Jika ada yang bertanya, apakah aku bahagia saat ini, maka aku akan menjawab, aku tidak tahu. karena untuk pertama kalinya, aku merasakan posisi ini. di tengan kebahagiaan yang penuh keraguan.
Last Chance, Last Hope
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Hurt/Comfort, Drama
Pairing : NaruHina
Rated : T(eens)
Warning : semoga tidak typo, AU, OOC
Don't like? Just review ^v^
.
.
.
"Kalau begitu, coba saja hentikan aku."
Dia menarik napas panjang. Dan…
BUG
Auuch. Ah, dia tidak berbohong dia belajar karate. Aku meringis sambil memegangi perutku yang di tonjoknya. Lumayan juga, buat gadis yang ku anggap tidak pernah berolahraga. Aku melirik dia yang sedang memasang posisi.
DUAK
Aku menepis pukulan keduanya dengan tanganku.
"Wuah wuah wuah. Hold it, girl."
Hyuuga melayangkan tinjunya sekali lagi. Aku menepisnya lagi. Dan mencengkram pergelangan tangannya. Dia menarik tangannya kaget dan membuatku ikut tertarik ke arahnya.
Aku memukul dinding agar tidak menabrak tubuhnya. Namun posisinya menjadi kembali seperti di awal. Dengan satu tangannya yang masih kugenggam.
"Le-Lepaskan!"
Dia mendorongku dengan sekuat tenaga.
"Hei- Hei- Hei- Te-Tenang-Aak!"
Gadis Hyuuga ini memberontak dengan brutal. Aku berusaha menepis pukulan-pukulan yang di arahkan padaku agar aku tidak keluar dengan penuh luka. Aku akhirnya memegang kedua tangannya dan menariknya mendekat.
"T-Tidaaak!"
Dia kembali mendorongku.
Eh? Aku kan masih memegang tangannya.
"Eh?"
BRUAAAAAK
"Adudududuh…"
Akhirnya aku terjatuh dan ia ikut terjatuh di atasku. Aku meringis merasakan punggung dan bagian belakangku yang membentur lantai dengan cukup keras. Ah, dadaku juga sakit. Aku melihat Hyuuga membentur dadaku karena tangannya yang ikut tertarik olehku.
SREEET
Aku membalik posisi kami dan tidak melepas kedua tangannya. Dia yang tersadar berusaha berteriak.
"Tenanglah, Hyuuga! Aku tidak akan menyentuhmu atau apapun yang kau takutkan sekarang!" seruku sebelum dia berteriak dan menimbulkan keributan lebih dari ini. "Aku janji!"
Dia akhirnya menutup mulutnya.
Aku menghela napas lega. Kemudian aku bangun dan melepaskan tangannya. Dia mengangkat tubuhnya dan sekarang terduduk sambil mundur menempel dinding. Menjauhiku. Ia memegangi pergelangan tangannya.
Aku melihat pergelangan tangannya yang memerah.
"…maaf," ujarku lirih. "Aku tidak bermaksud menyakitimu."
Dia tidak menjawab dan hanya menunduk sambil menghindari pandanganku.
Aku ikut menunduk dan menyembunyikan wajahku di balik lututku. "…apa yang kulakukan, sih."
"Kau sebaiknya pergi."
Aku mengangkat wajahku dan melihat Hyuuga sedang berdiri dan berniat melanjutkan kegiatannya sebelum aku datang. Aku ikut berdiri dan mengikutinya.
Aku harus memperbaiki keadaan ini, kalau aku tidak ingin berakhir dibencinya.
Aku mengambil bola yang sedang ia pegang, melemparnya ke dalam keranjang, berlari mengambil bola yang lain dan melemparnya lagi. Setelah beberapa kali, semua bola sudah masuk ke dalam keranjang bola. Aku mendekatinya lagi.
Aku memakaikan wrist-band yang selalu kupakai ke pergelangan tangannya yang memerah. Lalu, aku menatap matanya.
"…maaf. Aku berjanji, tidak akan membuatmu terluka lagi." Dia akhirnya membalas tatapan mataku. "Maaf."
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
"…maaf."
Aku menoleh padanya. Wajahnya tertunduk.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu."
Aku menangkap luka seakan tertoreh di sapphire yang jernih itu. Dia mengangkat wajahnya. Aku langsung mengalihkan pandanganku. Apa yang kupikirkan, sih? Dia 'kan…
"…apa yang kulakukan, sih?"
Aku mendengar gumaman lirih. Aku melirik lagi dan menemukan dia duduk sambil memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya dibalik lututnya. Aku tidak bisa lama-lama bersama dengannya. Salah satu dari kami harus pergi secepatnya.
Dan mengingat pekerjaanku masih menunggu untuk diseleaikan, dia yang harus pergi.
Aku berdiri dan merapihkan rambutku. Lalu aku menarik napas panjang. "Kau sebaiknya pergi."
Aku mengambil bola yang paling dekat denganku dan berjalan menuju keranjang bola. Saat itu, aku mendengar suara orang berlari.
Namikaze berlari, mengambil bola yang sedang kupegang.
"Eh?"
BRAK
Bola itu masuk ke dalam keranjang dengan mulus. Lalu, satu persatu bola yang lain mengikuti jejaknya.
Namikaze berlari dan mendribble bola-bola itu sebelum melemparkannya tepat memasuki keranjang. Gerakannya cepat, dan ia berlari seakan sedang melewati para pemain yang berada dalam pertandingan. Tapi, sekilas, aku melihat ia seperti sedang menari.
