True Love(s) Chapter 2
11
Kyungsoo memutuskan untuk berbelanja hari ini. Kulkasnya hanya berisikan es batu dan sarden kalengan yang tinggal setengah pagi tadi.
"Aish! Dingin sekali!" Kyungsoo memeluk tubuhnya sendiri. Walau tahu itu sia-sia paling tidak membuat gerakan lebih, bisa membuat tubuhnya lebih panas bukan?
Pasar lumayan dekat dengan flatnya. Hanya butuh 10 menit untuk sampai kesana. Kyungsoo berjalan sambil memainkan ponselnya. Hanya sekedar browsing tentang hal-hal yang berbau masakan.
"Dae-ah! Jangan pelgi!"
"AA KEJAL AKU MINNIE!"
Bruk…
Suara itu membuat Kyungsoo yang tadinya tak peduli kini menoleh. Seorang anak TK kini tengah terduduk di tanah dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Sementara itu anak lainnya kini menatap temannya dengan tatapan merasa bersalah. Ia mendekati temannya.
"Minnie maaf."
"Hiks cakit Dae."
Kyungsoo segera mendekati keduanya.
"Kau tidak apa-apa? Mana yang sakit?" 'Minnie' menunjuk lututnya yang berdarah.
"OMO! Aduh bagaimana ini?" pekik Kyungsoo saat melihat darah yang mengalir dari lutut Minnie. Sebenarnya tidak terlalu menyeramkan, tetapi untuk Kyungsoo yang phobia darah…
"Astaga Minseok. Gwenchana?" tiba tiba seorang wanita sudah ada di samping Kyungsoo. Dengan cepat, ia menyuruh Kyungsoo menggendong Minnie yang sebenarnya bernama Minseok kesebuah TK di seberang jalan.
"Jaga mereka sebentar ya. Aku mau ambil obat dulu." Ucap Wanita itu sebelum meninggalkan Kyungsoo bersama kedua anak kecil yang tengah menangis. Mungkin jika Minnie yang menangis itu wajar. Tapi kenapa Dae juga ikut menangis?
"Maaf Minnie. Ini calah Dae. Harusnya Dae gak ajak Minnie lali-lali" dengan sesegukan Dae memeluk Minnie erat.
"Gak papa Dae. Gak cakit-cakit banget kok."
"Benelan?" Minnie mengangguk imut membuat Dae tiba-tiba mencium pipi gembul Minnie. Seketika wajah Kyungsoo memerah melihat adegan tidak senonoh tersebut.
'HEI SIAPA YANG AKAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS INI?! MANA ORANG TUANYA?!'
"Maaf menunggu lama Minnie. Sebentar lagi sakitnya sembuh ya?" Minnie kembali menganguk. Ia hanya diam saat wanita yang merupakan gurunya itu mengobati lukanya. Sesekali ia meringis saat obat obat yang sungguh dia tak tau apa itu semakin membuatnya kesakitan.
"Selesai. Nah Minseok, Jongdae kembalilah ke kelas. Yura Songsaengnim sudah menunggu."
"Ne congcangnim. Kami ke kelac dulu. Telima kacih hyung cantik." Kedua anak itu membungkuk sebentar ke arah Kyungsoo sebelum Jongdae membantu Minseok berjalan ke arah kelas.
"Ah! Maaf aku mengabaikanmu."
"T-Tidak apa-apa. Lagipula aku juga iseng membantu." Kyungsoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku Bang Minah. Panggil aku Minah ya." Wanita itu mengulurkan tangannya pada Kyungsoo. Bermaksud untuk berkenalan dengan namja bermata bulat itu.
"Kim Kyungsoo." Kyungsoo membalas jabatan tangan itu dengan hangat. "Kau kerja di sini?" tanya Kyungsoo sambil menatap sekolah kecil itu dengan sedikit risih. Bagaimana tidak, di kota sebesar Seoul, taman kanak-kanak mewah sudah sangat banyak. Tapi lihat realita yang ada di hadapannya. Bangunan yang usang walau masih layak pakai. Juga halaman yang penuh dengan banyak permainan yang mungkin sedikit kurang terawat.
"Ya, sebenarnya aku hanya bantu bantu sih. Habis disini muridnya lumayan banyak tapi gurunya Cuma satu. Namanya Park Yura."
"Eh? Bagaimana bisa begitu?"
"Dulu ada 2 orang guru, tapi kata Yura eonnie, temannya itu berhenti karna menikah. Yura eonnie mau menutup TK ini, tapi dia terlalu mencintai murid muridnya, yah.. jadi begitulah sampai saat ini."
Kyungsoo mengangguk kecil mendengar penjelasan Minah. Ia menatap banyak –sekitar 50- anak tengah bernyanyi gembira didalam ruangan sana. Ruangan yang sebenernya cukup sempit untuk anak anak sebanyak itu. ada satu ruang kosong disebelah ruang itu. Tapi karna yah… sudah dijelaskan tadi. Tidak ada guru lain, maka kelas yang harusnya dibagi dua menjadi satu sekarang.
"Memangnya kalau jadi guru TK itu mengajarkan apa saja?"
"Tentu saja banyak. Hal hal yang akan jadi dasar hidupnya kelak. Seperti, makan dengan benar, bersalaman, membaca, menulis,menghitung, menebak, dan yang pasti bersikap baik pada setiap orang."
"Apa pelajaran bahasa inggris dan menggambar juga bisa diajarkan untuk anak TK?"
Minah mengangguk kecil. Mata Kyungsoo berbinar.
"Kalau begitu boleh aku ikut membantu disini?" Kyungsoo langsung meraih tangan Minah. Matanya berkedip kedip ingin.
"T-Tapi kami tidak punya-"
"Tidak apa-apa! Lagi pula aku hanya mencari aktifitas di waktu luangku. Tidak dibayar aku tidak apa-apa."
"T-tentu."
.
Kyungsoo berjalan riang dengan sekantong penuh bahan makanan di tangannya. Setelah berhari-hari tak memiliki kegiatan, Kyungsoo akhirnya bisa menghabiskan sisa waktunya untuk sesuatu yang lebih berguna. Ya, dia memang berhenti kuliah sejak menikah dengan Kai. Alasannya, karna ingin terus bersama dengan suaminya itu. Tapi bukankah apa yang dia lakukan sia-sia? Kai bahkan tidak pernah mempedulikannya.
Kyungsoo bersenandung kecil sambil menyusuri gang sempit menuju apartemennya. Entah hanya perasaannya saja atau memang begitu kenyataannya, gang itu terasa panas.
"YA! Anak muda selamatkan dirimu!" seorang namja tua menarik Kyungsoo keluar dari gang itu. dibelakang sana, banyak orang berlarian menyelamatkan diri dari kepulan asap.
Tunggu.
"APARTEMENTKU!"
***KAISOO***
Namja itu menangis sesegukan ditemani seorang namja lainnya yang jauh lebih tinggi. Namja tinggi itu berusaha menenangkan namja yang berstatus sebagai mantan muridnya itu.
"Kyung tenanglah." Kris mengelus punggung sempit Kyungsoo.
"YA! KAU PIKIR APA YANG ADA DIPIKIRANMU HAH?! RUMAHKU TERBAKAR HABIS BODOH! BAGAIMANA BISA AKU TENANG! NAMJA BODOH! PERGI KAU! PERGI KAU!"
Kyungsoo memukul-mukul tubuh Kris dengan sekuat tenaga. Membuat Kris meringis kesakitan karenanya.
Beberapa saat setelah sadar rumahnya terbakar, Kyungsoo langsung menghubungi Kris untuk membantu memecahkan permasalahannya. Yang pertama 'dimana dia akan tinggal sekarang?' yang kedua 'dimana dia harus menangis sekarang.'
Dan disinilah, di halte bis dekat apartement Kyungsoo yang telah hangus terbakar, Kris yang sudah rela-rela datang dan mengcancel acaranya kini malah diusir.
"Hue! Bantu aku!" Kris merasakan bahunya basah. Kyungsoo telah memeluknya erat sekarang. Menenggelamkan wajah sembabnya di bahu Kris.
"aku harus apa?" tanya Kris dengan memainkan ponselnya.
"Biarkan aku tinggal di rumahmu ya."
"KYUNGSOO!" Kris maupun orang yang dipanggil kini menoleh. Mendapati seorang namja berjas hitam menghampiri mereka. Nafasnya terlihat terengah juga dengan baju yang setengah basah.
"Itu-"
"Kim songsaengnim." Kris mendelik mendengar menuturan lirih Kyungsoo. Ia kembali mengarahkan pandangannya pada namja berkulit tan yang jaraknya tinggal 30 meter lagi.
