Menggaje Bersama Tenipuri
Chapter 4 : Anak Seigaku Belajar Kerja?!
By : IchiFujimiya
Disclaimer : masih sama kayak chapter sebelumnya, Tenipuri punya Konomi-sensei, eh do'i baru ultah yang ke-43 tuh kemaren, buat traktiran ulang tahunnya gimana kalo Atobe dan Akayanya buat Ichi aja~ #seenakjidat
Rate : T
Genre : Humor –garing-
Warning : mengandung beberapa persen unsur shonen ai, bahasa non-EYD ala anak gahoel Jekardah (?) dan OOC serta kegajean level 1000
Waspadalah kalian wahai pembaca...
Summary :
Bagaimana keseharian anak-anak Tenipuri di kota Jekardah tercintah? Pasti ada aja kegajean yang dilakukan mereka tiap hari!
a/n :
karena syaraf nista Ichi lagi jalan dengan lancar (selancar jalan tol ibukota jam 3 pagi pas weekend) maka ayo kita lanjut ini fiiic~~~
seperti biasa karakter yang muncul di tiap chapter bakal beda, dan sesuai request dari Miyucchi sang Cappuccino karakter Tenipuri yang Ichi nistai chapter ini adalah...
*jeng jeng jeeeeeeng dung cesss*
SEISHUN GAKUEN!
Ayeeey~ gimana nistanya anak-anak Seigaku? Ayo kita mulai ficnya!
Oh iya, request masih Ichi buka lho, silahkan layangkan request via review, pm, sms (sms yang di hp ya, bukan Semua Makan So Nice), mention twitter, wall pesbuk, ask box tumblr ato mau pake telegram juga nggak apa-apa... ohohohoooo... XDD
Baiklah langsung saja pembaca sekalian, selamat menikmati~
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Chapter 4 : Anak Seigaku Belajar Kerja?!
Siang ini semuanya keliatan biasa di mata Kikumaru. Iya, itulah yang akan anda alami kalo udah kelamaan libur, segala kegiatan yang direncanain jauh-jauh hari sebelum libur udah kelar dikerjain semua. Untuk yang kesekian kalinya Kikumaru ngeringkel-ngeringkel gaje di sofa rumahnya Oishi.
Eh? Ternyata dia lagi dirumahnya Oishi? Dan nggak cuma Kikumaru aja, disana juga ada Momo, Fuji, Inui, Kawamura, Tezuka dan Kaidoh. Kemana si Ryoma? Ternyata dia lagi liburan dirumah Ortunya di Amerika, dasar anak tajir, mentang-mentang liburan panjang langsung kabur keluar negeri, cih.
"Kenapa sih Eiji?" Oishi yang udah nangkep gelagat nggak enak soulmatenya langsung nanya pake tampang cemas 2000 %, kok 2000 %? Karena Oishi lagi download anime Utapri Maji love 2000 % di laptopnya, makanya cemasnya juga harus 2000 % dong biar matching.
"Mouu aku bosen Oishiii! Ngapain kek yok biar nggak bosen!" dumel si Kikumaru, saking bosennya dia sampe bikin posisi sikap lilin di sofa Oishi, kurang kerjaan banget emang.
"Mau ngapain emang?" Oishi sebagai sobat *coret*merangkappacar*coret* yang baik nanggepin dengan sabar.
"Nya.. ngapain ya? Main udah, Pergi kerumah nenek udah, memburu hantu udah, wisata kuliner udah, jalan-jalan ke mall udah, baca komik udah, mancing ikan koi peliharannya Tezuka udah, nuker bandananya Kaidoh juga udah.."
"Jadi elu yang mancing koi piaraan kakek gue?!"
"Jadi senpai yang nuker bandanaku jadi motif lope-lope?! Grrr... fsssshhuuu..."
Kaidoh sama Tezuka yang tadinya anteng maen winning eleven di psnya Oishi (OMG! Tezuka main Winning Eleven?!) langsung mencak-mencak nggak karuan, kayaknya dikit lagi mereka bakal meng-Kamekameha Kikumaru nih, gawat!
