WARNING! Typo(s), Alur lambat, kebanyakan dialog, dan Kerusakan EYD.
Rated : T+ (Rated naik nih~)
Genre : Diatas udah ada -_-
.
Cherry Blossom in His Heart
.
16
Kyungsoo mengerjapkan matanya saat terganggu dengan udara pagi yang terasa begitu menusuk tulang. Dilihatnya Baekhyun yang tengah duduk di atas tempat tidur tanpa alat bantu pernafasan seperti tadi malam. Namja itu menatap Kyungsoo yang baru bangun dengan senyumannya.
"Selamat pagi." Ucapnya.
Kyungsoo langsung mendapatkan seluruh nyawanya saat mendengar suara Baekhyun. Matanya menelurus kesegala sudut ruang rawat itu dengan bingung. Bukankah seharusnya ia ada di ruang kerja Joonmyeon?
"Kenapa aku disini?" tanya Kyungsoo.
"Entahlah. saat aku bangun kau sudah disana." Jawab Baekhyun.
Kyungsoo menganggu mengerti. Mungkin saja Joonmyeon yang menggendongnya sampai sini. Di buangnya rasa penasarannya jauh-jauh. Sekarang ia mendekati Baekhyun dan menanyakan keadaannya.
"Aku semakin baik. Semoga saja bisa pulang dalam waktu dekat ini."
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya, Jongin ahjussi dimana?"
"Kantin. Mengapa kau tidak menyusulnya?"
Kyungsoo mengangguk cepat lalu pamit untuk menyusul Kai karna perutnya yang meronta minta diisi.
Tak butuh waktu lama bagi Kyungsoo untuk menemukan Kai di kantin rumah sakit yang sepi. Pria berkulit gelap itu tengah menikmati makannya di meja dekat meja kasir.
"Ahjussi!" Kyungsoo langsung menduduki kursi di depan Kai yang kosong. Ia memamerkan gigi-gigi putihnya pada suaminya itu.
"Hmm…" Kyungsoo mengerucutkan bibirnya sebal karna tanggapan dingin Kai.
"Aku lapar…"
"Tinggal makan."
"Tidak punya uang."
Kai mengalihkan pandangannya dari roti didepannya pada namja –yang menurutnya- bodoh didepannya. Ia tengah mengerjapkan matanya imut dengan bibir yang seperti bebek. Kai mendesah pelan.
"Kalau begitu tidak usah makan." Jawab Kai enteng.
"Ahjussi!"
Kai tak membalas kata yang keluar dari bibir kyungsoo kali ini.
"Kim ahjussi!"
"…"
"Yeobo…"
"Jangan panggil aku seperti itu!"
Kai tetap diam sampai Kyungsoo memanggilnya dengan kata yang bahkan belum pernah Baekhyun pakai untuk memanggilnya. Kyungsoo terdiam setelah mendapatkan sedikit bentakan dari Kai. Mereka berdua terdiam sampai akhirnya bunyi perut Kyunsoo memecahkan keheningan itu. pipi chubi sang namja imut itu kini bersemu malu dan merutuki perutnya yang tak bisa diajak kompromi.
"Hah… menyusahkan saja." Kai mendesah kesal sambil mengeluarkan sejumlah uang untuk Kyungsoo.
"Khamsahamnida! Kau memang suami terbaikku." Kyungsoo langsung kabur ke counter makanan sebelum Kai memberikannya dampratan lagi karna telah mengklaim Kai sebagai suami.
"Tentu saja. Suamimu kan hanya aku."
Kyungsoo kembali ke meja Kai dengan sepiring sandwich dan susu kotak di tangannya.
"Ahjusshi mau kemana setelah ini?" tanya Kyungsoo sambil mengunyah sandwichnya.
"Menemani Baekhyun. Memang kenapa?"
"Tidak. Hanya bertanya saja."
Kyungsoo kembali terdiam sambil melanjutkan mengunyah makanan dengan lahap. Matanya tertuju pada cangkir kopi Kai yang isinya tinggal setengah.
"Tidak terasa ya, sudah lebih dari setengah bulan sejak pertama kali kita bertemu. Begitu pula dengan pernikahan kita yang tinggal separuh lagi dijalani."
Kai diam, tatapannya mengarah pada arah pandangan Kyungsoo yang jatuh diatas cangkir kopinya. Namja berkulit gelap itu mendesah pelan entah karna apa.
"Yah… seharusnya aku senang. Tapi berhubung kau sudah terlalu terbiasa ada di hidupku, tidak mungkin aku akan melupakanmu begitu saja."
Mata Kyungsoo membulat dengan perkataan Kai yang manis. Kyungsoo terharu, tentu saja.
"Kau tidak membenciku?"
"Mungkin… Tidak."
Namja bermata bulat itu tersenyum dengan bibir yang tak henti-hentinya menggumamkan kata terima kasih. Sebegitu senangkah dia dengan pernyataan yang sebenarnya dapat ia dengar dari setiap orang yang dikenalnya?
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kamar Baekhyun. Tak ada pembicaraan serius diantara mereka. Mungkin hanya pertanyaan Kai tentang bagaimana kuliah Kyungsoo dulu, atau sekedar bertanya bagaimana perasaannya bekerja menjadi guru TK.
"Dulu ahjusshi juga guru kan? Bagaimana perasaanmu saat mendidik seseorang saat itu?"
Kai sedikit berfikir dan mengingat-ingat masa lalunya.
"aku tidak terlalu bisa merasakan bagaimana perasaanku saat itu. Aku lupa."
Kyungsoo tersenyum datar sambil menyembunyikan rasa kecewanya. Berarti dia memang melupakanku.
"Ah! Tapi selama menjadi guru magang, rasanya menyenangkan. Apalagi dengan banyak gadis cantik yang menyukaiku."
"Dan dari sekian banyak orang yang menyukaimu, akhirnya kau tertarik dengan Taemin. benar?"
Kai menatap Kyungsoo dalam walau orang yang ditatap terus menatap kedepan. Kai mengangguk kecil.
Mereka berdua sampai di kamar Baekhyun dan menemukan namja itu tengah tertidur pula di ranjangnya. Itu bagus, kondisinya akan semakin membaik jika seperti ini. Kyungsoo mendekatinya lalu menyeka keringat Baekhyun yang menetes dari dahi.
"Kupikir dia semakin pucat." Ucap Kyungsoo setelah menatap wajah Baekhyun dengan seksama.
Kai menghempaskan tubuhnya di sofa. "Tidak usah khawatir. Baekhyun pria yang kuat."
"Semoga saja begitu."
Waktu terasa begitu lama bagi kedua orang yang kini hanya bisa berdiam diri. Tidak ada yang bisa atau mungkin ingin mereka lakukan hingga akhirnya malam menjelang. Lebih dari 12 jam mereka hanya diam dan duduk menunggui Baekhyun yang tak kunjung bangun.
Hingga akhirnya ranjang pasien itu bergoyang kecil. Kyungsoo menatap seorang yang menempatinya dengan tatapan khawatir, tapi Baekhyun justru terlihat lebih mengkhawatirkan kedua orang yang diketahuinya mencintainya.
"Kenapa kalian masih disini?" tanya Baekhyun.
"Memang harus kemana lagi? Kau kan sedang sakit, jadi kami menjagamu." Ucap Kyungsoo lembut.
