Ini Remake fanfiction dari manga Nar Kiss nya Nekono Mariko.
Pair :
Yunjae
Disclaimer:
Saya hanya meminjam nama. Semua nama yang muncul di sini adalah milik mereka sendiri.
Rated :
eMu desu.
Ada anu-anu nya hohoho. Tapi belum untuk chap ini :9
Genre :
Humor, Romance
Warning :
Newbie, OOC, Miss Typo(s) of course, gak sesuai EYD, pindah POV semaunya sendiri, semoga reader gak bingung ya.
a/n: Ini prolog kedua readerdeul. Kenapa prolog nya sampe ada dua? Karena emang gitu di komiknya. ^.^ Ada yang masih inget Chie? Eh salah, ada yang masih inget fic ini? Because Chie udah lama ndak update. =.= Chie ndak akan banyak omong disini. So selamat membaca~
Before that...
DON'T LIKE? DON'T READ!
Chie gak maksa buat baca soalnya. Kalau gak suka yaudah out aja ne, gampang kok tinggal klik Back aja. -.-
NAR JAE KISS
.
.
.
Prologue
Bag II
.
.
.
.
Seperti biasa di pagi hari, untuk pergi ke kampus Jaejoong menggunakan kereta untuk angkutan umumnya. Dan stasiun yang selalu dikunjunginya itu terdapat sebuah cermin sedang terpasang disana. Seperti yang kita ketahui sebuah cermin adalah bencana untuknya. Akan tetapi mau bagaimana lagi? Itu adalah jalur yang harus dilaluinya untuk sampai ke kampus.
.
Aku Kim Jaejoong, terlahir aneh sejak keluar dari dalam rahim eommaku.
"Umma~ ummaa~ apa yang sedang dilakukan kakak itu?" Tanya seorang anak kecil pada eommanya.
"Yah! Jangan melihat kesana." Jawab sang eomma dan menarik anak kecil itu pergi.
Dijauhi dan dibenci oleh orang banyak adalah hal yang biasa. Dan jika ingin hidup normal aku harus memikul beban seperti itu. Tapi,
"Cermin ajaib~ oh cermin ajaib... Cermin ajaib," Jaejoong mulai bermonolog dengan cermin di hadapannya yang diakhiri kekehan kecil diucapannya.
Tap
Tap
Aku bertemu dengan orang ini di kampusku.
"Jaejoong-ah—"
Mungkin aku...
"Di dunia ini, siapakah yang paling terindah? hihihi~" tanya Jaejoong pada cermin itu dengan suara kikikannya yang terdengar lucu namun terbanting oleh sifat narsisnya membuat orang mengabaikannya.
"!"
Yunho yang melihat Jaejoong telah berhadapan dengan cermin segera mungkin mendekatinya, agar tidak terjadi sesuatu yang tak di inginkan. Akan tetapi, saat Yunho hampir mendekatinya, entah sejak kapan ketika Jaejoong berbalik baju yang dikenakannya telah terbuka dan memperlihatkan bagian depan tubuhnya yang putih mulus tanpa noda itu.
Mungkin aku bisa...
"Tanpa diragukan lagi! Itu pastilah aku!" Seru Jaejoong sambil melayangkan flying kiss nya pada para pengunjung stasiun.
Mungkin aku akhirnya bisa menyingkirkan sifat narsisku ini!
"O-oy, Jaejoong-ah..." Yunho yang melihat itu jadi kaku beberapa saat sampai akhirnya bisa bersuara kembali.
"Oh... pemuda itu lagi eoh? Hari ini dia penuh dengan semangat." komentar seorang ahjussi pengunjung stasiun itu sambil terus melihat kearah Jaejoong.
"Perhatian semuanya! Ada orang mesum disini!" Seru seorang ahjumma yang sepertinya baru mengunjungi stasiun itu dan melihat kelakuan pagi hari Jaejoong disana.
Yunho segera menarik Jaejoong dan membawanya pergi dari sana.
.
.
.
.
.
.
Disamping gedung kampus,
"Nnh...nnh..."
Yunho tengah mencium Jaejoong dengan kedua tangan yang ditahan disamping kepalanya. Perlahan Yunho menyelipkan jari-jari tangannya pada sela-sela jemari Jaejoong. Dan Jaejoong menyambutnya dengan menggenggam tangan Yunho.
Yunho memiringkan kepalanya ke kiri dan mulai memperdalam ciumannya. Yunho membuka matanya dan menjilat bibir Jaejoong. Mendapat perlakuan seperti itu Jaejoongpun membuka matanya. Melihat Jaejoong yang tidak menolaknya Yunho mulai memasukan lidahnya kedalam mulut Jaejoong yang sedikit terbuka seakan mengundangnya untuk masuk.
"Anh... nggh...mmh..." Lenguh Jaejoong ketika lidah Yunho menyapa lidahnya.