"U-Udah temen-temen, yang berlalu, biarlah berlalu, hahaha..." tawa Kikumaru nggak niat, lagian siapa suruh ngebocorin keisengannya sendiri, jadi kena murka kan?
"Oishi sekarang jam berapa?" Kawamura yang nggak tau sikon nanya dengan polosnys ke Oishi, tapi belom sempet si kepala telur itu ngejawab dia udah disela sama Fuji,
"Jam 2 Taka san, kenapa?" tanya Fuji sambil ngeluarin senyum tiga jari ala top model andalannya.
"Beneran jam 2? Aduh aku harus buru-buru pergi nih, kalo nggak bisa terlambat kerja!" Kawamura panik, lantas ngambil hapenya diatas meja dan tanpa ba-bi-bu lagi dia cabut dari rumah Oishi.
"Cepet amat perginya... emang senpai Taka kerja dimana dah?" Momo kumat penyakit keponya.
"Di Restoran sushi di kawasan blok m, katanya gajinya lumayan, bisa buat ngisi waktu liburan juga, terus..."
"NAH ITU DIA!" belom kelar Inui ngejelasin okupasinya Kawamura dia udah disela sama si kucing rambut merah, Kikumaru.
"A-apa sih Eiji?! Jangan ngagetin dong!" celetuk Fuji sambil ngelus-ngelus dada, hampir aja penyakit jantungnya kumat, nggak lucu juga kan kalo dia ampe masuk ICU Cuma gara-gara denger jeritan nistanya Kikumaru.
"Kita harus belajar kerja cuy! Tapi aku mau kerjaan yang nggak biasa!" Kikumaru ngejelasin ide briliannya.
"Nggak biasa gimana? kerja apaan nih Eiji?" tanya Tezuka ikutan kepo, kerutan di keningnya nggak kerasa udah nambah tiga, nuuuooooooohh!
"kalo kerja di restoran atau perusahaan kan udah biasa, nah kita cari kerjaan yang ekstrim! Jadi pengamen, sopir angkot, tukang sayur, kuli panggul... yang semacem itu deh! Gimana? Gimana? Jenius kan aku~" Kikumaru ngejelasin lagi seraya pasang pose Marui Bunta.
"Gila itu mah... fsshuu.." komentar Kaidoh, nggak lupa dong sama desisan ulernya.
"Kita? Senpai aja deh, aku pass..." Momo nolak dengan halus.
"Gue sih no." Tezuka ngasi komen sambil ngikutin si Ahmad Dani, iya, yang di tipi itu lho.
"Itu bahaya sekali Eiji, gimana kalo ada preman? Kejahatan di Jakarta makin parah sekarang..." yah, sifat mother-hennya Oishi kumat kan, dia dengan panik ngasi tau Kikumaru betapa berbahayanya jalanan di Jekardah, lengkap dengan ilustrasinya, dikira ujian kali ya pake dikasi ilustrasi segala, ckck...
"Mooouu... tapi ini kan seru banget, kapan lagi kita bisa kerja kayak gitu nyaa? Inui, Fuji... belain gue dooong~~" rengek Kikumaru ke Inui dan Fuji.
"Kalo mau kerja begitu bisa sih gue sediain sarana- prasarananya.." kata Inui anteng, dia ngebolak-balik buku datanya dengan keseriusan lepel dewa.
"Ada nih gue nomer makelar kerjaan undergroundnya." Lanjut si Inui.
Tezuka, Momo dan Kaidoh mangap, bisa-bisanya Inui punya nomer makelar.. mereka langsung curiga kalo sebenernya Inui adalah bandar narkoba ato mafia yang lagi nyamar jadi anak smp. Tapi kayaknya nggak mungkin bandar narkoba deh mengingat Inui minum antimo 2 biji juga udah mabok, mafia juga nggak mungkin, Inui kan parnoan (datanya salah dikit parno, kesiangan bangun parno, salah pake seragam parno, salah masuk kamar mandi cewe parno, eh yang terakhir itu sih dia malah seneng kayaknya) masa orang parnoan jadi mafia? Akhirnya Tezuka, Momo dan Kaidoh sepakat kalo Inui adalah tukang ojek yang sering nganterin makelar kemana-mana.
