Banyak yang bilang, bahagia itu sederhana. Aku tahu, tapi tak benar-benar paham. Tapi, saat bersamanya, menghabiskan waktu di ruangan dingin, menghabiskan santapan setelah beraktivitas, dan merasakan kehangatan di setiap senyumannya, aku paham. Aku mencintainya. sebuah kenyataan kecil yang membuat perasaanku membuncah karena bahagia.
Last Chance, Last Hope
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Hurt/Comfort, Drama
Pairing : NaruHina
Rated : T(eens)
Warning : semoga tidak typo, AU, OOC
Don't like? Just review ^v^
Dedicated for NHTD
.
.
.
Naruto memutuskan sambungan telepon dan menghela napas panjang. Dia meraih potongan terakhir cake yang sedang ia makan dan menyandarkan bahunya.
"Kenapa?" Aku tak bisa menahan diriku untuk bertanya.
"Ibumu dimana, Naruto?" tanya Kak Iruka.
"Bandara. Menuju Inggris." Naruto menjawab dengan singkat. Aku mengernyit bingung.
"Kau tidak diajak?" tanya Kak Iruka lagi. "Tumben. Memangnya Ibumu sudah bisa melepasmu?"
"Aku yang menyarankan, kok. Ayah dan Ibu 'kan sudah lama tidak berlibur berdua. Aku juga bukan anak kecil yang tidak bisa ditinggal," ujar Naruto santai. "Aku hanya tidak percaya dia langsung mengambil penerbangan pertama yang ia dapatkan."
"Hahaha…" Kak Iruka tertawa kecil. "Berarti kau sendirian di rumah? Makan malammu nanti gimana?"
"Ah, benar juga. Sepertinya aku akan delivery. Atau main ke rumah anak-anak itu, ya?"
"Kalau mau ke apartemenku saja."
Naruto terkekeh. "Nanti pacar Kak Iruka tidak bisa mampir lagi. Tidak apa, aku bisa delivery, kok."
Mereka benar-benar dekat, ya? Seperti kakak adik sungguhan. Aku jadi kangen pada Hanabi. Kami terlihat seakrab itu tidak, ya?
"Ah, bukannya kau ada latih tanding besok lusa?"
Aku kembali memasang telingaku. Latih tanding?
Naruto mengangguk. "Iya. Di sekolahku, kok."
Latih tanding? Di sekolah? Aku tidak lagi mendengar percakapan Kak Iruka dan Naruto. Ah, bukannya katanya Ibu Naruto sedang keluar negeri. Aku memandang Naruto yang masih mengobrol dengan Kak Iruka.
Dia akan latih tanding, ya?
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
KRIIII-
Aku mematikan alarm sebelum suaranya membangunkan penghuni rumah yang lain. Jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi. Aku hanya punya waktu 2 jam sebelum tugas pagiku.
Aku melangkah pelan menuju dapur dan menghidupkan lampu penerangan seadanya. Kemudian, aku membuka kulkas untuk melihat bahan-bahan yang bisa kupakai. Ada telur, sosis, bacon, dan beberapa sayur.
Aku mulai dengan mencincang bacon dan membuat bola-bola. Aku mengocok telur untuk pelapis dan lalu menggorengnya. Sambil menunggu, aku menambah telur dan menambah garam ke dalamnya. Aku membuat dadar gulung dan memotongnya menjadi ukuran satu gigitan.
Aku mengambil kotak bekal yang jarang digunakan Hanabi dan menyusun lauk yang sudah kubuat. Aku kemudian mengeluarkan nasi dan membiarkan panasnya turun sambil menggoreng lebih banyak lauk.
"Kamu sedang apa, Hinata?"
DEG
Aku tersentak dan menoleh seketika ke arah pintu dapur. Aku menelan ludah saat melihat Ibuku bersandar di pintu sambil menatapku bingung. Beliau menghampiriku dengan perlahan.
"Membuat bekal, ya?" ujar Ibuku santai. "Hmm… sepertinya bukan untuk porsi satu orang."
