When Your Love…
.
.
21
Kelas kecil itu terdengar sangat gaduh walau muridnya tak seberapa. Seorang guru berambut pirang tengah menjelaskan bagaimana cara berkenalan menggunakan bahasa Inggris.
"Hyuna, bisa kau contohkan pada teman-temanmu?" pinta Kris pada seorang anak perempuan yang sibuk bercermin. Anak itu menatap Kris genit sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kau mau jadi pacarku, aku akan maju."
"Ya! Seonsangnim!"
"Kamu masih kecil! Tidak boleh bicara tentang pacar-pacar begitu. Ayo maju."
Hyuna mengerucutkan bibirnya kesal sambil maju kedepan kelas lalu memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa inggris yang masih rancu disana-sini.
Kita pindah view cerita ini pada kelas sebelah. Dimana kelas itu terdengar lebih gaduh lagi dari kelas sebelah.
"KYA! KECOA!"
"IBU ADA BELALANG! HUE!"
"Woa~ kupu-kupu."
"Ini anaknya buaya ya? Kok mirip?"
Kai menatap frustasi anak-anak TK yang menatap barang bawaannya dengan berbagai ekspresi. Rencananya, hari ini ia akan menyampaikan materi binatang pada anak-anak kecil itu. Tapi sepertinya hal ini tidak akan jadi mudah.
"Butuh bantuan?" tiba-tiba Kyungsoo masuk kedalam kelas saat merasa suara gaduhnya sudah keterlaluan. Kai mendesah lega begitu anak-anak TK didalam kelas itu berhenti bersuara begitu melihat Kyungsoo yang masuk. Oh! Kai lupa sebuah fakta bahwa ia kuliah di fakultas pendidikan biologi untuk mengajar anak SMA bukan TK.
"Omo! Banyak serangga disini." Pekik Kyungsoo sok terkejut melihat banyak binatang yang dibawa Kai didalam beberapa toples. Ia mengambil salah satu yang berisi cicak lalu mendekat pada Hyunsaeng yang langsung bersembunyi dibalik punggung Joonki.
"Tidak apa-apa ini tidak menggigit kok. Ayo kemari." Kyungsoo mengenggam tangan Hyunsaeng dengan lembut, membuat tangan kecil itu kini telah memegang toples kaca yang berisi cicak.
"Ini bukan buaya ya saem?" tanya Minseok yang kini ikut ikut menyentuh toples kaca itu.
"Bukan. Bentuknya memang sama, tapi yang ini namanya cicak, yang sering menempel di dinding." Jelas Kai yang diangguki oleh anak-anak kecil itu.
"Nah sekarang kita bagi kelompok menjadi 5, setiap kelompok 5 orang ya." Titah Kai pada anak-anak yang langsung membuat kelompok masing-masing. Walau sedikit kesulitan membagi karna ada beberapa anak yang tidak mau dipisah sebenarnya.
Kini kelima kelompok kecil itu telah duduk di lantai kelas dengan sebuah toples kaca berisi satu hewan yang akan diamati. Yah beruntunglah mereka yang mendapatkan kupu-kupu, capung, atau cicak. Tapi tidak untuk yang mendapatkan kecoa juga ular. Mereka terus menjerit sambil memegangi tangan teman lainnya atau memanggil manggil seluruh nama seonsangnim yang mereka tahu.
Sesekali, Kai maupun Kyungsoo tertawa kecil dengan tingkah anak-anak kecil itu dalam melihat hewan yang mungkin saja sulit ditemui di kota besar seperti Seoul.
Suara gaduh sukses membuat kelas sebelah, Kris, Minah, serta Yura penasaran dan akhirnya malah bergabung. Membuat kelas yang kecil itu semakin sesak dibuatnya.
"Haha… sepertinya bahasa inggris kurang diminati ya?" ucap Kyungsoo sambil menatap anak-anak kecil juga para guru yang tengah bermain main dengan hewan-hewan itu. lalu mengalihkannya pada Kris yang mengangguk lemah. Sok lemah lebih tepatnya.
"Mungkin aku akan sekolah lagi dan belajar Fisika. Lalu mengajarkannya pada anak-anak kecil ini agar otak mereka berasap. Bagaimana menurutmu?"
"Kau membuat anak kecil ini penuaan dini bodoh!"
"Itu bagus! Mereka akan sangat jenius seperti albert einstein atau siapapun itu setelah keluar dari sini."
"Kau berusaha melawak?"
"Apa tidak lucu?"
Kyungsoo menatap Kris dengan tatapan aneh sementara Kris tetap dengan tatapan tololnya. Sangat tolol.
"Pft!"
"Mwoya? Kenapa tertawa?"
"Wajahmu! Wajahmu lucu sekali!" Ucap Kyungsoo sambil menunjuk-nunjuk wajah Kris yang masih sama tololnya. Ia berusaha membungkam bibirnya sendiri agar tertawa tidak terlalu keras dan menganggu acara –mari lihat hewan mereka-
"Wajahku tampan kok!"
"Tidak! Kau seperti orang idiot yang sering kutemui setahun yang lalu! Ah… kau membuatku merindukannya"
"A-Apa? Wajah bak bintang hollywood ini kau sebut apa? Hah! Matamu sepertinya bermasalah. Dilihat dari segi manapun, aku lebih tampan daripada di butek Kkamjong itu. benar kan?"
"NE!"
"Hei aku tidak butek! Hanya kurang putih!"
Dan entah sejak kapan seluruh orang disana terlibat dapat pertengkaran aneh itu.
*R*
"Operasinya akan dilakukan secepat mungkin Baekhyun-ssi."
