Ini Remake fanfiction dari manga Nar Kiss nya Nekono Mariko.

Pair :

Yunjae

Disclaimer:

Saya hanya meminjam nama. Semua nama yang muncul di sini adalah milik mereka sendiri.

Rated :

eMu desu.

Ada anu-anu nya hohoho. Tapi masih belum untuk chap ini :p

Genre :

Humor, Romance

Warning :

Newbie, OOC, Miss Typo(s) of course(tanpa edit), gak sesuai EYD, pindah POV semaunya sendiri, semoga reader gak bingung ya.

a/n: Ternyata Chie gak bisa ngerubah lebih banyak dari ini. Uh mian, ini mungkin masih sama kayak Chap2 sebelumnya. Dan ternyata juga (Chie lupa ini) pas masuk Chapter 1 di komiknya itu cuma ada 23 halaman plus cover awal. Padahal halaman prolog itu sampe 33 halaman. =.= jadi mian kalo pendek ne? Cha~ selamat membaca~

Before that...

DON'T LIKE? DON'T READ!

Chie gak maksa buat baca soalnya. Kalau gak suka yaudah out aja ne, gampang kok tinggal klik Back aja. -.-


NAR JAE KISS

.

.

.

Chapter 1

.

.

.

Suara kecipakan basah ciuman dari dua orang pemuda itu memenuhi ruang gudang penyimpanan. Seorang pemuda dengan rambut pirang itu berada dalam himpitan namja yang lebih tinggi dari pemuda blonde itu. Dan kedua tangan yang berada dalam genggamannya.

"Nn... ngh..." suara desahanpun tidak ketinggalan meramaikan ruang itu.

Dari awal aku lahir, aku sudah mempunyai keadaan yang sedikit aneh ini. Karena kenyataan itu, aku sudah menjalani cara perawatan aneh ini.

Dengan mencoba beberapa kali perlawan akhirnya ia berhasil melepaskan diri dari ciuman panas itu "Hah...jangan sentuh...hh...kau...hanya pelayan sehari-hariku...beraninya kau mencemarkan kemurnian bibirku ini..." ucapnya kemudian dengan susah payah mengatur napasnya.

"Itu percuma... kau tidak akan bisa melarikan diri, karena aku ingin mengembalikan Joongie menjadi normal." balas sang namja dominan, Yunho. Ia menambah cengkraman pada pemuda blonde, Jaejoong dan mulai kembali menciumnya.

Baru-baru ini, aku telah memiliki penyembuhan karena kegigihanku.

"Ngh...nnn...ann...ni...mm" Jaejoong yang berada dalam mode narsis itu masih mencoba melawan Yunho.

.

.

.

Setelah tidak adanya lagi perlawanan dari Jaejoong, Yunho melepaskan ciumannya.

Aku hanya ingin menghilangkan ini, jadi aku harus melakukannya...

"Hah... hah...hmm" gumam Jaejoong di tengah deru napasnya.

"Joongie...kau sudah kembali?" tanya Yunho sembari menghapus jejak saliva di sekitar bibir Jaejoong

"...Wae?" gumam Jaejoong, "WAE? Kenapa aku melakukan hal yang begitu memalukaan? Apa sih yang kupikirkaan?" ratap Jaejoong setelah kembali pada kesadarannya.

"Ah..." hanya itulah tanggapan Yunho untuk kelakuan Jaejoong kali ini.

.

.

.

An hour ago

Entah bagaimana awalnya kini Jaejoong tengah berada di dalam ruang klub melukis. Ia berada di tengah anggota klub yang mengelilinginya. Ya, kini Jaejoong tengah menjadi model.

Model lukis naked. Eh ani, anio.

Tidak sepenuhnya naked, ada sebuah kain yang menutupi bagian privatnya.

"Eoh... aku sebagai model?" ucap Jaejoong sambil mencoba beberapa gaya di tengah para anggota itu. "Silahkan lukis aku dengan sepenuh hatimu." Lanjutnya lagi setelah nyaman dengan gayanya.

"Keindahan yang kumiliki ini tidak akan bisa ditangkap dengan penggambaran visual."

...atau narsisme akan menjadi sifat keduaku.


Finally made a precious best friend.

But as best fiend,

Is my heart supposed to flutter when we're together?

.

.

