Mencarimu, mendengarmu, seseorang yang sudah tidak disampingku
The Last Time
Kamar yang gelap itu terlihat sangat dingin. Kedua orang yang terikat hubungan palsu terbaring diatas kasur yang sama. Memikirkan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Tak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa sang pasangan belum terlelap dalam buai sang peri mimpi. Karena mereka diam.
Keheningan malam itu terpecahkan dengan adanya panggilan dari ponsel Kai. Sang pemilik langsung meraih poselnya yang tersimpan diatas meja nakas.
"Yeoboseo."
"…"
"Apa-apaan itu?"
"…"
Percakapan yang kedengarannya serius itu membuat Kyungsoo mau tak mau mendudukan dirinya di kasur, menatap punggung gusar sang suami.
Kai menutup panggilan ponselnya dengan putus asa.
"Ada apa?" tanya Kyungsoo.
"Tidak apa-apa. Kembalilah tidur."
"Baekhyun?"
"Bukan, perusahaan. Kami kehilangan banyak relasi dalam setengah tahun ini."
Kyungsoo melebarkan matanya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?"
" Kita? Apa yang bisa kau lakukan untuk perusahaan?" Kyungsoo mengerucutkan bibirnya mendengar pertkataan ketus Kai.
"Kau punya Laptop?"
*T*
Dengan penerangan yang minim, Namja dewasa itu tengah mengerjakan presentasinya untuk esok hari. Matanya yang terlihat memerah bergerak tak beraturan menyapu seluruh isi dari presentasi yang baru saja dibuatnya. Ia yakin masih banyak kekurangan untuk menarik perhatian relasi-relasinya.
Trek…
Secangkir kopi panas tersaji disamping laptop Kyungsoo yang tengah dipakainya. Kai mengangguk kecil tanpa menoleh sama sekali. Bahkan ia tak sadar bahwa Kyungsoo telah duduk disebelahnya.
"Kau yakin dengan presentasimu?" tanya Kyungsoo sangsi.
"Jangan bawel!"
"Efeknya kurang menarik, kata-katanya tidak tertata rapi, background terlalu pasaran, lalu…"
"Kau ini berisik sekali." Kyungsoo langsung bungkam. Ia tahu Kai sedang tidak fit saat ini, jadi agak sensitif seperti wanita yang sedang datang bulan.
"Kalau begitu minum kopinya, matamu terlihat lelah." Kyungsoo menyodorkan kopinya pada Kai yang mau tak mau diterimanya.
Kopi itu masuk dengan sempurna ke lambung Kai. Ia menatap kopi itu sekilas lalu teralih pada Kyungsoo yang menatap presentasi di laptopnya dengan tidak puas.
Kai sulit untuk mengakui ini, tapi kopi yang Kyungsoo buat bahkan terasa lebih enak dari pada americano yang biasa ia beli di café-café ternama. Hanya kopi sederhana dengan gula, tapi rasa dan aromanya memabukkan.
"Mau sampai kapan ahjussi memandangi kopi? Tidak mau diselesaikan?" Kai langsung tersadar bahwa ia melamun begitu Kyungsoo menggoncangkan tubuhnya.
"Kau tidur saja aku bisa mengerjakannya sendiri." Ucap Kai yang terkesan acuh. Ia kembali menarikan jari-jarinya pada keyboard laptop untuk menyelesaikan presentasinya yang sedikit lagi.
"Tanpa disuruh, aku juga akan tidur." Ucap Kyungsoo sebelum membaringkan tubuhnya di sofa panjang dibelakang Kai. Ia mencoba menutup mata yang semakin berat sedari tadi. Persetan dengan Kai yang tak akan tidur semalaman untuk mengerjakan tugas itu. Dia ngantuk!
Kai masih berusaha untuk memperbaiki presentasinya. Ia benar-benar tidak yakin dengan apa yang telah dibuatnya. Apakah orang-orang perusahaan itu bisa tertarik dan kembali bekerja sama dengan perusahaannya dengan presentasi ini?
Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya. Jarumnya telah menunjuk pukul 3 pagi dan tanpa sadar, Kai telah tertidur dari satu jam yang lalu. Membiarkan laptop Kyungsoo menyala begitu saja. Mungkin ia kelelahan.
Kyungsoo bergerak gelisah saat merasakan rambut-rambut halus menggelitik tangan kirinya. Ia mengerjapkan matanya untuk membiasakan diri dengan cahaya redup ruang keluarga itu. Begitu seluruh nyawanya terkumpul, ia baru mengingat bahwa Kai tengah mengerjakan presentasinya sebelum ia tidur tadi.
Entah dorongan dari mana, Kyungsoo yang menyadari Kai telah tertidur memanfaatkannya dengan mengotak-atik presentasi yang dibuat Kai tadi. Ia sama sekali tidak puas dengan hasil yang dibuat Kai. Terlalu kaku.
"Apa-apaan ini? Apa nilai bahasa koreanya 3 saat sekolah? Mana bisa kalimat-kalimat seperti mengundang perhatian?"
Seringai nakal tercipta saat Kyungsoo kembali mengubah lebih dari setengah presentasi itu. mengganti background, efek, juga memberi beberapa gambar yang berkaitan dengan presentasi itu.
"Aku yakin seratus persen, kau akan berterima kasih padaku besok!"
Begitu mematikan laptopnya, Kyungsoo langsung menyamankan dirinya duduk di sebelah Kai.
"Selamat tidur pangeran tampan." Tangan lemahnya melingkar manis di perut Kai yang terbentuk sempurna. Dan terlelap bersama dengan waktu yang terus bergulir.
*R*
18
Kai adalah orang yang pertama bangun diantara mereka. Matanya menatap ruangan luas yang digunakannya untuk tidur bersama Kyungsoo disampingnya. Eoh, sejak kapan Kyungsoo tidur disampingnya? Dan sejak kapan selimut biru laut ini menutupi tubuh mereka berdua?
Matanya berhenti pada jam dinding yang menunjukkan bahwa hari mulai siang. Dengan sedikit kasar, namja berkulit tan itu menggoncangkan tubuh Kyungsoo.
"Bangun. Sudah siang!"