"Pulanglah. Kai, ajak Kyungsoo pulang. Lihat matanya sudah seperti panda, dia kurang istirahat." Ucap Baekhyun yang lebih seperti perintah di telinga Kai. Namja itu bangkit dari kursinya lalu menghampiri Kyungsoo yang duduk di kursi sebelah tempat tidur Baekhyun.
"Ayo."
"Baekhyun hyung bagaimana?" tanya Kyungsoo yang menghiraukan Kai.
"Aku baik-baik saja. Ada banyak dokter dan perawat yang lebih ahli dari pada kalian disini. Cepat pergi." Bahkan ditengah sakitnya pun, Baekhyun masih sempat bercanda.
"Kami pulang dulu Baek."
Kyungsoo dapat melihat Baekhyun yang tersenyum sebelum pintu kamar itu tertutup sepenuhnya.
Sesampainya dirumah, Kai tak mempedulikan Kyungsoo dan tetap berjalan ke kamarnya.
"Tidak mau makan dulu?" tanya Kyungsoo yang menyadari Kai belum makan apapun sejak tadi siang, begitu juga dengannya.
Awalnya Kai diam sampai akhirnya dia berbalik dan berkata, "Kau bisa membuatnya dengan cepat?"
Kyungsoo mengangguk. Pria berusia 19 tahun itu menarik tangan Kai hingga ke ruang dapur. Mendudukan Kai dengan tenang lalu secepat mungkin membuat nasi.
"Mungkin akan sedikit lama untuk membuat nasinya, tapi aku janji setelah itu akan cepat."
Kyungsoo menduduki kursi dihadapan Kai dengan cengiran khasnya. Ia membunuh waktu dengan memainkan jari-jarinya diatas meja. Dari jauh pun, Kai bisa melihat seberapa kecil dan pucatnya kedua tangan itu.
Tanpa berbicara apapun, Kai menggenggam kedua tangan Kyungsoo dengan kedua tangannya. Ia sedikit meremas-meras tangan itu hingga menurutnya semakin hangat.
"Lain kali kalau keluar rumah pakai sarung tangan." Kai tak menatap wajah Kyungsoo yang bersemu merah. Ia hanya terfokus pada kedua tangan kecil dalam genggamannya.
"Tidak apa-apa. Aku kan berdarah panas."
"Itu tidak ada hubungannya. Kau bodoh di Biologi ya?"
Kyungsoo yang awalnya tersipu-sipu kini mengerucutkan bibirnya jengkel.
"Tidak hanya di Biologi. Tapi semua mata pelajaran."
Kai menatap Kyungsoo untuk pertama kalinya sejak beberapa waktu yang lalu. Senyuman simpul tercipta di wajahnya saat melihat wajah Kyungsoo yang muram mengingat masa SMA nya. Kai tidak tahu bagaimana Kyungsoo dulu, tapi dia yakin, Kyungsoo bukan anak yang suka bersosialisasi.
Ting!
Bunyi rice cooker membuat keduanya sedikit terkejut. Entah apa yang ada di pikiran Kyungsoo, ia langsung menarik tangan Kai hingga mereka berdua kini berdiri bersebelahan di depan rice cooker.
Begitu Kyungsoo membuka tutupnya, ia segera menarik kedua tangan Kai keatas rice cooker yang mengepulkan uap air.
"Hehe… rasanya lebih hangat kan?" Kyungsoo menampilkan cengirannya lagi. Ia memainkan tangannya juga tangan Jongin agar menghangat terkena uap air itu.
"Bodoh. Cepat buatkan aku makanan." Kai kembali duduk di kursinya sementara Kyungsoo mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.
5 menit berlalu dan kini tiga buah onigiri dengan nori telah berada di meja Kai.
"Mak-" belum selesai Kyungsoo bicara, Kai langsung menyambar salah satu bulatan nasi itu lalu memakannya dalam diam.
Kyungsoo pun tak mau banyak bicara. Ia hanya menatap pasangan hidupnya itu dalam diam. Matanya mengobservasi wajah Kai yang seperti candu baginya beberapa tahun ini. Walau mungkin memang berjalan sulit, tapi Kyungsoo bersyukur bisa menatap Kai dari dekat seperti ini.
"Pernahkah berfikir seberapa beruntungnya kau mendapatkan Baekhyun hyung, Ahjusshi?" tanya Kyungsoo yang seketika membuat Kai mengehentikan kunyahannya.
"Yah… Sebenarnya aku berfikir sebaliknya. Kenapa aku menyukai orang yang penyakitan seperti dia. Tapi tidak bisa kupingkiri aku ingin selalu bersamanya dan menjaganya selama aku bisa."
Senyuman itu mengembang. Bukan senyuman kecut atau penutup kesedihan, tapi senyuman tulus yang malah sengaja disembunyikan.
"Aku tau songsaengnim bukan orang yang jahat." Kyungsoo menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. Matanya menatap mata Kai penuh arti.
"Kau ini bicara apa?"
"Ahjussi, hanya berusaha menjaga perasaan Baekhyun hyung, Taemin, kau sendiri dan semua orang yang menyukaimu. Karna bingung mau melindungi yang mana, akhirnya kau menyakiti semuanya."
Kyungsoo berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju pintu dapur. Matanya sudah terasa lelah dan meronta ingin ditutup. Sepertinya tidak akan kuat terbuka bahkan sampai Kai menyelesaikan makanannya.
"Letakkkan saja di bak cuci jika sudah selesai makan. Aku mau tidur. Selamat tidur!"
Kyungsoo menutup pintu kamarnya perlahan hingga tak menimbulkan bunyi sama sekali. Kakinya melangkah dengan hati-hati ke arah yang dirasanya ada tempat tidur. Yah, karna dia sengaja tidak menghidupkan lampu, tentu saja ia tidak bisa melihat barang-barang di kamarnya dengan jelas.
Kasur seperti terasa lebih nyaman untuk Kyungsoo yang sehari kemarin harus tidur di sofa.
***KAISOO***
Kyungsoo membuka matanya dan sadar ia ada di tempat yang asing sekaligus familiar dalam memori otaknya. Pandangannya menelusuri tempat itu hingga akhirnya jatuh pada pintu masuk yang terbuka lebar. Tanpa diperintah, kedua kakinya kini mendekati pintu kayu itu dengan hati-hati.
Srek…
Tepat sebelum Kyungsoo memasuki ruangan itu, sebuah pesawat kertas jatuh tepat didepan sepatunya. Ia mengambilnya lalu merusak tatanan lipatan rapi itu kembali menjadi kertas halus seperti semula.
"Ayo saling bercinta!"
Kyungsoo membelalakan matanya setelah membaca tulisan itu. matanya beralih pada ruangan yang kini dipijaknya. Semua orang tengah menatapnya heran namun beberapa saat kemudian salah satu dari mereka tersenyum manis dan menghampiri Kyungsoo.
"Kyungsoo-ya, kau datang ya?" namja remaja itu memeluk pinggang Kyungsoo erat seperti tak mau melepaskannya. Pada akhirnya, seluruh orang dalam ruangan itu telah memeluk Kyungsoo tanpa sadar.
Tetap dengan wajah bingungnya, Kyungsoo menatap seorang laki-laki yang tengah berdiri dengan senyumnya di depan sebuah papan tulis besar. Benar! Ini kelasnya.
"Ssaem-"
Pandangannya kabur. Seluruh hal yang ada dihadapannya menghilang begitu saja. Digantikan dengan langit biru, angin musim panas dan suara berisik dari sebelah.
Kyungsoo sadar ia tengah berbaring dengan menatap langit di atap sekolah.
