Kami berdua tahu pasti ada sesuatu di antara kami. Entah itu baik atau buruk. Aku tahu itu, tapi berpura-pura tak mengerti. Karena aku takut merusak semua interaksi yang terjadi. Dan, aku tak berani melihat kelanjutannya.
Last Chance, Last Hope
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Hurt/Comfort, Drama
Pairing : NaruHina
Rated : T(eens)
Warning : semoga tidak typo, AU, OOC
Don't like? Just review ^v^
Dedicated for NHTD
.
.
.
"Ah, ini Naruto-san. Naruto-san, ini adikku, Hanabi. Hanabi, ini temanku Naruto."
Naruto mengangguk. "Salam kenal."
Hanabi hanya memperhatikan Naruto lekat. Aku menepuk bahu Hanabi pelan. Memberi tanda atas sikapnya yang tidak sopan. Naruto lantas tersenyum simpul.
"Kalau begitu, aku pergi dulu," ujar Naruto sambil melirik langit yang mulai redup.
"Terima kasih sudah mengantar, Naruto-san."
Aku membalas lambaian tangannya dan memandangi sosoknya yang menghilang di balik tikungan. Setelah itu, aku menoleh dan menemukan Hanabi yang tengah menatapku dengan khawatir.
"Onee-sama, bekal tadi pagi, untuk dia?"
Wajahku memerah seketika. "Hanabi…" sungutku malu.
"Onee-sama. Apa tidak apa-apa?"
Aku tak sanggup menjawab satu pertanyaan sederhana itu. Aku bukannya tak mengerti apa yang dikhawatirkan Hanabi. Pertanyaan itu, seakan melewatiku selayaknya angin musim panas. Singkat, namun meninggalkan kesan yang tidak mudah hilang.
"Entahlah, Hanabi. Aku tidak yakin."
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Dua minggu berlalu setelah pertandingan persahabatan terakhir. Aku menjalankan rutinitas wajibku seperti biasa. Rumah, ruang kesehatan, dojo. Sesekali aku mencuri dengar kegiatan latihan Klub Basket dari luar gedung olahraga.
Pertandingan Nasional sudah di depan mata. Selama dua minggu kebelakang, mereka akhinya menembus 16 besar Nasional. Karena itu, latihan klubnya menjadi lebih intensif. Kegiatan latihan tertutup dari non-anggota. Aku pun sudah jarang melihatnya di sekolah.
"Hei, Hinata…"
Eh? Naruto?
Aku menoleh dan hanya mendapati hembusan angin melewatiku. Aku menghela napas. Ini sudah yang ketiga kalinya aku seakan mendengar suaranya. Telingaku mengingatnya lebih baik dibanding mataku. Dan, rutinitasku mengenalnya dengan baik, sampai aku merasakan ada yang hilang saat dia tak mengunjungiku.
"Hei."
Ah, suaranya terdengar lagi.
"Hoi, Hinata."
Suaranya terdengar jelas sekali. Seperti tidak berasal dari pikiranku.
"Oi."
TUK
"Aduh!"
Aku meringis dan lantas memegang keningku yang terasa perih. Aku mengangkat wajahku dari meja ruang kesehatan dan mencari sosok yang bertanggung jawab atas 'kejahatan pada keningku' tadi.
Aku mengerjap kaget. "Na-Naruto-san?"
Sosok pemuda yang suaranya tengiang berulang kali di pikiranku, kini tengah berdiri santai dengan wajah sedikit terganggu. Alisnya naik sebelah dan matanya menyipit.
"Kau sedang melamun? Aku memanggilmu daritadi, kau sama sekali tidak bereaksi," ujarnya kesal.
"Ah, maaf, Naruto-san. Kupikir, hanya bayanganku saja."
Matanya kembali menyipit. Heran dengan reaksiku. Aku membalasnya dengan senyuman manis. Dia mengambil kursi di hadapanku dan duduk sambil memperhatikanku dengan wajah tak mengerti.
"Bayangan? Maksudnya…" Naruto menghentikan kalimatnya sejenak untuk menelan ludah. "…seperti kau merindukanku?"