Melepaskan sebelah tangannya dari genggaman Jaejoong, Yunho mengangkat sedikit dagu Jaejoong dan memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mengeksplorasi mulut Jaejoong. Tangan Jaejoong yang bebas mencengkram baju bagian depan Yunho.
"Haa...mmh...nngh..." Tangan Jaejoong mulai bergetar tanda ia kehabisan napas. Yunho yang menyadari itu memisahkan tautan bibirnya. Meninggalkan benang saliva yang terhubung dari kedua bibir itu.
"Hah... Mian...aku...memasukan lidahku kedalam..."
Jaejoong yang masih mengumpulkan udara untuk paru-parunya memanas mendengar kata Yunho. Membuatnya mengingat kembali ciuman tadi dan melemaskan kakiknya seketika. Melihat Jaejoong yang tiba-tiba hampir ambruk itu Yunho segera menangkapnya.
"Jaejoong-ah! Gwenchana...?"
Mendengar nada panik dari Yunho, Jaejoong segera kembali ke alam sadarnya setelah beberapa saat ia merasa melayang. Kaget melihat Yunho yang begitu dekat refleks Jaejoong meloncat mundur dengan kedua tangannya terjulur keatas seakan ia telah tertangkap basah yang membuat pelukan Yunho terlepas seketika.
"Nan Gwenchana! T-tak masalah kok!" Jawab Jaejoong dengan lantangnya walau sedikit terbata, "Ciuman dengan lidah bukanlah masalah besar!" lanjut Jaejoong lagi.
"...ah, kau terlihat baik sekarang,"
I-itu lembut... A-aku tidak menyangka itu bisa jadi selembut itu!
Jaejoong mulai menenangkan dirinya, sesekali ia melirik pada bibir Yunho.
"Baguslah, jika kau baik-baik saja." Lanjut Yunho dan tersenyum hangat pada Jaejoong, yang berefek dengan perubahan warna pada wajahnya yang memerah, blushing.
"E-eoh...ne..."Mengalihkan pandangannya dari wajah Yunho, ia mulai berjalan yang segera diikuti Yunho, "Um... Yunho-ah, gomawo kau sudah membawaku sampai kampus." Ucap Jaejoong setelah Yunho berjalan disampingnya.
"Ne. Jika kau terus disana mungkin kau akan ditangkap." Balas Yunho yang mengingat kelakuan Jaejoong tadi.
"Andwee! Aku mungkin sudah masuk daftar orang yang diawasi petugas stasiun..." Kata Jaejoong pundung dengan nasibnya.
"Aniyo... Gwenchana, kau tidak perlu menghawatirkan itu." Ucap Yunho berusaha menenangkan Jaejoong.
"Ne..."
"..."
"..."
Keduanya terdiam entah memikirkan apa.
Sampai tiba-tiba Yunho menghela napas berat, "Hah..." itu tadi sangat dekat! lanjut Yunho dalam hati.
"?"
.
.
.
Dia Jung Yunho. Dia tampan, baik, pintar, dan kaya. He's a Super Handsome Guy tapi, ia bukan orang yang pendendam.
Mungkin kau bertanya-tanya, mengapa namja sebaik dia mau saja mencium namja sepertiku. Itu, tentu saja didasari dengan sebuah alasan yang besar dan kuat.
.
Mereka berdua kini telah berada di kelas setelah menghabiskan obrolan sepanjang perjalanan menuju kelas. Jaejoong duduk di kursi deretan kedua dari belakang dan Yunho duduk disebelah kanannya. Kelas telah dimulai dari dua jam yang lalu.
Jaejoong menyangga kepalanya dengan kedua telapak tangannya menghela napas dan mulai menujukan ekspresi suram di wajahnya.
Ah... dari awal aku tidak mengerti kenapa aku menjadi seorang narsisme setiap aku melihat refleksiku.
'Aigoo~ aku begitu mengagumkan, membuatku ingin memperlihatkannya pada semua orang~'
Jaejoong mengibas-ngibaskan kedua tangannya di atas kepalanya mencoba menghilangkan sekilas bayangan dirinya yang muncul ketika dalam mode narsis. Menghela napas lagi, ia mulai menaruh kepalanya pada meja dengan kepalanya yang menghadap ke kanan dimana Yunho berada .
Tapi setelah suatu hal yang tak terduga, aku menyadari bahwa aku bisa kembali normal dengan sebuah ciuman dari Yunho. Sejak itu, Yunho selalu membantuku menjadi obat dari keinginan narsismeku. Sampai sekarang... itu tidak ada perubahan sama sekali.
Melihat Yunho yang begitu serius dengan penjelasan dosen di depan, Jaejoong mulai menelungkupakan wajahnya dikedua tangannya.
"Aish jinjja... ada apa dengan narsismeku... apa yang harus kulakukan untuk mengontrolnya..."
