Sasuke harus melakukan apapun yang diperintahkan oleh Konoha karena ia terikat

kontrak misi. Termasuk memutuskan hubungannya dengan perempuan yang di cintainya.

.

.

.

My Contract Mission

Disclaimer : Masahi Kishimoto

Story by Ayuzawa Uchiha

Sasusaku fic

Warning : Canon, OOC, typo, dll :D

Happy Reading Minna-san

Chapter 3 : Cemburu

.

.

.

gadis musim semi itu sekarang sedang mengurung diri di kamarnya, suara ketukan dari sang Ibu di abaikannya , mata emeraldnya yang indah seakan tak ingin berhenti mengeluarkan cairan bening, suara sesugukan mengalun di kamarnya.

Sakura tak percaya bahwa hubungannya dengan Sasuke telah berakhir. Ada yang salah dengan sikap Sasuke tapi apa, ia pun tak tahu. Ia masih memeluk boneka beruang yang di dapatkannya dari Sasuke saat lelaki itu berhasil menangkap ikan dengan jaring kertas.

Sakura mengambil bingkai foto yang letaknya tak jauh dari dirinya, di dalam bingkai itu terdapat fotonya dan Sasuke yang mengenakan baju jonin-nya, ia mengapit lengan Sasuke dan Sasuke terlihat tersenyum tipis di depan kamera. Sakura mengelus kaca bingkai sambil menangis, ia berharap ini hanya sebuah mimpi yang tak akan pernah terjadi di hidupnya tapi sebuah kenyataan menamparnya bahwa ia tak sedang bermimpi. Di dekapnya bingkai foto itu di dadanya, ia berharap Sasuke merasakan apa yang ia rasakan sekarang.

Sakit.

Satu kata yang mewakili perasaan Haruno Sakura.

.

.

.

Lelaki yang memiliki rambut biru kehitaman itu tengah berbaring di futon, malam yang semakin larut tak membuatnya mengantuk, kejadian hari ini benar-benar menguras pikirannya.

Onyxnya yang tajam menatap lampu yang letaknya tepat berada di kepalanya. Tatapannya kosong tapi tidak dengan pikirannya.

"Gomen," ucap anak bungsu dari Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto.

.

.

.

Sakura memasuki rumah sakit dengan langkah lemas, matanya bengkak karena menangis semalaman, sapaan dari para perawat tak di hiraukannya, ia tetap berjalan memasuki ruangannya.

Ino yang melihat keadaan Sakura langsung masuk ke ruang kerja milik sahabatnya, ia melihat Sakura seperti orang lain, mata emeraldnya yang biasanya bersinar tampak redup di tambah lingkaran hitam di bawah matanya, ia mendekati Sakura dan memeluk sahabat merah mudanya itu.

"Ada apa denganmu, Sakura?" tanya Ino, ia khawatir dengan keadaan Sakura, ia tak pernah seperti ini, kecuali satu- karena Sasuke.

Sakura diam tak menjawab, air matanya kembali menetes.

Ino tahu ini bukan saatnya untuk Sakura menceritakan keadaan dirinya sekarang, ia biarkan Sakura menangis di pelukannya, tanpa terasa ino pun juga meneteskan air matanya.

"Kau masih punya aku Saki yang akan selalu ada sampingmu," ucap Ino sembari tersenyum, ia melepaskan pelukannya dari Sakura dan memegang bahu sahabatnya itu.

"Sa-sasuke dan aku telah berakhir, kemarin sore ia meminta putus dariku hiks..hiks... aku tak tahu apa salahku Ino, selama ini hubungan kami baik-baik saja, Sasuke mengatakan ia bingung apa yang akan dilakukannya setelah menjalin hubungan denganku, ia menyuruhku mencari lelaki lain yang lebih baik darinya hiks... hiks..." ucap Sakura dengan bibir bergetar menahan tangis.

Ino terkejut atas apa yang di dengarnya dari wanita di depannya itu, tak mungkin- ia masih ingat betapa dekatnya Sasuke dan Sakura, Sasuke selalu menjemput Sakura setiap Sakura pulang bekerja, lelaki itu selalu punya alasan untuk mengajak kencan Sakura, sahabat musim seminya pun sering ke rumah Sasuke hanya sekadar untuk membuat makanan, sempat ia berpikir bahwa Sasuke akan melamar Sakura.

"Sasuke pendiam tapi ia yakin Sasuke mencintai Sakura, tapi kenapa- Sasuke tega melakukan ini." batin Ino.

