Berjalan disampingnya. Menggenggam tangannya. Saling menautkan jemari kami. ah, andai waktu bisa berhenti, rasanya aku ingin terus terperangkap dalam rasa indah yang semu ini. setidaknya, di dalam ruang ketidak pastian ini, aku masih bisa merasakan kehangatannya. Dan, aku merasa puas.

Last Chance, Last Hope

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Hurt/Comfort, Drama

Pairing : NaruHina

Rated : T(eens)

Warning : semoga tidak typo, AU, OOC

Don't like? Just review ^v^

.

.

.

"Hinata."

Aku menoleh pada Namikaze yang sedang melihatku dengan tajam.

"Eh?"

"Aku…boleh memanggilmu Hinata, kan?"

SYUUUUUSH

Angin berhembus melewati jendela dan menghampiri kami. Aku merasakan debaran jantungku mulai tidak beraturan. Aku mengangguk.

"…boleh."

Ah, seringaian itu. Aku melihat Namikaze menyeringai dan, aku tidak membencinya.

.

~SIMPLY ABSURDITY~

.

"PASS! PASS! PASS!"

"KYAAAA! Naruto-oujisama!"

"Inuzuka! Lihat posisimu! Namikaze fokus!"

"KYAAAA! Ganbatte, Naruto-oujisama!"

"Naruto! Tangkap!"

"SHOOT!"

"YES!"

PRIIIIIIT

"Yak! Berkumpul! Kita lanjutkan besok pagi jam 6. Kelas 1, bereskan bola!"

Aku berjalan menghampiri pinggir lapangan. Akhirnya latihan selesai juga. Pelatih benar-benar terbakar semangat setelah pertandingan prefektur kemarin. Apalagi mengingat pertandingan penyisihan nasional akan diadakan dalam waktu dekat.

Tapi, menyiksa atlit juga tidak bagus. Aku bisa gila kalau lebih lama lagi harus berlari di udara sepanas ini. Jadi ingin bersantai di tempat yang sejuk. Ah, apa aku ke ruang kesehatan, ya?

"Naruto-oujisama."

"Ng?" Aku menoleh pada gadis berambut pendek yang menyodorkan handuk bersih padaku.

"Ah! Curang! Aku juga membawa handuk untuk Naruto-oujisama!" Seorang gadis lain ikut menyodorkan handuk padaku.

"Aku juga!"

"Aku juga!"

Ah, terjadi lagi. Aku benar-benar tidak menyukai situasi seperti ini. Apa harus kubuat latihan tertutup, ya?

"Hei. Hei. Hei." Aku menoleh pada suara yang kukenal. "Jangan mengganggu latihan pangeran kalian dong. Nanti kalau kalian tidak boleh masuk lagi, kan aku yang repot."

Aku memandang Kiba jijik. Anak ini bisa mengucapkan sesuatu yang mengerikan dengan wajah yang santai.

"Eeeh… maafkan kami, Kiba-senpai."

Ah, tapi caranya berhasil. Kiba melambaikan tangan pada siswi-siswi yang tengah meninggalkan gedung olahraga. Kemudian, Kiba menoleh ke arahku dan melemparkan handuk bersih.

"Ah, sankyu."

"Kau benar-benar berhenti, ya?"

"Apanya?"

"Kencan dengan cewek-cewek atau semacamnya. Yang biasa kita lakukan." Ah, aku dulu sering melakukannya, ya?

"Kau berubah, Naruto."

Aku menoleh pada Kiba yang tengah menatapku. Berubah? Aku? Aku mengecek raut wajah Kiba. Dia tidak tampak marah, kecewa, atau yah, entahlah.

"Benarkah?"

"Aku tidak bilang aku tidak suka. Hanya saja…" Kiba menggantungkan kalimatnya. "…rasanya aneh. Biasanya, kita punya banyak waktu bersama. Kadang bertiga dengan Gaara. Tapi sekarang, rasanya tidak seru kencan sendirian."