DUAK
Bola terakhir masuk ke dalam keranjang dan aku melihat dia mulai kehabisan napas. Ia lantas berjalan mendekatiku sambil melepaskan wrist band yang sedang ia kenakan.
Ketika berada di hadapanku. Aku merasa tatapan matanya berubah menjadi sangat lembut.
"…maaf." Dia memandang mataku langsung.
"Aku berjanji, tidak akan membuatmu terluka lagi." Aku balas memandang matanya dan membiarkan diriku dibawa tatapannya yang bisa menghanyutkan semua yang masuk ke dalamnya.
"Maaf."
Jangan coba-coba mendekati dia. Kalau kau tidak mau dipaksa bertanya 'Apa yang akan KAMI lakukan padamu', Nona Besar.
DEG
Aku menepis tanganku. Dia menatapku dengan tatapan yang tak ingin kujelaskan. Aku mundur beberapa langkah dan berjalan menuju keranjang bola yang telah penuh terisi.
"H-Hyuuga…"
"T-Terima kasih atas bantuanmu. Tapi, aku harap kau tidak perlu mempedulikanku lagi. Entah itu sengaja atau tidak. Lebih baik, kau tidak berada di sekitarku."
Aku berlari sambil mendorong keranjang itu ke gudang yang ada di sudut ruangan. Dan meninggalkan gedung olahraga tanpa menoleh padanya sekalipun.
Aku memegang jantungku yang berdegup cepat. Dan berlari memasuki stall toilet dan menenangkan diriku di sana. Aku menutup kloset dan duduk di atasnya. Aku menutup wajahku dengan telapak tanganku dan merasakan keringat dingin yang membutir.
Aku memandang wrist band berwarna oranye yang melingkar di pergelangan tanganku.
…maaf. Aku berjanji, tidak akan membuatmu terluka lagi.
Benarkah?
Aku tertawa miris. Kalau memang bisa, kenapa aku harus mengalami semua ini? Aku melepaskan wrist band itu dan berniat membuangnya ke dalam tempat sampah saat aku melihat ada sesuatu yang tertulis di dalamnya.
Namikaze-Uzumaki Naruto
Aku menghela napas. Apa yang hampir kulakukan?
Aku memasukkannya ke dalam sakuku dan keluar dari toilet. Aku harus ganti baju dan mengerjakan shift menjaga ruang kesehatan. Kurenai-sensei pasti sudah menunggu. Aku sudah terlambat.
"Ah, kau akhirnya datang juga, Hyuuga. Apa tugas setelah olahragamu memakan waktu?"
Aku tersenyum pada Kurenai-sensei yang langung menyapaku dengan wajah senang. "Maaf sensei."
Kurenai-sensei tersenyum hangat. "Tidak apa-apa. Oh iya, kau mau dengar sesuatu yang menarik? Ah, kau mungkin tidak menganggapnya menarik, sih. Hahaha…"
PUK PUK PUK
"Aaakh."
Aku meringis tanpa sadar saat Kurenai-sensei menepuk bahuku. Kurenai-sensei berhenti bergerak.
"Kamu kenapa, Hyuuga?" Wajahnya berubah khawatir.
"Ti-Tidak apa-apa, sensei. Aku tidak apa-apa."
Kurenai-sensei membawaku ke tempat tidur dan menyuruhku duduk disana. Kemudian dia menyentuh bahuku dengan satu jari.
"Eenggh…"
"Apanya yang tidak apa-apa. Lepas seragammu biar aku bisa lihat seberapa parah keadaannya."
Aku mengikuti perintah Kurenai-sensei.
"Ya ampun," ucap Kurenai-sensei dengan khawatir. Aku melirik bahuku yang memerah akibat kejadian tadi. "Kenapa kalian suka sekali menyembunyikan sesuatu, sih. Kalau memang sensei bisa membantu, kenapa harus ditutup-tutupi?"
"Maaf, sensei," ucapku lirih. "…kalian?"
Kurenai-sensei mengambil handuk yang sudah dibasahi dengan air dan membasuh bahuku dengan itu. "Iya, kalian para siswa. Ah, sensei jadi ingat. Tadi Namikaze melirik ke dalam ruang kesehatan beberapa kali."
Aku terbelalak. Na-Namikaze?
"Kira-kira kenapa, ya? Apa jangan-jangan dia mengincar salah satu anggota kesehatan, ya? Soalnya saat sensei mengatakan akan memperlihatkan jadwal shift, dia langsung salah tingkah. Hihihi… ternyata ada juga yang bisa menarik hati idola yang satu itu, ya?"
Aku tersenyum simpul mendengar celotehan Kurenai-sensei. Walau aku tidak begitu suka yang dijadikan topik kali ini, biasanya aku mendengar ceritanya dengan semangat.
"Yah, aku tahu, kau tidak begitu tertarik dengan topik semacam ini. Ah, sudah selesai, kau bisa memakai seragammu lagi."
"Ah, bukan begitu, sensei." Aku mengancing kemejaku dan mengambil vest yang kulepas.
"Yah, tidak apa, Hyuuga. Ah, kamu benar tidak tertarik untuk terlibat dalam hubungan percintaan?"
"Eh?" Aku merasakan wajahku memerah. "Eeeh?"
"Yah, biasanya gadis seumuranmu kan sedang indahnya masa-masa itu, kan? Bukannya sensei mengajari untuk melakukan sesuatu yang tidak baik, lho."
Aku menggaruk pipiku yang tiba-tiba merasa gatal. "Ah, i-itu…"
BRUAAK
"Kurenai-sensei!"
Aku terlonjak dari kasur dan merasakan jantungku nyaris melompat saking kagetnya. Aku menoleh pada pintu dan menemukan Inuzuka yang sedang menyeringai lebar dan melambaikan tangan pada Kurenai-sensei.
