya.
"Ah, Hyuuga-san. Bagaimana keadaan anda?" Aku mendengar salah seorang kolega Ayah menyapa. Aku melirik sekilas dengan ujung mataku dan kembali menjaga pandanganku.
"Ini putrimu?"
"Hinata, beri salam pada teman Ayah."
Aku membungkuk sebagai salam formal yang selalu diajarkan guru Tata Krama-ku. Kemudian, ayah mengobrol sejenak sebelum kembali berjalan. Aku diperkenalkan beberapa kali pada teman-teman ayah. Sampai…
"Hinata, tunggu disini sebentar." Ayah meninggalkanku untuk mengikuti salah seorang koleganya. Aku menghela napas lega dan melihat sekelilingku dengan hati-hati. Aku memperhatikan kue-kue cantik yang tersusun rapih di meja. Tanganku terulur mengambil salah satu kue itu dan memakannya.
Wajahku pasti langsung terlihat aneh. Kue ini sangat enak sampai aku tak bisa menutupi rasa bahagia di wajahku. Aku mencoba kue yang lain dan kembali merasakan lumernya kue di lidahku.
Saat aku kembali mencari kue lain yang terlihat enak, aku merasakan ada yang tengah mendekatiku. Aku menoleh dan menemukan sosok yang tidak asing.
"Namikaze-san?"
Pemuda yang sebaya denganku itu terlihat seperti marah, tapi matanya yang biru tampak sangat lembut. Ia menatapku tajam seolah bisa menelanku. Aku bergidik ngeri. Namun, mendadak ekspresinya berubah. Entahlah, seperti merasa lega? Aku tidak mengerti.
Ia lantas menoleh pada waiter yang entah sejak kapan berada di dekat kami. Ia menyambar gelas yang dibawa waiter itu dan menenggaknya habis dalam kecepatan tinggi. Ia menghela napas panjang dan meletakkan gelas itu kembali ke nampan.
Aku mengernyit heran. Ada apa dengan pemuda ini? Sekarang, ia malah menunduk dengan menumpukan kedua tangannya di meja. Ia bernapas dengan keras seperti yang dilakukan orang setelah berolahraga. Apa dia baik-baik saja?
"Namikaze-san? Daijoubu ka?"
Ia membalas pertanyaanku dengan menatapku lewat ujung matanya. Keningku kembali berkerut. Ia membuka mulutnya berniat mengeluarkan suara. Aku mendekatinya agar bisa mendengar kata-kata yang ingin ia ucapkan.
"Hinata. Apa yang sedang kau lakukan?"
Aku terperanjat. Aku menoleh dan menemukan ayahku sudah kembali. Aku langsung menunduk dan menghampiri ayahku.
"Otou-sama…"
"Aku bilang apa tentang menjaga pandangan? Apa kau lupa? Apa-"
"Tidak ada apa-apa, Hyuuga-san."
Aku menoleh sekilas untuk melihat ekspresi Namikaze. Ayahku mendengus tidak senang.
"Jangan berniat ikut campur, Namikaze." Ayahku membalas dingin.
"Justru karena aku tidak berniat terlibat, aku meluruskan salah paham ini."
Aku tak berani mengangkat wajahku. Aku merasakan kemarahan ayahku dari suasana yang terbentuk.
"Aku tidak ingin menjadi alasan anda 'mendisiplinkan' putri anda, apalagi untuk sesuatu yang tidak terjadi."
Aku merasakan ayahku tengah menahan kemurkaannya. Ini lebih menyeramkan daripada menghadapi ratusan film horor yang bahkan covernya tak berani kulihat.
"Ini alasan mengapa Ayah tak pernah suka dengan Namikaze."
Dan itu melengkapi kengerian malam ini.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Selama bertahun-tahun menuntut ilmu di institusi yang sama, tak pernah sekalipun terlintas di benakku, bahwa aku akan melewati situasi seperti ini.