Aku tertegun sejenak. Dia bilang apa? Tadi aku menjawab apa? Bayangan... AAAH! Aku dan mulut besarku. Aku hanya bungkam saat ia mulai menyeringai jahil ke arahku.
Dia hanya menatapku dengan matanya yang bersinar. Seakan menunggu jawabanku atas pertanyaan retoris yang sesungguhnya tak memerlukan jawaban apapun. Toh, dia sudah tahu apa jawaban dari pertanyaannya, kan?
"…B-Bagaimana hasil pertandinganmu, Naruto-san?"
"Ups, jawaban yang salah," sahutnya cepat. Dia menggerakkan jari telunjuknya seraya mengerling ke arahku. "Bukan seperti itu cara kabur dari situasi ini," kekehnya sejenak.
Dia lantas menatapku langsung ke mataku. "Tapi, kubiarkan kali ini. Karena suasana hatiku sedang baik."
Aku menghela napas lega.
"Tapi, akan kuingat dan menagihnya di lain hari."
"Eeh…" keluhku tanpa sadar.
"Soal pertandinganku," dia memulai dengan lirih.
Aku memasang telinga untuk mendengarnya. Dia menghela napas dan menengadahkan wajahnya. Seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya di langit-langit ruangan.
"…aku kalah."
Eh?
"Di pertandingan kemarin. Di 8 besar Inter-High." Dia kemudian melirikku dari sudut matanya.
"…eh. Ah." Aku memainkan jemariku gelisah. Duh, suasana hatinya buruk, ya. Bagaimana ini. "…maaf."
"Benar. Ini salahmu."
"Eeeh? Kok begitu?" protesku.
"Karena kau tidak datang menonton pertandinganku," sungut Naruto dengan wajah kesal.
Aku merengut. "Naruto-san kan tidak menyuruhku datang."
"Harusnya kamu yang sadar diri dan menontonku, kan?"
Aku kalah. Saat ini, Naruto sudah melirikku dengan kesal. Kenapa kekalahannya jadi kesalahanku, ya? "Jadi, aku harus apa?"
Naruto menoleh ke arahku dengan kecepatan tinggi. Matanya berkilat-kilat karena bersemangat. Uh oh. Aku masuk perangkapnya. Ini yang dia incar, ya? Jadi, dia hanya berpura-pura kesal tadi.
"Hanabi!"
Hah? "Naruto-san ingin adikku?"
"Hah?" Sekarang berganti Naruto yang heran. "Kenapa adikmu-ah. Bukan bukan. Bukan Hanabi adikmu."
"Lalu?"
"Festival musim panas!" seru Naruto antusias. "Akhir minggu ini kan ada festival musim panas di Kuil Teikoku."
"Oh. Memangnya festivalnya kenapa?"
Naruto menggeram tidak sabar. "Kamu harus datang bersamaku ke festival itu."
Oh. Eh. "Ah, tidak bisa."
"…kenapa?" Nada suara Naruto menjadi lebih berat. "Kau sudah punya janji?"
"Iya," jawabku. "Aku diminta untuk membantu di festival itu. Jadi, aku mungkin akan sibuk selama festival berlangsung."
"Oh begitu."
Tiba-tiba saja, Naruto tidak lagi berbicara. Aku menatapnya tidak enak. Bukannya aku tidak ingin menemaninya selama festival berlangsung. Tapi, aku sudah terlanjur berjanji akan membantu pengurus kuil.
Piiiip Piiip #DRRRRTT#
Suara dan getaran dari ponsel Naruto memecahkan keheningan yang terbentuk tadi. Naruto merogoh-rogoh saku celananya dan mengeluarkan benda mungil berwarna hitam itu. Ia melirik sekilas dan menghela napas.
"Pelatih mencariku. Aku pergi dulu." Dia berdiri dari kursi dan berjalan menjauh. "Ah. Sepertinya aku juga tidak bisa pulang bersama."
"Oh. Kalau begitu, hati-hati, Naruto-san."
Dia melambaikan tangannya tanpa berbalik. "Hmph~ Harusnya aku yang bilang itu, Hinata."