Pada dasarnya Kyungsoo memang orang yang peka jika sedang tidur. Bahkan sampai pekanya, namja itu langsung berdiri dan berlari menuju dapur begitu tahu hari makin siang.
"Appa sudah buat sarapan?" Kyungsoo terheran dengan ayahnya yang sedang memanggang roti juga menyiapkan berbagai macam selai di meja makan.
"Suruh Jongin-ssi mandi."
"Ah iya."
.
"AH SIAL!" Kai menggeram marah saat sadar mobilnya macet. Mungkin karena salju yang tak berhenti turun sejak semalam membuat mesin mobilnya tak bergerak sama sekali.
"Tidak ada waktu lagi! Kita berangkat naik bis!" Tanpa meminta persetujuan, Kyungsoo langsung menarik tangan Kai keluar pekarangan rumah.
"APPA AKU BERANGKAT!" Mereka berlari sekuat mungkin untuk mencapai halte yang jaraknya 300 meter dari rumah Kyungsoo. Menurut namja bermata bulat itu, Bus yang akan kearah kota akan berangakat 2 menit lagi, dan bis selanjutnya akan datang pukul 9 siang.
Dengan seluruh kemampuan dan tenaga yang dipunya, keduanya sukses masuk dalam Bus dengan selamat. Walau Kyungsoo terpeleset beberapa kali dan mungkin membuat luka lebam di beberapa bagian kakinya.
"Gwenchana?" tanya Kai yang sepertinya khawatir. Kyungsoo mengangguk pasti.
Pagi setelah badai salju bukanlah pagi yang menyenangkan. Udara yang dingin juga tumpukan salju dimana-mana membuat orang-orang memilih untuk berdiam diri di bawah meja pemanas. Mungkin karena faktor itulah, Bus yang mereka tumpangi terlihat lengang. Hanya terlihat seorang gadis sekolahan yang duduk di salah satu kusi sambil mendengarkan musik dari ponselnya.
"Ayo duduk." Kyungsoo menyeret Kai ke kursi bagian belakang.
Perjalanan mereka terasa sangat singkat walau sebenarnya menghabiskan waktu lebih dari setengah jam. Bus sampai di halte bus tujuan Kai terlebih dahulu. Namja tampan itu turun tanpa mengucapkan apa-apa sementara Kyungsoo mengikutiya hingga pintu.
Begitu Bus yang ditumpangi Kyungsoo berjalan, Kai baru berbalik dan memberikan isyarat dengan tangannya. Isyarat seperti telepon.
"Apa dia akan menghubungiku?"
Kyungsoo turun di halte bus setelahnya. Halte bus itu cukup jauh dari sekolah hingga ia mau tak mau melanjutkannya dengan berjalan kaki. Sekolah itu masih 100 meter didepannya, tapi Kyungsoo dapat melihat Kris sudah menunggu dipintu gerbang.
"Jadi kau benar-benar melakukan tantangannya?" tanya Kyungsoo yang keheranan dengan Kris.
"Tentu! Aku akan buktikan bahwa kemampuanku menjadi guru sangat terasah beberapa tahun ini." Kyungsoo hanya bisa mengangkat bahu dengan jawaban Kris yang berapi-api. Ia melenggang masuk kedalam sekolah yang langsung disambut oleh anak-anak yang menunggunya.
"Ah! Teman besar kita juga ada disini."
"Halo teman-teman." Sapa Kris yang mensejajarkan tinggi badannya dengan anak-anak 5 tahun itu.
"Ouhh… teman becal tambah tampan."
"Ya! Jangan centuh dia! Dia punya Coo saem!"
"ANIYA! Dia punyaku!"
Kris maupun Kyungsoo hanya terkekeh dengan ungkapan polos anak-anak itu. Kris bahkan hanya diam walau sesekali mendapatkan cubitan hingga kulitnya memerah.
"Hyung tampan!" Kris hampir saja jatuh kedepan saat seseorang menabrak + memeluk punggungnya.
"Hei, Minseok." Tanpa diminta lagi, Kris langsung menggendong anak berpipi chuby itu. Minseok kembali pada kebiasannya, memainkan rambut Kris dan berceloteh panjang lebar tentang hidupnya yang baru dimulai kemarin sore.
"Coo~"
Kyungsoo menunduk dan mencoba melihat siapa pelaku penarik-narik bajunya. Dan ia menemukan Jongdae yang menatapnya imut seperti anak kucing yang minta susu. Dan untung saja Kyungsoo tidak punya 'susu' untung diminta.
"Tidak Jongdae! Aku tidak mau kau mencium Minniemu lagi di sekolah."
Jongdae langsung terdiam dan sepertinya ingin menangis dengan ucapan Kyungsoo. Tapi dia laki-laki! Ayah Jongdae mangajarkan bahwa laki-laki tidak boleh menangis!
"Hey-Hey. Kalian harus masuk kelas sekarang." Kesenangan mereka terusik dengan suara Minah yang berteriak nyaring dari selasar kelas.
Anak-anak kecil itupun langsung berlarian masuk kedalam kelas. Sepertinya tak sabar mendapatkan pelajaran baru.
"Jongin tak datang?" tanya Kris saat tak melihat Kai dimanapun.
"Dia ada pekerjaan mendadak. Nanti dia akan menyusul. Ayo masuk, dan perkenalkan dirimu sebagai guru sekarang." Ucap Kyungsoo tanpa membuang senyuman dari wajahnya. Ia mendorong-dorong kecil tubuh Kris hingga basuk kedalam kelas yang masih saja penuh sesak itu.
*U*
Kai membuka rapat yang didatangi oleh para pemegang saham itu dengan kaku. Ia merasa diterkam dengan tatapan tajam orang-orang tua itu. Dan sepertinya bumi sudah kekurangan oksigen hingga Kai merasa sangat sesak didalam ruangan besar itu.
Setelah menjawab beberapa pertanyaan dari para relasinya, Kai akhirnya memiliki kesempatan untuk bisa mempresentasikan beberapa hal yang menurutnya penting untuk perusahannya untuk waktu kedepan.