Baekhyun hanya diam dengan ucapan dokter muda bernama Park Chanyeol itu. ia memandang kosong televisi yang bahkan hanya menayangkan iklan tidak jelas.
"Baekhyun-ssi?"
"Jika aku tidak melakukan operasi itu, berapa lama aku bisa bertahan?"
Chanyeol diam beberapa saat mendengar pertanyaan Baekhyun. Ia menghela nafas kecil tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.
"Aku tidak tahu. Hidup mati seseorang ada di tangan Tuhan."
"Maka dari itu apapun yang terjadi aku akan tetap mati kan?"
"Baekhyun-ssi-"
"Batalkan."
Chanyeol mengangguk kecil entah untuk mengiyakan apa. Beberapa saat kemudian dia membungkukkan sedikit badannya tanpa pamit.
"Pihak rumah sakit tidak bisa membatalkan hal besar seperti ini secara sepihak, harus ada kesepakatan antara kami dengan keluarga pasien. Saya permisi."
Blam!
Baekhyun masih menatap kosong. Matanya mulai berkaca-kaca karna air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Menit berikutnya, suara isakan kecil terdengar dari bibir tipis yang pucat itu. Ia menggumam nama Kyungsoo berulang kali hingga akhirnya jatuh tertidur.
*K*
"Jadi, kapan pemotretannya dilaksanakan?" tanya Kyungsoo saat mereka berdua –Kyungsoo dan Kai- pulang sehabis mengajar hari itu.
Kai membulatkan matanya dengan pertanyaan Kyungsoo. Ia menatap istrinya itu dengan tanda tanya besar di otaknya. Mungkinkah, namja itu menyetujui tawarannya saat itu?
"Aku hanya ingin mencoba." Ucap Kyungsoo yang semakin memantapkan dugaan Kai tentang kemungkinan Kyungsoo akan setuju menjadi modelnya.
"Lusa. Kau benar akan berpartisipasi kan?"
Kyungsoo mengangguk ragu dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Namun Kai mengabaikannya, ia tak mau merusah goodmoodnya hanya untuk memikirkan senyuman Kyungsoo.
Hari berlalu dengan sangat cepat. Semuanya bergulir seperti air yang kadang berarus kuat, menabrak batu, lalu menjadi lembut dan tenang.
Dan Hari itu semakin dekat. Saat Kyungsoo harus merelakan Kai untuk tidak di sisinya lagi. Selamanya.
*Y*
23
Pagi-pagi sekali, Kyungsoo telah bangun dari tidurnya diatas sofa rumah sakit. Ia memandang ke sekeliling dan mendapati Baekhyun yang masih terbaring lemah di ranjang juga Kai yang tidur disebelahnya. Dengan langkah gontai, pria berkulit putih itu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dengan menggunakan jaket tipis, ia keluar dari kamar serba putih itu menuju kantin. Ia bermaksud membelikan sarapan atau sekedar kopi untuk Kai dan dirinya sendiri.
Begitu sampai di ruangan berbau harum masakan itu, Kyungsoo langsung disuguhi dengan pemandangan pekerja kantin yang berlalu lalang menyiapkan menu untuk sarapan.
"Ahjumma, aku ingin kop-"
"Bisakah kau membuatnya sendiri nak? Aku sedang sedikit sibuk sekarang."
Ahjumma itu langsung melangkah pergi setelah memotong perkataan Kyungsoo. Sementara orang yang ditinggal hanya mengangguk pelan sembari tersenyum kecut. Ia menuju dapur kantin setelah menyapa beberapa ahjumma yang dikenalnya. Ia meminjam alat pembuat kopi lalu membuatkan satu gelas untuk Kai. Tangannya juga membuat dua sandwich dari bahan-bahan yang ada didekatnya.
"Ahjumma, ini berapa?" tanya Kyungsoo saat ia telah menyelesaikan masakannya. Ahjumma yang ditanya itu malah berdecak lidah sambil menggelengkan kepalanya.
"Bawa saja. Lagi pula kau membuatnya sendiri."
"Tapi-"
"Sudahlah. Lagipula kalaupun aku ingin bayaran, aku akan minta pada ayahmu. Sudah sana, pekerjaanku masih banyak." Ucap ahjumma itu dengan senyuman lalu kembali meninggalkan Kyungsoo.
"Terima kasih!"
Kyungsoo melangkah perlahan sambil melihat-lihat keadaan rumah sakit dipagi hari. Terkesan sangat sepi, mungkin karena sekarang baru jam 6 dan para pasien memilih untuk tidur lebih lama lagi. Angin dinginpun berhembus pagi ini. Sepertinya udara tidak akan bersahabat sepanjang hari.
Cklek!
Saat Kyungsoo masuk kedalam kamar rawat Baekhyun, kedua orang yang ditinggalnya masih saja terlelap dalam mimpi mereka. Makanan yang dibawanya kini telah tergeletak di meja tamu, sementara Kyungsoo duduk disebelah Baekhyun.
Baru beberapa hari yang lalu Kyungsoo mengatakan bahwa tubuh Baekhyun terlihat sangat sehat, tapi lihat kenyataan saat ini. Tubuh kurus, wajah pucat dan berbagai alat yang menempel di tubuhnya membuat Baekhyun terlihat sangat menyedihkan. Tanpa sadar, Kyungsoo telah menggenggam erat tangan Baekhyun yang sama dinginnya dengan udara musim dingin.
Beberapa tahun yang lalu, saat Kyungsoo masihlah remaja yang tak mengerti apapun tentang cinta, bertemu dengan Kai yang tiba-tiba saja muncul sebagai guru magang di sekolah barunya. Pria yang terkesan sangat baik bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Waktu terus berlalu dan akhirnya Kyungsoo terjerumus dalam sebuah perasaan aneh yang disebut cinta pada lelaki tampan itu.