-Nekono Mariko-


Setelah menenangkan Jaejoong, Yunho mengajaknya ke kantin kampus. Walau selama perjalanan Jaejoong masih tetap mendumal. Setelah menghabiskan satu piring jjajangmyeon kini Jaejoong tengah menikmati puding rasa pisang.

"Ah! Tidak lagi-tidak mau—" Jaejoong mulai mendumal lagi. "aku hanya melihat sekilas refleksi samar diriku di kaca tapi, oh come on. Kenapa aku harus tiba-tiba jadi narsis lagi!" ucap Jaejoong lagi dengan kesalnya.

"Dan yang lebih parah dari itu aku tidak menyadari bahwa aku telanjang!" Jaejoong menyendok pudingnya dengan cepat dan memakannya dengan perasaan kesal.

"Tapi mereka semua sibuk membuat sketsa, bukan? Dan kita berhasil menyelinap keluar."

"Ah tapi aku membiarkannya!? Aish jinjja, mulai dari sekarang aku sudah mati." ratap Jaejoong,

Untuk waktu yang lama dari sekarang, sifat narsisku akan muncul setiap aku melihat refleksiku. Jadi untuk merahasiakannya dan agar tidak diperlakukan sebagai orang aneh, aku menyembunyikan sifatku itu.

Lalu suatu hari, saat aku terbangun di UKS dan melihat seseorang selain diriku ada disana. Aku tahu, bahwa sifat narsisku telah diketahuinya.

Dengan kata lain, aku ketahuan.

Dan orang yang mengetahui hal yang kusembunyikan itu adalah namja paling tampan dan populer, Jung Yunho, tipe orang yang sangat ku benci.

Dia terlalu sempurna, itu membuatku kesal. Dan kupikir ia pasti akan mengolok-olokku. Dan sangat mengejutkan, ternyata dia adalah orang yang sangat baik.

Ah, pesonanya tak akan bisa di tolak. Uh, lihat saja para yeoja itu. Mereka berkumpul di sini hanya untuk melihat Yunho.

Yunho yang menolongku menyembuhkan sifat narsisku.

Dengan menciumku.

"Umm... ice cream itu terlihat enak..."

"Eoh, kau ingin mencobanya Joongie?"

"Um!"

Dan untuk pertama kalinya, aku mempunyai teman di kampus ini...

"Mashita?" tanya Yunho

"Um! Mashita!"

"Ah! Kau disana! Jaejoong-ssi!" seorang pemuda melambai-lambaikan tangannya pada Jaejoong ketika Yunho dan Jaejoong melihat kearahnya.

"Hmm?" gumam Jaejoong berpikir apakah ia mengenal pemuda itu.

Pemuda itu kemudian berjalan mendekat kearah meja Yunho dan Jaejoong.

"Aku sudah menyelesaikan lukisanku. Jadi bagaimana tanggapanmu tentang ini" ucap pemuda itu sambil memperlihatkan lukisannya.

BRAK

Splas

Karena saking paniknya Yunho, ia melemparkan ice creamnya pada wajah Jaejoong "Ah, mian... aku hanya mencegahmu untuk melihatnya... gwenchana?"

"Nan gwenchana." Jaejoong segera mengelap wajahnya, "Gomawo Yunnie."

"Ah mian, aku ada urusan lain. Permisi." Pemuda itupun pergi meninggalkan Yunho dan Jaejoong yang tidak menanggapi pemuda itu lagi.

... Ani, ini berbada. Yunho lebih dari sekedar teman...

Yunho menyentuh rambut Jaejoong, memajukan sedikit wajahnya. Yunho menjilat pipi atas Jaejoong.

Dia adalah teman terbaikku yang sangat berharga.

"Ada cream." Ucap Yunho dan mendudukan dirinya kembali .

BLUSH

Jaejoong segera menyentuh bagian yang dijilat oleh Yunho 'Mwo cream? Langsung menjilatnya tanpa bertanya. Hal seperti ini hanya terjadi di komik!.' Batin Jaejoong. Ku pikir jika terjadi hal seperti ini mungkin terlihat alami untuk namja tampan seperti dia.

"Ah...itu—" tangan Yunho mencoba meraih Jaejoong kembali, tapi Jaejoong segera menangkapnya.

"Geuman! Stop! Itu terlarang! Aku melarangmu melakukannya!" cegah Jaejoong sambil mencengkram tangan Yunho. "Apakah kau tidak merasa malu?" tanya Jaejoong dengan suara kecil.