"Kayaknya menarik juga sih Eiji.." angguk Fuji, sedetik kemudian munculah senyuman mencurigakan dari seorang Fuji Shusuuke.
"Kita buat taruhan aja, siapa yang dapet penghasilan paling banyak boleh nyuruh-nyuruh yang dapet penghasilan paling dikit, asik banget kan?" lanjut si Fuji, nah kan! Senyum nistanya pasti diikutin sama ide yang nggak kalah nista juga!
"Oke banget itu Fuji! Sasuga si Jenius!" Kikumaru nggak pake mikir lagi langsung menyambut girang idenya Fuji.
"Kalian harus ikut yaa..." cowo yang hobi gosok gigi itu terus nengok ke Momo, Kaidoh, Inui, Oishi dan Tezuka.
"Iya, HARUS IKUT..." Fuji ikutan nengok, dia nggak lupa ngasi senyum intimidasi ke temen-temennya, horror abis!
"Kan aku penyedia sarana kalian kerja, jadi aku nggak apa-apa dong kalo nggak ikut." Inui ngeles dengan cantiknya, inilah efek kebanyakan minum Inui jiru, anda akan pintar ngeles!
"Senpai, gimana kalo aku jadi jurinya, nanti aku yang itung pendapatan senpai. Kalo tukang itung kan biasanya nggak ikut kerja, biar duitnya nggak kecampur-campur." Momo langsung menawarkan diri jadi juri taruhan gelo Kikumaru cs, Fuji sama Kikumaru manggut-manggut setuju aja.
"Sialan! Curang lu Momoshiro!" Kaidoh yang kalah langkah misuh-misuh ke Momo.
"Ckckck Mamushi... yang cepetlah yang menang" sahut Momo girang.
"Berarti yang ikut Cuma aku, Eiji, Tezuka, Oishi dan Kaidoh ya.." lagi-lagi Fuji ngeluarin senyum mautnya. Yang dipanggil namanya *selain Kikumaru* Cuma bisa mengutuki nasip sial mereka, dan mengutuki nasip baik Ryoma yang saat ini mungkin lagi asik main tennis di Amerika sonoh.
"Tezuka, protes gih sono..." bisik Oishi sambil nyikut-nyikut Tezuka.
"Kalo gue bisa juga gue udah protes dari awal kali..." Tezuka bales ngebisikin Oishi, mukanya udah prihatin abis, lebih prihatin daripada tampang pak Es be ye yang tau kalo kalo mentri-mentrinya ternyata terbukti korupsi, pokoknya melas banget deh.
"Gue udah sms ke makelarnya nih, nanti kalo ada tanggepan langsung gue kabarin deh." Jelas Inui, kayaknya dia yang paling semangat sama ni acara deh.
"Heheee.. yasudah sekarang semuanya siap-siap aja ya, bubar jalan nya~" dan layaknya seorang panglima perang gagal Kikumaru ngebubarin kelompok itu, padahal kan ini rumahnya Oishi, mungkin dia mikir 'Rumahnya Oishi ya rumahku juga nya' begitu, entahlah, bahkan narator pun nggak tau apa yang ada di pikiran Kikumaru.
(Pembaca : yaeyalaaaah! Emangnya lu Dedi Kokbusyet?! *cubitin narator pake tang*)
-X-
Beberapa hari kemudian, berkumpulah sekelompok manusia yang sama, di waktu dan tempat yang sama.
"Kata makelarnya sih Oke, tapi dia Cuma ngasi kita waktu seminggu." Inui ngelapor sambil bersihin kacamata dia pake air rendeman beras, persis seperti yang dilakukan Yagyu di chapter 1.