Kyungsoo hanyalah seorang remaja yang tidak tahu apa itu sebuah penghianatan. Saat ia merasa Kai seonsangnim membalas perasaannya, Kyungsoo tak segan-segan menunjukkan rasa sukanya secara terang-terangan. Dan pada akhirnya Kai hanya mempermainkannya. Walau sakit hati dengan penolakan itu, Kyungsoo tidak pernah bisa menghilangkan perasaan yang sangat menganggu dalam hatinya. Dan saat guru itu telah pergi dari hidupnya, nama Baekhyun tiba-tiba muncul sebagai seseorang yang menjadi sosok spesial bagi Kai. Disaat yang sama, kesedihan juga rasa bersalah menghinggapinya. Mengapa ia harus mencintai orang yang jelas-jelas memiliki orang lain? Dan mengapa sekarang dia dengan tega mengambil satu-satunya harapan untuk hidup orang itu.
"Maafkan aku." Kyungsoo hanya bisa bergumam kecil.
Rasa itu terkadang memang harus rela mati untuk menyelamatkan rasa yang satunya.
*U*
Kai menarik tangan Kyungsoo dengan semangat kedalam studio foto yang khusus perusahaan pesan untuk acara pemotretan hari ini. Sedari tadi, senyuman Kai tak berhenti terpasang manis di wajahnya.
"Selamat pagi!" teriak Kai yang membuat seluruh kru disana menoleh dan tersenyum untuknya. Kyungsoo bisa lihat banyak kru yang memperhatikannya dengan intens juga beberapa model lain yang akan menjadi partnernya dalam pemotretan.
"Kau model pendampingnya? Heum, lumayan juga. Namaku Ren model utama." Kyungsoo memandang ragu kearah seseorang yang berambut putih itu. ia menatap dengan intens dari atas hingga bawah sosok unik didepannya.
"Aku laki-laki." Ucapan Ren itu mematahkan rasa penasaran sekaligus membangkitkan rasa terkejut Kyungsoo.
"K-Kyungsoo. Kim Kyungsoo." Ucap Kyungsoo sambil mengadahkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ren itu.
"Kyungsoo-ya!"
Kyungsoo menoleh kearah sumber suara dan menemukan Kai yang memberikan isyarat disana. Kyungsoo berpamitan pada Ren lalu mendekati Kai yang menatapnya tak sabaran.
"Cepatlah ganti pakaian. Stylish Hwang sudah menunggumu. Semangat ya!"
Pundak Kyungsoo mendapat tepukan semangat dari Kai. Seketika itu pula Kyungsoo merasa benar-benar akan menikmati hari ini.
*N*
Suara jepretan kamera, blizt juga teriakan sang Fotografer menggema dari sudut ke sudut ruangan. Di depan sana, Ren tengah berpose sendirian dengan anggun dalam balutan dress violet muda. Siapapun tidak akan pernah menyangka bahwa orang berambut putih itu adalah seorang laki-laki.
Sementara itu, Kyungsoo tengah duduk dibelakang menonton Ren sembari memegangi selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Pakaian yang Kyungsoo pakai tidak cocok dengan musim dingin hingga ia harus menggunakan selimut agar merasa lebih hangat.
"Kyungsoo-ya. Saat kau berpose nanti, jangan telalu tegang, jadilah dirimu sendiri." Tiba-tiba Kai datang lalu duduk disampingnya. Ia memberikan beberapa masukan untuk Kyungsoo yang sebentar lagi akan mendampingi Ren didepan sana.
"Apa aku bisa? Kudengar Ren itu model terkenal, sedangkan aku-"
"Tenanglah. Jika tak ada seorangpun disini yang memuji kehebatanmu, aku. Aku akan selalu berteriak kau yang terbaik!"
Kyungsoo tersenyum dalam diamnya. Tiba-tiba perasaan senang tak terkira itu datang kembali seperti kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Rasanya menyenangkan!
"Kemarikan tanganmu!"
"Hah?"
Kyungsoo yang tak mengerti jalan pembicaraan Kai hanya bisa diam hingga suaminya itu menarik salah satu tangannya dengan lembut. Ia bisa merasakan Namja didepannya itu melepaskan cincin perak yang selama ini membuatnya kesakitan.
"J-Jangan!"
Kyungsoo hampir saja merebut cincin perak itu kembali, sebelum akhirnya sebuah benda lain tersemat di jari manisnya. Sebuah cincin berwarna kuning mengkilap dengan kini membuat mata Kyungsoo terbuka lebar. Cincin emas?
"Aku dengar cincin perak sedikit kurang bagus untuk kesehatan kulit. Jadi aku membelikanmu yang baru."
Senyuman tulus terpatri dengan jelas di wajah Kai yang selama ini terkesan cuek terhadapnya. Dengan wajah memerah, Kyungsoo memeluk tubuh Kai dengan erat hingga selimut yang dipakainyapun lepas.
"Terima kasih. Sungguh, terima kasih."
Tangan itu bergerak ragu. Sangat ragu untuk menyentuh punggung seseorang yang memeluknya itu. Kai ingin memeluknya tapi,
"Kyungsoo-ssi, ayo masuk!"
Teriakan sang Fotografer membuat Kyungsoo langsung melepaskan pelukannya dari Kai lalu memakai kembali selimutnya. Ia membisikkan kata terima kasih lagi sebelum akhirnya berjalan ke dekat Ren yang tengah membetulkan make upnya.
Seorang stylish menghampiri Kyungsoo untuk memakaikan sebuah mahkota bunga mawar pink pucat ke kepalanya. Juga sebuah gelang dari bunga anggrek yang berwarna senada dengan mahkotanya.
