Cast :

Oh sehun

Lee Ji Eun

Park Chanyeol

Exo member

Other : Han Ji Ae, Steffany, Haerim sonsaengnim, Kim Sonsaengnim, Minji and the geng

Genre : AU, Romance, family, friendship, etc

Rated : T and general

Summary : "when you falling in love with someone who you never thought the first time you meet him" … Oh Sehun seorang dancer terkenal bertemu dengan Lee Ji Eun. yeoja cantik yang memiliki seorang sahabat bernama Park Chanyeol. pertemuan mereke menimbulkan berbagai konflik. cinta, keluarga, persahabatan, hingga obsessed fan. Chapter 3. RnR Juseyo^^

Note : ehhey readernimm! Annyeonghaseyooo^^ UN nya udah selesai, alhamdulillah hasilnya bagusss^^ berhubung dapat jatah libur yang banyak, saya akhirnya mengakhiri masa hiatus dan mulai menulis fic lagi, hahaha! (padahal gak ada yg lucu). Oh iya, ada yg berbeda buat chapter 3 dan seterusnya. Saya akan menggunakan bahasa yg lebih santai. Seperti "aku, kamu, nggak, ngapain, dll" ..

HARD

Before

"a-apa yang kau lakukan ? menjauh dariku" Ji Eun melangkah mundur beberapa kali. Ia memalingkan wajahnya ke arah pintu. Seseorang berdiri disana dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan. Tubuh Ji Eun seperti membeku. Begitu juga Sehun yang sepertinya menyadari kejadian tersebut.

CHAPTER 3

Park Minji berdiri disana, di ambang pintu. Tersenyum puas setelah berhasil mengabadikan kejadian tadi. Ia memandangi kamera ponselnya, lalu memperlihatkannya ke arah Sehun dan Jieun dari kejauhan.

"kalian tertangkap" ucap Minji, dengan nada seperti sedang memergoki seorang perampok yang mengambil barang berharga.

Jieun tau ini hal yang buruk. Minji adalah ketua dari klub majalah sekolah, juga aktif dalam sosial media seperti Facebook, Twitter, dan lain-lainnya. Sudah bisa Jieun tebak apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh Minji. Mem-posting foto tersebut ke seluruh akun sosial media yang ia punya, dan memasukkan beritanya ke dalam majalah sekolah.

Tanpa berpikir dua kali Jieun segera berlari mengejar Minji. Tubuhnya yang kecil beberapa kali harus bertabrakan dengan tubuh murid lain yang berlalu-lalang. Jieun benci olahraga, dan lari itu termasuk olahraga. Tiap kali selesai berlari, seluruh kakinya akan terasa sakit.

"Ya! Park Minji kemari kau!"

"hey itu bukan seperti yang kau kira, bodoh!"

"hapus foto ituuuu !"

Jieun terus-terusan berteriak kesal sambil berlari, sementara yang dikejar sudah berada jauh didepan.

Tak disangka, Minji jatuh tersungkur. Tepat saat itu juga Jieun menyergapnya. Mencari keberadaan ponsel Minji, tak peduli denganMinji yang terus-terusan mengaduh kesakitan. Akhirnya Jieun menemukan ponsel itu, berada di saku jas Minji.

"sekarang yang tertangkap siapa ?"

Minji hanya tersenyum meremehkan.

"hei, ini passwordnya apa sih ?" tanya Jieun sambil mencoba memasukkan kata-kata yang mungkin menjadi password ponsel Minji.

"percuma, kamu tidak akan tahu passwordnya. Aku juga sudah mengupload fotonya" ujar Minji.

Jieun hanya bisa pasrah, menatap Minji tajam. Dasar penyebar gosip!

Minji berlalu begitu saja, meninggalkan Jieun dengan seluruh amarahnya. Sekuat tenaga menahan sumpah serapah dan berbagai umpatan agak tidak keluar dari bibirnya.

"kamu masih disini ? tidak lihat jam ya? Bel masuk sudah hampir bunyi"

Jieun menoleh, ada Park Chanyeol disampingnya. Ia membiarkan tangannya ditarik oleh Park Chanyeol, berjalan menuju kelas. Kedua kakinya kini gemetar dan terasa sakit. Kalau saja jam pertama bukan pelajaran dari Kim sonsaengnim, ia akan beristirahat di UKS.

Sehun hanya terdiam melihat kejadian yang terjadi didepan matanya saat ini. Seseorang memotret dirinya, dan parahnya lagi ia tidak sendiri tapi bersama seorang gadis. Foto itu sebentar lagi akan tersebar di berbagai sosial media. Atau mungkin sekarang ini sudah tersebar. Sehun sudah tahu kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi, dan ia sudah terbiasa dengan semua itu. Tapi tidak dengan Jieun. Ia terlihat begitu panik dan berusaha mengejar orang yang memotret tadi.