"Seminggu juga nggak apa-apa kok, makasih Inui" respon Fuji, senyum najongnya masih juga masih sama kayak beberapa hari yang lalu.
'Che, seminggu tuh lama kali senpai..' protes si pecinta kucing, iya, siapa lagi kalo bukan Kaidoh. Tapi demi keselamatan nyawanya sendiri dia protes pake suara kalbu aja. Daripada ntar didenger Fuji, wah bisa jadi santapan makan malemnya Fuji dia.
"Nya, sekarang kita undi ya apa kerjaan kita besok!" tau-tau Kikumaru nongol sambil bawa gelas yang isinya gulungan kertas kecil, persis kayak ibu-ibu arisan.
"Mudah-mudahan gue dapet kerjaan yang enak.." harep Oishi.
"Nggak ada kerjaan yang enak, Oishi..." Tezuka yang dari beberapa hari lalu Cuma diem dan pasrah (dan prihatin juga) nyeletuk nanggepin do'anya Oishi.
Setelah diundi inilah kerjaan mereka :
Tezuka : Tukang sayur.
Kaidoh : Pengamen.
Oishi- Kikumaru : Sopir angkot besrta keneknya.
Fuji : Kuli bangunan.
Gimana mereka menjalani pekerjaannya? Mari kita tengok!
Tezuka
Kira-kira jam 3 pagi Tezuka udah jalan ke pasar Kramat Jati, niat mulianya sih mau nyiapin stok sayuran buat dijual ntar pagi. Tapi nggak berapa lama dia masuk pasar cowo kacamata ini malah rempong sendiri, liat aja sekarang, dengan beberapa plastik sayuran plus bumbu dapur ditangan kanan, ikan dan ayam seger ditangan kiri, pisang kepok, tomat dan buah-buah laen nangkring di kepalanya serta 4 renceng masako, royco dan bumbu serbaguna yang dia taro seenaknya di bahu Tezuka jadi keliatan kayak Rambo di fuse sama cabe-cabean.
"Sial bener, kenapa harus tukang sayur coba?! Mana harga-harga naik, Inui Cuma ngasi modal dikit, argh! Belom beli telor ayam pula!" Tezuka ngedumel panjang-pendek, dia mulai keringetan, mata merah, iritasi ringan dan bau jengkol.
Singkat kata akhirnya Tezuka kelar belanja, terus mulai jualan sayur deh! didorongnya gerobak sayur kumel pinjeman dari Inui dengan semangat reformasi, sampe dia masuk ke komplek perumahan elit di Parung.
"Astaganagabonarjadidua~!"
"Awwhhh~ Tukang sayurnya ganteng bangeeeet!"
"Mata gue seger!"
"UWOOOO MEGANEEE! TIPE GUE ABISSSS!"
"Cyiiiiiinn... cucho abis tuh lekong! Akika demen deeeh!"
Kedatengan Tezuka langsung disambut meriah sama ibu-ibu, tante-tante dan seorang tante jejadian (baca : bencong) yang kebetulan tinggal di komplek tersebut, nggak berapa lama jualannya Tezuka habis diborong mereka. Karena dagangannya udah abis Tezuka langsung aja ngaso sambil nyante-nyante di pos kamling komplek itu.
"Mas, udah lama jadi tukang sayur?" yassalam.. ternyata ibu-ibu, tante-tante dan nggak lupa si tante bencong tadi masih ngikutin Tezuka. dasar, nggak bisa liat yang mulus dikit.. *narator dilempar panci*
"Err..." Tezuka garuk-garuk pala, nggak tau harus bilang apa.
"Mas Ganteng haus ya? Kok diem aja.. Akika bikinin sirop marjan ya? Tunggu bentar ya sayang." Goda Si tante bencong, yang lantas cabut pulang buat bikinin Tezuka sirop.