Mendengar keluhan Jaejoong Yunho mengalihkan pandangannya pada Jaejoong "Itu bukanlah sebuah penyakit, ku kira kita hanya perlu menunggu waktu dan perlahan merubahnya."
"Tapi..." Jaejoong menghentikan ucapannya ia mengangkat sedikit kepalanya dan melirik ke arah Yunho.
Jika aku tidak menemukan obatnya dengan cepat... walaupun Yunho setuju waktu aku memintanya untuk itu, kita akan berciuman setiap hari. Aku merasa ciuman Yunho mulai lebih dan lebih mendekati 'itu'.
Melihat Yunho yang juga memandangnya Jaejoong jadi blushing akan pikirannya terhadap Yunho.
Aish! Itu sangat tidak mungkin. Karena kita berdua adalah... namja! Namja!
Jaejoong mulai banyak berpikir negatif setelah itu, membuatnya merasa sangat bersalah pada Yunho. Ia mulai kembali menyembunyikan wajahnya di kedua tangannya.
"Yunho-ah... nan jeongmal mianhe, hiks setiap kau menciumku kau pasti merasa sangat terganggu kan?"
"Ah! Ani. Nan aniya. Tentang itu, apakah kau... merasa terganggu...?" Mendengar pertanyaan Yunho Jaejoong segera duduk tegak,
"Nan? Tentu saja tidak! Bumonimku selalu berpergian ke luar negeri, ciuman adalah sebuah saapaan jadi itu adalah hal biasa." Ucap Jaejoong sambil mengibaskan tangannya.
"Ah... hanya sebuah sapaan... mungkin kau benar..." Ucap Yunho dengan nadanya yang terkesan putus asa.
"Ne..." tapi itu biasanya hanya di pipi. Lanjut Jaejoong dalam hati.
Jika aku mengatakan padanya aku memberikannya first kissku. Kira-kira, seperti apa reaksi Yunho ne? Ku pikir pasti Yunho merasa sangat takut. Karena Yunho...
DING DONG
DING DONG
Bel tanda berakhir kelaspun telah berbunyi. Yunho dan Jaejoong mulai beranjak bangun untuk keluar kelas. Akan tetapi, "Ah! Itu dia! Itu dia!" segerombolan yeoja telah memenuhi pintu keluar kelas. Para yeoja itu lalu mulai mendekati Yunho.
Adalah namja populer.
"Yunho oppa~ apakah kau tertarik untuk masuk klub kami?" Tanya seorang yeoja berambut hitam panjang yang diiringi 'kya kya' dari yeoja lainnya.
"Bergabunglah dengan klub kami oppa! Kami menjamin pasti akan menyenangkan!" tawar yeoja lain pada Yunho.
"Yah! Kau hanya bisa mengikut sertakannya!"
"Wae kami tidak bisa?"
"Tentu saja tidak! Go away, you bitch!"
"Mwo?! Apa katamu?!"
Melihat para yeoja itu mulai bertengkar Yunho mulai mencari celah dan menjauh dari segerombolan yeoja itu.
GRAB
Akan tetapi sebelum ia beranjak jauh dari para yeoja itu kedua tangan Yunho telah digenggam oleh dua orang yeoja yang bersebrangan.
"Yah! Yunho oppa milik kami!"
"Mwo?! Lepaskan Yunho oppa dasar yeoja jelek!"
"Yah! Yah!" terjadilah aksi tarik menarik antara kedua belah yeoja(?) itu dengan Yunho yang menjadi perebutannya. Sementara itu Jaejoong hanya menatap Yunho iri karena begitu populer.
Melakukan ciuman dan ia juga melakukannya padaku, pasti Yunho telah mencium begitu banyak gadis sebelumnya. Sepertinya aku harus segera pergi.
.
.
.
.
.
Saat ini Yunho dan Jaejoong telah berjalan beriringan kembali. Entah bagaimana cara Yunho melepaskan diri dari segerombolan yeoja itu. Pasti tidak mudah, melihat tampilannya sekarang yang begitu berantakan.
Melihat penampilan Yunho membuat Jaejoong menjadi khawatir, "Yunho-ah, gwenchana?" tanya Jaejoong.
"Nan gwenchana..." jawab Yunho, ia mulai merapihkan rambutnya yang terlihat berantakan, "Jinjja... jika mereka hanya ingin mencari perhatian, seharusnya mereka mencari orang lain saja."
"Um.. mungkin itu benar. Tapi aku menyukai kebaikan dan kejujuranmu. Jadi kupikir yeoja-yeoja itu juga menyukaimu yang seperti itu." Ucap Jaejoong dan tersenyum manis pada Yunho yang membuat wajahnya sedikit memerah.
"Jaejoong-ah... aku juga—"
"Mengikuti klub mungkin bagus juga. Bergabung dalam sebuah klub membuatmu merasa seperti seorang mahasiswa. Yunho-ah, apakah kau sudah bergabung dengan sebuah klub?" Jaejoong tidak sadar telah memotong perkataan Yunho yang sepertinya belum selesai.