"Eoh? Tapi kita berciuman setiap hari..."

"Itu berbeda!"

"Ah geure..."


Setelah menghabiskan jam istirahat kini Yunho dan Jaejoong kembali memulai kelasnya. Saat ini Yunho tidak mendapatkan kelas yang sama dengan Jaejoong. Jadilah Jaejoong sendiri lagi sekarang.

Akhir-akhir ini, aku mendapatkan banyak keanehan.

Bahkan terhadap seorang namja seperti yunho, hatiku berdebar dengan setiap sentuhannya.

Aku pikir, aku terhadap Yunho...

Sret

Sret

Aku terhadap Yunho

Sret

Sret

Terhadap Yunho

Sret—

Jaejoong berhenti mencoret-coret bukunya. Saat melihat tulisan terakhir—

...i like you. I hate you. I like you. I hate you. I like you. I hate you. I like you. I hate you. I like you. I hate you. I like you. I hate you. I like you. I hate you. I like you. I hatee you. I like you. I like you. I like you. I like you. I like you. I like you. I like you.

BRAK

"DAMMIT!" teriak Jaejoong sambil berdiri tanpa melihat situasi dimana ia berada. "Itu tidak berbeda! Kami adalah teman super dekat! Aku bukannya tidak menyukai itu. Hajiman..wae? WAE SSAEM?!" tanya Jaejoong dengan suara lantangnya.

"GET OUT!"

Jadilah Jaejoong di keluarkan dari kelas.

.

.

.

Aish, jinjja! Apa yang kulakukan?! Nan jeongmal pabboya!

Saat ini Jaejoong berada di taman samping kampus. Ia tengah telungkup di atas kursi panjang yang tersedia di taman itu.

Tap

Tap

Yunho yang berniat menunggu Jaejoong di taman malah bertemu Jaejoong yang telungkup disana, "Eoh? Joongie? Kelas ekstramu sudah selesai?" tanya Yunho,

"Uh... aku ditendang keluar." Jawab Jaejoong lesu.

"Eh? Apa sifat narsismu keluar?"

"Mungkin... itu muncul..."

"Tapi kau terlihat baik..."

Aku tidak akan bilang padanya aku terlalu excited sampai berteriak di dalam kelas.

Jaejoong menghela napas "Hah..."

Jinjja, aku tidak mengerti diriku sendiri, aku selalu setengah hati terus menerus. Hyung dan bummie dapat menerima sifat narsisku, tapi aku tidak bisa santai begitu saja.

Tidak mungkin bagiku untuk mendapatkan lebih dari itu dengan pengobatanku yang jadi cepat.

Jaejoong beranjak untuk duduk, "Aku sungguh menyedihkan..."

Step

Step

Yunho mendekat kearah Jaejoong, menumpukan badannya pada kedua lulutnya, berlutut tepat di hadapan Jaejoong.

"Gwenchana Joongie... ayo kita pergi bersama dan meminta maaf pada sonsaengnim." Ujar Yunho dan memegang pundak Jaejoong, "Aku akan membantu berbicara pada sonsaengnim dan menjelaskan tentang dirimu. Aku yakin ia pasti mengerti. Jika kita berdua pergi melihatnya, ia mungkin akan memaafkanmu. Arrachi?" lanjut Yunho lagi dan memberikan senyuman menenangkan untuk Jaejoong.

"Yunnie..." Jaejoong sungguh terharu akan sikap Yunho, ia sangat ingin mengeluarkan air mata.

Jaejoong mulai terbawa oleh senyuman menenangkan Yunho.

Uh! Ani. Andwe. Nan jeongmal andweyo. Aku tidak ingin membuat masalah dan membuatnya khawatir lebih dari ini.

Jika aku membiarkan Yunho untuk melakukan itu, hatiku akan mendapatkan semua kegugupan—

"Ah... aku sungguh bosan akhir-akhir ini..."

"Yah! Kenapa kau tidak mencari yeojachingu."

"Mwo? Yeojachingu?"

"Ne. Kau bisa bilang padanya untuk melakukan 'itu' setiap hari"

"Yah! You're kidding!? Melakukan itu—" percakapan dua orang namja itu menghilang seiring semakin jauhnya mereka.

Ah guere! Yeojachingu!

Hatiku begitu gelisah terhadap Yunho karena aku tidak mempunyai yeojachingu, geure.