"Oka-sama…" Aku meringis lirih. Ibuku terkikik geli.
"Iya, oka-sama tidak akan melapor pada Ayahmu," ucapnya sambil tersenyum penuh arti. "Kamu ada tugas pagi? Kalau begitu, kita harus bergegas supaya masih sempat membuat hidangan penutupnya."
Ibuku membuka kulkas dan memeriksa isinya. Sementara aku melanjutkan menghias onigiri dan menatanya di dalam kotak bekal.
"Wah, sepertinya tidak perlu membuat hidangan penutup, ya. Ibu baru ingat kalau semalam, pamanmu membelikan puding. Bawa ini saja, ada buah-buahan juga."
"Ah, Arigatou, Oka-sama."
"Hinata, kamu tugas pagi jam berapa?"
"Jam 9."
"Wah, ini sudah jam setengah 9, lho."
"Eeeh?" Aku menoleh melihat jarum pendek yang sudah bergerak menuju angka 9. Aku menambah kecepatanku untuk menata, menutup kotak bekal, dan akhirnya membungkusnya.
Lalu, aku meninggalkan Ibuku yang sedang membuat sarapan untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Setelah memakai seragam musim panas, yang terdiri dari atasan kemeja putih, sweater biru tanpa lengan, rok rimple biru-hitam dengan motif plaid, dan dasi hitam dengan dua strip kuning di bagian bawah, aku berjalan menuju ruang makan. Aku melihat kotak bekal yang akan kubawa sudah dimasukkan ke dalam kantung.
"Hanabi, angkat kepalamu sebelum Otou-sama melihatmu," bisik Ibu pada Hanabi yang tampak melanjutkan tidurnya di meja makan. Aku duduk di seberang posisi Ibuku dan di bagian kiri Hanabi.
Baru saja Hanabi mengangkat wajahnya dan merapihkan rambutnya, Ayahku masuk ke ruang makan dan duduk di posisi Kepala Keluarga. Ibu membukakan satu persatu penutup makanan Ayah, menuangkan ocha, dan terakhir menyerahkan sumpit Ayah.
"Itadakimasu," ucap Ayah dengan nada dingin dan tegas. Dengan itu, dimulailah rutinitas wajib setiap pagi di rumah. Aku memakan hidangan yang disiapkan Ibu tanpa menimbulkan suara berarti. Dan sesekali melirik ke arah jam tanganku. Masih ada waktu 5 menit sebelum jam 9, kalau sarapan ini berakhir tepat waktu seperti biasa.
Semoga aku tidak terlambat.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Terdengar seruan riuh yang meramaikan suasana. Ditambah pekikan-pekikan siswi yang meneriakkan nama pemain favoritnya. Ada juga komentar-komentar yang dilontarkan para siswa tentang jalannya pertandingan. Tapi, di antara tatapan antusias yang mengarah pada lapangan, ada sesosok gadis yang berdiri di pojok ruangan, tanpa berniat memasuki kerumunan.
Huhh, sebenarnya apa yang kulakukan saat ini, sih?
Iya, gadis itu aku, Hyuuga Hinata. Berdiri bingung di luar kerumunan, tidak bisa melihat jalannya pertandingan. Tidak mampu menyelip di antara siswa-siswa yang menonton dengan santai, juga tidak berani berdesak-desakan di antara para siswi yang tengah memekik dengan sekuat tenaga.
PRIIIIIIIIIIT
"Kyaaaaa!"
"Lihat sini dong!"
"Ouji-sama! Pakai handuk ini aja!"
"Kiba-kun keren sekali!"
Aku melirik para siswi yang semakin antusias mengerumuni para pemain yang selesai bertanding. Sedangkan para siswa satu persatu meninggalkan gedung olahraga. Aku menghela napasku. Apa seharusnya aku tidak kesini, ya? Toh, aku juga tidak berani mendekatinya di depan semua orang.