Aku menyeringai dan merangkul Kiba. "Kau kesepian, eh?"

Kiba mengubah tatapannya seakan berkelip-kelip. "Iya, hari ini main, yuk."

"Berdua saja?"

"Iya, aku cuma butuh kamu, kok."

BRUUK

Aku berbalik ke arah suara itu. Gaara menjatuhkan botol air mineral dan menatap kami bergantian. Ah, sepertinya dia akan mengira yang bukan-bukan. Apa memang sebaiknya aku tidak melayani candaan Kiba tadi, ya.

"Gaara…"

"…jangan mendekat!"

Duh, menjelaskannya sepertinya akan memakan waktu.

.

~SIMPLY ABSURDITY~

.

"Rencana?"

Aku mengernyit heran mendengar pertanyaan pria pirang di hadapanku ini.

"Iya, kau punya rencana khusus untuk libur musim panas? Minggu ini misalnya?"

Keningku berkerut. "Tidak, kenapa?"

"Benarkah?"

Aku mengangguk. "Iya. Biasanya memang seperti itu. Otou-sama tidak suka berwisata. Keluarga besarku juga ada di Konoha. Aku juga tidak punya teman. Lagipula jadwal latihan kesenian Jepangku juga tidak berubah."

"Kamu punya waktu luang? Hari Sabtu nanti?"

"Sabtu?" Aku mengingat-ingat jadwal kursus dan shift ruang kesehatanku. "Aku ada kelas ikebana sampai jam 10 pagi. Setelah itu aku kosong. Kenapa?"

Dia tersenyum lebar. "Mau main ke suatu tempat?"

"Kemana?"

"Ke tempat yang banyak kue-nya."

Aku mengernyit heran sekali lagi.

"Café?"

"Secara teknis, belum jadi Café." Dia masih tersenyum lebar. "Kenalanku meminta tolong untuk mencoba kue-kue yang akan dijualnya di Café yang akan dibuka bulan depan."

"Oh," aku mengangguk mengerti. "Inuzuka-san dan Sabaku-san juga ikut?"

Namikaze menatapku tidak percaya. "Memangnya mereka harus ikut?"

"Eh? Bukannya pendapat banyak orang lebih baik, ya? Makanya Namikaze-san mengajakku juga."

Namikaze menggeser kursinya mendekatiku dan mendelik tajam ke arahku. Eh, ke-kenapa? Aku salah, ya?

"Pertama, kenapa kau masih memanggilku dengan Namikaze, Hinata?" tanya Namikaze tegas. Dia mengacungkan satu jarinya di depan wajahku. "Kan aku sudah memanggilmu dengan Hinata. Seharusnya, sebagai balasannya, kau juga harus memanggilku dengan nama kecilku. Mana kau masih memakai embel-embel -san dibelakangnya."

Eh? Memangnya seperti itu aturannya?

"Ayo, panggil nama kecilku."

"T-Tapi-"

"Hinata. Ayo."

Aku menelan ludahku gugup. Saat seperti ini, Namikaze selalu tidak bisa dibantah. Ah, benar juga. Aku harus memanggil nama kecilnya.

"Na-Naruto…" Aku mengalihkan pandanganku. "-san."

"Hoi."

Aku mendorong pria menyebalkan ini agar tidak terlalu dekat denganku dan tidak menyadari wajahku yang sudah memerah. "Uuh, untuk hari ini segitu saja."

Naruto…kyaaaa! Aku memegang wajahku yang masih memerah. Dia akhirnya menyerah dan menjauhkan kursinya lagi.

"Yang kedua,"

Ah, penyiksaannya belum berakhir, ya?

"Aku bukan mengajakmu supaya banyak orang. Saat aku diminta tolong, aku ingat kau suka kue-kue seperti itu, makanya aku mengajakmu. Tidak ada urusannya dengan Kiba dan Gaara."