Pertama, hatiku tidak akan berdebar pada seorang namja seperti ini lagi. Jika aku mempunya yeojachingu, perasaan gelisahku ini akan terarahkan padanya menggantikan Yunho—

"Yaa! Joongie! Yun-ah!"

Mendengar ada yang memanggil mereka berduapun menoleh.

"Eoh?" gumam keduanya.

Para member klub Cultural Studies lah yang mereka lihat. Mereka pun jalan mendekat kearah Yunho dan Jaejoong berada. Siapakah para member itu? Yang memanggil Yunho dan Jaejoong, ia Kim Junsu, tahun ke-3 si chubby montok. Di belakangnya ada Shim Changmin, tahun ke-2 si hobby makan. Dan terakhir, Kim Heechul si maniak sihir, tahun ke-4.

"Eh? Sunbae, apakah hari ini ada pertemuan kegiatan klub?" tanya Jaejoong

Memang karena ide ini datang dari Junsu maka Junsulah yang menjawab, "Aku sedang melakukan penyelidikan karena rumor yang terjadi disekitar baru-baru ini. Bagaimana kalau kalian ikut dengan kami dan membantu kami?" tawarnya kemudian.

"Mwo? Rumor apa itu?" tanya Yunho

"Sebenarnya—"

.

.

Entah bagaimana ceritanya kini mereka berlima telah berada di balik semak-semak di sebelah utara kampus.

Yunho tengah memegang sebuah koran kampus dan membaca berita rumor itu. Tertulis

[...Ada sebuah legenda di Universitas Shinki itu adalah, jika kau duduk di atas bangku cinta dan menyatakan cinta, maka kau akan terikat dengan pasanganmu untuk salama-lamanya. Tapi kebenaran adalah— ]

Srak

Yunho menutup koran kampus itu, "Bangku cinta..."gumam Yunho speechless dan melihat kearah depan dimana terdapat sebuah bangku dengan penyangga duduk dan sandarannya berbentuk Love.

Di sebelah kanan Yunho Jaejoong tengah mengintai dengan sebuah teropong yang entah di dapat dari mana.

"Bagaimana arsitektur bangunan ini mengelola untuk memiliki sebuah bangku yang menabjubkan seperti itu..." Kagum Jaejoong sampai ia berdebar-debar.

"Hm... hm.." Gumam Junsu

"Itu sangat ketinggalan zaman!" Ujar Yunho yang langsung mendapatkan lirikan dari Junsu,

"Erm... jadi itulah legenda dan kau ingin kita untuk mnyelidiki kebenarannya kan?" tanya Junsu pada Yunho sambil menyeringai senang.

"..." Yunho hanya bisa diam tidak tahu harus menanggapi apa.

"Aku yakin para mahasiswa di kampus ini pasti ingin tahu legenda itu adalah benar atau cuma omong kosong! Oleh karena itu klub kita berani untuk menyelidikinya!" Ujar Junsu dengan semangatnya.

"Alright! Let's do it!" ucap Jaejoong terbawa semangat Junsu.

"...kalau begitu, silahkan jangan ragu untuk membawa pasangan lalu duduk di sana denganmu sunbae, segera..." ucap Yunho kemudian

"Kkkk~ Ayo kita berikan teori untuk mengetesnya, shall we..."

'Eeeh! Jangan bilang, Heechul sunbae punya seseorang yang disukainya?!' batin Jaejoong horror. Jaejoong terus memandangi Heechul dengan wajah horrornya.

"Aku tak punya pasangan, jadi aku lewat." Ujar Heechul dengan datarnya, walau masih ada nada seramnya.

'Ah! Itu tak berguna!' bantin Jaejoong kaget mendengar ucapan Heechul.

"Aku pernah sekali duduk disana dan mengamati, tapi tidak ada seorangpun yang duduk di sebelahku, i wonder why~" Ucap Junsu

"Ah...Nado... wonder why..." Tanggap Yunho pada Junsu, itupun karena mata Junsu terarah padanya.

"Dan sekarang! Yun-ah akan membuat pertunjukannya!" Ucap Junsu tiba-tiba mengagetkan.

"Eoh? Apakah itu jadi sebuah perintah?" Tanya Yunho

"Kudengar kau itu namja yang dicari-cari dan sepertinya saat ini kau tidak punya yeojachingu." Kata Junsu, "Dengan mengunakanmu... Yun-ah duduk di bangku cinta – seorang yeoja yang ingin menjadi pacarmu datang, lalu duduk dan menyatakan cinta – kau dan dia akan mesra selamanya."