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Aku tidak ingin mengatakan apapun. Penolakannya-yah, memang bukan sepenuhnya menolak-terhadap ajakanku ke festival memang menambah kekesalanku.
Aku juga merasakan tatapan bersalahnya menusuk-nusuk wajahku. Seakan berkata, "Kan aku memang tidak membuat janji dengan Naruto-san. Aku sudah lebih dulu memutuskan untuk membantu di kuil."
Aku masih kesal. Tapi wajahnya yang merasa bersalah itu mau tidak mau mengendurkan egoku. Baru saja aku ingin menenangkannya, aku merasakan ponselku bergetar.
Aku mengeluarkan ponselku untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan.
Pelatih ingin bicara denganmu mengenai latih tanding berikutnya sebelum memulai latihan untuk pertandingan musim dingin.
Aku mendecih dalam hati dan menghela napas panjang. Pesan yang tidak kuharapkan datang saat ini.
"Pelatih mencariku. Aku pergi dulu." Aku bangkit dari kursi dan berniat langsung keluar ruangan. Namun aku mengurungkan niatku. Kalau langsung pergi, rasanya aku seperti merajuk karena keinginanku tidak terpenuhi.
"Ah, sepertinya aku juga tidak bisa pulang bersama." Eh, bukan seperti ini, ya. Kalau begini, rasanya seolah-olah kita selalu pulang bersama.
"Oh. Kalau begitu, hati-hati ya, Naruto-san."
Eh, apa katanya?
"Hmph~" Aku tidak bisa menahan tawaku. Ah, dia ini benar-benar polos atau apa, sih? "Harusnya aku yang bilang itu, Hinata."
Aku menarik napas panjang dan akhirnya berjalan dengan santai.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
"Naruto."
Aku menoleh pada sahabatku yang tengah mengunyah ikayaki dengan beringas. Aku menunggunya menghabiskan potongan cumi di mulutnya dan mengatakan alasan dia memanggilku.
KRAUK
Tapi, si maniak anjing ini malah kembali menggigit ikayakinya.
"Hoi, aku tahu kau sedang tidak menjaga image-mu di depan gadis-gadis, tapi setidaknya makan selayaknya manusia diciptakan, AHO."
"Hmmp- Humbah, hini henak hanget."
"…idiot."
Aku mengalihkan pandanganku kembali ke kumpulan topeng yang sedang kulihat. Ah, yang rubah itu boleh juga. Aku mengambilnya dan mencobanya. Aku menoleh kembali ke Kiba untuk melihat reaksinya.
"Bagai…mana."
Si idiot itu ternyata sudah membeli ikayaki kelimanya malam ini. "Kau tidak berniat memakan itu semalaman, kan?"
"Humbah hini henak-"
"Berisik!"
PLETAK
Aku membayar topeng yang kugunakan untuk menghantam kepala Kiba tadi dan menyeretnya menghampiri Gaara yang tengah mencoba permainan menembak. Dari raut wajahnya, dia terlihat biasa saja. Tapi, dari aura yang dia keluarkan, sepertinya dia sudah kesal karena tidak mendapatkan satu pun hadiah dari permainan itu.
"Yo, Gaara."
Aku menyapanya tepat sebelum dia mencekik penjaga kios dengan tuduhan penipuan. Dia melirik dengan tatapan pembunuh bayaran yang tidak terima misinya diganggu.
"Mau coba, Naruto?"
Aku mememperhatikan benda-benda yang terpajang di kios itu. Lebih banyak hadiah yang ditujukan oleh wanita, seperti boneka dan ornamen pajangan lainnya.
"Kau mengincar apa, sih?"
Dia menunjuk jam pasir yang pasirnya berwarna merah. Ah, keren juga tuh. "Kau sudah mencoba berapa kali?"
"Tidak banyak-"
"Nyaris sepuluh kali, Niisan!" potong penjaga kios yang berakhir dengan delikan maut sang stoic. "…maaf, Õ-sama"
"Kucoba deh, kalo dapat, traktir aku roti keberuntungan di kantin sekolah, ya."
