Saat ini, aku tak lagi bisa membedakan antara apa yang harus kulakukan dengan apa yang kuinginkan. Antara hasrat dan akal sehatku. Antara dirinya dengan semua yang telah kumiliki. Aku hanya bisa terus melangkah. Di jalan yang tak kuketahui ujungnya.

Last Chance, Last Hope

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Hurt/Comfort, Drama

Pairing : NaruHina

Rated : T(eens)

Warning : semoga tidak typo, AU, OOC

Don't like? Just review ^v^

.

.

.

Tangannya beberapa kali mengusap hidungnya, mungkin karena dingin. AC di perpustakaan memang terkadang bisa terasa sangat dingin. Terutama saat musim panas seperti sekarang. Saat semua jendela tertutup agar tak ada hawa pendingin yang terbuang sia-sia.

Kakinya mengetuk-ngetuk. Menciptakan suara lirih yang terdengar hingga tempatku berdiri. Suara hentakannya seakan seirama dengan detakan jam dinding yang memenuhi ruangan. Suara-suaran yang terkesan bagai paduan suara. Merdu.

Eh? Kenapa aku terdengar bak pujangga?

Heeh? Pilihan kata macam apa tadi? Bak Pujangga? Hiie.

Aku menggeleng keras. Mengusir pikiran-pikiran yang mulai terlintas di benakku. Aku melanjutkan pekerjaanku sebelum matahari terbenam. Aku lebih baik cepat sebelum aku semakin gila.

Aku menaruh buku-buku itu dengan kecepatan penuh. Namun, tumpukannya seakan tidak habis-habis. Aku menghela napas dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5. Sudah hampir dua jam sejak Gaara dan Kiba pulang.

Aku meletakkan buku terakhir dan berniat beranjak pulang. Lagipula, gadis itu pasti sudah pulang juga.

Aku berjalan menuju pintu perpustakaan. Sesaat sebelum aku menyentuh kenopnya, aku melirik untuk terakhir kali ke arah gadis itu mencatat.

Eh? D-dia tertidur? Lagi?

Aku melangkahkan kakiku dengan tidak percaya. Apa pengaruh pendingin ruangan? Atau memang gadis ini suka tidur? Tapi, aku belum pernah melihat perempuan yang hobi tidur sebelumnya. Apa dia kelelahan? Atau, jangan-jangan dia sakit?

Lama-kelamaan, aku mempercepat langkahku hingga aku berada di depannya.

Suara dengkuran halus terdengar dari bibirnya. Hidungnya terlihat sedikit memerah. Namun, pipinya tampak normal. Apa dia memang flu?

Aku mengulurkan tanganku menuju dahinya. Memeriksa suhu tubuhnya. Seuai dugaan, kulitnya lembut sekali. Tapi terasa dingin.

"Ngg…hfffft…" dia menggeram dan mendengus lirih. Lalu kembali tenang.

Aku mengambil blazer yang tadi siang kulepaskan karena panas matahari yang terik. Dan memasangkan di punggungnya.

Aku kemudian mengambil kursi di hadapannya. Dan duduk dengan menyandarkan daguku di lenganku yang terlipat diatas meja. Aku memandang wajahnya yang tampak damai.

Aku merasakan bibirku tertarik membuat senyuman. Aku merasa…nyaman? Entahlah. Aku tidak begitu mengerti. Yang pasti, aku suka perasaan ini. Rasanya, sedikit hangat.

.

~Simply Absurdity~

.

Terdengar suara tawa nyaring yang ditahan. Desau napas orang-orang yang sedang berusaha mencari pembicaraan tanpa menaikkan volume suara. Yang terdengar dengan jelas hanya pengarahan dari yang tertua di ruangan ini. Teori ilmu hitung yang setiap katanya sulit kuikuti.

Aku menghela napas.

Ibiki-sensei tak kunjung mengurangi kecepatannya berbicara. Langkah demi langkah penyelesaian tak lagi bisa kukejar. Yang ketangkap hanyalah kata-kata seperti 'persamaan', 'kalikan', lalu tambahkan', dan akhirnya 'jadi hasilnya sekian'.

Ah, aku tak sempat mencatat lagi. Dan, aku juga tidak bisa menangkap apa yang dikatakan Ibiki-sensei.

"…Kalian yang dibelakang."

Eh? Aku menoleh pada arah pandangan Ibiki-sensei. Dua siswi sedang tertunduk takut. Ibiki-sensei meletakkan buku panduan yang ia pegang di meja dan berjalan mendekati dua siswi tadi.