"Bodoh! Apa yang terjadi hah? Kenapa sampai terbakar seperti itu?!" jitakan keras mengarah pada dahi Kyungsoo yang basah akibat keringatnya sendiri.
"Mana kutahu! Kata pak polisi sumbernya bukan dari flatku kok! Katanya ada kucing yang yang tidak sengaja menumpahkan minyak tanah ke lilin yang menyala. Dan sekarang kucing itu sudah mati terpanggang katanya."
"Benarkah?" Kyungsoo menatap Kris bosan sebelum menjitak namja yang lebih tua tersebut.
"Jiwa psikopat dilarang muncul disaat seperti ini! Dan juga! Ini salah Kim ahjusshi sendiri! Kenapa tidak membelikanku apartement yang lebih moderen? Yang bisa menyiramkan air itu loh waktu kena asap! Ini karna ahjusshi terlalu pelit!"
"Aku hanya melakukan prinsip ekonomi!" Kai berusaha membela diri.
"Tapi tidak seperti itu juga ceritanya. Coba kau bayangkan Kyungsoo tidak pergi keluar hari ini, mungkin dia sudah mati terpanggang di kamarnya yang bahkan untuk turun kebawah saja harus dengan tangga. Kau keterlaluan pelit Jong!"
Kai melirik ke namja sebelah Kyungsoo. Ia menatap dari bawah hingga atas namja tersebut.
"Kau? Kris kan?" tanya Kai ragu.
"Iya, dan apa kau tidak mau memeluk teman lamamu ini bung?" Kris merentangkan tangannya bermaksud menyambut pelukan hangat dari Kai.
"Tidak terima kasih. Aku masih trauma dengan ular yang biasa kau sembunyikan dibalik bajumu."
Kyungsoo menatap kedua namja itu dengan senyum mengembang.
"Kau kenal Kyungsoo dari mana?" tanya Kai setelah lama mengabaikan Kyungsoo yang ada di belakangnya.
"Kau ini bicara apa? Kyungsoo itu kan-"
Perkataan Kris terputus. Ia menatap Kyungsoo yang memberikan kode untuk tidak melanjutkan kata-katanya.
'kau-mati-setelah-ini!'
Kris meneguk ludahnya kasar melihat tatapan mata Kyungsoo.
"Kami teman dekat! Iya kan, Kris gege!"
Kyungsoo memeluk lengan kekar Kris saat menyadari gurunya itu sedikit bingung untuk berbicara.
"Jinjja? Wah dunia ini sempit sekali." Kai terkekeh pelan dengan tatapan membunuh kearah Kyungsoo yang masih bergantungan manja di lengan Kris. Hei lenganku juga sama kekarnya dengan dia, batin Kai.
"Kau sendiri bagaimana bisa bertemu Kyungsoo?" tanya Kris balik.
"Ah… Kyungsoo itu orang yang akan mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada istriku. Baekhyun kau ingat kan? Hah! Akhirnya setelah sekian lama aku mencari, dia datang di waktu yang tepat."
Kai tersenyum senang. Sementara itu Kyungsoo hanya bisa menunduk dan Kris yang wajahnya bahkan tak berekspresi. Ia menatap Kyungsoo dalam sebelum akhirnya memberikan ucapan selamat untuk Kai.
Sepersekian detik kemudian, Kris ijin membawa Kyungsoo sebentar. Menariknya ke sebuah pohon yang cukup rindang di pinggir jalan.
"Kau-"
"Apa? Bodoh? Terserah, ini hidupku songsaengnim! Jangan mencoba untuk mengaturku!"
Kris menghela nafas kasar. Tangannya mengepal kuat hingga memutih.
"Bagaimana bisa kau bertemu dengannya?" tanya Kris sambil berusaha menahan amarahnya. Ia tidak tahu mengapa ia bisa semarah itu. bukankah ia tak punya hubungan apa-apa dengan Kyungsoo? Tidak! Dirinya hanya merasa memiliki tanggung jawab atas Kyungsoo sebagai muridnya.
"Baekhyun hyung pasien dari ayahku. Dan secara tak sengaja aku menemukan datanya." Kyungsoo mengalihkan pandangannya kearah lain. Kemanapun asal tidak ke namja tinggi berambut pirang itu. sesekali pandangannya malah tertuju pada Kai yang tengah duduk di halte dengan ponselnya.
"Dan dengan mudahnya kau menyerahkan dirimu? Kemana otak cerdasmu hah?! IQ mu tidak jalan?"
"Aku hanya ingin membantunya songsaengnim. Dia sangat membutuhkannya."
"Kau hanya pikirkan dia! Lalu kau bagaimana?! Kau pikirkan dirimu sendiri, tidak? Kau punya alasan lain kan?"
Kyungsoo memberanikan diri menatap mata elang Kris. Dengan pancaran kesal, Kyungsoo mendorong tubuh Kris hingga membuka jalannya menuju Kai. Tapi tak seberapa langkahnya, Kris lebih dulu mencekal pergelangan tangan namja yang lebih muda.
"Aku hanya ingin membuktikan perkataanku tidak pernah main-main!" Kyungsoo menatap berani kearah Kris. Nada bicaranya juga lirih membuktikan bahwa dia benar benar serius. "Jika aku tidak bisa memilikinya, paling tidak salah satu organ tubuhku berada didalam tubuh orang yang ia cintai kan? Orang berwajah cantik, baik hati, berpendidikan tinggi, tapi sakit-sakitan. Akan kupastikan Kim songsaengnim mendapatkan orang yang paling sempurna di dunia ini. Walau nyawaku sekalipun harus hilang. Dan asal kau tahu songsaengnim, aku tidak memberikan tubuhku secara Cuma-Cuma. Aku menikah dengan Kim songsaengnim sebagai bayaran. Bagaimana? Cara yang bagus bukan?" Kyungsoo mengangkat tangan kanannya yang tersisipi cincin perak polos dari Kai.
"Kau menjual dirimu?"
Plak…
Kyungsoo menampar pipi Kris dengan keras. Meski tangannya kecil dan terkesan rapuh, tapi pipi Kris yang memerah membuktikan bahwa tangan itu begitu kuat memukulnya. Namja berambut pirang itu menatap Kyungsoo tak percaya.
"Kau tidak pernah diajari sopan santun hah? Aku lebih tua darimu!" Nada rendah Kris pun bahkan tak membuat Kyungsoo berhenti memandang namja didepannya dengan tatapan benci.
"Harusnya aku yang bertanya. Apa kau belum pernah ditampar seorang Pelacur? Jawabannya sudah bukan? Baru saja pelacur itu menamparmu."
Kyungsoo berjalan cepat kearah Kai setelah itu. Matanya sedikit memanas dengan apa yang dia lakukan. Jika dipikir lagi, benar. Kyungsoo tak ubahnya seorang pelacur dengan bayaran sebuah janji suci dari Tuhan.
Kris menatap kedua namja yang kini tengah berdialog secara serius. Percakapan yang panjang dan diakhiri dengan Kai yang mengangguk ogah-ogahan.
"Kris kami pulang dulu ya. Annyeong!" ucap Kai sedikit keras karna Kris tak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri semula.
Kris tetap disana. Menatap Kai yang memimpin jalan Kyungsoo masuk kedalam bis yang kebetulan berhenti.
Jantungnya terasa terpacu cepat. Rasa sesak tiba tiba hinggap hingga ia tak bisa bernafas dengan baik.
"You don't know love."
***KAISOO***
Flashback
Bruuk…
Tumpukan buku itu berakhir di atas lantai yang basah karena air hujan. Pemilik buku-buku itu hanya bisa menatap nanar. Pekerjaan rumah yang semalam ia kerjakan dengan susah payah, berakhir sia-sia dengan tinta yang luntur kemana-mana.
"M-Maaf. Aku sedang buru-buru tadi." Orang yang menabraknya kini tengah membereskan buku-buku yang berserakan itu. tak ketinggalan dengan selembar kertas tugas yang sudah tak berbentuk lagi.
"Kau menghancurkan tugasku." Pemilik buku itu kini menggigit bibir bawahnya sambil menahan air mata yang akan tumpah.
"Kumohon maafkan aku. Aku janji akan membantumu mengerjakan tugasmu lagi siang ini. Bagaimana?" sang pemilik buku itu menatap orang didepannya dengan heran.
"Kau siapa?" tanyanya.
"Ah! Namaku Kim Jongin. Guru yang akan magang di sekolah ini selama 2 bulan kedepan."
.
"Selesai!" Kyungsoo meregangkan otot-otot tubuhnya yang tegang karna terlalu lama duduk. Ia tersenyum pada seorang namja dewasa yang duduk didepannya.
