Warning! BxB, Typo(s), menye-menye, sinetron, alur lambat.
Chapter terakhir, 13,5k selamat menikmati.
.
Aku Mencintaimu
.
24
Ruangan itu terasa sangat sunyi. Hanya ada seorang pria muda yang berusaha menggunakan pakaian operasinya sendiri didalam sana. Matanya tak berpaling dari sebuah cermin besar di pojok ruangan yang menggambarkan dengan jelas bagaimana dirinya sekarang.
Kyungsoo sudah selesai membersihkan tubuhnya yang penuh keringat juga debu. Bibirnya juga mulai sembuh berkat obat yang Kris berikan beberapa jam yang lalu.
Begitu bosan dengan wajahnya sendiri, Kyungsoo berjalan mendekati sebuah tempat tidur kecil ditengah ruangan lalu mendudukinya. Kakinya yang menggelantung bergerak kedepan kebelakang mengusir kebosanan yang menghinggapinya. Sampai pintu masuk ruangan itu terbuka dan menampakkan Kris disana.
"Hey kecil! Kau siap dengan operasinya?" Kris seenak jidat masuk kedalam ruangan itu lalu duduk disamping Kyungsoo.
"Sedikit berdebar. Tapi tidak apa-apa."
Kris mengangguk mengerti sambil terus tersenyum. Tangannya meraih sesuatu didalam saku jaketnya.
"TAO?!" Pekik Kyungsoo tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seekor ular kecil telah menggantung indah di telapak tangan Kris yang besar.
"Mau pegang?"
Kyungsoo mengangguk pasti lalu mengulurkan tangannya pada ular kecil itu. sudah lumayan lama ia tidak bertemu dengan makhluk yang membuatnya berhenti fobia dengan ular.
Kris duduk di sebelah Kyungsoo yang begitu bersemangat dengan Taonya. Namja berambut pirang itu tak sekalipun melepaskan pandangannya. Matanya menatap sang objek begitu fokus hingga segalanya menjadi buram kecuali dia.
Puk!
Tangan besar itu menepuk kepala Kyungsoo pelan hingga membuat seorang yang menjadi korban menatapnya tajam. Tangan kecil itu langsung menyingkirkan tangan besar Kris dari kepalanya. Tapi secepat kilat, tangan besar itu kembali mendarat diatas kepalanya.
"YA! Berhenti menepuk kepalaku!"
"Aku hanya bingung mau melakukan apa."
Kyungsoo tak menanggapi perkataan Kris. Ia kembali asik dengan Tao yang kini bergerak melilit di pergelangan tangannya.
"Tao akan mati beberapa hari lagi. Makanya aku bawa kemari."
Mata Kyungsoo membulat dengan perkataan Kris kali ini. Seakan-akan menanyakan bagaimana bisa makhluk seimut dan selincah Tao akan mati.
"Spesiesnya Tao memang begitu. Mereka tidak akan bertahan lebih dari satu bulan."
"Kasihan sekali."
Angin begitu dingin masuk melalui jendela ruangan yang terbuka. Kris akan menutupnya sampai akhirnya Kyungsoo menahan tangannya sambil menggeleng kuat.
"Aku masih ingin merasakan angin malam."
Kris mengangguk mengerti lalu kembali duduk di sebelah Kyungsoo. Suasana kembali hening untuk waktu yang lama. Kyungsoo bermain dengan Tao dengan diam sambil sesekali memikirkan sesuatu. Sementara Kris seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tak dapat memperdengarkan suaranya.
Kyungsoo berhenti bermain-main saat tangan kirinya digenggam oleh Kris. Mata bulatnya menatap pria berambut pirang itu dengan heran.
"Jangan mati. Ok?" ucap Kris tanpa menatap orang yang diajaknya bicara. Matanya terlihat kosong menatap dinding putih didepan sana.
Kyungsoo menundukkan wajahnya sembari tersenyum pahit.
"Hanya Tuhan yang bisa menentukan hidup dan matiku."
"Aku akan menunggu."
"Maksudnya?"
Kyungsoo menoleh lagi pada Kris. Pria itu kini menatap dalam dirinya hingga membuat perasaan aneh menjalar di tubuhnya.
Tanpa sadar, Jarak di antara mereka semakin tipis. Membuatnya keduanya dapat merasakan hembusan nafas hangat dari pria dihadapannya.
"Jangan," Tubuh Kris menegang saat Kyungsoo menahan dadanya dengan tangannya.
"Maaf. Aku tetap tidak bisa."
Mata tajam itu mengerjap pelan seakan merespon perkataan Kyungsoo. Tatapan matanya berubah sayu.
"Arraseo. Kemarikan Tao. Kau harus mempersiapkan diri dengan operasinya."
Kris mengambil alih Tao dari tangan Kyungsoo.
"Sampai jumpa." Kris menyempatkan diri mengusak rambut Kyungsoo sebelum berjalan pergi.
"Kris!"
Grep!
Tubuh tinggi itu menegang seketika. Ia dapat merasakan panas tubuh Kyungsoo yang berpindah padanya. Hangat…
"Senang sekali bisa bertemu lagi denganmu. Walau kita bertemu dengan tidak sengaja, walau waktu untuk kita juga sangat sedikit, aku sangat bahagia. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku."
Tangan kecil itu semakin erat memeluk pinggang sang pria tinggi didepannya. Bibirnya terus mengucapkan terima kasih sementara ia tak sadar, pria didepannya telah berkaca-kaca.
Kris melepas dekapan tangan Kyungsoo lalu berbalik menatap pria bermata bulat itu. senyum simpul terpatri di wajahnya yang dingin. Menggambarkan betapa sakitnya ia sekarang.
Mata bulat itu semakin bulat kala menatap dalam kedua manik coklat dihadapannya. Begitu rapuh dan berkaca-kaca. Kyungsoo tahu Kris adalah seorang paling tegar yang pernah dia kenal.
"S-saem…"
"Bodoh! Kau orang paling bodoh yang pernah kukenal! Kenapa? Kenapa kau memilih tetap bersama orang yang hanya akan menyakitimu. Kau bahkan tidak sadar bahwa aku yang paling sakit disini!"
Kris menghempaskan tangan Kyungsoo dengan kasar. Ia berjalan cepat keluar ruangan itu tanpa mempedulikan Kyungsoo yang terus memanggil namanya.
Brugh…
Tubuh tinggi itu terdorong beberapa langkah saat menabrak seseorang di lorong rumah sakit. Ia berusaha menyembunyikan air matanya sebelum menatap orang yang ditabraknya barusan.
"Oh kau…"
Kilatan marah tiba-tiba muncul dari iris mata Kris. Tanpa komando, tangan panjangnya meraih kerah baju Kai –orang yang ditabraknya- lalu melayangkan pukulan mentah ke pria berkulit gelap itu.
Kai tersungkur di lantai sembari mengusap ujung bibirnya yang sobek akibat pukulan Kris. Matanya menatap tajam Kris seakan meminta sebuah perjelasan dari tingkahnya.
"Puas kau?" ucap Kris dengan nada rendahnya.
"Maafkan aku." Seakan mengerti dengan pertanyaan ambigu itu, Kai menjawab pelan sembari menatap lantai yang terasa sangat dingin.
"Kau menghancurkannya, padahal dia tidak melakukan apapun! Dia hanya mencintaimu sebagai anak kecil. Anak kecil polos yang berharap terlalu jauh pada pria brengsek semacammu!"
Kris bergegas pergi. Meninggalkan Kai yang langsung berdiri setelah kepergiannya.
Cklek…
Kyungsoo mendongakkan wajahnya saat mendengar suara pintu yang terbuka. Kai.