"Sangat sulit didekati." Kyungsoo memutar kepalanya 90 derajat dan menemukan sekelompok anak tengah duduk melingkar disana.
"Dia juga menyebalkan! Aku tidak mau berteman dengannya!" Seorang laki-laki remaja dengan wajah cantik berteriak kesal. Sambil merobek-robek sebuah foto dengan sebal.
Kyungsoo akhirnya tertarik dan kini telah duduk di sekitar mereka. Terbilang banyak orang, mungkin 10 atau lebih. Tapi ia tidak mengerti, kenapa anak-anak itu tidak melihat kearahnya?
"Luhan-ah! Jangan begitu! Sebenarnya dia anak baik. Percayalah padaku." Seorang namja lainnya dengan kulit putih kini menyambar serpihan serpihan foto yang telah Luhan robek.
"Paling tidak, cobalah untuk mendekatinya." Seorang guru diantara mereka berusaha membuat suasana diantara anak didiknya itu menjadi lebih tenang dan dingin.
Walau tak mengerti, waktu sepertinya tetap mempermainkannya. Pandangannya kabur lagi, hingga semuanya terganti dengan ruangan putih dimana semuanya terasa familiar bagi Kyungsoo.
Ia kembali berbaring di kasur empuk dengan sprei putih pula. Dihadapannya, seorang yang dilihatnya beberapa saat yang lalu tengah menangis keras. Ia memaki-maki Kyungsoo dengan bicara kasarnya.
"Bodoh! Seharusnya kau bilang padaku kalau kau sakit seperti itu! Aku tidak akan membiarkanmu bermain dengan panahan lagi! Tidak akan!"
Telinga Kyungsoo sampai berdengung dengan teriakan namja cantik itu. tapi entah mengapa hatinya terasa panas dan menyenangkan. Tanganya terulur untuk mengusap air mata –mungkin- temannya yang membasahi seluruh wajah cantik itu.
"Aku tidak apa-apa, Luhan-ah."
Kyungsoo tidak mengerti dengan tubuhnya. Raga itu bergerak tapi jiwanya berkeliaran kemana-mana. Cukup!
"Aku akan menjagamu setelah ini. Percayalah!"
Suara detikan jam rumah sakit kembali mengantar Kyungsoo pergi. Ruangan gelap menyambutnya. Kini ia melihat sebuah gundukan di bawah selimut berwarna hijau. Ia mendekati tempat tidur itu untuk melihat siapakah orang dalam selimut itu.
Tidak! Tapi langkahnya terhenti dengan pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Kyungsoo kembali ke tempatnya semula, pojok ruangan. Ia melihat seorang pria paruh baya masuk kedalam kamar itu dengan wajah penuh penyesalan. Ia duduk di sebelah gundukan itu, lalu membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh namja yang tertidur dalam diam itu.
"Maaf, ayah hanya tidak suka kau terlalu memikirkannya. Kau menyakiti dirimu sendiri, sayang. Hiduplah dengan lebih tenang tanpanya, bisakan?"
Tangan yang terlihat kuat namun lembut itu mengusap rambut namja yang tetap tidur.
"Ayah menyayangimu."
Kecupan singkat di dahi, lalu semuanya samar bagi Kyungsoo yang hanya sebagai penonton.
Ruangan yang sama, udara yang sama, dengan suasana yang berbeda.
Begitu membuka mata, Kyungsoo langsung dihadapkan dengan seorang namja berwajah tampan yang beberapa saat kemudian langsung menciuminya dalam. Matanya tebelalak namun ia tak bisa mengelak. Ciuman yang terasa panas dan mendebarkan bagi Kyungsoo yang amatiran dalam hal-hal seperti itu.
"Aku menyukaimu."
KAISOO
"MPHHH!" Kyungsoo terbangun dan ingin berteriak dengan keras. Namun sesuatu menahan bibirnya agar tidak bergerak. Dalam cahaya yang remang-remang, Kyungsoo dapat melihat wajah tampan dalam mimpinya dihadapannya sekarang. Wajah damai dengan mata tertutup rapat dan bibir yang terus bergerak memakan bibirnya.
Tangan kecil Kyungsoo berusaha mendorong bahu namja di depannya, tapi tak bisa. Tangan namja itu menekan keras tengkuknya hingga ia bisa memonopoli bibir Kyungsoo sesuka hatinya.
Kyungsoo hanya bisa meremas baju bagian depan namja itu saat merasa sesak.
"Hah…" Kyungsoo meraup udara sebanyak yang mungkin bisa ia dapat. Matanya menatap tak percaya Kai yang juga tengah mengatur nafasnya.
Tak berapa lama, Kai kembali menekan bibirnya di bibir bengkak Kyungsoo. Tubuhnya mulai merangkak naik keatas tubuh pria yang lebih kecil sambil berusaha melepaskan kain yang membalut tubuh bagian atas pria kecil itu.
Kyungsoo hanya pasrah saat baju atasannya kini telah dibuang entah kemana oleh Kai. Tangannya meremas rambut hitam Kai demi melampiaskan rasa aneh dalam tubuhnya. Sekuat tenaga, Kyungsoo menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan suara, namun Kai malah menyentuh titik sensitifnya di selatan sana.
"Ahh Ahjusshii…" leher hingga dada Kyungsoo kini telah berubah bak kanvas dengan cat merah keunguan disana sini. Sakit, luka-luka itu sejujurnya membuat Kyungsoo kesakitan dari pada merasa nikmat.
Tangan kekar Kai kini berpindah kebawah. Bersiap menarik kain yang menutupi daerah terlarangnya. Kyungsoo membelalakan matanya.
"J-jangan. Kumohon!"
Tangan Kyungsoo menahan tangan Kai yang hampir saja melepaskan celana itu dari tempatnya.
"Ssst… nikmati saja. OK?" Kai kembali menyesap leher Kyungsoo hingga membuat luka-luka baru.
Sret…
Habis sudah. Tidak ada lagi satupun bagian tubuhnya yang tidak terlihat bagi Kai. Seluruhnya, Tapi Kyungsoo senang karna Kai lah yang pertama baginya. Tapi kesedihan menghampirinya karna tak bisa memberikan yang pertama untuk orang yang benar-benar mencintainya. Kyungsoo ragu.
Kyungsoo memekik tertahan saat merasakan benda kaku bertulang itu masuk kedalam tubuhnya dalam sekali hentak.
"Semua akan baik-baik saja. Percayalah."
Kyungsoo hanya diam sambil berusaha mengalihkan rasa sakit dari ketiga jari Kai yang serasa mengaduknya didalam sana.
Ketiga jari itu dikeluarkan perlahan oleh pemiliknya. Dan Kyungsoo merasa tidak siap dengan ini.
"Aku masuk, sayang."
Tepat setelah Kai berucap, Kyungsoo merasakan pintu kenikmatannya dilebarkan dengan paksa oleh benda itu, benda yang sangar besar hingga ia tak yakin dapat muat.
"Eung!"
Jari-jari tangannya memutih mencengkram sprei tempat tidurnya. Kepalanya mendongak tinggi hingga urat-urat lehernya tercetak jelas, juga oksigen yang sepertinya tak terambil di setiap tarikan nafas.
Semuanya berjalan sangat perlahan hingga Kyungsoo dapat menangis sesegukan karna itu. Dan sebuah dorongan keras hingga tubuh Kyungsoo terbawa maju merupakan akhir yang menyakitkan.