"Jangan terlibat dengan Namikaze. Ini perintah, Hinata."
Aku hanya bisa menghela napas mendengar ayah kembali mengungkit peristiwa pesta yang terjadi dua minggu yang lalu. Tak terhitung berapa kali beliau memberikan perintah ini padaku. Aku mengangguk dan memberi hormat sebelum beranjak untuk berangkat ke sekolah.
Aku tidak mengerti kenapa ayahku sangat membenci Namikaze dan keluarganya. Walaupun aku juga tidak punya alasan untuk membuat ayah merubah pikirannya mengenai hal itu. Hanya saja, aku juga tak pernah memikirkan bahwa aku akan 'terlibat' dengannya, seperti yang ayahku takutkan.
"Kyaa! Coba lihat itu Naruto-oujisama!"
Aku melirik ke arah pusat keramaian yang terbentuk akibat sosok Namikaze yang memasuki areal sekolah. Namikaze tampak bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya dan tertawa dengan santai. Dia juga dengan ringannya melontarkan pukulan atau tendangan pada temannya dan ditanggapi sebagai candaan lumrah bagi kawanan pria.
"Kau memperhatikan apa?"
Suara itu terdengar sangat dingin. Aku menoleh dan menyadari ada sesosok gadis yang tengah menatapku dengan ekspresi aneh. Aku mengernyit heran. Apa dia bicara padaku?
"Jangan balas menatapku dan mengacuhkan pertanyaanku! Kau. Ya, Kau. Jangan melihat Ouji-sama dengan tatapan merendahkan seperti itu!"
Merendahkan? Dia bicara apa, sih?
Kenapa dia mengatakan hal yang tidak kumengerti? Untuk apa aku merendahkan Namikaze? Bahkan, aku sama sekali tak tahu apapun tentang dirinya. Dalam hal apa aku bisa merendahkannya?
"Sudah kubilang jangan mengacuhkanku! Dasar aneh!"
Brak.
Aku memegangi bahuku yang disenggol gadis itu. Aku bingung. Kenapa orang-orang di sekitarku selalu mengira aku mengenal baik Namikaze? Ayahku berpikir, aku 'dekat' dengannya. Sementara gadis itu berpendapat, aku merendahkannya.
Padahal, yang kutahu, aku selalu berada di tempat yang berlawanan dengannya. Jika dia suka berada di tengah keramaian, maka aku lebih suka menjauhi keramaian. Jika dia suka berkegiatan di luar ruangan, aku memilih untuk berada di dalam ruangan.
Kami hanya terlalu berbeda. Hanya itu.
Hal lain yang membuatku bingung adalah betapa seringnya aku berselisih jalan dengannya akhir-akhir ini. Memang, tak ada yang berubah. Kami sama sekali tak bertukar sapa seperti yang dilakukan yang lain padaku. Aku berjalan menuju ruang kesehatan, sementara dia bersenda gurau dengan para sahabatnya. Tak ada yang lebih.
Aku membuka buku catatan harian yang kutulis setiap kali berada di ruang kesehatan. Kembali menulis setiap rincian kegiatan yang kualami sebelumnya. Mengingat rasa syukur yang semakin bertambah dengan semua nikmat yang telah kuterima.
Aku merasakan senyumku melebar. Aku merasakan semilir angin melewatiku dari celah jendela yang tak tertutup sempurna. Aku lantas berjalan dan memanjakan mataku dengan pemandangan taman belakang sekolah yang hangat. Jemariku membuka kaca yang membatasi keindahan itu dan membiarkan semakin banyak angin yang melintas.
"Lho? Hyuuga? Kamu masih di sini?"
Aku menoleh dan menemukan sesosok wanita yang bertugas menjaga ruang kesehatan, Kurenai-sensei.
"Ah, Kurenai-sensei. Ini hari yang indah, ya."
Kurenai-sensei menghela napas. "Iya, ini hari yang indah. Tapi kamu tidak bermaksud bolos pelajaran, kan?"