"Terima kasih Kim songsaenim. Kau mau membantuku."
"Sama-sama. Lagi pula ini juga salahku." Kai mengusap rambut hitam Kyungsoo dengan lembut.
Sore yang cerah, dan kedua namja itu terje`bak didalam kelas dengan setumpuk tugas milik Kyungsoo yang meronta minta diselesaikan. Bias oranye sinar matahari menerpa keduanya yang duduk didekat jendela. Hingga merekapun sesekali bisa melihat pertandingan sepak bola antar kelas yang tengah berjalan.
Tangan Kyungsoo yang ada di atas meja tiba-tiba terasa hangat. Namja bermata bulat itu mengalihkan pandangannya dari lapangan menuju tangannya. Sebuah telapak tangan yang lebih besar dari tangannya kini meremas pelan jemarinya.
"S-Songsaengnim…" kegugupan langsung hinggap dalam diri Kyungsoo saat menyadari Kai memperpendek jarak diantara mereka.
"Kau sangat cantik."
Chup..
.
Kyungsoo meremas tangannya sendiri demi menghilangkan rasa gugupnya. Ia berjalan perlahan mendekati Kai yang asik memotret sekolahnya dari atap. hari ini adalah hari terakhir para guru magang berada di sekolah itu. Kyungsoo tidak bisa menyembunyikan perasaanya lebih lama lagi. Ia takut kecewa jika tidak dapat mengungkapkannya.
"S-Songsaengnim." Kyungsoo meremas ujung almamater Kai. Membuat sang pemilik berbalik dan menatap tubuh kecil Kyungsoo.
"Wae?"
"Aku menyukaimu!" Kyungsoo langsung menutup mulutnya yang tiba-tiba saja mengucapkan hal yang seharunya dia ucapkan pelan-pelan.
"A-Apa?"
"Ya. Aku menyukaimu. Sejak pertama kali kita mengerjakan tugas bersama di kelas waktu itu."
Kai menggaruk tengkuknya sebentar sambil berfikir.
"Maksudnya menyukai itu, kau mencintaiku begitu?"
"Iya."
Kyungsoo menundukkan kepalanya dalam untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Tapi sebentar kemudian ia mendongak kembali saat mendengar suara tawa dari seseorang didepannya.
"Hahaha… lucu sekali! Bagaimana, Bagaimana bisa kau menyukaiku jika aku saja tidak tahu siapa kau."
Kyungsoo membulatkan matanya. Tidak. Mengenalinya?
"A-Aku ini-"
Belum sempat Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya,
"Dengar ya. Aku tidak pernah mengenalmu, dan aku tidak sedikitpun tertarik pada seorang bocah ingusan berusia 14 tahun. Perasaanmu dan ucapanmu itu, tidak bisa dipercaya. Anak remaja sangat labil dan kau harusnya sadar akan hal itu. Dan lagi, aku sudah memiliki calon pendamping hidup. Maaf ya,"
Kyungsoo menangis sambil menatap Kai tak percaya. Langkahnya satu-persatu menjauh dari sang namja berkulit gelap.
Cklek…
"Kai, kau…" Namja itu menghentikan ucapannya saat melihat temannya tengah berhadapan dengan seorang namja kecil. Namja yang menjadi salah satu muridnya di kelas.
Namja itu, 'Kyungsoo' sekali melihat wajahnya, namja tinggi langsung mengenali bocah pendek itu.
Kris –Namja tinggi- dapat melihat air mata mengalir dari sudut mata Kyungsoo saat ia berlari melewatinya lalu turun ke bawah dengan pijakan berantakan.
"Apa yang kau lakukan?" Kris menatap Kai tajam. Sementara yang ditatap hanya diam lalu mengamati foto-foto dalam kameranya.
"Berengsek kau!" Kalimat terakhir Kris sebelum akhirnya meninggalkan Kai sendiri di atap.
Namja berkulit gelap itu memandang kameranya dengan smirk mengerikan di wajahnya. Tetesan air mengalir perlahan turun melewati smirknya itu.
"Kau gagal Kai. Gagal."
.
Kris mencarinya. Mencari seorang murid dengan kepribadian terunik yang pernah ia temukan. Walau tidak terlalu dekat, diam-diam Kris selalu memperhatikannya. Entah mengapa murid itu terlihat paling berbeda.
Ia menemukannya. Di sebuah lapangan basket indoor, Kyungsoo meringkuk di tempat duduk pojok sana. Entah apa yang dia lakukan, tapi melihat kesendiriannya, Kris yakin bocah itu tidak sedang baik-baik saja.
"Are you ok?"
Kyungsoo langsung mendongakkan kepalanya hingga membuat Kris dapat melihat jejak air mata di wajah putih itu.
"Kris Songsaengnim." Kyungsoo cepat-cepat menghapus sedikit air mata yang masih tertahan di pelupuknya.
"Kau menyebalkan! Ini hari terakhirku disini. Teman temanmu membuat perpisahan meriah untuk kami, sementara kau? Kenapa malah berdiam diri disini?" Kris berusaha berbicara se informal mungkin. Selama ini, ia harus bebicara formal pada seluruh muridnya jadi untuk yang satu ini terasa sangat canggung baginya.
"BODOH! JIKA KAU HANYA MAU MENGGANGGUKU PERGI SAJA SANA!" Kris membulatkan matanya. Ia tak menyangka sebegini hebatnya reaksi Kyungsoo saat ia menggunakan bahasa informal. Biasanya semarah apapun bocah itu, ia selalu menggunakan kalimat sopan juga dengan nada bicara yang biasa biasa saja.
"Aku hanya ingin membantu."
"Membantu apanya? Kau membuatku semakin sedih, guru idiot."
"Terserah kau mau mengataiku apa saja. Asal itu membuatmu lebih tenang mungkin itu bisa kuterima."
"JELEK! TIANG LISTRIK BERJALAN! BODOH! IDIOT! KALIAN SEMUA BODOH!"
.
Hening menyelimuti keduanya. Kris tak ada niat sedikitpun untuk bicara sementara Kyungsoo sepertinya sudah lelah untuk bicara –atau lebih tepatnya berteriak-
"Kenapa kalian tidak pernah mengerti perasaan kami?" gumam Kyungsoo yang ditujukan pada Kris.
"Maksudmu?"
"Sungguh aku benci kalian!"
Kyungsoo melemparkan tatapan tajam pada Kris sebelum pergi meninggalkan gurunya itu. remaja memang labil bukan? Mereka tidak tahu apa yang mereka katakan dan mereka lakukan. Setelah mereka sadar mereka melakukan kesalahan, penyelesaiannya adalah kabur.
.
Kyungsoo menjadi pendiam setelah itu. satu per satu temannya pergi karna dirinya yang tidak pernah mau bicara.
Kyungsoo tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri. 'Ini salahnya! Secara tidak langsung dia mengatakan bahwa perkataanku hanyalah bualan!' batin Kyungsoo.
Ketakutan Kyungsoo akan kehilangan semakin besar. Hal itu justru membuatnya tak berani berkata kata lagi. Khawatir teman teman disekitarnya tak mempercayainya, lalu menjauh. Seperti yang Kai lakukan padanya.
Pemikiran yang sempit dari seorang remaja.
***KAISOO***
12
Kyungsoo membuka matanya. Dinginnya pagi langsung menyergap tubuhnya yang berselimutkan selimut tipis milik Kai.
Karna kejadian kebakaran yang sangat tak terduga itu, Kyungsoo terpaksa –memaksa- tinggal bersama Kai dan Baekhyun. Dalam pikiran Kyungsoo, walau Kai pernah bilang tak mau menerima orang baru dalam rumah itu, tetap saja dia istri Kai kan?
Walau kamar tidur yang Kai berikan pun berada di pojok lantai 2 dengan debu dimana-mana. Tetap saja hal itu tak bisa membuat kebahagiaan Kyungsoo berkurang. Dalam hati, ia memuja muja Tuhan yang telah memberikan musibah itu padanya.
Dengan segera, Kyungsoo membasuh mukanya lalu turun ke bawah. Ia berencana untuk membuatkan Kai dan juga Baekhyun sarapan untuk membalas hutang budinya.
"Selamat pa-"
Sapaan Kyungsoo terputus saat melihat Baekhyun yang terhimpit meja dengan Kai yang menciuminya lembut. Dadanya berdesir cepat. Darah yang mengalir dalam tubuh serasa hilang entah kemana. Mati rasa untuk sesaat, Kyungsoo hanya bisa diam dengan tatapan lebar pada keduanya.
Baekhyun berontak kala menyadari Kyungsoo tengah menatap mereka.