"Tidak hanya mengacuhkan pelajaranku, kalian juga membawa benda-benda aneh ke dalam kelasku?" Ibiki-sensei mengambil suatu benda berukuran kecil dari meja dua siswi tadi. Seisi kelas memperhatikan kedua siwi yang tak berani melawan ataupun membantah.

"Kalian ini, kalau saja kalian mendapat nilai akhir yang baik, aku tidak akan mempermasalahkan benda ini." Ibiki-sensei menggoyang-goyangkan benda yang seperti sebuah tabung yang berukuran kecil itu. Lipstik? Atau parfum?

"Maaf, sensei."

Ibiki-sensei menghela napas. "Aku tidak akan membiarkan hal ini terulang. Kalian ikut aku ke ruang guru."

Ekspresi kedua siswi itu menegang. Separuh kelas meringis kasihan. Ada pula yang acuh tak acuh. Sedang Ibiki-sensei membereskan peralatan mengajarnya sambil sedikit mengeluarkan kalimat-kalimat keluhan.

"…Cobalah sedikit meniru Hyuuga."

Eh? Aku?

"Hyuuga tidak pernah bertindak di luar tata krama. Dan nilainya juga tidak buruk. Kenapa kalian tidak mengambil contoh baik seperti dia?"

Kenapa aku jadi di bawa-bawa? Aku bukannya ingin jadi anak baik, hanya saja, aku tidak mengerti hal-hal seperti itu. Nilaiku juga… tidak bisa dibilang bagus, walau memang tidak merah.

Kalau sensei melibatkanku, posisiku kan jadi tidak enak.

.

~SIMPLY ABSURDITY~

.

"Hei, Nona Besar kesayangan Guru-Guru."

Aku menengadah dan menemukan dua teman sekelasku tadi sudah berada di depanku. Dia memanggilku apa tadi? Nona Besar? Kesayangan Guru-Guru? Siapa? Aku? Benarkah?

Aku menoleh ke kanan dan kiriku. Tidak ada siapa-siapa selain aku. Yang mereka maksud benar-benar aku?

"Jangan berlagak pilon! Yang kami maksud memang kau!" salah seorang dari mereka mulai membentak.

"Aku bukan kesayangan guru-guru…"

"Bukan cuma itu yang ingin kami katakan!"

"Kau itu benar-benar menyebalkan, ya. Bukan cuma merendahkan Naruto-oujisama, kau juga berniat memakai guru sebagai tameng, hah!"

Naruto? Namikaze?

"Apa hubungannya Namikaze-"

"Jangan membantah!"

Aku memutuskan untuk tidak membalas. Sepertinya mereka memang tidak berniat mendengarku. Mereka hanya ingin melampiaskan kekesalannya padaku.

"Kamu pikir kami tidak tahu, hah? Jangan pikir dengan Naruto-oujisama memperhatikanmu, kau boleh merendahkannya! Naruto-oujisama itu baik pada semua orang tahu!"

Keningku mengernyit heran. Dia bicara apa sih?

"Jangan mengacuhkanku!"

BRUK

"…kya!"

Aduh. Bahuku sakit. Dan bokongku membentur lantai lumayan keras.

Aku menghela napas lagi.

Yang berpikir dia memperhatikanku dan aku merendahkannya memang siapa? Aku tidak pernah merasa kedua hal itu terjadi. Ada apa dengan siswi-siswi di sekolah ini, sih? Tidak bisakah aku melewati kehidupan SMA yang tenang?

Aku berusaha bangun dan membersihkan seragamku dari pasir dan tanah yang menempel. Aku mengusap bagian belakangku yang mulai sedikit terasa nyeri. Tampaknya aku harus ke ruang kesehatan untuk alasan berbeda hari ini.

Aku berjalan pelan melewati koridor dan memasuki ruangan oasis-ku. Kurenai-sensei tampak sedang mengisi buku laporan di meja kerjanya.

"Konnichiwa, sensei."

"Ah, Konnichiwa, Hyuuga-san." Kurenai-sensei tersenyum lebar saat membalas sapaanku. "Ada apa? Hari ini bukan jadwalmu yang menjaga, kan?"

Aku terkekeh ringan. "Tidak ada, sensei. Hanya saja aku tadi terpeleset saat ingin duduk, jadinya…agak sedikit sakit."

"Terpeleset? Kau baik-baik saja, kan? Yang sakit kakimu?" Kurenai-sensei menghampiriku dengan raut wajah khawatir.

"Ah, bukan…kaki."

Kurenai-sensei mengernyit heran. "Bukan kaki?"

"Iya, bukan kakiku."

"Jadi…? Ah." Kurenai-sensei memasang raut wajah mengerti dan tersenyum miris. "Mau di obati?" Kurenai-sensei lantas mengerling jahil.