"Aku berfikir untuk memutuskan kontrak iklan dengan beberapa artis yang bayarannya terlalu mahal, setelah-"
"Bagaimana bisa kau memikirkan hal itu? Ini sangat berpengaruh terhadap penjualan! Bisa-bisa fans para artis itu berpindah produk karena dipikir tidak menguntungkan artis mereka!"
Belum sempat Kai menyelesaikan gagasannya, Seorang pria tua jelek –menurut Kai- menyelanya tanpa berfikir. Kai ingin sekali melempari pria itu dengan sepatunya, tapi ia masih bisa berfikir logis. Pria itu adalah salah satu pemegang saham terbesar di perusahaannya.
"Kalau begitu, mohon dengarkan saya dengan baik terlebih dahulu tuan."
Kai menayangkan presentasi yang semalam dibuatnya. Walau sedikit ragu dengan presentasi itu, Kai tetap saja menayangkannya.
"Jadi ideku adalah membuat produk yang bisa digunakan untuk laki-laki maupun perempuan. Bukan hanya itu, Aku berfikir untuk menggunakan model dengan tema gender bender. Kita gunakan seorang laki-laki lalu samarkan dia jadi seorang yang tidak diketahui gendernya."
Perkataan Kai terputus lagi. Kali ini bukan karena selaan orang lain, tetapi keheranannya terhadap semua orang yang menatap presentasinya dengan tawa.
Kai menoleh kebelakang dan tahu mengapa orang-orang itu menertawakan presentasinya. Isi dari presentasi itu memang sesuai dengan gagasan-gagasannya. Hanya saja tema yang ada dalam presentasi itu. PORORO?!
*E*
Kai membungkuk kepada setiap orang yang keluar dari ruang rapat. Orang-orang itu memberikan selamat pada Kai yang sukses membuat para relasinya menanamkan modal lebih untuk perusahaan dengan ide cemerlangnya.
"Hei anak muda. Aku tidak menyangka kau akan nekat menggunakan presentasi sekekanakan itu." Ucap seorang yang berhenti terlebih dahulu untuk mengucapkan selamat pada Kai.
"Maafkan aku. Sunggu itu diluar kemampuanku." Kai menunduk dalam sambil menyembunyikan rona malu di wajahnya. Ia mengumpat dan menyumpahi Kyungsoo sebanyak yang ia bisa.
"Aku pikir tidak masalah. Berkat presentasi itu banyak orang yang mulai memandangmu sebagai orang yang menyenangkan. Kau tahu kan semua orang menganggapmu orang yang selalu serius sebelum ini."
Kai terkejut dengan penuturan pria itu. sampai-sampai ia langsung menegagakkan tubuhnya begitu keras.
"Jinjja?"
Pria itu mengangguk.
"Kau masih termasuk muda. Orang tua seperti kami tidak akan senang jika anak muda sepertimu bersikap seperti orang berusia 50 tahun. Nikmati hidupmu nak."
Tangan pria itu menepuk kepala Kai pelan sebelum pergi dari gedung perusahaan milik Kai.
*L*
Baekhyun duduk sendirian menatap anak-anak kecil yang bermain salju di taman rumah sakit. Ia tersenyum, melihat tingkah anak-anak itu membuatnya ingat pada Kai yang selalu melindunginya sejak kecil. Dia yang membantunya naik sepeda, dia juga yang mengobati lukanya saat jatuh. Kai yang selalu ada untuknya selama ini.
Ces…
Baekhyun terkejut saat tiba-tiba sesuatu yang panas menyapa pipi kirinya. Ia langsung menatap garang seseorang yang bersenyum lebar terhadapnya sambil menempelkan sekaleng the oolong di pipinya.
"Sendirian?" tanya orang berpakaian dokter itu pada Baekhyun. Ia memberikan sekaleng jusnya untuk Baekhyun lalu duduk disampingnya.
"Kau melihat aku dengan seseorang?" tanya Baekhyun ketus lalu meneguk teh itu tanpa ampun.
"Minumnya pelan-pelan." Baekhyun tak menanggapi ucapan namja tinggi disebelahnya itu. Ia malah memilih menatap anak-anak yang masih terus bermain.
"Hari operasimu semakin dekat. Kau sudah siap?" tanya namja tinggi itu sembari meneguk kopinya.
"Lumayan. Anda sendiri sudah siap untuk mengoprasi saya?"
"Lumayan."
Hening menyelimuti mereka beberapa lama. Bahkan sampai anak-anak yang bermain salju itu sudah kembali ke kamar rawat masing-masing pun, kedua pria itu tetap diam.
Hingga akhirnya Baekhyun berniat untuk pergi, dokter yang mengurusi penyakitnya itu mengajaknya berkenalan.
"Aku Byun Baekhyun. Atau mungkin Kim Baekhyun."
"Aku Park Chanyeol. Senang bertemu denganmu Baekhyun-ssi."
*O*
Kai tiba di TK saat para muridnya sedang beristirahat. Dan Kai langsung bisa menemukan Kyungsoo yang sedang mengawasi murid-muridnya bersama Kris dari bangku dibawah pohon maple tinggi.
"Kyungsoo!" Teriak Kai keras hingga semua murid yang sedang bermain memandanginya kaget. Kai tak menghiraukan itu, tetap berlari menghampiri Kyungsoo.
"Kim Songsaengnim."
Grep…
Kyungsoo membelalakan matanya saat merasakan Kai memeluknya sangat erat. Ia menatap Kris yang disebelahnya penuh tanya, sementara pria yang ditatap hanya menggeleng pelan.
"Aku berhasil! Terima kasih."
Tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Kai langsung mengecup pipi Kyungsoo cepat. Tak mempedulikan Kris bahkan anak kecil yang memperhatikan mereka dengan tatapan polos.
"Saem culang! Tadi Jong gak boleh cium Minnie, kok saem malah dicium?!" Protes Jongdae sambil menggembungkan pipinya. Disebelahnya, Minseok hanya bisa menatap Kai dan Kyungsoo dengan mata blink-blink….
"Woa~ Saem punya banyak pacal!"
"Bagi catu caem!"
"Saem! Saem lebih suka yang mana?!"
"Hyung tampan cedih tidak?"
"Dia sangat hitam!"