"Hai," Sapa Kai dengan canggung. Kyungsoo hanya diam mendapati suaminya itu berdiri didepan pintu kamarnya. Entah mengapa, ia sedang tidak ingin bertemu dengan orang yang dicintainya itu.
"Aku sedikit kaget dengan reaksimu yang tadi." Ucap Kai demi memulai percakapan diantara mereka.
"Yang tadi?"
"Kau kemana tadi? Sampai lari-lari begitu."
"Ah! Ketempat yang tak terlalu penting."
"Aku pikir kau akan melarikan diri."
Deg!
Entah mengapa perkataan Kai barusan benar-benar menusuk hati Kyungsoo. Mengapa namja itu berkata seolah-olah ia adalah seorang pengecut yang tak memenuhi janjinya? Mengapa setelah sekian lama, ia tetap tidak dipercaya?
"Benarkah? Hehehe mianhae, aku pergi menemui Kris sebentar. Lagi pula sekarang aku disini kan? Aku tidak melarikan diri kan?"
Kai merasa tubuhnya membeku dengan senyuman itu. rasa sakit yang entah dari mana asalnya itu menyerang perasaannya begitu dalam.
'Mengapa kau harus tersenyum disaat seperti ini?'
"Ah! Bagaimana keadaan Baekhyun hyung? Semakin membaik kan? Semoga tubuhnya kuat untuk menjalani operasinya. Ahjusshi juga doakan dia semoga cepat sembuh dan menemani ahjusshi lagi. Omona, aku merona kalau membayangkan kalian akan hidup bahagia nan romantis nantinya. Buatlah banyak anak ahjusshi. Hupm… aku iri…"
Mata ngantuk itu terus menatap orang yang mengoceh tidak jelas didepannya. Seakan orang itu adalah objek paling indah didunia, Kai tak bisa mengalihkan pandangannya sama sekali.
'Aku punya istri yang sangat menawan. Tak seharusnya dia menderita bersamaku.'
"Kalau Baekhyun hyung sembuh, ahjusshi pasti bahagia ya? Hem, aku juga akan bahagia setelah ini. Tenang saja! Aku akan-"
"Berhenti bertingkah seolah-olah kamu sedang bahagia. Aku muak."
Kyungsoo terdiam seketika. Matanya dapat melihat mata Kai yang menyiratkan emosi. Entah emosi apa itu. tapi,
Ia menundukkan kepalanya saat menyadari tetes air mata tiba-tiba jatuh mengenai pipi. Perlahan-lahan tanpa diperintah, air itu semakin deras menuruni pipinya lalu jatuh ke tangannya yang mengepal erat.
"M-Maaf. Hehehe, aku malah kelihatan lemah ya? Ehm.. padahal aku tidak berniat seperti itu."
"Kau membuatku sakit, Kyung."
"KAU YANG MEMBUATKU SAKIT LEBIH DULU!"
Tubuhnya terasa benar-benar membeku dengan teriakan itu. hatinya terasa sakit mendengar suara keras dari seseorang yang selalu berucap lembut padanya itu.
"Aku putus asa saem. Sudah kulakukan semuanya. Semua hidupku untukmu. Tapi hiks… kenapa? Kenapa kau tidak pernah melihat kearah lain, selain dia? Aku selalu disekitarmu! Tidak adakah… sedikitpun?"
.
"Maaf,"
Begitu hebatnya seorang Kim Jong In. Kembali menyakiti seseorang yang mencintainya begitu dalam. Dan kembali menyakiti dirinya sendiri.
"Aniya. Ini semua salahku yang bertindak kekanakan. Maafkan aku."
Kai tak mampu berkata-kata. Ia sangat takut ucapannya akan menyakiti Kyungsoo lagi. Yang artinya tidak akan membuat suasana menjadi lebih baik.
"Kita akhiri."
Kai membulatkan matanya. Menatap Kyungsoo tak percaya.
"T-Tapi ini kurang 7 hari lagi." Kai berusaha mati-matian untuk menyembunyikan rasa kecewanya. Walau ia tahu, raut wajahnya mengatakan kejujuran.
"Tidak apa-apa. Lagi pula setelah ini kau akan sangat sibuk dengan Baekhyun. Jadi sia-sia saja kan kalau aku tetap bertahan?"
Kyungsoo kembali memperlihatkan senyumannya. Ia tidak sadar bahwa senyuman itu kembali membuat Kai merasa sakit.
Wajah Kyungsoo berubah sedikit terkejut. Ia lalu memperhatikan cincin yang baru Kai berikan padanya pagi tadi. Bibirnya kembali melengkung keatas sambil menatap cincin emas itu dalam-dalam. Tangan kanannya mendekati cincin yang tersemat di jari manis kirinya itu lalu melepaskannya.
"Aku kembalikan." Ucap Kyungsoo sambil menyodorkan cincin yang belum sampai 24 jam di jarinya.
"K-Kyungsoo."
"Tenang saja. Aku tetap bahagia kok. Karena Kim Songsaengnim juga bahagia."
***KAISOO***
Kursi roda itu bergerak pelan menyusuri lorong rumah sakit yang dingin. Seseorang yang ada diatas kursi bergerak itu tak henti-hentinya tersenyum, membuat sang ayah yang mendorong kursinya tertegun heran.
"Kau kenapa Kyungsoo?" tanya Joonmyeon yang keheranan dengan tingkah anak satu-satunya itu.
"Aniya appa. Aku hanya ingin tersenyum saja. Hem, selagi aku bisa tersenyum kan?"
"Terserah kau saja."
Ruang operasi tinggal lima puluh meter didepan mereka. Ruangan yang mungkin sedikit menakutkan untuk sebagian orang. Termasuk Kyungsoo.
"Appa…" Panggil Kyungsoo dengan nada manjanya.
"Hem…"
"Kyungsoo sayang appa."
"Aku tahu."
"Walau appa agak dingin, walau appa keras kepala, walau appa kadang kasar, aku tetap sayang appa."
Sepasang manik mata itu terlihat berkaca-kaca. Tapi seorang lainnya tak menyadarinya.
"Kenapa?" tanya Joonmyeon.
"Karena appa menyanyangiku. Benar kan? Hehehe…"
Joonmyeon diam dengan perkataan Kyungsoo. tangannya mengenggenggam erat besi di tangannya.
"Waktu SD, Kyungsoo selalu iri dengan teman-teman. Setiap hari ibu, mereka selalu memberikan kado untuk ibunya. Saat aku tanya kenapa, mereka menjawab karena ibu adalah orang yang baik, ramah, penyayang, dan yang merawat mereka sejak kecil. Tapi Kyungsoo kan sudah tidak punya ibu."
Tes…
"Yang menyayangi Kyungsoo kan appa, yang merawat Kyungsoo juga appa. Jadi setiap tahun Kyungsoo menunggu hari ayah untuk memberikan hadiah untuk appa. Tapi sampai besar, aku sadar kalau hari ayah itu tidak ada. Aku jadi tidak pernah memberikan hadiah untuk appa. Maaf."
Kursi roda itu berhenti didepan ruang operasi. Disana, sudah ada Kai dan Kris yang duduk berseberangan.
"Ayah ingin kado apa? Kyungsoo janji akan membelikannya saat Kyungsoo sembuh nanti."
Grep!
Perasaan hangat tiba-tiba menyergap raga Kyungsoo yang sedikit kedinginan di tengah musim dingin. Perasaan yang sangat jarang ia dapatkan. Mungkin.
"Kau. Appa ingin kau sebagai kadonya. Janji sama appa kau akan tertawa lagi setelah keluar dari ruangan itu."