"Tidak perlu, aku harus mencatat pelajaran tadi. Aku tidak sempat mengikuti penjelasan Ibiki-sensei di kelas."

"Ah, tapi sebentar lagi sudah waktunya pergantian shift. Ruangan ini akan penuh dengan siswa."

Aku tak bisa menyembunyikan rasa kecewaku. "Baiklah, tampaknya aku memang harus ke perpustakaan. Sekalian mencari buku referensi."

"Maaf ya, Hyuuga-san."

"Tidak apa, sensei. Aku permisi dulu."

Setelah mengucapkan salam, aku melangkah keluar ruang kesehatan dan berjalan menuju perpustakaan.

Aku membuka pintu perpustakaan dan melirik ke dalam. Aku masuk setelah memastikan ruangan ini tidak sedang dipakai orang banyak. Setelah itu, aku mencari tempat yang nyaman untuk menyalin dan mempelajari materi yang di ajarkan Ibiki-sensei.

Aku membuka buku pelajaran dan buku catatanku. Pertama-tama, aku menyalin bagian-bagian penting yang kuingat dari penjelasan Ibiki-sensei tadi. Dan, kalau tidak salah, beliau mengatakan sesuatu tentang sin dan cos. Atau sesuatu yang berhubungan dengan benda putar. Atau luas daerah, ya? Aku meringis karena tidak mampu mengingat. Apa sebaiknya aku mencari buku referensi mumpung berada di perpustakaan? Mungkin sebaiknya begitu…

"INI BUKAN CUMA SALAHKU, KAN!"

Aku tersentak dan menoleh ke arah pintu masuk perpustakaan. Namikaze? Dia bersama Inuzuka dan Sabaku. Mereka kenapa berada di perpustakaan? Dan kenapa mereka membawa kardus? Itu kardus apa? Buku baru, kah?

Ngg? Sepertinya, dia sedang mengomel. Dan…

"Aku mencintaimu, Naruto!"

"Gyaaaaaa!"

Ah, Inuzuka mencium pipi Namikaze. Dan terlihat jelas wajah Namikaze yang berubah jijik. Kemudian Inuzuka melambaikan tangannya dengan semangat sambil berlari pergi.

"Hmph~" aku membungkam mulutku yang ingin mengeluarkan tawa. Mereka tampak akrab sekali. Aku memutuskan untuk kembali mencatat saat melihat Namikaze dan Sabaku mengobrol.

.

~SIMPLY ABSURDITY~

.

"Ngghh…"

Buram.

Aku mengangkat wajahku dan terdiam sejenak. Apa aku tertidur lagi? Aku mengusap mataku dan memukul pipiku. Tiba-tiba aku merasakan hawa dingin yang menusuk. Tanpa sadar aku langsung memeluk diriku sendiri dan mencengkram bahuku.

Eh? Ini apa? Aku melepaskan kain yang menempel di bahuku. Aku mengernyit melihat benda yang tidak asing itu. Blazer?

"Enngh~"

Aku melonjak kaget. Ada sesosok pria yang tengah tertidur dengan kepala menempel pada meja. Aku menatap rambut pirang yang tampak bercahaya di bawah cahaya yang masuk lewat jendela. Itu siapa? Tidak mungkin Namikaze, kan? Tidak mungkin, kan? Ti-

"Ng?" Dia bersuara lagi dan mengangkat kepalanya. Aku merasakan mataku membulat kaget. Ini tidak nyata, kan? Ini bukan kenyataan, kan? Yang dihadapanku ini. Yang tengah memandang ke arahku dengan tatapan kosong ini. Yang baru terbangun dari tidurnya ini. Tidak mungkin benar-benar Namikaze, kan?

"Namikaze?"

Aku menutup mulutku yang pasti tengah terbuka dengan tidak elitnya sekarang.

Namikaze melirik kanan-kirinya seakan belum sadar dari tidurnya. Lalu ia meregangkan tubuhnya. Dan mengacak-acak rambutnya. Juga mengusap matanya kasar.

"Kau sudah bangun?"

Aku tidak mampu menjawab pertanyaannya. Suaranya terdengar sedikit serak dan dalam. Aku hanya menatapnya bingung. Ia lantas langsung bangun dari kursi dan memukul-mukul pundaknya. Ia berjalan ke arahku. Ah.

Aku menahan napasku tanpa sadar. Ia mencondongkan tubuhnya dan mengambil blazer yang sedang kupegang.

SREET

Gerakan tangannya tertahan. Aku menengadahkan wajahku bingung. Ia menoleh ke arahku dan pandangan kami bertemu. Aku menatap langsung ke matanya. Warna biru yang terang. Namun terasa sangat dalam. Aku seakan terseret masuk ke dalam tatapannya.