"Mas tukang sayur jadi model aja, kebetulan saya buka agency lho.. hihihihiii~"
"Jeng Juju suka ambil kesempatan deh, udah mas, mending kerumah saya aja yuk.. nanti saya kenalin sama anak gadis saya~"
"Anak jeng Tari kan perawan tua, masa' si ganteng ini mau dikasi perawan tua? Mending sama saya aja sekalian"
"Heh?! Jeng Vina jangan asal ngomong ya! Enak aja ngatain anak saya!"
"Emang bener kok! Week.."
"EEEHH JANGAN SEMBARANGAN JENG!"
"ITU JUJUR NAMANYA JENG, JANGAN TERSINGGUNG DONG!"
"! $# #!^%$!"
" !##%%&**&^%!"
Dan berantemlah tante-tante itu, perhatian ibu-ibu dan tante-tante yang lainpun teralih dari si ganteng alias Tezuka Kunimitsu, ngeliat kesempatan ini langsung aja Tezuka kabur sama gerobaknya dari tempat kejadian perkara.
Oishi – Kikumaru
"Ciputat- Lebak Bulus! Ciputat-Lebak Bulus nyaa! Ayo naik naik! Dikit lagi berangkat nya!" Kikumaru teriak teriak sambil nangkring di pintu masuk minibus warna koneng bernomer 510 jurusan Ciputat- Kampung Rambutan (baca : bus yang biasa dinaikin author), do'i keliatan menjiwai abis pekerjaan jadi kernet ini, luar biasa sekali pembaca.
"Ati-ati Eiji, ntar kamu jatoh!" jerit Oishi histeris dari bangku sopir, dia emang kedapetan jadi sopir, dengan bermodalkan sim nembak pak sopir Oishi siap bertugas.
"Iya, tenang aja Oishi... uwaa!" nah kan, baru aja dibilangin si Kikumaru udah jatoh, untung aja busnya masih ngetem, Oishi buru-buru keluar bus demi ngeliat kopelnya.
"Makanya.. udah kubilangin kan..." kata Oishi sambil nempelin hansaplast di lukanya Kikumaru, untungnya ni bocah pecicilan Cuma luka lecet aja.
"Ihiks.. iya Oishi.. maaf..." ringis Kikumaru nyesel.
" Nah, udah nggak apa-apa kok.." senyum Oishi, lalu ngusap-usap rambut Kikumaru.
"Hwaaa Oishiiiiii..." berasa kayak dirumah aja Kikumaru langsung memeluk si Oishi mesra, padahal jelas-jelas mereka masih di terminal Kampung Rambutan, ya pasti diliatin orang-orang lah.
"Kalo mau pacaran dirumah dong!" protes sopir bus 9b sirik.
"Bang, mereka mesra ya bang.." seorang kenek angkot ngasi komen sambil nyandarin kepala ke abang penjual tisu.
"Amit-amit, pergi lu! Jangan nyender-nyender ke gue! Tisu tisu.. kopikonya mbak, maskernya bu.." si abang penjual tisu nyautin, lalu kabur jualan lagi.
"Kyaaaa! Golden paiiiiir!"
"Terusiiin! Terusiiiiin!"
"Bukaa! Bukaa~~ bukaaa~~" (?)
"Doki-doki gue liatnya~~"
"Aaaaaaaaaaaaaahhh~~"
Iya, bagus. Nggak tau darimana nongollah segerombolan fangirl Golden pair, mereka tanpa ijin dan tanpa ba-bi-bu lagi langsung aja ngambil foto, nge-twitpic, mention temen-temennya sesama fangirl juga, masak aer, nari Tor- Tor bareng-bareng, walah pokoknya ntu terminal jadi makin rame deh, uhuuyyy~
"Err... ayo kita narik aja Eiji..."
"I-iya nya..." bales Kikumaru swt.
Kaidoh
"Fshuuuu..." desis Kaidoh di depan Sunday market (udah diconvert jadi bahasa Inggris tetep aja keliatan nggak keren), di tangannya udah ada ukulele yang dipinjemin seminggu full sama sang senpai tercintah, Inui Sadaharu. Dengan desisan ini Kaidoh siap bekerja mencari nafkah yang halal sebagai seorang pengamen, niatnya udah bulet banget, sebulet lingkaran di logo circle K, yeahh!