.

.

.

"Tadaima," ucap lelaki yang dulunya mantan dari anbu Ne itu. Ia melepas sepatu ninjanya dan menaruhnya rapi.

Ino berlari kecil menuju pintu, ia tersenyum dan mencium singkat bibir suaminya itu.

"Okaeri Sai-kun, kau tampak lelah bergegaslah mandi akan aku buatkan makan malam," ucap Ino

Sai mengangguk iya.

Tak perlu waktu lama, Sai sudah keluar dari kamar mandi, ia memakai celana panjang berwarna hitam serta kaos panjang berwana putih, cuaca yang tak bersahabat membuatnya terpaksa memakai pakaian seperti itu.

Sai melangkahkan kakinya menuju ruang makan, ia duduk dan menerima mangkuk berisi nasi yang di berikan Ino. Ia merasa suasana tak seperti biasanya, biasanya istrinya selalu mengoceh tentang hal-hal yang dilakukannya tapi kenapa hari ini tidak.

"Ada apa?" tanya Sai, ia menghentikan suapannya, mata onyxnya menatap aquamarine .

"Hari ini kau menjalankan misi dengan Sasuke kan?"

"Aa, tumben kau menanyakannya. Apa ada sesuatu?"

"Apa dia cerita padamu, kalau ia putus dengan Sakura?" Entah kenapa Ino tiba tiba menjadi bodoh, mana mungkin Uchiha terakhir itu menceritakan hal pribadinya pada orang lain meskipun itu teman se- timnya.

Sai menggelengkan kepalanya, "Putus?" ucap Sai.

"Sakura bercerita padaku tadi di rumah sakit, aku tak habis pikir kenapa Sasuke tega memainkan perasaan Sakura," ucap Ino

"Entahlah apa perasaanku saja aku rasa Sasuke bukan orang yang seperti itu, ku yakin ia punya alasan yang kuat kenapa ia melakukan itu," ucap Sai.

Ino tersenyum mendengar ucapan Sai, ya... Sai benar pasti Sasuke punya alasan kenapa ia melakukan itu.

.

.

.

Matahari pagi menyinari desa konohagakure seakan menambah semangat seorang shinobi untuk melamar sang pujaan hati, rasa gugup seolah tak menghantui dirinya, ia berhenti sejenak saat ia melihat patung hokage, matanya tertuju pada hokage ke empat.

"Doa kan aku ayah ibu, semoga hiashi-sama menerimaku," ujarnya, ia lalu pergi menuju kediaman hyuga.

Tak lama kemudian sampailah anak tunggal dari pasangan Kushina dan Minato di kediaman Hyuga, ia melihat beberapa anak keturunan Hyuga sedang melakukan latihan, rasanya Naruto ingin tertawa melihat wajah mereka yang sama, rambut panjang khas klan Hyuga, mata mereka yang menyembunyikan byakugan.

"Hi hi hi," tawa Naruto cekikikan. Ia membayangkan wajah anaknya jika mirip dengan Hinata.

"Apa yang kau tertawakan?" tanya Neji dengan muka datarnya.

"Bu-bukan apa-apa kok neji he he he," ucap Naruto, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Hiashi-sama sudah menunggumu," Neji melangkahkan kakinya meninggalkan Naruto.

"Kenapa sifat menyebalkannya itu tak pernah hilang padahal tak akan lama lagi aku akan menjadi adik iparnya, huh!" gerutu Naruto, ia lalu mengejar Neji yang sudah meninggalkannya.

.

.

.

Sasuke menulis laporan misi yang akan di serahkan kepada hokage esok hari, biasanya suara ocehan sang kunoichi mengisinya di sela kegiatannya menulis, tapi sekarang tidak suara itu telah berganti dengan suara hening. Ia menutup sejenak matanya, sekelebat memori tentang ia dan Sakura muncul, rasa sesak itu kembali menghampirinya. Ia menyentuh dadanya yang terasa sakit.

Tiba tiba suara ketukan terdengar ke telinganya, ia berdiri dan menghampiri sumber suara, ia membukakan pintu dan terlihat sosok lelaki berambut kuning yang menatapnya marah.

Bruakkk

Naruto melempar tubuh Sasuke ke tembok berlambang Uchiha, wajahnya terlihat sangat marah, ia mendekati Sasuke dan mencengkram kaos yang di kenakan oleh adik dari Uchiha Itachi.