Tiba-tiba ia tersentak kaget dan menegakkan tubuhnya lagi.

"Kau tidak ingin melepaskan blazerku?"

Eh? Aku melihat ke arah tanganku yang mencengkram blazernya kuat-kuat.

Eeeeeh?

Aku merasakan wajahku memanas dan langsung melepaskan genggaman tanganku dengan keras.

BRAK

"AH!"

Aku terbangun saat merasakan tanganku terpukul ke meja dengan kuat. Ah, apa yang kulakukan, sih!

"Hyuuga? Kau baik-baik saja?"

"Tidak apa-apa!" seruku panik. Aku harus kabur sebelum kehilangan mukaku sepenuhnya.

BRUAG

"Adududuh!"

"Hei-"

Lututku menabrak pinggiran meja. Aku refleks meraih lututku,

DUAK

Aku akhirnya jatuh terduduk setelah keningku malah ikut terantuk meja. Aku tidak mampu mengangkat wajahku. Ah, aku tidak peduli lagi. Ini memalukan sekali.

"Hmph~"

Eh? Aku menoleh ke arah suara tawa yang tertahan itu.

"Bwahahahahahaha…"

Namikaze tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Ia jongkok di hadapanku dan menarik lenganku agar berdiri.

"Kau sedang apa, sih?" Ia masih tertawa lepas. Aku menunduk malu. Ia mengenggam tanganku dan mengelusnya perlahan. Ia lalu menunduk dan menyentuh lututku seakan membersihkan debu yang menempel. Ia lanjut mengusap keningku dengan punggung tangannya. Ia melakukan semua itu sambil tertawa ringan.

Aku kembali menatap ke arahnya dengan bingung. Ia tidak lagi menoleh padaku. Ia sekarang mengambil ponselnya dan tengah mengetik sesuatu. SMS?

"Kau dijemput?"

"Eh?"

Namikaze menoleh dan menatapku. "Kau dijemput atau naik kendaraan umum? Ini sudah lewat jam tujuh."

Aku tersadar. "Ah, aku jalan kaki."

"Rumahmu dekat dengan sekolah?"

Aku mengangguk. "Hanya beda dua blok dari sini."

"Oh." Namikaze mengangguk mengerti. "Kalau begitu, ayo."

"Eh?"

"Ini sudah gelap. Kalau kau pulang sendirian, ayahmu akan berceramah, kan?"

Aku menatapnya bingung.

"Atau, ayahmu akan berceramah lebih panjang kalau tahu aku yang mengantarmu pulang?"

Aku terbelalak lagi. "Mengantarku pulang?"

Ia menatapku dengan tatapan yang tidak kumengerti. "Aku tidak bisa membiarkanmu berjalan sendirian saat sudah gelap seperti ini."

"Ti-tidak apa-apa. Namikaze-san tidak perlu repot-repot."

Aku menarik tasku dan berniat melangkah keluar. "Selamat malam, dan per-"

Ia menarik lenganku dan menatapku kembali dengan tatapan itu. Aku tidak bisa membaca maksud tatapannya itu.

Ia menghela napas. "Ini sudah gelap. Jangan keras kepala. Aku tidak akan mengantarmu sampai depan pintu rumahmu. Hanya sampai blokmu, kalau kau tidak ingin ayahmu tahu."

Aku menggulirkan mataku bingung. "Baiklah."

"Ayo."

Dia melepaskan lenganku dan mulai berjalan di sampingku. Aku memandangnya heran. Ada apa dengan Namikaze hari ini? Apa dia memang bersikap seperti ini sehari-hari? Atau? Ah. Tidak mungkin.

"Ada apa?" Dia tiba-tiba menoleh ke arahku. "Kenapa memandangku terus?"

"Kenapa kau ada di perpustakaan?"

Benar. Kenapa kau ada di sana tadi?

"Ah, aku dihukum Asuma membereskan buku yang baru sampai."

"Sendirian? Bukannya tadi ada Sabaku-san?"

Namikaze menaikkan alisnya. "Kau lihat?"

Aku mengangguk. "Sampai Inuzuka-san pergi."

"Ah, mereka punya urusan lain. Jadi kuusir saja."

"Lalu?"

Kenapa kau tidak langsung pulang?

"Kenapa…" Aku merasakan tenggorokanku tercekat.

"Kenapa… apa?"

Aku menarik napasku. Aku harus menanyakannya agar tidak terus penasaran.

"Kenapa kau melakukan itu?"

Langkahnya terhenti. "Melakukan apa?"

"Itu… dengan blazermu… tadi."

Namikaze menggaruk bagian belakang kepalanya. "…entahlah. Aku tidak tahu. Aku hanya merasa… aarrgh, aku tidak tahu."