Aku berjalan dari posisiku sekarang. Setelah berjalan tiga langkah, aku mendengar suara Inuzuka yang tengah menenangkan kerumunan itu. Dan, saat kerumunan itu mulai menyebar, barulah aku melihat sosoknya yang tengah mengelap wajahnya dengan handuk. Tatapan kami bertemu.
DEG
Dia masih memandang ke arahku. Aku mengendalikan diriku dan tersenyum kecil sebelum akhirnya menunduk dan mempercepat langkahku meninggalkan gedung olahraga itu. Aku memegangi pipiku selama perjalananku kembali ke ruang kesehatan.
"Kyaaaaa!"
Aku jadi mengerti perasaan siswi-siswi tadi. Aku tidak bisa berhenti memekik di dalam hatiku tanpa sadar. Menyebalkan.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
"Kau mengerti 'kan, Naruto?"
"Eh?" Aku menoleh pada Pelatih dengan bingung. "Ah. Iya, Senpai."
Pelatih mendelik ke arahku dengan tajam. Dia juga menaikkan sebelah alisnya. "Kau dengar atau tidak sebenarnya, Naruto?"
"Strategi hari ini 'kan, Senpai? Aku dengar, kok."
Pelatih masih menatapku curiga, tapi memutuskan untuk mengacuhkannya. "Jangan gegabah, dan buang semua hal yang tidak berubungan dengan pertandingan. Jangan sampai kau harus ditarik dari pertandingan musim ini karena ceroboh dan berakhir cidera. Mengerti semua?"
"HAIK, SENPAI!"
Aku memakai pelindung siku yang berbahan kain di lengan kananku, dan wrist-band putih di pergelangan tangan kiriku. Aku menyebarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Mencari sesosok gadis yang mungkin secara ajaib menonton pertandingan ini. Mungkin, aku memang terlalu banyak berharap.
Pertandingan akan dimulai jam 11 tepat, dan berakhir saat jam makan siang. Setelah pertandingan tidak ada latihan tambahan. Apa sebaiknya aku melihat keadaannya nanti setelah pertandingan, ya?
"Naruto! Ambil posisi!"
Yah, saat ini aku harus fokus pada pertandingan dulu.
PRIIIIIIIIT
Wasit melempar bola, Kiba melompat dan berhasil mendapatkan bola. Aku berlari mengikuti Kiba menuju ring lawan. Setelah melewati beberapa pemain lawan, Kiba mencoba mencetak angka, tapi pemain lawan menangkisnya dan berhasil merebut bola.
Aku berlari mengejar pemain itu dan berusaha merebut bola. Dia melempar bola, dan bola itu membentur pinggiran ring dan keluar lapangan.
Pertandingan dilanjutkan kembali. Sedikit demi sedikit poin mulai berubah. Unggul, seri, ketinggalan beberapa poin, kemudian kembali unggul. Kedudukan berubah selama beberapa kali sampai akhirnya waktu yang tersisa tinggal 1 menit dan kami unggul 2 poin. Saat ini, yang terpenting adalah bertahan, dan mencari celah untuk memperbesar jarak.
Kami menghabiskan waktu dengan operan-operan panjang dan membuat mereka lengah. Aku mendribble bola sambil melihat sekelilingku. Dan, aku menemukan posisi kosong di bagian kanan, aku berlari dan mengambil posisi untuk melempar.
Masuk!
Seketika terdengar pekikan dan seruan dari penonton di sisi kami. Aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku dan membiarkan Kiba melompat untuk memelukku. Dan,
PRIIIIIIT
Waktu sudah habis. Kami memberikan salam kepada tim lawan dan kembali ke bench kami. Para siswi seketika mengerumuni kami, seakan peluit tadi adalah izin mereka memasuki lapangan seperti gerbang taman bermain yang akhirnya dibuka setelah ditunggu selama dua jam.
