WARNING! Typo(s), Alur lambat, kebanyakan dialog, dan membosankan. Italic waktu di sekolah =flashback.

Rated : T

Genre : Diatas udah ada -_-

.

True Love(s) 3

.

Kai mendekati ranjangnya yang telah terisi setengahnya oleh tubuh Baekyun. Tanpa mempedulikan jas kerja yang masih melekat di tubuh, Kai menyamankan dirinya disamping Baekhyun yang masih setia memejamkan matanya.

"Sungguh, aku tidak pernah berurusan lagi dengan anak itu. kau harus percaya padaku." Kai berbisik seraya mengelus surai coklat Baekhyun.

"Kau sudah mengatakannya 5 tahun yang lalu. Tapi saat itu, semua hanya sebatas kata-kata. Apa saat ini aku juga harus mempercayaimu?"

"Baek-"

"Diamlah. Aku ingin tidur."

Baekhyun memejamkan matanya sebentar. Sangat sebentar karena setelah itu ia merasakan tubuhnya memberat. Namja manis itu membuka mata dan mendapati Kai yang mengunci pergerakannya.

Sekali hitungan dan bibir tebal Kai mendarat di bibirnya dengan kasar. Namja berstatus seme itu seperti ingin meluapkan kekecewaannya pada Baekhyun.

Baekhyun ikut menggerakkan bibirnya saat sadar genderang perang antara mereka telah berbunyi. Jari-jari lentiknya menyusup dalam kelembutan rambut hitam Kai. Meremasnya sesekali untuk melampiaskan nafsu dan rasa kesal yang memuncak.

"Aku mencintaimu." Bisik Kai tepat didepan telinga Baekhyun yang sensitif.

"Berhenti membual! Ayo lanjutkan."

Detik berikutnya Baekhyun telah mengunci pergerakan Kai dalam kurungan tubuh kecilnya.

Seperti tak ada hari esok, mereka menikmati nafsu mereka sendiri.

.

Kyungsoo hanya diam mendengar suara desahan yang terlampau keras. Ia tak mencoba sama sekali untuk memejamkan mata. Tatapannya kosong kearah jendelanya yang terbuka. Kyungsoo takut hantu, tapi Kyungsoo sangat suka langit malam.

Kyungsoo berusaha memusatkan pikirannya pada sesuatu tapi yang ia dapat hanyalah pikiran kosong yang berbahaya. Ia bangkit dari posisi berbaringnya, duduk dan menatap dirinya sendiri dari cermin. Berkeringat.

Kyungsoo tidak mengerti apapun, tak mengerti tubuhnya, tak mengerti ayahnya, tak mengerti ibunya dan tak mengerti kehidupannya. Terkadang, ia berfikir mengapa harus tercipta sebagai manusia yang membingungkan? Mengapa ia tidak tercipta menjadi seorang malaikat yang memiliki senyum termanis?

Terkadang, si mata bulat juga berfikir. Mengapa ia harus memilih Kai untuk dicintai.

Kyungsoo mendekati jendela kamarnya dan merasakan angin malam menusuk kulitnya. Ia menatap rumah-rumah penduduk lainnya yang tertutup salju musim dingin. Lalu pandangannya teralih ke langit yang sedari tadi ditatapnya.

Suara lengkingan keras membuat mata Kyungsoo membulat dan tangannya yang mengepal erat pada pinggiran jendela.

Ponselnya berdering. Satu-satunya suara yang membuat Kyungsoo kembali kealamnya.

Namja itu mengangkat telponnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Langitnya indah? Atau putihnya atap rumah lebih indah?" Kyungsoo diam untuk sedikit berfikir.

"Mungkin keduanya."

"Tutuplah jendelamu. Suara angin bahkan terdengah sampai sini." Senyuman simpul tercetak jelas walau sang pemilik tak menyadarinya.

"Masih belum bisa tidur. Aku masih butuh angin lagi."

Kyungsoo mendengar seseorang diseberang sana mendengus kesal lalu mulai berkata dengan topik lain.

"Dahimu tidak apa-apa?"

"Aku kan sudah bilang aku tidak apa-apa. Kumohon jangan terlalu khawatir tentang sesuatu hal yang tidak penting."

"Aku hanya khawatir."

"Tapi kau mengkhawatirkan hal yang tak perlu." Kyungsoo menarik sebuah kursi mendekat lalu mendudukinya. Mungkin percakapannya akan panjang. Paling tidak, Kyungsoo tak harus mendengarkan desahan-desahan yang memerahkan telinga.

"Baiklah-baiklah itu tidak penting. Aku hanya bingung ingin memulai pembicaraan apa denganmu."

"Bisa saja kau bertanya 'sedang apa?' begitu."

"Menjijikkan. Itu pertanyaan yang lazim seseorang lontarkan untuk pacarnya. Sedangkan kau?"

"Tuh kan. Songsaengnim saja diberi masukan tidak mau. Coba kutebak, kau sedang mengoreksi pekerjaan muridmu?"

"Apa suara kertasnya sampai kesitu?"

"Aku hanya menebak. Bukankah memang begitu pekerjaan guru? Seandainya Kim Songsaengnim juga menjadi guru, aku yakin dia akan sesibuk dirimu. Oh! Dan aku sebagai istri yang baik akan membantunya. Memijat pundaknya atau sekedar membuatkan minuman hangat. Uh… Berakhir panas di ranjang."

Kyungsoo tak mendengar apapun setelah ia selesai bicara. Ia masih setia menunggu jawaban dari Kris diseberang sana sambil menatap keluar kamar.

"Songsaengnim? Kau disana?"

"Ah! Iya. Aku masih disini. Kau tahu, pekerjaanku sangat banyak dan aku mulai mengantuk."

Kyungsoo mengerutkan dahinya. Apakah Kris mencoba mengalihkan pembicaraan?

"Sudah minum kopi? Itu akan sangat membantumu."

"Minuman itu berbahaya untukku! Bisa-bisa aku tidak tidur semalaman."

"Ya mana yang kau pilih? Tidak tidur atau tidak mengoreksi pekerjaan murid songsaengnim?"

"Ah! Kau tidak memberiku solusi sama sekali!"

Hening kembali menyelimuti mereka. Kyungsoo tengah memandang kelangit lagi.

"Songsaengnim…"

"Hmmm…"

"Kau duduk dekat jendela?" tanya Kyungsoo.

"Ya, tepat didepanku ada jendela yang tertutup rapat."

"Kau lihat langit disana?"

"Tentu."

"Ibuku ada disana."

"…"

"Aku ingin melihat bagaimana wajahnya."

Kris diseberang sana hanya diam. Ia juga memandang langit yang sama dengan Kyungsoo. Laki-laki muda itu, mengapa terlihat tangguh?

"Jangan mengigau. Ibumu tidak disana, ia sudah tenang dengan Tuhan."

"Aku hanya ingin bertemu dengannya."

"Kau akan mati jika begitu."

"Aku tidak peduli."

"Kau tidak pikirkan ayahmu? Dia akan sendirian setelah kau pergi! Kenapa kau menentukan semuanya dengan seenak jidat HAH?!"

Kyungsoo tidak tahu mengapa Kris jadi semarah itu. ia hanya bercerita bagaimana keinginannya melihat wajah ibu.

"Sabtu ini ikutlah denganku."

"Aku harus mengajar di TK."

"Kalau begitu aku akan ikut denganmu ke sekolah itu."

PIP

Kyungsoo menjauhkan ponselnya saat Kris memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.

"Bukannya kau yang mengambil keputusan seenak jidat?"

***KAISOO***

14

Kyungsoo bergegas pergi ke TK walau hari masih terlampau pagi. Ia hanya tidak ingin melihat pasangan pemilik rumah. Sebenarnya ia tidak memiliki masalah dengan kedua orang itu, hanya saja ia masih merasa risih.

"Mau kemana?" tebakan Kyungsoo tentang keduanya yang belum bangun terpecahkan. Ia menatap datar Kai yang duduk di ruang tengah dengan secangkir kopi dihadapannya.