Aku mengernyit heran. "Eh?"
"Ini sudah lewat jam makan siang. Kamu tidak kembali ke kelasmu?"
Aku terperanjat. "Aah! Aku pergi dulu, sensei! Arigatou!"
Aku langsung berlari keluar ruang kesehatan.
"Jangan berlari di koridor, Hyuuga-san."
Aku mengangguk dan mulai berjalan dengan secepat yang kubisa.
Semoga aku tidak terlambat. Asuma-sensei bisa marah besar. Hiiieee~
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Sinar matahari yang berada tepat di atas kepala semakin menyengat. Dentuman bola basket yang beradu dengan lapangan bergema di gendang telinga. Suara pekikan gadis-gadis menambah riuh suasana. Peluh pun mulai mengalir deras. Tapi, senyum lebarku seakan tak pernah habis.
Aku berlari dengan mendribble bola oranye yang setia mendampingiku. Melewati pria berambut coklat yang mengeluarkan seringaiannya. Aku mencoba melempar bola menuju keranjang.
Brak.
"Yes!"
Terdengar suara desahan kecewa. Aku mendelik pada Kiba yang malah bersorak kenang dan tertawa terbahak-bahak.
"Wah, kau tidak dalam kondisi baikmu, ya 'Naruto-oujisama'? Hahaha…." Kiba semakin keras tertawa dan memukul bahuku. Aku menghela napas panjang dan mengusap keringat di wajahku dengan kaus oblong yang kukenakan.
"Kau mau?"
Aku menoleh pada Gaara. Pemuda berambut merah itu menyodorkan handuk dan sebotol air mineral dingin. Aku langsung menyeringai lebar.
"Tentu saja. Thanks, Gaara."
Aku mengambil benda-benda yang diberikan Gaara. Saat tangan kami bersentuhan, tiba-tiba suara pekikan para siswi mengagetkanku.
"Kyaaaaaaa! Naruto-oujisamaaa! Gaara-samaa! Kalian keren sekali!"
Aku mengernyit heran. Ada apa? Kenapa tiba-tiba mereka antusias sekali?
Aku mendekati Gaara dan berbisik, "Apa ada yang aneh, ya?"
"Kyaaaa! Fan service!"
"Sekali lagi dong!"
Aku merasakan bahuku lemas. Ini kenapa sih?
Kiba kembali tertawa. "Mungkin mereka habis membaca fiksi aneh. Lupakan saja. Ayo ke kantin!"
Aku menggaruk belakang kepalaku dengan bingung. Tapi, aku tetap mengikuti Kiba menuju area kantin. Aku berjalan di samping Gaara dan membiarkan Kiba sedikit melompat-lompat membayangkan menu yang akan ia pesan di kantin.
Dan, aku kembali menemukan sosoknya. Mataku lebih cepat menemukannya akhir-akhir ini. Dia membawa beberapa buku dipelukannya. Matanya hanya menatap jalan yang ia lalui. Rambutnya terurai dan bergerak perlahan ditiup angin. Dan, angin pun menerbangkan aroma buah dari tubuhnya.
Aku meliriknya dari ujung mataku hingga dia benar-benar lepas dari penglihatanku. Ng, dia siapa? Dia, Hyuuga Hinata.
Plak.
Sial. Aku mendelik ke arah Kiba yang melayangkan tangannya ke bagian belakang kepalaku. Aku menendang kakinya sebagai balasan. Dia malah tertawa ringan seakan tidak merasa sakit.
"Kau kenapa, sih?"
Aku melirik ke arah Kiba dengan malas. Dia duduk di hadapanku sambil melemparkan pandangan ke beberapa siswi yang melambaikan tangan padanya.
"Apanya yang kenapa?"
Kiba berbalik dan menatapku dengan sorot mata setengah serius-setengah malas.