"Ah! Maaf Kyungsoo-ssi kau jadi melihat hal-hal yang tidak enak." Ucap Baekhyun sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Untuk membunuh kebekuan waktu, Baekhyun segera menarik Kyungsoo duduk di meja makan.
"Makanlah kau pasti lapar. Sejak semalam kan kau belum makan." Kyungsoo menatap makanan didepannya dengan takjub. Untuk sementara, ia lupa dengan sakit hati yang baru saja menderanya.
Seketika pandangannya beralih pada Kai yang duduk tepat didepannya. Pikirannya melayang pada beberapa hari yang lalu dimana ia menyuguhi Kai dengan makanan ala kadarnya. Sangat berbeda dengan makanan mewah yang ada dihadapannya saat ini. Bukannya Kyungsoo kurang mampu, Hei! Ayahnya seorang dokter spesialis penyakit darah, ingat itu!
Mereka bertiga makan dengan tenang atau lebih tepatnya canggung. Kai bahkan tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
"Aku akan pergi dengan Kai hari ini. Kau mau titip sesuatu?" tanya Baekhyun.
Kyungsoo sontak menggeleng kuat. Ia menatap kai seakan bertanya mau kemana mereka? Tapi yang ditatap malah melencos.
"Kapan berangkat?" tanya Kyungsoo.
"Lima menit lagi. Menunggu Ahn ahjusshi menyiapkan mobil." Jawab Baekhyun tanpa menghilangkan senyuman dari wajahnya.
"Oh iya. Jangan menunggu kami jika mau tidur. Mungkin kami akan sedikit malam saat pulang."
"Ah iya. Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga mau pergi kok." Kyungsoo meringis sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Dia kehilangan kata-kata.
"Mau kemana?" tanya Kai. Akhirnya namja itu bicara juga, pikir Kyungsoo.
"Jalan-jalan bersama Kris gege." –mungkin- Ucap Kyungsoo yang sepertinya tidak ingin kalah dengan pasangan muda didepannya. Sifat kekanakannya mulai muncul.
"Kai ayo berangkat. Kami berangkat dulu Kyung, Annyeong." Pamit Baekhyun lalu menarik Kai keluar rumah dengan debamam pintu yang terdengar nyaring bagi Kyungsoo. Namja kecil itu jatuh terduduk dilantai bagai tak bernyawa. Hanya melihat hal yang wajar seperti itu saja sudah membuatnya lemas. Ia mulai ragu dengan dirinya sendiri. Kuatkah ia mengganggu kebahagiaan kedua orang itu? Lalu nasibnya yang diombang ambing. Tak diakui sama sekali. Apa gunanya menikah jika begini?
"Kris Songsaengnim main yuk." Kyungsoo menelpon Kris dengan nada manja. Namja itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan kejadian tempo hari yang sempat membuat mereka bertengkar.
"Kau ajak saja suamimu itu."
"Ayolah Songsangnim jangan bercanda. Tentu saja dia sedang berjalan jalan dengan istrinya saat ini."
"Kau kan juga istrinya. Berarti kau juga ikut kan?" Kyungsoo merasakan nada marah, sedih, malas, dan kesal menjadi satu dalam cara bicara Kris saat ini.
"Kalau tidak mau ya sudah!"
Kyungsoo langsung menutup sambungan ponselnya. Ia masuk kedalam kamar lalu mengganti bajunya. Tanpa Kris, dia juga bisa bersenang senang.
.
Kris hanya diam mendengar sambungan di ponselnya tertutup. Diletakkannya benda persegi itu di atas meja. Ia kembali berkutat pada tugas-tugas yang saat kuliah dulu pernah ia kerjakan. Sesekali senyum mengembang saat mendapati nilai tugasnya yang tak jarang mendapat C atau D.
Srek…
Sebuah map yang terselip di tumpukan tugas tugas itu terjatuh ke lantai. Mau tak mau pandangan Kris pun teralih pada benda berwarna coklat itu. saat benda itu dibuka, beberapa lembar foto ia dapatkan. Fotonya saat magang di sebuah sekolah bersama teman-temannya yang lain.
Satu persatu ia lihat foto foto yang sudah lama tak terjamah itu. terkadang raut wajahnya berubah menjadi ceria atau murung dalam sedetik kemudian. Kenangan-kenang yang sebenarnya hampir hilang dari dalam memori otaknya jika saja ia tak bertemu lagi dengan Kyungsoo. Ah iya Kyungsoo!
Saat pertama kali melihatnya, Kris menganggap Kyungsoo sebagai anak yang biasa biasa saja sama seperti muridnya. Terkadang ia tersenyum, terkadang bercanda, terkadang marah, dan beberapa saat sebelum mereka berpisah, Kris mendapatkan sebuah teriakan dan makian dari anak bermata bulat itu. Mungkin karna faktor umur yang jauh lebih muda, Kyungsoo sedikit lebih sulit bersosialisasi dengan kelasnya. Maka dari itu saat ia telah mengenal seseorang dengan lebih baik, ia tak akan sungkan menunjukkan sisi 4 dimensinya.
Kris mencari-cari foto dimana ada Kyungsoo didalamnya. Hasilnya nihil. Bahkan saat berfoto bersama dengan teman sekelaspun Kyungsoo tak terlihat sama sekali. Apa mungkin ia terlalu kecil atau memang namja itu tak berniat ikut berfoto.
Kris hingga saat ini masih tak bisa mendeskripsikan Kyungsoo secara yakin. Namja kecil itu terlalu rumit menurutnya. Jika Kyungsoo pernah menganggap Kris sulit ditebak maka Kris akan menganggap Kyungsoo seorang alien yang bahkan ucapannya pun tak bisa dicerna dengan baik.
"Anak itu-
.
.
Harus dipecahkan terlebih dahulu."
***KAISOO***
Kyungsoo berjalan dengan tak nyaman diantara lautan manusia di Myeongdong. Rencananya ia akan cari baju untuk mengganti baju bajunya yang terbakar tempo hari. Beberapa kali tubuhnya hampir jatuh karna ditubruk oleh orang orang dari segala arah. Sudah sangat terlambat untuk berbalik arah.
'eomma bantu aku.'
Grep…
Pergelangan tangannya digenggam oleh seseorang. Tubuh Kyungsoo yang tertarik bagai magnet langsung mendarat didepakan seseorang yang menggenggam tangannya itu. sang namja kecil dapat menghirup aroma tubuh orang itu. maskulin tetapi terasa manis.
'Eomma terima kasih kau mendengar doaku. Tuhan terima kasih. Berkatilah ibuku selalu.'
"Mau sampai kapan diam? Kita harus segera pergi dari sini."
Kyungsoo mendongakkan kepalanya. KRIS!
Tanpa satu katapun keluar dari bibir kissable Kyungsoo, Kris telah lebih dulu menarik tangannya dengan erat. Mungkin takut bocah kecilnya itu hilang ditengah ombak manusia.
Ssetelah sampai ditempat yang tak terlalu ramai, barulah Kris melepaskan genggamannya itu. kini matanya menatap Kyungsoo yang juga menatapnya dengan lucu.
"Wae?" tanya Kris.
"Kenapa kau disini?" tanya Kyungsoo.
"Tidak boleh? Aku hanya tidak ingin melihat televisi esok pagi dengan berita kehilangan anak berusia 19 yang bertubuh 13 tahun."
"Apa maksudmu dengan itu? dan tadi pagi kau juga menjawab telponku dengan ketus tapi sekarang kau mengikutiku!"
"Jangan terlalu GR. Aku hanya ingin jalan-jalan dan kebetulan melihat anak TK tersesat di kerumunan. Jadi kutarik anak itu kesini?"
"Kau menyebutku anak TK?! SIALAN!"
"Ya! Kubilang jangan GR! Anak ini ketakutan!" Kyungsoo menatap kebawah dan melihat seorang anak kecil tengah bersembunyi di balik kaki panjang Kris. Astaga mengapa ia tidak menyadari anak itu sedari tadi.
"AH! Hyung cantik yang waktu itu ya?!" Mata anak kecil itu terbuka lebar. Ia memandang Kyungsoo dengan wajah yang riang khas anak TK.
"Ah! Kamu minnie kan ya?"
"Eum!" Minnie ah tidak Minseok mengangguk lucu.
.
Matahari bersinar terang walau udara musim dingin tetaplah dingin. Kini mereka bertiga tengah duduk di rerumputan sebuah taman yang sedikit tertutup salju. Seluruh bangku taman telah kosong dan tikar yang biasanya disewakanpun telah habis. Terpaksa keluarga –ehem- kecil –ehem- itu duduk di rumput rumput sambil berbincang. Atau lebih tepatnya Kyungsoo dan Minseok yang berbicara panjang kali lebar hingga Kris telah berbentuk kotak sekarang (?)