"Bekerja. Kau sendiri tidak kekantor?"

Kai tersenyum mengejek. "Masih terlalu pagi untuk berangkat. Kau mau kuantar?" Namja itu berdiri lalu mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja. Ia berjalan lebih dahulu keluar rumah dari pada Kyungsoo yang masih terdiam.

"Eh, diantar betulan?" Dan setelah Kyungsoo sadar, mobil Kai sudah berada di depan rumah.

.

Mobil hitam itu berhenti perlahan di pinggir jalan. Kai menatap bangunan itu dengan heran.

"Disini?"

Kyungsoo mengangguk mantap sambil tersenyum. Tangannya dengan cekatan melepaskan sabuk pengaman lalu keluar dari mobil. "Terima kasih tumpangannya ahjusshi."

Kai masih disana dan memperhatikan Kyungsoo yang berlari kecil menuju kerumunan anak-anak yang tengah bermain. Ia tersenyum kecil saat melihat Kyungsoo yang berbaur dengan anak-anak itu.

Ponsel yang berbunyi membuat Kai sadar bahwa ia terlalu lama tersenyum.

"Yeoboseo."

"Ah iya. Aku akan segera kesana."

***KAISOO***

Kyungsoo pulang saat hari menjelang sore. Dengan setangkai bunga imitasi buatan Jongdae yang membuatnya selalu tersenyum dalam perjalanan.

Hal yang dilihatnya pertama kali saat memasuki rumah adalah seorang pria berambut pirang yang berdiri membelakanginya. Juga Baekhyun yang berdiri didepan sana dengan tatapan tajam.

"Mau apa kau kesini?!" Kyungsoo menarik tangan namja pirang itu hingga berbalik. Namja itu menatap Kyungsoo kaget sekaligus tak percaya. Beberapa saat kemudian senyum menyeramkan tampak di wajahnya.

"Kyungsoo-ya? Sedang apa kau disini?" tanya namja itu dengan amat lembut.

"K-Kyung kau mengenalnya?" Tanya Baekhyun.

Kyungsoo bingung. Ingin sekali ia lari dari tempat itu, tapi ia bukan pengecut. Ayahnya tidak pernah mengajarkannya untuk lari dari masalah.

"Lebih baik kau pergi Taem." Kyungsoo bicara dengan nada berbahaya. Ia menatap Taemin tajam.

"Wae? Apa urusanmu hingga bisa mengusirku dari sini? Harusnya kau menyambutku dengan baik Kyung."

Namja bermata bulat itu menelan ludahnya kasar. Ia takut ketahuan.

"Kumohon pergilah. Jangan hancurkan keluargaku." Baekhyun berusaha mendorong Taemin keluar dengan tubuhnya yang melemah.

"Menghancurkan keluargamu huh? Kalian yang menghancurkan anakku, Brengsek!" Baekhyun terdiam. Apa maksudnya ini?

"Suamimu itu, meniduriku lalu meninggalkanku begitu saja. Kau pikir siapa yang paling menderita disini hah?!"

Kyungsoo membatu. Begitu juga Baekhyun yang langsung jatuh terduduk beberapa saat kemudian.

'kenapa aku harus mencintai orang sebrengsek dia?'

Kyungsoo sadar saat melihat Baekhyun yang bernafas tak teratur. Darah mulai mengalir dari hidungnya. Tanpa pikir panjang, namja mungil itu menarik Taemin hingga keluar pintu gerbang.

"Bisakah kau lupakan semuanya? Aku juga sedang berusaha melupakan apa yang dia lakukan padaku. Kumohon Taem, suatu saat nanti kau mungkin bisa memiliki Kim Songsaengnim tapi bukan sekarang."

Taemin tak tinggal diam. Ia menarik tangan kiri Kyungsoo dengan kasar lalu mengangkatnya. Matanya berkilat marah saat melihat cincin perak tersemat di jadi manis Kyungsoo.

"Kau menikah dengannya? Kau sama brengseknya." Kyungsoo tak menanggapi apapun. Ia lebih memilih berlari dan melihat keadaan Baekhyun.

"Hyung. Kau baik-baik saja?" Kyungsoo mendekati Baekhyun yang menangis sambil menyeka darah yang terus keluar.

Kyungsoo langsung menyambar ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi Kai.

"Cepat pulang! Baekhyun hyung drop!"

***KAISOO***

Kyungsoo hanya diam sedari tadi. Namja itu hanya duduk dan menatap lurus kedepan, bahkan menganggap Kai yang sedari tadi disampingnya tidak ada. Mereka berdua masih menunggu pemeriksaan Baekhyun di taman rumah sakit yang tak jauh dari emergency room.

"Apa yang terjadi? Aku sudah menanyakan ini berkali-kali Kyungso. Kumohon jawablah!"

Kyungsoo mengalihkan pandangan matanya pada Kai. Ia menatap 'suaminya'dengan pandangan letih.

"Siapa saja yang sudah kau tiduri? Berapa anak yang kau buat diluar sana?"

Kai diam dan menatap kelain tempat. Kemanapun asal tidak ke pria yang lebih mungil darinya.

"Sekarang kau yang tidak bisa menjawab."

"Kau membicarakan Taemin?"

"Apa? Kau mau bilang bahwa itu kecelakaan? Kau mabuk atau sebagainya? Tolong jangan gunakan alasan klasik padaku!"

"Sebenarnya kau tidak berhak tau tentang ini!" Kai mulai terpancing emosi.

"Aku istrimu!"

"Siapa bilang?!"

Keduanya terdiam. Waktu terasa sangat lambat untuk mereka yang sedang kecewa.

Kyungsoo merasakan sakit pada seluruh tubuhnya. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya dan memudahkan dirinya untuk sakit terkena angin malam.

"Kita menikah karena kau yang menginginkannya, aku tidak pernah menganggapmu sebagai istriku. masalahmu berbeda dengan Taemin! dia kutiduri karena aku tertariknya. Harusnya kau tahu peranmu disini Kyung. Kau tak lebihnya seorang pengganggu di kehidupanku."

Kai hampir meninggalkan Kyungsoo saat namja itu mencekal tangannya.

"Aku tidak pernah menyesal memilihmu menjadi pendampingku. Aku tidak menyesal kau menyia-nyiakanku berkali-kali. Dan aku juga tidak menyesal akan terus tidak menyesal dengan semua yang aku dapatkan darimu. Bukankah aku hanya anak kecil yang suka membual?"

Suara Kyungsoo terdengar parau di telinganya. Walau tidak ada isakan, tapi entah mengapa ia yakin Kyungsoo menangis dalam diam. Tangan kecil itu juga mendingin. Entah karena udara, atau faktor lainnya, Kai tak peduli. Ia melepaskan genggaman tangan Kyungsoo dari pergelangan tangannya.

"Jika kau tidak ingin semakin tersakiti, jangan berharap lebih jauh."

***KAISOO***

15

Kyungsoo berangkat ke tempat kerjanya dengan lemas. Tubuhnya terasa tidak enak digerakkan dan itu sangat mengganggunya. Semalam, ia tidur di kursi luar kamar inap Baekhyun dengan angin musim dingin yang menusuk kulitnya.

Begitu sampai di pintu gerbang Sekolah, Kyungsoo langsung dapat melihat Kris yang bermain dengan salju-salju di tanah. Sepertinya namja tinggi itu memutuskan urat malunya hingga biasa saja ditatap aneh oleh anak kecil.

"Kenapa kau disini?" tanya Kyungsoo pada Kris yang langsung mendongakkan kepalanya dan berekspresi lucu. "Jangan tunjukkan wajah itu! kau terlihat menjijikan!"

"AH! Kau jahat sekali! Padahal aku sudah kerumah Kai dan tidak ada orang disana. Kalian kemana semalam huh?!"