Kyungsoo bisa merasakan bahunya basah. Joonmyeon menangis dibelakang sana. Tanpa sadar, Kyungsoo juga mulai menangis. Ia menggigit bibir bawahnya yang bergetar hebat.
"Appa, Kyungsoo takut." Tangan Kecil Kyungsoo menggenggam pergelangan tangan Joonmyeon yang melingkar di lehernya. Tangan ayahnya itu telah basah karena air mata, tapi Kyungsoo tidak peduli.
"Maafkan appa. Aku ayah yang tidak berguna. Maaf. Harusnya aku bisa menyelamatkanmu. Aku menjadi dokter darah untuk menebus dosaku pada ibumu, untuk menyelamatkanmu di hari-hari berikutnya. Tapi, maafkan aku."
Joonmyeon menangis keras. Tak mempedulikan Kris atau Kai yang mungkin saja akan menatapinya dengan aneh. Tidak ada waktu untuk memikirkan image disaat orang kau sayangi mungkin saja tidak akan kau temui lagi. Mungkin.
"Kyungsoo-sshi silahkan masuk kedalam." Chanyeol keluar dari ruang operasi dengan pakaian bedahnya. Ia sedikit membungkuk melihat Joonmyeon yang entah sejak kapan telah melepaskan pelukannya dari Kyungsoo.
Joonmyeon beralih kedepan kursi roda. Menatap anaknya yang masih menangis sesegukan.
"Aku punya anak yang kuat dan selalu ceria! Kyungsoo anak yang kuat! Dia akan bertemu dengan orang-orang yang disayanginya lagi setelah ini. Benar kan?"
Kyungsoo menatap Joonmyeon, Kai, dan Kris bergantian. Walau dua dari ketiga orang itu bersikap seakan tak peduli, tapi Kyungsoo bisa melihat tubuh mereka yang bergetar. Bahkan Kris yang dikenalnya begitu tegar.
'Dia benar-benar menyayangiku rupanya.'
Kyungsoo mengangguk lemah.
Chup…
Sebuah kecupan hangat menyapa dahi Kyungsoo. Ayahnya.
"A-Appa menciumku?"
"Appa akan menunggu Kyungsoo. selama apapun."
Kyungsoo memeluk appanya dengan erat seakan tak mampu untuk melepaskannya.
"Aku juga akan menunggu. Maaf bersikap tidak enak padamu tadi."
Matanya kini menatap Kris yang entah sejak kapan ada di sampingnya.
"Terima kasih Saem."
Lalu pandangannya beralih pada namja yang masih duduk di tempatnya. Tapi kali ini ia tak menunduk lagi. Dia, seorang yang dicintainya. Tersenyum.
"Ayo masuk, Kyungsoo-sshi."
Chanyeol mengambil alih Joonmyeon mendorong kursi roda Kyungsoo masuk kedalam ruang operasi.
Ruangan itu terlihat menyeramkan. Gunting, pisau dan banyak benda yang sama sekali tak dimengertinya. Juga Baekhyun yang telah menutup matanya di sebuah kasur operasi.
"Berbaringlah disini." Kyungsoo tersadar begitu suara Chanyeol masuk kedalam telinganya. Ia berdiri dibantu oleh dokter muda itu. lalu berbaring di kasur yang tak jauh dari Baekhyun.
"Kau siap?" tanya Chanyeol lembut pada Kyungsoo.
"Kapanpun kau mau memulai."
Chanyeol tersenyum pada Kyungsoo. "Kupikir aku akan sama keras kepalanya denganmu setelah ini. Aku mencintai seseorang yang akan mendapatkan organ tubuh darimu. Apa itu baik?"
Kyungsoo membelalakan matanya mendengar bisikan Chanyeol yang seakan menggelitik seluruh tubuhnya. Tapi tak berapa lama, sebuah senyuman terpatri sempurna di wajahnya.
"Tidak ada yang salah dalam cinta."
"Appa, Kai, Kris, dan Luhan yang baru saja aku tabrak hari ini. Aku sangat senang bisa bertemu dengan kalian. Jika Tuhan tak mengijinkan kita bertemu lagi saat ini. Aku berdoa, semoga kita dipertemukan di kehidupan selanjutnya."
***KAISOO***
29
Kai Pov.
Ku genggam tangannya yang cantik. Terasa lebih hangat dari malam-malam sebelumnya. Syukurlah.
Wajahnya yang dulu pucat kini telah kembali bersinar sedikit demi sedikit.
Sudah 5 hari sejak operasinya dilaksanakan. Namja yang ada di hadapanku pun telah membuka mata 2 hari kemudian.
Baekhyun bangun dengan ringisan kesakitan saat itu. aku baru saja akan memanggil dokter tapi dia lebih dulu menangis keras. Ku pikir karena sakit pasca operasi. Tapi,
Dia menyebut nama Kyungsoo. rasa bersalah kembali muncul dalam benakku. Hampir saja aku menangis saat itu. tapi aku menahannya, karna ada Baekhyun dihadapanku. Aku tidak ingin memperlihatkan rasa sedihku padanya.
Tangan yang ada di genggamanku bergerak pelan. Aku tersenyum saat melihat kelopak matanya yang bergerak-gerak.
"K-Kai." Ucapnya pertama kali.
"Ya. Aku disini Baek."
"Aku malah heran kenapa kau masih disini."
"Kau mengusirku?"
Kuluhat Baekhyun menghela nafas kecil. Tangannya terangkat untuk mengusap surai hitam yang entah sejak kapan tidak kucuci.
"Kyungsoo-"
"Jangan bicarakan dia. Yang penting kau sehat dulu."
Baekhyun kembali terdiam. Matanya menatapku dengan tatapan kecewa.
"Jujur Kai, aku tidak tahu bagaimana cara berfikirmu. Kau mencintainya."
"Aku mencintaimu."
"Ya karna aku temanmu sejak kecil. Kau terperangkap dalam rasa kagummu padaku. sampai sekarang."
Kini giliranku untuk terdiam. Kulihat Baekhyun mencoba mendudukkan tubuhnya sambil terus menatapku yang kebingungan.
"Aku tahu, aku pernah egois untuk tetap menempatkanmu di sampingku. Tapi karna saat itu aku tidak melihat ada seorangpun yang dapat mengalihkan pandanganmu dariku. Tapi Kyungsoo berbeda."
"Hyung." Cicitku. Rasa bersalah kembali menyerangku. Owh Tuhan jangan buat aku mati hanya karena rasa menyesal.
"Kemarilah."
Aku sedikit bingung dengan ucapan Baekhyun. Tapi aku tetap mendekatinya. Dan dia menarikku dalam dekapannya yang hangat.
Aku merindukan ini. Pelukannya sebagai seorang kakak yang akan selalu melindungi adiknya. Pelukan yang sangat lama tak aku rasakan.
"Aku tidak ingin kau menyesal lebih dari ini. Kau masih punya kesempatan."
"Hyung maafkan aku. Hiks, maaf." Tanpa sadar, aku telah membasahi bajunya dengan air mataku. Bodoh.
Aku berteman dengan Baekhyun sejak umurku masih 8 tahun. Dia kakak kelasku. Orang yang menjadi panutan bagiku selama ini.
Aku kagum padanya. Suaranya sangat indah sampai menjuarai banyak perlombaan, dia juga pintar. Setiap semester tak ada satupun nilai rapornya yang 7.
Kami berteman sangat lama sampai akhirnya aku tak berani berpaling pada orang lain. Dia, dan hanya dia yang ada didalam kepalaku.