"Ya Tuhan, Inuzuka-san. Sudah kubilang ratusan kali, jangan membuka pintu tiba-tiba."
Kurenai-sensei mulai mengomel pada Inuzuka yang hanya tertawa ringan. Aku bangun dari kasur, merapihkannya dan kemudian mengambil buku catatan ruang kesehatan dan memulai shift-ku.
SREEEK
"Kau berisik, Kiba."
Aku menoleh pada kasur yang berada di sudut ruangan. Tampak Sabaku yang membuka tirainya sambil mengacak-acak rambutnya. Kemudian dia menguap sambil berjalan menemui Inuzuka.
"Kau tertidur sepanjang hari, Gaara?" tanya Inuzuka santai.
"Dia sama sepertimu kalau sudah minum obat flu. Tidur layaknya mayat," ujar Kurenai-sensei.
Wajah Inuzuka berubah pura-pura khawatir. Dia lantas merangkul Sabaku. "Ya ampun, harusnya kau tularkan saja pada Naruto, dia rela kok."
Sabaku menatap Inuzuka tanpa mengeluarkan emosi apapun. "Akan kutularkan padamu."
Inuzuka langsung menunjukkan ekspresi pura-pura kaget. "Aku tidak tahu kalau kau juga menaruh hati padaku, Gaara-chan. Apa yang harus kukatakan pada Naruto setelah ini? Padahal aku, kan…"
"Aku juga normal, sialan."
Aku menutup mulutku agar tidak terlihat shock. Jadi itu yang dimaksud dengan menularkan.
"Jangan memberikan fans-service saat tidak ada fans di sekitar kalian," komentar Kurenai-sensei.
"Eh? Sensei bukan penggemar kami? Kami jadi terluka…" Inuzuka mengeluarkan ekspresi kecewa.
"Padahal sensei fans-nya Naruto."
Suasana hening sekilas.
Inuzuka menoleh tidak percaya pada pada Gaara dan Kurenai-sensei. Aku juga ikut menatap Kurenai-sensei dengan tidak percaya. Benarkah?
"Yah, nilai Namikaze kan bagus. Naikkan nilaimu kalau mau sensei jadi penggemarmu, Inuzuka."
Kurenai-sensei tertawa kecil melihat Inuzuka merengut tidak terima.
"Nilaiku kan juga bagus," sahut Gaara.
Tawa Kurenai-sensei menghilang. "Eh?"
Fuh~
Aku tertawa tertahan.
"Ah, Hyuuga, jangan tertawakan sensei." Aku hanya menutup mulutku agar tawaku tidak terdengar kencang. Ah, mereka benar-benar akrab, ya. Jadi iri. Aku juga ingin punya teman seperti mereka.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
T-Terima kasih atas bantuanmu. Tapi, aku harap kau tidak perlu mempedulikanku lagi. Entah itu sengaja atau tidak. Lebih baik, kau tidak berada di sekitarku.
Aku menghela napas. Kenapa semua kalimat yang diucapkan gadis itu punya pengaruh besar padaku? Apa memang semudah itu membuat mood-ku naik turun?
Aku melipat tanganku di meja dan meletakkan kepalaku di atasnya. Aku menutup mataku untuk membiarkan otakku beristirahat sejenak.
J-Jangan macam-macam! A-Aku belajar judo dan karate!
Ah, wajah paniknya memang manis sekali.
Kau sebaiknya pergi.
Tapi, ekspresinya saat itu memang agak aneh. Dia seperti takut. Padaku? Ah, tidak saat itu dia terus-terusan melihat pintu, apa dia takut ada yang datang? Kenapa? Ini tidak seperti kami melakukan sesuatu yang aneh di dalam sana.
"Haaaaah…" Aku menghela napas panjang sekali lagi. Aku tidak ingin melakukan apapun hari ini. Berhadapan dengan Hyuuga yang aneh seakan menyedot nyawaku.
GYUUUUT
Ng?
"Naruto-oujisama, lepaskan saja kekesalanmu pada kami."
"GYAAAAAAA!"
Aku terperanjat dan melompat dari bangkuku.
"Dan kau bilang, kau normal?"
Aku melihat Kiba sedang tertawa terbahak-bahak sampat memukul-mukul meja. Sementara Gaara menatap Kiba dengan wajah stoic andalannya.
"Itu tidak lucu, bodoh."
Kiba berusaha menghentikan tawanya mendengar komentarku. "Kau kenapa, sih? Seperti habis dihisap dementor di series Ha**y Po**er saja."
"Mungkin dihisap dementor memang seperti ini rasanya."
Kiba benar-benar berhenti tertawa sekarang. Dia duduk di bangkunya dan menatapku bingung. Gaara ikut menarik kursinya dan duduk mendekatiku.
"Kau kenapa, Naruto? Ada apa dengan sikap aku-sangat-depresi-jadi-biarkan-aku-sendiri ini? Kau akhir-akhir ini aneh sekali."
Aku hanya menghela napas. "Entahlah. Aku juga tidak mengerti."
Aku mendengar suara decitan kayu kursi. Mungkin Kiba sedang mengubah posisinya menjadi bersandar.
"Kau tidak bertukar jiwa, kan?"
Aku melongo tidak percaya. "…hah? Kau habis nonton film apa, sih? Romance-Comedy?"
Kiba tergelak. "Bukan begitu, bodoh. Hanya saja aku dan Gaara melihat sesuatu yang tidak biasa hari ini."
"Apa?"