"Roti Keberuntungan. Roti legendaris SMA Konoha yang muncul setiap hari Senin. Hanya disediakan 10 potong setiap kedatangannyanya. Dikatakan, siapapun yang berhasil memakan roti ini, akan mendapatkan keberuntungan besar."
Aku dan Gaara melirik pada Kiba yang tengah bercerita dengan mata berapi-api. "Kau menjelaskan pada siapa? Kami sudah tahu mengenai hal itu, bodoh."
Aku mengambil senapan mainan yang disediakan di kios itu. "Dua kali kesempatan, Niisan!"
Aku membidik ke arah jam pasir itu berada. Setelah mengira-ngira, aku menekan pelatuknya.
DOR
PLUK
Oh, kena… eh.
Kenapa yang jatuh malah boneka teddy bear berwarna norak itu.
"Waaah, selamat, Niisan!" Penjaga kios itu mengambil boneka teddy yang panjangnya hanya setelapak tanganku itu dan memberikannya padaku.
Aku melirik pada Gaara yang menatapku dengan tatapan aku-tidak-membayar-roti-keberuntunganmu-untuk-ini.
"…kucoba lagi."
DOR
"Sayang sekali, Niisan! Coba lagi lain-ah!"
"Sekali lagi!"
DOR
"Sayang sekali, Niisan!"
DOR
"Sayang sekali, Niisan!"
DOR
"Sayang sekali, Niisan!"
DOR
"Sayang sekali!"
Dan, DOR-DOR lainnya…
DOR
"Wuaaaah! Dapat-dapat! Lihat itu, Gaara!"
"Yah, di percobaanmu yang ke-"
Aku memotong kata-kata yang ditujukan untuk menghinaku dengan memukul bahunya senang. "Setidaknya aku masih dapat, kau sama sekali tidak, kan! Hahahaha…"
"Kok, rasanya lebih murah aku membelinya di toko," keluh Gaara. "Dan, aku tidak mau boneka teddy oranye-mu itu."
Aku dan Gaara menoleh bersamaan dan melihat Kiba masih mengunyah ikayaki.
"Itu, ikayaki keberapa?"
"Humbah hini henak-"
"BERISIK!"/"Berisik, Kiba."
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Aku melahap takoyaki yang dibeli Gaara dengan cepat. Tak menghiraukan delikan tajam yang ia tujukan padaku. Sementara Kiba sudah move-on dari ikayaki dan sedang memakan kakigori rasa stroberi.
Kami sedang duduk di dinding-dinding di pinggir kuil sambil memakan beberapa hidangan yang telah dibeli. Boneka teddy bear yang kudapatkan tadi, duduk manis disampingku. Dan aku mulai menyantap yakisoba yang kubeli.
"Wuah, enak." Setelah melalang buana lebih dari tiga jam, rasanya semua makanan di festival ini bertambah kenikmatannya. Aku menghabiskan yakisoba dengan cepat dan langsung beralih pada okonomiyaki.
Aku melirik ke sekitarku setelah merasa puas dengan 4 hidangan yang kuhabiskan dengan sekilas. Aku memperhatikan orang-orang yang mulai berkumpul sambil mengemut permen apel yang menjadi hidangan penutup.
"Ah, hanabi sudah mau mulai, ya?" komentar Kiba sembari membereskan sampah-sampah bekas makanan.
"Hn." sahut Gaara ikut bersiap mengikuti kerumunan orang.
Aku menghela napas dan membereskan sampah-sampah yang kutimbulkan. Sudah mau hanabi. Berarti festival hari ini sudah selesai. Padahal, aku sama sekali tidak melihat sosoknya.
Iya, Hyuuga Hinata yang katanya akan membantu di Festival ini, sama sekali tidak telihat olehku. Entah memang kebetulan, atau dia tidak jadi membantu, atau dia menghindariku. Semuanya tidak menyenangkan.
"Cepatlah, Naruto."
"Kalian duluan saja," ujarku malas. Aku berjalan mencari tempat sampah dengan langkah gontai. Aargh, rasanya kesal sekali.
…tap
Eh?