"Baekhyun hyung drop. Kami di rumah sakit." Kyungsoo menengok jam yang ada di pergelangan tangan Kris. Masih ada waktu 5 menit lagi sebelum waktunya mengajar menggambar hari ini. "Hanya ada waktu 5 menit sebelum aku mengajar. Kau mau bicara apa?"

"Aku hanya ingin menunggumu selesai lalu kita pergi."

"Mau kemana?" Tanya Kyungsoo.

"Jika kuberitahu sekarang, kau tidak akan serius mengajar." Kyungsoo mengerucutkan bibirnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Kris.

"Hyung tampan!" Kris maupun Kyungsoo menoleh saat mendengar suara cempreng yang menggetarkan sekolah. ok berlebihan.

"Minnie-ya." Kris mengangkat tubuh kecil Minseok lalu menggesekkan hidung mereka. Seorang namja kecil lainnya kini hanya bisa mendengus kesal lalu berjalan kearah Kyungsoo dengan mata berkaca-kaca.

"e-eh, Jong kenapa?" Kyungsoo mensejajarkan tubuhnya dengan Jongdae. Namja kecil itu merengek minta digendong, apalagi saat melihat 'Minnienya' memainkan rambut blonde Kris. "Baik-baik, ayo songsaengnim gendong,"

Namja berpipi tirus itu lalu menggapai-gapai Minseok yang tak jauh darinya. Kyungsoo tentu mengerti lalu berjalan lebih mendekat pada Kris. Begitu tanganya sampai menggapai tangan Minseok, Jongdae langsung menarik tangan kecil itu dari wajah Kris lalu memajukan tubuhnya sendiri.

Cup…

Kyungsoo berteriak tertahan sebelum menarik tubuh Jongdae menjauhi Minseok yang bersemu merah.

Bel masuk berbunyi dan itu membuat Kyungsoo cepat-cepat menurunkan Jongdae dari gendongannya, begitu pula Kris.

"Ayo masuk kelas. Pelajaran songsaengnim akan segera dimulai." Kedua namja kecil itu mengangguk lalu berjalan pelan sambil berpegangan tangan ke kelas. Meninggalkan Kyungsoo dan Kris yang tetap saja bersemu.

"Aku bahkan belum pernah dicium." Gumam Kyungsoo.

"Bohong! Kau kan pernah dicium Kkamjong." Kyungsoo langsung mendeathglare Kris yang pura-pura tak melihat.

***KRISSOO***

Kris tersenyum kecil di balik jendela, memperhatikan Kyungsoo yang sesekali memuji gambar buatan muridnya. Kalau dipikir lagi, kenapa ia tidak pernah memuji hasil pekerjaan muridnya sendiri? Bukankah itu membuat mereka menjadi lebih bersemangat?

"Em… permisi. Kau siapa?" Kris berbalik saat seseorang menepuk pundaknya. Min Ah yang disana, menunjukkan tatapan curiga pada Kris.

"Aku temannya Kyungsoo. Apa aku terlihat seperti orang jahat?"

"Yah, sedikit."

Hening menyelimuti mereka. Kris maupun Min Ah tengah mengamati Kyungsoo yang sepertinya sudah sangat dekat dengan anak-anak kecil itu.

"Baru 3 hari dia mengajar disini. Tapi semua siswa menyukainya," Ucap Min Ah yang seperti memberi tahu Kris akan kehebatan namja belo itu.

"Mungkin karena sifatnya yang hampir mirip dengan anak usia 5 tahun." Kris kembali terkikik dengan argumennya sendiri.

"AH! Itu mungkin juga benar. Saat pertama kali dia meminta untuk ikut bantu-bantu disini, tingkahnya itu seperti orang down sindrome!"

Mereka terkikik kecil. Berusaha untuk tidak mengganggu kegiatan belajar di kelas.

"Kau mau masuk kedalam?" Kris membulatkan matanya dengan perkataan Min Ah. Masuk kedalam? Dengan sekumpulan bocah kecil itu?

Min Ah mendorong punggung Kris hingga kedepan pintu kelas. "Kyungsoo Songsaengnim, kau dapat murid baru!" dengan sekali dorong, Min Ah dapat membuat tubuh besar Kris masuk kedalam kelas kecil itu.

Kyungsoo membulatkan matanya melihat Kris yang salah tingkah didepan kelas.

"UWO! Teman kita sudah ahjusshi-ahjusshi!" Teriak seorang anak laki-laki yang duduk paling depan. Diikuti dengan suara tertawa murid lain.

"Sudah-sudah. Sekarang kita dengarkan dulu teman baru kita berkenalan," Kris hampir saja melempari Kyungsoo dengan sepatu karena namja itu malah berusaha membuatnya bertambah malu. Dengan wajah bersemu merah, Kris memperkenalkan dirinya lengkap dengan umur dan tinggi badan. (Pamer luh!)

"Lebih tua dari Kyungcoo congcaengnim?" Tanya anak perempuan berkucir dua yang duduk dekat Kyungsoo berdiri. Kyungsoo mengangguk kecil.

"Nah Kris, Kau duduk di di bangku belakang ya?" Kris Benar-benar akan melempari Kyungsoo dengan kursi jika saja ia tidak sadar bahwa banyak anak kecil disini. Dengan ringisan garing di wajahnya, Namja tinggi itu duduk di kursi kecil di belakang kelas.

"Apa kau sudah menikah?"

"Kau punya anak?"

"Benal kau macih TK?"

"Dia lebih tampan dali Kyung congcaengnim."

Kris hanya diam sambil menatap anak-anak kecil yang berebut untuk bertanya padanya.

"Aku belum menikah, kan masih muda. Kalau belum menikah pastinya belum punya anak. Errr… ya sebenarnya aku sudah bekerja. Dan aku suka perkataanmu anak kecil! Aku memang lebih tampan darinya."

Kris tertawa keras tanpa mempedulikan semua orang yang memperhatikannya.

SKIP bagian ini!

***KAISOO***

Waktu berlalu cepat. Kris langsung menarik Kyungsoo begitu jam mengajar berakhir. Terhitung 5 jam Kris duduk diam di kursi yang bahkan tingginya tidak sampai setengah kakinya.

"Ah! Aku lupa!" Kris menepuk jidatnya pelan sesaat setelah melewati pintu kelas. Ia kembali masuk kedalam diikuti Kyungsoo yang terheran-heran.

Kris tengah berjongkok di depan kursi Minseok lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

"Ini foto yang kemarin Minnie-ah." Minseok memandang foto ditangannya dengan senyumannya.

"Gomawo hyung."

"Sama-sama Minnie." Kris mengusak rambut Minseok pelan sebelum berbalik dan menemukan Kyungsoo disana.

"Kau pasti bisa jadi ayah yang baik kelak." Kris tak bisa melihat apapun dari mata Kyungsoo kecuali ketulusan atau mungkin juga sedikit harapan. Namja pirang itu tak berkata apa-apa kecuali kembali menarik Kyungsoo keluar kelas.

"Mau kemana?" Tanya Kyungsoo saat menerima helm dari Kris. Namja yang lebih tua tidak menjawab dan lebih memilih untuk menghidupkan mesin motor sportnya.

"Naik." Perintah Kris.

"Mau kemana? Jawab dulu pertanyaanku." Bisa saja kau berniat memperkosa diriku yang sexy ini.

"Kau berpikir aku akan menyentuhmu? Huh, badanmu terlalu kecil. Bukan tipeku. Cepat naik!"

Rahang Kyungsoo serasa mau lepas dengan perkataan Kris yang benar-benar menusuk. Dia tidak kecil! Tapi sedikit kurang besar!

Kris langsung melajukan motornya saat merasakan Kyungsoo sudah duduk dibelakangnya.

…..

Motor sport hitam itu melaju meninggalkan keramain jalan Seoul. Kecepatan yang tak bisa dibilang lambat membuat seseorang yang duduk di belakang mau tak mau memeluk Kris erat.

"Bisakah kau kurangi kecepatannya? Anginnya dingin!"

"Aku tidak dengar! Kau diam saja!" begitulah percakapan singkat mereka sebelum akhirnya kembali terdiam.