"Apa benar kau putus dengan Sakura-chan?" tanya Naruto, ia ingin mengkualifikasi tentang ucapan Neji.

"Hn," gumam Sasuke ambigu.

"Aku tak mengerti ucapan ambigumu itu baka," ucap Naruto, ia memukul wajah Sasuke dengan keras, ia tak habis pikir kenapa Sasuke tega melakukan itu pada Sakura, memang apa salah Sakura sampai sampai Sasuke tak henti hentinya menyakiti perasaan perempuan itu.

Cairan merah pekat keluar dari mulut Sasuke, Naruto benar benar serius memukulnya, ia memang sengaja tak melawan karena memang ia berhak mendapatkannya.

Diam

Naruto menatap lelaki di depannya yang tak melawan, lalu ia ulurkan tangannya pada Sasuke. Sasuke menerima uluran itu, ia berusaha berdiri, Naruto merangkul pundak lelaki yang pernah menjadi nuke nin itu dan membawanya masuk.

Naruto mengambil kotak p3k di dalam lemari, ia duduk di samping Sasuke yang masih menundukkan kepalanya, ia menuangkan cairan alkohol ke dalam kapas lalu mengusapnya di sekitar mulut Sasuke yang mengeluarkan darah.

"Jelaskan padaku kenapa kau melakukannya teme?" tanya Naruto, ia merasa bersalah andai saja ia bisa mengontrol emosinya.

"Kau harus berjanji tak akan memberitahu kepada siapapun?" tanya Sasuke, onyxnya menatap datar pada blue sapphire milik Naruto.

Naruto menautkan alisnya "Apa maksudmu, teme?"

"Jawab saja," ujar Sasuke tak sabaran.

"Iya iya aku berjanji,"

Sasuke mengeluarkan kertas dari kantung celananya dan memberikannya kepada Naruto.

Naruto menerima kertas itu dan membacanya serius.

"Lalu?" tanya Naruto, ia masih tak mengerti maksud dari Sasuke.

"Klan hyuga ingin menjadikan Sakura sebagai menantunya," ucap Sasuke.

Naruto baru mengerti jadi karena ini Sasuke memutuskan Sakura, kenapa harus Sakura yang di inginkan klan hyuga bukankah masih banyak kunoichi yang hebat contohnya ten ten, apa ini ada kaitannya dengan neji, apa selama ini neji diam-diam menyukai Sakura.

Naruto menatap Sasuke, ia ingin membantu Sasuke tapi apa yang ia harus lakukan sedangkan ia sudah berjanji tidak akan memberitahu siapa pun.

"Teme." Naruto menatap nanar Sasuke.

.

.

.

Seorang wanita berumur setengah abad lebih sedang mengeluh akibat tumpukan dokumen di depannya yang tak kelar, waktu tidurnya tersita terlihat dari lingkaran hitam di bawah matanya, ia menghela napas panjang, mungkin ini saatnya ia pensiun dari jabatannya sebagai Hokage.

Tok tok tok

"Masuk," ucap Tsunade.

Lelaki itu masuk dan berojigi sebelum memberitahu tahu maksud ia datang kemari.

"aku ingin memberi hasil misi kemarin," ucap lelaki keturunan Uchiha itu, ia menyerahkan kepada Tsunade dan cucu dari keturunan hokage pertama menaruhnya di atas mejanya.

"Aku per-,"

"Tunggu," Tsunade memotong perkataan dari Uchiha Sasuke.

Sasuke yang tadinya ingin pergi lalu berbalik arah menghadap Tsunade, wajah datarnya menatap sang Hokage.

"Beberapa hari yang lalu kau meminta untuk di masukkan ke dalam Anbu, boleh aku tahu alasannya?" tanya Tsunade.

"Aku hanya igin mengikuti jejak Itachi," ucap Sasuke berbohong. Sebenarnya ia ingin masuk Anbu karena ingin melupakan Sakura, ia berpikir kesibukan akan cepat melupakan sosok perempuan itu dari pikiran maupun hatinya.

Tsunade menautkan alisnya, mata cokelatnya memincing menatap lelaki di depannya,

"alasan macam apa itu," batin Tsunade.

Tsunade diam sejenak sebelum mengambil keputusan, ia berpikir selama ini Sasuke selalu menyelesaikan misinya dengan baik tak ada alasan untuk tidak mengabulkan permintaan dari lelaki itu. Ia menghela napas dan menatap onyx milik adik dari Uchiha Itachi itu.

