Sasuke harus melakukan apapun yang diperintahkan oleh Konoha karena ia terikat kontrak misi. Termasuk memutuskan hubungannya dengan Sakura. Sanggupkah ia melaksanakan misi tersebut dan menjalankan hidupnya yang telah terbiasa dengan sakura disisinya?
.
.
.
My Contract Mission
Disclaimer : Masahi Kishimoto
Story by Ayuzawa Uchiha
Warning : Canon, OOC, typo, dll :D
Happy Reading Minna-san
Chapter 2 : Keputusan
.
.
.
Perempuan yang memiliki surai senada bunga kebanggaan Jepang itu sedang berkutik dengan alat masak didapurnya, sang ibu tak kalah repotnya membantu anak perempuannya menyiapkan makanan untuk kekasihnya.
"Sakura, ajaklah Sasuke kemari, ibu juga ingin mengenalnya," ibunya menyikut tangan kanan Sakura yang sedang memotong paprika hijau.
"Sasuke-kun itu orang yang sibuk bu," ujar Sakura sembari memasukkan potongan paprika ke dalam panci.
"Kalau begitu ajaklah ia kemari, jika ia memiliki waktu luang, ibu kan juga ingin mengenalnya," kata wanita yang memiliki nama Haruno Mebuki, Sakura hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sasuke-kun itu irit bicara bu," ucap Sakura, ia menuang masakannya didalam tempat makan.
"Tenang saja akan Ibu buat dia jadi cerewet," jawab Mebuki dengan muka jahilnya.
"Yasudah, aku pamit ke rumah Sasuke-kun, jaa ne," ia pun meninggalkan dapur menuju pintu keluar, sedangkan sang ibu mengikutinya.
"Pulanglah lebih cepat, Sakura. Jika terlalu malam lebih baik menginap di rumahnya," Sakura yang mendengar perkataan ibunya, hanya menunduk malu.
"Hm." gumam Sakura sambil mengangguk, ia pun membuka pintu dan melambaikan tangan kepada ibunya.
.
.
.
Matahari sudah hampir tenggelam Sakura mempercepat langkahnya menuju kediaman kekasihnya, ia hanya sedikit takut berjalan sendirian di manshion Uchiha, yang menurutnya agak sedikit seram ini.
Sakura pun akhirnya tiba di rumah Sasuke, ia mengetuk pintu berkali-kali tapi tak ada panggilan dari dalam. ia membuka knop pintu dan tidak terkunci.
"Sasuke-kun apa kau didalam? Aku membawakanmu makanan, kau belum makan bukan?" panggil Sakura, ia mencari-cari sosok Sasuke disetiap ruangan tapi hasilnya nihil, ia tak ada dimana-mana.
"Apa Sasuke sedang tidur" batin Sakura. Ia membuka pintu kamar Sasuke, dan ternyata benar, adik bungsu dari Uchiha Itachi itu senang tertidur. Tapi— ada yang tak beres Sakura berlari kecil menuju futon yang di tiduri Sasuke.
"Sasuke-kun ..." panggil Sakura, ia menepuk pipi Sasuke berkali-kali berharap Sasuke akan bangun dari mimpi buruknya.
"Sakura maafkan aku," ucap Sasuke masih dengan mata tertutupnya, Sakura yang mendengar ucapan Sasuke hanya membeliakkan matanya.
"Apa maksud perkataanmu Sasuke,"
"Sasuke-kun bangunlah ini aku Sakura," panggilnya lagi.
Panggilan terakhir Sakura berhasil membangunkannya, keringat bercucuran di wajah tampannya, matanya memandang gadis didepannya.
"Kau mimpi buruk Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan senyum tipisnya.
"Hn," gumam Sasuke.
"Aku membawakanmu makanan, kau belum makan bukan? Aku tunggu di ruang makan ya." ucap Sakura ia meninggalkan Sasuke sendiri di kamarnya.
.
.
.
Sasuke tersenyum tipis melihat kelakuan gadis Haruno itu, betapa beruntungnya ia mendapat cinta kunoichi itu, ia berjalan mendekati Sakura dan membantunya meletakkan makanan di meja makan.