Beribu pertanyaan dari bibir kecil itu cukup membuat Kyungsoo, Kai maupun Kris kebingungan. Salahkan Kai yang tak bisa mengontrol rasa senangnya. Kris maupun Kyungsoo bersumpah akan menghajarnya setelah ini.
Satu hari Kris dan Kai lalui dengan mengajar dan membujuk anak-anak untuk tertarik dengan mereka. Sementara Kyungsoo, Minah dan Yura hanya memandang dari kejauhan kedua namja tampan itu.
"Kupikir Kris lebih baik dan Kai." Ucap Minah tiba-tiba.
"Kenapa kau berpikir begitu? Kai juga bagus dalam mengajar. Walau mungkin dia sedikit canggung, tapi aku yakin dia lebih unggul!" Yura membela Kai dengan sangat semangat.
Sementara Kyungsoo terlihat sangat malas dengan tingkah kedua pria sok dewasa itu.
Sore hari menjelang. Seluruh anak-anak kecil itu telah pulang menuju rumah masing-masing. Begitu pula dengan Yura dan Minah yang telah berpamitan pulang 10 menit yang lalu. Tinggalah ketiga pria yang kini duduk di playground sambil menyesap minuman hangat mereka.
"Hari ini Baekhyun dan Kim ahjussi mengajakku lihat kembang api. Kris songsaengnim ikut ya…" Pinta Kyungsoo setelah mereka membicarakan banyak hal.
"Yang diajak hanya kamu kan? Kenapa kamu mengajakku?"
"Habis, aku pasti dicuekin sama couple itu."
"Hei aku tidak akan sejahat itu untuk mengacuhkanmu!"
Kris maupun Kyungsoo terdiam. Bukan karena kata-kata Kai, tapi karena kopinya yang menyembur kemana-mana. Entah apa yang dipikirkan namja itu hingga berbicara keras saat mulutnya terisi penuh air.
"Bwahahaha… Anak kecil!" Kris yang pertama kali tertawa terbahak-bahak sambil terus menunjuk-nunjuk wajah Kai yang belepotan.
Sementara Kyungsoo hanya tertawa kecil sambil menggigit bibir bawahnya.
"Jangan tertawa!"
Bug!
Kai melemparkan segumpal salju ke arah Kris. Bola salju itu tepat mengenai cangkir kopi di tangan Kris hingga isinya tumpah kemana-mana.
"Lihat! Kau lebih kotor dariku!" Kini giliran Kai yang tertawa karena jaket abu-abu Kris telah berubah warna menjadi kehitaman.
BUG!
Suasana menjadi hening seketika. Kyungsoo menutup mulutnya dengan tangan saking kagetnya. Kris baru saja melemparkan bola es yang lebih besar dan mengenai wajah tampan seorang Kim Jongin.
"Hei sudah. Kalian seperti anak kecil saja. Lebih bai-"
Bug!
Kyungsoo menghentikan kalimatnya saar merasakan sebuah benda menghantam lengan kanannya. Matanya menatap seorang yang bersmirk ria sambil membuat sebuah bola salju lagi di tangannya. Kai.
"Kau mau bertarung denganku? Baik! Aku layani kau!"
Belum sempat Kyungsoo membalas lemparan Kai, sebuah bola salju kembali menghantam tubuhnya. Kali ini dari Kris yang sepertinya sangat siap untuk berperang.
Dibawah langit sore yang menguning, juga burung-burung yang terbang bermigrasi ketempat yang lebih hangat. Ketiga pria dewasa itu saling melempar salju dengan brutal seakan tidak ada hari esok. Terkadang mereka berlari, berteriak, mengejek satu sama lain. Hingga akhirnya salah satu dari mereka terpleset dan akhirnya terbaring diatas salju yang empuk.
"Kyungsoo-ya, Gwenchana?" tanya Kris yang pertama menyadari bahwa namja termuda itu kini telah terbaring tak berdaya di atas salju.
"Hah… aku lelah." Ucapnya. Ia membuka mata bulatnya beberapa saat setelah menutup mata, dan untuk sekali lagi. Ia terkagum kagum dengan ciptaan Tuhan bernama Langit.
Matanya memantulkan gambaran langit diatas sana.
"hah…" Kai memutuskan untuk ikut berbaring disamping Kyungsoo karena sama kelelahannya. Mungkin faktor umur :D
"Whoa… aku tidak tahu langit musim dingin bisa secerah ini." Kai terbawa dengan keindahan langit seperti Kyungsoo.
"Apa tidak dingin berbaring disana?" Kris menatap kedua temannya itu heran. Entah karena masa kecil mereka yang kurang bahagia atau karena suhu tubuh yang meningkat sangat tinggi hingga mereka ingin berbaring di air bersuhu dibawah 0 derajat.
"Berbaringlah Saem. Kau akan lihat semuanya."
Kris memposisikan dirinya ragu diatas salju dan kini ketiganya berbaring diatas lembutnya salju sambil menatap langit kuning diatas mereka.
"Jika ini adalah hari terakhir untukku bersenang-senang dengan kalian. Kupikir aku tidak akan merasa kecewa."
Tepat setelah Kyungsoo mengakhiri kalimatnya, ia merasakan kedua tangannya menghangat. Kyungsoo tersenyum, ia menolehkan kepalanya pada Kris yang masih memandang langit dengan tenang. Lalu beralih pada Kai yang menutup matanya.
Dua orang yang benar-benar mengubahnya. Kini ada disampingnya, menggengam tangannya hangat.
"Aku mencintai kalian." Kris dan Kai langsung menatap Kyungsoo tak percaya. Bagaimana mungkin dia mengungkapkan perasaannya pada orang yang berbeda diwaktu yang sama.
"Apa apaan itu? Kau harusnya memilih kan?" tanya Kai yang entah mendapat dorongan dari mana untuk bicara.
"Aku tidak bisa memilih! Kalian sama spesialnya untukku!" Kyungsoo mengubah posisinya menjadi duduk. Diikuti oleh Kai juga Kris.
"Huh playboy!" ejek Kai.
"Lalu kau panggi dirimu apa tuan hitam?"
"Ya! Kalian mengabaikanku! Uhhh… tapi kurasa sudah mulai gelap. Kalian tidak mau bersiap untuk malam ini?"