Memang aku sering mempermainkan perasaan banyak orang dengan kata-kata cinta. Tapi tak ada seorangpun yang bisa memenuhi otakku seperti Baekhyun. Tidak ada.
Lalu aku menikahinya. Karena kupikir aku mencintainya. Karna hanya ada dia dalam hidupku.
Aku relakan semuanya. Cita-citaku, masa mudaku, bahkan mungkin sedikit kebebasan hanya untuknya.
Tapi saat Kyungso muncul…
Kai Pov.
***KAISOO***
Author pov.
Joonmyeon masih duduk termenung di samping ranjang rumah sakit. Di atas tempat tidur itu, seorang namja manis berbaring dengan banyak selang di seluruh tubuhnya. Wajah yang biasanya ceria itu kini kehilangan cahayanya. Pucat pasi seakan tak ada darah yang mengalir disana.
Kyungsoo koma setelah operasi. Darahnya tak berhenti mengalir dari luka bekas operasi. Sementara disisi lain, ia juga mengidap blood disorders yang membuatnya tak bisa secara asal mendapatkan donor darah.
Mengingat hal itu hanya akan membuat Joonmyeon semakin merasa bersalah pada Yixing 20 tahun silam.
Ugh!
Ingin Joonmyeon menggeram saat ini juga. Jika saja dia tidak mengingat posisinya yang berada di rumah sakit. Selama beberapa hari ini, Joonmyeon memutuskan untuk cuti karna ingin terus menemani Kyungsoo yang entah kapan akan membuka mata.
Joonmyeon menggenggam tangan anaknya dengan lembut. Seakan menyalurkan tenaga dan rasa cintanya.
"Aku masih punya kesempatan kan?"
***KAISOO***
Lorong itu terlihat sangat sepi entah mengapa. Kai berjalan di lorong itu sembari menggenggam setangkai bunga poppy. Mungkin karena bentuknya yang tak secantik mawar, bau yang tak seharum jasmine, dan tak seunik anggrek, Kai berfikir bunga itu mirip dengan Kyungsoo.
"Kamar nomor 124!"
"Putra dokter Kim?"
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah belakang yang membuat Kai mau tak mau menoleh. Ia melihat segerombolan perawat juga dokter Park yang berlari kecil sembari membawa alat yang entah apa itu.
Tapi bukan itu yang paling membuat Kai tertarik. Tapi sebuah percakapan antar perawat yang menyebut-nyebut 'Putra Dokter Kim.'
Secepat mungkin, kedua kaki Kai melangkah atau berlari mendahului gerombolan dokter itu menuju kamar nomor 124.
Kai membuka pintu coklat itu dengan gusar. Yang dilihatnya pertama kali adalah Joonmyeon yang tengah memeriksa alat pendeteksi jantung dengan tenang.
"K-Kim u-usia." Panggil Kai.
Joonmyeon menoleh sekilas sambil tersenyum simpul.
"Kai-ah. Wae?"
"Kyung-"
Belum sempat Kai melanjutkan perkataannya, dokter park beserta perawat yang tadi masuk seenak jidat.
"Dokter Kim bagaimana?" tanya Chanyeol sembari mengecek seluruh tubuh Kyungsoo.
Kai hanya diam di ambang pintu dengan mata yang menatap orang-orang medis itu dengan tatapan datar.
"Kau lihat sendiri kan? Ada darah baru yang mengalir di kakinya." Jawab Joonmyeon dengan wajah yang tetap tenang. "Kai-ah, bisakah kau keluar sebentar?"
Tanpa meminta perintah kedua, Kai langsung keluar dari ruangan serba putih itu. kini kursi didepan ruang inap Kyungsoo tidaklah kosong. Kai duduk disana.
Lima belas menit Kai menunggu. Hingga akhirnya Chanyeol, Joonmyeon beserta perawat-perawat itu keluar dari kamar Kyungsoo.
Chanyeol tersenyum melihat Kai yang masih menunggu.
"Aku ingin bicara denganmu. Bisa kita ke ruanganku?"
Kai mengangguk kecil dengan perkataan Chanyeol. Ia mengikuti dokter tinggi itu menuju ruangannya yang tak jauh dari ruangan Joonmyeon. Ruangan yang mempertemukannya dengan Kyungsoo. Mungkin.
"Kau mau bicara apa?" tanya Kai yang terkesan tak sabaran. Ia telah duduk dihadapan Chanyeol sekarang.
"Eum, aku punya berita baik dan buruk untukmu. Mau mulai dari mana?" tawar Chanyeol.
Kai jengah jadi ia hanya menatap Chanyeol tanpa ekspresi.
"Kalaua kau memilih berita buruk terlebih dahulu, mungkin saja tidak akan ada berita baik."
"Kalau begitu mulai dari berita baik." Kai menjawab sambil menatap kearah lain. Entah kenapa, sejak pertama kali bertemu dengan dokter tinggi itu, perasaannya tak pernah tenang.
"Kyungsoo hamil," tak butuh sedetik bagi Kai untuk membulatkan matanya. Bahagia. Tentu saja. "Tapi dia sudah keguguran."
Jantungnya yang terpacu cepat beberapa saat lalu, kini mulai terasa sakit. Debarannya terlalu kuat hingga sakitnya menyebar kemana-mana. Bibirnya bergetar seiring detak jantung yang tak menentu. Seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tertahan di tenggorokan.
"Kondisinya setelah operasi semakin tak stabil. Itu menyebabkan tubuhnya tidak kuat menjadi tempat tumbuh makhluk lain. Belum lagi usia kandungannya yang masih beberapa minggu, tubuh Kyungsoo masih menganggap bayi itu benda asing."
Chanyeol menjeda perkataannya untuk melihat reaksi Kai lebih dalam.
Dia masih diam tak tahu ingin mengatakan apa. Tangannya telah mengepal kuat seakan ingin mengancurkan udara di sekitarnya.
"Dan juga pendarahan yang dialaminya karena keguguran ini, membuat persentase ehem… maaf kemungkinan hidupnya dari 20 persen menjadi 5 persen. Karena hal itu pula, Dokter Kim memutuskan untuk mencabut seluruh alat bantu dari tubuh Kyungsoo kecuali alat bantu oksigen."
"Apa maksudmu?" Chanyeol bisa melihat kemarahan dari kedua manik mata Kai. "Kau memang berniat membuatnya cepat mati huh?!"
"Ini permintaan ayahnya sendiri, Kai-sshi!"
"Tapi aku suaminya sekarang! Aku yang lebih berhak atas dia!"
Tanpa sadar Kai telah berdiri dengan emosi di ubun-ubun.
"Apa dengan sikapmu yang seperti itu, kau bisa disebut sebagai suaminya hah? Kau tidak bahu betapa menyakitkannya jika alat-alat itu menempel di tubuhnya. Bukan membantunya untuk tetap hidup malah membuatnya semakin kesakitan. Biarkan dia pergi. Lagi pula sudah cukup sakit hatinya karenamu."
"Apa yang kau tahu dari kami huh? Jangan ikut campur dalam kehidupan kami!"
"Kyungsoo adalah pasienku. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk membuatnya merasa nyaman. Dan kenyamanan itu, sudah pasti bukan darimu."
Tanpa berkata apapun lagi, Kai segera berbalik menuju pintu keluar. Yah, sebelum emosinya benar-benar di ujung tanduk dan akhirnya menghajar dokter itu.
"Aku hanya heran denganmu. Kenapa kau begitu peduli padanya? Bukankah dia hanya seseorang yang kau manfaatkan untuk istrimu yang 'sebenarnya'?"
Brak!
Pintu itu tertutup dengan kasar. Membuat bunyi debaman yang menggema ke pojok-pojok ruangan.