"Aniyo..." jawab Yunho pada akhirnya, "Jaejoong-ah, apakah kau berminat pada sesuatu?"
"Ne! Jika itu olahraga aku ingin tennis atau football, kalau yang berhubungan dengan budaya aku ingin klub musik, fotografi, menonton film, dan masih banyak lagi!" ujar Jaejoong dengan semangat.
"Hee... kau mempunyai banyak minat..."
"Um! Tapi itu tidak bisa kulakukan jika aku tidak menyembuhkan narsismeku..." Jaejoong menghentikan ucapanya untuk menghela nafas panjang "Jika selama kompetisi sifat narsisku keluar, itu akan merepotkan orang disekitarku."
"...benar, tapi jika aku tetap disampingmu, hal itu tidak akan terjadi." Jaejoong yang berjalan agak di depan Yunho menoleh kebelakang,
"Eoh?"
"Jika itu terjadi, maka aku akan menarikmu keluar dan menyembuhkanmu."
"Maksudmu... KAU AKAN BERGABUNG KE KLUB BERSAMAKU?" teriak Jaejoong begitu semangatnya.
"A-ah... jika denganmu, mungkin akan menjadi sesuatu yang bagus."
'Wuaahh! Dia memang orang yang sangat baik!' batin Jaejoong senang.
"...dengan sebuah syarat... bisakah aku membuat sebuah permintaan padamu?"
"Apa itu? Aku pasti akan menyetujuinya!"
"A-ah... ini terlalu sulit untuk ku katakan sekarang..." ucap Yunho sambil menggaruk-garuk pelipisnya.
'Mwo? Sulit dikatakan? Ah! J-jangan bilang... berciuman dengan seorang namja memang sangat menggangunya!' Melihat Yunho yang begitu ragu Jaejoong jadi menyimpulkan sesuatu "Jeongmal mianhe Yunho-ah... aku sudah menyadarinya..."
"Itu..."
"Aku mengerti! Kau tidak perlu mengatakannya! Mulai sekarang aku..." Jaejoong memasuki sebuah kelas yang berada disampingnya dan setelah beberapa menit kemudian ia keluar "Memakai ini dan berakting seperti yeoja!" seru Jaejoong dengan berpakaian ala yeoja entah darimana ia mendapatkan pakaian itu.
"Ani... aku tidak menginginkanmu memakai pakaian yeoja..." ah... tapi neomu kyeopta~ ia terlihat seperti yeoja sungguhan. Batin Yunho.
"Eoh? Bukan ini?"
"Itu bukan yang kumaksud..."
"Eoh, kau bilang punya permintaan ku pikir itu adalah sesuatu yang seperti ini." Setelah mengatakan itu Jaejoong kembali memasuki kelas tadi dan keluar lagi dengan pakaian awalnya. "Kalau begitu apa?"
"Nama,"
"Eoh?"
"Kita adalah teman baik kan? Kenapa kita tidak membuat nama panggilan akrab? Aku ingin memanggilmu Joongie."
"Teman...baik?" Jaejoong terharu beberapa saat "Kau benar! Itu bukanlah masalah besar tentu saja itu benar."
"Jadi, kau juga harus memberiku sebuah panggilan akrab."
Yunho memanggilku Joongie! "Tentu saja! Yu..." Jaejoong menghentikan ucapannya.
Hening
Yunho menunggu dan terus menanti Jaejoong melanjutkannya.
"Yu-Yun...Yun...Yu—" Wajah Jaejoong memerah sempurna seakan ia mengeluarkan asap. "Yah! Kau terus menatapku! Tentu saja itu membuatku menjadi malu!" seru Jaejoong kemudian sambil memukul-mukul tangan Yunho yang melindungi wajahnya.
'Wow... he's cute' batin Yunho "Ah, mian. Mian, aku akan menunggunya. Sampai kau menemukan nama panggilan itu."
"Jinjja... sebelum aku menemukan nama panggilan, Yunho-ah kau harus memanggil seperti biasa."
"Eh? Wae?"
"Karena itu tidak adil!"
Teman baik.
Ya itu benar, aku dan Yunho adalah teman baik.
.
"Pertama mengapa kita tidak mencoba klub terlebih dahulu sebelum memilihnya?"
"Benar! Jadi pertama adalah..."
.
.
.
.
Saat ini Yunho dan Jaejoong tengah berada di lapangan tennis yang berada di gedung olahraga outdoor kampus. Keduanya telah memakai kaus olahraga yang disediakan disana. Yunho dan Jaejoong sudah memegang raket tennis masing-masing. Yunho mengecek raketnya sementara Jaejoong kini mengamati sekitarnya.
"Ah jika kau mengatakan klub, itu adalah tennis!" ucap Jaejoong, "tapi diluar pelajaran olahraga, aku tidak pernah memainkan ini sebelumnya..." lanjut Jaejoong lagi sambil mengayun-ayunkan raketnya. Beberapa menit tidak mendapat jawaban Jaejoong menoleh kearah Yunho berada, "Yunho-ah...?" yang ternyata sudah hilang.