Setelah makanan siap di meja, dua orang berbeda jenis itu makan dengan keadaan yang sepi, entah kenapa Sakura merasa dirinya diperhatikan terus oleh lelaki didepannya.
"Masakanmu selalu enak Sakura," ucap Sasuke.
"Arigatou Sasuke-kun,"
Tak membutuhkan waktu yang lama mereka sudah menghabiskan makanan yang ada di meja, Seperti biasa Sasuke membantu Sakura mencuci piring, setelah mencuci piring Sasuke menggandeng tangan Sakura.
"Duduklah, aku ingin berdua denganmu melihat keindahan malam," ucap Sasuke, terlihat semburat merah di wajah Sakura
"Sewaktu aku kecil aku sering berbicara dengan Itachi-nii disini," ucap Sasuke. Sakura yang mendengar ucapan Sasuke langsung memeluk Sasuke dari samping, ia tahu ada nada sedih didalam ucapan Sasuke.
"Aku rindu keluargaku, Sakura,"
"Mereka sudah bahagia disana, lagipula ada aku, Naruto, Sai, dan guru Kakashi yang akan mengusir kesepianmu,"
"Hn," gumam Sasuke.
Sakura mengangkat kepalanya menatap bulan yang tepat berada diatas kepalanya, ia melihat lelaki disampingnya ternyata Sasuke melakukan hal yang sama, rasanya ia ingin waktu berhenti berputar, ia ingin selalu bersama Sasuke. Ia pun mengeratkan pelukannya.
"Sasuke-kun boleh aku tahu, tadi kau mimpi apa? Kenapa kau berucap maaf padaku, hn?" tanya Sakura.
"Bukan apa-apa," jawab Sasuke.
Sakura melepaskan tangannya dari tubuh Sasuke, ia tahu Sasuke berbohong padanya, walaupun ia sudah menjadi kekasihnya tapi kenapa ia belum tahu apa-apa tentang Sasuke.
"Begitu ya," ucap Sakura, ia menunduk sedih.
Sasuke melihat perubahan gadis disampingnya, "maaf aku tak bisa memberitahumu," batinnya.
"Sudah mulai dingin lebih baik kita masuk," Sasuke berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Sakura di belakangnya.
"Sepertinya akan hujan, menginaplah semalam disini," ucap Sasuke tiba-tiba, ia melihat gadis dibelakangnya.
"Tenang saja aku akan menyuruh anjing ninja untuk memberitahu orangtuamu," ucap Sasuke lagi.
"Tidak usah, ibu sudah mengizinkanku menginap," ucap Sakura. Sasuke kaget mendengar ucapan Sakura, ternyata ibunya sudah mengizinkan hubungannya dengan anak tunggalnya.
Sasuke berjalan menuju kamarnya, ia mengambil futon didalam lemari dan menggelarnya di samping futon miliknya. Ia menuju saklar yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri, ia menatap Sakura.
"Matikan saja," ucap Sakura.
"Hn,"
Sakura mengangkat selimut bergambar kipas klan Uchiha dan meniduri tubuhnya di futon itu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ia merasa gugup tidur di samping Sasuke. Sasuke yang melihat tingkah laku Sakura hanya tertawa kecil.
"Kau gugup? Tenang saja aku tak akan melakukan apa-apa," ucap Sasuke dengan muka jahilnya.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya, ia percaya Sasuke bukan seorang lelaki yang berpikiran mesum seperti Naruto atau guru Kakashi.
"Sasuke, ibu ku ingin sekali bertemu denganmu, jika kau ada waktu bisa kau mampir ke rumahku sebentar?" tanya Sakura, ia ingat perkataan ibunya tadi sebelum kesini.
"Baiklah besok aku akan ke rumahmu, lagipula selama 2 minggu ini aku bebas dari misi," ucap Sasuke.
"apa kau yakin bebas misi, kau ini sedang menjalankan misi sekarang," batin Sasuke.