Kiba tersenyum penuh arti. "Kami melihat Nona Besar tertawa. Rasanya aneh sekali. Dia jadi terlihat manis-aak! Aku tidak boleh jatuh cinta pada tipe itu."
A-Apa? D-Dia tertawa? Kok bisa?
"Entahlah, tiba-tiba saja saat aku bercanda dengan Gaara tentang Kurenai-sensei yang menjadi penggemarmu, tiba-tiba dia tertawa."
Dia membaca pikiranku atau aku menyuarakannya tadi, ya?
"Eh? Kurenai-sensei? Penggemarku?" Yang benar saja.
"Ah, itu kata Gaara. Aku juga ingin bertanya juga padamu tentang itu, Gaara. Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"
Gaara yang tiba-tiba diperhatikan hanya balas menatap aku dan Kiba datar. "Kenapa aku jadi dibawa?"
"Sudahlah, jawab saja," desak Kiba.
Gaara terdiam sambil menatapku tanpa ekspresi. "Aku hanya mendengar mereka mengobrol saat aku setengah tidur."
Aku menarik tubuhku mendekat pada Gaara. "Mereka?"
"Kurenai-sensei dan Hyuuga-san." Gaara menghentikan kalimatnya dan balik menatapku lagi.
"Mereka membicarakan apa?" tanyaku mencoba agar tidak terlihat terlalu tertarik.
"Katanya kau tertarik pada salah satu anggota siswa yang bertugas di ruang kesehatan."
DEG. Aku menahan napas.
Kiba melongo beberapa saat. Maniak anjing itu kemudian menoleh ke arahku. "Benarkah? Siapa?"
"Kau mendengar apa saja?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
Gaara kembali diam dan berpikir sejenak. "…dia terluka."
"Eh? Siapa?" tanyaku lagi.
"Hyuuga-san."
Kali ini, aku benar-benar berhenti bernapas. Aku menggertakkan gigiku, mencari denyut nadiku sendiri di kepalaku. Separah itu kah, kekacauan yang kutimbulkan?
"Nona Besar? Benarkah? Dia terluka dimana?" sahut Kiba. Namun tampak tidak terlalu tertarik dengan topik ini.
"…bahunya, kalau tidak salah. Sepertinya."
Eh? Bahunya? Apa saat terjatuh aku membenturkan bahunya? Rasanya dia terjatuh sempurna di atas tubuhku. Paling hanya lengannya yang ikut terbanting bersamaku.
"Ng?" Kenapa aku merasa ada yang aneh? Aku mendongakkan kepalaku. Eh?
"Uwaaah!" Aku terperanjat sekali lagi. "APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH!"
Kiba hanya tertawa melihat reaksiku setelah ia menatap mataku dalam posisi yang sangat dekat. Kenapa teman-temanku ini aneh semua.
"Habis, kau benar-benar aneh, Naruto. Beneran, deh. Kau bertingkah seperti wanita-wanita yang sedang jatuh cinta di film-film."
Aku tertawa sinis. "Ha ha ha. Ingatkan aku kalau kau sekarang jadi maniak film komedi romantis."
"Ah, film kemarin lumayan," tambah Gaara.
Aku memandang Gaara tidak percaya. "Kau juga, Gaara?"
Tawa Kiba meledak. "Baiklah, karena malam ini aku tidak ada kencan, bagaimana kalau kita nonton film yang baru kubeli? Sudah lama kita tak menghabiskan waktu bersama!"
Aku menghela napas. "Kenapa aku benar-benar jadi merasa hidupku seperti film romantis komedi kalau bersama kalian?"
Kiba masih tertawa. "Nikmati saja, Naruto. Nikmati!"
Aku tak menyadari bahwa aku sudah tersenyum santai sekarang. "Terserah kalian saja."
Mungkin, aku memang harus menjalani kehidupanku yang biasa. Setidaknya, kalau itu bisa membuatku mengenyahkan gadis itu dari pikiranku sejenak.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Kami-sama. Apa ini cobaan darimu? Apa kau benar-benar menganggap aku bisa menjalani ujian darimu dengan baik? Aku hanya meminta kehidupan SMA yang tenang. Tidak boleh, kah?
Aku menghela napas dan memutuskan membiarkan makhluk pirang yang tengah tertidur di kasur di hadapanku. Aku mengambil buku catatanku dan menyalin materi yang diterangkan di kelas tadi.
"Nggh…"
Brrr…. Aku bergidik seketika. Mataku melirik ke arah pemuda itu lagi. Dia mengubah posisinya menjadi menyamping menghadapku. Suara napasnya teratur dan terdengar lirih. Dia benar-benar tertidur… kan?
Setelah beberapa saat dia tidak membuat gerakan berarti, aku kembali fokus pada buku catatanku. Eh, tadi sudah sampai bagian mana, ya? Aku menulusuri textbook dan buku catatanku berulang kali, lalu mulai mencatat kembali.
Eto~ Fluida statis dan dinamik… itu sudah belum, ya? Apa aku harus mulai dari awal saja? Tapi, apa tidak terlalu lama kalau mengulang, ya? Memangnya kalau di ulang, aku jadi bisa menangkap semuanya dalam sehari?
SREEEK
DEG
Aku langsung menoleh dengan kaget ke arah kasur. Dia sudah berubah posisi lagi, tapi kali ini dia menjatuhkan selimutnya. Ah, dia tipe yang aktif walau sedang tidak sadar, ya?
Apa aku sebaiknya membiarkan saja, ya? Tapi, walau ini musim panas, ruangan ini kan dilengkapi dengan pendingin udara. Memang suhunya tidak kurang dari 25 derajat, tapi kalau tertidur dengan… yah, posisi dan seragam yang nyaris terbuka itu, sepertinya bisa masuk angin juga. Aaah, aku harus apa?