Aku melirik Naruto yang tengah menatapku lembut. Ah, dia memang pintar berbicara, ya. Menyebalkan. Benar-benar menyebalkan. Karena aku selalu berdebar saat dia melakukannya.

"Ja-Jadi, Inuzuka-san dan Sabaku-san tidak akan datang, ya."

Naruto mengangguk. "Diundang pun, mereka tidak akan datang, sih. Gaara tidak suka makanan manis. Sementara Kiba, katanya orangtuanya pulang ke rumah."

"Eh? Pulang ke rumah?"

"Ah, kau tidak tahu, ya? Kiba kan di Konoha tinggal sendiri. Orangtuanya ada di luar negeri. Terkadang, kakaknya yang sudah menikah mengurusnya."

"Ooh." Aku baru tahu. Yah, selama ini aku tidak pernah tahu apa-apa dari siswa-siswa disini. Aku sedikit demi sedikit mengenal mereka lewat cerita-cerita Kurenai-sensei dan Naruto.

"Berarti kau juga tidak tahu kalau Gaara juga sama. Keluarganya ada di Suna."

"Benarkah? Ah, benar juga. Rasanya Kurenai-sensei pernah menyinggungnya."

Naruto menatapku lagi. "Kau sering mengobrol dengan Kurenai-sensei, ya?"

Aku mengangguk. "Kami mengobrol banyak saat aku sedang ada shift dan Kurenai-sensei tidak banyak pekerjaan."

"Membicarakan apa saja?"

Aku tersenyum. "Banyak. Ah, kita juga sering membicarakan Namikaze-san- ah."

"Hoi."

.

~SIMPLY ABSURDITY~

.

"Hmm…"

Aku melihat pantulan tubuhku di cermin. Kemeja biru, sweater putih tanpa lengan, dan jeans denim biru gelap. Terlalu rapi, ya?

Aku menyerah dan melepaskan baju yang kukenakan. Lalu aku mengambil parka tanpa lengan dan keluar kamar. Yah, aku bisa mati kepanasan kalau seperti tadi.

"Kau mau keluar, Naruto?" Aku menoleh dan menemukan Ibuku di dapur. Aku menghampirinya dan menemukan onigiri di atas meja. Ah, lumayan.

"Iya. Ayah sudah berangkat?"

Ibu menuangkan teh oolong dingin ke gelas dan menyerahkannya padaku. "Baru saja Ayahmu mengirim pesan kalau dia sudah masuk pesawat."

"Kali ini kemana?"

"Inggris, 5 hari katanya."

"Ibu tidak ikut?" Aku melihat jam tanganku. Masih jam setengah 10, aku janjian dengan Hinata jam 11 di depan stasiun. Ah, masih ada waktu, ambil satu onigiri lagi.

"Memangnya kau bisa ditinggal?"

Aku memandang Ibuku kesal. "Bu, aku bukan anak SD lagi. Lagipula, kalau ke Inggris, ibu bisa bertemu kakek dan nenek, kan?"

Ibu balas menatapku. "Kamu tidak mau ikut?"

"Aku sibuk latihan, Bu. Pertandingan sudah dekat." Ah, onigiri Ibu memang enak. Aku meminum tehku. Segar.

"Ibu boleh pergi?"

"Tentu saja."

"Makanmu nanti?"

"Kalau terdesak aku bisa delivery atau ke apartemen Kiba."

"Kalau kamu harus bangun pagi-pagi?"

"Aku bisa beli di konbini, Bu. Dua puluh empat per tujuh."

"Bekal latihanmu? Kalau kamu sakit? Kalau-"

"Bu, sudah kubilang aku bukan anak kecil lagi."

Ibuku menyerah. "Ibu benar-benar boleh pergi?"

Aku tersenyum menenangkan Ibuku. "Ibu sudah lama tidak liburan berdua Ayah, kan. Pergi saja, Bu. Culik Ayah dari kantor."

Ibu memekik senang dan memelukku erat. "Senangnya kalau anakku sudah dewasa!"

Aku tersenyum.