"Tidurlah," ujar Sasuke, Sakura tersenyum dan menanggukkan kepalanya, Sakura menutup matanya dan tak lama kemudian terdengar dengkuran halus, Sasuke menatap wajah Sakura dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sampai matahari terbit pun Sasuke tak menutup matanya, ia tidak tidur karena perkataan para tetua konoha masih terngiang di benaknya.
.
.
.
Sasuke dan Sakura berjalan menuju kediaman Sakura, sebelum tiba Sasuke membeli beberapa makanan untuk diberikan kepada ibu Sakura.
Tak lama kemudian mereka berdua telah tiba di rumah sang gadis, Sakura membuka pintu dan berkata "Tadaima," disusul ucapan sang ibu "okaeri Sakura," Mebuki keluar dari dapur dan melihat putrinya bersama dengan seorang lelaki, ia mempersilahkan keturunan Uchiha itu untuk duduk dan menyuruhnya tunggu sebentar karena tak lama makanan akan segera siap, sebelum pergi Sasuke menyerahkan beberapa makanan ringan kepada ibu Sakura.
"Sasuke-kun maaf ya rumahnya tak terlalu besar," ucap Sakura.
"Tak apa, rumah ini terlihat lebih ramai di bandingkan dengan rumahku," ujar Sasuke, ia melihat beberapa lukisan dan foto keluarga Sakura yang tertempel di dinding.
"Kalian berdua pasti belum sarapan, ibu menyiapkan sup tomat untukmu Sasuke," Ujar mebuki, ia meletakkan makanan di atas meja sedangkan Sasuke hanya menaikkan alisnya.
Mebuki yang melihat keheranan di wajah Sasuke langsung berkata "ibu tahu dari Sakura, kebetulan masih banyak persediaan tomat di kulkas". Sasuke hanya tersenyum tipis.
"Arigatou bibi,"
"Janggil memanggilku bibi, panggil saja ibu," ucap mebuki, ia menyerahkan semangkuk nasi. Sasuke menerimanya dan tersenyum.
"Arigatou ibu," ucap Sasuke canggung. Sakura yang melihat interaksi Sasuke dengan ibunya hanya tersenyum tipis, ia akui sangat bahagia bisa menjadi kekasih Sasuke dan ibunya tak terlihat keberatan dengan hubungannya dengan Sasuke.
Selama makan mereka bertiga berbincang, lelaki yang memiliki rambut raven itu pun tak keberatan, sesekali mereka tertawa, dan tanpa terasa makanan yang mereka makan telah habis, Sakura membawa piring kotor ke tempat cucian piring dan mencucinya.
"Sasuke, ibu yakin kau lelaki yang baik, tolong jaga Sakura ya," ucap Mebuki, wanita yang telah memiliki umur diatas 30-an itu tersenyum, ada suatu harapan di dalam ucapannya.
"Hn." gumam Sasuke disertai senyuman.
.
.
.
Waktu yang diberikan tetua Konoha Sasuke gunakan sebaik mungkin untuk bersama dengan Sakura dan membahagiakannya, ia juga memberi kunci rumah kepada Sakura, memberinya kebebasan keluar masuk rumahnya, tak jarang mereka berdua tertawa entah hal lucu apa yang terjadi.
Sasuke meminta Sakura mengajarkannya masak, Sakura menyetujui permintaan Sasuke, tak memerlukan banyak percobaan Sasuke sudah mahir memasak masakan yang di buat Sakura.
.
.
.
Hari pernikahan Sai dan Ino pun tiba, Sakura sibuk memberikan riasan agar sahabatnya itu terlihat sangat cantik hari ini.
"Nah sekarang ganti pakaianmu dengan kimono ini," ujar Sakura semangat, ia memberikan kimono berwarna kuning bermotif bunga kepada Ino. Ino pun berganti pakaian dengan kimono di ruang ganti.
"Bagaimana?" tanya gadis bermarga Yamanaka itu yang tak akan lama lagi berganti menjadi Shimura.
"Kau terlihat saaangat cantik, aku iri padamu," ujar Sakura, ia membalikkan tubuh Ino menghadap kaca, Ino pun tersenyum dan memeluk Sakura erat.