Kyungsoo maupun Kai sontak menatap jam tangan mereka dan terkejut dengan waktu yang berjalan cepat.
Mereka memutuskan untuk segera beranjak dari tempat untuk mempersiapkan diri ke pesta kembang api malam ini. Kai pulang sendiri sementara Kyungsoo ikut Kris pulang. Walau suaminya itu memintanya untuk ikut, namun Kyungsoo menolak halus dengan alasan Baekhyun.
"Kau, atau aku duluan yang mandi?" tanya Kris yang menghancurkan pikiran Kyungsoo tentang apartement milik pria tinggi didepannya.
"Terserah kau saja sih…" Ucap Kyungsoo yang sebenarnya malas mandi dimalam hari seperti ini. Hampir saja pantatnya menyentuh sofa kalau tangan Kris tidak menariknya ke kamar mandi.
"Cepat mandi! Ini sudah jam 7 dan kita punya janji jam 10!" teriak Kris dari luar yang hanya dibalas cibiran oleh Kyungsoo.
Lima belas menit kemudian, Kyungsoo keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk yang melilit di pinggangnya. Ia menghampiri Kris yang menatapnya tanpa berkedip di ruang tengah.
"Saem, bajuku jatuh di kamar mandi. Basah deh." Adu Kyungsoo yang sebenarnya meminta pinjaman baju pada Kris. Namun entah apa yang ada dipikiran pria berambut pirang itu. ia hanya diam dengan mata yang tak bergerak dari tubuh Kyungsoo.
Grep!
Tanpa banyak bicara, tangan besar itu meraih pinggang ramping pria didepannya hingga terjatuh dalam pangkuannya.
"Ssaem. Ukh!"
Kris menyerukkan kepalanya pada leher jenjang Kyungsoo. Tangan kanannya memeluk pinggang Kyungsoo sementara tangan lainnya menahan kepalanya agar tak berpaling. Indra penciumannya bekerja sangat baik hingga dapat mencium wangi lembut alami namja kecil itu dibalik wangi maskulin sabunnya.
Tangan kecil Kyungsoo meremas lengan kekar Kris. Matanya tertutup rapat. Dia ketakutan.
"Kenapa kau serahkan juga tubuhmu padanya?"
Kyungsoo membuka matanya lebar mendengar ucapan Kris yang sarat akan kekecewaan. Seketika ia ingat pada malam disaat Kai mencumbuinya, malam saat Kyungsoo benar-benar pasrah dibawah tubuh orang yang dicintainya itu. dan betapa bodohnya hingga ia keluar kamar mandi dengan menunjukkan tanda-tanda merah itu pada Kris.
"Tidak cukupkah hatimu saja yang kau berikan padanya?"
"Saem-"
"Kau anggap aku ini apa?!"
.
Kyungsoo Pov.
Jantungku terasa berhenti berdetak. Suara rendah tanpa emosi itu membuatku benar-benar merasa bersalah juga bingung. Kenapa tidak kau tidak bentak saja aku? Kenapa kau malah menunjukkan sikap tidak berdayamu disaat seperti ini?
Aku anggap kau ini apa?
Aku juga tidak mengerti. Lidahku terasa sangat kaku untuk menjawab. Jangankan menjawab, bernafas saja rasanya sangat sesak. Seakan kau mengambil semua oksigen disekitarku.
Kau melepaskan tanganmu dari tubuhku dengan perlahan. Seakan aku adalah benda keramik yang akan hancur sekali sentuh. Tiba-tiba tubuhku terasa dingin kehilangan kehangatanmu. Tubuhku merasa kehilangan.
"Aku akan mengambilkan baju untukmu. Ya! Menyingir dari pangkuanku. Kau berat tahu!"
Walau terkejut, aku berusaha bersikap wajar dengan perubahan sikapmu yang tiba-tiba. Kau pergi menjauh sedangkan aku baru sadar akan satu hal.
Bukankah, kau seseorang yang tidak pernah putus asa? Kenapa…
Kyungsoo Pov end.
*V*
Author Pov.
Pria itu sibuk memilih-milih pakaian yang menurutnya menarik di sudut toko. Sesekali ia memperhatikan salah satu baju dengan seksama lalu menggeleng pelan.
"Saem, aku gak mau pake ini!" Ucap seorang wanita yang tiba-tiba datang lalu marah-marah pada Kris. Sedangkan Kris kini menahan tawa.
"Aniya. Itu bagus. Kajja Kyungsoo-ya."
"SAEM!"
Wanita ups! Pris berpakaian wanita itu hanya bisa pasrah ditarik Kris entah kemana. Terkadang, Pria itu berjalan dengan menyeret kakinya agar tak terpeleset diatas salju atau karena sepatu hak tinggi yang dipakainya.
Karena bajunya yang basah dan pakaian Kris yang tak ada satupun yang cocok untuk Kyungsoo, namja bermata bulat itu memutuskan untuk membeli pakaian saja sekalian. Tapi ia tak menyangka akan keluar toko dengan sebuah pakaian musim dingin wanita berwarna coklat muda dan sebuah sepatu boots panjang hingga menutupi lebih dari setengah panjang kakinya. Tapi tetap saja tak semua bagian kakinya tertutupi. Karena rok yang dipakainya cukup pendek, jadi tetap saja paha putihnya sedikit terlihat.
Kris menarik Kyungsoo kesebuah salon terdekat. Kyungsoo hampir saja kabur jika Kris tak sigap menangkapnya.
"Hei bung, bisa kau make over temanku?" tanya Kris pada seorang pria tinggi yang sepertinya penata rambut disana.
"Kris apa yang kau lakukan pada pria kecil ini?!"
"Dia gila! Paman tolong selamatkan aku!" Merasa sang pria tinggi itu sama-sama berfikir bahwa Kris tidak punya otak, Kyungsoo langsung menghampirinya lalu bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Changmin-ah! Tolong aku OK? Buat dia jadi seorang wanita yang anggun." Mohon Kris tanpa mempedulikan Kyungsoo yang membulatkan matanya horor.
"Kau yakin?"
Kris mengangguk yakin. Dengan wajah memelasnya yang menjijikan –menurut Kyungsoo- akhirnya seseorang yang bernama Changmin itu langsung menarik Kyungsoo untuk duduk disebuah kursi didepan cermin.