"Jangan menyesal kalau Ibu pulang membawa adikmu!"

"Hoi."

Ibu tertawa ringan sambil mengacak-acak rambutku. Dia selalu bisa membuatku terlihat seperti anak kecil. Dia selalu mengatakan, baginya aku selamanya akan jadi bocah yang mengekor di kakinya dan meminta makan malam dengan manisnya.

"Oh iya. Kau mau latihan, ya. Mau bawa bekal?" tanya Ibuku sambil kembali ke dapur. "Mau bawa berapa? Kiba dan Gaara mau tidak?"

"Ah, aku mau ke Café-nya Kak Iruka, Bu. Jadi tidak perlu bekal."

"Ooh, begitu. Kau mau kesana jam berapa?"

Aku melihat jam tanganku lagi. Sudah jam 10 lewat. "Ah, sebaiknya aku berangkat sekarang."

Yah, sekarang aku harus menemui gadis itu. Hyuuga Hinata.

.

~SIMPLY ABSURDITY~

.

"Maaf aku terlambat. Kamu menunggu lama, ya?"

Aku terbelalak. Ini pertama kalinya aku melihatnya di luar sekolah dan selain di pesta kebun kemarin. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari sosok yang terlihat jauh lebih mempesona dibanding dengan seragam SMA Konoha.

Dia memakai blouse berwarna ungu dan rok putih panjang. Rambutnya dijalin sekedarnya sampai beberapa helai rambutnya yang bebas tertiup angin dan membuatnya terlihat seperti model. Dia menatapku dengan manik amethyst-nya yang jernih.

"Naruto-san? Kamu kenapa?"

Aah, dia mau membunuhku, ya?

"Café-nya ada dimana?"

"Setelah belokan nanti sudah terlihat kok."

Dia berjalan dengan santai di sampingku. Aku tidak bisa menatapnya langsung. Tapi, aku juga tidak tahan untuk mengalihkan pandanganku. Dia sedang tersenyum lebar. Membayangkan kue nanti, ya?

"Ada apa, Naruto-san?"

"Eh?"

Hinata mengernyit heran. "Naruto-san berbeda dengan biasanya."

Duh, dia menatap langsung ke mataku. Rasanya seperti tertangkap basah di kejadian perkara. Aku langsung membuang muka. Semoga dia tidak melihat raut wajahku sekarang.

"Kau juga," gerutuku lirih.

"Aku? Apanya?"

"Kau jadi lebih banyak bicara. Dan, kupikir kau akan pakai yukata atau kimono."

"Aku tidak mungkin pakai kimono. Kan panas-ah!"

GREP

Aku meraih lengannya saat ia nyaris terjatuh. Lingkar lengannya kecil. Dia juga ringan. Dia makan tidak, sih.

"Ya Tuhan. Nyaris sekali," gumamnya dengan suara gemetar.

"Hati-hati."

"Ah, iya. Terima kasih."

Kenapa?

Kenapa saat mendengar suaranya, aku merasa seperti ada angin yang berhembus melewatiku. Sejuk. Dan, aku suka itu.

Aku meraih tangannya dan menggenggam tangannya. Aku merasakan tatapan bingungnya, tapi memutuskan untuk mengacuhkannya. Dia akhirnya membiarkanku melakukannya. Makanya, aku melanjutkannya dengan menautkan jemari kami.

Rasanya, memang seharusnya seperti ini.

"Ah, sudah sampai," ujarku saat melihat toko yang masih sepi.

Aku mendorong pintunya dan mengajak Hinata masuk. Interiornya masih belum banyak berubah sejak pertama aku kesini bulan lalu. Tapi sudah ada beberapa benda baru seperti papan tulis kapur yang digantung di dinding. Mungkin akan dijadikan daftar menu.

"Wah, kau sudah datang, Naruto-aaaaah! Cewek cantik!"

Aku mendelik pada pria yang sudah kukenal sejak kecil itu. Dia memakai celemek dan topi kain. Dia sedang beres-beres? Saat mengundang tamu untuk mencicipi kue?