Kris melajukan motornya ke pinggiran kota Seoul. Lebih tepatnya kesebuah gedung besar yang disebut sekolah didepan jalan.

Namja berambut pirang itu memperlambat laju motornya kala memasuki gerbang besar sekolah itu. bangunan itu terlihat menyeramkan dengan pencahayaan yang remang-remang di siang berawan seperti ini.

Kyungsoo turun dari motor Kris tanpa mengalihkan pandangan dari bangunan besar itu. tempat dimana ia melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya.

"Ayo," Kyungsoo menatap Kris ragu tapi namja tinggi itu tak mempedulikan tatapan ragu Kyungsoo. Ia menarik tangan Kyungsoo pelan menuju lapangan sepak bola didepan gedung.

Kyungsoo hanya diam di pinggir lapangan sambil melihat teman-temannya bermain bola. Disampingnya, segerombolan yeoja teman sekelasnya tengah asik berbincang tanpa menghiraukan kehadirannya.

"Hei kau tahu tidak? Katanya Kim songsaengnim pacaran dengan Taemin, anak kelas sebelah!" ucapan salah satu temannya itu membuat Kyungsoo menoleh.

"Kim Songsaengnim yang mana?"

"Kim Jongin. Guru magang yang dulu itu." Kyungsoo membulatkan matanya. Sakit sekali rasanya mendengar hal tersebut.

Dengan cepat, Kyungsoo langsung meninggalkan lapangan besar. Ia memutuskan untuk mengganti baju olahraganya lebih cepat dibanding yang lain.

Kyungsoo memandang lapangan itu sendu.

"Dulu aku sering melihat liga sekolah dari sini. Dan sekali melihat adegan panas antara guru dengan muridnya di kelas lantai 2 paling pojok." Kyungsoo diam sejenak.

"Kau melihatku dengannya?" Kris mengangkat bahunya sambil berjalan melewati lapangan itu.

"Hanya sampai Jongin menjilat lehermu, lalu aku pergi."

Kyungsoo berdecih pelan sambil mengikuti langkah kaki Kris yang besar-besar. Mereka berdua masuk kedalam gedung sekolah. hal pertama yang mereka lihat adalah lorong-lorong dingin yang mengingatkan Kyungsoo akan pertemuan pertamanya dengan Jongin.

"Kita mau kemana?" tanya Kris.

"Mungkin perpustakaan. Tempat itu paling dekat dari sini." Kini giliran Kyungsoo menarik tangan besar Kris menuju Perpustakaan.

Kyungsoo mencoba membuka pintu coklat itu. tak berani berharap banyak karena pastinya pintu itu terkunci di akhir minggu.

Cklek…

"Hei! Apa mereka tidak mengunci pintunya?" Kyungsoo sedikit bingung dengan sekolahnya itu. beberapa tahun yang lalu sekolah ini adalah sekolah dengan kedisiplinan tinggi dalam segala hal. Termasuk mengunci pintu. (Emang ada disiplin mengunci pintu?)

"Bukankah harusnya kau bersyukur? Dasar bodoh! Cepat masuk." Kris melewati Kyungsoo masuk kedalam perpustakaan penuh buku itu.

"Kalau tidak salah, kita pertama bertemu disini kan?" tanya Kyungsoo sambil mengingat-ingat kembali masa lalunya.

"Mungkin. Aku sudah tidak ingat," ucap Kris sambil mengambil salah satu buku sastra inggris di salah satu rak.

Kyungsoo mengambil satu persatu buku biologi dari rak IPA di perpustakaan sekolah. ia butuh lebih banyak lagi ilmu untuk mengerjakan tugas guru killernya yang hampir jatuh tempo.

Namja itu berusaha mengambil buku yang dirasanya bagus di rak bagian atas. Tangannya menggapai-gapai tapi tetap saja tak sampai. Ia berbalik dan menemukan seorang namja tinggi dengan kemeja putih panjangnya.

"Em… permisi pak. Boleh aku min tolong padamu?" Kyungsoo menarik-narik baju namja tinggi itu.

"Iya?"

"Ambilkan buku yang dirak atas itu. tolong ya." Kyungsoo mengeluarkan puppy eyes andalannya.

"Baiklah. Yang mana?"

"Itu yang warna biru."

Sang namja tinggi menyerahkan buku yang dimaksud pada Kyungsoo.

"Terima Kasih pak. Oh iya, bapak ini siapa? Kenapa ada di sekolah ini?"

"Eum… hanya guru magang. Namaku Kris. Semoga kau jadi salah satu muridku ya,"

Kris menatap rak tinggi itu dengan senyuman. Ia mengingat bagaimana Kyungsoo kesulitan mengambil buku biologi di rak tinggi itu. oh! Biologi, pelajaran Jongin.

"Sedang apa disitu?" Kyungsoo menghampiri Kris sambil menatap rak itu. "Ah! Kau sebenarnya ingat dengan hari itu kan? Waktu aku memintamu untuk mengambilkan buku?"

"Yayaya lalu kenapa?"

"Tadi kau bilang tidak ingat!"

"Kan tadi. Sudah ayo ketempat selanjutnya."

Kris kembali menarik tangan Kyungsoo keluar perpustakaan. Tak lupa menutup kembali pintunya.

"Kau mau ke ruang musik?" Tanya Kris.

"Untuk apa? Aku tidak suka hal-hal seperti itu." tukas Kyungsoo.

"Ayolah. Kalau begitu temani aku saja. Tiba-tiba aku ingin kesana."

Keduanya berjalan menuju ruang musik di pojok lantai 1. Ruangan itu tidak terlalu besar dengan cat tembok yang bahkan hampir mengelupas. Banyak alat musik disana tapi Kyungsoo tak punya sedikitpun niat untuk menyentuhnya sejak dulu.

Kris mendekati sebuah piano di pojok ruangan. Memainkan melodinya dengan sedikit asal walau menghasilkan nada yang bagus. Kyungsoo sedikit merasa tertarik kini berdiri bersender di samping piano itu.

"Kau tau lagu ini?" Kris menekan tuts piano itu dengan irama kali ini. Menciptakan melody yang begitu indah bagi Kyungsoo

"Miracle in Desember. Benar kan?" Kris mengangguk sambil melanjutkan permainannya. Suara besarnya kini terdengar mengikuti irama lagu dengan lirik yang menyedihkan. Kyungsoo mulai memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya mengikuti nada yang tercipta.

Kris menghentikan nyanyiannya dan terus mengiringi Kyungsoo yang bernyanyi. Sungguh, suaranya tidak buruk sama sekali. Bahkan terdengar sangat lembut bagi Kris untuk ukuran seorang pria.

Hingga nada terakhir, Kris memainkan nadanya dengan baik sementara Kyungsoo menyanyikannya dengan amat indah. Namja yang menyanyikannyapun tak mengerti mengapa ada sedikit air mata di sudut matanya.

"Kenapa aku menangis? Sepertinya lagu ini tidak seharusnya dinyanyikan olehku." Ucap Kyungsoo dengan bibir yang membentuk senyuman hati.

Kris diam dan langsung menarik Kyungsoo dalam dekapannya. TIDAK! Itu hanya angan-angan Kris saja. Yang dia lakukan sekarang hanyalah duduk sambil mengamati muridnya yang tersenyum-senyum sendiri.

"Seongsaengnim, jika suatu saat nanti, kau tidak bisa menemukanku-"

"Aku akan selalu menemukanmu. Apapun caranya."

Kyungsoo yang terdiam kali ini. Ia menatap Kris penuh arti dan mencari isi hati namja pirang itu lewat tatapannya.

"Terima kasih."

….

Kyungsoo yang pertama kali masuk kedalam kelasnya dahulu. Selama 3 tahun, kelas Kyungsoo memang tidak pernah berubah, 'teman', ruangan, juga guru pembimbing, selalu sama hingga membuat Kyungsoo merasa amat jenuh selama 3 tahun SMAnya.