Melangkah pede bak Tom Kruz kena cacar air si Kaidoh akhirnya masuk ke salah satu toko kelontong (toko yang jual sapu, kain pel dan peralatan rumah tangga itu lho, bukan toko yang jual lontong #plak) yang ada di pasar Minggu,
"Permisi pak, bu.. maaf ganggu.. saya baru keluar dari penjara, disini cuma mau numpang nyanyi.. daripada saya merampok, daripada saya mencuri, lebih baik saya mencari makan dengan cara yang halal.." kata Kaidoh, persis sama dengan yang tertulis di buku 'Cara Menjadi Pengamen Preman Yang Baik dan Benar', kayaknya Kaidoh emang ada bakat sih jadi pengamen preman, liat aja mukanya udah sangar gitu *narator digebuk pake sapu*
"Bertahan satu cintaaaaa... bertahan satu ce in te aaaaaa.. bertahan satu cintaaa... bertahan satu ce in en te aaaa.." setelah monolognya kelar Kaidoh lanjut nyanyi, tentunya dia nyanyiin lagu-lagu yang populer (10 tahun yang lalu) dong, salah satunya ya lagu bertahan satu cinta ini.
Reaksi orang-orang yang denger Kaidoh nyanyipun beda-beda, ada bapak-bapak yang mendadak budek, ibu-ibu tukang sayur yang nggak tanggung-tanggung langsung ngasih lima puluh ribu ke Kaidoh (entah ibu itu tersentuh banget jato muak banget denger suara Kaidoh) ampe bocah lima taun yang dari kupingnya langsung keluar kuda poni (?) abis denger Kaidoh nyanyi, pokoknya aneh bin ajaib deh reaksi yang diterima Kaidoh, sabar ya cuy~
"Penghasilan hari ini lumayan nih, bisa makan enak ntar.. fshhuuu.." Kaidoh berkata sambil nyengir lebar, mandangin gumpelan-gumpelan duit ditangannya, emang sih sebagian besar duit seribuan, tapi ada juga 2 lembar lima puluh ribuan, 3 lembar dua puluhan dan selembar seratus ribuan, beuuuh!
Pas lagi ngiterin pasar lagi Kaidoh ngeliat 2 orang yang keliatannya preman dari kejauhan, mereka lagi marah-marah di depan kios beras, tato di tangan tuh preman keliatan mengkilat karena efek keringet, berarti itu tato beneran, bukan hadiah dari ciki. Tapi emang dasar Kaidoh nyalinya level 100000000000000000000, ngeliat preman sangar gitu dia malah cuek aja jalan, akhirnya disetoplah sang Mamushi sama duo preman alias preman pair tersebut.
"Heh berenti lu!"
"APA?! Fshhuuuuu..." bentak Kaidoh nggak kalah galak, ngeliat tampang Kaidoh (dan desisannya yang hebring) mau nggak mau preman pair jadi ciut juga.
"E-enggak bang... i-ini.. kita cuma mau ngasi setoran hari ini..." kata Preman 1 sambil nyerahin duit yang baru aja mereka dapet dari tukang beras. jiaah ujung-ujungnya malah Kaidoh yang dikasi uang sama preman pair, bego ah.
Fuji
."Ahn... indah sekali hari ini~" senyum seorang anak smp berambut coklat yang setelah dilihat dari kartu pelajarnya (kan anak smp belom punya ktp) bernama Fuji Shushuke, do'i nyeruput jus alpuketnya sambil nyeka keringetnya pake handuk Terry Palmer. Lho? Bukannnya Fuji kebagian jadi kuli bangunan, kok bisa-bisanya dia nyante-nyante gini? Ooh ini ada ceritanya, mari kita plesbek!