"Aku akan merubah sedikit penampilanmu. Berdoalah semoga tidak terlihat menyeramkan!"
*E*
Kai membantu Baekhyun turun dari mobil. Ia tak melepaskan tangannya dari tangan Baekhyun yang terlihat sangat senang dengan keramaian di taman kota itu.
"Kyungsoo dimana?" tanya Baekhyun saat tak bisa melihat Kyungsoo dimanapun.
"Sebentar lagi dia pasti datang. Kajja kita berkeliling dulu."
Author Pov end.
.
Kai Pov.
Kugenggam tangan Baekhyun yang sedingin es. Aku tidak ingin kehilangannya dalam kerumunan orang yang memudahkan dia hilang jika tidak diawasi.
Tiba-tiba dia menarikku kesebuah stan permainan. Seperti kami harus melemparkan bola hingga meruntuhkan kaleng untuk mendapatkan hadiah. Aku menatapnya ragu sementara ia mengeluarkan puppy eyesnya yang mematikan. Ah ini akan sulit!
Tanpa diduga, aku bisa merobohkan semua kaleng-kaleng itu dalam sekali lempar. Tentu saja aku senang, tapi Baekhyun lebih senang lagi. Ia menunjuk-nunjuk sebuah boneka burung hantu yang digantung paling pojok.
"hehe aku senang sekali. Kau tahu, aku jadi ingat saat kau memberikanku boneka apel kecil dari mesin penangkap saat kita SD. Tidak terasa kita mengenal sudah sangat lama ya?"
Ya. Dan selama itu pula aku ingin selalu melindungimu Baekhyun-ah. Kau, yang membuatku tak bisa berpaling pada orang lain. Kau mengunciku dalam sebuah perasaan yang kau sebut cinta.
Tapi saat dia datang,
"Kkamjong!"
Aku langsung menoleh kebelakang dan menemukan Kris yang melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Sial! Kenapa ia harus mengangkat tangannya setinggi itu jika tahu tinggi badannya saja sudah diatas rata-rata?
"Aku mencarimu dari tadi!" Ucapnya sembari menepuk pundakku.
"Whoa! Kris kenapa kau jadi tambah tinggi begitu?!" Suara tinggi itu membuat Kris mengalihkan pandangannya dariku pada Baekhyun.
"Kau yang tambah kecil Baek!" Tangan besar Kris mulai mengacak-acak rambut rapi Baekhyun.
Dimana Kyungsoo?
"Kyungsoo-ya?" aku menoleh pada Baekhyun yang sepertinya terkejut dengan seorang yeoja yang digandeng Kris. Bagaimana aku bisa tidak sadar Kris menggandeng seorang wanita?
"Heh?! Ini Kyungsoo asli?!"
Kai pov end.
Author Pov.
Kai terlihat terkejut saat menyebut wanita disamping Kris dengan nama Kyungsoo. Ia langsung mendekati wanita itu, menarik dagunya agar matanya bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu.
"Ya! Jangan pandangi aku seperti itu! aku malu tahu!" Kyungsoo langsung menampik tangan Kai yang seenak jidat menyentuh wajahnya yang terpoles make up tipis.
Dan dari suara lembut namun rendah itu, Kai dapat memastikan bahwa wanita itu benar-benar Kyungsoo.
"B-Bagaimana-"
Kai tergagap sambil menunjuk-nunjuk Kyungsoo yang menahan malu. Ia menatap Kris penuh tanya.
"Kau apakan dia?!" Kai menarik kerah jaket Kris hingga pria itu sedikit menunduk mengingat tinggi Kai yang tak setinggi dirinya.
"Wae? Dia cantik kan?"
Kai tetap tak mengalihkan pandangan tajamnya dari Kris. Ia benar-benar butuh penjelasan dengan hal yang membuatnya samakin berdebar itu.
"Aku ingin kau mengalihkan pandanganmu sejenak saja, pada seseorang yang seharusnya kau cintai." Bisik Kris pelan.
"Yaya! Kenapa kalian bertengkar sih? Kyungsoo terlihat cantik Kok. Lebih baik kita berkeliling dulu sambil menunggu kembang apinya. Kajja Kyungsoo-ya."
Kai melepaskan cengkraman tangannya pada baju Kris lalu mengikuti para uke yang bisa saja hilang kapan saja.
Sementara itu, Kris yang tertinggal dibelakang mencoba untuk mengatur nafasnya. Sesekali ia menghela nafas entah karena apa.
*S*
"Aku lelah!" ucap Kyungsoo setengah berteriak sambil mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang. Satu jam lamanya ia ditarik kesana-kemari oleh Baekhyun yang terlihat terlalu senang.
"Dia kan jarang pergi keluar." Pria tampan itu duduk disamping Kyungsoo karena merasa kakinya tak bisa diajak kompromi lagi. Pria itu menatap Kyungsoo dari ujung sepatu hingga wajah cantiknya.
Pria itu terkekeh pelan dan membuat Kyungsoo menatap aneh kearahnya.
"Wae?"
"Tidak. Aku hanya bingung saja, kau ini laki-laki atau perempuan?"
"Ahjussi!"
"Aku bercanda. Jangan dianggap serius begitu."
Kai berusaha menahan tertawanya saat melihat wajah Kyungsoo yang menurutnya lucu saat marah.
Kyungsoo diam setelah itu. Ia mengeluarkan ponselnya lalu membuka aplikasi kamera. Dengan sedikit tidak yakin, Kyungsoo memberikan ponselnya pada Kai lalu berdiri tegak membelakangi keramaian festival.
"Tolong foto aku." Ucap Kyungsoo sambil berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. Ah mungkin karena udaranya sangat dingin, darah Kyungsoo jadi semakin banyak. Dan secara biologi itu tidak ada hubungannya. Aku tahu.
Tanpa banyak bicara, Kai mengambil gambar Kyungsoo dengan ponsel itu lalu menyerahkannya.
"Huhu… aku lumayan cantik ternyata!"
"Narsis." Desis Kai yang tentu saja bisa didengar oleh Kyungsoo.