Ia mendekati sebuah bangku yang letaknya paling belakang. Tidak, Kyungsoo tidak pernah suka duduk disana, tapi teman-temannya seolah menyuruhnya menjauh hingga ia terdampar di kursi belakang. Tapi sungguh, teman-teman Kyungsoo tidak pernah berfikiran seperti itu. Hanya saja namja bermata bulat saja yang terlalu menutup diri.

Kris mendekati Kyungsoo yang duduk di bangkunya dahulu dengan kepala yang dibiarkan diatas meja.

"Bau ruangan ini sudah berubah sejak terakhir kali aku ke sini." Ucap Kyungsoo.

"Tentu saja, kau pikir berapa tahun kau tidak mengunjungi sekolahmu sendiri hum?" Kris mendudukkan dirinya di kursi depan meja Kyungsoo.

"Untuk apa aku kesini? Tidak ada gunanya."

"Paling tidak kau bisa mengenang teman-temanmu."

"Aku tidak punya teman."

Kris menghela nafas panjang menghadapi namja 'dewasa' didepannya.

"Baik, kau memang tidak punya teman sehingga suamipun kau merebut dari orang lain."

Kyungsoo menegakkan tubuhnya sambil menatap Kris tajam.

"Bukan urusanmu!"

"Di dunia ini masih banyak orang yang bisa kau nikahi, tapi kenapa harus dengan orang yang sudah menjadi milik orang lain?"

Kyungsoo mengabaikan pertanyaan Kris sambil berpura-pura menatap keluar jendela. Lebih tepatnya lapangan sepak bola yang tadi mereka lewati.

"Aku pernah melihat Kim Seongsaengnim bermesraan dengan Taemin dari sini." Ucap Kyungsoo pada akhirnya.

"Benarkah? Lalu bagaimana perasaanmu?" tanya Kris sambil mengikuti arah pandangan Kyungsoo. Sebuah pohon besar yang cukup rindang. Ya, ia memang pernah mendengar berita tentang Kai yang berkencan dengan muridnya sendiri. Dulu, ia hanya tahu bahwa Kai berhubungan dengan Taemin, sebelum akhirnya ia melihat Kai mencium Kyungsoo di sore itu.

"Tidak tahu. Sedikit sakit, mungkin."

"Pernah kau berfikir, kau tidak benar-benar mencintainya?"

"Sekali dua kali. Sebelum akhirnya aku selalu bertemu dengannya disetiap tempat yang aku datangi. Sekalipun aku tidak pernah lepas darinya walau dia tidak menyadariku."

"Kau orang yang kuat."

"Terima kasih." Kyungsoo membalas senyuman Kris dengan senyum simpulnya.

"Ayo ke tempat lain lagi."

Kris menggandeng tangan Kyungsoo keluar dari ruang kelas itu. mereka berdua berjalan berdampingan di lorong hingga berhenti saat melihat tangga kusam menuju lantai diatasnya.

"Kau mau kesana?" Tanya Kris.

Tanpa menjawab, Kyungsoo langsung menaiki satu persatu anak tangga itu. ia membuka pintu yang mulai berlumut di ujung tangga.

Angin dingin langsung menyergap keduanya saat pintu itu terbuka. Titik-titik putih berjatuhan dari langit tak membuat Kyungsoo mengurungkan niatnya untuk melangkah diatas lantai putih salju itu. senyumannya mengembang seiring dengan keset yang seakan diputar dalam otaknya.

"Kau mencintainya?" tanya Kyungsoo pada Taemin yang menikmati hembusan angin musim panas.

"kalau aku bilang iya, apa kau akan menertawakanku?" tanya Taemin.

Kyungsoo ingin menjawab iya tapi ia bukan siapapun disini. Dalam posisi seperti ini, Kyungsoo hanyalah seorang pengagum rahasia seorang Kim Songsaengnim. Berbeda dengan Taemin yang sepertinya benar-benar menjalin hubungan dengan Kai.

"Dia sudah punya pacar Taem. Apa kau tega memisahkan mereka? Lagi pula ini sudah 2 bulan guru-guru magang itu pergi dari sekolah kita dan kau tetap berhubungan dengan Kim Songsaenim?"

"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Cintaku ini, bukanlah rasa kagum murahanmu yang hilang dalam sekejap mata, Kyungsoo-ya."

Kyungsoo saat itu tak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa Taemin menyadari perasaannya pada Kim Songsaengnim? Apa guru tampan itu yang memberitahukannya? Tapi untuk apa?

Kyungsoo memejamkan matanya. Berusaha mengubah perasaan dingin angin musim dingin menjadi angin musim panas seperti kala itu.

Grep…

Tangan Kyungsoo ditarik kembali oleh Kris. Namja itu menarik Kyungsoo menuruni tangga hingga kembali ke lorong yang tadi.

"Kenapa?"

"Kita pulang saja. Sudah semakin sore." Jawab Kris setelah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kyungsoo.

Benar saja, mereka tak merasakan waktu yang berjalan cepat. Sudah jam 6 dan mereka baru keluar dari kompleks sekolah itu. waktu yang sungguh terlambat untuk memulangkan Kyungsoo.

Tapi Tuhan sepertinya mengharapkan waktu lebih lama memeluk keduanya. Angin dingin juga titik salju semakin ganas menerpa mereka. Mungkin badai akan segera datang.

Motor itu akhirnya memilih untuk mendekati bangunan tua didekat mereka. Kris menggiring Kyungsoo masuk kedalam bangunan itu untuk sekedar berlindung dari terpaan badai.

"Kenapa harus badai disaat yang tidak tepat?!" Kyungsoo membersihkan sedikit salju yang menyangkut di rambutnya.

"Sejak kapan badai bisa tahu waktu yang tepat atau bukan untuk turun?" Kris berbicara dengan sedikit mencibir.

Namja tampan itu berjalan lurus masuk kedalam bangunan panjang berisi puluhan kursi panjang itu. Kakinya yang panjang berhenti melangkah saat barisan kursi itu habis. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya lalu memejamkan mata dan memanjatkan doa.

Kyungsoo sadar betul bahwa tempat itu adalah gereja. Gereja yang sama dengan tempatnya menikah dengan Kai. Ia tersenyum kecut. Dipandanginya cincin perak yang tersemat di jari manisnya.

"Kris songsaengnim!" panggil Kyungsoo hingga Kris menoleh dan menatapnya heran karena berteriak di gereja.

"Kau tahu tidak? Gereja ini, tempatku dengan Kim songsaengnim menikah." Kris hanya diam sambil terus menyimak apa yang akan Kyungsoo katakan selanjutnya.

"Apa kau memang sudah merencanakan ini sebelumnya? Kenapa kau mengajakku ketempat-tempat yang seharusnya tidak kuingat lagi? Apa maksud semua ini?" Perlahan namun pasti Kyungsoo berjalan selangkah-demi selangkah maju kedepan.

"Aku sangat membencimu yang mengingatkan masa laluku. Tapi aku senang kau lakukan itu padaku. bukankah itu artinya kau menyayangiku?"

"Saat menginjakkan kaki di tempat ini, aku mengingat dimana dia menarikku dengan kasar kedepan altar. Dia bilang tidak mau membuang waktunya hanya untukku saja." Kyungsoo semakin dekat dengan Kris yang berdiam diri.

" Walaupun tidak ada seorangpun yang hadir kecuali ayah saat itu, tetap saja aku ingin seperti orang lain. Pernikahan dengan cinta, iringan musik, atau sebuah hal yang bahkan tidak penting sekalipun."

Kris mengulurkan tangannya saat Kyungsoo tepat berada didepannya. Namja bermata indah itu memandang tangan itu dengan bingung.

"Ambil tanganku." Kyungsoo berusaha berfikir keras namun akhirnya ia tetap menerima uluran tangan itu. Kris menggenggam tangan kecil Kyungsoo, membawanya berdiri berdampingan didepan altar.