"Sini kubawakan selimutnya." Stylish hwang mengambil selimut putih yang membalut tubuh Kyungsoo sebelumnya. Dan kini, kulit putih namja itu telah beradu dengan sebuah dress soft pink selutut berlengan pendek. Terlihat lebih simple jika dibandingkan dengan Ren yang menggunakan gaun panjang tanpa lengan.
"Kita mulai! Kyungsoo-ssi, kau duduklah dilantai. Biarkan Ren terlihat sedikit lebih menonjol."
Kyungsoo langsung melakukan hal yang dikatakan oleh fotografer itu. Ia duduk membelakangi Ren yang berdiri menyamping.
"Kyungsoo-ssi, lihat kemari!"
Ckrek!
Splash!
"Ren senyummu!"
Ckrek!
Splash!
"Ren!"
Dan fotografer terus meneriaki Ren untuk berganti gaya tanpa meminta Kyungsoo melakukan hal yang lain selain menatap ke kamera.
"Jadi begini sakitnya tidak dianggap."
"Kyungsoo-ssi!"
"NDE!"
Reaksi Kyungsoo yang terdengar berlebihan itu membuat seluruh kru menatapnya aneh. Ruangan itu menjadi sangat hening seketika. Dan Kyungsoo terlihat sangat malu karenanya.
"Kau berposelah seperti tadi." Ucap Fotografer itu dan siap membidik Kyungsoo.
"Mana Ren?" tanya Kyungsoo polos saat tak mendapati Ren dimanapun.
"Kau ambil gambar sendiri sekarang. Ayo berposelah."
"Tapi kan aku hanya pendamping!" ucap Kyungsoo protes dan membuat Fotografer itu menatapnya heran.
"Aku suka dengan mimik wajahmu yang terlihat menyedihkan itu. Kau terlihat seperti Cinderella yang tersesat dihutan. Ayolah."
Ckrek!
Splash!
Dan semua itu berjalan begitu cepat bagi semuanya. Matahari sudah kembali ke peraduan saat seluruh kru keluar dari studio dengan wajah puas. Kyungsoo berkali-kali membungkukkan tubuhnya pada kru yang telah membantunya seharian ini.
"Ayo pulang." Ajak Kai yang diangguki oleh Kyungsoo. Mereka pulang dengan menggunakan Bus. Ingat, Mobil Kai masih rusak sampai sekarang.
"Ah! Lelah sekali!" desah Kyungsoo setelah berhasil mendudukan bokongnya di kursi Bus yang empuk.
"Kau hanya berpose simple dan sekarang kau mengeluh?" Kai menatap Kyungsoo dengan tatapan merehkan.
"Kau kan hanya bisa lihat! Kau tidak tahu bagaimana perasaanku setiap kali namaku dipanggil Fotografer itu. dag dig dug dag dig dug! Itu yang membuatku lelah."
Kai hanya tersenyum dengan recokan-recokan Kyungsoo yang tak ada habisnya. Ia lebih memilih untuk melihat-lihat keadaan Bus juga jalanan dikanan kiri.
Pluk…
Sebuah benda berat mengenai bahu Kai secara tiba-tiba. Begitu namja itu menoleh, ia sudah mendapati kepala Kyungsoo yang bersandar nyaman dibahunya.
"Tidurlah…"
*G*
Bus telah sampai di halte pemberhentian terakhir. Dan itu adalah halte dimana mereka harus turun. Dengan lembut, Kai mencoba menggoyangkan tubuh Kyungsoo agar namja muda itu bangun. Dan benar saja, namja itu bangun tanpa harus dibangunkan dua kali.
"Ayo turun." Tanpa menunggu tanggapan Kyungsoo lebih dulu, Kai sudah menariknya keluar bus.
"Sudah sampai ya?"
"Hem." Balas Kai seadanya. Ia menggandeng Kyungsoo kesebuah taman didekat mereka. Bukan tanpa alasan, namun Kai benar-benar merasa lelah untuk harus berjalan ke rumah sakit dari halte bus.
"Ahjusshi, aku ingin naik sepeda!" Belum sampai benar keduanya ketaman yang dimaksud, Kyungsoo beralih menarik tangan Kai mendekati sebuah peminjaman sepeda yang ada di sudut taman.
"Aku sangat lelah, besok saja."
Entah hilang kemana semua tenaga Kai hingga pria itu tak bisa menghentikan Kyungsoo yang terus menariknya dengan penuh semangat. Yang bisa ia lakukan hanyalah menuruti ajakan Kyungsoo dengan setengah hati.
Setelah berunding beberapa saat tentang sepeda yang akan mereka gunakan, akhirnya mereka hanya menyewa satu sepeda karena uang dalam kantong Kyungsoo hanya cukup untuk menyewa satu sementara Kai tak mau meminjaminya uang.
"Ahjusshi yang mengendalikannya, aku yang di bonceng ya?"
"Aku lelah Kyung, kau main sendiri saja. Akan kutunggu di bangku sebelah sana." Ucap Kai sambil menunjuk sebuah bangku dekat air mancur besar di tengah taman. Tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu, namja itu berlalu meninggalkan Kyungsoo yang menatapnya kesal. Namun sebelum badmood semakin menyerangnya, Kyungsoo buru-buru menaiki sepedanya dan mulai berjalan-jalan disekitar taman.
Kai duduk sendirian di bangku panjang sambil melihat air mancur warna-warni yang melambung tinggi. Sesekali ia menghembuskan nafas berat hingga menghasilkan uap saking kesalnya dengan Kyungsoo yang bertindak seenaknya sendiri. Kai mengajaknya ke taman untuk beristirahat sejenak tapi Kyungsoo malah menganggapnya sebagai sebuah karyawisata. Uap kembali muncul dari mulut dan hidungnya saat sang pemilik kembali menghembuskan nafas lelah.