Aku meletakkan kepalaku di meja yang terasa dingin. Saat seperti ini, aku benci tugasku sebagai asisten guru kesehatan. Aku bangkit dari kursiku dan mengambil selimut yang sudah nyaris menyentuh lantai sepenuhnya.
Aku menyelimutinya sampai di bawah lehernya. Ah, mungkin seharusnya aku membiarkannya saja. Kenapa? Karena sekarang, aku malah terjebak dengan wajah tidurnya yang tenang. Ini pertama kalinya aku memperhatikan wajahnya sedekat ini.
Kulitnya berwarna. Tidak pucat seperti kulitku. Warna kulit yang menjadi bukti betapa seringnya dia beraktivitas di bawah sengatan matahari. Sama sekali tidak jelek. Ia justru terlihat sehat.
Alisnya tebal. Tidak tipis sepertiku, dan tidak terlalu tebal seperti… ah ah ah, aku tidak ingin mengatakannya. Jangan paksa aku. Kumohon.
"Nggh…"
DEG
Ah, sebaiknya aku kembali ke tugasku. Aku duduk dan melirik sekilas ke arah kasur. Sepertinya dia tidak akan bangun untuk beberapa saat. Sebaiknya aku menyelesaikan catatanku sebelum itu.
Oke, sampai dimana aku tadi? Fluida? Oh iya, fluida. Eh? Aku sudah belajar ini atau belum, ya? Apa sebaiknya aku mencoba mengerjakan soal saja, ya? Benar, kata Ibiki-sensei, saat belajar eksakta, lebih baik melatih diri dengan banyak mengerjakan soal. Kalau begitu, ke halaman latihan.
Nah, soal pertama… ngg? Soal gambar? Eto~ apa yang ditanya? Besar gaya di bagian 1? Kalau tidak salah, aku membaca sekilas tentang itu tadi. Di halaman berapa, ya?
Aku membalik halaman di textbook. Eh? Kok tidak ada? Apa aku coba saja sebisaku, ya?
Ngg, kalau ini di kalikan semua… eh, tidak semudah itu, ya? Kalau begitu, ini dikali ini, lalu dibagi ini… eh, kok tidak ada juga ya?
Eh eh eh? Ini bagaimana, sih?
"Gunakan persamaan tekanan. F1 dibagi A1 sama dengan F2 dibagi A2. Kalau mencari A1 berarti, F1 dikali A2 dibagi F2."
"Ah, iya. Kalau tidak salah itu yang dikatakan Kakashi-sensei tadi," ujarku mengingat-ingat penjelasan Kakashi-sensei yang sayup-sayup kudengar tadi.
Eh? Tunggu sebentar. Aku menengadahkan wajahku. Dan merasakan keringat dingin muncul di keningku.
"Kyaa-Hmph!"
Aku pasti sudah gila. Kalau tidak, ini pasti mimpi. Bukannya… Bukannya… Bukannya dia sedang tertidur tadi?
Aku melirik ke arah kasur yang sudah kosong. Kemudian aku kembali melihat ke pemuda yang tengah membekap mulutku.
Mata biru yang sedalam samudera itu. Kulit tan yang terbiasa disentuh mentari itu. Dan rambut pirang keemasan yang berantakan itu. Na-Namikaze. Kenapa dia bangun secepat ini?
"…kau bisa tenang? Kau suka sekali berteriak akhir-akhir ini."
Aku mengangguk tidak yakin. Tapi, dia melepaskan tangannya sambil menghela napas. Aku menunduk tidak berniat untuk berhadapan dengannya lebih lama.
"…kerjakan."
"Eh?" Aku melirik lewat sudut mataku. Dia tengah menatapku dengan tatapan yang tidak kumengerti. Seperti waktu saat di perpustakaan yang lalu.
"Kau tidak dengar?" Dia sedang bertanya padaku? Tentang apa?
"Coba kau kerjakan soal ini seperti yang kukatakan tadi."
Eh? Ah, oh. Soal gambar tadi. Aku menurutinya dan coba mengingat penjelasannya tadi. Sesuatu tentang F1 dan A2 kalau tidak salah. Aku mengerjakan dengan hati-hati. Hmm…
Ah, ada.
"Kerjakan soal selanjutnya."
Aku melihat soal kedua. Ah, berbeda. Kali ini gambarnya seperti kapal selam, mungkin.
Eh, kalau ini… eh? Eh? Eeeh? Bagaimana, ya?
"Hei."
DEG
Aku merasakan tubuhku menegang. Rasanya seperti sedang di tes di depan kelas. Aku menengadahkan wajahku dan melihat Namikaze mendelik tajam. Aku menelan ludah dengan gugup. Ekspresinya seperti Ibiki-sensei saat ujian.
"Kau ini, tidak…"
"A-Aku memang lambat," sanggahku cepat sebelum Namikaze mengomentari kemampuanku. "A-Aku tidak bisa mengikuti penjelasan di kelas. A-Aku juga harus mengulang 2 atau 3 kali sebelum bisa menguasai materi pelajaran. A-Apalagi mulai mi-minggu depan, kita sudah ujian. Ka-Karena itu, aku… a-aku…" ah, aku ini bicara apa, sih. Lidahku tidak bisa berhenti. Rasanya memalukan…
"…aku harus bekerja lebih keras dibanding yang lain."
Aku mengepalkan tanganku. Aku sudah mempermalukan diriku.
"…mulai dari bab 1."
Eh?