Keningku berkerut. "Kau tidak tahu?"

Namikaze mengacak-acak rambutnya. Dan mulai berjalan lagi. "Sudahlah. Kau harus pulang cepat."

Aku mempercepat langkahku mengikuti langkah kaki Namikaze yang besar. "Tunggu. Kau benar-benar tidak tahu?"

Dia menghentikan langkahnya lagi. Lalu, ia menatapku tajam. "Kau sendiri?"

"Aku?"

"Kenapa kau suka sekali tertidur di sekolah? Tidak di ruang kesehatan. Tidak di perputakaan? Kenapa?"

Aku tersentak sekali lagi. "I-itu…" Eh. Tunggu sebentar. Dia bilang apa tadi? "Tidur di ruang kesehatan? Kapan kau melihatku tertidur di sana?"

Kali ini, dia yang terdiam. "Sudahlah. Tidak usah dibahas lagi."

Dia memasukkan tangannya di saku celananya dan berjalan sambil bersungut. Aku mengernyit heran. Mood-nya memang sering naik turun seperti ini, ya?

.

~SIMPLY ABSURDITY~

.

Ada apa dengan otakku hari ini!

Aku merendam kepalaku dan membiarkannya beberapa saat hingga napasku habis.

"Naruto! Mau sampai kapan kau di kamar mandi! Nanti makan malammu dingin lagi!"

Aku mengerjap kaget dan menuruti bentakan ibuku sebelum ia mengamuk untuk kedua kalinya malam ini. Aku keluar dari bath tub dan mengeringkan tubuhku. Lalu memakai pakaian ganti yang sudah kusiapkan sebelumnya. Sambil membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambut, aku keluar kamar mandi.

Yang kulihat pertama kali saat masuk ke ruang keluarga adalah ibuku yang melipat tangannya dengan kesal. Lalu ayahku yang tengah membaca buku di sofa. Dan makan malam yang hanya tinggal bagianku.

"Kau ini! Baru memberi kabar akan pulang makan terlambat saat jam makan malam lewat. Lalu menghabiskan waktu nyaris satu jam di kamar mandi. Kau ini…"

"Sudahlah, Bu. Aku sangat lapar dan tidak berniat membantahmu. Jadi biarkan aku makan dulu, ya."

Ibuku menghela napas. "Padahal kau ini putra tunggalku. Tapi kenapa rasanya seperti membesarkan seorang anak perempuan."

Aku mendelik. "Apa maksudnya itu."

"Mana ada pria jantan yang butuh waktu satu jam untuk mandi."

"Ada," ujarku santai. "Disini dan disitu."

Aku mengarahkan daguku pada sosok pirang satu lagi dalam ruangan ini.

"Jangan libatkan Ayah dalam keributan ini," balas Ayahku sambil terkekeh.

Ibuku merengut. "Ya sudah. Mau ibu panaskan lagi Miso-nya?"

"Tidak perlu. Nasinya sudah panas dan aku tidak mau menunda makan malamku lebih lama lagi."

Akhirnya Ibuku menyerah dan bergabung dengan Ayahku di sofa. Membiarkanku menyantap makan malamku dengan tenang.

Pikiranku lantas kembali melayang saat aku mengantar gadis itu pulang.

Kenapa? Kenapa kau melakukan itu?

Aku juga tidak tahu. Mana kutahu kalau tubuhku bergerak tanpa konfirmasi dengan otakku.

Tidur di ruang kesehatan? Kapan kau melihatku tidur di sana?

Aaaah. Aku dan mulut besarku. Kenapa aku mengungkit peristiwa yang tidak seharusnya terjadi itu? Itu namanya mempermalukan diri sendiri tahu! Tertangkap basah!

Aku mengunyah nasiku yang tiba-tiba terasa hambar. Sebenarnya ada apa denganku?

.

~SIMPLY ABSURDITY~

.

"Kalian harus merasakan gelora semangat masa mudaaa!"

Gai-sensei bereru dengan suara yang menggelegar. Aku hanya melihatnya dengan kagum. Entah kenapa aku seperti melihat bara api seakan keluar dari matanya.

"Hari ini jadwal absen 15 sampai 20 yang membereskan peralatan. Kalian harus membereskan dengan penuh SEMANGAAT! YOOOOSSH!"

Ah, aku juga termasuk di dalamnya. Aku bersiap-siap untuk membantu yang lain membereskan bola-bola yang bertebaran akibat pelajaran hari ini. Seketika gedung olahraga menjadi lebih sepi. Hanya tinggal aku bersama empat siswa yang lain.

"Yoo, Nona Besar!"