Aku mengambil handuk kecil yang disiapkan manager untuk seluruh anggota dan mengelap keringat yang bercucuran di wajahku. Saat ini,yang bisa kudengar hanya suara detak jantung yang menggema di kepalaku. Dan yang kuinginkan hanya suasana tenang untuk beristirahat setelah bermain full satu pertandingan.
"Wah, wah, wah. Easy, girl. Aku sangat senang bisa melihat kalian setelah pertandingan yang menegangkan. Tapi, aku bisa mencium bau parfum kalian yang memabukkan, aku jadi tidak enak kalau harus tercampur dengan bau keringat kami. Bagaimana, kalau kita lanjutkan setelah kami berganti baju?"
Aku menoleh pada Kiba tidak percaya. Dia bicara apa? Aku menatapnya jijik. Tapi, sepertinya memang ampuh, karena kerumunan itu akhirnya menyebar pergi.
Ah.
Mataku terbelalak. Aku mengedipkan beberapa kali dan menyadari bahwa sosok yang kulihat di antara siswi yang mulai meninggalkan lapangan itu memang dia. Hinata tersenyum kecil sebelum menunduk dan meninggalkan gedung olahraga.
PLAK PLAK
"Aduh!" Aku meringis sakit karena menampar pipiku di kedua sisi. Berarti bukan mimpi. Dia menonton pertandinganku? Dia keluar dari ruangannya dan berada di kerumunan dalam waktu lama? Dia… aaah! Bagaimana ini? Aku senang sekali!
"Kau ini kenapa, Naruto?" Kiba bertanya padaku dengan bingung. Aku menggeleng dengan wajah bahagia.
"Aneh," gumamnya semakin bingung. "Ya sudahlah, ayo mandi dan ganti baju."
Aku mengikuti Kiba menuju Ruang Shower yang memang dibangun untuk klub olahraga. Aku berjalan sambil tersenyum senang. Aku kembali mengingat-ingat sosoknya tadi. Dia menggerai rambutnya yang panjang, masih memakai sweater di cuaca seterik ini, dan, ah, sepertinya dia membawa sesuatu… kantung berwarna putih. Isinya apa, ya? Untukku bukan, ya? Ah, aku tidak boleh terlalu banyak bermimpi.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Aku melangkahkan kakiku keluar ruang ganti dengan perlahan. Untunglah teman-teman setimku tidak menyadari kepergianku dan masih asyik membahas jalannya pertandingan tadi. Aku memperhatikan koridor yang tampak sepi.
Tidak banyak kegiatan klub yang masih berjalan di tengah libur musim panas seperti saat ini. Biasanya, klub olahraga yang memiliki jadwal pertandingan selama musim panas seperti basket atau baseball akan tetap berjalan selama liburan. Sedangkan klub lain, hanya akan berkumpul sesekali untuk kegiatan ringan atau bersih-bersih ruangan klub.
Aku berbelok menuju koridor yang paling sepi dari seluruh sudut gedung. Koridor yang akhir-akhir ini sering kulewati entah hanya sekedar mengintip, atau memasuki satu ruangan di antaranya. Aku melirik sekilas ke dalam ruangan lewat kaca buram yang terpasang di pintu.
Aku tak bisa menahan senyumku saat melihat bayangan berwarna indigo di dalam. Aku membuka pintu dan mendapati Hinata sedang duduk membelakangiku sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Dia berbalik karena menyadari keberadaanku dan nyaris melompat karena terkejut.
"Ah, aku mengagetkanmu?"
Dia menghela napas lega. "Tidak, tadi kupikir…" dia menghentikan kalimatnya. Dia lantas menatapku dengan bingung.
"Apa?"
Aku bertanya sembari mengambil kursi di hadapannya. Dan membalas tatapan matanya. Menikmati setiap sisi keindahan iris amethyst itu.
Dia menggeleng pelan. "Tidak jadi. Naruto-san ada perlu apa kesini?"
"Sejak kapan aku perlu alasan untuk berada di sini?" gerutuku kesal. "Ah, tadi kau nonton pertandinganku, kan? Bagaimana? Aku keren, kan?"