"Yunho oppaa~ kyaaa!"
Suara bising 'kya kya' yeoja membuat Jaejoong mengalihkan pandangannya. Dan ternyata disana Yunho tengah beradu tennis dengan salah satu anggota klub.
Tak
Tak
Yunho mengembalikan bola yang terarah kepadanya tanpa gagal sekalipun.
Tak
Ia mengembalikan bola itu dengan indah.
"Pertandingan selesai! Jung Yunho menang!" seru seorang wasit, yang diramaikan oleh teriakan yeoja yang menonton.
Wow! Yunho sangat keren!
Jaejoong segera menghampiri Yunho dengan raut wajahnya yang terlihat begitu senang "Mwoya? Yunho-ah kau seorang pemain tennis sebelumnya?" tanya Jaejoong.
"Aku sedikit belajar bermain tennis saat SMA." Jawab Yunho senang melihat Jaejoong begitu antusias padanya. Sebenarnya Yunho pernah menjadi peringkat dua di National Championship waktu SMA.
"Ah, kalau begitu ajari—"
BRAK
"Woaah!"
Jaejoong telah tersingkir dari hadapan Yunho begitu segerombolan yeoja anggota klub tennis itu menghampiri Yunho.
"Tolong ajari kami bermain tennis~" ucap para yeoja itu serempak. Jaejoong yang berada di belakang para yeoja itu hanya bisa menatap maklum.
Sepertinya tidak ada yang bisa membantuku, bukanlah ide bagus jika aku mengganggunya bersosialisasi dengan yeoja-yeoja itu. Ah... sepertinya aku harus belajar sendiri...
"Chogiyo..."
"?"
.
.
.
Satu jam kemudian,
Yunho berjalan terhuyung-huyung, ia bermaksud melihat Jaejoong ia berbicara walau ia terus melihat kebawah "Mian Jaejoong-ah, sekarang aku sudah bisa—"
"Disini Yunho-ah!" mendengar suara Jaejoong ia mengangkat kepalanya melihat kearah dimana Jaejoong berada, "Yunho-ah, menurutmu sekarang aku terlihat seperti apa?" tanya Jaejoong setelah Yunho melihat kearahnya.
Akan tetapi Yunho hanya diam. Ia terlalu shock dengan apa yang dilihatnya sekarang. Jaejoong dengan seorang namja yang bediri tepat dibelakangnya-menempel- dengan tangan kanan namja itu menggengam tangan Jaejoong yang memegang raket dan tangan kiri namja itu berada di atas pinggul Jaejoong. Oh tentu ia sungguh shock.
"Benar begitu. Kau harus menaikan pinggulmu." Ucap namja itu sambil memegang bokong Jaejoong untuk menaikan pinggulnya.
"Okay."
"Lebarkan kakimu lebih luas." Namja itu memajukan sebelah kakinya diantara kedua kaki Jaejoong dan menggeser kakinya kesamping yang otomatis kaki Jaejoongpun berpindah. "Sampai kau bisa memblokirnya dari bawah." Lanjut namja itu.
"Ugh...aku tetap tidak bisa mendapatkannya..."
"Itu akan lebih baik jika kau merilekskan bahumu."
"Okay~"
Tap
Tap
Tap
SRAK
Tak tahan dengan pemandangan yang ada dihadapannya Yunho segera memisahkan Jaejoong dengan namja itu. Yunho memegang bahu Jaejoong dan menatapnya dengan aura suram.
"Yunho-ah?"
"Jangan memilih ini."
"Eh? Wae? Bukankah kau tahu cara bermain? Bukankah itu bagus?"
"Karena kita akan bergabung, aku ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya."
"G-geure...arraso." setelah mengatakan itu mereka berdua berpamit pada anggota klub tennis.
Ah... aku baru saja merasakan senang dan sunbae itu juga begitu baik.
Jaejoong sedikit kecewa tidak bisa bermain lagi, ia masih menggengam raketnya. Yunho menyadari bahwa Jaejoong sebenarnya ingin disana,
GRAB
Yunho memegang tangan kanan Jaejoong yang masih menggenggam raket, "...aku akan mengajarimu lain waktu." Ujar Yunho dan mengambil tangan Jaejoong dan menggenggamnya, "Bersama. Kita berdua akan bermain, bersama."
"O-okay." Ucap Jaejoong dengan wajahnya yang blushing "Kalau begitu, aku tidak memilih tennis. Ayo kita mencoba yang lain!"
Keduanya pergi dengan terus bergandengan tangan. Entah mereka menyadarinya atau tidak, atau memang mereka tidak mau melepaskannya.
.
.
.