"Ani. Thanks." Yunho langsung mengatakan pendapatnya setelah Junsu mengakhiri susunan rencananya. "Hanya saja saat ini aku tidak ingin memiliki yeojachingu." Lanjutnya lagi menjelaskan.

Yeojachingu? Ah geure! Kenapa aku tidak berpikir jalan itu. Aku duduk di bangku cinta - seorang yeoja datang dan duduk di sampingku - aku segera menyatakan cinta padanya – lalu, dia mungkin akan menjadi yeojachinguku?!

Ku kira aku harus bersyukur pada bangku cinta itu.

"Aku akan melakukannya!" Kata Jaejoong dengan semangatnya. "aku yang akan duduk disana!" lanjutnya lagi

"EH?" tanggap ketiga orang itu, YunSuChul.

"Aku berpikir untuk memiliki yeojachingu saat aku menjadi mahasiswa!"

'Jo-Joongie...' Yunho syok akan ucapan Jaejoong sampai tak bisa mengeluarkan suara apapun, walau sekedar satu huruf.

Ini akan mengakhiri perasaan debaran hatiku pada Yunho. Kita berdua akan menjadi lebih dekat lagi dan melakukan banyak hal. Seperti mandi bersama? Perkelahian? Atau saling berbagi cerita cinta?

"Lebih baik aku cepat jika ingin mendapatkan satu..." Jaejoong segera berlari menuju bangku cinta itu. Sampai ia di depan semak Yunho menahannya.

"Ani. Kau tidak bisa. Aku yang akan pergi." Setelah mengatakan itu Yunho langsung berjalan ke arah bangku cinta, dan duduk di sana.

"Yunnie..."

"Kenapa Yun-ah bisa tiba-tiba berubah pikiran..."

"...Aku bisa merasakan aura amarah.. uhh..."

"Krauk..."

Mwoya...? Jadi Yunho juga menginginkan seorang pacar... aku tidak pernah menyadari itu...

DEG

Huh... aku bertanya-tanya kenapa...

Jaejoong memegang dadanya, perlahan mencengkram kaus di bagian dadanya, saat ia merasakan debaran dadanya menjadi semakin menyesakkan.

DEG

DEG

Hatiku begitu sakit...

Drrt...Drrtt..

Huh? Pesan dari Yunho.

Pip

[ From : Yunnie Jung

( No Subject )

Aku tahu kau sangat ingin memiliki yeojachingu. Tapi bagaimana jika dia bukanlah yeoja yang tidak pernah kau inginkan?

Sebagai teman baikmu, biarkan aku berbicara padanya terlebih dahulu. Apakah ia sudah baik untukmu.]

Jaejoong melihat kearah Yunho yang tengah memainkan handphonenya. Kembali ia membaca pesan Yunho.

[ Sebagai teman baikmu, biarkan aku berbicara padanya terlebih dahulu. Apakah ia sudah baik untukmu.]

Ku rasa, hari ini bukanlah hari—

"Aku tidak bisa bicara padanya untuk tidak perlu melakukan itu. Hajiman..."

Pip pip pip pip

[ Tapi Yunnie...

Jika kau sangat menginginkan yeojachingu, kau harus mengatakannya padaku.

Itu bukan kau, tapi aku. Aku selalu menyusahkanmu.]

Drrt... Drrtt...

[ Itu tidak benar.]

"Eh?"

Drrt... Drrtt...

[ Joongie, jika kau pikir dengan kau duduk di sini, bangku dengan kepopuleran dan terlihat agak konyol ini kau mendapatkan pacar untuk dirimu, itu sangat menggangguku itulah kenapa aku yang duduk di sini menggantikanmu...

Untukku, untuk melakukan hal seperti ini tidak berarti untukmu mengetahui seorang yeoja adalah ide yang buruk.]

Drrt... Drrtt...

[ Karena aku... aku ingin kau untuk mengenal orang terlebih dahulu sebelum kau terikat...

Yunho melihat kearah Jaejoong, yang saat itu juga Jaejoong tengah melihatnya. Kedua mata itu saling berpandangan tidak menghiraukan dengan jaraknya yang cukup jauh itu.

Pasti, dengan cara yang benar, orang yang mencintaimu akan datang padamu.]

