Cast :

Oh sehun

Lee Ji Eun

Park Chanyeol

Exo member

Other : Han Ji Ae, Steffany, Haerim sonsaengnim, Kim Sonsaengnim, Minji and the geng

Genre : AU, Romance, family, friendship, etc

Rated : T and general

Summary : "when you falling in love with someone who you never thought the first time you meet him" … Oh Sehun seorang dancer terkenal bertemu dengan Lee Ji Eun. yeoja cantik yang memiliki seorang sahabat bernama Park Chanyeol. pertemuan mereke menimbulkan berbagai konflik. cinta, keluarga, persahabata, hingga obsessed fan. Chapter 2. RnR Juseyo^^

Note : jengjengjeng! Akhirnya chap 2 telah selesai. Dikerjakan dalam waktu yang sangat tidak mendukung._. Mian chap 2 nya agak pendek, soalnya lagi fokus sm persiapan UN kelas 9. Curi-curi waktu buat nulis dan inilah hasilnya, semoga readers suka ya^^

HARD

Chapter 2

Author's POV

"aku pulang" ucap Ji Eun begitu ia tiba di rumah. Merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk sambil memejamkan mata. hari yang cukup melelahkan bagi dirinya akibat hukuman dari Kim Sonsaengnim.

"Ji Eun sudah pulang rupanya, bagaimana tadi di sekolah ?" seorang ahjumma berumur 40-an muncul sambil membawa segelas air di atas nampan.

"ne, ahjumma. Sangat melelahkan, gurunya tadi menghukumku" ucap Ji Eun sebelum meneguk air dingin tersebut. Ahjumma adalah pembantu rumah tangga yang telah bekerja selama kurang lebih 20 tahun di rumah keluarga Ji Eun. Satu-satunya orang luar yang sangat mengetahui kondisi keluarga Ji Eun. Kedekatan ahjumma dengan Ji Eun membuat gadis itu melihat ahjumma sebagai keluarganya sendiri.

"guru menghukum Ji Eun ? apa penyebabnya ?"

Mendengar pertanyaan ahjumma, Ji Eun teringat kejadian beberapa saat sebelum ia dihukum. Melempar gulungan kertas untuk membangunkan seorang namja aneh bernama Oh Sehun. niat baiknya untuk menolong malah berakhir dengan hukuman dari guru. Aish, menyebalkan sekali.

"aku membuatnya marah" jawab Ji Eun singkat, sama sekali enggan untuk membahas tentang niat baiknya menolong Sehun. Ahjumma hanya mengangguk dan mengambil gelas kosong di hadapan Ji Eun.

"ahjumma, apa eomma ada di rumah ?"

"Ani, sajangnim belum pulang. Ia berangkat ke kantor beberapa jam yang lalu"

Ji Eun menganggukkan kepalanya beberapa kali. Kakinya dengan lincah menaiki anak tangga. Baru saja ia tiba di depan kamar dan hendak membuka pintu, ahjumma berteriak dari anak tangga paling bawah.

"Ji Eun tidak makan siang ?"

"kamsahamnida ahjumma, Ji Eun tidak lapar dan hanya butuh beristirahat" tolaknya dengan halus kemudian memasuki kamarnya. Ia memutuskan untuk mandi air hangat. Kulitnya terasa begitu lengket dan berkeringat.

Beberapa menit kemudian ia telah selesai mandi dan memakai baju. Merebahkan tubuh di atas tempat tidurnya, kembali memejamkan mata dan dalam hitungan menit Ji Eun telah tertidur pulas.

Pukul enam sore Ji Eun telah terbangun dari tidur singkatnya. Ia berlari menuruni tangga dan mengitari rumah, berharap melihat sosok eommanya. Namun ia hanya mendapati ahjumma yang sedang menyapu sambil menonton televisi.

"ahjumma, eomma sudah pulang ?" tanya Ji Eun.

"ani, Ji Eun. Sajangnim belum pulang" jawab ahjumma. Ia terlihat begitu konsentrasi pada acara infotainment yang ditontonnya.

"Aah. Ahjumma serius sekali nonton infotainmentnya, memang ada berita tentang siapa ?" Ji Eun memandangi ahjumma dan televisi secara bergantian.

"ini, namja tampan bernama Oh Sehun. lihatlah"

Ji Eun terbelalak mendengar ucapan ahjumma. Matanya langsung terarah pada televisi. Tampak Oh Sehun yang memakai jaket tebal dan kacamata hitam baru saja keluar dari sebuah gedung. Wartawan mengerumuninya dan mengambil fotonya beberapa kali. Namja itu tampak tersenyum dan melambai ke arah kamera sebelum ia menutup pintu mobilnya.