.
Joonmyeon menatap bunga di tangannya dengan senyuman miris. Ia masih ingat, itu bunga poppy yang dibawa Kai saat mengunjungi Kyungsoo beberapa saat yang lalu.
"Kau. Apa kau benar-benar menginginkan anakku untuk mati?"
***KAISOO***
30
Sore itu, Kai di sana. Menaiki sepeda sewaannya sendirian menyusuri jalan sepanjang sungai Han. Beberapa kali hembusan nafasnya terlihat berat. Terbukti dengan uap putih yang keluar dari hidung dan mulutnya kala bernafas.
2 jam sudah dia habiskan hanya untuk melihat-lihat putihnya salju serta langit yang sama putihnya. Kai sama sekali belum berniat untuk pergi dari sana, sampai ia melihat pria berjas putih yang entah sejak kapan juga menatapnya.
Kai menghentikan sepedanya sementara pria itu berjalan mendekat.
"Ada waktu?"
.
Kedua pria itu duduk terdiam menatap sungai besar didepan mereka. Beberapa kali keduanya bergerak-gerak seakan ingin memulai pembicaraan tapi akhirnya gagal karena sungkan.
"Aku tidak melihatmu beberapa akhir ini Kai-sshi. Kemana saja kau? Sepertinya Baekhyun mengkhawatirkanmu." Ucap Pria berjas putih itu.
"Menenangkan diri. Mungkin," jawab Kai tanpa menatap lawan bicaranya. "Kau sendiri kenapa ada di sini Chanyeol-sshi? Kau kehabisan pasien?"
Pria berjas putih yang ternyata Chanyeol itu terkikik pelan.
"Jam kerjaku sudah habis sejak sejam yang lalu. Tidak mungkin 'kan dokter bekerja seharian tanpa istirahat?"
"Yah mungkin kau workaholic atau semacamnya."
"Aku masih muda Kai-sshi, dunia luar masih terlalu sayang untuk dilewatkan."
Kai hanya mengangguk menanggapi Chanyeol.
"Baekhyun semakin sehat. Jika begini terus mungkin minggu depan dia boleh pulang." Ucap Chanyeol tiba-tiba. Tapi Kai tak menggubrisnya.
"Apa kau ingin tahu tentang Kyungsoo juga?"
"Tidak terima kasih."
"Sayang sekali. Padahal dia baru saja siuman pagi ini."
Kai masih tak menggubris Chanyeol. Namja itu terlalu sibuk dengan pikirannya sampai ia sadar arti perkataan Chanyeol itu.
"MWO?"
"Itu sebabnya aku menemuimu. Kau tidak mau menjenguknya?"
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kai langsung mengendarai sepedanya kembali ke penyewaan lalu berlari ke rumah sakit.
***KAISOO***
Brak!
Pintu bernomor 124 itu terbuka dengan kasar hingga membuat bunyi nyaring yang menggema di sudut ruangan. Kai ada di belakang pintu itu. menyetabilkan nafasnya sambil terus menatap objek manusia yang kini duduk diam di ranjang tempat tidur.
"Ahjusshi…"
Suara lembut itu menyapa gendang telinganya. Suara yang entah sejak kapan dirindukannya.
Tanpa mempedulikan orang lain di ruangan itu, Kai berjalan cepat mendekati ranjang Kyungsoo. Matanya berair begitu melihat sosok didepannya tengah menatapnya heran.
Beberapa saat kemudian, kedua tangan kokoh itu mendekap hangat tubuh Kyungsoo. memenjarakannya dalam pelukan hangat yang seakan abadi.
"Kau bangun. Aku tahu kau akan bangun." Bisik Kai di telinga Kyungsoo. tanpa sadar, air matanya berjatuhan dengan deras. Membuat pakaian Kyungsoo basah karenanya.
"Hehehe… iya. Owh! Ahjusshi, ada Baekhyun hyung disana." Ucap Kyungsoo yang tak kalah lirih sambil terus menggoyangkan bahu Kai.
Di depan sana, Baekhyun tengah duduk di kursi roda sambil tersenyum kecut melihat Kai yang tak melepaskan Kyungsoo sedikitpun. Dadanya bergemuruh cemburu, tapi kecemburuan itu terkalahkan oleh rasa sayangnya pada Kai. Juga Kyungsoo.
"Ya ya! Aku, dokter Park dan dokter Kim masih disini!" Teriak Baekhyun tiba-tiba yang membuat Kai akhirnya melepaskan pelukannya dari Kyungsoo. namja berkulit tan itu menatap ketiga orang dihadapannya dengan canggung.
"Jangan terlalu keras memeluknya. Bekas operasinya belum kering sepenuhnya lho." Peringat Chanyeol sambil tersenyum simpul. Entah sejak kapan pria itu sudah berada di ruangan Kyungsoo.
"Ahjusshi kaget ya? Hohoho! Aku tidak selemah itu kok!"
Kai tersenyum melihat Kyungsoo yang ceria seperti biasanya.
Kyungsoo yang dicintainya secara diam-diam.
.
Sudah pukul 9 malam. Joonmyeon pulang kerumahnya untuk istirahat, Baekhyun kembali ke kamarnya diantar Chanyeol yang setelah itu melanjutkan tugas mengecek pasien.
Di kamar 124, hanya ada Kai dan Kyungsoo yang tenggelam dalam keheningan. Seorang yang lebih tua tengah berusaha mengupas apel ditangannya dengan susah payah. Berkali-kali pisau yang digunakannya meleset.
"Sudahlah ahjusshi. Aku bisa makan dengan kulitnya kok." Ucap Kyungsoo sambil berusaha menghentikan Kai yang tetap terhanyut pada pekerjaannya.
"Tidak. Kulit apel itu sedikit pahit. Kau mau rasa pahitnya merusak rasa nikmat apelnya?"
"Kalau begitu aku saja yang kupas. Sekalian untukmu juga."
Begitu Kyungsoo menyelesaikan perkataannya, Kai langsung melempar deathglare padanya. Membuat Kyungsoo sama sekali tak punya nyali untuk melawan lagi. Jadi dia hanya memandang khawatir Kai yang mulai mengupas apelnya lagi.
"Hati-hati,"
"Iya aku tahu. Kau ini cer- AW!"
Pisau tajam itu tergelak di lantai dengan beberapa tetes cairan merah di ujungnya.
Kai meringis kesakitan sambil terus mengibas-ngibaskan jarinya. Entah untuk apa.
"Kemarikan tanganmu! Aduh merepotkan saja!"
Kyungsoo meraih jari telunjuk Kai yang tergores pisau. Tak terlalu dalam hanya saja cukup panjang.
"Kau tidak mengidahkanku sih." Celoteh Kyungsoo sebelum menghisap luka Kai dengan mulutnya.
Namja berkulit gelap itu melebarkan matanya dengan perlakuan Kyungsoo. Ia menatap Kyungsoo dalam. Diam-diam menikmati wajah ayunya yang sudah lama tak terlihat itu.
"Ahjushhi," Panggil Kyungsoo serasa melepaskan hisapan bibirnya dari luka Kai. Kini namja bermata bulat itu menatap ragu sosok didepannya.
"Kenapa? Jangan sepotong-sepotong jika bertanya."
"Kenapa kau masih disini? Maksudku, kita sudah…"
"Perjanjian kita 'kan satu bulan."
"Tapi…"
"Kau tidak suka?"
Kyungsoo menutup rapat bibirnya. Takut dengan tatapan dan perkataan Kai yang seakan memaksanya untuk diam dan mengikuti arus yang di buat namja didepannya itu. Lagi pula apa yang bisa dijawab Kyungsoo dengan pertanyaan retoris seperti itu.