Aku menoleh pada salah seorang teman sekelasku yang sedang tersenyum ke arahku. Keningku kembali berkerut. Nona Besar? Aku?

"Kau tahu? Aku mendengar berita menarik dari teman kita yang disana," dia menunjuk pada pria berambut hitam yang juga bertugas hari ini.

Aku ikut menoleh padanya. Ekspresinya seakan mengatakan bahwa dia melakukan sesuatu yang besar.

"Berita apa?"

"Katanya, kau suka berada di sekolah lebih lama, ya," gadis yang lain mendekatiku dan memegang bahuku erat.

"Eh?"

"Dan katanya, kau juga bersama seseorang yang 'sangat' hebat."

DEG

Aku tidak mengerti apa yang mereka maksud. Tapi, aku bisa merasa ini bukan keadaan yang bagus. Tatapan mereka berubah menjadi sangat dingin. Seperti aku hanyalah setitik debu yang harus dienyahkan. Dan mudah untuk dibersihkan.

Aku melangkah mundur, tapi tangan gadis yang memegang bahuku, kini berubah mencengkram bahuku. Aku menahan napasku dan memandang mereka takut. Apa yang ingin mereka lakukan. Aku menoleh pada siswa yang balas menatapku cemas.

BRUGH

"Kyaaa!"

Mereka mendorongku kasar dan aku terjatuh dengan keras. Tapi, aku tidak merasa sakit. Aku terlalu takut untuk mengingat rasa sakit di tubuhku.

"Aku sudah bilang padamu kemarin, kan. Kau tidak mengerti juga?" Salah seorang dari mereka mulai menaikkan nada suara mereka.

"A-"

BRAAK

Aku menutup mataku saat mendengar suara keras itu. Lalu aku melihat keranjang bola itu sudah dalam posisi jatuh ke samping. Bola-bola yang tidak terpakai keluar dan bertebaran ke seluruh ruangan.

GREP

"Aak!" Aku meringis saat salah seorang dari mereka menarik rambutku. Aku menatap gadis itu dengan takut. "A-Apa yang ingin kau lakukan?"

Dia menyeringai. "Aku? Tidak ada."

Dia terkikik disambut tawa yang lain. Kemudian dia menarik rambutku semakin keras. "Lebih tepatnya, kau harus bertanya, 'Apa yang harus KAU lakukan'. Bukan yang ingin KAMI lakukan."

Aku menatap mereka bingung.

"Jangan dekati Naruto-oujisama."

I-itu lagi?

Dia mendelik dan kemudian membelalakkan matanya padaku. Dan menekankan tiap kata yang ia ucapkan padaku.

"Jangan coba-coba mendekati dia. Kalau kau tidak mau dipaksa bertanya 'Apa yang akan KAMI lakukan padamu', Nona Besar."

Setelah mereka pergi, aku sadar. Aku tidak bisa lagi merasakan tenangnya kehidupan SMA-ku.

Jadi, saat Namikaze tiba-tiba muncul dihadapanku lagi. Aku tahu apa yang akan kulakukan.

"Kau sedang apa?"

.

~SIMPLY ABSURDITY~

.

Aku berjalan di taman belakang sekolah. Mataku menangkap jendela yang tampak tidak asing. Aku mendekati jendela yang tertutup itu. Namun, saat sudah dekat, jendela itu tiba-tiba terbuka. Aku melompat mundur karena kaget.

Eh? Dibuka? Jangan-jangan…

Aku menoleh masuk untuk melihat sosok yang kukenal.

"Namikaze-san? Ada masalah apa?"

Ah, bukan dia.

"Tidak apa-apa, Kurenai-sensei," ujarku. Aku berusaha tidak menunjukkan rasa kecewa dalam suaraku.

Mungkin gagal. Karena sekarang Kurenai-sensei menaikkan sebelah alisnya.

"Kau mencari seseorang?"

"Ti-Tidak sensei!" bantahku cepat. Sepertinya terlalu cepat, karena guru kesehatan yang digemari beberapa siswa ini masih menunjukkan wajah heran. Aku kembali menjawab agar tidak dicurigai.

"Aku hanya kaget karena jendelanya tiba-tiba terbuka. Kukira… ah. Tidak ada apa-apa, sensei! Sungguh!"

Kurenai-sensei tertawa kecil. "Baiklah. Baiklah." Wanita itu mendekati jendela sambil tersenyum mengerti. "Kau mau lihat jadwal pergantian shift hari ini?"

Aku merasakan jantungku berdegup lebih cepat. "Ti-tidak perlu, sensei!" Lebih baik aku kabur sebelum ini berubah menjadi lebih gawat. "Aku permisi dulu!"