Hari berikutnya
Klub musik
Kini Jaejoong tengah menyanyikan sebuah lagu. Suaranya memang tidak jelek hanya saja Jaejoong menyanyikan ntah lagu apa yang sepertinya ia karang sendiri. Semua nadanya naik turun, tidak ada harmonisasi. Lama kelamaan ia bukan bernyanyi tapi malah berteriak-teriak di depan microfon.
Dan mereka berdua sukses di tendang keluar dari ruang klub.
Failed.
.
.
Hari berikutnya
Klub fotografi
Seorang anggota fotografi itu memfoto Jaejoong dan memperlihatkan hasilnya pada Jaejoong. Saat melihat foto dirinya mata Jaejoong mulai berubah.
"Ah! Gawat!" Yunho merebut foto itu dari Jaejoong.
"Ambil gambarku lebih banyak... tapi kau tidak akan mendapatkan keindahanku yang sesungguhnya, seberapa banyakpun kau mengambilnya, hahaha!"
Jaejoong berubah menjadi narsisme ketika melihat rupanya di foto. Yunho segera membawa Jaejoong pergi dari sana.
Failed.
.
.
Hari berikutnya
Klub renang
Saat Jaejoong ingin mengganti pakaiannya Yunho menahannya. "Kau tidak bisa." Ujar Yunho
"Eh? Wae?"
"Tentu saja tidak bisa!"
Yunho keberatan untuk mencobanya. Aku bertanya-tanya kenapa.
.
.
Setelah semuanya kucoba, aku belum menentukan sama sekali...
"Hah... aku berdebar..." Jaejoong merebahkan dirinya di halaman samping kampus. Yunho juga merebahkan dirinya di samping kanan Jaejoong, keduanya sama sekali tidak takut kotor akan rumput yang ditidurinya. Beberapa menit terdiam sambil menatap langit, Yunho mengangkat kepalanya dan menyangganya dengan tangan kirinya melihat kerarah Jaejoong.
Jaejoong kini sedang memejamkan matanya dengan kepalanya yang ditumpukan pada kedua tangannya. "Aku masih tidak berpikir bahwa ini semua untukku..." ucap Jaejoong dan menoleh kearah Yunho.
"Kau hanya perlu menikmati waktumu, dan kau pasti akan menemukannya." Tanggap Yunho dan tersenyum padanya.
Blush
"Ne..."
Tapi, ini bukanlah hal baik jika Yunho terus mengikutiku setiap waktu. Aku selalu merasa Yunho terlalu baik padaku dalam hal apapun. Juga untuk nama panggilan itu, aku belum menemukannya dan aku juga sulit untuk mengatakan padanya.
Walaupun kita adalah teman baik...
"Yeorobeun, beri kami jalan... kami sedang memindahkan barang besar." Yunho menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat asal suara yang terdengar agak ribut itu. Jaejoong sama sekali tidak terganggu dengan keributan di belakangnya.
SRAK
GRAB
Yunho berpindah tempat mendekati Jaejoong dan segera menutup mata Jaejoong untuk menghidari Jaejoong dari barang besar itu yang ternyata sebuah cermin.
"M-mwo? A-ada apa?" Jaejoong yang tiba-tiba diperlakukan seperti itu tentu saja kaget.
"Aniyo. Hanya ada sebuah cermin besar di belakang." Yunho terus melihat cermin itu sampai sedikit menjauh. Setelah beberapa lama Jaejoong mengangkat tangan Yunho di atas matanya.
"G-gomawo..." Yunho yang masih belum berpindah tempat, yaitu berada di atas Jaejoong dengan kedua tangannya di kanan kiri kepala Jaejoong tersenyum lembut padanya.
Walau kita adalah teman baik, aku... aku merasa seperti...
SYUUT
SLAP
"Ouch!" sebuah kertas selebaran menempel tepat pada wajah Jaejoong setelah Yunho memindahkan posisinya duduk di samping Jaejoong. "ige mwoya...?" itu adalah sebuah brosur promosi klub.
.
.
.
Bermodalkan sebuah brosur promosi itu, Jaejoong dan Yunho telah berada di depan sebuah pintu yang tertempel sebuah kertas bertuliskan CLUB CULTURAL STUDIES. Jaejoong dan Yunho bertukar tatapan. Mereka melihat lagi denah lokasi pada selebaran brosur itu. Setelah yakin benar, Yunho mencoba membuka pintu itu.
PLOK
PLOK
PLOK
Sebuah kertas warna-warni pesta atau sekarang menjadi kertas sambutan telah menyambut Yunho ketika membuka pintu.
"Welcome to the Cultural Studies~!" Itu adalah kata sambutan yang mereka berdua terima. Yunho membersihkan rambut dan bahunya yang terkena kertas sambutan yang menempel padanya. "Kalian ingin bergabung dengan klub kan? Ayo silahkan duduk~" Ujar seorang namja manis sambil mengayun-ayunkan tangannya menyuruh untuk masuk.