Keadaan menjadi hening. Kyungsoo hanya menundukkan wajahnya. Menghindari tatapan Kai yang masih saja menatapnya.
"Sepertinya kau lelah. Kau mau tidur?" Kyungsoo menggeleng kecil dengan pertanyaan Kai. Matanya sudah terlalu lelah tertutup selama seminggu lebih. Dan pria di depannya itu menyuruhnya tidur?
"Kalau begitu ceritakan apa yang terjadi saat aku koma."
"Tidak ada apa-apa."
"Kalau begitu katakan dimana Kris."
"Aku tidak tahu. Untuk apa menanyakannya?"
"Aku merindukannya."
Kai berdecih pelan. Benci rasanya mendengar alasan Kyungsoo itu.
"Apa aku harus menelponnya?"
"AH! Tidak perlu. Dia pasti sedang sibuk. Biasanya jam segini dia mengoreksi PR muridnya, atau mempersiapkan materi untuk besok atau juga…"
"Aku kaget."
Kalimat Kyungsoo terpotong dengan selaan Kai yang ambigu. Ia menatap Kai heran karena namja itu seakan meremehkan ucapannya.
"Kau seperti sangat mengenalnya. Aku ragu apa kau juga mengenalku sebanyak kau mengenalnya."
Kai bangkit dari duduknya lalu mendorong bahu Kyungsoo perlahan ketempat tidur. Tangannya mengangkat selimut Kyungsoo hingga sebatas dada. Berusaha membuat istrinya itu merasa lebih hangat.
"Kau harus banyak istirahat. Aku akan kembali besok." Ucap Kai sembari mengambil jaketnya yang tergeletak di sofa. Ia hampir menyentuh Knop pintu saat Kyungsoo bertanya akan kemana dia.
"Ruangan Baekhyun."
Lalu pintu putih itu tertutup dengan menimbulkan sedikit debaman. Mata Kyungsoo belum sepenuhnya teralih dari benda persegi panjang itu. Ia mengerjap pelan untuk menahan air mata yang bisa tumpah kapan saja.
Bingung masih menyelimuti pikirannya dengan sikap Kai malam ini. Namja itu sedikit aneh dengan seakan menunjukkan rasa cemburunya, tapi pada akhirnya dia tetap meninggalkan Kyungsoo untuk Baekhyun. Harapan palsu.
***KAISOO***
31
Pagi-pagi sekali ruangan itu telah terisi dengan percakapan serius. Seorang yang lebih muda terus menerus menjelaskan hal yang membuat pria paruh baya didepannya mendesah bingung.
Udara dingin disekitar mereka kini malah terasa panas dengan emosi diri yang tinggi. Joonmyeon menduduki sofa di ruangannya itu sambil terus berfikir. Matanya tak fokus menatap kertas ditangannya juga Dokter Park yang dengan sabar menungguinya.
"Ini agak aneh." Ucap Joonmyeon.
"Sehari sebelum putra anda siuman, keadannya mencapai keadaan terburuk. Mungkin ini keajaiban Tuhan. Anda harus mensyukurinya Dokter Kim."
"Aku tahu." Joonmyeon menjawab dengan tenang. Tapi hatinya berkata lain. Rasa tidak tenang mengelilinginya seperti oksigen.
Perlahan, Joonmyeon sadar untuk tidak berharap lebih jauh.
.
Kai mendorong kursi roda Baekhyun menyusuri lorong menuju kamar 124. Namja di atas kursi roda itu terus saja berceloteh tentang rasa khawatir, dan bersalahnya pada Kyungsoo. Tapi Kai hanya diam sebagai pendengar yang baik.
"Kau tidak menanggapiku?" tanya Baekhyun penuh selidik. Ia menolehkan kepalanya untuk menatap Kai di belakang.
"Aku jadi pendengar yang baik, kok."
"Huh, aku jadi merasa bicara dengan patung."
Mata Baekhyun berbinar senang melihat pintu coklat di depannya. Saat Kai membuka pintu itu, Baekhyun dengan semangat menggerakkan kursi rodanya sendiri kedalam ruangan inap Kyungsoo.
Tapi raut wajahnya berubah heran saat melihat namja manis yang seharusnya tidur cantik itu malah sudah rapi dengan kemeja dan celana jinsnya. Namja itu sepertinya belum menyadari kehadiran kedua orang itu hingga tetap sibuk dengan bunga-bunga yang ada di vas bunga. Sesekali tangannya merapikan benda warna-warni itu hingga terlihat bagus, menurutnya.
"Kau mau kemana?" tanya Baekhyun yang mengejutkan Kyungsoo. Ia langsung terdiam melihat dua orang namja yang melihat heran kearahnya.
"E-Eh, Baekhyun hyung. Kapan datang?"
"Harusnya aku yang tanya, kau mau kemana?" tanya Baekhyun balik.
Tapi yang didapatkan Baekhyun adalah sebuah cengiran lucu.
"Aku tidak suka rumah sakit. Walaupun ayahku bekerja disini, dan aku sering kesini, tetap saja obat-obat itu membuat hidungku sakit. Lagi pula aku sudah cukup sembuh. Makanya aku membujuk appa untuk jalan-jalan sebentar, lalu-"
"Cerewet."
Kyungsoo menutup bibirnya cepat. Matanya menatap tajam Kai yang menatap kearah lain tanpa dosa.
"Memang kenapa? Cerewet itu kelebihan. Tidak banyak orang yang bisa bicara panjang lebar sepertiku. Coba kau bayangkan kau tinggal berdua dengan orang yang hanya bisa mengucapkan 'ya' dan 'tidak' itu akan sangat membosankan. Bla bla bla…."
Baekhyun hanya tersenyum sambil menatap Kyungsoo seakan menikmati 'dongengnya'. Sementara Kai mendengus kesal dengan suara Kyungsoo yang menyamai burung parkit baginya. Tapi tidak ada yang bisa menghentikannya untuk menyunggingkan senyum kecil.
"Kalian disini?" Ketiga namja itu langsung mengalihkan pandangannya ke pintu masuk. Joonmyeon dan Kris berdiri disana dan menatap mereka dengan sedikit terkejut.
"Kris Seongsaengnim," Panggil Kyungsoo senang. Ia berlari kecil kearah namja bersurai pirang itu lalu memeluknya posesif. "Aku merindukanmu."
"Aku tidak."
"Kau tidak merindukanku? Jahat sekali."
"Maksudku, Aku tidak pernah merasa segila ini hanya untuk memikirkan seseorang sepertimu. Miss you too, baby."
Wajah Kyungsoo berubah merah padam. Bibirnya terkatup rapat seakan tak mampu untuk berkata-kata lagi. Walau memang begitulah kenyataannya.
Sejak pertama kali Kyungsoo membuka mata setelah operasi, Kris sama sekali tidak menampakkan tubuhnya. Entah kemana saja namja itu sampai-sampai Kyungsoo hampir gila memikirkannya. Belum lagi saat ia mengingat hubungannya dengan Kris sempat tidak baik beberapa saat sebelum Kyungsoo akhirnya koma. Walau beberapa kali ia berusaha melupakan namja itu. tetap saja Kris mengganggu pikirannya.
"Ya ya! Kenapa kalian bermesraan begini? Kyungsoo-ya, suamimu ada disini. Kenapa kau bermesraan dengan pria lain?" Ucap Baekhyun tiba-tiba.
Perkataan sepontan itu cukup atau mungkin sangat membuat orang-orang di ruangan itu terkejut sampai berdiri membatu. Mata mereka membulat menatap objek mungil di samping Kai itu.