"Kau tidak sadar, hah? Selama beberapa hari ini kau sering tiba-tiba melamun. Kau menolak gadis-gadis yang mendekatimu. Dan, di pesta kemarin, kau menolong Nona Besar. Kalau aku tidak mengenalmu, pasti aku akan mengira kau jatuh cinta padanya."
Aku terbelalak. "Haaaah?"
"Benar?" Aku menoleh pada Gaara yang tengah mengeluarkan ekspresi tak terbaca.
"TIDAK!"
Kiba mengerling. "Semakin kau mengelak, semakin mencurigakan."
PLETAK
Aku melempar bekas bungkus sandwich yang dibeli Gaara ke wajah Kiba. Gaara masih memberikan wajah tanpa ekspresinya padaku.
"Tidak. Apapun itu, saat ini aku tak punya perasaan padanya."
Kiba terkekeh. "Jangan sampai melakukan hal bodoh, ya."
"Kau yang jangan bicara bodoh."
Aku? Jatuh cinta pada Nona Besar? Saat ini?
Tidak. Aku tidak jatuh cinta padanya. Saat ini.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Aku memutar pena di tanganku dengan malas. Suara pria paruh baya-Asuma-sensei- tak lagi kudengar dengan serius. Digantikan dengkuran Kiba yang berada tepat dibelakangku. Sementara Gaara masih menatap tablet PC yang menampilkan grafik-grafik aneh yang tak ingin kuketahui fungsinya.
Aku melirik ke arah luar jendela dan memperhatikan beberapa murid yang tidak memasuki kelas. Ada yang memakan bento, duduk di bawah pohon sambil mengobrol, dan… ah. Gadis itu.
Dia sedang tidak ada kelas juga, ya? Dia berjalan dengan santai sambil memeluk beberapa buku tebal. Rambut birunya yang terurai, bergerak seirama dengan langkah kakinya.
"Eh?" Dia berhenti? Ada apa?
Dua perempuan yang tidak kukenal mendekati gadis itu. Temannya? Dia punya teman juga, to-
"Eeh?" Gadis itu di dorong sampai terjatuh dan ditinggal begitu saja. Gadis itu tidak menoleh pada dua perempuan yang mendorongnya. Ia hanya mengambil bukunya dan kembali berjalan.
"Apa-apaan sih? Wanita itu makhluk yang mengerikan, ya."
"Tidak juga."
"Aku tidak mengerti apa yang mereka pikirkan sebenarnya."
"Mau ku ajarkan?"
"Kau ini bicara apa, Ki-"
Eh? Kiba masih tertidur. Lalu yang bicara denganku tadi-
DEG!
Aku menoleh dengan takut dan menemukan Asuma-sensei sedang menyeringai sambil menggulung textbook yang ia pegang. Aku tersenyum dengan cemas.
"Ah, se-sensei mau mengajarkan?"
Asuma kembali menyeringai lebar.
BUG!
BUG!
BUG!
"Aak!"
"Aiyaaah!"
"Ugh!"
"Temui aku di ruanganku nanti."
"Haik, sensei."
Aku mengusap bagian belakang kepalaku. Gaara mengaduh kesakitan sambil mengurut dahinya. Sementara Kiba, dia terbangun sejenak, menoleh ke kanan dan ke kiri, dan kembali tertidur.
BUAG!
"Aiyaaaaah!"
"BANGUN, INUZUKA!"
Sepertinya hari ini kami akan menghabiskan waktu lebih lama di sekolah. Adududuh, Asuma memukul dengan sekuat tenaga, nih.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
"Pulang bersama Alice,"
"Mengecek saham,"
"Karaoke dengan Cindy dan Luna,"
"Mengecek saham,"
"Lalu menemani Kimmy belanja,"
"Mengecek saham,"
"Dan terakhir makan malam dengan Chloe…."
"Mengecek saham,"
"Semua hal itu bisa berjalan lancar, seharusnya. Tapi gara-gara ulah seseorang, aku malah terjebak di sekolah lebih lama,"
"Me-"
"INI BUKAN CUMA SALAHKU, KAN!" hardikku pada Kiba yang terus-terusan menggerutukan jadwalnya sepulang sekolah. "Dan, Gaara, kau juga jangan mengulang kata-kata yang sama berkali-kali! Kau membuatku gila."