"Ah, ani. Kami hanya ingin melihat-lihat dulu." Jawab Yunho.
"Uwah!" Jaejoong kaget ketika namja manis itu menarik kedua tangannya dan mengayunkan-ayunkannya keatas dan kebawah.
"Ne. Ne." Kata namja manis itu sambil terus menarik Jaejoong.
"Eum... itu, apa kegiatan yang sering dilakukan klub ini?" Tanya Jaejoong pada namja manis itu.
"Kami melakukan segala macam hal." Jawab namja manis itu
"Kekeke... ah~ ini baik... saat ini ada penyihir, aku akan mempersiapkan untuk peralihan jiwa..." suara yeoja yang ada di belakang namja manis itu membuat Jaejoong merinding. Lihat saja penampilannya, kukunya tajam, panjang dan hitam, suaranya yang halus mendekati seram, rambut hitamnya yang terurai di depan, poni yang hampir menutupi wajahnya dan pakaian dressnya yang serba hitam!
"P-pe-peralihan jiwa!?" beo Jaejoong. Segera Jaejoong membalikan badannya dan mendorong Yunho untuk keluar dari sana."K-kajja Yunho-ah, kita lupakan yang satu ini, a-aku begitu takut dan aku tidak ingin—"
GRAB
"!" Jaejoong terlalu kaget untuk mengeluarkan suara ketika ada sebuah tangan yang memegang kepalanya dan perlahan memutar kepalanya untuk menoleh kebelakang.
"Oh~ tidak perlu sesopan itu... ayo kita main bersama~ kekeke" ujar yeoja yang menurut Jaejoong itu begitu menyeramkan.
Saking takutnya Jaejoong tak bisa mengeluarkan suaranya 'aah~ apa kubilang! Ini sangat menakutkan!'
.
.
"UWAAAAAAHHH! ANDWE! Aku tidak mauuu!" itulah respon Jaejoong setelah ia bisa bersuara.
.
.
.
.
"Uuh... hiks... dipaksa bergabung dengan klub itu..."
"Mian... aku tidak bisa mencegah mereka."
Yunho dan Jaejoong kini tengah perjalanan pulang. Dan langitpun sudah gelap menandakan sudah malam.
.
"Kalian akan bergabung dengan klub kan? Kan? Aku mohon padamu! Tidak ada seorangpun yang mau bergabung dengan klub kami!" mohon namja manis itu sambil menggenggam tangan Yunho dan tatapan penuh harapnya.
"Krauk... krauk.. nyam nyam..." suara makan anggota lainnya tampak tidak peduli pada sekitarnya selain makanan.
"Kekeke..." dan untuk satu ini hanya tertarik pada sihir.
.
'Ah... mengingat namja itu memohon dengan begitu harapnya membuatku tak bisa menolak...' batin Yunho.
"Hoam... yah, mungkin ini adalah mulai yang baik."
"?"
"Lagipula mereka sepertinya orang baik. Mereka memang tidak populer seperti klub fotografi, aku tidak perlu khawatir menampakkan sifat narsismeku pada mereka."
"Bukankah kau takut akan sesuatu yang seram?"
"Ugh... ne, aku takut. Tapi tidak semenakutkan mereka tahu sifat narsisku... lagipula..."
"Asalkan aku bersamamu Yunho-ah, aku akan baik-baik saja walau aku dibuang dalam kandag monster sekalipun. Tentu saja."
"Jaejoong-ah..." Yunho begitu senang mendengar hal itu terucap dari Jaejoong, hingga ia tidak bisa mengatakan apapun.
Ah! Pada akhirnya aku belum memangilnya dengan panggilan akrab. Sekarang... aku harus coba mengatakannya, aku ingin mencoba memanggilnya dengan akrab. Lagipula jika aku tidak mengatakannya sekarang... akan banyak kesulitan lainnya jika aku mencobanya besok.
"Umm... gomawo telah bergabung dengan klub bersamaku... Yunie." Ucap Jaejoong akhirnya.
Sebagai teman baiknya. Aku ingin merasa lebih dekat lagi padanya.
Deg deg deg
Itu adalah suara jantung keduanya yang begitu kaget untuk Yunho dan lega untuk Jaejoong karena telah berhasil mengatakannya.
GRAB
Yunho segera memegang pundak Jaejoong,"Joongie..." ucapnya.
"Ne?"
"Aku... untukmu, sejak awal aku bertemu denganmu...naneun sarang—"
Syuut
"UWAH!" Jaejoong loncat kedalam pelukan Yunho karena kaget akan sesuatu yang halus menggesek kakinya.
Meong~ Meong~
Yang ternyata hanyalah seekor kucing.
"A-ah... kau tadi mau bilang apa?" tanya Jaejoong sedikit terbata akibat terkejut tadi dan badannya yang masih gemetar.
"Ani... aniyo." Yunho memeluk Jaejoong, "Saat kau merasa takut, bisakah kau mengatakanya padaku? Aku akan melindungimu." Lanjutnya lagi dan mempererat pelukannya.