"Aku cenang ketemu hyung lagi. Waktu itu kita gak banyak bicala ya. Habis ada Dae sih." Minseok berkata dengan riang di pangkuan Kyungsoo
"Ah! Dae itu yang kamu kejar waktu itu kan ya?" Minseok mengangguk antusias.
"Oh ya. Kata Bang congcaengnim, Hyung cantik mau jadi gulu di cekolah minnie ya?!" Minseok menggoyang goyangkan tubuhnya kakanan kekiri.
Kris membulatkan matanya pada Kyungsoo. Tak percaya.
"Apa mau mengejekku ya? Huh, begini begini aku bisa mengajar dengan baik tahu!"
"Ne Minnie-ah. Tapi hyung cantik gak tahu kapan mulainya."
"Hpm! Kau mengatai dirimu sendiri dengan hyung cantik? Menggelikan!" Kyungsoo langsung melempar deathglare gagalnya pada Kris yang masih berusaha menahan tawa.
Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada Minseok yang rupanya kini tengah menatap kearah lain. Kyungsoo mengikuti arah pandangan Minseok karna heran.
"Minnie belum pernah cium bibir Dae kaya gitu."
"GYAA!" Kyungsoo langsung menutup mata Minseok dari adegan tak senonoh didepan sana.
Kris itu terkejut dengan teriakan Kyungsoo lalu menunjuk seorang santa claus gendut yang tengah berfoto dengan anak anak di pusat taman.
"SANTA!" Minseok langsung bangkit dari pangkuan Kyungsoo lalu berlari kearah santa itu.
"Ya! Minnie jangan lari! Ini licin!" Kris mengingatkan sambil ikut berdiri.
Gedebuk… (?)
Belum sempat 5 detik, bocak TK itu benar benar jatuh terjerembab. Dengan cekatan Kris membantu anak itu untuk berdiri.
"SANTA!" tak dapat dipercaya. Minseok langsung melanjutkan larinya mendekati sang santa. Tidak peduli dengan darah yang sedikit mengalir dari hidungnya.
Semangat anak kecil itu membuat Kris teringat pada Kyungsoo. Oh iya Kyungsoo.
Kris menoleh kembali ketempat nya dan Kyungsoo duduk. Namja bermata belo itu tak beranjak dari duduknya dan tengah menatap orang yang telah berbuat hal tidak senonoh didepan umum tadi. Bukannya tidak menyadari, sungguh Kris sangat sadar bahwa itu Kai juga Baekhyun hanya saja tidak mungkin kan ia bilang 'itu Kai dan Baekhyun.' Tentu hal itu akan membuat Kyungsoo sakit hati semakin cepat.
"Kyungsoo!"
Namja itu tersentak kaget lalu memandang Kris yang memasang tatapan stay coolnya. Ia memberi isyarat pada Kyungsoo untuk mendekat. "Minseok sendirian disana. Ayo."
Kyungsoo mengangguk lalu berdiri. Ia menoleh beberapa detik ke arah suaminya sebelum berjalan cepat kearah Santa Claus yang terkikik geli karna digelitiki oleh Minseok.
"Hyung cantik ayo poto ya ya… Hyung tampan juga. Ayo poto belcama." Minseok menarik narik tangan Kyungsoo mendekat kearah Kris yang sudah berada di samping santa claus.
"Baiklah baiklah! Ayo Foto!" Semangat Kyungsoo telah kembali. Ia menyerahkan ponselnya pada seseorang pengunjung yang kebetulan dengan senang hati mengabadikan mereka. Begitu pula dengan Kris, ia juga menyerahkan ponselnya pada orang itu.
"Minnie mau gendong Hyung tampan ya!" Minseok menarik-narik celana panjang Kris. Tanpa banyak bicara, namja tinggi itu langsung menggendong Minseok.
Kyungsoo dan Kris berdiri mengapit santa sementara Minseok ada di dekapan hangat Kris.
Cklek…
Cklek…
"Sudah!" pemuda yang mengambilkan gambar itu mengacungkan jempolnya.
"Telima kacih santa." Ucap Minseok dengan bibir yang terangkat.
Kris mendekati pemuda yang tadi mengambil foto.
"Bisakah kau ambil foto kami sekali lagi? Lewat ponselku saja."
"Baiklah." Kris menerima ponsel milik Kyungsoo lalu menarik namja yang 7 tahun lebih muda itu mendekat bersama dengan Minseok.
"Ini ponselmu. Ayo kita foto sekali lagi." Ucap Kris.
"Hah?" Kyungsoo masih tak konsentrasi hingga samar samar mendengar perkataan kris.
"Kau, aku, Minseok. Berfoto bersama."
Kyungsoo mengangguk setuju. Tanpa sengaja pandangannya mengarah pada Kai dan Baekhyun yang entah bagaimana telah menatapnya dan Kris. Dengan rasa cemburu yang membara, Kyungsoo…
Kris menggendong Minseok lalu mendekatkan tubuhnya lebih dekat dengan Kyungsoo.
"Bersiaplah." Ucap sang pemuda.
Kyungsoo langsung memeluk tubuh Kris dan Minseok sekaligus.
"Whoa bagus! Sekali lagi." Semakin membara, Kyungsoo berjinjit.
Cup..
Cklek..
Kris masih dengan senyum manisnya, Minseok terkejut, dan Kyungsoo yang masih mencium pipi Kris.
"Kalian sangat serasi! Yeobo sudah ambil gambarnya?" tanya sang pemuda pada seorang yeoja disampingnya.
"Tentu saja."
Setelah Kyungsoo menjauhkan bibirnya dari pipi Kris, barulah namja pirang itu menatap tak percaya pada namja yang lebih muda.
"Whoa! Kita cepelti kelualga. Hyung cantik mamanya, hyung tampan papanya, dan aku anak yang cimit-cimit. Becok, Hyung cantik halus nikah cama hyung tampan ya. Telus buat anak yang seimut minnie."
Kyungsoo hanya tersenyum canggung mendengar perkataan Minseok. Wajahnya memerah hingga telinga. Ah! Sifat kekanakannya muncul disaat yang tidak tepat. Mudah terpancing amarah.
"Ini ponslemu tuan." Kris menerima ponselnya lalu mengucapkan terima kasih. "Ada satu hal lagi. Bolehkah, kami menggunakan foto kalian untuk pameran fotografi?" tanya sang pemuda sambil mengacungkan kamera SLRnya.
"Apa?" tanya Kyungsoo yang lagi lagi disconnect.
"Maaf kami mengambil fotonya tanpa ijin. Tapi sungguh, foto ini terlihat sangat alami dan menunjukkan kehangatan keluarga yang sesungguhnya. Kami mohon."
Pasangan itu membungkukk 90 derajat dihadapan Kris juga Kyungsoo yang tertawa canggung.
.
"EOMMA!" Minseok berteriak pada seorang wanita yang terlihat sangat khawatir.
" Anda orang tua Minseok ya?" tanya Kyungsoo.
"Ah iya. Maaf sepertinya anakku merepotkan kalian. Sekali lagi maafkan aku." Perempuan itu membungkuk berkali kali.
"Tidak apa-apa. Tapi lain kali perhatikan anakmu dengan lebih baik ya." Ucap Kris dengan senyuman yang sebenarnya meluluhkan hati wanita itu.
"I-Iya maafkan aku. Terima kasih. Minnie ayo bilang terima kasih."
"Hyung tampan, hyung cantik. Telima kacih cudah bantu minnie hali ini. Cemoga kita bisa beltemu lagi."
"Lain kali selalu pegang tangan ibumu kalau di tempat ramai ya." Kris mengusak rambut Minseok pelan.
Kyungsoo tersenyum simpul penuh makna. Jiwa Kris sepertinya memang Tuhan ciptakan untuk menyayangi anak kecil.
"dadah Hyung!" Minseok melambaikan tanggannya sebagai tanda perpisahan.
"hah… seandainya suatu hari nanti aku bisa mempunyai anak seperti Minseok." Ucap Kyungsoo sambil mengikuti Kris yang berjalan ke motor sportnya yang terparkir rapi ditempat parkir.
"Jangan banyak berharap selama kau masih bersama Kai. Jika kau bersamaku, baru kupastikan kau akan memilikinya."
.
"Itu Kris kan?" Kai mengalihkan pandangannya menuju arah yang ditunjukkan Baekhyun.
Kris tengah menggendong seorang anak didekat santa claus. Dan Kyungsoo diseberangnya.