DEG

DEG

DEG

"Yunnie..."

Nan... nega...

DEG

DEG

"Ah! Akhirnya seorang yeoja datang!"

DEG!

Apa yang harus kulakukan? Ottoke? Nan pabboya... jeongmal pabboya.. apa yang seharusnya kulakukan, pabbo...

"Terus seperti itu Yun-ah! Seseorang duduk di sampingnya!" ucap Junsu dengan suara kecilnya,

Ani , ini salah...

"Du-duk! Du-duk!" ucap Junsu lagi masih dengan suara kecilnya.

Aku tidak mengerti ini, ani, tidak perlu mengandalkan sebuah legenda untuk mendapatkan yeojachingu...

Jika berkencan dengan yeoja itu bukan berarti kau akan serius menyukainya... sekarang aku berpikir lagi tentang hal ini, tidak ada gunanya mendapatkan yeojachingu seperti itu.

Benar... itu benar!

Srak

Srak

Jaejoong segera berlari dari persembunyian mereka untuk mendekati Yunho.

"Jo-joongie! Cha-chakaman!"

Karena aku... karena yeojachingu Yunho... tidak cocok untuk jadi pasanganya.

Yunho adalah orang yang baik. Terhadap orang sepertiku pun ia sangat baik. Dia tampan, keren, dan pintar. Tidak akan ada yang tidak mau menjadi pasangannya.

Yunho pasti akan... menyukai pasangannya jika ia mendapatkannya disana.

"Joongie"

Andwe! Aku tidak menginginkan ini...!

Tapi saat ini, sebelum Jaejoong sampai mendekati Yunho, yeoja itu sudah duduk di samping Yunho. Si yeoja terlihat tersipu malu dan Yunho yang tersenyum melihatnya.

Melihat pemandangan itu membuat Jaejoong otomatis menghentikan laju larinya. Ia hanya bisa melihat kedepan, mematung.

Jaejoong tidak merasakan apapun lagi di sekitarnya. Ia tidak bisa mendengar apapun. Semua indranya seakan mati rasa. Hanya matanya yang masih terus melihat pemandangan di depan, yang tak jauh darinya. Pemandangan dimana Yunho dan yeoja itu terlihat tertawa bersama.

Jaejoong terus mematung seperti itu. Sampai yeoja itu pergi dan Yunho menghampirinya pun ia tak beranjak dari tempatnya berdiri.

Junsu keluar dari semak-semak itu dan mendekat kearah Yunho dan Jaejoong. Heechul dan Changmin sudah tidak ada lagi di sana.

Changmin memang sudah pergi semenjak Junsu mengusulkan Yunho untuk mencobanya. Dan Heechul pergi tepat setelah Jaejoong tadi berlari mendekati Yunho.

"Bagaimana?" tanya Junsu kemudian.

"Dia menyatakannya, dan kami berbicara sebentar." Jawab Yunho

"Uwaaaah! Jeongmal, kalian jadi bersama! Jadi, legenda itu sungguhan!" ucap Junsu dengan hebohnya.

Aku tidak percaya ini...

Deg deg deg

Jaejoong menutup mata dan mengepalkan tangannya menyiapkan diri untuk tanggapan Yunho selanjutnya. Tidak, jika boleh jujur ia tak ingin Yunho membenarkan perkataan Junsu. Hatinya terus berdebar menantikan perkataan Yunho selanjutnya.

Yunho dan yeoja itu akan bersama-sama selamanya...

"...itu— tentu saja hanyalah sebuah kebohongan." Ucap Yunho kemudian dengan tegasnya.

"EH?" kaget Jaejoong dan Junsu.

"Hah... tidak ada yang benar untuk pembicaraan bodoh itu. Selain itu, aku setidaknya akan berkencan dengannya terlebih dahulu sebelum kita berada di sana." Jelas Yunho

"Eh...?"

"Yu-Yunnie..."

"Bukankah kau berkikir seperti itu juga, Joongie?" tanya Yunho meminta pendapat Jaejoong.

Melihat Yunho terseyum lagi padanya. Ia merasakan sakit di hatinya menghilang begitu saja. Melihat senyuman Yunho untuknya, ia merasa hangat.

"Ne..."

Aku bertanya-tanya kenapa... sakit pada hatiku. Itu begitu menyakitkan, hingga rasanya begitu mencekikku.