"Kau harus belajar lebih keras, kan? Berarti kau harus mengingat dasarnya dengan baik."
Eh?
"Lebih baik kalau diulang dari Bab 1… ah, kita punya waktu 2 jam sebelum jam makan siang. Jadi, sebelum itu kau harus menguasai 2 dari 6 materi yang akan diujikan."
Eh? Dia bicara apa? Diujikan… eh? Dia… mau membantuku belajar?
"Buka halaman awal, cepat."
"Ba-Baik."
Aku menurutinya dan membuka textbook dan buku catatanku. Setelah itu, Namikaze menjelaskan rumus-rumus yang tertulis di sana, bagaimana asal muasal rumusnya, dan cara mengembangkannya. Lalu, mengerjakan soal-soal cerita. Memberikan tips untuk menentukan rumus yang akan digunakan. Dan mengulangnya beberapa kali sampai aku benar-benar paham.
Rasanya menyenangkan. Seperti mendapat pelajaran privat. Aku jadi ingat guru-guru kesenian Jepang-ku. Mereka juga mengajariku seperti ini. Ah, apa sebaiknya aku juga minta guru privat seperti Hanabi, ya? Mungkin bisa membantu.
Ah, aku mengerjakan sepuluh soal dengan baik tanpa petunjuk Namikaze. Senyumku mengembang tanpa sadar. Aku sangat senang. Berbeda pada saat aku belajar sendiri di perpustakaan.
"…maaf."
Eh? Aku menoleh pada Namikaze. Sepertinya dia mengatakan sesuatu. Keningku mengernyit heran.
"Aku minta maaf."
"…" Aku masih memandangnya heran. "Untuk apa?"
Dia melirikku dengan sudut matanya. "Kejadian di Gedung Olahraga," ujarnya lirih. "…maaf. Aku… sudah melakukan sesuatu yang salah. Sangat salah."
Ah, soal itu. Aku memainkan ujung seragamku dengan gugup. Benar juga. Ada kejadian seperti itu, ya?
"Aku minta maaf, Hyuuga-"
"Tidak apa," potongku.
"…aku-" Dia berhenti bicara dan memandangku. "Eh? Tidak apa?"
Aku mengangguk lemah. Itu memang bukan salahnya, kok.
"Namikaze-san tidak salah, kok. Hari itu…" Aku menutup wajahku yang memerah. Aah, kenapa aku cepat sekali malu tiap di hadapannya?
"…a-aku memang kekanakan. Suasana hatiku sedang buruk karena suatu hal, ta-tapi, aku malah menyalahkan Namikaze-san. Tapi, Namikaze juga bersikap seenaknya, jadi mungkin kamu memang salah. Eh?" Aku semakin cepat memainkan ujung kemejaku. Aku ini bicara apa, sih?
"Ah, a-aku juga tidak begitu mengerti, sih. Ya-Yang pasti, aku juga salah. Ja-Jadi, Namikaze-san tidak perlu minta maaf."
Aku mengangkat wajahku untuk menatap Namikaze. "Dan, karena itu, aku juga tidak akan minta maaf."
Namikaze tidak mengucapkan apapun. Dia hanya menatapku. Hanya itu. Dia kenapa, sih?
"Namikaze-san?"
Dia tiba-tiba menutup mulutnya. "Wuah." Dia menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kudengar.
"Kau hebat, Hyuuga."
"Eh? Kenapa?"
Dia tersenyum kecil. "Kau membuatku kehilangan napas dua kali hari ini," ujarnya ringan. "Kau benar-benar hebat."
DEG
Aku merasakan wajahku memanas. A-apa? Di-dia membicarakan apa, sih? "Apa-apaan, sih?"
"Sungguh. Aku tidak berbicara manis."
Wajahku semakin memanas. Dia memang sering bicara seperti ini, ya?
"Ah," Aku teringat wrist-band yang ia pinjamkan padaku. Aku merogoh isi tasku dan mengeluarkan wrist-band berwarna oranye itu dan meletakkannya di meja. "Ini. Terima kasih untuk waktu itu."
Wajahnya berubah bingung. "Kenapa dikembalikan?"
Aku juga mengeluarkan ekspresi bingung. "Kan, ini punya Namikaze-san."
"Aku kan memberikannya padamu. Pakai saja."
DEG
Wajahku kembali memerah. "MA…ma-mana bisa?"
"Yang pasti aku tidak suka barang yang sudah kuberikan kembali padaku. Terserah mau dipakai atau tidak. Dibuang juga ti-"
"Mana bisa dibuang. Kan ada namamu disana. Ini penting 'kan untukmu." Aku menunduk saat mengatakannya. Aku tahu aku sudah mengatakannya berulang kali. Tapi, kenapa wajahku cepat sekali memerah di dekatnya?
Namikaze terdiam sejenak. "Hei."
Aku mengangkat wajahku. Eh?
DEG
Wajahnya sudah dekat sekali dengan wajahku!
"A-A-Ap-Apa?"
Kyaaaa! Mungkin sekarang wajahku sudah seperti kepiting rebus. Jantungku juga bergerumuh seperti kembang api yang dinyalakan di malam tahun baru.
"Tidak jadi."
Mau tidak mau aku menghela napas. Aku melirik Namikaze yang tengah memandang ke arah meja. Aku ikut melihat ke meja. Cuma ada buku dan alat tulis. Apa yang sedang ia perhatikan?
"Hyuuga."
"Ya?"
"Itu… masih sakit?"
Aku menaikkan satu alisku. "Apa?"
"Pergelangan tanganmu."