Flashback
"Misi pak, saya Fuji yang seminggu ini bakalan kerja disini.." Fuji memperkenalkan dirinya dengan sopan santun ala keraton Yogya (iya, yang pake acara sungkem-sungkeman segala itu) ke Mandor kuli bangunan, Pak Mandor langsung swt ngeliat tingkah pekerja barunya.
"Elu yakin mau kerja disini? Ini kerjaan laki-laki mbak.." katanya ragu-ragu.
"Yakin pak, oh iya saya ini lelaki tulen! Darah itu merah Jendral!" okee... ucapan Fuji yang terakhir emang rada ngawur, tapi cukuplah buat ngeyakinin pak Mandor kalo dia itu laki-laki aseli, buka cabe-cabean, terong- terongan apalagi terong dicabein.
"Y-Yasudah... ngaduk semen sana." Perintah pak Mandor sembari nunjuk karung semen.
Fujipun melaksanakan yang diperintahkan bosnya, tapi baru aja ngambil sendok semen dia udah dipanggil sama kuli-kuli yang lain,
"Lha? Ini kuli barunya?"
Fuji nengok, dan nggak lupa ngasi senyum 3 jarinya, "Iya pak, nama saya Fuji."
"Ooh..." kayak paduan suara anak sd kuli-kuli yang lain ngejawab kompak, nggak lama kemudian mereka udah akrab kerja bareng-bareng demi ngebuat pondasi rumah, sampe tiba saatnya makan siang.
"Nambah lagi nih Fuji." Kata seorang kuli sembari ngasi nasi bagiannya ke tempat bekel Princessnya Fuji, do'i emang bawa bekel sendiri dari rumah.
"Aduh jadi ngerepotin mang Ujo nih, makasih ya mang." Jawab Fuji sambil senyum manis, ngeliat rekan seperjuangannya disenyumin cowo cantik kuli-kuli yang laen nggak mau kalah centil,
"Lauknya nambah juga dong Fuji." Tukas mang Dodik, dia mindahin Lasagna makan siangnya hari ini (ajegile! Kuli bangunan makan siangnya pake Lasagna, kalah si author) ke tempat makan Fuji.
"Desertnya juga Fuji."
"Makan Buah juga ya.."
"Gue beli jus Alpuket 2 gelas nih, yang satu buat elu aja ya Fuji."
"Abis ini biar gue aja yang kerjain kerjaan lu ya?"
"Nggak biar gue aja! Lu nyantai aja Fuji di tempat adem."
"Biar gue yang kelarin kerjaannya Fuji hari ini deh, kasian dia, ntar kukunya patah gimana?"
"Nggak gue aja!"
"Gue!"
"Gue!"
Flashback off
Dan begitulah, kerjaan Fuji dikerjain sama temen-temen kulinya yang lain, do'i pun bisa bebas merdeka nyantai sambil kipas-kipas, minum jus Alpuket dan apdet status pesbuk. Mencengangkan emang gimana orang dengan tampang bagus dapet begitu banyak kemudahan daripada orang yang tampangnya biasa aja.
"Kalo seminggu begini terus asik juga nih.. hahahaha..." komentar Fuji, diakhiri dengan tawa nistanya.
-X-
Seminggu berselang, Kikumaru, Oishi, Kaidoh, Tezuka dan Fuji kembali ngumpul dirumah Oishi, nggak lupa Momo dan Inui selaku juri dan penyedia sarana dan pra sarana kerja ikutan ngumpul disana. Penghasilan sudah diserahkan dan dihitung, saatnya pengumuman pemenang taruhan.
"Ehem, Ehem.." Momo batuk-batuk kecil, kayaknya penyakit tbcnya kumat lagi.
"Setelah diitung, ditimbang, diemut dan dimuntahkan kembali maka diputuskan pemenangnya..."
Momo ngelirik senpai-senpainya, Fuji dan Kikumaru pasang tampang antusias banget, Kaidoh ber-Fshuuu-ria sedangkan Oishi dan Tezuka malah asik kerokan sambil pasang koyo salonpas, kerja jadi sopir bus dan tukang sayur seminggu udah sukses bikin tubuh seksi (?) mereka rontok.