"Sakit!" Kyungsoo ingin berteriak keras namun dengan nafas yang pendek ia tidak bisa melakukan itu. Ia hanya bisa mengulang kata-kata itu berulang kali.
Kai diam beberapa saat tanpa melakukan apapun untuk menenangkan Kyungsoo. Ia hanya diam sambil menatap wajah Kyungsoo yang kesakitan.
Namja itu mulai menggerakkan tubuhnya dengan tempo lambat beberapa saat kemudian. Rintihan-rintihan kecil masih terdengar namun Kai berusaha menyamarkan itu.
Tangannya menangkap salah satu tangan Kyungsoo yang masih saja melampiaskan sakitnya pada sprei. Ia menuntun tangan itu ke pundaknya.
"Sakiti aku jika aku menyakimu!"
Tempo piston itu semakin cepat hingga desahan serta deru nafas menjadi satu. Jari Kyungsoo kini menyakiti kulit pundak Kai.
Kyungsoo gelisah. Matanya tak fokus menatap mata Kai dihadapannya, semua terasa kabur baginya. Sakit!
"Kau, bisa kan?" Tanya Kai dengan menahan desahannya. Tubuhnya tetap bergerak tak beraturan karna dirasa puncak hampir datang.
Kyungsoo mengangguk kecil sebagai jawaban. Ia mengerti apa yang dimaksud Kai.
Tubuh keduanya melemas beberapa sodokan kemudian. Tangan Kai mencoba untuk menahan berat tubuhnya agar tidak menimpa Kyungsoo yang kelelahan.
"Aku titip satu disini. Tolong ya?" Kai mengelus perut rata Kyungsoo dengan tatapan lembutnya.
Kyungsoo kembali mengangguk lemah. Kai tersenyum bahagia lalu mengecup bibir sang istri mesra. "Terima Kasih."
"Tapi jangan salahkan aku jika tak bisa melahirkannya."
"Kau bisa."
***KAISOO***
17
Waktu terasa begitu cepat setelah Kai mengakhiri kegiatannya untuk mengerjai tubuh Kyungsoo. Namja bermata bulat itu bahkan hanya tidur beberapa menit saja sebelum terjaga kembali.
Ranjang itu berderit kecil saat salah satu penghuninya turun menapak lantai. Tangannya menarik selimut yang dipakainya berdua dengan Kai untuk menutupi tubuhnya.
"Engh…" gumam Kai pelan saat merasakan dingin di kulitnya. Kelopak matanya terangkat perlahan dan memandang Kyungsoo yang berjalan tertatih ke kamar mandi.
Suara dentuman pintu jelas terdengar diikuti dengan suara gemercik air. Kai mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Ia menatap langit-langit kamar yang pertama kali ditempatinya itu. matanya bergerak gusar kesana kemari.
"Apa yang sudah kulakukan?"
….
Kyungsoo membasuh wajahnya yang lelah. Matanya menatap seorang didalam cermin yang berembun di depannya. Orang itu terlihat menyedihkan. Banyak luka menghiasi leher dan dadanya. Belum lagi luka lecet di bibirnya yang masih berasa karat dengan darah yang sedikit mengalir.
Tangan kecilnya menyentuh satu buah luka yang terlihat paling besar dan merah didekat rahang bawahnya. Seketika, kerutan di sebelah mata Kyungsoo bertambah saat tangannya sendiri menekan luka itu.
"Aku tidak apa-apa."
….
Kyungsoo memakai sepatunya dilantai bawah saat Kai datang dan meletakkan sebotol susu dimeja, untuknya.
"Untukku?" tanya Kyungsoo ragu. Namun anggukan Kai membuat Kyungsoo tak berfikir dua kali untuk meminumnya.
Kyungsoo menyelesaikan mengikat sepatunya dalam diam tanpa sadar Kai tengah mengawasinya sedari tadi.
"Itu-mu, sudah tidak sakit?" tanya Kai hati-hati sambil mengalihkan tatapan matanya.
Mendengar pertanyaan Kai yang tak terduga itu, pipi Kyungsoo langsung bersemu merah juga matanya yang membulat sempurna.
"Iya, Ah maksudku tidak. Sungguh! Aih!" Tindakan Kyungsoo selanjutnya benar-benar diluar dugaan. Tubuhnya berdiri tiba-tiba tanpa diperintah hingga Kai terkejut karenanya.
"Jangan memaksakan diri begitu. Mau kuantar?" tanpa menunggu jawaban, Kai meraih kunci mobilnya lalu melesat keluar dengan Kyungsoo yang mengekor dibelakangnya.
Mereka terdiam dalam perjalanan. Kai terus memperhatikan jalan Seoul yang mulai ramai, sementara Kyungsoo memainkan cincin pernikahannya.
Cincin perak. Biasanya orang yang sudah menikah akan menggunakan cincin emas dengan berlian atau paling tidak ukiran dibagian dalamnya. Tapi milik Kyungsoo benar-benar polos. Walau ia senang menerimanya, tapi tentu saja ia sedikit menginginkan yang lebih baik. Jika bisa.
Selama ini Kyungsoo terus memakai cincin itu kemanapun, ia ingin membuktikan pada semua orang bahwa ia sudah dimiliki. Walau mungkin ia tidak memiliki. Tanpa sadar, kulit jarinya pun sering terluka karena benda itu.
Tiba-tiba sebuah tangan hangat menggenggam kedua tangannya. Mata Kyungsoo langsung beralih pada seseorang yang melakukan lah itu.
Kai masih tetap fokus mengendalikan mobil dengan satu tangan di stir sementara tangan lainnya menggengam tangan kiri Kyungsoo.
"Ahjusshi tidak kerja hari ini?" tanya Kyungsoo.
"Aku mengambil cuti untuk beberapa hari kedepan. Kupikir perusahaan akan baik-baik saja tanpaku." Jawab Kai enteng seperti ia hanya Office boy di perusahaan sebesar itu.
"Kalau begitu kau akan menemani Baekhyun hyung seharian ini?"
"Kupikir tidak. Ada beberapa hal yang harus kulakukan hari ini."
Kyungsoo mengangguk-anggukan kepalanya mengerti lalu diam karna sekolah tempatnya mengajar telah dekat.
"Terima kasih sudah mengantar." Kyungsoo bergegas melepas sabuk pengamannya. Tapi tepat sebelum ia keluar dari mobil itu, Kai telah lebih dulu keluar menuju sekolahnya itu.
"Ahjusshi mau apa?" Kyungsoo berusaha mengejar Kai yang bahkan sudah masuk kedalam ruang Yura. Orang gila itu mau apa?
"Kyungcoo caengnim!"
"Coo Nim!"
"Aniya! Aniya! Coo Punya minnie!"
Biarkan saja suaminya itu. yang terpenting kan pekerjaannya sendiri sekarang.
***KAISOO***
Pria cantik itu duduk manis diatas ranjangnya sambil menatap sang dokter penuh harap. Matanya tak bisa menyembunyikan sirat takut dan khawatirnya.
"Kondisi anda sangat tidak memungkinkan untuk mengikuti kemotherapi lagi. Sumsum tulang belakang anda sudah tidak dapat menahan efek samping dari racun-racun itu. maafkan saya."
Pria cantik itu menundukkan wajahnya seketika. Tangannya bergerak gelisah diatas selimut yang menutupi kakinya.
"Walaupun aku dioperasipun, belum tentu aku sembuh kan?"
Sang dokter terlihat terkejut namun ia tak ingin membuat pasiennya itu putus asa.