"Iya." Jawab Kai seadanya lalu menyuruput sedikit kopinya. Tatapannya kini mengarah pada pertokoan yang berderet rapi diseberang jalan. Kemanapun ia menatap asal tidak kearah 'istri'nya yang bermesraan dengan namja lain di depan matanya sendiri.
"Ah… mereka seperti keluarga, Jong. Seandainya kita juga bisa seperti itu." Kai mengalihkan pandangannya lagi pada Kyungsoo karna merasa penasaran. Ia meneguk ludahnya kasar saat melihat Kyungsoo yang memeluk Kris dengan erat seperti Baekhyun memeluknya. Setidak cinta apapun Kai padanya, tapi harusnya Kyungsoo tahu dong batasan-batasan sebagai seseorang yang telah memiliki pasangan.
Cup…
Kini Kai membulatkan matanya saat Kyungsoo tiba-tiba mencium pipi Kris dengan lembut.
'Damn!'
Kilatan marah tercetak jelas di mata namja 2 orang istri itu.
"Baek, ayo pergi." Kai menarik tangan Baekhyun setelah membuang gelas kopinya yang telah kosong.
"Mau kemana?"
"Kemanapun. Kita bersenang-senang hari ini."
.
***KAISOO***
Kyungsoo memeluk tubuh Kris erat. Matanya terpejam karna ketakutan. Sungguh, Kris tidak memacu motornya sekencang itu, hanya saja Kyungsoo terlalu takut jatuh dan juga faktor tidak menggunakan helm. Namja pirang itu sedikit harus mengeluarkan tenaga ekstra hanya untuk bernafas. Jika saja namja yang tengah memeluknya itu bukan mantan muridnya, mungkin dia telah meninggalkan Kyungsoo sedari tadi.
Kris menghentikan motornya di basement apartementnya.
"Hey turunlah." Kris menggoyang goyangkan tangan Kyungsoo yang masih mendekapnya erat. Namja yang lebih muda tak sedikitpun merespon membuat Kris mendesah lelah.
"Hey anak muda, dia tertidur." Ucap seorang yeoja paruh baya yang baru saja keluar dari mobilnya. Yeoja itu menunjuk Kyungsoo yang bernafas dengan teratur.
"Anak kecil…"
Dengan susah payah, Kris mencoba melepaskan tangan yang mendekapnya erat lalu turun dari motor sambil menjaga tubuh Kyungsoo agar tidak terjatuh. Dengan sekali gerakan, Kris langsung menggendong Kyungsoo ala bridal lalu berjalan ke lift yang akan mengantarkannya menuju apartement.
Sedikit kesusahan, tetapi Kris berhasil mencapai apartemenynya dengan selamat sehat sentosa (?)
Dibaringkannya tubuh kecil Kyungsoo ke tempat tidur dalam kamarnya. Kris mendesah kecil sebelum akhirnya keluar kamar dan membiarkan Kyungsoo kedinginan begitu saja dengan jendela kamar yang terbuka.
.
Suara isakan itu membuat Kris tiba tiba terbangun dari tidur tak elitnya di sofa. Sedetik bulu kuduknya merinding tapi setelah itu ia sadar bahwa isakan itu berasal dari kamarnya. Kamar yang tengah ditempati Kyungsoo.
Dengan sedikit malas, Kris beranjak dari sofa lalu mengecek apa yang sedang dilakukan Kyungsoo dalam kamarnya hingga menangis.
"S, Songsaengnim…"
.
Ting Tong
Bel rumah Joonmyeon terdengar sesaat setelah dirinya menyamankan diri ditempat tidur. Dengan sabar dan menahan kantuk, Joonmyeon berjalan cepat kearah pintu rumah. Siapa bertamu malam malam begini? Pikir Joonmyeon. Pikiran Joonmyeon mengarah pada pasien yang mungkin saja dalam keadaan darurat.
Cklek…
Sepersekian detik setelah Joonmyeon membuka pintu, ia merasakan kehangatan menjalar diseluruh tubuhnya. Melindunginya dari angin malam musim dingin yang sangat menusuk.
"Appa aku merindukanmu!" barulah Joonmyeon sadar, kehangatan itu berasal dari putra semata wayang yang kini memeluknya. Joonmyeon tersenyum simpul lalu membalah pelukan Kyungsoo tak kalah hangat.
"Kau semakin kurus saja." Bisik Joonmyeon.
Kyungsoo melepaskan pelukannya lalu menatap heran ketubuhnya.
"Benarkah? Benarkah Kris ge?" dan satu lagi hal yang Joonyeon sadari. Kyungsoo tak datang sendiri.
"Annyeonghaseo ahjusshi." Sapa Kris pada Joonmyeon dan mengabaikan Kyungsoo.
"Huh! Gege menyebalkan. Ayo appa kita masuk!" Kyungsoo menggandeng tangan ayahnya lalu mengajak pria paruh baya itu masuk lebih dalam kedalam rumah hangat itu. meninggalkan Kris yang masih berdiri didepan pintu.
"Kenapa songsaengnim masih disitu? Mau mati membeku huh?" dan giliran Kris yang diseret masuk.
Kris tak habis pikir pada Kyungsoo. Ada saja hal hal yang tak bisa ia tebak dari bocah tengil itu. tengah malam dan Kyungsoo menangis merengek ingin bertemu ayahnya. Dia pikir tidak ada lain hari apa? Tapi Kyungsoo tak putus asa membujuk gurunya itu untuk mengantar. 'ini natal dan aku bisa berharap apapun!' kalimat skakmat untuk Kris yang sejak awal memang tak bisa ditolak.
"Appa, ini natal dan kau tidak menghias rumahmu huh?"
"Kau tahu appamu ini sudah terlalu tua untuk merayakan hal seperti itu." Joonmyeon mengajak kedua namja itu duduk di ruang tengah.
"AH! Menyebalkan. Padahal aku kesini malam malam hanya untuk mengambil hadiahku." Kyungsoo mengerucutkan bibirnya imut.
"Kyung berhentilah bersikap kekanak kanakan. Ya sudah, aku siapkan minuman dulu. Ngobrollah berdua."
Belum sempat Joonmyeon berdiri, Kyungsoo telah menghentikannya dan menawarkan diri untuk membuat minum. Akhirnya Joonmyeon hanya mengangguk lalu kembali duduk disamping Kris yang sedari tadi diam.
Hening menyelimuti ruangan itu. Kris mencoba untuk mencari topik yang enak dibahas dengan pria paruh baya itu, tetapi sepertinya ia kahilangan kata-kata.
"Kau siapanya Kyungsoo" tanya Joonmyeon yang akhirnya mengetahui kegelisahan Kris. Pria bermarga Kim itu juga kurang suka dengan suasana canggung seperti tadi.
"A-Aku gurunya, ahjusshi."
"Benarkah? Seingatku, Kyungsoo tidak punya guru semuda dirimu. Sepulang sekolah ia selalu bercerita seberapa galak dan jelek guru guru tua di sekolah itu."
"Hahaha… aku hanya magang sebentar disana,"
Joonmyeon mengangguk mengerti.
"Sebenarnya aku sedikit kecewa rupanya kau bukan temannya." Kris tersenyum pahit. Ia mengerti keadaan Kyungsoo yang jarang memiliki teman. "Aku takut sekali. Bagaimana nasib anakku besok saat aku sudah pergi? Dia sama sekali tidak bisa bersosialisasi dengan orang baru dan itu membuatku cukup frustasi. Jika dipikir lagi, aku lebih suka Kyungsoo ku yang berandalan saat sekolah dasar dari pada dirinya yang terlihat lemah seperti sekarang."
"Dia tidak selemah itu kok."
"Aku tahu. Dia akan terlihat kuat jika bersama orang orang yang benar benar dekat dengannya. Kupikir aku tidak akan khawatir lagi karna sudah ada kau disampingnya."
Mata Kris membulat. Apa maksudnya dia dipercaya untuk menjaga bocah itu?
"Mengapa anda bilang begitu. Dia sudah memiliki suami yang akan menjaganya."
Joonmyeon tersenyum kecut. Ia memandang kosong kedepan seperti menerawang sesuatu.
"Apa aku bisa, percaya dengan orang yang hanya akan membuat anakku lebih menderita? Kurasa tidak." Joonmyeon tersenyum. Ia menyesal dengan mengijinkan niatan Kyungsoo yang sudah dilewat batas 2 bulan lalu. Tapi sungguh, jiwa ke-ayahannya tidak bisa membiarkan Kyungsoo terus merengek dan mengancam untuk mengurung diri di kamarnya.
'Ayah macam apa aku ini?'
Beberapa saat kemudian Kyungsoo datang dengan 3 mug coklat panas diatas nampan.