"sungguh beruntung. Di masa mudanya ia bisa mendapat popularitas yang tinggi. Namja bernama sehun itu kelihatannya baik dan ramah" ucap Ahjumma sambil menatap Ji Eun.

"geuraeyo ?" Ji Eun bertanya seolah-olah ia tidak mengenal sehun. Oh sehun yang ahjumma gambarkan sungguh berbeda dengan Oh sehun yang ia lihat di sekolah.

"dan ia sangat tampan, bukan ?"

Ji Eun mendengar pertanyaan –atau lebih tepatnya pernyataan yang dibuat ahjumma, membuatnya mematung di tempat.

"ia tampan, bukan ?" ahjumma kembali mengulang pertanyaannya.

"Ani. Dia tidak tampan, biasa-biasa saja" jawab Ji Eun sambil menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarnya. Ahjumma yang memandanginya hanya bisa geleng-geleng kepala dan terkekeh melihat tingkah Ji Eun.

Begitu tiba di kamar, ia langsung mengambil laptop dan mencari informasi tentang Sehun. ternyata benar Sehun seorang dancer dan rapper muda yang terkenal. Sangat banyak yeojadeul yang menggemarinya. Banyak video di youtube yang menampilkan dance dan rap sehun.

Tepat saat video tersebut berhenti, ahjumma mengetok pintu kamarnya dan mengatakan chanyeol sedang menunggunya dibawah. Tanpa mematikan laptopnya, ia langsung berlari ke lantai bawah.

[]

[]

[]

Tangan kiri Chanyeol fokus menyetir, sementara tangan kanannya memegang sebuah kotak yang berada di jok samping. Sesekali ia bersenandung sambil mendengar lagu dari radio. Hanya dalam beberapa menit ia telah tiba di tujuannya. Bodoh memang, mengendarai mobil untuk pergi ke suatu tempat yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumahnya. Namun cuaca malam ini cukup dingin sehingga membuatnya enggan berjalan kaki.

Mobil sedan yang Chanyeol kendarai berhenti tepat di depan rumah bergaya modern dengan halaman yang cukup luas. Setelah satpam membuka pagar, ia segera melangkah di jalan setapak yang di sepanjang kedua sisinya terdapat kolam ikan. Lampu-lampu taman dan pohon cemara berukuran sedang yang berjejer rapi seolah-olah menyambutnya.

Ia berlari menaiki beberapa anak tangga kemudian berdiri di depan pintu utama. Beberapa menit setelah memencet bel, seorang ahjumma yang begitu ia kenal langsung membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.

"duduklah chanyeol-ssi. Ji Eun sedang ada di kamar, biar ahjumma panggilkan"

Chanyeol hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian, seorang yeoja yang begitu ia kenal berlari ke arahnya. Terlihat begitu cantik, seperti biasa. Ia mengenakan baju tidur berwarna pink dan pattern bergambar beruang. Rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan tergerai hingga hampir menyentuh punggungnya. Yeoja itu tersenyum manis begitu melihat Chanyeol, lebih tepatnya begitu ia melihat apa yang ada di tangan namja itu.

"chanyeol-ah!" teriaknya sambil berlari kecil ke arah Chanyeol.

"Ne. Kau berlari seperti anak kecil, Lee Ji Eun"

Yeoja itu mempoutkan bibirnya begitu mendengar perkataan Chanyeol. Membuat namja itu terkekeh. Yeoja itu tampak sangat menggemaskan. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa, tidak jauh dari Chanyeol.

"kau bawa sesuatu. Apa itu kue ?" tanya Ji Eun dengan semangat, memandangi Chanyeol penuh harap. Yang ditanya sepertinya sengaja berlama-lama menjawabnya, agar yeoja itu terus menatapnya seperti itu. Setelah melihat ekspresi wajahnya yang semakin penasaran, akhirnya Chanyeol menjawab.

"benar sekali. Aku yang membuatnya" . ia melepas topi lalu menyandarkan tubuh di sofa. Ji Eun tertawa terbahak-bahak begitu mendengar apa yang Chanyeol katakan.

"wae ? kenapa kau tertawa ?" tanya Chanyeol.

"apa kau pikir semudah itu aku percaya padamu ? tidak mungkin kau yang membuatnya, yeol"

"waah, kau ini pintar sekali. Uri eomma yang membuatnya"

"sampaikan terima kasihku pada eomma" ujar Ji Eun sambil mengambil kotak kue tersebut.

"hanya pada eomma ? bagaimana denganku? Kau tidak mengucapkan terima kasih? Aah, Jinjja!" Chanyeol melepaskan tinju ke udara.

"tentu saja, sampaikan terima kasihku pada chanyeol ya" yeoja itu tertawa, membuat matanya terlihat lebih sipit.

"eomma-mu belum pulang ?" tanya Chanyeol.

"belum, hari ini ada rapat di kantor"

"Aah. Bagaimana dengan appa mu ?"