Kiba hanya bersiul-siul tanpa merasa bersalah. Sedang Gaara memandangku dengan tatapan datar. Aku menghela napas.
Bruk.
Aku meletakkan kardus buku yang diperintahkan Asuma-sensei untuk dibawa ke perpustakaan. Kiba dan Gaara mengikuti.
"Haaah, masa kita masih harus merapihkan buku-buku ini. Lalu, apa yang dikerjakan pengurus perpustakaan?" keluh Kiba lagi.
Gaara melihat sekilas ke arah papan pengumuman. "Sepertinya, hari ini mereka libur."
"Heeeee, aku mau kencaaaan…" gerutu Kiba kesal.
"Aku mau mengecek sahamku lagi…" Gaara menggumam lirih.
Aku menggaruk bagian belakang kepalaku. Dan, mungkin menyesali keputusan yang akan kubuat.
"Kalian pulang saja."
Ya, kan?
Mata Kiba langsung berbinar seperti mata Akamaru saat kuberi biskuitnya. Ia juga tersenyum lebar.
"Aku mencintaimu, Naruto!"
"Gyaaaaa!"
…dan dia mencium pipiku. Yakk, menjijikkan.
"Bai bai! Naru-chan! Gaara-chan!"
Tanpa mempedulikan apakah kami membalas salamnya atau tidak, Kiba langsung melesat keluar perpustakaan sambil sedikit menari-nari.
"Apa tidak apa-apa?"
"Ng, kau masih disini, Gaara? Tidak apa-apa. Lagipula, dia juga tidak akan membantu sama sekali. Kau juga pulang saja."
"…aku juga tidak akan membantu?"
Aku mengusap leher belakangku. "Tidak, bukan begitu. Hanya saja, aku lebih mudah mengerjakannya sendiri."
Gaara kembali mengeluarkan ekspresi yang tidak kumengerti. "Kau lebih mudah kalau sendiri?"
Yah, dia merajuk.
"Kau juga ada yang harus dilakukan, kan? Serahkan saja yang ini padaku. Ya?"
Gaara mempertahankan ekspresi andalannya.
"Bukan karena aku menyebalkan, kan?"
Ha ha ha. "Bukan."
Gaara akhirnya berbalik dan meninggalkan perpustakaan. Setelah dia benar-benar tidak terlihat, aku menghela napas. Jadi sepi. Tapi, entah kenapa. Beda seperti dulu, ini terasa lebih nyaman.
Sejak kapan, aku jadi penyendiri seperti ini?
Aku sejak kecil selalu dikelilingi orang-orang yang menyayangiku. Mendapatkan semua yang kumau seakan sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan, sebelum kuminta mereka sudah memberikannya padaku. Barang, pelayanan, bahkan cinta.
Aku selalu menjadi penerima. Aku belum pernah memberikan sesuatu pada seseorang sebelumnya. Tapi, saat ini…
Ah, aku menemukan dia lagi. Kenapa aku selalu menemukan sosoknya lebih dulu. Padahal, dia ada dibalik barisan rak-rak buku. Menunduk menatap sebuah buku dan menulis sesuatu di atasnya.
Deg!
Aku harus merapihkan buku-buku yang diberikan Asuma. Aku mulai membuka kardus pertama. Mencoba mengurutkan sesuai abjad dan menaruhnya di rak buku baru. Begitu juga dengan kardus kedua dan ketiga. Diawali dengan menyortir, dan dilanjutkan dengan meletakkan di rak-rak.
Aku mencoba menyibukkan diriku dengan kegiatan. Namun, mataku sesekali melirik ke arahnya yang tengah mencatat sesuatu. Rona wajahnya tertutupi poni panjang yang tidak tersangkut di telinganya.