"Kau harus yakin kau bisa sembuh. Bukankah banyak orang yang mencintaimu dan menginginkan kau yang sehat kembali? Jangan kecewakan mereka." Dokter muda itu menggenggam tangan Baekhyun dengan hangat sebagai tanda penyemangat.
"Sudahlah, aku juga tidak berharap terlalu jauh. Semakin lama aku hidup, semakin banyak orang yang disusahkan olehku. Hidup yang menyedihkan."
Dokter muda itu hanya bisa terdiam dengan pasiennya.
"Kalau begitu beristirahatlah. Saya pamit." Dokter muda itu membungkukkan tubuhnya dalam lalu pergi meninggalkan Baekhyun sendirian.
*KAISOO*
Jam mengajar Kyungsoo telah selesai. Kini ia bersiap untuk pulang dengan bis yang biasanya ia tumpangi. Yah, sebelum seorang namja tinggi menghampirinya dan tanpa permisi mengangkat tubuhnya dan memutarnya seperti komedi putar.
"YA! Apa yang kau lakukan?! Kita di tempat umum bodoh!" Kyungsoo hampir saja menjitak kepala namja itu jika saja ia tega membuat senyumannya hilang.
"Tebak, Apa yang aku dapat hari ini?" tanya Kris antusias.
"Ular baru?" Tanya Kyungsoo ragu.
Kris menggeleng pasti.
"Wanita penghibur baru?" Kyungsoo semakin ragu. Bukankah Kris Gay?
"Kenapa kau berfikiran begitu?"
"Hanya menebak. Kan kau sendiri yang suruh!"
Raut wajah Kris sedikit berubah setelah itu.
"Baik-baik, jadi apa yang didapatkan naga terbang dihadapanku ini?"
"Jabatanku naik!"
Kyungsoo masih belum sadar hingga hanya bisa menatap Kris imut.
"KYA! Selamat! AH, kita harus merayakannya!"
Kyungsoo langsung menarik tangan Kris menjauh dari halte. Melupakan rencana awalnya untuk pulang.
.
"Jja, Selamat makan."
Kris menatap makanan didepannya dengan tatapan kecewa. Lalu ia menatap Kyungsoo yang memakan makanannya dengan senyuman yang tak kunjung hilang.
"Apa-apaan kau ini? Kenapa kita hanya makan mie instan?"
Ya, kedua pria itu kini ada disebuah mini market dengan mie cup didepan mereka.
"Memang kenapa? Aku tidak punya uang!" Ucap Kyungsoo dengan wajah yang tiba-tiba murung. Kris yang melihatnya kini merasa bersalah. Mau tak mau ia memakan mie instan yang bukan stylenya itu.
"Oh iya ngomong-ngomong, pekerjaan Saem kan guru. Memang bisa naik jabatan?"
Kris mengangguk antusias. Ia mulai menceritakan bagaimana perjuangan untuk naik jabatan menjadi wakil kepala sekolah di sekolahnya mengajar. Mulai dari cara mengajar yang harus diubah, juga tes-tes yang harus dilewatinya.
Tanpa sadar, mereka telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk bercerita. Tidak sadar dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba duduk didamping Kyungsoo.
"Jadi kau naik jabatan? Selamat!" Kedua namja itu sontak menoleh kearah orang yang duduk disamping Kyungsoo itu.
"A-Ahjussi mau apa disini?" Kyungsoo berusaha menutupi rasa kagetnya saat Kai tiba-tiba ada disampingnya.
"Kau tidak lihat? Aku beli kopi. Ah! Aku tidak menyangka tiang listrik itu bisa bergerak cepat."
Kai menggoyangkan kaleng kopinya didepan wajah Kyungsoo. Ia menatap Kris dengan wajah yang dibuat-buat iri.
"Huh, memang kau saja yang bergerak cepat? Ah, aku dengar perusahaanmu juga berjalan lancar. Selamat juga untukmu."
"Memang apa yang tidak bagus saat di pegang oleh Kim Jongin huh? Tapi kau tetap tertinggal satu langkah dariku jika dalam urusan ini."
"Pernikahan." Lanjut Kai dengan senyum meledeknya.
Raut wajah Kris juga Kyungsoo berubah perlahan-lahan. Jantung keduanya berdegup kencang hingga akhirnya tubuh terasa ikut bergetar. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya selagi menatap jalanan yang ramai hari ini.
"Paling tidak aku sudah punya calon. Orang didepanmu Kai. Dia milikku. Tunggu saja sampai aku melamarnya."
Kai terdiam sementara Kyungsoo semakin tidak tahu mau apa. Ia menatap Kris dan Kai bergantian seperti seorang anak kecil yang tak mengerti apa-apa sambil menggoyangkan kakinya. Jujur saja, Kyungsoo mempelajari hal macam ini dari murid-murid di TK.
"Dia? Menurutku sih tidak cocok. Dia terlalu pendek untukmu."
Kai berusaha mengembalikan suasana canggung itu dengan gurauan yang sebenarnya sedikit mengagetkan untuk dirinya sendiri. Ia hanya bisa berdoa semoga saja Kris tidak sakit hati.
"Menurutku kami cocok kok. Dia terlalu pendek dan aku terlalu tinggi. Dengan begitu aku bisa menggendongnya dengan sangat mudah. Benarkan Kyungsoo-ya?"
Kyungsoo tak menjawab. Ia semakin bingung dengan suasana yang dialaminya saat ini.
"Eum, ahjussi mau mie?"
Kyungsoo berkata walau ia tahu tak dihiraukan oleh suaminya itu. Kai dan Kris kini tengah beradu pandandang hingga Kyungsoo benar-benar merasa kecil ditengah mereka.
"Hei Kris, aku punya tantangan untukmu."
Kris mengangkat sebelah alisnya seakan tertarik dengan tantangan Kai itu.
"Aku pemilik TK yang memperkerjakan Kyungsoo sekarang. Mengajarlah disana selama beberapa hari. Denganku."
Kyungsoo membulatkan matanya mendengar penuturan Kai. Pemilik katanya? Apa-apaan itu? Kyungsoo kini mengerti mengapa Kai masuk kedalam ruangan Yura tadi pagi.
"Apa untungnya untukku?" tanya Kris seakan menanyakan barang taruhannya.
"Kita lihat siapa yang paling disukai anak-anak disana. Kau ingat kan kalau kau kalah pamor dariku saat magang?" kembali Kai menunjukkan senyum jahilnya.
"Aku setuju!"
***KAISOO***
Kyungsoo hanya diam dengan Kai yang berkonsentrasi dengan jalanan. Mereka memutuskan menjenguk Baekhyun setelah reuni kecil bersama Kris siang ini. Dan entah hanya perasaan Kyungsoo, Ia berfikir Kai sedikit berbeda beberapa menit ini.
"Ahjussi kenapa?" tanya Kyungsoo walau sedikit ragu. Ia menelusuri wajah Kai yang datar. Bukan! Bukan karna hidungnya yang kedalam tapi ekspresinya.
"Tidak apa-apa."
Mendengar jawaban Kai yang ketus sarat akan tidak tertarik, tanpa sadar Kyungsoo memainkan cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Jangan lakukan itu lagi! Jarimu iritasi." Sedikit tersentak, Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada jarinya yang memerah dengan kulit yang sedikit terkelupas. Kyungsoo bahagia, Kai memperhatikannya. Wajah namja itu memerah seketika.
"Kau bisa melepaskan benda itu jika membuatmu sakit."