"Kak Iruka sungguhan minta tolong tidak, sih? Kok berantakan begini?"

Umino Iruka, 27 tahun. Dulu, katanya saat Ayah masih SMA pernah tinggal di rumah keluarga Kak Iruka. Karena Ayah ingin belajar di Jepang katanya. Sampai sekarang, hubungan keluargaku dan keluarga kak Iruka masih baik.

"Maaf, maaf. Habis tadi ada barang baru yang datang," ujar Kak Iruka santai. Dia tampak kelelahan tapi senyumnya lebar sekali. Menyenangkan, ya?

"Ah, ini siapa, Naruto?" Tiba-tiba wajah Kak Iruka berubah antusias sambil melihat Hinata. Lalu balas menatapku minta dikenalkan. Hinata juga menatapku penasaran.

"Hinata, ini pemilik Café ini, panggil saja Kak Iruka. Kak, ini Hinata," ujarku memperkenalkan mereka.

"Sa-Salam kenal," ucap Hinata lembut.

"Wah, benar-benar manis, ya? Kudengar kau suka makanan manis, ya? Akan kubawakan segera." Kak Iruka berjalan menuju dapur.

"Mau makan dimana, kak? Masih berantakan seperti ini," sahutku heran.

Kak Iruka berhenti dan berpikir sejenak. "Di dapur saja, gimana?"

Aku menghela napas. Dia bisa seenaknya juga, ya?

"Hinata, makannya ditunda sebentar, ya," ujarku. Hinata mengangguk mengerti.

"Eh? Ke-kenapa?" desak Kak Iruka. "Ah, apa mau makan di ruanganku saja? Disana agak rapi."

Aku tersenyum kecil sambil menguncir rambutku. "Kita kerja sedikit dulu. Nanti baru makan."

Lalu aku mengeluarkan alat-alat untuk bersi-bersih dari gudang. Kak Iruka memindahkan beberapa benda agar lebih mudah membersihkannya. Sementara Hinata mulai menyapu lantai.

"Terima kasih, Naruto. Aku malah merepotkan kalian."

Aku terkekeh ringan. "Kak Iruka seperti orang lain saja. Oh iya, meja dan kursi kapan dikirim?"

"Aku pesan khusus, jadi paling cepat minggu depan."

"Kalau sudah sampai, hubungi aku. Biar kubawa Kiba dan Gaara untuk membantu."

"Hahaha, baiklah."

Setelah hampir dua jam merapihkan Café, akhirnya bentuknya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku dan Hinata duduk di satu-satunya sofa yang ada di ruangan besar itu. Sepertinya Kak Iruka mengeluarkannya dari ruangannya tadi. Kak Iruka sendiri sedang menyiapkan kue yang akan dicoba.

"Maaf ya, kau jadi ikut repot, Hinata."

Hinata tersenyum lembut. "Naruto-san dan Iruka-san sudah lama kenal, ya?"

"Yah, dia sudah ikut merawatku saat aku lahir. Jadi, dia sudah seperti kakak kandungku sendiri."

"Begitu, ya. Menyenangkan sekali."

Aku memperhatikan ekspresi Hinata yang damai. Dia benar-benar anggun, ya. Walau ada saat-saat dia tiba-tiba merajuk dan mengomel seperti anak kecil. Selebihnya, dia selalu tampak tenang.

"Kau sendiri?"

"Eh?" Wajahnya tampak bingung dengan pertanyaan yang kulontarkan tanpa sadar.

"Kau punya berapa saudara?"

"Hmm… aku tinggal di komplek keluarga, jadi semua anggota keluarga besarku ada disana. Tapi, keluarga intiku, ada aku, adik perempuanku Hanabi, ayah dan ibu."

"Kau memelihara hewan?"

"Tidak. Ibuku alergi bulu, jadi kami tidak pernah memelihara hewan apapun. Walaupun Hanabi terkadang merengek ingin memelihara anjing."