"Ah." Aku memegang pergelangan tanganku. "Tidak. Memang tidak apa-apa." Aku menatapnya lagi. "Kenapa?"
Dia balas menatapku. "Sini tangan kirimu."
Aku mengulurkan tangan kiriku sesuai permintaannya. "Ada a-"
Dia mengeluarkan sebuah gelang perak dengan hiasan matahari. Dan memakaikannya di pergelangan tanganku. Aku terpikat delam sekejap. Aku memperhatikan bentuk mataharinya yang sangat cantik.
"Indah sekali," gumamku tanpa sadar.
"Kau suka?"
"Hn." Aku mengangguk. Ini benar-benar bagus.
"Syukurlah."
Aku terdiam sejenak. Sepertinya ada yang salah? Eeeh?
"Ah! I-ini untukku?" sergahku kaget.
"Iya. Aku tidak sengaja melihatnya. Kupikir kau pasti suka. Dan, aku tidak salah, kan?"
Aku menggeleng cepat. "A-aku tidak bisa menerimanya."
Mata Namikaze menyipit tidak suka. "Aku sudah bilang, kan?" Nada suaranya berubah menjadi dingin. "Aku tidak suka barang yang sudah kuberikan kembali padaku."
Eh? Iya, sih. "T-Tapi-"
"Jadi pakai dan jangan banyak bicara."
Eeeh? Kenapa Namikaze jadi memerintah begini?
KRIIIIIIIING
"Ah, jam makan siang. Aku harus pergi." Namikaze bangun dari kursi dan mengambil dasi dan blazer yang berada di kasur. Kemudian dia berjalan menuju pintu. "Ja ne, Hyuuga."
BLAM
Aku merasakan bahuku melemas dan bersandar dengan jantung yang berdegup kencang. Ah, aku tidak sanggup untuk tidak menghela napasku lagi.
"Hari ini aneh sekali, sih."
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
KRIIIIIIIIIIING
"Ah, jam makan siang. Aku harus pergi." Aku mengambil dasi dan blazer yang kulepaskan karena panas. Aku melirik gadis yang sedang menatapku bingung. Aku berjalan menuju pintu sambil menahan napas agar debaran jantungku tidak terdengar keluar.
"Ja ne, Hyuuga." Ah, suaraku tercekat. Aku tidak terdengar aneh, kan? Tadi suaraku beruba jadi tinggi tidak, ya?
BLAM
Aku menutup pintu dan bersandar. Aku menatap kosong koridor yang masih sepi. Di benakku masih terbayang peristiwa yang terjadi di balik pintu ini tadi.
Aku tersenyum tanpa sadar.
"… dia suka, ya?"
Aku melangkahkan kakiku dengan perasaan melayang. Senyumku pasti terlihat lebar sekali. Aku senang dia suka gelangnya, dan menganggap wrist-band itu benda yang penting sehingga tidak mau membuangnya.
Padahal, itu cuma wrist-band yang kuberi bordiran namaku karena iseng. Aku menuliskan kedua marga orangtuaku juga karena Ayahku berdarah setengah Inggris. Jadi di akte kelahiranku di Inggris juga memakai dua marga. Kata Ayah, aku harus bersyukur aku tidak harus memakai gelar di namaku.
Gelang tadi juga, benar-benar tidak sengaja kulihat saat sedang berjalan menuju apartemen Kiba. Kiba sedang melihat-lihat topi, katanya untuk liburan musim panas nanti. Ah, benar juga, setelah ujian semester, akan liburan musim panas. Sementara Gaara melihat-lihat jaket. Ah, anak itu…
Saat itu aku melihat aksesoris tangan. Seperti wrist band, jam tangan, gelang, dan banyak lagi.
"Ah, Naruto. Benar juga, dimana wrist-band norak yang biasa kau pakai?" celetuk Kiba santai. Dia sedang mencoba topi berwarna biru dengan logo yang sepertinya sering kulihat.
"Norak? Sial."
Kiba tertawa. "Kau selalu membeli warna-warna mencolok, seperti oranye, merah cerah, atau yang ekstrim kemarin, kau membeli kemeja musim panas dengan motif floral."
"Itu bukan untukku. Itu buat pamanku. Gag gift."
"Yah setidaknya kau tidak mencampur oranye dan biru la…gi…" Kiba menyipitkan matanya dan menatap Gaara seakan Gaara adalah alien yang sedang menyamar. Aku ikut menoleh. Ah, anak itu.
Aku ingat, saat itu aku dan Kiba mengucapkan komentar yang sama dengan lirih. "…Fashion Terorrist."
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Minggu setelah ujian adalah masa-masa yang paling mengerikan. Dimulai dengan pengumuman hasil ujian semester, dan satu persatu panggilan perbaikan. Dan berakhir dengan pengumuman yang harus mengikuti kelas perbaikan selama musim panas.
Aku baru menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah kupedulikan. Biasanya, saat melihat nilai hasil ujian, aku hanya melihat nilaiku sendiri, lalu pergi ke ruang kesehatan untuk melakukan shift-ku.
Nilaiku? Ah, maksudnya peringkatku, biasanya hanya berada di antara peringkat 15-20. Ah, pernah sekali aku berada di peringkat 30.
Ah, benar juga. Aku akan menceritakan apa yang tidak biasa di tahun ini. Ini tahun kedua di SMA Konoha ini. Dan peringkatku untuk pertama kalinya menembus 10 besar sekolah. Aku berada di peringkat 8.
Lalu, kali ini juga, aku tertarik untuk melihat nilai yang lain. Aku menaikkan posisi mataku untuk melihat nilai yang ada diatasku.