Kyungsoo menggeleng yakin. Wajahnya seperti seorang anak kecil yang diminta ice creamnya oleh sang ayah.
"Ini kan satu-satunya benda yang diberikan Ahjusshi untukku. Aku belum mau melepaskannya!"
"Terserah kau saja."
"Ahjussi, berhenti disana sebentar!" Kyungsoo segera menepuk pundak Kai saat melihat toko bunga disisi jalan. Tanpa banyak bertanya, Kai menuruti permintaan Kyungsoo. Ia merapatkan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan toko bunga yang Kyungsoo tunjuk.
"Annyeonghaseo." Sapa Kyungsoo pada pemilik toko yang tengah merapikan bunga-bunganya. Wanita muda yang menjaga toko itu membungkuk kecil.
"Aku ingin beli bunga eum…"
"Untuk siapa?" tanya florist itu.
Kai tak perduli dengan apa yang kedua wanita ups, maksudnya kedua orang itu bicarakan. Ia memilih melihat-lihat bunga yang masih segar di etalase toko. Dan entah mengapa ingatannya menuju ke waktu saat ada seseorang yang mengiriminya bunga setiap hari. Tapi mengapa ia tidak pernah mengiriminya bunga lagi?
"Terima kasih." Tanpa sadar, Kai telah menghabiskan waktunya cukup lama untuk melihat-lihat benda harum itu. ia menoleh pada Kyungsoo yang mengenggam sebucket bunga dengan warna yang kontras.
"Aku tidak tahu kau punya kebiasaan seperti wanita." Ucap Kai mengejek saat mereka sudah berada di mobil.
"Apa maksudmu? Huh, memang tidak boleh? Yang penting kan aku tidak menggunakan baju wanita!"
"Tapi pasti cantik."
"APA?!" Kyungsoo hendak melemparkan bucket bunganya ke kepala Kai jika saja tak segera sadar bahwa bunga itu untuk Baekhyun.
"Aku bercanda! Ngomong-ngomong itu bunga apa?"
"Yang putih Anyelir, yang merah Aster. Menurutmu bagus tidak? Aku merangkainya sendiri loh!" tanya Kyungsoo sambil menatap bunganya itu dengan bangga.
"Lumayan."
…..
"Baekhyun hyung!" Kyungsoo langsung berhambur memeluk Baekhyun yang menurutnya semakin kurus saja.
"Halo Kyungsoo. Bagaimana kabarmu?"
"Baik hyung. Hyung sendiri kelihatannya sudah lebih tampan dari yang kemarin. Hyung sudah sembuh kan berarti?"
Baekhyun mengangguk dengan senyum riangnya.
"Aku bawa bunga hyung. Kau suka? Ah iya, mana vas bunganya?"
Setelah mendapat vas bunga yang dicari, Kyungsoo langsung mengambilnya lalu beranjak ke kamar mandi untuk meletakkan bunganya.
Sementara itu, Kai duduk di tempat tidur Baekhyun sembari tersenyum. Tangannya menyikap poni rambut Baekhyun yang menganggu penglihatannya pada wajah cantik pasangan hidupnya itu. mungkin.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Kai sambil mengenggam tangan dingin Baekhyun.
"Baik dan kedatangan kalian membuatku merasa istimewa. Kau sendiri?"
"Luar biasa."
Keheningan terasa untuk beberapa saat.
"Kata uisa, kondisiku makin buruk. Kai, aku…"
"Kau cukup tenang dan percaya kau akan baik-baik saja. Arra?"
"Tapi aku tidak tahan! Sekalipun harus operasi, tetap saja selanjutnya harus kemoteraphi. Rambutku rontok setiap harinya Kai!"
"Sst… aku tidak peduli rambutmu rontok ataupun kau tidak menarik lagi. Aku tetap disampingmu!"
Kai mendekatkan tubuhnya pada Baekhyun lalu memberikan kecupan di bibir tipisnya. Manik matanya yang kelam menatap lembut Baekhyun yang bersemu merah dihadapannya.
Tangan itu terkesan ragu untuk membuka pintunya sedikit lebih lebar. Ia menatap risau bunga-bunga yang telah rapi didalam vas dan merasa bahwa semuanya sia-sia.
Baru semalam. Belum 24 jam Kai memperlakukannya dengan sangat lembut -walau tetap saja menyakitkan-. Dan sekarang ia melihat pria yang lembut itu berlaku lembut pula dengan orang lain. Kyungsoo merasa dipermainkan, yah karna sebenarnya ia sendiri yang membuat permainan ini semakin terasa menyesakkan.
"Ehem…" Kai maupun Baekhyun menjauhkan tubuhnya satu sama lain saat sadar mereka tak hanya berdua disana. Kedua pria dewasa itu menatap Kyungsoo yang mengerucutkan bibirnya imut.
"Kalian menyebalkan! Bagaimana bisa berbuat mesum seperti itu didepan anak kecil! Aigo…" Kyungsoo melangkah tanpa beban ke meja nakas disebelah tempat tidur Baekhyun untuk meletakkan vas bunga yang terlihat cantik itu.
"Lanjutkan saja. Aku akan pergi sebentar lagi. Eum, Baekhyun hyung. Aku minta satu bunga ya?" Kyungsoo mengambil salah satu bunga anyelir putih setelah itu melangkah kearah pintu keluar.
"Sudah jangan sungkan-sungkan. Buatlah anak yang banyak."
Seketika wajah keduanya memerah malu mendengar perkataan yang terkesan polos itu dari bibir Kyungsoo.
Tepat sebelum sang pria 19 tahun pergi, sebuah suara membuatnya lagi-lagi harus berbalik.
"Kudengar dari para perawat, akan ada pesta kembang api di taman kota besok malam. Kau ingat kan besok tahun baru? Kyungsoo mau ikut kami?" Kai maupun Kyungsoo membelalak kaget. Sejak kapan Baekhyun membuat perjanjian itu dengan Kai?
"Aku, boleh ikut?" tanya Kyungsoo ragu sambil menyembunyikan rasa senangnya.
"Makin banyak orang makin bagus. Iya kan Kai?"
Kai masih terdiam tak mengerti dengan arah pembicaraan Baekhyun. Tapi mau tak mau tubuhnya bergerak seperti tanpa perintah. Kepalanya mengangguk pasti.
"Kalau begitu Kris Saem aku ajak ya? Huh, akan menyebalkan jika jadi obat nyamuk diantara kalian. Jja ne!"
Blam…
" 'Kris saem' itu maksudnya Yifan bukan?" tanya Baekhyun memastikan.
Kai mengangkat bahunya seperti tak ingin membicarakan seseorang bernama Yifan itu. Ia beranjak ke sofa lalu tidur. Meninggalkan Baekhyun yang cengo karna pada akhirnya tidak jadi mesra-mesraan sama Kai. #PrayforBaek
Kyungsoo melangkahkan kaki pendeknya di lorong rumah sakit. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah ruangan ayahnya. Setelah ia tahu bagaimana kondisi Baekhyun, entah mengapa Kyungsoo ingin selalu menghabiskan waktunya bersama Joonmyeon walau sekedar bercakap.
Kyungsoo masuk kedalam ruangan Joonmyeon setelah mengetuk pintunya. Ia sadar bahwa waktunya datang adalah tidak tepat. Biasanya ayahnya itu akan berkeliling mengontrol pasien-pasiennya di jam ini.