Sebenarnya sudah berapa banyak kesialan, dan kerepotan yang dialaminya karena Kyungsoo? Otaknya kembali memutar kenangan masa lalu seperti film yang berjalan mundur lalu berhenti disebuah scene.
Kyungsoo masih terlihat seperti seorang anak kecil polos saat mereka bertemu di ruang kerja Kim Uisa. Matanya bulat lucu, dan bibir merah penuh miliknya begitu menyita perhatian Kai saat itu. Dan ia tak pernah berfikir bahwa anak kecil polos itu punya pemikiran gila yang bahkan mungkin tak akan dipikirkan oleh orang lain.
Pernikahan mereka dilewati dengan satu minggu tanpa kontak sama sekali. Pertama Kai mengunjungi Kyungsoo, anak kecil polos itu menyambutnya dengan mata mumbulat lebar seakan ingin menghisapnya kedalam sana. Hari itu, Kai pertama kali merasakan masakan Kyungsoo yang tak terlalu buruk. Yah mungkin karena ia belum mau mengakui bahwa istrinya itu pandai memasak.
Lalu tiba-tiba Kris muncul sebagai seorang yang mengenal Kyungsoo. Sedikit penasaran menghampirinya saat Kris tak mau menjelaskan secara jelas bagaimana ia bertemu dengan Kyungsoo. Dan secara tiba-tiba pula, Kris menjadi yang ketiga dalam hubungannya dengan Kyungsoo.
Belum lagi Kim Joonmyeon yang rupanya ayah Kyungsoo. Pria paruh baya itu akhirnya mengungkapkan rasa tak suka secara terang-terangan terhadapnya. Seperti hanya dia yang salah dalam pernikahan gila ini. Ingin sekali Kai melemparkan semua kesalahan pada Kyungsoo, tapi tatapan terlukanya saat itu tak bisa membuatnya berkata banyak.
Kai tidak memiliki pilihan lain selain menikahi Kyungsoo demi Baekhyun. Tapi tanpa sadar, ia masuk kedalam lubang yang begitu dalam sampai-sampai tak ada jalan untuk keluar lagi. Semuanya berubah seakan-akan dunia adalah telapak tangan yang mudah diputar.
Kyungsoo, seorang anak kecil polos yang mengubah Kim Jong In.
Saat Kai sadar telah menghabiskan waktu lama untuk berkhayal, Kyungsoo telah hilang dari pandangannya. Dengan panik, Kai segera berlari mencari Kyungsoo yang entah dimana. Matanya bergerak tak tenang keseluruh taman bahkan hingga ke taman sebelahnya yang berdekatan dengan sungai Han.
"Kyungsoo!" teriak Kai saat menemukan pria kecil itu duduk disebuah tangga dengan sepeda di sampingnya.
Kyungsoo yang melihat Kai dari jauh sontak tersenyum sambil melambaikan tangannya penuh semangat.
"Kenapa kau bersepeda jauh sekali? Aku takut kau hilang!" semprot Kai begitu berdiri tepat di depan Kyungsoo. Ia mengacak rambut pria didepannya dengan gemas hingga berantakan.
"Habis, Ahjusshi tidak memperhatikanku. Jadi aku pergi! Lagi pula disini lebih bagus pemandangannya."
"Tapi tetap saja kau harus ijin dulu padaku!"
Kyungsoo hanya mengerucurkan bibirnya tanda tak setuju dengan pendapat Kai. Tapi raut wajah itu berubah seketika saat ia mendapatkan rencana yang lebih bagus.
"Kalau begitu kau ikut bersepeda denganku agar aku tidak hilang lagi. Otte?" ucap Kyungsoo sambil mengedipkan mata bulatnya.
"Ini hanya alasanmu saja kan?"
"Ayolah Ahjusshi! Sehari saja kita bersikap romantis." Sikap manja Kyungsoo akhirnya meluluhkan Kai yang tadinya bersikeras untuk menolak.
Malam menjadi lebih dingin dari biasanya. Titik-titik putih berjatuhan dari langit menggantikan hujan yang seharusnya turun. Jalan-jalan di bumi sana juga terlihat sangat licin untuk dipijak.
Tapi sepeda itu tidak menghentikan laju geraknya. Menyusuri jalanan di pinggir sungai Han yang terlihat cantik di musim dingin. Pria yang tengah mengayuh sepeda terlihat sedikit kesulitan sementara pria dibelakangnya hanya diam menatap punggung lebar Pria pengayuh. Tangan telanjangnya bergerak untuk melingkar di pinggang lebar itu, tapi pada akhirnya tangan itu hanya meremas kedua sisi baju sang pasangan hidup. Senyuman simpul terpasang indah penuh misteri. Tapi tidak ada yang menyadarinya.
"Ahjusshi,"
"Hmmm…"
"Aku mencintaimu."
.
Pria mungil itu duduk sendiri di sebuah bangku panjang sambil sesekali menoleh kesana kemari. Tidak ada siapapun di taman itu. yah, siapa orang gila yang mau keluar di malam bersalju seperti sekarang kecuali Kyungsoo?
Tiba-tiba, sebuah rasa panas menjalar di pipi kanannya. Kyungsoo menoleh dan mendapati Kai tengah menggenggam dua buah kaleng minuman hangat. Pria itu memberikan salah satunya pada Kyungsoo setelah itu duduk disampingnya.
"Kau senang?" Tanya Kai seusai menyesap kopinya.