"Terima kasih Sakura," ucap Ino, ia hampir mengeluarkan air mata.
"Kau tak boleh menangis, nanti riasanmu luntur," ucap Sakura halus, ia tersenyum bahagia melihatnya sahabat terbaiknya menikah dengan orang yang dicintainya.
Ino tersenyum dan mengangguk "Kau juga harus cepat-cepat mennyusul dengan lelaki Uchiha itu," ucap Ino.
Mereka berdua pun keluar dari kamar dan di luar ayah Ino sudah menunggu, Sakura pamit untuk menyusul Sasuke.
Tak lama upacara pernikahan Ino dan Sai di mulai, janji pernikahan pun terucap dari Ino dan Sai, Sakura yang melihat kejadian itu menangis bahagia. Sasuke juga tersenyum melihat rekan teamnya sudah mendapat kebahagiannya.
Tak terasa hari sudah menjelang malam, waktunya perayaan kembang api.
"Duarrrrr," kembang api menghiasi kota konoha, penduduk desa terlihat bahagia.
"Indah sekali ya, Sasuke-kun?" tanya Sakura, matanya masih menatap kembang api.
"Hn," jawab Sasuke.
"Rasanya aku ingin seperti Ino," ucap Sakura tiba-tiba, ia menutup mulutnya.
"Apa yang barusan ia ucapkan,"
Sasuke yang mengerti ucapan Sakura hanya tersenyum jahil, "Kau pasti akan menikah Sakura," ucapnya. "tapi tidak denganku," ucap batin Sasuke.
Sakura tersenyum malu dan mengangguk, tanpa sadar wajah Sasuke sudah dekat dengan Sakura, Sasuke mencium Sakura, Sakura terlihat kaget tapi ia pun menikmatinya dan menutup matanya.
"lembut," ucap batin Sakura.
Terasa sudah cukup Sasuke menjauhkan wajahnya, ia tersenyum dan melanjutkannya kembali, Sakura pun tak merasa keberatan. Selama mereka berhubungan Sasuke sangat jarang menciumnya. di bawah langit yang bertaburan kembang api, kali pertama mereka berdua menyatukan bibir mereka.
.
.
.
Dua hari Sasuke tidak bertemu dengan Sakura, ia mencoba menghindar dari gadis berambut merah muda itu, alasannya semakin ia dekat dengan gadis itu semakin sulit ia melepas gadis itu. Esok dimana ia harus mengambil keputusan yang sangat sulit dalam hidupnya.
Ini mungkin hukuman yang Sasuke harus tebus akibat kesalahan di masa lalunya, tapi kenapa harus Sakura, ia perempuan satu-satunya di dalam hidupnya, ia adalah alasan kenapa ia masih ingin hidup di dunia ini.
Sasuke memejamkan matanya, merasakan hembusan angin yang mulai masuk ke dalam tubuhnya.
"Apa aku di takdirkan tidak untuk bahagia?"
.
.
.
Sasuke sudah ada di jembatan dimana ia menyatakan cintanya pada Sakura, ia mengingat-ingat kejadian selama bersama Sakura, walaupun hubungannya dengan Sakura hanya sebentar tapi ia merasa sebaliknya.
Tak lama Sakura tiba.
"Sasuke-kun ada apa? anjing ninja milikmu bilang kau ingin bertemu denganku?" tanya Sakura.
"Maaf menganggu waktumu," jawab Uchiha terakhir itu.
"Tak apa, lagipula aku sedang luang," ujar Sakura sembari tersenyum.
"Sakura, aku ingin mengakhiri hubungan kita," ucap Sasuke, ia berusaha untuk menatap wajah Sakura, walaupun terasa sakit.
"Apa maksudmu, Sasuke-kun? aku tak mengerti," wajah Sakura terlihat panik, ia tak mengerti ucapan kekasihnya itu.
"Aku ingin kita putus," ucap Sasuke menjelaskan.
"Kau bercanda kan?" tanya Sakura masih tak percaya.