"Aku Wu Yifan. Seorang guru bahasa inggris tingkat Senior High School. Di depanku, Kim Kyungsoo. Mantan muridku. Seorang yang mencuri perhatianku sejak beberapa waktu yang lalu. Kim Kyungsoo, ijinkan aku, seorang yang tak seberapa ini mengikatmu dalam sebuah janji suci atas nama Tuhan dengan Saksi para malaikat disekitar kita. Membuatmu menjadi milikku dalam kebahagian dan kesengsaraan. Saat sehat maupun sakit. Menerimanya dalam kelebihan dan kekurangannya. Kim Kyungsoo, bersediakah kau. Menerima pria ini menjadi suamimu?"

Kyungsoo tak berkata apapun. Ia sudah membekap mulutnya dengan tangannya sendiri sejak perkataan Kris dimulai. Ia tidak tahu mengapa hatinya merasa bergetar hebat disetiap kata yang terucap dari bibir namja didepannya. Kenapa? Kenapa ia mendapatkan perlakuan istimewa dari seseorang yang tidak –atau belum- dicintainya?

Kyungsoo ingin melepaskan kaitan tangannya dengan Kris. Namun sesuatu menghalanginya, perlakuan Kai kemarin malam terngiang di otaknya membuat rasa ingin balas dendamnya muncul. Tapi itu hanya sebagian kecil alasan mengapa ia tak ingin melepaskan Kris, melainkan rasa aneh yang muncul sejak ia bertemu dengan namja pirang itu.

"Y-Ya aku bersedia. Dan kau Wu Yifan, Aku Kim Kyungsoo. Seorang yang terjebak dalam cinta masa lalunya. Aku hanyalah seorang anak kecil yang hanya bisa menyusahkan orang lain. Aku menginginkanmu menjadi milikku, menemaniku dalam tangis dan tawa. Menjadi sandaran saat aku lemah, menjadikanku hal terindah dalam hidupmu. Bersediakah kau berjanji dihadapan Tuhan menerima Kim Kyungsoo sebagai istrimu."

Kris meneguk ludahnya gugup. Ia tak menyangka Kyungsoo akan membalas apa yang ia lontarkan. Senyuman termanisnya muncul tanpa disadari.

"Ya Aku bersedia."

Kris menggenggam kedua tangan Kyungsoo dengan lembut.

"Dengan ijin Tuhan, kami menjadi sepasang insan yang akan saling mencintai. Dan sekarang aku bisa mencium istriku."

Wajah Kyungsoo memerah padam. Malunya tak dapat dibendung tapi ia tetap memejamkan mata saat Kris mendekatkan wajahnya.

Cup…

Sebuah kecupan singkat didahi membuat hari mereka semakin indah di detik yang singkat.

"Kenapa keningku?" Kyungsoo mengerucutkan bibirnya imut.

"Aku belum siap merusakmu. Sekecil apapun itu." Kris menarik kedua pipi chuby Kyungsoo dengan gemas hingga empunya hanya bisa meronta sakit.

"Lihat, bahkan kau masih seperti anak kecil!"

"Ya! Aku sudah dewasa!"

Pukulan keras mendarat di bahu Kris hingga namja tinggi itu meringis kesakitan. Hampir saja ia membalas, tapi pelukan hangat Kyungsoo menghentikannya.

"Aku bahagia kau menghargaiku."

Kris kembali tersenyum. Kedua tangannya melingkar di tubuh Kyungsoo yang serasa seperti puzzel untuk tubuhnya.

"Aku lebih bahagia kau memberikan sedikit ruang untukku masuk dalam hatimu"

Kyungsoo mengerucutkan bibirnya lagi. Ujung matanya meruncing aneh dan itu membuat Kris sedikit takut.

"Songsaengnim aneh kalau romantis." Ucap Kyungsoo dengan polos.

"Kau tidak suka?"

"Jujur, tidak terlalu. Aku lebih suka Kris songsaengnim yang dingin dan aneh."

"Aku hanya ingin menyampaikan cinta pada istriku sendiri!"

"Memang kita sudah menikah?!"

"Ya sudah kalau kau tidak mau menikah denganku!"

"Aku tidak bilang aku tidak mau menikah denganmu!"

"Tapi kita baru menikah dan kau melupakannya!"

Kris memburu nafasnya sementara Kyungsoo terdiam.

"Kau benar-benar serius dengan yang tadi?" tanya Kyungsoo gugup.

"Tergantung kau menanggapinya. Menurutmu, apa aku bercanda?"

"Entahlah. aku bingung."

***KAISOO***

Motor itu akhirnya berhenti di halaman sebuah rumah sakit. Kyungsoo turun dari kendaraan itu lalu dengan cepat menyerahkan helmnya pada Kris.

"Terima kasih hari ini. Aku senang kau menemaniku di akhir pekan." Ucap Kyungsoo dengan senyumannya. Tanpa menunggu Kris berkata apapun, Kyungsoo langsung berlari masuk kedalam gedung rumah sakit.

Kris memandang nanar punggung kecil Kyungsoo yang menghilang dibalik pintu. Ia tersenyum miris terhadap dirinya sendiri yang tak mampu mengambil hati bocah kecil itu.

Kyungsoo membuka perlahan pintu rumah sakit bernomor 304 di lantai 2. Yang ia rasakan hanyalah kegelapan dengan sedikit sinar dari lampu tidur. Ia berjalan mendekati ranjang di tengah ruangan. Baekhyun tertidur disana dengan alat bantu pernafasan di hidung juga infus yang menancap di tangan kanannya.

Kyungsoo mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah tempat tidur pasien itu. tangannya menggenggam tangan kiri Baekhyun yang bebas. Beberapa menit ia terus bedoa untuk kesembuhan namja di hadapannya, hingga suara deru nafas yang teratur menyapa pendengarannya.

Namja bermata besar itu membalikkan tubuhnya. Ia melihat sosok pria dewasa yang tertidur di sofa pojok ruangan. Kenapa ia tidak menyadari pria itu sedari tadi? Kyungsoo mendekati namja itu. Dilepaskannya dasi Kai yang menggangantung di leher lalu membuka beberapa kancing atas kemeja suaminya itu.

Kyungsoo lalu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air hangat dan handuk kecil untuk membersihkan tubuh Kai.

Tangan kecilnya yang memegang handuk, dengan perlahan bergerak di tubuh Kai. Leher, tangan, hingga dada bagian atas. Baiklah! Sangat bohong jika Kyungsoo tidak malu melakukan hal seperti ini. Tapi sisi feminimnya mendesak untuk melakukannya.

Desahan kecil dari Kyungsoo menandakan bahwa pria kecil itu telah selesai melakukan tugasnya.

"Sudah selesai?" Kyungsoo langsung berbalik dan mendapati Baekhyun yang telah terduduk di tempat tidurnya. Selang pernafasan yang tadi ia pakai kini sudah terlepas. Hingga tak ada lagi benda yang menganggu kecantikan wajah pucat itu.

"H-Hyung kenapa bangun? E-eh maksudku, aku bisa jelaskan semuanya." Kegugupan Kyungsoo membuat Baekhyun tertawa pelan. Ia memerintahkan namja yang lebih muda untuk mendekat.

Kyungsoo mendudukkan dirinya dikursi yang tadi. Wajahnya mengarah pada sepatu yang ia pakai. Bukan karena sepatu itu bagus, ia hanya tidak berani menatap kedepan.

"Kau perhatian sekali pada Kai." Ucap Baekhyun dengan suara seraknya.

"Mianhae."

"Kenapa minta maaf? Kau tidak salah. Harusnya aku berterima kasih padamu."

Kyungsoo mendongak, menatap wajah Baekhyun yang samar-samar.

"Kau terlihat sangat memperhatikan Kai. Kupikir kau tepat menggantikanku saat aku pergi nanti." Ucap Baekhyun lagi yang membuat Kyungsoo membulatkan matanya.

"T-Tidak bisa begitu. Baekhyun hyung, ya Baekhyun hyung. Aku, ya aku. Tidak ada yang bisa mengganti atau digantikan hyung."