"Eh? Aku… tidak menonton… maaf."
Hah?
Aku menaikkan alisku heran. "T-Tapi, tadi aku rasanya melihatmu di gedung olahraga saat pertandinganku selesai. Kau juga melihatku, kan?"
Dia mengangguk.
"Lalu, kenapa kau bilang kau tidak menonton?" tukasku tak mengerti. "Kau disana, dan melihatku."
"…dak kelihatan."
"Haaah?" Aku mendekatkan tubuhku padanya. Dia bilang apa?
Wajahnya seketika memerah dan mendorongku menjauh. "…pe-pertandingannya tidak kelihatan. Aku cuma mendengar dari teriakan orang-orang yang menonton."
"Hah?" Aku tidak salah dengar, kan? Dia tidak menonton, tapi mendengarkan jalannya pertandingan. "Apa-apaan, sih! Kau kan bisa masuk ke dalam kerumunan atau naik ke lantai dua!"
"Ma-mana bisa aku berdesak-desakan di antara… mereka."
Aku mendecih kesal. Sedangkan gadis ini menggembungkan pipinya karena merasa benar.
Yah sudahlah. Sejak awal aku memang tidak berharap dia datang ke pertandinganku. Jadi, dia berada di gedung olahraga sudah lebih dari cukup. Dia juga tidak berjanji untuk menonton atau semacamnya.
KRIIIIIIUUUUUK
Ah, itu suara perutku.
"Ah, aku lapar." Aku memegangi perutku yang tidak diisi sejak pagi. Aku hanya mengkonsumsi roti yang kubeli di konbini sebelum pertandingan. Ini sudah lewat jam makan siang, wajar kalau 'dia' sudah merengek minta asupan lagi.
"Ah, i-itu…" Hinata kembali menatapku bingung. Dia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. Kenapa, sih?
"Ada apa, sih?"
"Ngg… i-itu, Naruto-san…"
Aku menunggu dia mengucapkan sesuatu setelah itu. Tapi dia masih bergelut dengan pikirannya sendiri dan terlihat seperti mengacuhkanku. Mataku menyipit karena kesal menunggu. Dia mau bilang apa, sih?
SREEK
Aku bangkit dari kursiku. "Kita lanjutkan nanti. Aku mau beli makan dulu."
"Ah!"
Hinata menarik ujung lengan jersey yang sedang kupakai. Dia tampak menarik napasnya berulang kali. Selayaknya orang yang sedang menenangkan diri.
Aku kembali duduk. "Kenapa sih? Kau ingin menitip makan?"
Dia menggeleng keras. "Bukan itu."
"Kau ingin makan siang bersama?" candaku sambil tertawa kecil. "Hahahahaha-"
"…iya."
"…ha?" Tawaku terhenti seketika. "Hah?"
Aku menoleh ke arah wajahnya yang tengah merunduk malu. Aku lantas menggaruk hidungku canggung. Bagaimana ini? Aku jadi senang sekali.
"Baiklah. Aku beli makan dulu, nanti aku makan disini-"
GREP
Hinata kembali menarik ujung jerseyku. Dia kini menatapku tajam. Lalu dia mengambil tas kertas berwarna putih. Ah, itu tas kertas yang ditentengnya di gedung olahraga.
Ia lalu mengeluarkan dua kotak berukuran besar dan membukanya. Bekal makan siang buatan tangan. Dia yang membuatnya? Dan, ini untukku, kan? Aku boleh berkepala besar dan mengira ini untukku, kan?
Aku menelan ludah dengan gugup. "Ini untukku?"
Hinata mengangguk pelan. "K-Kemarin, Naruto-san bilang kalau Ibu Naruto-san sedang keluar negeri, kan? J-Jadi kupikir, Naruto-san tidak bisa membawa bekal untuk pertandingan. J-Jadi…"
GREEEEEP
Aku menarik Hinata kedalam pelukanku. Aku merasakan dia menahan napasnya karena terkejut. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin meluapkan semua yang kurasakan saat ini.