Tiba-tiba, namja berpakaian yeoja itu duduk mendempel pada Kai dengan senyuman nakalnya. Tangan kirinya memeluk lengan kekar Kai dari samping sementara tangan kanannya digunakan untuk memegang ponselnya.
"Kita foto bersama. Ucapkan CHEESE!"
Klik!
*F*
Kris menemani Baekhyun untuk berkeliling festival. Mengabaikan kakinya yang sudah pegal-pegal untuk menemani teman lamanya itu.
Kris menggandeng tangan Baekhyun agar namja itu tidak lepas dan akhirnya hilang, walau sesekali Baekhyun melepaskannya sih.
"Kris pacarnya Kyungsoo ya?" tanya Baekhyun tiba-tiba.
Kris menghela nafas kecil sembari tersenyum kecut. Ia menatap Baekhyun dengan tatapan tak ber-arti.
"Menurutmu bagaimana?"
"Kalian lumayan cocok. Yah, walau mungkin Kyungsoo harus siap jadi wanita jadi-jadian jika jadi pacarmu."
Kris maupun Baekhyun terkekeh dengan argument itu.
"Aku menyukainya sih. Tapi dia menyukai orang lain." Jawab Kris.
Baekhyun membulatkan matanya mendengar jawaban itu. Ia tidak pernah tahu Kyungsoo punya teman selain Kris atau Kai. Tentu saja karena bocah itu tidak pernah mengajak seorangpun main ke rumah.
Tiba-tiba Baekhyun jadi mengingat Kyungsoo yang saat ini sedang bersama Kai. Ia hendak mencari keduanya sebelum tangannya ditahan oleh Kris.
"Baek, Aku ingin bicara denganmu. Hanya kita berdua."
.
Pria mungil itu menangis dalam diam. Ia tak berani mendongakkan kepalanya dan menatap Kris yang hanya diam. Ketakutan menyergapnya seketika saat mendengar cerita Kris.
Semuanya. Semua hal yang disembunyikan Kai, Kyungsoo, dokter Kim. dan itu membuatnya seperti harus hilang disaat itu pula. Kenapa hidupnya terasa sangat merepotkan orang lain?
"Aku hanya ingin kau tahu yang sebenarnya. Sungguh, aku tidak berfikir untuk membuatmu merasa bersalah atau semacamnya."
"Tidak Kris. Aku sangat berterima kasih karena kau sudah menceritakan semuanya. Sudah sejauh ini tapi aku tetap tidak sadar. betapa bodohnya aku."
Kris hanya diam sembari mengusap punggung Baekhyun yang bergetar hebat. Ada rasa menyesal dihatinya karena telah menceritakan hal yang sebenarnya bukan urusannya. Tapi tidak. Kris tidak ingin Baekhyun merasa dikhianati di akhir nanti. Ini demi semuanya.
"Apa yang harus kulakukan?" desis Baekhyun.
"Berpura-puralah tidak tahu. Dan tetap jalani operasi itu." Jawab Kris yang membuat Baekhyun membulatkan matanya kaget.
"Tapi Kyungsoo, Dia-"
"Tenanglah. Tuhan telah mengatur semuanya."
"Kau tidak sedih, Kris?" Tanya Baekhyun heran dengan ketegaran Kris yang masih bisa tersenyum padahal cobaan yang dilaluinya pasti menyakitkan.
"Aku bertemu kembali dengan Kyungsoo setelah ia menikah dengan Kai dan memutuskan semua ide gila ini. Aku tidak bisa apa-apa."
"Kris-"
"Aku merelakan Kyungsoo untuk Kai. Maaf Baek, tapi Kyungsoo pantas bahagia untuk saat ini. Hanya saat ini."
.
Kai menarik tangan Kyungsoo berkeliling toko sekitar taman. Tak jelas kemana mereka akan pergi, tapi ini lebih baik dari pada hanya duduk sambil menunggu waktu kembang api dimulai.
Sepuluh menit berjalan, Kai berhenti di sebuah toko perhiasan.
"Ayo masuk." Ajak Kai sambil terus menarik tangan Kyungsoo.
"Selamat datang." Begitu Kai melihat-lihat perhiasan di meja kaca, seorang wanita cantik menghampirinya dan menanyakan ini itu yang Kyungsoo tak mengerti.
Namja bermata bulat itupun memutuskan untuk melihat-lihat barang lainnya yang menurutnya menarik. Sebuah cincin kecil dengan sebuah berlian diatasnya. Bukan, itu bukan cincin pernikahan seperti yang diinginkannya. Cincin itu terlihat sangat kecil.
Tanpa komando, Kyungsoo mengelus perut datarnya sambil bergumam tak jelas.
"Kyungsoo-ya ayo pergi."
Kyungsoo menoleh kearah Kai yang telah berjalan keluar toko.
"Kyungsoo." Panggil Kai entah bermaksud apa. Kyungsoo yang merasa terpanggil pun menoleh kearah Kai dengan tatapan penuh tanya. "Kalau kau jadi model mau tidak?"
Klotak!
Begitu mendengar pertanyaan Kai, Kyungsoo tiba-tiba kehilangan keseimbangan diatas sepatu hak tingginya. Beruntungnya dia karna tak sempat terjatuh ke jalanan begitu Kai sigap menangkapnya.
"Mianhae." Cicit Kyungsoo sambil berusaha menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Kai dengan tatapan tak bisa diartikan. Antara takut, tidak percaya, diskriminasi atau apapun yang Kyungsoo tak mengerti.
"Jadi?"
"Kau ingin aku jadi model yang tubuhnya kotak-kotak itu? tubuhku tidak berbentuk dan kau tahu pasti itu!"
Entah sadar atau tidak, suara Kyungsoo membuat orang-orang disekitar mereka memandangnya penuh selidik. Wajah Kai juga tiba-tiba memerah entah karena apa.
"Wae?"
"Kau terlalu vulgar bodoh! Lagi pula aku mengajakmu untuk jadi model untuk produk perusahaanku selanjutnya."
"Produk…"
"Kecantikan!"