"Maksudku bukan seperti itu. kau tahu aku sakit-sakitan bukan? Rasanya sungguh tidak mungkin aku menemani dan melayani Kai dengan baik sebagai pasangan hidupnya. Jika aku mati, aku ingin seseorang merawatnya dengan baik. Bukan seperti aku yang selalu membebaninya."

"K-Kai ahjusshi-" Kyungsoo memotong ucapannya. Nafasnya tiba-tiba terasa terputus saat kalimat-kalimat itu muncul di benaknya. "Dia sangat mencintaimu. Walau kau sakit-sakitan atau apapun, dia akan selalu mencintaimu. Dan kalaupun kau mencarikan seseorang yang terbaik untuknya, aku tidak yakin dia akan bahagia. Dia mencintaimu dengan sangat besar, maka dari itu ia tetap berada di sampingmu hingga sekarang, kan?"

Baekhyun mengangguk ragu. Pandangan matanya mengarah pada Kai yang tak bergerak sama sekali. Sepertinya ia kelelahan.

"Aku juga mencintainya. Kau tahu? Kami berteman sejak kecil. Dia tahu bagaimana aku, dan aku tahu bagaimana dia. Berawal dari kata-kata seorang anak kecil, kasih sayang kami terus tumbuh dan akhirnya berubah menjadi hal yang lebih dewasa lagi. Temanku hanya dia, makanya aku sempat berfikir untuk menjadikannya milikku seorang. Tapi saat melihatmu dibawa pulang oleh Kai, aku sedikit ragu. Seharusnya aku tidak memikirkan diriku sendiri. Kai juga punya kehidupan dan dia berhak untuk bebas dari penderitaan yang kuperbuat."

Grep…

Baekhyun membulatkan matanya. Kehangatan menyergap raganya. Tubuh wangi Kyungsoo memeluknya dengan erat. Ia membisikkan beberapa kata yang membuatnya lebih tenang.

"Tidak seharusnya kau mengkhawatirkan hal yang sesungguhnya tidak ada. Cukup Kai mencintai Baekhyun. Tidak ada yang lain."

***KAISOO***

Biasanya Kyungsoo akan menatap langit, atau menghubungi Kris dalam keadaan seperti ini. Tapi malam ini, Kyungsoo menginginkan suasana lain untuk menemaninya.

Baekhyun telah kembali tidur dengan pulasnya, begitu pula Kai yang sepertinya tak bergerak sedikitpun sedari tadi. Kyungsoo keluar dari kamar itu dengan hati-hati. Ia menutup pintu kamar 304 itu dengan perlahan, tak ingin membuat orang didalamnya terjaga.

Ia berjalan menuju sebuah ruangan yang masih bercahaya. Dengan tangan yang penuh dengan gelas kopi, namja itu mengetuk pintu putih didepannya dengan siku.

"Masuk." Ucap seseorang dari balik pintu.

"Appa, aku tidak bisa membuka pintunya, tanganku penuh." Ucap Kyungsoo sambil terus berdiri tegak didepan pintu. Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka dan menampakkan Joonmyeon yang terlihat kebingungan.

"Appa tidak menyuruhku masuk?"

"A-a iya. Masuklah!" Kyungsoo masuk dengan santainya kedalam ruang kerja Joonmyeon.

"Astaga appa, bagaimana bisa kau membiarkan ruanganmu berantakan?" Kyungsoo meletakkan kedua gelas kopi di samping dispenser. Dengan cekatan, kedua tangannya mulai membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja tamu. Ia hanya berani menyentuh bagian itu karena yang ada di meja kerja pasti sedang dalam proses penyelesaian.

"Kau tidak pulang Kyung?" tanya Joonmyeon yang seenak jidat menyambar kopi yang dibawa Kyungsoo tadi.

"Mau pulang kemana? Pemilik rumahnya kan disini."

"Kau bisa kerumah kita."

"Appa, aku sudah menikah, jadi-"

"baik-baik. Appa tahu."

Kyungsoo lebih memilih untuk kembali merapikan ruangan itu dari pada mengajak ayahnya berbicara lagi.

"Kau mau tahu kondisi Baekhyun, Kyung?"

Kyungsoo menoleh dengan cepat. Matanya membulat entah karena apa.

Joonmyeon mengeluarkan kertas putih dari sebuah map coklat lalu menunjukkannya pada Kyungsoo. Namja paruh baya itu menjelaskan tentang bagaimana membaca grafik dalam kertas itu.

"Terkadang dokter bisa juga salah. Kurasa dia tidak akan lebih lama lagi." Raut wajah Joonmyeon terlihat sangat terluka saat mengucapkannya. Ia menatap Kyungsoo yang masih tenang.

"Dia akan kuat! Appa jangan berfikir seperti itu. Baekhyun hyung itu kuat, dia tidak akan mati secepat itu. Jadi, appa jangan khawatir ya?"

Joonmyeon dengan cepat merubah raut wajahnya.

"Siapa yang khawatir?"

"Appa,"

"Diam kau. Huh, kenapa kau malah disini? Mengangguku saja."

Joonmyeon kembali duduk di kursi kerjanya. Tangan kanannya kini telah menggenggam pena untuk menyelesaikan pekerjaannya.

"Appa…"

"Hem?"

"Aku ingin lihat foto eomma." Suara Kyungsoo lebih seperti cicitan burung kecil bagi Joonmyeon. Pria itu tahu bahwa Kyungsoo sedikit tidak yakin.

"Aku menyimpan satu album disini. Ayo lihat bersama."

Mata Kyungsoo melebar lagi. Pandangannya tetap tak percaya menatap Joonmyeon yang mengeluarkan sebuah album foto dari laci meja kerjanya. Seumur hidup, Kyungsoo berkali-kali meminta Joonmyeon untuk menunjukkan foto Ibunya dan berkali-kali pula Kyungsoo mendapat bentakan. Joonmyeon sangat tidak suka Kyungsoo menanyakan ibunya. Entah mengapa.

Kyungsoo mengikuti Joonmyeon yang duduk di kursi tamu sambil memangku album foto itu. namja kecil itu duduk disamping ayahnya sambil sedikit mendesis senang.

"Ini ibumu." Joonmyeon menunjuk seorang pria berjas putih bersih yang berdiri sendiri di altar. Namja itu tersenyum manis hingga menunjukkan single dimple di pipi kanannya.

"Whoa… dia sangat manis. Bagaimana bisa dia melahirkan itik buruk rupa sepertiku. Ini pasti gen dari appa yang jelek! OH! Ini appa?" Kyungsoo menunjuk seorang pria berjas hitam yang ada di samping 'ibunya' dalam foto lain. Joonmyeon mengangguk kecil sambil menahan lengkungan senyuman di bibirnya.

"Kau tidak terlihat bahagia," Komentar Kyungsoo.

"Memang." Hitunglah berapa kali Kyungsoo membulatkan matanya hari ini. Matanya menyiratkan pertanyaan 'Kenapa' pada sang ayah.

"Aku dan ibumu menikah karena dijodohkan. Kami-"

"Kisah klasik." Belum sempat Joonmyeon selesai bicara, Kyungsoo telah menyela dengan tidak sopannya. Deathglare Joonmyeon langsung membuat Kyungsoo membeku seketika.

"Baik-baik. Lanjutkan."

"Kami baru bertemu sehari sebelum pernikahan. Aku sedikit membencinya, bagaimanapun aku benci orang-orang yang mengarahkan jalanku. Tapi saat itu dia tersenyum. Cantik sekali. Dan dengan bodoh aku tidak menyadarinya. Kau ada pun karena tuntutan keluarga. Satu tahun aku tidak menyentuhnya, dan kau muncul dengan sangat cepat, bahkan aku hanya perlu sekali menyentuhnya."

"Menyentuh itu…" Joonmyeon menoleh pada Kyungsoo yang terlihat kebingungan.

"Bodoh! SEX!" kali ini bibir tebal Kyungsoo yang membentuk huruf O.

"Lalu apa kau senang eomma hamil?"