Tangannya beberapa kali mengusap hidungnya, mungkin karena dingin. AC di perpustakaan memang terkadang bisa terasa sangat dingin. Terutama saat musim panas seperti sekarang. Saat semua jendela tertutup agar tak ada hawa pendingin yang terbuang sia-sia.
Kakinya mengetuk-ngetuk. Menciptakan suara lirih yang terdengar hingga tempatku berdiri. Suara hentakannya seakan seirama dengan detakan jam dinding yang memenuhi ruangan. Suara-suaran yang terkesan bagai paduan suara. Merdu.
Eh? Kenapa aku terdengar bak pujangga?
Heeh? Pilihan kata macam apa tadi? Bak Pujangga? Hiie.
Aku menggeleng keras. Mengusir pikiran-pikiran yang mulai terlintas di benakku. Aku melanjutkan pekerjaanku sebelum matahari terbenam. Aku lebih baik cepat sebelum aku semakin gila.
Aku menaruh buku-buku itu dengan kecepatan penuh. Namun, tumpukannya seakan tidak habis-habis. Aku menghela napas dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5. Sudah hampir dua jam sejak Gaara dan Kiba pulang.
Aku meletakkan buku terakhir dan berniat beranjak pulang. Lagipula, gadis itu pasti sudah pulang juga.
Aku berjalan menuju pintu perpustakaan. Sesaat sebelum aku menyentuh kenopnya, aku melirik untuk terakhir kali ke arah gadis itu mencatat.
Eh? D-dia tertidur? Lagi?
Aku melangkahkan kakiku dengan tidak percaya. Apa pengaruh pendingin ruangan? Atau memang gadis ini suka tidur? Tapi, aku belum pernah melihat perempuan yang hobi tidur sebelumnya. Apa dia kelelahan? Atau, jangan-jangan dia sakit?
Lama-kelamaan, aku mempercepat langkahku hingga aku berada di depannya.
Suara dengkuran halus terdengar dari bibirnya. Hidungnya terlihat sedikit memerah. Namun, pipinya tampak normal. Apa dia memang flu?
Aku mengulurkan tanganku menuju dahinya. Memeriksa suhu tubuhnya. Seuai dugaan, kulitnya lembut sekali. Tapi terasa dingin.
"Ngg…hfffft…" dia menggeram dan mendengus lirih. Lalu kembali tenang.
Aku mengambil blazer yang tadi siang kulepaskan karena panas matahari yang terik. Dan memasangkan di punggungnya.
Aku kemudian mengambil kursi di hadapannya. Dan duduk dengan menyandarkan daguku di lenganku yang terlipat diatas meja. Aku memandang wajahnya yang tampak damai.
Aku merasakan bibirku tertarik membuat senyuman. Aku merasa…nyaman? Entahlah. Aku tidak begitu mengerti. Yang pasti, aku suka perasaan ini. Rasanya, sedikit hangat.
to be continued~
alohaaaaaaaa~
Absurd : oh, Author-san. sudah tidak sibuk?
hahahahaha.. sibuk itu cuma masalah manajemen waktu. ckckckc
Simply : oh, tugas strukturmu udah kelar, Thor?
kok, manggilnya kayak tokoh superhero di *piiip -_-
tugas? tentu saja...belum LAH
Simply : kok bangga?
Absurd : sudah, sudah, balas review yang masuk yuk
kirei neko: aku juga belum ngerti mau dibawa kemana... hahahahaha *gimana sih
shin jun : aaah, makasiiiih ^^
smile-delight : sip, apdet
Vicestering : gapapa, saya juga masih bingung #plak *dihajarsimply
oke, makasih yg udah review atau nge-fav dan semacamnya
sekarang saya mau hibernasi dulu
Simply : tugas buat deadline besok, udah belum? belajar buat UTS besok udah belum? tugas dan bahan ujian buat lusa udah belum?
GYAAAAAAAAAAAAA!
#matimengenaskan