Beberapa lama kemudian, Jieun telah kembali ke kelas. Bersama dengan seorang laki-laki yang ia ingat bernama Park Chanyeol. Gadis itu kelihatan kesakitan dan terus-terusan memegangi kakinya.

Sehun, entah kenapa terus memandanginya. Memandangi setiap gerak-gerik Jieun, yang diamati sepertinya tidak sadar. Sesuatu terbersit dalam benak Sehun.

Bolehkah ? Bolehkah aku melindunginya ?

Sudah waktunya pulang sekolah. Jieun pulang sendirian hari ini. Chanyeol sedang ada latihan basket dengan timnya. Beberapa hari lagi mereka akan disibukkan dengan pertandingan basket se-provinsi. Sambil berjalan, ia sibuk mengutak-atik daftar lagunya, mencari-cari lagu yang cocok dengan suasana hatinya.

"kau Lee Jieun kan ?" seorang murid perempuan bertanya dengan tergesa-gesa.

"iya, memangnya kenapa ?"

"itu, itu diluar banyak yang mencarimu" ia menunjuk-nunjuk ke arah gerbang sekolah.

Jieun setengah berlari mendekati gerbang sekolah. Segerombolan remaja sedang memblokir gerbang sekolah. Mereka memegang kertas berukuran besar yang bertuliskan umpatan-umpatan untuknya.

"mana Lee Jieun ?!"

"Ya, mana Lee Jieun? Suruh dia keluar!"

"dasar perempuan tidak tahu diri"

"jangan ganggu oppa, dia milik kami !"

"dasar sampah, kau tidak pantas bersama Sehun !"

Berbagai umpatan-umpatan lain sepertinya bergantian masuk ke telinga Jieun. Tubuhnya terasa gemetar. Murid yang ingin pulang terlihat kesal karena kesulitan melewati pagar, dan perepmpuan yang tadi memberitahunya sepertinya suruhan mereka. Jieun sudah tidak tahu harus berbuat apa.

"teman-teman ini Lee Jieun!" ucap perempuan itu sambil mengarahkan jari telunjuknya ke samping.

"dimana ?" teriak salah satu dari mereka. Perempuan itu menengok ke samping. Terkejut karena Jieun sudah tidak ada lagi di tempatnya.

"ini apa-apaan ? lepasin"

"kamu mau selamat tidak ? kamu mau pulang tidak?"

"maksudnya apa sih ?"

"memangnya kamu berani keluar lewat gerbang tadi ?"

"Tidak"

"ya sudah, diam saja. Tidak usah banyak tanya" Sehun malas menjawab rentetan pertanyaan Jieun. Mereka berdua sedang melewati lorong kecil yang gelap dan lembap. Jieun berusaha untuk tidak menjerit saat seekor tikus kecil melintas diatas sepatunya. Sehun sedari tadi hanya diam sambil menuntun Jieun berjalan di lorong itu. Ia membuka sebuah pagar kecil yang berada di ujung lorong. Akhirnya mereka melihat cahaya matahari, tumbuhan merambat yang berada di dinding lorong menghalangi cahaya matahari sehingga membuatnya gelap dan lembap. Jieun menghembuskan napas dengan keras.

"daritadi kamu tahan napas ?" tanya sehun.

"mana bisa bernapas kalau udaranya lembap begitu ?"

Sehun lagi-lagi hanya tertawa.

"eh ini dimana ?" tanya Jieun.

"kamu tidak liat ? ini di jalan raya"

"iya jalan raya, tapi dimana ?"

Sehun tidak menjawab, ia terus berjalan.

"aku mau pulang" ujar Jieun. Ia berbalik dan mengambil arah yang berlawanan. Sehun menolehkan separuh badannya.

"memangnya tau jalan pulang ?"

Jieun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Sehun. ia hanya bisa merengut kemudian menyusul pria itu.

Kini mereka berdua berada disebuah taman. Sehun mengeluarkan kunci mobil lalu menekan salah satu tombol. Sebuah Audi A6 mengeluarkan suara, seperti menjawab panggilan sang pemiliknya.

"boleh beli minum dulu ?" tanya Jieun. Sehun hanya mengangguk.

Ini manusia apa bukan ? bicara saja susah.

"ini ..." gadis itu menyodorkan sebotol air mineral di depan wajah sehun. Sehun langsung membuka tutup botol dan menenggak air mineral tersebut.

"terima kasih" ujar sehun sambil melepas topi dan syal yang se-daritadi menutupi hampir seluruh wajahnya.