Tapi, dengan Yunho berada di sisiku. Semuanya bisa teratasi.

.

.

.

.

Setelah itu Junsu pergi dengan lesunya mendengar kenyataan itu. Sebenarnya ia sedikit mengharapkan bahwa legenda itu adalah kebenaran. Tapi, sebuah legenda bisa saja berubah bukan? Takdir seorang manusia saja bisa berubah. Dan legenda pun akan berubah sesuai dengan hati setiap manusia.

Jaejoong dan Yunho kini berada di dalam kereta menuju perjalanan pulang. Keduanya tengah dalam keadaan berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Dengan posisi Jaejoong yang bersandar pada pintu dan Yunho yang berada di sebelah kirinya.

"Em...Yunnie... bagaimana jika itu adalah sebuah kebenaran? Dan kau akan benar-benar terikat dengan yeoja itu." Jaejoong memulai percakapan dengan Yunho.

"Come on... itu hanya sebuah unjuk perasaan dan aku tidak akan terikat padanya untuk selamanya. Tidak kah kau percaya padaku?" tanya Yunho, melihat Jaejoong yang tidak menjawabnya Yunho kembali berbicara, "Berpikir tentang perasaan. Itu bukanlah hal yang simpel. Ini lebih dari sekedar tentang itu, ini adalah masalah cinta."

"A-aku pikir... kau benar..."

Aku pikir itu mungkin, jika aku dan Yunho duduk disana maka kita akan menjadi teman baik selamanya.

Tapi tentu saja, pikiranku itu salah...

Memiliki Yunho di sampingku membuatku berpikir banyak hal yang bodoh, dan itu seperti aku tidak pernah belajar... hah...

"Joongie..."

"Mmm?"

"Ada tempat duduk yang kosong di sana. Duduklah, kau terlihat letih?" tunjuk Yunho pada tempat kosong itu yang hanya muat untuk satu orang.

"Eoh? Ani, nan gwenchana. Yunnie saja yang duduk di sana. Aku tak apa berdiri."

Grak

Grak

Kereta mulai berguncang-guncang, jika tidak berpegangan erat bagi yang berdiri pasti akan terjatuh.

"Aku tak apa berdiri, lagipula perjalanan masih jauh..."

Grak

Grak

"Aku bilang, nan gwenchana. Yunnie seharusnya— uah!" pekik Jaejoong terbawa guncangan kereta.

Yunho segera menahan Jaejoong dan menariknya mendekat, jadilah Jaejoong berada dalam pelukan Yunho. Jaejoong berpegangan pada baju Yunho dan mencrengkramnya.

Deg deg deg

Melihat Yunho yang begitudekat membuat Jaejoong merasa panas, "Mian... Yunnie..." maafnya dan berniat untuk kembali menyandarkan diri pada pintu.

Syuut

Brak

Selangkah Jaejoong memundurkan kakinya Yunho langsung membalikan badannya dan mengurung Jaejoong dengan kedua tangannya yang menempel pada pintu.

"Yunnie...?"

Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan yang serius, mendekatkan wajahnya, "...Bagaimana jika aku tidak ingin duduk di sana selain dengnmu Joongie, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Yunho dengan terus menatap pada mata doe Jaejoong. "Apa yang akan kau lakukan, kalau—"

[Gangnam-gu, kita telah sampai di gangnam-gu. Harap perhatikan langkah anda saat keluar dari kereta.]

Suara pemberitahuan pemberhentian itu memutus kontak mata Yunho dan Jaejoong. Yunho melihat kesekeliling dan melihat banyak penumpang yang turun.

"Oh, tempat duduk di samping itu kosong. Ayo kita duduk..." ajak Yunho

"Um... Ne.." Jaejoong segera menduduki dirinya yang di susul oleh Yunho yang duduk di sebelah kanannya.

Apa itu tadi? Apa yang dimaksud oleh Yunho? Apa ia akan mengatakan, bagaiman jika aku menerimanya?

...Kupikir Yunho akan meluruskan perkataannya dan mengatakan bahwa aku dan dia hanya teman baik? Atau...

Jaejoong mengepalkan kedua tangannya. Yunho yang melihatnya menggenggam sebelah tangan Jaejoong yang berada di atas pahanya. Jaejoong yang merasakan genggaman Yunho memejamkan matanya. Hatinya sungguh berdetak dengan kencangnya.

Molla...

Nan molla. Nan jeongmal molla!