"Kalian membicarakan apa tadi? Serius sekali." Kyungsoo duduk menengahi Kris dan Joonmyeon lalu menyeruput coklatnya.
"Kami hanya berbincang sedikit mengenaimu, benarkan Ahjusshi?"
"Iya. Tentang Kyungsoo yang sangat sulit diatur."
"MWO?! Kalian bersekongkol dibelakangku huh?!"
Malam itu terlewati dengan senyuman dan kegembiraan untuk ketiganya. Malam –setelah- natal terindah yang pernah mereka miliki mungkin.
Kyungsoo akhirnya bisa banyak bicara pada ayah juga orang asing bernama Kris. Joonmyeon dapat melihat wajah tersenyum Kyungsoo setelah sekian lama. Dan Kris akhirnya sedikit demi sedikit mulai tahu segala hal tentang Kyungsoo.
***KAISOO***
13
Kai bangun dari tidurnya saat sinar matahari sudah bersinar sangat terang. Ia meraba tempat tidur disebelahnya. Kosong. Baekhyun telah hilang tanpa membangunkannya terlebih dahulu.
Namja berkulit tan itu keluar dari kamarnya dengan keadaan topless. Ia mengelilingi rumahnya untuk menemukan sang istri yang entah pergi kemana pagi-pagi begini.
"Pagi Kai." Kai menoleh keluar dan menemukan Baekhyun tengah memandang taman di belakang rumah. Sebuah tempat yang sebenarnya tidak pernah tersentuh oleh tangan seorang Kim Jongin.
"Sedang apa disini?" tanya Kai. Ia mendudukkan diri disebelah Baekhyun yang kembali menatap taman itu.
"Menikmati sinar matahari. Dari pada kau yang hanya tidur di kamar seharian."
Kai mendengus kesal. Membuat kepulan uap keluar dari mulut dan hidungnya.
"Musim dingin tidak baik untuk kesehatan. Ayo kita masuk dan minum minuman hangat." Namja yang lebih muda berusaha menggiring namja satunya untuk masuk. Tangannya mengusap-usap tangan pasangannya agar sang pasangan merasa hangat.
"Mungkin kalau ditaman ini diberi sedikit bunga, akan terlihat lebih indah."
"Iya. Tapi yang penting sekarang kita masuk dulu. Aku tidak mau kau sakit, Baek."
"Iya suamiku yang tampan. Kita masuk sekarang."
Kai tersenyum puas. Ia menutup pintu belakang sebelum akhirnya berjalan dibelakang sang istri.
"Oh iya. Kyungsoo kemana ya? Sejak kemarin pagi kita tinggal, sampai sekarang belum terlihat ada dirumah."
Kai terdiam sesaat. Bagaimana bisa ia melupakan istri yang satunya. Entahlah, tapi sejak kejadian di taman kemarin, moodnya terhadap Kyungsoo berubah drastis. Rasanya ingin sekali tangannya ini menarik Kyungsoo pulang. Tapi itu tidak mungkin karna kencannya dengan Baekhyun kala itu. sebenarnya di kenapa? Cemburukah?
"Akan kucari nanti."
***KAISOO***
"Songsaengnim ireona! Sudah jam setengah 8. Songsaengnim!" Kyungsoo menggoncangkan tubuh Kris yang tertidur diatas karpet rumahnya. Namja bermata bulat itu terlihat gelisah. Sekarang bukanlah hari libur dan sudah pasti Kris ada jadwal mengajar di sekolah. Kyungsoo merasa bersalah merengek seperti anak kecil pada Kris semalam. Kenapa ia tidak memikirkan Kris yang tidak libur keesokan harinya?
"Ya! Songsaengnim! Muridmu sudah menunggu!"
Kris terkesiap. Ia langsung menegakkan tubuhnya kala mendengar teriakan Kyungsoo yang menggema di ruangan itu.
Duak…
"Aw…"
"Aduh…"
Kyungsoo memegangi dahinya yang sukses membentur dahi lebar Kris. Seharusnya Kyungsoo tidak memposisikan kepalanya diatas kepala Kris tadi.
"Bisakah kau membangunkanku dengan cara yang lebih halus. Aduh… sakit sekali." Kris mengusap dahinya kasar lalu menatap Kyungsoo yang masih kesakitan. "G-Gwenchana?"
Kyungsoo mengangguk kecil. Tapi Kris tidak semudah itu percaya. Ia langsung menyikap poni rambut Kyungsoo lalu memeriksa dahi namja yang lebih kecil itu. terlihat sedikit memerah dibagian dahi kanan Kyungsoo.
"Nan Gwenchana! Cepat mandi. Kau harus mengajar hari ini."
Kris masih tidak ingin beranjak dari tempatnya. Ia masih menatap Kyungsoo yang masih meringis kesakitan.
"Aku bilang aku baik-baik saja bodoh! Cepat mandi sana!" Kyungsoo mendorong tubuh Kris agar lebih cepat masuk kedalam kamar mandi yang ada di dekat dapur. Disana Joonmyeon tengah menyesap kopinya dengan koran ditangannya.
"Annyeong ahjusshi." Sapa Kris sebelum masuk kedalam kamar mandi.
"Appa dahiku merah. Minta obat dong."
Joonmyeon menatap anaknya khawatir. Ia hendak bertanya tetapi tatapan Kyungsoo sangat menjelaskan bahwa dia tidak ingin diusik.
"Ne."
***Kaisoo or Krissoo***
Kai berusaha menelpon Kris. Tapi sambungannya selalu terhubung dengan operator bersuara menyebalkan. Ia ingin menanyakan keberadaan Kyungsoo tetapi sepertinya ia harus mengundur hal itu. ia menatap jam dinding yang menunjukkan jam 10. pasti sedang mengajar batin Kai.
Terkadang, Kai merasa rindu terhadap kehidupannya yang dulu. Kesempatan yang diberikan oleh orang tuanya telah ia sia-siakan. Awalnya perusahaan ini akan menjadi milik kakak Kai, karna Kai memutuskan untuk mengabdi pada negara. Menjadi seorang guru. Tapi karna Baekhyun, ia melepaskan impiannya. Hidupnya dengan Baekhyun akan sulit jika ia memilih menjadi seorang guru yang gajinya pun tak tetap di awal.
Tidak. Kai tidak menyesal menikah dengan Baekhyun. Hanya saja, sering sekali ia merasa usahanya dulu sia-sia.
Kai kembali pada pikirannya waktu ini. Setumpuk dokumen yang siap untuk ditanda tangani telah tertumpuk rapi diatas meja kerjanya. Sedikit peregangan lalu Kai mulai membaca dokumen itu satu persatu.
Belum satu jam ia berkutat dengan dokumennya, pintu ruangan telah diketuk oleh seseornag.
"Tuan Kim, ada seseorang ingin menemui anda." Sekertaris Hwang masuk kedalam kantor Kai dengan seorang laki-laki dibelakangnya.
"Annyeong songsaengnim."
"Kau…"
.
Kyungsoo masuk kedalam taman bermain sederhana itu. ia mencari-cari keberadaan Minah diantara para anak TK yang tengah beristirahat.
"Kyungsoo kau datang juga." Kyungsoo membalikkan badannya dan mendapati Minah tersenyum cerah terhadapnya.
"Tentu saja! Aku sungguh-sungguh ingin jadi guru kalau kau mengerti!"
"Kalau begitu langsung saja kita bertemu dengan Yura eonnie. Kajja!"
Minah memimpin langkah mereka kesebuah ruangan kecil di sebelah kelas yang tidak terpakai. Wanita itu membuka pintu kusam itu dengan perlahan.
"Yura eonnie." Panggil Minah dengan nada rendahnya.
"Minah. Ada perlu apa kemari?"
"Kyungsoo sudah datang." Kata Minah lalu menarik Kyungsoo kedalam ruangan sederhana itu.
"Annyeonghaseo. Kim Kyungsoo imnida." Kyungsoo membungkukkan tubuhnya 90 derajat dihadapan Yura.
"Annyeong Kyungsoo-ssi. Panggil aku Yura noona mulai sekarang ya." Yura tersenyum.
Hening beberapa saat. Hingga Yura kembali bertanya apa yang bisa Kyungsoo ajarkan untuk anak-anak didiknya.
"Aku bisa menggambar walau tidak terlalu bagus. Aku juga bisa menghitung dengan baik. Sedikit bernyanyi dan juga yang terpenting aku sangat suka anak-anak." Jawaban Kyungsoo lebih terdengar seperti perkataan anak TK di telinga Yura.
"Baiklah. Mulai sekarang kau bantu Minah mengurus kelas. Menjaga mereka agar tetap tenang dan tidak berkelahi."