"Maksudnya?"
"Kupikir kau mengalami hal baik ralat sangat baik hari ini. Pemotretan lancar, karya wisata dadakan, dan membuat tulangku serasa mau patah. Kau senang kan?"
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Kai yang serasa menyindirnya. Dengan kesal, ia meneguk teh panas kalengannya dengan beringas. Tak sadar bahwa teh itu benar-benar panas.
"Ahh! Panas!" Kaleng teh itu jatuh begitu saja keatas salju sementara sang pemiliknya tengah menjulurkan lidahnya yang serasa terbakar. Kai yang merasa terkejut segera menolong dengan mengusap sudut bibir Kyungsoo yang terkena ceceran teh dengan sapu tangannya.
"Lain kali hati-hati!"
"Ini gara-gara kau yang menyindirku! Aku jadi kesal."
"Siapa yang menyuruhmu kesal?"
"Berhenti bicara padaku! kau membuatku makin kesal!"
Akhirnya keduanya diselimuti oleh rasa sepi tanpa suara. Kai benar-benar menganggap perkataan Kyungsoo sebagai ancaman. Sementara Kyungsoo kini tengah menikmati hasil dari perkataannya.
Angin berhembus semakin kencang hingga membuat udara disekitarpun terasa semakin dingin. Kyungsoo menggosok kedua telapak tangannya untuk menghangatkan diri. Teh miliknya sudah tumpah, dan Kyungsoo benar-benar menyesalkan hal itu.
Sebuah tangan yang tengah menggenggam sekaleng kopi tiba-tiba bergerak didepan wajahnya. Dan Kyungsoo tahu siapa pelakunya. Ia menoleh dan mendapati Kai yang menatapnya seperti berkata "Minumlah."
Tanpa menunggu lama, Kyungsoo mengambil minuman itu dari tangan Kai. Meski kini minuman itu telah jauh lebih dingin, tapi ia bersyukur Kai masih peduli padanya.
"Ahjusshi,"
"Apa?"
Kyungsoo meremas ujung jaketnya ragu. Tatapannya tak berpindah dari kaleng kopi di tangannya.
"Kenapa kau diam saja saat aku bilang aku mencintaimu tadi?"
Kai menegakkan tubuhnya. Matanya menatap Kyungsoo yang tengah menunduk disampingnya dengan sebuah helaan nafas berat.
"Jadi aku harus apa?"
Kyungsoo mendongakkan kepalanya. Menatap Kai dalam seakan tersinggung dengan jawaban Kai yang terkesan tak peduli. Ia menggigit bibir bawahnya karena sangat ragu.
"Tapi, ini sudah hampir satu bulan."
Kai diam tanpa suara. Matanya menatap namja didepannya dengan gusar.
"Kau tidak merasakan apapun saat bersamaku?"
Kai masih diam. Atau mungkin tak berniat sama sekali untuk menjawab.
"7 Hari lagi, saat waktu itu sudah habis. Apa kau benar-benar akan meninggalkanku? Kau akan melupakanku?"
"Kyungsoo,"
"Apa kau tidak mencintaiku?" Pancaran mata Kai berubah total setelah itu. Kyungsoo bersumpah tidak pernah melihat tatapan mata Kai yang seperti itu selama mereka bertemu. Ada apa?
"Kau pasti sangat sakit?" ucap Kai pelan tanpa meninggalkan tatapan mata Kyungsoo yang berharap padanya.
"Aku sangat takut saat berhadapan denganmu, bisa saja aku menyakitimu semakin dalam tanpa sadar."
"Ahjussi."
"Kau tahu sendiri apa yang mengikat kita saat ini Kyungsoo. Sebuah pernikahan palsu dibalik pernikahan nyata."
Cairan bening itu siap bergerak turun kapan saja jika pemiliknya mengedipkan mata. Tapi Kyungsoo ingin mencoba untuk kuat. Karna dia laki-laki.
"Kau pasti bisa mencari seseorang yang lebih baik dariku."
Tes…
Satu cairan bening itu turun lewat ekor matanya. Melewati pipi putihnya, lalu benda kissable yang bergetar. Kyungsoo menundukk untuk menyembunyikan air matanya dari Kai, tapi itu malah membuatnya semakin terlihat menyedihkan.
"Aku tidak peduli dengan perasaan. Karna sejak awal perasaan seperti itu tidak seharusnya ada. Tidak akan ada kata Kita untuk kita."
Isakan kecil lolos dari bibir Kyungsoo yang bahkan telah berdarah karna terlalu keras digigit. Ia tidak peduli darahnya akan menetes kemana-mana atau rasa karat yang menyentuh indra perasanya. Kyungsoo hanya tidak ingin terlihat lebih menyedihkan.
Tak ada yang sadar, pria dihadapannya telah menangis dalam diam. Matanya menatap gusar tubuh Kyungsoo yang terlihat begitu kecil. Tatapan kecewa juga tidak rela ada di dalam sana.
"Seandainya, kau datang lebih cepat. Mungkin aku,"
Drrt.. drrt…
Ponsel Kai tiba-tiba bergetar dan membuat keduanya mencoba untuk berhenti berlarut dalam kesedihan.
"Yeoboseo,"
"…"
"A-apa?"
Kyungsoo bisa melihat tangan Kai tiba-tiba melemas setelah mengangkat telepon itu. Ia menatap suaminya itu penuh tanya. Raut wajah Kai menunjukkan bahwa ada yang sangat-sangat tidak beres akan kehidupannya.
Kai segera menutup teleponnya lalu menarik Kyungsoo berlari dari taman kecil itu. Ia tak mempedulikan Kyungsoo yang terus saja bertanya ada apa padanya. Tangannya tetap mengenggenggam tangan Kyungsoo erat walau masih terkesan halus. Tidak, Kai tidak akan menyakiti perasaan Kyungsoo lebih dari ini.