Bunga ditangannya kini telah berpindah kesebuah vas yang sebenarnya telah penuh dengan mawar merah. Membuat bunga anyelir putihnya terlihat mencolok.
Tiba-tiba pintu ruang kerja itu terbuka hingga Kyungsoo sontak menoleh dan menatap aneh orang didepan pintu itu. seseorang berjas dokter itu juga menatap aneh Kyungsoo.
"Siapa?" tanya Dokter yang belum pernah ditemui Kyungsoo di rumah sakit itu.
"Aku putra dari dokter Kim. Yang bekerja di ruangan ini." Jawab Kyungsoo.
Seketika, wajah dokter muda itu terlihat terkejut. "Ah! Aku Park Chanyeol. Dokter baru disini. Senang bertemu denganmu eum…"
"Kyungsoo. Kim Kyungsoo."
"Iya. Kyungsoo-ssi."
Chanyeol terlihat merasa tidak nyaman seruangan dengan Kyungsoo. Hingga akhirnya namja itu langsung meletakkan berkas di tangannya ke meja kerja Joonmyeon yang berantakan.
"Kalau begitu aku pamit dulu Kyungsoo-ssi." Chanyeol membungkukan tubuhnya dan berniat berjalan keluar. Tapi Kyungsoo menangkap pergelangan tangannya dan menatap Chanyeol penuh ingin tahu.
"Kau, dokter darah juga? Umurmu berapa?"
"Bukan. Aku dokter spesialis kanker baru di sini. Dan tentang umur, sepertinya itu terlalu pribadi Kyungsoo-ssi."
Kesan Chanyeol pada Kyungsoo saat ini adalah tidak sopan. Bagaimana mungkin seseorang yang baru saja bertemu langsung menanyakan umur?
Kyungsoo yang sepertinya menyadari ketidaksukaan Chanyeol terhadapnya pun langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan namja tinggi itu. ia berjalan kearah meja Joonmyeon lalu membuka berkas yang dibawa Chanyeol tadi.
"Kau menangani pasien bernama Kim Baekhyun?" Mata Kyungsoo membulat saat melihat isi berkas mengenai perkembangan penyakit Baekhyun juga prediksi hari minimal ia dioperasi.
"Yah begitulah. Kau mengenalnya?"
Kyungsoo mengangguk enteng. "Dia istrinya suamiku."
Kali ini Chanyeol yang menatap Kyungsoo tak percaya. Menurut berita di rumah sakit itu, anak Dokter Kim Joonmyeon masih berusia belasan tahun dan tak ada satupun kabar yang menyebutkan ia sudah menikah.
"K-Kau sudah menikah? Berapa usiamu? Dan apa-apaan dengan 'istrinya suamiku'?"
"Itu masalah pribadi Chanyeol-ssi. Tidak seharusnya kau menanyakan itu."
"Kau sendiri yang memancingku!"
Kyungsoo menatap Chanyeon dengan tatapan nakalnya. Tatapan khas anak kecil yang berhasil memasukkan kecoa di tas salah satu temannya.
"19 tahun, sebenar lagi 20 tahun. Aku istri kontrak dari suamiku. Kau puas?"
Chanyeol semakin tak percaya.
"Aku bingung kenapa ada orang semacam dirimu di dunia ini. Pernikahan itu bukan hal yang bisa dipermainkan. Semua orang tahu itu."
"Tapi kau tidak tahu dimana posisiku, kan? Kupikir kau terlalu lama disini. Kau tidak ada pekerjaan?"
Chanyeol menatap jam tangannya.
"Kalau begitu aku duluan dan umurku 28 tahun."
Chanyeol tersenyum kecil sebelum melangkah ke pintu keluar.
"Chanyeol-ssi." Panggil Kyungsoo hingga Chanyeol menoleh untuk kesekian kalinya. Kyungsoo berusaha menata kata-kata dalam otaknya. Ia menatap dalam Chanyeol setelah itu.
" Pernikahan memang bukan hal yang bisa dipermainkan. Tapi aku merasa terikat benang merah dengan suamiku sejak aku menatap matanya. Aku menyukainya, aku mencintainya, aku menyayanginya. Jadi kupikir, tidak penting seperti apa aku mengikatnya. Karna sejak awal aku sudah terikat didalam dirinya."
Kyungsoo menghela nafas setelah apa yang ia ucapkan.
"Aku tahu kau akan andil dalam operasi Kim Baekhyun. Tolong selamatkan dia. Ini permintaan seumur hidupku."
Kyungsoo membungkuk dalam. Ditekannya rasa malu, sesak, dan cemburu pada namja itu. Ini tujuannya dari semua yang telah ia lakukan. Jadi, jika Baekhyun mati, tujuannya tidak pernah berhasil.
Chanyeol hanya bisa diam. Dia pergi tanpa menoleh lagi pada Kyungsoo. Ia terbebani.
***KAISOO***
Ponsel Kyungsoo berbunyi saat namja itu tengah menyiapkan makan malam untuknya juga Joonmyeon. Ponsel itu tak berhenti bergetar bahkan hingga setengah jam Kyungsoo mengabaikannya. Dengan malas, ia meraih ponsel itu diatas meja dan akhirnya terkejut karna tahu Kai lah yang menghubunginya sejak tadi.
"Yeob-"
"Kau ini apa-apaan hah? Kau pikir berapa waktu yang kuhabiskan hanya untuk menghubungimu? Kemana saja kau?! Jadi ini sikapmu pada suamimu?!"
"Hehehe… memang kau suamiku?"
"YA! Aku sedang marah padamu. Jangan bercanda!"
Kyungsoo langsung bungkam seribu bahasa. Bagaimana mungkin namja hitam itu marah padanya padahal ia tak melakukan kesalahan apapun? –menurutnya sih-
"Kau dimana?" tanya Kai setelah sekian lama hening menyelimuti keduanya.
"Rumah ayahku."
"Aku akan jemput sekarang." Ucap Kai yang sepertinya adalah keputusan finish.
"Tidak! Jangan! Maksudku, aku ingin bersama ayahku hari ini. Kumohon."
"Aku ingin kau pulang!"
"Tapi aku ingin disini!"
Joonmyeon yang mendengar suara tinggi Kyungsoo langsung menghampiri. Ia menatap penuh tanya anaknya. Sementara Kyungsoo hanya menunjukkan ekspresi jeleknya.
"Kalau kau disuruh pulang, pulang saja." Ucap Joonmyeon kecil. Ia tak ingin suaranya tersengar hingga keseberang sana.
Kyungsoo menggeleng mantab. Dia tidak mau pulang!
"Aku tidak mau pulang!"
Pip…
Kyungsoo menutup telponnya secara sepihak. Masa bodoh dengan Kai yang semakin marah atau apapun yang akan si hitam itu lakukan. Kyungsoo ingin jadi anak ayah dalam sehari!
"Ya! Tidak sopan bersikap seperti itu pada suamimu."
"Siapa peduli? Sebentar lagi kami juga bercerai. Jja, sekarang Appa duduk disini. Sementara aku siapkan makanan." Kyungsoo menarik sebuah kursi makan lalu menyuruh Joonmyeon duduk disana.
Kyungsoo melanjutkan aktifitas memasaknya yang tertunda sambil sesekali menatap Joonmyeon dan tersenyum bahagia.
Lihat dia. Kebiasaannya mirip sekali denganmu. Dia pintar memasak, dia juga pintar mengurus rumah. Dia juga cantik, Yixing. Kau lihat kan? Dia membuatku merindukanmu.
"Makanan siap!"