Aku berlari tanpa melihat jalan yang kulalui. Tanpa sadar, aku sudah berada di dekat gedung olahraga. Aku melihat pintu masuknya terbuka. Apa sedang ada kelas? Tapi, aku tidak mendengar suara Gai-sensei yang biasanya menggelegar.

Aku melirik ke dalam dan aku tidak pernah merasa sesenang ini saat melihat seseorang. Kenapa dia bisa memiliki pengaruh yang begitu besar terhadap mood-ku?

Gadis Hyuuga itu. Sebenarnya apa yang ada di dirinya?

Dia memakai seragam olah raga musim panas dan menguncir rambutnya yang panjang. Hal itu membuat wajahnya kini terlihat jelas di mataku. Begitu pula dengan kulit putihnya yang benar-benar seputih susu. Cantik.

Aku berjalan masuk. Aku melihat dia yang sedang mengambil bola basket dan meletakkannya ke dalam keranjang. Lalu ia berlari mengambil bola yang lain dan memasukkannya. Begitu berulang-ulang.

Aku mengernyit heran. Dia merapihkan peralatan setelah olahraga?

"Kau sedang apa?"

Hyuuga tampak terlonjak kaget dan menatap ke arahku dengan takut. Ia menunduk dan tampak bola matanya bergulir cepat seakan mengecek sekitarnya. Aku berjalan mendekatinya. Namun, ia mengambil langkah mundur.

Aku menaikkan alisku. Ada apa dengannya?

"Kau dengar aku, kan? Kau sedang apa disini? Sendirian."

Dia tersentak sekali lagi. Ia melirikku sekilas sebelum memainkan jarinya. "Me-membereskan peralatan olahraga."

"Sendirian? Yang bertugas bersamamu siapa?"

Ia menghindari tatapanku lagi.

"Ti-tidak ada. Aku bertugas sendirian."

Mataku mungkin membulat sempurna saking kagetnya. "Sendirian?! Kemana teman-temanmu? Harusnya mereka membantumu."

Aku mengambil satu bola dan melemparkannya ke dalam keranjang bola.

BRAK

Straight in!

Aku bersiul senang. Walau tidak ikut latihan beberapa kali, sepertinya tubuhku tidak melupakan teknik-tekniknya. Aku mengambil satu bola lagi.

"Tidak perlu repot-repot!"

Aku menoleh pada suara yang nyaris terdengar seperti bentakan itu. Yah, walau volume suaranya kecil sekali. Aku melempar bola itu dan masuk seperti yang pertama. Lalu aku berjalan menuju bola yang lain.

"Sudah kubilang tidak-"

"Yang merasa repot siapa. Aku tidak merasa sedang repot."

Aku menatap gadis itu tajam. Tampak ia menegang. Ia melirik ke arah pintu masuk dengan takut. Aku mengernyit heran dan mengikuti arah pandangnya. Namun, tidak ada apa-apa. Aku menoleh kepadanya lagi.

Ia tampak memainkan ujung seragamnya sekarang. Ada apa dengannya?

"Hyuuga? Kau baik-baik saja?"

"Namikaze-san sebaiknya pergi saja. Aku tidak ingin dibantu."

"Yang ingin membantu siapa? Aku sempat tidak diizinkan berlatih beberapa hari. Jadi, aku hanya ingin bermain sebentar."

Aku mengacuhkannya dan mengambil bola lain. Aku menyeringai sambil melempar bola itu.

BRAK

"Yes!"

"Namikaze-san harus pergi sekarang."

Aku menoleh lagi ke arah Hyuuga dan mendekatinya. Ia mundur perlahan seiring dengan jarak kami yang semakin dekat. Aku tetap berjalan tanpa mempedulikan ocehannya yang melarangku mendekat. Aku menatap manik amethyst-nya dengan tajam. Bola mata bening itu bergulir dengan cepat.

Dia terbelalak saat menyadari bahwa punggungnya sudah menempel pada dinding yang dingin. Aku menyeringai kecil.

"Na-Namikaze-san. K-Kau mau apa?"

Aku mempertahankan seringaianku dan mendekatinya perlahan. Aku menempelkan tanganku di samping kepalanya. Dia menelan ludahnya dengan takut.

"Ada apa? Kau tidak bisa mengusirku dengan dingin lagi?" sindirku pada kondisinya yang tampak cemas.

"J-jangan macam-macam. A-Aku belajar judo dan karate!" ancamnya dengan suara bergetar. Ia juga memasang kuda-kuda dengan tangannya. Aku kembali menghapus jarak antara tubuh kami.

"Kalau begitu, coba saja hentikan aku."