"Baiklah, mulai besok kau akan di bawah komando dari yamato, persiapkan dirimu!" ujar Tsunade.

Sasuke tersenyum tipis lalu mengucapkan terimakasih sebelum ia meninggalkan kantor hokage.

.

.

.

Seminggu berlalu Sakura sudah sedikit demi sedikit melupakan Sasuke, ia sudah jarang menangisi pemuda itu, ini semua karena lelaki di sampingnya yang selalu menemaninya. Ya.. selama seminggu ini Neji selalu mengantarnya pulang, tak jarang mereka berdua makan bersama di kedai, walaupun Neji sosok yang sifatnya tak jauh dari Sasuke tapi ia yakin Neji bukanlah tipe yang suka menyakiti perempuan seperti Sasuke.

"Ada yang kau pikirkan?" tanya Neji, ia melihat gadis di sampingnya melamun.

Sakura menggelengkan kepalanya.

"Terima kasih atas semuanya Neji-san," ucap Sakura ia tersenyum pada lelaki keturunan hyuga itu.

Senyum Sakura yang manis menimbulkan semburat merah tipis di wajah Neji, beruntung kegelapan malam menutupinya jika tidak ia sudah malu.

"Aa, Sakura ada yang ingin aku bicarakan?" ucap Neji, ia berhenti melangkah dan menatap emerald milik Sakura, ia memegang pundak perempuan itu.

Diam.

Neji tak kunjung bicara, rasanya ia ingin mengutuk dirinya, kenapa saat dengan Sakura, perkataan yang selama ini ia ingin ucapkan terasa sangat sulit.

Sakura memiringkan kepalanya, ia masih menunggu ucapan lelaki itu tapi tetap saja lelaki itu tak kunjung bicara.

"Ada apa, hmm?" ucap Sakura.

"Mau kah menjadi kekasihku?" Akhirnya ucapan itu keluar dari mulut Neji. Sakura terlihat kaget.

Tanpa mereka berdua sadari ada seseorang yang pintar dalam menyembunyikan cakranya yang sedang sembunyi di atas pohon, lelaki itu mendengar ucapan lelaki di bawahnya, tanpa harus mendengar jawaban dari perempuan, sosok lelaki itu pergi meninggalkan keduanya, emosi tak terlihat dari wajahnya karena topeng anbu menutup wajahnya. Tapi dapat di lihat lelaki itu mengepalkan tangannya sebelum beranjak pergi.

Sakura masih diam tak menjawab, ia masih mencerna perkataan dari lelaki di depannya, sedangkan sosok di depannya masih setia menunggu. Memang benar Sakura sudah mulai melupakan Sasuke tapi perasaan cintanya pada pemuda itu tetaplah utuh tak pernah berkurang, jika ia menerima Neji sama saja ia menyakiti perasaan Neji.

Neji melihat kebingungan dari wajah Sakura.

"Kau tak perlu menjawab sekarang, tapi ingatlah aku akan selalu menunggumu Sakura." ucap Neji sembari tersenyum.

Sakura menganggukan kepalanya, andaikan cintanya tertaut pada Neji bahkan tidak mungkin ia sekarang sudah bahagia, tapi ia tetap tak menyesal telah mencintai Sasuke setidaknya ia pernah merasakan rasanya dicintai oleh pemuda itu.

TBC

#author note

Maaf atas kekurangan dari fic ini, bila berkenan bisakah kalian review dan memberi saran agar fic ini bisa lebih berkembang baik dari segi cerita atau penulisannya, bener deh author pengen fic ini the end dan tidak discontinue maka dari itu jika berkenan sekali lagi author minta review kalian karena author masih sangat pemula apalagi dalam membuat fic canon, jujur author mengalami kesulitan he he he.

Sekian dari author mohon maaf jika ada salah salah kata haha

Oh ya sekarang author jadi pengangguran tingkat akut *gaadayangnanya. Author ga bisa janji apaapa untuk fic ini. Terimakasih yang sudah membaca, mengikuti, menfavoritkan, meriview ataupun hanya sekedar mengintip. Hehe terimakasih semuanya InsyaAllah kita ketemu lagi di chapter depan.

Thanks to

Yuka Namikaze, Kumada Chiyu, hikaru sora 14, A-kun, Aika Yuki-chan, Mademoisellenna, CherrySand1, YUI only, nologin.