Deg deg deg
Aku selalu bertanya-tanya... sejak kami berciuman yang tak terhitung jumlahnya, dan ia yang setiap hari terus menemaniku. Kenapa hatiku tak bisa berhenti berdebar seperti ini?
Aku sudah terlanjur aneh tapi, hanya dengan sebuah pelukan, aku merasa menjadi semakin aneh!
.
.
"Eoh~? Mereka masih belum bersama sampai sekarang~?" ujar yeoja seram menurut Jaejoong itu sambil melihat sebuah bola seperti peramal.
"Apa yang kau lihat hyung?" tanya namja manis itu. Hyung? Ya ternyata dia bukanlah seorang yeoja tetapi namja yang memakai pakaian yeoja.
"Ani~ aniyo~"
"Krauk... krauk... krauk..."
"Waahhh! Aku sudah tidak sabar menanti hari esok! Apa yang akan kita lakukan bersama ne?"
"Molla~"
"Krauk... Hmm..."
.
.
.
.
Kehidupan kampus Jaejoong dengannya akan naik dan turun. Dan ini baru saja dimulai...
.
.
.
.
.
TBC
Curhatan author :
Annyeong readerdeul sekalian~
Mian Chie updatenya lama.
Nah untuk Prolog Chie gak bisa nambahin banyak-banyak. Chie buat persis kayak komiknya, walau ada sedikit perubahan dan keliatan kayak dipercepat. Kalau udah masuk Vol di komiknya, baru nanti Chie buat mendetail lagi. Ini prolog terakhir. Chap depan udah masuk cerita intinya. :)
Terus juga ternyata komik ini belum tamat readerdeul. Di salah satu situs bilang udah tamat, tapi di situs lain masih on-going, Chie jadi bingung. Tapi Chie ngikutin yang udah tamat aja, kalo ada lanjutannya Chie buat jadi Sequel.
Ini balasan yang review Chap kemarin
Chie ucapin Selamat Datang bagi yang baru baca. Terus, mohon para Guest kalo bisa kasih nama ya atau inisial? Chie bingung ini guest baru atau yang udah Review kemarin. Banyak yang namanya Guest (/ QAQ)/
Tengkyu semuanyaaa~ udah buat Chie semangat!
Taeripark, Yuan Lian, ChwangKyuh EviLBerry, vianashim, kim anna shinotsuke, ichigo song, MPREG Lovers, Neliel Minoru, MaxMin, ShinJiWoo920202, Keylovemelt: Cek PM ne, Chie bales di PM :) LEETEUKSEMOX: hehe, sayangnya Yunppa jadi goodboy~ x9 jaejae: Makin mantap? Wah bagus deh :D pemilihan kata2 nya beda? mungkin karena Chie mesti translate komiknya dulu kali ya jadi pemilihan katanya beda O.O Wahaha~ semakin di depan maksudnya chingu? XD kembali kasih :D ini kelanjutanya :) Guest: Iya chingu, di cium Yunppa, judulnya kan ada Kiss nya :D Apa? Yunppa cium kamu? Oh itu tidak mungkin. Yunppa cinta nya cuma sama Jae soalnya kkkk~ Arvina Xi: Jaema emang buta banget soal cinta chingu. Taunya kan dia mah cinta diri sendiri. Yunppa emang harus sabar buat ngadepin itu. Sip, ini lanjutannya. Guest: Iya... soalnya Jaema kan dari dulu sendirian mulu. Jadi suka hibur diri sendiri. XD Haemin: Sayangnya Yunppa udah kesemsem(?) duluan sama Jaema chingu. Dia udah gak mau cium orang selain Jaema. Appa bear co-cuit~ XD Guest: Salam kenal chingu... Chie panggil apa nih? o.o Baru baca? selamat datang kalo gtu :D bagus ya? makasih :3 Jaema bukan agak narsis lagi chingu, tapi udah akut! XD Komiknya? Chie baca di online chingu. Jadi Chie gak tau beli dimana ._. Kalopun ada Chie gak bisa beli, nanti di buang ummanya Chie lagi QAQ Guest : Bukan sok keren dia chingu, tapi narsis akut! X3 Guest: Iya Jaema udah unik dari lahir! babywonkyu: Thanks! :) renyekalovedbsk: Iya Jae emang narsis akut! XD kkk, Yunppa emang enak di bagian itu chingu, tapi banyak gak enaknya buat Yunppa kkk XD Guest: Kkk~ Jae kebiasaan emang. Perjuangan Yunppa emang masih panjaaaaaaaang banget chingu~ #dijitakYunppa XD
Sekali lagi Mian Chie gak update secepet kemarin. Dua minggu kemarin Chie down banget sama real world dan berefek sama kesehatan Chie. Jadi, Chie gak bisa cepet. Mian ne...
.
Um... Review?