Dia menarik napas panjang. Dan…

BUG

Auuch. Ah, dia tidak berbohong dia belajar karate. Aku meringis sambil memegangi perutku yang di tonjoknya. Lumayan juga, buat gadis yang ku anggap tidak pernah berolahraga. Aku melirik dia yang sedang memasang posisi.

DUAK

Aku menepis pukulan keduanya dengan tanganku.

"Wuah wuah wuah. Hold it, girl."

Hyuuga melayangkan tinjunya sekali lagi. Aku menepisnya lagi. Dan mencengkram pergelangan tangannya. Dia menarik tangannya kaget dan membuatku ikut tertarik ke arahnya.

Aku memukul dinding agar tidak menabrak tubuhnya. Namun posisinya menjadi kembali seperti di awal. Dengan satu tangannya yang masih kugenggam.

"Le-Lepaskan!"

Dia mendorongku dengan sekuat tenaga.

"Hei- Hei- Hei- Te-Tenang-Aak!"

Gadis Hyuuga ini memberontak dengan brutal. Aku berusaha menepis pukulan-pukulan yang di arahkan padaku agar aku tidak keluar dengan penuh luka. Aku akhirnya memegang kedua tangannya dan menariknya mendekat.

"T-Tidaaak!"

Dia kembali mendorongku.

Eh? Aku kan masih memegang tangannya.

"Eh?"

BRUAAAAAK

"Adudududuh…"

Akhirnya aku terjatuh dan ia ikut terjatuh di atasku. Aku meringis merasakan punggung dan bagian belakangku yang membentur lantai dengan cukup keras. Ah, dadaku juga sakit. Aku melihat Hyuuga membentur dadaku karena tangannya yang ikut tertarik olehku.

SREEET

Aku membalik posisi kami dan tidak melepas kedua tangannya. Dia yang tersadar berusaha berteriak.

"Tenanglah, Hyuuga! Aku tidak akan menyentuhmu atau apapun yang kau takutkan sekarang!" seruku sebelum dia berteriak dan menimbulkan keributan lebih dari ini. "Aku janji!"

Dia akhirnya menutup mulutnya.

Aku menghela napas lega. Kemudian aku bangun dan melepaskan tangannya. Dia mengangkat tubuhnya dan sekarang terduduk sambil mundur menempel dinding. Menjauhiku. Ia memegangi pergelangan tangannya.

Aku melihat pergelangan tangannya yang memerah.

"…maaf," ujarku lirih. "Aku tidak bermaksud menyakitimu."

Dia tidak menjawab dan hanya menunduk sambil menghindari pandanganku.

Aku ikut menunduk dan menyembunyikan wajahku di balik lututku. "…apa yang kulakukan, sih."

"Kau sebaiknya pergi."

Aku mengangkat wajahku dan melihat Hyuuga sedang berdiri dan berniat melanjutkan kegiatannya sebelum aku datang. Aku ikut berdiri dan mengikutinya.

Aku harus memperbaiki keadaan ini, kalau aku tidak ingin berakhir dibencinya.

Aku mengambil bola yang sedang ia pegang, melemparnya ke dalam keranjang, berlari mengambil bola yang lain dan melemparnya lagi. Setelah beberapa kali, semua bola sudah masuk ke dalam keranjang bola. Aku mendekatinya lagi.

Aku memakaikan wrist-band yang selalu kupakai ke pergelangan tangannya yang memerah. Lalu, aku menatap matanya.

"…maaf. Aku berjanji, tidak akan membuatmu terluka lagi." Dia akhirnya membalas tatapan mataku. "Maaf."

~to be continued~

[siiiiiiiiinnnng]

Absurd : Author-san?

Simply : Dia kenapa?

[pundung sambil nyoret-nyoret dinding]

Absurd : Galau lagi?

Simply : [ngambil kertas di saku jaket author] ah, ini alasannya...

Absurd : [ngelirik] ah, sabar ya Thor {nge puk-puk author]

hiks hiks hiks huaaaaaaaaaaaaaaaa...

Absurd : aah, dia nangis lagi.. puk puk puk, ayo bales review dulu

huuhuuuhhuuu hiks, ayo


vicestering : enaknya... aku ga pernah lagi dapet kelas siang *ehcurcol makasih reviewnya

shin jun : makasih ya^^ ngerjain tugas #menolakingat

asmi ajja : kapan ya? ngeliat naru-kun tersiksa, aku jadi terhibur sih #dirasengan

guest : yosh! tinggal beberapa makul lagi!

laila angel Sapphirebluee : iya nih om hiashi jahat... ini udah romantis belum?

ory izzati : emang sengaja ga pake keterangan #plak. habisss... aku ga suka kalo banyak ketrangan kayak gitu, maaf ya (v.v)

okeh, review lagi yaaaaa