Gawat. Situasi ini benar-benar gawat. Aku sudah tidak bisa berbalik. Rasanya kepalaku ingin meledak. Jantungku terus berdegup kencang tak terkendali. Tapi anehnya, aku bahagia.
Aku benar-benar bahagia.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Aku melirik ke arah Naruto dengan gugup.
"K-Kemarin, Naruto-san bilang kalau Ibu Naruto-san sedang keluar negeri, kan? J-Jadi kupikir, Naruto-san tidak bisa membawa bekal untuk pertandingan. J-Jadi…"
GREP
Mataku terbelalak. Aku memekik dalam hati dan menahan napasku. Naruto memelukku! Jantungku seakan ingin melompat keluar dari tubuhku. Tubuhku menegang secara seketika.
"…"
Eh? Naruto mengatakan sesuatu? Pikiranku perlahan-lahan dapat kukendalikan. Aku bisa merasakan panas tubuhnya yang bersentuhan denganku. Tercium aroma sabun yang menempel di lehernya.
Ini di tengah musim panas. Dan pendingin udara tidak dinyalakan karena hanya ada aku di ruangan ini. Tapi, walau panas, rasanya nyaman sekali.
"…Hinata."
Aku mendengarnya memanggilku pelan.
"Setelah ini, kau ada waktu?"
Aku menelan ludah dengan gugup. "A-aku…"
KRIIIIIIING
"Kya!"
Aku terlonjak kaget dan merogoh saku rokku untuk mengambil ponselku. "Ah, Hanabi? Aku di sekolah."
Aku melirik ke arah Naruto yang sudah duduk dengan santai sambil membuka bekal buatanku.
"Onee-sama tidak lupa datang ke dojo hari ini, kan?"
"Dojo?" Keningku mengernyit heran. "Ah, benar juga. Jam 3 nanti, kan? Aku akan datang."
"Bagus, bye, Onee-sama."
Aku menutup ponselku setelah Hanabi memutuskan panggilan. Aku lantas kembali melirik pemuda pirang yang sekarang tengah melahap isi bekalku dengan semangat. Dia lupa sedang menanyakan jadwalku tadi, ya?
"Kamu ada acara di dojo?"
Dia angkat bicara tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan.
"Ah, iya. Aku diminta membantu disana."
"Hmm…" Dia kembali mengunyah makanannya. "Dojo judo milik keluargamu?"
"Iya."
Dia mengangguk mengerti dan masih mengkonsumsi makan siangnya tanpa henti.
"Hmm… semangat ya."
Eh? Apa katanya? 'Semangat'? Begitu saja?
Aku merengut. "Enak?"
"Eh? Ah. Tentu saja enak."
"Oh." Reaksinya datar sekali.
"Hmph~ kau marah?" Dia terkekeh ringan.
Aku merasakan wajahku memanas. "Tidak, kok."
"Denial."
"Mou~" Naruto kembali tertawa kecil. Aku merengut kesal. Pria ini, selalu bisa mempermainkan perasaanku seperti ini. Seakan semuanya berjalan sesuai kehendaknya.
"Jam berapa ke dojo?"
"Jam 3 nanti. Kenapa?"
"Ku antar ya."
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
"Ayo,"
Dia mengulurkan tangannya. Memintaku untuk menyambut tangannya. Dia tersenyum dengan lembut, menunggu responku. Bisakah aku menolaknya?
Kami berjalan berdampingan meninggalkan pelataran sekolah. Menautkan jemari kami dan membiarkan kesunyian menghampiri kami. Menikmati semilir angin yang hanya sesekali melewati tubuh kami.
Aku melirik ke arahnya yang hanya menatap lurus ke depan. Memperhatikan raut wajahnya dari samping. Membayangkan apa yang tengah ia pikirkan saat ini.