"Pemenangnya... NGGAK ADAA!" seru Momo.
"Lho?! Kok gitu?! Yang bener aja lu Momo!" Kikumaru protes.
"Abis senpai kompakan banget sih, masa' pendapatannya sama semua, enam ratus lima puluh tujuh ribu lima ratus semua." Jelas Momo, nggak lupa nyebutin angka penghasilan senpai-senpainya seminggu ini.
"Huuuuu... jadi nggak seru nya..." Kikumaru lanjut protes sambil monyongin bibir.
"Araa.. sudahlah Eiji, yang penting kan kita udah tau susahnya nyari duit dari taruhan ini.." Fuji ngasi pesan moral sambil bantuin mijitin Tezuka, kasian juga ngeliat pacarnya tersayang masuk angin sampe begini rupa. Oh iya soal nasibnya yang beruntung banget ini (baca : nggak perlu kerja apa-apa, semua udah dikerjain rekan kerjanya) nggak diceritain Fuji ke siapa-siapa, biarlah ini menjadi rahasia dia, kuli-kuli temen barunya, pak Mandor (lho? Pak Mandor juga tau?) dan tuhan aja.
"Benar tuh Eiji.." imbuh Oishi,
"Nyaa... yauda, sekarang kita foya-foya aja pake duit pendapatan kita.. eh?! Inuuuiiiii?! Mau dikemanain tuh duit kita?!" tereak Kikumaru pas ngeliat Inui dengan polosnya masukin duit pendapatan mereka kedalem amplop coklat.
"Ya buat si makelar lah, tu makelar kan nggak ngasi kerjaan secara Cuma-Cuma.. properti yang dipinjemin ke kalian kan ada juga yang rusak, jadi harus diperbaikin, contohnya gerobaknya si Tezuka tuh, rusak parah ntu gerobak..." jelas Inui anteng, senyum najongnya nggak lupa ia sunggingkan.
"..." Tezuka mingkem, siapa suruh dia dikejar tante-tante melulu, jadinya tu gerobak ikutan maraton deh tiap dia lagi dikejar.
"... Gue nggak mau tau ya..." ucap Fuji dengan suara rendah dan dingin,
"... Inuiiiiiii..." panggil Kikumaru- Oishi.
"Fshuuuuu..." Kaidoh mendesis.
"KEMBALIIN PENDAPATAN KITAAAAAAAAA!" mereka –lagi-lagi- kompak menerjang Inui.
"GGGAAAAAAAHHHHHHHH! JANGAAAAAANNNNN!"
-Chapter 4 End-
Ichi : Nyeheheheheheheee~~ *tawa nistah*
Tezuka : Sial gue jadi masuk angin gara-gara lu suruh jadi tukang sayur!
Ichi : Nggak apa-apalah, sekali-kali ini aja kok~ ;D
Kikumaru : Sekali-kali kepalamu! Buuuu~~ *masih ngambek*
Oishi : Maa.. maa... sudahlah Eiji, yang penting kita dapet scene lovey dovey~ *pasang senyum mesum* #woi
Fuji : Che! Girang amat sih yang lovey dovey di terminal.. =3=
Ryoma : *muncul* Aku nggak nampil disini.. -_,-
Ichi : hehee.. mungkin di chapter lain ya Ryoma... nah, mumpung dirimu udah muncul Ichi minta tolong ya :D
Ryoma : Etdah Thor, baru pulang udah dimintain tolong aja!
Ichi : Peliiiiiiis~~~ XDD
Ryoma : Duh mau gimana lagi.. Pembaca sekalian, terima kasih udah mau membaca fanfic ancur ini.. *membungkuk*
Tezuka : Seperti biasa, Request masih diterima..
Kawamura : Kritik , Saran juga diterima dengan tangan terbuka.. :D
Fuji : Akhir kata, Terima kasih banyak... dan..
Seigaku : Review yaaaaa~~~~~~