Hening. Tidak ada suara sama sekali. Selama beberapa saat mereka berdua terdiam. Ji Eun tertunduk, sepertinya tidak ingin membahas tentang itu.

"kau tau jawabannya, yeol-ah" ucap Ji Eun. Senyum yang terkesan dibuat-buat terukir di bibir kecilnya.

"Mianhae, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih" kedua bola mata namja itu menatap Ji Eun dengan lekat. Mengutuki kebodohannya karena telah bertanya tentang hal yang membuat yeoja itu sedih.

"tidak, tidak apa-apa. Jangan memandangiku seperti itu, aku baik-baik saja"

Sesaat Chanyeol tidak menggubris perkataan yeoja di hadapannya, dan menatapnya beberapa lama. Dibalik senyum dan tawanya, Ji Eun menanggung beban yang cukup berat. Eomma yang super sibuk. Appa yang tidak bertanggung jawab. Oppanya yang bersekolah di luar negeri membuat ia harus menanggung beban itu sendirian.

"Baiklah. Kalau begitu aku pamit pulang, sampaikan salamku pada Eomma mu" chanyeol tersenyum pada Ji Eun sebelum melangkah keluar. Yeoja itu menatap punggung Chanyeol yang berjalan meninggalkan rumahnya. Sungguh, aku baik-baik saja, Chanyeol-ah.

[]

[]

[]

Ji Eun bangun lebih pagi hari ini. Belum jam setengah tujuh, ia telah siap dengan seragamnya. Sarapannya di masukkan dalam kotak bekal. Ia berangkat lebih awal di antar oleh supir eommanya.

Sekolah masih begitu sepi ketika ia tiba. Hanya ada beberapa cleaning service yang menyapu halaman sekolah. Berangkat lebih cepat bukanlah kebiasaannya. Satu-satunya alasan yang membuatnya rela bangun dan berangkat lebih pagi adalah apa lagi jika bukan untuk merebut kembali kursinya, seperti saran Chanyeol.

Begitu jaraknya dan pintu kelas hanya tersisa beberapa meter, seseorang berjalan ke arah yang sama dengannya, datang dari arah yang berlawanan. Namja itu adalah Sehun.

Omo! Apa yang membuatnya datang sepagi ini ?!

Ji Eun menghentikan langkahnya, begitu pula Sehun. Namja itu kembali memperlihatkan senyum angkuh, men
gangkat salah satu sudut bibirnya.

"cih, kau lagi" ucap Ji Eun

"kita bertemu lagi rupanya. Sudah ku duga kau akan datang sepagi ini" ucap sehun.

"tentu saja. Aku hanya tidak ingin wilayah teritorialku direbut oleh penjajah berambut pirang yang tidak tau terima kasih" ucap Ji Eun sambil berlari ke dalam kelas.

Sehun tertawa sambil mengacak-acak rambutnya. Baginya yeoja ini terlihat sungguh begitu aneh, bahkan unik. Ia berjalan seperti biasa ke dalam kelas dengan tangan kanan yang memegangi bagian belakang lehernya sementara tangan kiri berada dalam saku celana. Tepat seperti dugaannya, yeoja itu telah duduk manis dibangku yang kemarin Sehun duduki. Ia memilih mengalah dan mengambil kursi di dekat jendela. Seperti biasa, ia kembali memasang headset dan mendegarkan lagu dari handphonenya.

Sehun memandangi tempat Ji Eun duduk, namun yeoja itu tidak ada di sana. Begitu ia memalingkan wajah, Ji Eun telah berdiri dihadapannya.

"omo !" Sehun tersentak kaget.

"kau mau ?" ucap Ji Eun sambil menyodorkan kotak bekal berisi roti pada Sehun.

Sehun tertawa.

"kau-begitu-aneh. Terkadang kau begitu galak, tapi terkadang kau juga baik" ucap Sehun. namja itu mendekatkan wajahnya ke wajah Ji Eun. Jarak yang begitu dekat membuat Ji Eun menahan napas. Masih dalam jarak yang begitu dekat, Sehun mengambil satu roti dari kotak bekal Ji Eun lalu mengigit ujung roti tersebut.

"gumawo" ucap sehun sambil menatap kedua bola mata Ji Eun. mulutnya yang terisi oleh roti membuat ucapannya sedikit tidak jelas.

"a-apa yang kau lakukan ? menjauh dariku" Ji Eun melangkah mundur beberapa kali. Ia memalingkan wajahnya ke arah pintu. Seseorang berdiri disana dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan. Tubuh Ji Eun seperti membeku. Begitu juga Sehun yang sepertinya menyadari kejadian tersebut.

-Chapter 2 End-

Thank you for read this ff, sorry for typos and don't forget to leave comment.