Jaejoong membuka matanya dan mencoba melirik Yunho, yang ternyata memang memperhatikannya dari tadi dan tersenyum padanya begitu mata mereka bertemu pandang.

BLUSH

Aku tidak tahu kenapa hatiku berdebar dengan cepatnya. Itu terasa begitu mengagumkan.

Hanya pada saat ini, aku ingin perasaan ini terus berlangsung...

.

.

.

.

.

TBC


Curhatan author :

Annyeong readerdeul sekalian~

Gimana? Gimana?

Pada jelas gak?

Atau malah makin bingung?

Kalo iya. Sama, Chie juga. #slap

Udah Chie gak bisa banyak omong lagi. Semoga aja readerdeul sekalian suka sama chap ini. :D

Oh iya...

Besok mulai puasa, Chie minta maaf ya kalau ada kata-kata Chie yang buat kalian sakit hati. Bagi yang menjalankan, Marhaban ya Ramadhan~

Walau puasa Chie tetep lanjut buat ini, Chap depan mulai panas pemirsah~ #dosa amat yak. Siapa yang mau?


Ini balasan review kemarin~

Chie ucapin terimakasih banyaaaaaaaaak banget buat yang udah review, juga yang favorite sama follow fic ini dan silent reader yang ikut meramaikan(?).

#tebar-tebar kelopak bunga. XD


LEETEUKSEMOX: Kkk~ tunggu aja dulu ne~ ada kejutan loh~ jaejae: Ditanya kenapa? #slap korban iklan. Kan biar gereget gituuu~ Kkk~ makin cinta sama fic ini? Huwaa~ Chie fall for you~ #digetok. Nah udah tau kan siapa anggota klub nya ;D Guest: lnjut? Iya ini hani lezitia: wkwk emang Jae narsis akut, tuh ahjumma kaget karna baru liat aksi Live Jae di pagi hari, maklum pengunjung baru. Hmm… udah tau kan siapa mereka :D Yap. Gomawo buat ucapan semangatnya. Dennis Park: Kkk~ iya berarti Yunppa harus lebih sabar lagi buat gangguan-gangguan berikutnya~ #ditabokYunppa. Adaow! Eh- apa tadi? Itu klub apa? Itu klub semacam kelompok pengumpul berita nyata mungkin. Chie juga agak gak ngeh itu klub apa #slap Selena Jung: Hello~ hehehe geregetan ya? Kan emang susah kalo berhadapan sama orang yang polos itu~ apalagi sepolos Jaema, Kkk~ MaxMin: Iya, udah bukan prolog. Narsisnya Jaema? Oh, sepertinya narsisnya malah mulai kurang disini ._. Kkk~ semua langsung pada tau ne siapa yang 'krauk krauk' itu. XD Haemin: Eh mian. Tadinya Chie mau ganti kesemsem sama kepincut, lupa ._. Kesemsem itu bahasanya Chie kalo di rumah -_- sip ini udah update. Kkk~ Yunppa masih banyak rintangan menghadang, kkk~ Guest: kapan NC? Nanti kalo Jaema udah gak polos lagi. XD ShinJiWoo920202: Uhum… Yunppa harus terus sabar, kkk~ haha, kissu saking panasnya Jejenya sampe meleleh kkk~ desi2121: Udah tau kan siapa? Iyaa… kasian Yunppa nge-jleb terus kkk~ pengganggu hubungan Yunjae? Emm… menurut Chie sih gak berat-berat amat(?) Guest: long story? Maybe yes. Maybe no. XD Ne, thanks. vianashim: Kapan Jadian? Kalo Jae udah gak polos! Kkk~ XD YuyaLoveSungmin: Iyyo... monggo~ mengalir seperti air ne, sankyuu~ ini lanjutannya~ :)


Balik lagi ke awal. Chie mau lanjut kalo ada 10 orang yang nongol di review tiap chap nya. Kalo gak sampe yaaa… Chie tunggu sampe nyampe. Oh iya lepi nya Chie lagi di pinjem saudara Chie buat ngetik tugas kuliahnya, jadi Chap selanjutnya di ketik kalo lepi Chie balik. Chie ngetik ini tergantung datangnya mood buat ngetik. Tapi tenang, Chie ngetik sehari selesai kok, kalo selesai Chie pasti langsung update. Kkk~ jadi sabar ya kalo lama kkk~

Cha… Review?