"Sedikit."

Kyungsoo menggerutu kecil sambil membuka-buka album foto itu lebih jauh.

"Tapi aku sangat senang saat mendengat tangisan pertamamu saat itu. Rasanya begitu bangga. Aku tidak bisa berhenti tersenyum saat dokter memberikan ucapan selamat padaku. Yang kupikirkan saat itu adalah mencium kening istriku yang telah memberikan senyuman itu padaku." Joonmyeon tersenyum.

"Tapi kau tahu apa yang terjadi? Para perawat mendorong tempat tidur dari ruang operasi dengan Yixing disana. Dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia mati, sebelum aku mengucapkan aku sangat menyayanginya." Tanpa sadar, Joonmyeon menyebutkan nama Yixing. Seperti ia mengungkapkan cerita itu pada angin yang berlalu, bukan pada anaknya sendiri.

"Kau, Tidak membenciku?" tanya Kyungsoo ragu.

"UNTUK APA AKU MEMBENCIMU JIKA AKU YANG SALAH DISINI?!" tanpa sadar, Joonmyeon membentak Kyungsoo seperti ia membentak dirinya sendiri.

Dentuman keras tercipta dari album foto yang dilempar Joonmyeon dengan kasar ke meja. Tangan kanannya kini tengah menutupi wajahnya sendiri. Tubuh yang bergetar membuat Kyungsoo yakin bahwa ayahnya menangis.

Mungkin sekarang Kyungsoo sedikit lebih mengerti kenapa Joonmyeon tidak pernah menunjukkan foto ibunya. Mengapa Joonmyeon selalu marah saat ia menanyakan soal ibu. Dan mengapa Joonmyeon tidak pernah tersenyum dengan tulus pada setiap orang. Karena Joonmyeon bahkan tidak tersenyum untuk orang yang dicintainya. Sedikitpun.

"M-Maaf."

Kyungsoo merengkuh bahu bergetar Joonmyeon dan tanpa sadar ikut menangis. 19 tahun mereka hidup bersama, tapi Kyungsoo bahkan tidak mengerti penderitaan Joonmyeon. Sebagai keluarga, bukankah ia telah gagal?

"Maaf aku tidak mengerti. Kau tidak pernah cerita padaku! Kau salah! Ya, kau yang salah! Jangan begini lagi. Ayah anggap aku ini apa? Ayah bisa cerita padaku, tapi malah diam saja. Aku juga ingin mengerti dirimu."

Perlahan namun pasti, Joonmyeon mengubah posisi mereka. Kini ia yang merengkuh tubuh kecil Kyungsoo dalam dekapannya. Tangannya mengusap rambut Kyungsoo dengan lembut. Atau mungkin rapuh.

"Maaf," selalu kata itu yang terucap dari bibir Kyungsoo disela nafasnya yang tersenggal.

"Appa juga minta maaf. Sudah jangan menangis lagi. Kau membuatku semakin sedih." Joonmyeon menegakkan tubuh Kyungsoo. Tangannya menyeka air mata yang masih mengalir di pipi chubby anaknya.

"Aku sayang ayah."

Joonmyeon membulatkan matanya. Kini air mata juga senyuman yang tak dapat Joonmyeon bendung lagi.

Pertama kalinya dalam hidup Joonmyeon, mendengar kalimat itu dari bibir Kyungsoo. 19 tahun berlalu dengan sangat cepat dan kali ini, detik paling bahagia bagi Joonmyeon.

Hanya tiga kata sederhana yang membuat Joonmyeon akhirnya tersenyum tulus pada Kyungsoo. Hanya tiga kata tanpa emas ataupun benda berharga lainnya. Karena Kyungsoo adalah yang paling berharga.

Pernahkah, sekali saja. Kalian jujur terhadap perasaanmu sendiri. Terhadap orang tua yang ada disampingmu. Pernahkah, kau jujur dengan bibirmu, betapa besarnya cintamu padanya.

"Ayah juga sangaaatt menyayangi Kyungsoo."

Keduanya kini saling tersenyum malu. Beberapa saat kemudian, tawa pecah dari keduanya. Tawa yang disertai air mata bahagia.

"Appa menggelikan!"

"Kau lebih menggelikan anak sialan!"

"Kau kan ayahnya, berarti kau juga sialan!"

"Terserah!"

Namja itu tersenyum dibalik pintu. Niatnya untuk bertanya-tanya dengan Joonmyeon kini sirna sudah. Cukup, ia melihat betapa bahagianya kedua orang didepannya itu. ia tidak ingin merusaknya.

Beberapa menit kemudian, ia melihat Kyungsoo telah tertidur di pundak Joonmyeon dengan tenangnya. Debaran itu datang dengan perlahan. Berbeda dengan debarannya dengan Baekhyun atau Taemin. Kali ini terasa begitu menyenangkan dan menyakitkan dalam satu waktu.

Greek…

Joonmyeon menoleh ke arah pintu dan mendapati Kai disana. Namja berkulit gelap itu membungkukkan tubuhnya dengan hormat dihadapan Joonmyeon. Kai menegakkan tubuhnya kembali dengan senyuman di wajahnya.

"Aku tidak menyangka anda ayah dari Kyungsoo, Kim uisa."

Joonmyeon tersenyum kecil sebelum akhirnya menoleh pada Kyungsoo yang sepertinya tak terganggu sama sekali.

"Kau pasti mendengar begitu banyak percakapanku dengan anak jelek ini."

"T-Tidak juga." Kai berusaha menyangkal bahwa ia mendengar seluruh percakapan Joonmyeon dengan Kyungsoo.

Joonmyeon terdiam sesaat. Sebelum akhirnya namja 45 tahun itu menghela nafas panjang.

"Kyungsoo. Dia bodoh, menyusahkan." Ucap Joonmyeon sambil menatap Kai penuh arti.

"Aku tahu." Jawab Kai.

"Dia juga keras kepala dan bisa berubah sifat dalam sekejap."

"Aku tahu."

"Tapi dia tidak pernah menyerah, dia pintar mengurus rumah, dan dia juga cukup cantik bukan?"

"Aku tahu."

Hening hingga beberapa saat hingga Joonmyeon menanyakan perihal kedatangan Kai keruangannya.

"Aku ingin tahu perkembangan Baekhyun. Tapi sepertinya aku harus mengurusi istriku yang ini terlebih dahulu."

Kai mendekati sofa yang ditempati Kyungsoo dan Joonmyeon. Tangan terlatihnya kini telah menggendong tubuh Kyungsoo ala bridal style. Tak sulit dengan berat badan Kyungsoo yang termasuk kekurangan gizi.

"Kami permisi, ayah."

Joonmyeon mengantar mereka berdua hingga pintu ruangannya.

"Jongin," panggil Joonmyeon.

Kai sedikit berbalik untuk melihat wajah ayah mertuanya. (CIYE~~ ayah mertua! #ngerusak suasana)

"Cinta memang tidak bisa dipaksakan, tapi bisakah kau sedikit mencoba mencintai anakku? Sebelum semuanya terlambat."

Kai terlihat ragu. Tanpa menjawab, ia sedikit membungkukkan tubuhnya lalu pergi.

***KAISOO***

Kau lihat aku? Aku mencintainya, sangat! Aku tidak ingin menyesal lagi. Walau mungkin ini sangat terlambat, aku senang. Yixing, sudilah kau dicintai olehku

.

.

TBC

.

A/N : uhuk~ updet nih. Karena lagi suka sama FF ini, jadi ya lagi fokus ke sini. #apaan

Maaf banyak typo ya. Biasalah FF abal.

HAPPY NEW YEAR! untuk yang merayakan (~'-')~ (semua juga merayakan kale)

Yehet! Semoga suka lah ya. Ciat-ciat sebenernya aku agak ehem nangis nih sama bagian bapak anak diatas ehem. Abis gimana ya, seumur hidup belum pernah ngomong sayang sama ayah ._.

LAH CURCOL!

Last, Mind to Review? ^^