"Kau sendiri? Ingin memelihara anjing?"

Dia menggeleng lagi. "Aku lebih suka kucing."

"Oh, lalu-"

"KUE DATANG!" Kata-kataku terpotong oleh seruan Kak Iruka yang membawa dua nampan besar. Aku dan Hinata menoleh karena kaget. "Eh? Aku mengganggu kalian, ya?"

Hinata tertawa kecil. "Tidak apa-apa, Iruka-san."

Kak Iruka lantas menghidangkan kue-kue itu. "Ada 5 jenis shortcake, 10 jenis chocolate cake, dan 10 jenis fruitcake. Berikan pendapat kalian, ya!"

Pandangan Hinata berubah sekejap. Dia memperhatikan berbagai kue di hadapannya dengan antusias. Bola matanya bergerak dengan cepat. Jemarinya menelusuri kue-kue itu sekan sedang mengundi yang mana yang akan dia cicipi lebih dulu.

"Santai saja, Hinata. Kalau kurang, nanti akan dibawakan lagi oleh Kak Iruka. Yang ini, anggap saja tester."

"I-Iya." Hinata mengangguk semangat tanpa mengalihkan pandangannya dari kue-kue itu.

Aku memotong orange cake yang paling dekat denganku. Wuah, manis sekali. Aku beralih pada chocolate cake yang seperti berputar-putar di mataku.

"Chocolate cake-nya kok banyak sekali, Kak. Bedanya apa?"

"Coklat yang digunakan, perpaduan gulanya, bahan tambahannya, dan cara mengolahnya. Seperti yang ini, ini Mousse Chocolate, coklatnya dicampur krim jadi teksturnya lebih ringan. Yang ini, Opera Cake, ada campuran kopinya. Kalau yang ini, Triple Chocolate, dari bahan rotinya, krimnya, hingga hiasannya, semua coklat."

Glek. "Ah, dunia patissier memang berat, ya." Aku menoleh pada Hinata. Dia sedang mencoba strawberry shortcake yang biasa. Lalu tersenyum lebar sambil memegangi pipinya. Ah, yang itu lebih manis.

"Bagaimana menurutmu, Hinata?"

Aku melihat Hinata menoleh pada Kak Iruka. Dia tersenyum lebar sebelum akhirnya bicara.

"Untuk shortcake-nya, yang ini dan ini, krimnya kurang lembut. Sepertinya campuran gulanya kurang halus. Tapi, yang ini memakai gula yang berbeda, ya? Hasilnya, bagus sekali. Lalu…"

Eh? A-Apa?

"Untuk fruitcake-nya, yang Carrot Cake, tekstur wortelnya masih terasa, lebih baik kalau tidak terlalu banyak menggunakan ampasnya. Kalau Peach Cake-nya lebih baik memakai krim yang berbeda supaya peach-nya terasa. Sedangkan Apple Cake…"

Apa yang dikatakannya? Aku tidak percaya dengan pendengaranku.

"Lalu untuk Chocolate Cake…" Hinata akhirnya terdiam dan menoleh padaku dan Kak Iruka bergantian. "Ada apa? Ada yang salah?"

"Kau tadi bilang apa?" gumamku dengan tidak yakin. "Campuran Krim? Gulanya berbeda?"

"Eh?" Hinata menatapku bingung.

Kak Iruka menarik napas panjang. "H-Hinata pro, ya?"

"Eh?" Hinata tampak berpikir. "Aku cuma suka memasak kue, kok."

Sepertinya tidak hanya begitu. Sampai mana dia bisa membuatku terkejut? Hinata benar-benar punya banyak hal yang membuatku heran.

.

~SIMPLY ABSURDITY~

.

"Naruto, tadi Ibumu mengirim pesan, katanya dia menitipkan kamu padaku. Maksudnya apa?"

Aku memasang telingaku mendengar Kak Iruka menyebutkan Ibu Naruto di percakapan mereka.