"Uisa!" Kai dan Kyungsoo sampai didepan ruang ICU tepat setelah seorang dokter keluar dari ruang itu. Dokter itu, Park Chanyeol.
"Keadaan Kim Baekhyun?" tanya Kai sembari mengatur nafasnya. Kyungsoo kini mulai mengerti mengapa Kai terlihat sangat lemas saat mengangkat telepon tadi.
"Anda suaminya kan? Maaf, kondisinya sedang sangat lemah sekarang. Dia membutuhkan sumsum tulang belakang hari ini juga."
Kyungsoo membulatkan matanya mendengar penuturan Dokter Park. Ia tak bisa berfikir secara jernih hingga deru nafasnya pun ikut terdengar berat.
"Kyungsoo." Panggil Kai. Suaminya itu menatapnya dengan penuh harap juga kecemasan. Kyungsoo hanya bisa tersenyum dalam hati saat sadar Kai masih peduli padanya.
"Iya aku siap. Tapi bisakah dokter memberiku waktu beberapa jam?" pinta Kyungsoo dengan penuh harap. Harapan terakhirnya.
"Kami akan mulai operasi pukul 2 malam. Kau masih punya waktu 5 jam untuk pergi Kyungsoo-ssi."
Kyungsoo bisa sedikit bernafas lega sekarang. Ia membungkuk dalam sebelum akhirnya berlari sekencang mungkin melewati koridor rumah sakit yang sepi. Tak mempedulikan darah yang terus mengalir dari bibirnya.
*S*
Joonmyeon menatap Chanyeol tak percaya. Ia langsung membuka berkas yang diberikan oleh juniornya itu dengan asal hingga menemukan data tentang kesehatan Baekhyun. Dan benar kankernya sudah masuk stadium 3 yang berarti adalah tahap akhir untuk melakukan tranpalasi sumsum tulang belakang. Jika hal ini ditunda lagi, bukan tidak mungkin Baekhyun akan kehilangan nyawanya.
"Uisa, apa anda akan ikut dalam operasi ini?" tanya Chanyeol hati-hati. Ia seperti merasakan kegelisahan yang melanda seniornya itu.
"Carilah dokter lain, Park. Maaf aku tidak sanggup."
*O*
Kyungsoo melewati daerah pertokoan yang ramai itu dengan tergesa. Waktu telah mengejarnya, dan ia tidak boleh kalah oleh waktu. Ia membiarkan saja semua orang yang memekik karna tertabrak oleh badan kecilnya. Toh mereka tidak jat…
Bruk!
"AUH! Ya! Kalau jalan lihat-lihat!" teriak pria cantik yang kini telah terjatuh di tanah karna ditabrak oleh Kyungsoo.
"Gwenchana?" pria cantik itu meraih uluran tangan sang kekasih untuk bangkit. Ia berbalik bermaksud memaki-maki orang yang membuatnya jatuh.
"Apa mak- Kyungsoo!" Pria cantik itu membulatkan matanya saat melihat Kyungsoo yang terlihat sangat berantakan. Rambut beranakan, keringat dimana-mana, air mata yang berjatuhan juga bibir yang terkoyak dan mengeluarkan darah.
Grep!
Namja cantik itu kembali terkejut dengan tarikan Kyungsoo yang tiba-tiba terhadap tubuhnya. Teman SMAnya itu kini tengah memeluknya dengan sangat erat. Sangat.
"Luhan temanku. Hiks… aku, aku sangat senang bertemu denganmu. Hiks… menyayangimu. Aku sangat menyayangimu. Terima kasih telah berusaha menjagaku selama ini. Terima kasih."
Luhan hampir saja menanyakan hal yang macam-macam pada pria yang lebih kecil darinya itu. tapi Kyungsoo telah lebih dulu lari darinya.
"Kyungsoo! Kyungsoo!"
Luhan berusaha mengejar pria yang memeluknya itu sekuat tenaga. Air matanya mulai mengalir karena rasa khawatir, senang, dan rindu kepada teman dekatnya itu. sejak lulus sekolah, Kyungsoo bahkan tidak pernah menghubunginya lagi.
"Luhan berhenti!"
Lari Luhan terhenti paksa dengan sebuah tarikan keras dari kekasihnya.
"Tidak! Sehun, bibirnya! Kau lihat bibirnya kan? Dia terluka! Dia tidak boleh!"
"Ssst… tenanglah."
Sehun memeluk tubuh Luhan dengan erat. Tak mempedulikan orang-orang sekitar yang mulai menatapi mereka dengan berbagai tatapan tak menyenangkan.
"Kyungsoo akan baik-baik saja."
*O*
Kyungsoo menggedor pintu apartement Kris dengan brutal. Sambil berusaha menahan tangisnya, tangan lemah itu terus menggedor pintu apartement didepannya dengan keras.
"Kris keluar! Kumohon!"
Kyungsoo sangat putus asa sekarang. Sudah lebih dari sepuluh menit ia didepan apartement Kris dan terus menggedor pintunya sementara sang pemilik entah pergi kemana.
"Kyungsoo."
Suara berat itu membuat tubuh Kyungsoo berbalik seketika dan melihat Kris dengan dua buah kantung belanjaan ditangannya. Pria bertubuh tinggi menatap Kyungsoo terkejut. Tubuhnya sangat kotor. Keringat, debu, air mata dan darah bercampur menjadi satu di sekitar bibirnya.
"Astaga, kau apakan bibirmu!"