"Iya! Tentu saja!"
"Oh dan satu lagi Kyungsoo-ssi. Hari sabtu, sekolah ini tidak libur."
.
Kris tak berkonsentrasi dalam mengajar. Ia memilih untuk memberikan soal-soal pada siswa-siswinya dari pada salah saat menjelaskan. Ia duduk di bangku guru dengan pandangan gusar menatap langit-langit. Beberapa saat kemudian, ia memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening.
Kyungsoo. Kyungsoo. Kyungsoo. Seseorang yang tidak istimewa –pada mulanya- sama sekali di hidupnya. Tapi mengapa orang itu menghantui otaknya beberapa hari ini. Bahkan sesaat, ia tak menyadari bahwa Tao telah menggigit kakinya tadi pagi. Ular itu sepertinya kurang diperhatikan sejak ada Kyungsoo.
Kyungsoo. Laki-laki itu membuatnya sakit jiwa. Dalam sedetik, ia merasa jantungnya berdetak lebih kencang dengan rasa yang menyenangkan. Tapi detik kemudian, rasa sesak menghampirinya. Ia tahu Kyungsoo bukan lagi seorang laki-laki 'bebas'. Ia telah dimiliki. Oleh temannya sendiri.
"Songsaengnim kenapa?" bisik seorang murid yang duduk tepat didepannya.
"Aniyo. Cepat kerjakan tugasmu." Ucap Kris dingin.
"Ah! Songsaengnim jatuh cinta ya?" Kris melotot kearah siswa itu.
"Diam. Dan kerjakan!"
.
Baekhyun mengelilingi pusat perbelanjaan Myeongdong. Ia melirik kekanan kiri jalan. Berusaha menemukan pakaian yang tepat untuk Kyungsoo. Ya, Kyungsoo.
Entahlah, walau mereka belum terlalu mengenal satu sama lain, tapi Baekhyun merasa harus memberikan sesuatu pada namja bermata bulat itu. belum lagi kemarin, ia melihat tubuh Kyungsoo yang tenggelam dalam pakaian Kai yang ukurannya besar.
Matanya berbinar saat melihat tulisan diskon 50% disebuah toko baju. Dengan begini bisa beli banyak untuk Kyungsoo batin Baekhyun.
.
1 jam sudah Baekhyun mengelilingi toko itu. 5 stel pakaian untuk Kyungsoo telah ia dapat.
Baekhyun melangkahkan lagi kakinya menyusuri jalanan Myeongdong yang semakin ramai siang itu. butiran-butiran salju mulai turun dari langit, membuat Baekhyun berusaha menemukan tempat yang tepat untuk berteduh.
Deg…
Darahnya berdesir cepat. Matanya berair menatap objek yang tertutup kaca bening café itu.
"Andwe! Kumohon jangan!"
.
"Aku pulang." Ucap Kyungsoo dengan nada tinggi saat memasuki rumah –Kai dan Baekhyun-
Ia menatap ke ruang tengah yang sepi. Suara isakan terdengar samar ditelinganya.
Kyungsoo menapakkan kakinya hati-hati mengikuti arah suara itu. dalam hati ia menebalkan keberaniannya untuk menghadapi kemungkinan terburuk –hantu-.
Kyungsoo berhenti saat berhadapan dengan pintu coklat. Pintu kamar Kai dan Baekhyun. Tangannya bersiap untuk memutar knop pintu, tapi keraguan masuk kedalam dirinya. Namja itu memutuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
"B-Baekhyun hyung? Kau kah disana?"
Kyungsoo tak mendengar jawaban dari namja yang tak kalah kecil dengannya di balik pintu. Samar, ia malah mendengar suara langkah kaki diikuti dengan perasaan hangat dalam sekejap.
Baekhyun memeluknya.
"Aku takut Kyung. Bantu aku!"
Kyungsoo ingin sekali melepaskan pelukan itu. Tapi tidak mungkin, namja didepannya terlampau terlihat rapuh.
"Ada apa hyung?" tanya Kyungsoo lembut. Tangannya dengan berani mengusap punggung Baekhyun yang bergetar.
"Aku takut Kai akan meninggalkanku."
.
Deru mesin mobil baru terdengar pukul sebelas malam di kediaman keluarga Kim. Kai membuka pintu rumahnya lalu melepas sepatunya dengan asal. Kebiasaan yang tak pernha hilang hingga sekarang.
Namja itu menyalakan lampu ruang tengah yang terasa terlalu mencekam kala gelap.
"Dari mana saja?"
Kai berusaha menahan teriakannya karna kaget. Kyungsoo telah ada dihadapannya seperti hantu saat ini. Rambut berantakan dan mata yang memerah.
"Bukan urusanmu! Baekhyun sudah tidur?" Kai berjalan meninggalkan Kyungsoo yang menatapnya geram. Namja bertubuh lebih kecil mencengkram lengan Kai lalu membalikkannya dengan kasar.
"Ini memang bukan urusanku! Lalu kenapa? Aku hanya bertanya pertanyaan yang seharusnya ditanyakan Baekhyun. Jawab sekarang!" Kyungsoo merendahkan nada suaranya. Terdengar dingin namun penuh amarah bagi Kai.
"tentu saja bakerja. Aku harus bekerja 2 kali lipat lebih keras dari biasanya. Kau tidak ingat posisimu saat ini Kyungsoo-ssi?"
"Pembohong besar! Selama ini, kau bermain dibelakang Baekhyun kan?"
"Kau ini bicara apa? Aku lelah. Jangan ganggu aku!"
Kai menghempaskan tangan Kyungsoo kasar lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia tak mempedulikan Kyungsoo yang rupanya mengikutinya dengan kecepatan tinggi. Sesaat kemudian, namja kecil itu sudah berdiri satu tangga diatasnya.
"Kau hancurkan kepercayaannya. Pria macam apa kau? Kau pikir dia tidak tahu hubunganmu dengan MANTAN siswamu itu? dia memang sakit, tapi dia tidak buta! Dia melihatmu berciuman dengan Taemin siang ini. Kau bisa apa sekarang huh?"
Kyungsoo berusaha untuk tidak berteriak pada namja didepannya. Akalnya masih berfungsi untuk tidak mengganggu tidur Baekhyun malam ini.
"Lebih baik kau bercermin-"
"Iya. Aku sadar aku melakukan kesalahan brengsek yang sama seperti Taemin. Tapi betapa menyedihkannya aku, saat kau tidak pernah menganggapku ada di depanmu. Aku pikir ini semua sia-sia. Aku menyakiti Baekhyun, Kau, dan aku sendiri. Tapi aku tidak bisa menghentikan apa yang sudah lama aku impikan. Aku hanya berusaha untuk tidak menghancurkan Baekhyun lebih dalam. Aku berpura-pura menjadi orang lain, karna kau tidak mau menerimaku. Jangan pikirkan apa yang kuucapkan. Terus saja pikirkan Baekhyun hyung." Kyungsoo berbalik dan melangkah pada ke kamarnya. Meninggalkan Kai yang menggeram tertahan dengan tangan mengepal kuat.
.
"Tuhan, kumohon, berhenti mengambil satu-persatu orang yang kucintai. Aku hanya ingin membuktikan bahwa jalan yang ku ambil bukanlah salah. Hanya Kau yang dapat menimbulkan keajaiban bagi kehidupanku. Ku mohon beri aku satu kesempatan lagi untuk mengungkapkan cintaku padanya. Aku sangat tidak ingin berakhir menyesal seperti kala itu."
.
TBC
.
A/N : EHEM! Halo chingudeul~ ah… senang sekali bisa ketemu lagi sama kalian. *bow*
IYA! Ini dia chapter dua. Semoga memuaskan walau banyak typo. Semoga gak bosen baca FF yang alurnya lambat banget kaya kura-kura. Dan semoga saya dapet ilham bust FF NC #lho
Di Chapter 2 ini, saya dapet wangsit. Kalau rupanya Baekhyun itu gak cocok jadi antagonis. Jadi saya ganti pake Taemin dan tambah konflik. Moga gak muntah sama konflik yang pasaran kaya sinetron.
Aduh… lumayan –ehem- banyak yang minta FF lain dilanjutin. Padahal waktu aku terbatas beut! (Tiba-tiba alay) udah mau semesteran. Nilai jeblok semua! Stress gue #CurhatLagi
Iya. Doakan saja semoga this is our school, It's All because Moonkyu sama Can You Hear Me bisa lanjut. Yah… semoga aja alurnya gak melenceng jauh. Maklum, saya udah lupa alur cerita-cerita diatas.
Sungguh! Saya berusaha untuk menepati janji saya.
Last, Mind to Review? ^^