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" tanya Sasuke balik, Sakura menatap onyx milik Sasuke, benar tak ada kebohongan di wajahnya. Cairan bening hampir keluar dari mata emeraldnya, tapi ia coba cegah.
"Tapi kenapa? selama ini kita baik-baik saja," ujar Sakura.
"Aku hanya bingung apa yang harus dilakukan setelah ini," ucap Sasuke. Ia melihat Sakura hampir menangis, rasanya tak tega tapi bagaimana pun ia harus menjalankan misinya dengan baik.
"Alasanmu tak masuk akal," ucap Sakura, pertahannya pun runtuh ia menangis, dan menundukkan kepalanya.
"Ku rasa itu masuk akal," ucap Sasuke.
"Apa ada wanita lain yang kau cintai?" tanya Sakura.
"Tak ada,"
"Begitu," ucap Sakura lirih.
"Carilah lelaki lain, aku tak pantas untukmu," ucap Sasuke, ia melangkah pergi meninggalkan Sakura sendiri.
"Maaf," ucap Sasuke dengan suara yang hampir tak terdengar kecuali oleh dirinya, ia memejamkan matanya dan sebuah cairan bening pun keluar dari matanya.
.
.
.
Sakura masih tak percaya apa yang di dengarnya, Sasuke memutuskan hubungan dengannya, ia masih menangis tanpa suara, rasanya sakit sekali.
"Sakura-san, sedang apa disini?" tanya sebuah suara.
Sakura cepat-cepat menghapus air matanya, tapi percuma lelaki di depannya sudah melihatnya.
"Kau menangis? Apa ada sesuatu?" tanya lelaki yang memiliki rambut panjang yang di ikat diujungnya.
Sakura hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa karena Sasuke?" Sakura terdiam.
"Ternyata benar, apa yang Sasuke lakukan padamu?"
"Bukan apa-apa, Neji-san," ucap Sakura, Neji tahu gadis di depannya ini berbohong, ia memeluk Sakura, tapi Sakura mendorongnya.
"Maaf," ucap Sakura.
Sakura pun menangis kembali, Neji hanya bisa melihatnya, rasanya sakit sekali melihat gadis yang kau cintai menangis di depanmu. Neji pun memeluk kembali Sakura, dan akhirnya Sakura menerima perlakuan Neji.
"Sasuke, aku tak akan mengalah darimu," ucap batin Neji.
.
.
.
Setelah kejadian itu Sasuke langsung menuju tempat dimana para tetua konoha berada, ia mengetuk pintu, setelah ada izin dari dalam ia pun masuk.
"Apa keputusanmu, Uchiha-san?" tanya Koharu.
"Aku menerima misi itu sekaligus sudah aku selesaikan misinya," ucap Sasuke, wajahnya tak menunjukkan ekspresi sama sekali.
"Kerja bagus, kau boleh keluar," ucap Homura.
"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Sasuke. Dua orang tetua konoha itu menganggukan kepalanya.
"Aku ingin dua orang dari Konoha tahu akan kontrak misiku,"
"Siapa saja?"
"Naruto dan Hokage-sama," ucap Sasuke.
"Jika hanya mereka berdua yang tahu, kami izinkan,"
"Terima kasih," ucap Sasuke, ia pun keluar dari ruangan.
.
.
.
To Be Continue
#author-note
Ada yang menunggu fic ini? *celingak-celinguk
Ternyata tak ada ya *pundung
Haha makasih ya sudah mau membaca fic canon pertamaku, aku ucapkan terimakasih semuanya terutama para reviewer yang sudah mau meninggalkan jejak, review kalian membuat aku semangat.
Terimakasih juga sudah memfav dan dan memfollow, silent reader :3 tinggalkan jejak juga dong huahahha :D *plak
Liat PM ya yang log in :3
Oh ya ada yang mau nanya tentang fic ini? Nanti aku jawab deh hehehe *gaadakasihandehluauthor
Aku mau mengucapkan sesuatu, ternyata aku lulusssss, horeee!
Sampai jumpa di chapter depan ya