"Hei, ini dojo-mu?" Naruto menunjuk rumah bergaya tradisional yang sangat kukenal. Aku mengangguk dan berdiri di hadapannya. Dia menggumam mengerti dan memandang lekat-lekat dojo milik pamanku ini.
"Ngg… aku sebaiknya masu-"
BRAAAAK
"Onee-samaaa!"
Aku dan Naruto menoleh kaget ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Hanabi berdiri di depan pintu dengan wajah yang berantakan. Dan, ia seperti baru dihantam angin ribut.
"Bantu aku mengurus anak-anak itu! Mereka hanya mendengarkan Hinata onee-sama," keluh Hanabi kesal sambil memelukku erat. Aku tertawa kecil melihat Hanabi tengah bermanja padaku.
"Itu karena mereka menganggapmu sebagai temannya, Hanabi."
"Tetap saja… makhluk-makhluk yang hanya terlihat seperti malaikat saat tidur itu…" Hanabi menghentikan kata-katanya dan memandang Naruto yang hanya berdiri memperhatikan kami.
"Ah, ini Naruto-san. Naruto-san, ini adikku, Hanabi. Hanabi, ini temanku Naruto."
Naruto mengangguk. "Salam kenal."
Hanabi hanya memperhatikan Naruto lekat. Aku menepuk bahu Hanabi pelan. Memberi tanda atas sikapnya yang tidak sopan. Naruto lantas tersenyum simpul.
"Kalau begitu, aku pergi dulu," ujar Naruto sambil melirik langit yang mulai redup.
"Terima kasih sudah mengantar, Naruto-san."
Aku membalas lambaian tangannya dan memandangi sosoknya yang menghilang di balik tikungan. Setelah itu, aku menoleh dan menemukan Hanabi yang tengah menatapku dengan khawatir.
"Onee-sama, bekal tadi pagi, untuk dia?"
Wajahku memerah seketika. "Hanabi…" sungutku malu.
"Onee-sama. Apa tidak apa-apa?"
Aku tak sanggup menjawab satu pertanyaan sederhana itu. Aku bukannya tak mengerti apa yang dikhawatirkan Hanabi. Pertanyaan itu, seakan melewatiku selayaknya angin musim panas. Singkat, namun meninggalkan kesan yang tidak mudah hilang.
"Entahlah, Hanabi. Aku tidak yakin."
.
~to be continued~
ahhh..
aku sebenernya ga tau mau ngomong apa..
aku tau aku lalai banget sama fic ini..
masalah kuliah dan tugas kayaknya emang 'excuses' paling basi sekaligus paling masuk akal.
TAPI YA, {background music = gendang}
gatau emang semua jurusan ato jurusanku doang,
masa setelah UTS adalam masa-masa dimana mahasiswa dipaksa memilih antara tidur, mandi, atau makan. (kalo nugas sih, WAJIB)
jadi... dimaafin aja ya *kedip kedip genit*
bales review dulu deh,
Gilang363 : maunya sih gitu, cuma aku sekarang berharap, daripada berat ato engga, aku lebih mentingin konfliknya masuk akal ato engga. hahaha
Namikaze Sholkhan : oke, ini udah lanjut. semoga mau di review
Jihan Fitrina-chan : yah, kan anak semata wayang. hahaha
Kirei- neko : iya nih, Naru-kun baru berani segitu, payah kan? *dirasengan
laila angel SapphireBluee : iya gapapa, selarang malah aku yg telat apdet, semoga masih ada yg ngikutin. hehehe
anna . fitry : makulum, authornya juga anak mami soalnya, hahaha
yuriski suryani : iya, Hinata kan gourmet fan hahaha
yuuna emiko : duh, maaf aku ga jani bakal apdet cepet deh.
Isabella stefani : eeh, aku yg review?^^
karena review itu bagai burjo ditengah begadang, aku masih nadahin tangan.
tapi, sekarang aku nadah tangan sambil nutup mata deh. moga moga masih ada yg mau nyumbangin review dengan sukarela.
Well, Regards
Author-san a.k.a Onya-chan.