Kyungsoo meletakkan semangkuk besar Sundubu jjigae, sepiring bulgogi, dan juga kimchi. Ia meletakkan semangkuk nasi dihadapan Joonmyeon dan semangkuk lagi dimejanya.
"Makanlah." Tawar Kyungsoo.
Belum sempat keluarga kecil itu mencicipi masakannya, sebuah ketukan pintu membuat keduanya terdiam lalu mendesah kecewa.
"Aku akan buka pintunya. Appa makan saja duluan." Kyungsoo berjalan kesal menuju pintu utama. Bagaimana bisa seorang tamu bertamu disaat-saat seperti ini? Lagi pula ini sudah terlalu malam!
Kyungsoo membuka pintunya tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang bertamu. Salah satu kebiasaan buruk yang belum juga hilang darinya.
"Ayo pulang!" Hampir saja Kyungsoo terjengkang kebelakang saat tiba-tiba namja di depannya itu berkata dengan keras.
"K-kenapa kau ada disini?!" Kyungsoo terlihat sangat terkejut dengan kedatangan Kai. Ia tak menyangka Kai akan datang kerumahnya, ralat! Rumah Dokter KIM! bagaimana bisa?!
"Ayo pulang!" Kai menarik kasar tangan Kyungsoo.
"Ya ya! Ada apa ini?! Kalian membuat kegaduhan dirumahku? Ini sudah malam, dan kalian bisa diprotes tetangga."
"Ayah. Selamat malam."
"AYAH?!"
"Kau apakan anakku sampai tidak mau pulang hah? Apa-apaan juga kelakuanmu menyakiti tangan anakku? Kau pikir siapa kau?"
Wajah Kai menegang seketika dengan penuturan dingin ayah mertuanya.
"Masuklah. Diluar dingin." Joonmyeon masuk terlebih dahulu. Meninggalkan Kai yang terdiam dan Kyungsoo yang seperti orang linglung.
"Sejak kapan kau tahu Dokter Kim ayahku?"
"Apa itu masalah untukmu? Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau menyembunyikan identitas itu?"
Kyungsoo diam. Ia juga tidak mengerti mengapa harus menyembunyikan semua itu.
"Masuklah. Sepertinya akan ada badai salju malam ini. Ahjussi menginap saja."
Tanpa meminta persetujuan, Kyungsoo langsung menarik Kai masuk.
Trek…
Kyungsoo meletakkan semangkuk nasi didepan Kai. "Makanlah sebelum dingin."
Ia lalu duduk disebelah Kai dan ketiganya makan dalam diam.
"Sudah berapa kali kau mencoba masakan anakku?" tanya Joonmyeon tiba-tiba.
"Beberapa kali."
"Kau menyukainya?"
"Tentu."
Kyungsoo tersipu malu. Dalam hati ia bersorak kegirangan. Akhirnya Kai mengakui satu kehebatannya.
"Menurutmu Kyungsoo seperti apa?"
"Appa!" Joonmyeon tak menghiraukan pekikan melengking Kyungsoo.
Namja bermata bulat itu merasa khawatir. Ia takut Joonmyeon akan memarahinya karna tidak melakukan tugas seorang 'Istri' dengan baik. Oh tidak! Ia benci teriakan ayahnya itu.
"Baik, rajin…"
"Aku tidak butuh yang seperti itu. Yang lain."
Kai maupun Kyungsoo terdiam. Kai hanya membuang waktu juka meminta bantuan dari Kyungsoo.
"Sedikit manja, tapi juga mandiri dalam waktu yang sama. Dia juga gigih walau mungkin tidak punya otak…"
"APA?!" pekik Kyungsoo.
"Kyungsoo dengarkan suamimu." Ucap Joonmyeon tegas hingga ia tak mampu bernafas dengan benar. Tubuh kecil tapi wibawanya mematikan.
"Dia keras kepala."
Kai mengakhiri kalimatnya. Berharap apa yang ia ucapkan tak salah di mata Joonmyeon.
"Benar, saking keras kepalanya dia, sampai sudi menikah dengan seseorang sepertimu. Dia menggunakan waktu hidupnya dengan sia-sia seperti menikah denganmu! Padahal ada banyak orang yang tertarik padanya, tapi dia tertarik padamu. Apa yang kau punya, apa yang sudah kau lakukan untuk kebahagiaan bocah bodoh ini?"
"A-Appa." Cicit Kyungsoo yang berusaha menenangkan ayahnya. Ia bisa melihat suasana diantara mereka yang semakin dingin. Tangan Kai juga telang mengepal kuat dibawah meja. Sedangkan Joonmyeon sepertinya belum selesai dengan ungkapan-ungkapannya.
"Aku ingin anak bodohku mendapatkan seseorang yang selalu ada untuknya. Bukan seseorang yang memanfaatkan cinta namja polos ini untuk mengambil organ tubuhnya."
"Appa kupikir ini sudah cukup. Jangan sudutkan suamiku lagi!"
"Ku harap kau bisa mengerti Jongin-ssi. Sesungguhnya aku membencimu, tapi aku tidak ingin membuat satu-satunya harapan hidupku kecewa. Aku sangat berharap kau berubah, sebelum aku atau orang lain menggambil Kyungsoo darimu."
Joonmyeon langsung beranjak pergi tanpa menghabiskan makanannya. Sementara itu Kai dan Kyungsoo terjebak dalam keheningan yang sangat menyeramkan. Kai menatap kosong entah kemana.
Tangan Kyungsoo tergerak, ia menggenggam tangan Kai yang masih mengeras. Namja bermata bulat itu berusaha menenangkan suaminya yang sepertinya kehilangan dunia. Apa baru kali ini ia dikasari oleh mertua? Bagaimana dengan orang tua Baekhyun?
"Kenapa aku harus menikahimu?" Mata Kai tiba-tiba mengarah padanya. Tatapan yang belum pernah Kyungsoo lihat sebelumnya. Bingung.
"Apa kau benar-benar membuang waktumu? Hanya untukku? Mengapa kau begitu bodoh?"
Kyungsoo masih terpaku dalam tatapan Kai yang sama mematikannya dengan Joonmyeon. Bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan barang sekatapun.
"Maafkan aku."
.
.
TBC
.
A/N : Maaf updetnya telat pake banget. Udah sebulan lebih kayanya FF ini gak lanjut. Maaf sekali lagi. Maaf juga buat typo(s) sama cerita yang makin aneh. Demi apapun, chapter ini ancur lebur. Tapi aku akan berusaha untuk chapter selanjutnya yang sekaligus chapter terakhir. (semoga aja chap terakhir *AMIN)
Ngomong-ngomong tentang END nih ya. Pada suka Happy end atau sad END nih? Haha Cuma sekedar tanya sih sebenernya, karna akhir ceritanya sudah dipikirkan jauh hari.
Terima kasih buat yang baca, review, silent riders, atau apapun yang sudi liat FF ini di page Screenplays. Maaf kalo karya saya makin mengecewakan.
OWH! Aku punya pengumuman untuk FF EXO's Slave. FF itu tidak akan dilanjut oleh Dyakuro34-7, tapi seorang author yang lebih berbakat dari pada saya! Siapa? Lihat saja nanti. Dan aku kepikiran untuk buat FF baru juga melanjutkan "NO TITTLE" yang setahun gak dilanjut. I'm so sorry…
Thanks buat Kyungie Jong. Cerita hidup anda dengan anak autis menginspirasi saya :v
Last, Mind to Review? ^^