Mata Kyungsoo berubah menjadi bulat penuh mendengar Kai yang menjawab dengan senyuman tak berdosa. Padahal dosanya banyak sekali…
Kyungsoo menggeleng keras sembari berjalan cepat untuk tidak berjalan bersama namja gelap itu. tapi tak berapa lama kemudian Kai berhasil menyamakan langkah kaki mereka dengan mudah. Ia kembali membujuk-bujuk Kyungsoo untuk menerima tawarannya. Dengan berbagai alasan dan tawaran menarik tentunya.
"Aku lihat kau sangat cantik dengan pakaian wanita. Jadi kupikir kau cocok untuk image genderblender!"
Kyungsoo tetap menggeleng keras. Tanpa sadar, keduanya kini telah kembali ke bangku dimana keduanya tadi duduk.
"Tidak ada untungnya untukku. Lagi pula untuk apa membantu suami yang sebentar lagi akan menceraikannya?" raut wajah Kai berubah seketika dengan pernyataan Kyungsoo.
"Kenapa kau tiba-tiba mengungkit soal cerai?"
"Memang kenapa? Kenyatannya begitu!"
"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan topik awal kita Kyungsoo-ssi!"
"Aku tidak peduli!"
Ucap Kyungsoo final dan membuat Kai sepertinya harus menggulung harapannya yang terlamapu besar pada istri nya itu. ia menatap festival yang sepertinya makin ramai saja. Mungkin karna kembang api akan dinyalakan beberapa menit lagi.
Kai menganggandeng tangan Kyungsoo tanpa banyak bicara. Kyungsoo pun seakan mengerti dengan tarikan tangan itu. mereka harus segera menemukan Kris dan Baekhyun untuk melihat api warna warni itu diangkasa bersama.
"Baekhyun!" teriak Kai saat melihat namja bertubuh kecil itu tengah menatap kesana-kemari. Mungkin ia juga mencari Kai yang sudah lebih dari satu jam menghilang.
"Kita cari tempat yang lebih sepi. Kajja." Ajak Kris yang hanya disetujui oleh yang lainnya. Dan disinilah mereka. Disebuah kolam taman dengan air mancur yang terkesan romantis sekaligus menyeramkan. Tak ada satupun penerangan disekitar sana. Tapi menurut Kris, tempat itu sangat cocok untuk melihat kembang api.
"Aku lelah." Gumam Baekhyun sambil menduduki dinding kolam itu. ia memukul-mukul kakinya, berharap pegal-pegal di sana hilang seketika.
"Kau harus langsung beristirahat setelah ini."
Baekhyun hanya tersenyum dengan saran Kai yang kini duduk disamping kanannya.
"Kau pasti lelah. Duduklah." Bisik Kris sambil menepuk tempat di sebelah kirinya. Tepat disamping Kai.
"Terima Kasih."
Kris hanya tersenyum sambil berusaha menghangatkan tangan Kyungsoo yang tak berbalut sarung tangan. Kris bisa merasakan betapa dinginnya tangan itu. tidak seperti orang lain.
"Hampir mulai." Ucap Kai tiba-tiba yang membuat Kris maupun Kyungsoo kembali dari dunia mereka masing-masing.
Kyungsoo menatap langit hitam dengan perasaan tak menentu. Tangannya meremas tangan Kris saking gelisahnya. Perasaan-perasaan itu datang silih berganti dengan sangat cepat hingga Kyungsoo merasa begitu frustasi dengan dirinya sendiri.
.
3
.
2
.
1
.
0
***KAISOO***
19
Langit gelap itu sepertinya merasa senang karna warna-warni yang menghiasinya. Warna hitamnya membuat warna kembang api yang meledak diudara terlihat lebih berwarna dan tak terkalahkan oelh siapapun. Tentu karena tidak ada bintang atau bulan yang biasanya menyaingi kecantikan mereka.
Tanpa sadar, mereka telah menautkan jemari mereka satu sama lain. Tautan tangan yang mengandung arti berbeda-beda dan tak ada satu orangpun yang menyadarinya.
Setetes air mengalir dari ekor mata pria Kyungsoo kala memandang kembang api yang benar-benar terlihat indah malam ini.
Januari telah datang. Hari-hari spesial menanti kehidupannya dalam waktu bulan Januari putih itu. Ulang tahunnya, ulang tahun Kai, Operasi Baekhyun, pengangkatan jabatan Kris, anniversary satu bulan dengan Kai, dan perpisahan yang tak terasa semakin dekat.
Tanpa sadar, Kyungsoo telah tertawa, bergumam, menjerit, dan menangis dalam waktu yang bersamaan. Ia tak peduli apapun lagi, ia butuh pelampiasan tentang kebingungan dan kebodohannya.
Sementara ketiga pria lainnya hanya diam, berpura-pura tak menyadari tingkah Kyungsoo yang menyedihkan. Pikiran mereka melayang jauh, sejauh kembang api yang meluncur tinggi menembus udara. Tak ada ujung untuk mereka berfikir bagaimana kehidupan mereka setelah ini. Tak ada contekan dalam hidup, mereka tinggal menjalani takdir dalam buku Tuhan.
"Setelah detik ini, biarkan aku melepaskan apa yang aku cintai."
"Beri aku hidup lebih lama lagi. Bahkan hingga seratus tahun lagi."
"Apa itu cinta? Permainan apa yang telah aku lakukan selama ini?"
"Ya Tuhan, biarkan aku membalas apa yang dia lakukan untukku. Relakanlah hatiku."
.
.
TBC
.
A/N : Annyeong! Dyakuro balik lagi nih! Hehe updet cepet kan ya? Kan ya? #todong peso
Huhuhu… maaf gak nepatin janji ini chapter terakhir. Karena aku pikir chapter yang ini kepanjangan, jadi aku bagi dua. Part selanjutnya belum selesai sih, Cuma hampir dikit lagi!
Maaf kalo ada typo (Banyak kale). Maaf updetnya sering telat, dan gak nepatin janji. Tapi beneran! Chap setelah ini akan END! REAL END dan doain aja sesuai dengan keinginan kalian ;)
Terima kasih untuk yang sudah comment, membaca, mengunjungi dan melihat Fanfiction ini. Tanpa kalian, saya tidak akan punya semangat untuk membuat karya-karya seperti ini. Sekali lagi terima kasih~
Last, Mind To Review? ^^