Peringkat 8 Hyuuga Hinata. Peringkat 7 Tanaka. Peringkat 6…. Peringkat 5 Sabaku Gaara…. Peringkat 2 Namikaze Naruto.
Eh? Eeh? EEEEEEH!
Aku terbelalak. Kalau tidak menutup mulutku, mungkin aku sekarang sudah memekik kaget. Aku menyipitkan mataku untuk membaca dengan lebih jelas.
"Wah, kali ini Aburame yang peringkat 1, ya." Aku mendengar suara siswa yang berkomentar.
"Mereka memang selalu bergantian, kan," komentar yang lain.
"Yah, Namikaze tidak populer tanpa alasan, kan?"
Aku menoleh pada dua siswa yang meninggalkan papan pengumuman sambil bercanda. Aku berjalan dengan perasaan yang berkecamuk. Tanpa sadar, aku sudah berada di dalam ruang kesehatan dan duduk di depan meja.
Dia punya banyak teman. Dia juga bisa bermain di bawah sengatan matahari dalam waktu lama. Dia jago olahraga. Nilainya bagus. Dia juga… tampan.
"Dia diberkati, ya? Jadi iri."
"Pada siapa?"
Ng? Aku menoleh pada suara yang tiba-tiba menyahut.
"Kyaaa-Hmph~"
"Aaak, kau sudah berjanji tidak akan teriak lagi, kan!"
Na-Namikaze? Di-dia dengar tidak, ya? Eh. Tapi aku tidak mengucapkannya sih.
Namikaze duduk di hadapanku setelah meletakkan tasnya di atas meja. "Kau sedang melamun, ya? Mau?"
Namikaze membuka isi tasnya dan mengeluarkan beberapa snack. Ada teh oolong, soda, roti, keripik kentang, pocky, dan biskuit. Aku mengambil botol teh oolong dan membuka tutupnya.
"Jadi, kau iri pada siapa?" Namikaze membuka keripik kentang dan mulai mengkonsumsi makanan ringan berkalori super itu.
"…kamu," gumamku lirih. Aku mengambil roti melon yang dibelinya. Ah, aku belum sarapan tadi pagi.
Dia menaikkan alis kirinya. "Kenapa?"
Aku merengut. "Kamu sudah lihat nilai ujian semester?"
Dia menyobek kecil roti melon di tanganku. "Kau sedang mengalihkan pembicaraan, ya? Aku belum lihat. Memangnya nilainya akan berubah kalau dilihat terus menerus-"
DUG
"-aak! Hei!"
"…menyebalkan."
Dia meringis saat aku menendang kakinya karena kesal. "Adududuh, kenapa, sih?"
Aku menggigit rotiku dengan kesal.
"…gara-gara roti melon?"
DUG
Ah, aku juga belum cerita ya? Setelah membantuku dengan fisika, Namikaze terus mengajariku dengan mata pelajaran yang lain. Selama dua minggu saat sebelum ujian dan ketika ujian. Yah, bisa dibilang nilaiku jadi naik berkat dia juga.
Aku memang tahu dia lebih pintar dari penampilannya. Tapi, baru tahu kalau dia sepintar itu. Dan yang paling menyebalkan, karena sepertinya dia tidak sadar kalau dia itu pintar.
Selama dia mengajariku, dia selalu mengantarku pulang. Dia juga menghabiskan jam makan siangnya di ruang kesehatan. Kalau aku sedang tidak ada shift, kita belajar di perpustakaan.
Oh iya, pengikut 'oujisama' masih sering mendelik atau menabrakku saat berpapasan, sih. Tetapi, yang seperti di gedung olahraga itu tidak pernah terjadi lagi. Aku juga tidak begitu mengerti. Padahal, aku yang sekarang… mungkin lebih menerima keberadaan Namikaze di sekitarku. Rasanya jadi lebih menenangkan.
"Hinata."
Aku menoleh pada Namikaze yang sedang melihatku dengan tajam.
"Eh?"
"Aku…boleh memanggilmu Hinata, kan?"
SYUUUUUSH
Angin berhembus melewati jendela dan menghampiri kami. Aku merasakan debaran jantungku mulai tidak beraturan. Aku mengangguk.
"…boleh."
Ah, seringaian itu. Aku melihat Namikaze menyeringai dan, aku tidak membencinya.
.
~to be continued~
.
Asa mo, yoru mo, koi kogarete
Absurd : hoshi ni naru yo kimi mamoru Tatakai wa yukue shirazu
Ashita to kinou no kousaten de
Absurd : majiwaranai kimi to boku
Author + Absurd : Ima iku yo, boku wa nagareboshi~
Simply : {ngeliat author dan absurd yang lagi joget-joget ga jelas dengan tampang datar} aku ga ngerti lagi...
Absurd : Ayo bales review, baby!
Simply : Siapa 'baby'-mu, hah?
Vicestering : duh, aku juga ikut deg deg an baca review-mu, #dihajarsimply
kirei- neko : aku juga ga jago bikin adegan pembullyan kok, mungkin(?) akan berakhir dengan cepat
shin jun : disimpen dulu sarannya ya ^^ makasih
Amu B : sebelumnya maaf, bukan tidak menerima kritikan, cuma saya sedang melatih kemampuan menulis dengan POV pertama, keterangan tidak dibuat juga karena keegoisan saya, mohon maaf ya^^ tapi tetep dibaca, boleh? #kedipkedipmanja
laila angel sapphireBluee : hohoho, piktor yah kamu .)/*plak tenang aja, belum waktunya Naru-kun nyerang
yuriski suryani : salam kenal juga^^ review lagi ya
okeh, minta review lagi doooong #kedipkediplagi