TAP
TAP
Seperti suara langkah kaki? Aku menoleh dan melihat sekelebat bayangan di kuil. Aku mundur perlahan dan berusaha melihat bayangan itu lebih jelas. Aku melihat bayangan berwarna putih dan merah.
Baju seragam miko? Hakama?
Aku berjalan beberapa langkah mendekati kuil dan melihat surai indigo. Ah, dia?
Aku langsung berjalan menghampiri sosok yang sepertinya kukenal itu. Semakin dekat, aku semakin yakin dugaanku benar. Dan, saat sosok itu berbalik, aku merasakan senyumku merekah.
"Hinata."
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
"Oh, jadi kau membantu pengurus kuil menyiapkan omikuji untuk kios yang akan dibuka besok."
Hinata mengangguk senang. "Ini ide Shion-san. Katanya agar omikuji tidak hanya populer saat hatsumode."
"Oh, lalu? Sekarang 'Shion-san' yang kau bantu itu, kemana?"
"Shion-san sekarang sedang membantu yang lain menyiapkan hanabi."
Aku melirik Hinata yang tampak berbunga-bunga. Kenapa dia senang sekali, sih? "Kamu tidak ingin nonton hanabi?"
"Ingin."
"Lalu, kenapa kita masih disini?"
Hinata menoleh padaku sambil tersenyum manis. Ah. Dia hari ini kenapa, sih?
"Naruto-san tidak tahu, ya. Ini rahasia pengurus kuil…"
"Eh? Apa?"
Dia tersenyum lebar. "Tempat terbaik menonton hanabi saat Festival Teikoku itu, sebenarnya di kuil Teikoku."
Hinata kembali menatap langit.
DUAR
"Tidak ada yang menghalangi pandangan ke langit." Dia tersenyum manis.
DUAR
"Tempatnya nyaman karena tidak harus duduk di tanah." Senyumnya telihat semakin berkilau.
DUAR
"Dan lebih tenang karena tidak ada pengunjung yang berdesakkan." Ah, aku benar-benar sudah gila.
DUAR
Aku tidak tahan lagi.
"Selain itu-"
Aku merangkulnya mendekat dan menoleh ke arahnya. Aku merasakan tarikan napasnya yang terhenti dan menatapku perlahan. Kata-katanya tak lagi ia lanjutkan. Dia hanya memandang mataku dengan gugup.
"Na-Naruto-san…"
"Diamlah, Hinata. Biarkan aku menciummu."
"Eh? Hmph-"
Aku menarik lehernya mendekat dan mengecup bibirnya. Aku tak memedulikan tubuhnya yang kaku karena tegang dan mengecupnya pelan. Tangan kiriku kutangkupkan di sisi kepalanya untuk menengadahkan wajahnya ke arahku.
Aku merasakan tubuhnya melemas. Aku mengarahkan tangan kananku untuk memeluk pinggangnya dan memperdalam ciumanku. Aku mendekatkan tubuhku dan membuatnya terapit antara tiang dan diriku.
Dia berusaha membuat jarak dengan mendorong bahuku, tapi aku sudah lebih dulu menggigit pelan bibir bawahnya dan mendekapnya dengan kedua tanganku.
Dan, Hinata menyerah, ia membiarkanku menciumnya sesukaku. Seliar yang kumau.
Dan, aku bahkan tak peduli fakta pada bahwa saat ini aku menceritakan semua detail ini pada kalian.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Dia melepaskan rengkuhannya dari tubuhku. Masih menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, hanya menatapku dalam kesunyian.
Aku tak ingin memikirkan kondisiku saat ini, walau otakku mengatakan hanabi masih bergemuruh di atas sana, yang kudengar hanyalah suara degup jantung yang merambah keluar seakan siap meledak.
Lidahku terasa kelu. Tak mampu melontarkan sesuatu yang bisa memecahkan keheningan ini. Bahkan hanya sekedar menggumam, aku tidak mampu.
Entah dia mengerti apa yang tengah kurasakan atau tidak, dia lantas kembali mendekatkan tubuhnya ke arahku dan meletakkan kepalanya di bahuku. Aku merasakan semilir angin melewatiku, tapi tidak terasa nyaman.