"Kris aku butuh bantuanmu. Aku mohon, kris…"
***KAISOO***
Kai tengah menemani Baekhyun yang masih tertidur lelap karena efek obat penenang. Tangan cantik Baekhyun kini tengah digenggam dengan hangat oleh Kai. Pria itu tak henti-hentinya memainkan tangan mungil Baekhyun dan berharap pemiliknya akan terbangun setelah itu.
Jantung Kai berdetak sangat cepat. Bahkan Kai bisa merasakan sakit selama sepersekian detik karenanya. Ia terlalu gugup dan ketakutan menghadapi hari ini. Hari yang sebenarnya sangat ia nanti sejak hampir sebulan yang lalu. Tapi waktu kini telah berganti, perasaan Kai pun ikut berganti seiring dengan Kyungsoo yang mengisi hari-harinya.
Keraguan akhirnya menghampiri Kai yang terus terngiang akan Kyungsoo yang bersikap aneh beberapa jam yang lalu. Pria kecil itu seperti menyimpan sesuatu hal yang begitu berat namun tak bisa mengungkapkannya. Dan Kai benci sebuah kenyataan bahwa ia tak mampu mengetahui hal yang tersembunyi itu.
"K-kaihh,"
"Baek? Kau sudah sadar?"
Kai kembali dari dunia pikirannya begitu mendengar suara serak dari Baekhyun. Pria itu hampir saja memanggil dokter sebelum Baekhyun menahannya untuk pergi. Senyuman yang diberikan Baekhyun cukup untuk menggambarkan bahwa dia baik-baik saja.
"Kau akan segera dioperasi Baek. Bertahanlah sebentar lagi." Ucap Kai sambil mengecup hangat tangan indah Baekhyun.
"Kai, boleh aku bertanya?"
Baekhyun menatap Kai dalam. Ia seakan mengisyaratkan suaminya itu untuk menjawab semua pertanyaannya dengan jujur.
"Sebenarnya Kyungsoo itu siapa?"
"Dia temanku Baek, aku mengenalnya karna dia anak dokter Kim."
Tatapan ragu Baekhyun membuat Kai harus sedikit menarik nafas dalam untuk tetap menyembunyikan rahasianya.
"Dia yang akan memberikan organ tubuhnya untukku kan?"
Nafas Kai tercekat. Matanya memandang gusar kemana-mana. Kai sadar bahwa Baekhyun masih menatapnya sayu.
"Dia istimu kan?"
"Baekhyun!" Teriak Kai saat akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir tipis istrinya.
"Aku tahu kau menikahinya karnaku! AKU TIDAK BUTUH ITU!"
Baekhyun menjadi histeris. Tangannya yang terbebas dari jarum infus terus memukuli Kai sekuat mungkin. Tak mempedulikan nafasnya yang memburu, Baekhyun terus memaki-maki Kai yang diam seribu bahasa. Ia hanya pasrah dengan pukulan-pukulan Baekhyun yang sama sekali tidak sakit buatnya.
"Aku melakukan ini untukmu! Agar kau sembuh!" ucap Kai pada akhirnya. Ia menangkap tangan Baekhyun agar tidak memukulinya lagi. Tatapan matanya bertemu dengan mata sipit yang berair itu.
"Kenapa kau begitu egois? Sekalipun aku dioperasi, kemungkinan sangat kecil aku bisa hidup bahagia bersamamu. Aku tetap akan mati bahkan sebelum kau merasa bahagia denganku! Karna kau tidak mencintaiku!"
"Omong kosong! Berhenti mengeluh!"
"Aku hanya teman masa kecil yang selalu jadi penghambat buat mu! Cita-citamu, hidupmu, cinta. Semuanya!"
Kai tak mampu menahan Baekhyun lagi. Ia memberi kesempatan pada istrinya itu untuk mengatakan semua yang ada dalam pikirannya. Pria dewasa tidak pernah memperumit masalah!
"Kau mencintai Kyungsoo, dan kau mengorbankannya untukku!"
"Aku tidak mengorbankannya, Baek. Dia tidak akan kenapa-napa walau kehilangan sedikit organ tubuhnya."
Angin berdesir menembus jendela kamar bertirai putih. Bunyi jam juga ranting pohon memenuhi ruangan serba putih itu. Baekhyun menatap Kai dengan pandangan tak bisa diartikan. Satu persatu air mata turun dari sudut matanya dan membentuk sebuah sungai kecil di pipi putih itu.
"Dia hemofilia."
.
.
TBC
.
A/N : Maaf lama updet. Maaf gak tepat janji LAGI. Aku khilaf…
BIG THANKS
DOtatsura, dildilkyung, nonna, GotchaCode, nay, KyungLi, Krisoo my love f, Lost Little Deer, littlebubble, , suci, afnia2495, GreifannyGS, Park Ri Rin, Galaxy Hyung, t.a, gyuna, sungra, hea, chenma, OhSooYeol, dokydo91, oneheartforsuju, miszshanty05, Hany Kwan, Kim Leera, dhee, flowerdyo, opikyung0113, puputkyungsoo, Guest, rnsoul, donutkim, megajewels2312, exindira, Jung Eunhee, penghulu kaisoo, fridaydayyyy, ByunKaNish, .16, ArraHyeri2, rossadilla17, sehunpou, ajib4ff, IkaIkaHun11, kaibaekshipper, eunhaezha, rossadilla17
Dan Kyungie Jong, Sexy Rose, Ghea, Meong yang ngisi hari-hari saya. Thanks a lot guys…
BUAT SIDERS! Makasih udah baca. Baca chap selanjutnya lagi ya. Aku sayang kalian juga kok. Beneran deh. Suwer!
Last,
Mind To Review? ^^