"B-Baekhyun hyung kau ini bicara apa?" Kyungsoo segera melepaskan pelukannya dari Kris.
"Wae? Kau bingung kenapa aku bisa tahu? Aku tidak bodoh. Ah sudahlah lupakan saja."
Ruangan itu sunyi lagi. Tidak ada yang tahu apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya.
Kyungsoo memainkan kakinya di lantai sambil sesekali melihat orang-orang diruangan yang kini tengah duduk tenang.
"Sudah jam 8. Kita jadi pergi?" tanya Joonmyeon pada akhirnya.
Kyungsoo mengangguk kecil lalu berdiri dari duduknya.
"Kris Seongsaengnim aku tunggu di sekolah jam 1 siang. Oke?"
*KAISOO*
Matahari bersembunyi dibalik awan seperti hari biasanya di musim dingin. Walau begitu, angin tak terlalu kencang berhembus, salju pun sepertinya enggan turun. Membuat orang-orang tak punya alasan untuk membolos pada kegiatan rutin mereka.
Mobil hitam itu berjalan perlahan melewati jalan di tengah pemakaman. Disana-sini hanyalah terlihat bukit dengan hamparan makam-makam hitam yang tertutup salju. Deru mobil 'pun sepertinya menjadi satu-satunya suara di tempat luas itu sekarang.
Kendaraan roda empat itu berhenti di bawah salah satu pohon.
Kyungsoo turun lebih dulu dari ayahnya. Ia menatap pemandangan disekitarnya dengan sendu. Seberapa banyak orang yang beristirahat dengan tenang. Seberapa banyak juga orang yang terkubur dalam kesengsaraan di dalam sana.
Tanpa menunggu Joonmyeon sang ayah, Kyungsoo membawa keranjang anyaman bambu di tangannya lalu berjalan menapaki salju-salju yang sepertinya sudah lama tidak dikeruk. Dan sesekali lagi, mata bulatnya membaca tulisan di batu-batu nisan yang dilewatinya. Ada beberapa nisan yang bunganya sudah diganti. Ada pula yang terlihat tidak terawat.
Kyungsoo berhenti di depan sebuah batu nisan bertuliskan Zhang Yi Xing, yang mungkin seharusnya adalah Kim Yi Xing. Bintik hitam di mata Kyungsoo menatap Joonmyeon yang tengah berjalan kearahnya. Menyadari tatapan mata Kyungsoo yang tajam, Joonmyeon sontak memperlambat langkahnya.
Ini pertama Kyungsoo datang ke makam Yixing. Setelah sekian tahun dia hidup karena ibu yang melahirkannya. Baru kali ini ia merasa sangat dekat dengan ibu.
Kyungsoo mensejajarkan tubuhnya dengan nisan Yixing, ia menumpu tubuh pada lututnya.
Tangan pucat Kyungsoo mulai mengeluarkan satu persatu barang dari keranjangnya. Ia meletakkan sebuket bunga gerbera di bawah namanya ibunya. Sebuah apel dan sebuah jeruk juga ia letakkan di kanan kiri nisan.
Kyungsoo mulai berdoa dalam diam. Matanya terpejam, kedua tangannya saling bertaut. Joonmyeon sampai di depan makam istrinya saat Kyungsoo hampir selesai berdoa. Ia menatap batu nisan putih itu dengan tatapan penuh penyesalan.
"Aku ingin batu nisan ini diganti. Ganti Zhang nya dengan Kim. Bisa kan?"
Joonmyeon terdiam sejenak untuk memikirkan permintaan anaknya. Sudah sangat lama ia membiarkan batu nisan itu dan tak sama sekali berfikir untuk mengganti nama marga 'istrinya'.
"Iya." Jawab Joonmyeon pada akhirnya.
Angin dingin berhembus menerpa tubuh kedua namja yang masih duduk terdiam didepan nisan putih itu. Beberapa salju yang menyangkut di pohon-pohon kini berguguran menimpa keduanya.
"Apa Appa mencintai eomma sekarang?" Tanya Kyungsoo dengan nada datarnya. Ia masih menatap nisan ibunya. "Kasihan sekali eomma jika sampai sekarang pun orang yang dicintainya seumur hidup, tidak membalas perasaannya."
"Appa…"
"Aku merasa seperti di posisi eomma sekarang. Aku bisa merasakan sakitnya. Disini sakit sekali." Kyungsoo meremas baju di bagian dada kirinya hinga kusut.
Joonmyeon terdiam dengan pernyataan Kyungsoo. Mungkinkah ini kesalahannya? Mungkinkah karena kesalahannya dimasa lalu, Kyungsoo harus menanggung akibatnya? Ini karma.
Joonmyeon kini hanya bisa menyesal memperlakukan istrinya dengan buruk. Saat dia hidup, Joonmyeon tak memperhatikannya. Dan saat dia telah meninggal, bayi yang dititipkannya malah mendapatkan hal yang sama. Salahkan sikap Joonmyeon yang egois dan dingin. Sampai-sampai mungkin saat Kyungsoo kecil pun dia tak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya dia terima.
"Mungkin aku memang tidak bisa berharap jauh dengan Jongin ahjusshi. Tapi aku tetap tidak bisa berhenti mencintainya sampai sesak rasanya. Aku bahkan melakukan hal yang sangat bodoh! Berapa orang yang aku lukai? Kenapa denganku?"
Kini Joonmyeon sadar, bahwa Kyungsoo bukan bicara padanya. Melainkan dengan batu nisan istrinya dengan emosi yang meluap-luap.
"Kyungsoo sudahlah."
"hiks… appa, jeongmal saranghae." Joonmyeonie saranghae…
*KAISOO*
Baekhyun hanya membaca buku sambil menunggu Dokter Park datang untuk mengecek kondisinya. Terhitung setengah jam sejah ia menunggu tapi dokter muda itu tak kunjung muncul juga. Menurut salah satu perawat, dia tengah mengoperasi salah satu pasiennya yang drop mendadak.
"Jadi dokter itu susah juga ya."
Cklek…
Pintu putih disebelahnya terbuka. Baekhyun menoleh kearah pintu itu dan mendapati Chanyeol yang melepaskan maskernya.
"Annyeonghaseo Uisa-nim."
"Ah, Annyeonghaseo Baekhyun-sshi. Kau mau cek kesehatanmu?"
Baekhyun mengangguk. Chanyeol lalu buru-buru membuka laci mejanya untuk mencari laporan kesehatan Baekhyun yang diterimanya pagi tadi tapi ia tidak menemukan kertas itu disana. Ia berpindah ke atas meja yang berantakan tapi tetap juga tak menemukannya.
"Anda mencari ini?" tanya Baekhyun sambil menyodorkan sebuah map bertuliskan Byun Baekhyun di bagian luarnya.
"Iya, terima kasih Baekhyun-sshi." Chanyeol mengambil map itu dari tangan Baekhyun lalu duduk masih di kursinya. Namja itu membaca tulisan-tulisan yang tertera di beberapa kertas. Entahlah, Baekhyun bahkan ragu itu adalah laporan kesehatannya.
"Jadi…"
"Kondisimu semakin baik. Kita bisa lakukan kemoterapi dalam waktu dekat."
Baekhyun mengangguk mengerti. Tapi pertanyaan di otaknya masih belum terjawabkan. Jadi dia memutuskan untuk bertanya.
"Sampai kapan sumsum tulang belakang ini akan baik-baik saja? Suatu saat dia akan rusak juga kan?"
Chanyeol terlihat terdiam sesaat. Matanya berputar gusar seperti tengah menentukan kata yang tepat.