"iya, maaf ya airnya ngga dingin. Soalnya di toko tadi ngga ada yang dingin"

"nggak apa-apa" balas sehun sambil menyalakan mesin mobil.

Dalam perjalanan hampir tidak ada yang bersuara, terasa sangat awkward. Tapi tanpa disangka Sehun yang lebih dulu memulai pembicaraan.

"rumahmu dimana ?"

"tidak jauh lagi. Di depan ada coffee shop, belok kanan. Terus lagi, sampai ada perempatan, tapi tidak usah belok, terus saja. Nanti ada convenience store belok kiri, beberapa meter lagi akan ada perempatan, belok kanan lagi soalnya kalau belok kiri itu jalan buntu. 2 rumah dari pembelokan itu rumahku. Banyak pembelokannya ya? Tenang saja jalanannya lebar dan mulus, soalnya ini perumahan. Oh iya, kamu ngerti arahnya kan ?" ia menatap Sehun. sehun hanya memasang ekspresi seperti 'dia bilang apa sih tadi ?'. Jieun hanya mendengus pelan lalu kembali menjelaskan arah ke rumahnya, kali ini lebih jelas dan pelan.

"sudah sampai, terima kasih ya. Maaf juga sudah merepotkan" ujar Jieun.

"tidak. Tidak usah minta maaf. Anggap saja ini permintaan maaf atas perlakuan fansku tadi"

Jieun baru saja ingin membuka pintu mobil, ketika ia teringat sesuatu.

"Oh Sehun, kamu kan murid baru di sekolah kami. Kamu bisa tahu tentang lorong itu darimana ?" tanya Jieun penasaran. Ia saja yang hampir 2 tahun bersekolah disana tidak tahu tentang keberadaan lorong itu, ia juga yakin tidak banyak teman-temannya yang tahu tentang lorong itu.

"dari seorang teman"

"ooh. Sekali lagi terima kasih ya Oh Sehun" Jieun tersenyum sambil melambai pada Sehun.

Sehun hanya mengangguk. Begitu Jieun menutup pintu mobil, sehun menghembuskan napas dengan keras. Ia terus memegangi jantungnya yang terus berdetak lebih cepat dari biasanya, jantungnya seperti mau loncat keluar. Ia berusaha bernapas dengan teratur, lalu segera mengendarai mobilnya menjauh dari rumah Jieun. Sebuah senyum tersungging di bibirnya, senyum yang tulus dan bukan senyum meremehkan seperti biasa.

Jieun berlari menaiki tangga, menuju ke kamarnya. Ia segera menyalakan laptop dan mengecek sosial media. Benar saja, foto-fotonya dan sehun telah tersebar dimana-mana. Buruknya lagi, judul foto itu adalah 'Dia mencoba mencium Oh Sehun' . posisinya dan Sehun saat itu memang sangat dekat, tapi Jieun tidak ada niatan untuk mencium Sehun dan ia yakin Sehun pun punya pikiran yang sama. Mana mungkin mencium orang yang baru kau kenal kurang dari satu hari ?! Jieun mencoba mengendalikan dirinya.

"Almost Paradise achimboda deo nunbusin Nal hyanghan neoui sarangi onsesang da gajindeutae"

Nada dering dari Tmax yang berjudul Paradise terdengar. Ia merogoh saku jasnya dan mengambil ponsel. Nama Park Chanyeol tertera disana.

"yeoboseyo"

"Jieun-ah, kau dimana sekarang ?"

"di rumah, kenapa ?"

"kau baik-baik saja? Maksudku setelah semua kerumunan diluar itu"

"Iya aku baik-baik saja"

"syukurlah. Tentang rumor yang tersebar di internet, kau sabar saja"

"iya, terima kasih. Kau kenal aku, kan? Aku ngga akan down Cuma karena berita murahan seperti itu"

"ya, tentu saja. Rumor bodoh seperti itu tak akan menjatuhkan Super Jieun. Sudah dulu yah"

Chanyeol memutuskan telepon. Jieun meletakkan ponselnya diatas nakas. seperti itulah Chanyeol, ia tidak seperti teman-temannya yang lain. Disaat Jieun ada masalah, orang lain sibuk bertanya "kenapa bisa ? apa penyebabnya ? memangnya benar ya kamu bla bla bla", sementara Chanyeol, pria itu akan akan bertanya "kau baik-baik saja ?" .

Jieun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, kemudian menepuk-nepuk pipinya untuk memberikan sensasi yang menenangkan.

"Huh, get ready Lee Jieun. It's gonna be a long story"

CHAP 3 END

terima kasih sudah baca, review juseyoooo, babaiii^^