"Hah? Ibu bilang apa?"

"Ini, 'Iruka, aku titip putraku. Bye~'. Dia pergi ke suatu tempat?"

Naruto mengambil ponsel Kak Iruka untuk melihat lebih jelas. Lalu mengambil ponselnya sendiri. Sepertinya dia langsung menelpon seseorang.

"Halo, ini aku, Naruto. Iya…. Eh? Paman bilang Ibu dimana?" Mata Naruto membulat. "Hah?!"

Aku melihat Naruto dengan khawatir. Dia sekarang mengurut keningnya frustasi.

"Iya, tidak apa-apa, Paman. Aku cuma kaget…. Tidak, tidak perlu mengopernya ke Ibu. Terima kasih, Paman."

Naruto memutuskan sambungan telepon dan menghela napas panjang. Dia meraih potongan terakhir cake yang sedang ia makan dan menyandarkan bahunya.

"Kenapa?" Aku tak bisa menahan diriku untuk bertanya.

"Ibumu dimana, Naruto?" tanya Kak Iruka.

"Bandara. Menuju Inggris." Naruto menjawab dengan singkat. Aku mengernyit bingung.

"Kau tidak diajak?" tanya Kak Iruka lagi. "Tumben. Memangnya Ibumu sudah bisa melepasmu?"

"Aku yang menyarankan, kok. Ayah dan Ibu 'kan sudah lama tidak berlibur berdua. Aku juga bukan anak kecil yang tidak bisa ditinggal," ujar Naruto santai. "Aku hanya tidak percaya dia langsung mengambil penerbangan pertama yang ia dapatkan."

"Hahaha…" Kak Iruka tertawa kecil. "Berarti kau sendirian di rumah? Makan malammu nanti gimana?"

"Ah, benar juga. Sepertinya aku akan delivery. Atau main ke rumah anak-anak itu, ya?"

"Kalau mau ke apartemenku saja."

Naruto terkekeh. "Nanti pacar Kak Iruka tidak bisa mampir lagi. Tidak apa, aku bisa delivery, kok."

Mereka benar-benar dekat, ya? Seperti kakak adik sungguhan. Aku jadi kangen pada Hanabi. Kami terlihat seakrab itu tidak, ya?

"Ah, bukannya kau ada latih tanding besok lusa?"

Aku kembali memasang telingaku. Latih tanding?

Naruto mengangguk. "Iya. Di sekolahku, kok."

Latih tanding? Di sekolah? Aku tidak lagi mendengar percakapan Kak Iruka dan Naruto. Ah, bukannya katanya Ibu Naruto sedang keluar negeri. Aku memandang Naruto yang masih mengobrol dengan Kak Iruka.

Dia akan latih tanding, ya?

.

~to be continued~

.

*ngelirik prolog chapter ini...

galau banget,

*ngelirik chappie ini...

duh, kok merinding ya...

Simply : mood-mu lagi bagus, Thor?

Absurd : wuah, UTSmu udah kelar semua ya, Thor

*hening seketika

jangan ngebahas UTS deh

Simply : mau ngebahas nilai UTS strukturmu?

itu lebih sedih lagi...

OKE, hilangkan semua pikiran tentang UTS dan nilai, karena cara terbaik melewatinya adalah

#jeng jeng jeng

DATANG-KERJAKAN-LUPAKAN

...sip

Simply : apanya yang sip, mahasiswa stress... bales review sana


kirei- neko : sip, ditunggu aja. review terus ya

Amu B : oke oke, review lagi ya^^

TamaeKurogane : duh jadi malu... #blush imej Naru-kun disini, itu harapanku sama si abang... (simply : abang yg mana? cari abangnya dulu, baru ngayal

Vicestering : eeee, no comment deh. kalo di hint nanti malah spoiler. hahhaha

Namikaze Sholkhan : sip review lagi ya^^

jihan Fitrina-chan : sippo, nih lanjut review lagi ya^^