"Kita sudah tidak bisa berkelit lagi, Hinata."
DEG
Jantungku seakan berhenti seketika. Dia benar. Aku sudah tidak bisa lari dari kenyataan yang ada di hadapan mata. Situasi kami sudah tidak bisa lagi dikendalikan.
Aku tahu. Tapi, aku tidak sanggup, Naruto. Aku tidak yakin bisa melewati semua ini dengan selamat.
"Aku tahu," ucapku lirih pada akhirnya.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Tubuhnya kaku.
Gadis di hadapanku hanya menatapku dengan tatapan kosong. Seakan kejadian tadi menghancurkan dunianya. Dunia penuh kedamaian miliknya.
Aku menarik napas. Aku tidak akan minta maaf. Toh, bukan berarti yang kulakukan padanya benar atau salah. Aku hanya harus melakukan sesuatu. Karena kita tidak selamanya bisa berpura-pura tidak ada sesuatu diantara kami.
Aku kembali mendekat kepadanya dan merasakan betapa dinginnya aura yang dikeluarkan gadis ini. Aku meletakkan kepalaku pada bahunya dan mendapati betapa tegangnya dirinya, dan aku benci hal ini.
"Kita sudah tidak bisa berkelit lagi, Hinata."
Aku merasakan tubuhnya tersentak sekejap. Dan tubuhnya gemetar tanpa sepengetahuannya. Aku menutup mataku agar tidak malah menghentikan semua proses yang telah kumulai.
"Aku tahu."
Suaranya ikut bergetar. Aku tidak mampu mengangkat wajahku. Karena aku merasakan airmatanya yang mengalir. Dan betapa ia berjuang menyembunyikannya. Aku kembali mendekapnya. Tanpa mengatakan apapun.
.
to be continued
.
Simply : author-san, kok kemaren kita ga muncul sama sekali?
Absurd : Simply, author-san lagi normal kemaren.
Iya deh, maaf. Ga maksud jahat kok,
Simply : jadi kita muncul sekarang gara-gara dia udah ga normal lagi?
Jadi, itu kesimpulannya?
Yak reader-tachi, I'm back again!
Kali ini tanpa keluhan tugas dan ujian. Cuma sedikit curhatan tentang nilai. *dihajar simply*
Simply : langsung lanjut aja, Thor.
Lagi lagi dipanggil kayak dewa palu dari *piiip itu.
Yaudahlah, bales review aja deh.
Amu B : hmm... kasih tau ga yaa
Namikaze Sholkhan : yup, tentang keluarga. Karena tanpa sadar, yang mempengaruhi tindakan kita kan keluarga.
Tragger : bro? Ah, iya deh.
Kirei- neko : aak jangan dilupai doong... *mewek. Belum saatnya Hiashi muncul. Hahahaha. Naruto tahu lah, kan Hinata pengurus Ruang Kesehatan. Udah libur sih, tapi masih ga bisa janji apdet cepet. Banyak planning sih, hahaha *dihajar reader-tachi.
Andypraze : makasih juga udah review^^
SANG GAGAK HITAM : eh, asik juga dipanggil nona ya. *evillaugh* untuk tunangan masih nocomment deh. Ah, bukan aku bukan sipil ato plano. Tapi hampir hampir sih. Hehehe. Belum pernah sampe dirobek dosen sih. Tapi kalo diloakin kayaknya udah deh. *natap pengajaran dengan sinis*
Sherinaru : aiiiih, makasih^^ tapi tetep. Ga janji apdet cepet ya.
dylanNHL : makasih udah baca dan review^^ tapi tetep. Ga janji apdet cepet ya.
Sugeng pangestu 9081323 : hahaha, iya ya idenya pasaran^^
Yuuna Emiko : makasih udah pengertian^^
Terakhir, mau nanya deh. Ada yg maen ke GJUI ga? Kali aja ketemu, kan bahaya. *lho? Terus ada rekomendasi datengnya hari apa? Aku pengen dateng di semua harinya, tapi takut bangkrut. Kalo ada yg mau rekomen, lanjut di PM ya.
Okeh, nadah tangan sekali lagi
Minta review yaaa.