"Aku tidak tahu. Tapi dengan kau yang selalu merasa senang, itu akan sangat efektif untuk membentuk kekebalan tubuhmu. Dengan begitu kau tidak akan cepat jatuh sakit lagi."
"Jika aku tidak senang?"
"Kau akan mudah drop. Dan yah kau tahu 'kan, Seseorang yang bersedih itu pikirannya kacau dan sesekali akan berfikir kematian adalah yang terbaik. Jadi jagalah rasa senangmu."
"Kalau situasi di sekitarku tidak membuatku senang?"
"Tinggalkan saja."
"Jika suamiku sendiri yang membuatku ingin mati?"
"Tinggalkan saja. Mungkin kau membutuhkan seseorang yang baik darinya."
Baekhyun terdiam.
"Mungkin kau bisa mencoba bersamaku?"
*KAISOO*
Kyungsoo berlari-lari riang di atap sekolah yang luas itu. Sesekali melempari Kris dengan bola salju kecil yang menumpuk di atas lantai semen. Sudah setengah jam mereka disana. Melakukan hal random yang menurut mereka menyenangkan.
Joonmyeon telah kembali kerumah sakit. Banyak pasien yang menunggunya.
"Hei-hei jangan berlari-lari seperti itu!" Teriak Kris yang dianggap angin lalu bagi Kyungsoo. Namja itu terus berlari seperti melupakan faksa bahwa salju itu licin.
Bruk!
"Kyungsoo!"
Kyungsoo jatuh terbaring diatas salju dan tidak juga segera bangkit. Membuat Kris berlari kearahnya karena khawatir setengah mati.
"Gwenchana?"
"Gwenchana…" desahaan lega keluar dari mulut Kris saat melihat Kyungsoo yang malah menikmati titik-titik putih di langit. Ia bisa melihat Kyungsoo tersenyum senang saat salju kecil itu mentuh hidungnya.
"Jangan bersikap seperti anak kecil begitu. Kau sudah besar!"
"Kalau kau tahu aku sudah besar, coba tebak berapa umurku."
Kris sedikit berfikir dengan pertanyaan Kyungsoo. jujur saja dia tidak tahu menahu tentang hari ulang tahun namja manis itu.
"Dingdong! Umurku 20 tahun. Baru kemarin."
"Eeeh? Benarkah? Kenapa kau tidak bilang? Aku belum menyiapkan kado untukmu!"
Sreet…
Brug…
Mata keduanya bertemu. Menciptakan ribuan kupu-kupu yang berterbangan dari perut mereka.
Kyungsoo hanya menarik syal merah Kris hingga kini tubuh pria yang lebih tua telah memenjarakannya di atas lantai. Kyungsoo sengaja. Ia ingin melihat reaksi terkejut Kris. Dan dia mendapatkannya. Tapi tidak lama kemudian, pria tinggi itulah yang membuatnya membelalakkan mata.
Ciuman…. Hangat…
Kris menciumnya dengan penuh perasaan. Sampai-sampai Kyungsoo sama sekali tidak bisa menolak perlakuan lembut itu. Ia pernah mengalami ini, bersama Kai 6 tahun yang lalu. Tapi saat itu mereka hanyalah seorang guru dan murid yang tidak saling mengenal. Dan sekarang, dihadapannya…
Kris melepaskan ciumannya. Mata tajamnya kini menatap dalam Kyungsoo yang menatapnya sendu.
"Maaf," Ucap Kris singkat.
"Tidak apa-apa."
Kyungsoo mendorong dada Kris perlahan. Membuat pria tinggi itu sadar bahwa dirinya membuat Kyungsoo merasa tidak nyaman. Ia mengangkat tubuhnya menjauhi tubuh Kyungsoo lalu duduk di atas lantai atap yang dingin.
"Maaf," Ucap Kris sekali lagi.
"Aku bilang tidak apa-apa. Lagi pula aku juga yang salah. Maafkan aku."
Matahari semakin condong kebarat. Tapi mereka tak juga kunjung memulai pembicaraannya lagi. Kyungsoo terlalu sibuk bermain tulis menulis salju sementara Kris diam memperhatikan.
"Kau mau pulang?" Tanya Kris. Angin mulai kencang salju juga mulai lebat turun.
"Nanti saja."
"Udaranya semakin dingin. Kau bisa sakit lagi."
Kyungsoo membiarkan saja perkataan Kris terbawa angin. Ia tetap bermain salju seperti anak kecil.
"Kyungsoo!"
"Iya-iya aku dengar!"
Kyungsoo berdiri dari duduknya. Mengikuti Kris yang rupanya sudah berdiri di depan pintu keluar. Ia sedikit tergesa melihat wajah Kris yang mulai menyeramkan.
Sebelum tangannya bergerak menutup pintu itu, Kyungsoo masih sempat untuk menatap kesekeliling sekali lagi. Mencoba menyimpan ingatan tentang tempat itu dalam-dalam. Senyumnya mengembang. Mungkin ia akan sangat merindukan tempat ini.
Motor sport itu melaju meninggalkan kawasan sekolah yang sangat sepi. Tentu saja karena sekarang sedang liburan musim dingin sehingga sangat sedikit orang yang datang ke tempat itu.
"Aku mau pulang kerumah." Ucap Kyungsoo setengah berteriak.
"Rumah yang mana?" balas Kris. Ah! Kyungsoo kira pria itu tidak mendengarnya.
"Kai."
"Arraseo."
Rumah besar itu terlihat sepi. Mungkin Kai belum pulang. Atau mungkin tidak akan pulang?
"Terima kasih," ucap Kyungsoo sambil menyerahkan helmnya.
Kris menerima helm itu sambil mengangguk kecil. Sesaat kemudian, ia menatap rumah besar Kai dengan ragu.
"Apa aku perlu menemanimu? Sepertinya Kai tidak pulang malam ini." Tawar Kris.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri kok. Kalau ada apa-apa aku akan telfon."
Kris mengangguk ragu. Ia menghidupkan mesin motornya. Bersiap pergi.
"Kris saem."
Kris kembali menatap Kyungsoo yang terlihat ragu. Tapi selanjutnya saat namja itu membuang nafas, keraguan itu hilang.
"Kau orang yang sangat baik. Aku menyukainya."
Kris mengatupkan kembali bibirnya yang siap meluncurkan kata. Ia menatap Kyungsoo yang bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
"Maksudku menyukai semua tentangmu tapi,"
"Kau menolakku?"
"Tidak, aku. Maksudku, mungkin iya."
Kyungsoo menundukkan wajahnya dalam. Tak berani menatap wajah Kris yang mungkin kecewa padanya.
Suara motor itu akhirnya menghilang. Kyungsoo sontak mendongakkan kepalanya dan mendapati Kris yang berdiri tegap di hadapannya. Pria berambut pirang bak tokoh manga itu tersenyum getir. Menyembunyikan banyak rasa sakitnya sendiri walau Kyungsoo bisa melihatnya.
Kedua tangan kekar nan panjang itu menariknya kedalam sebuah pelukan hangat. Kyungsoo dapat menghirup wangi tubuh Kris yang begitu menenangkan. Lalu ia memejamkan matanya dan berusaha menikmati detik detik itu.
"Aku mengerti. Aku akan menyerah mulai sekarang."
Mendengarnya, Kyungsoo langsung membalas pelukan Kris. Rasa bersalah menyelimutinya.
"Kau pasti bisa mendapatkan yang lebih baik dariku."
Kyungsoo melepaskan pelukannya lalu menatap Kris dalam.
"Tentu,"
Kris tersenyum sambil mengacak rambut Kyungsoo dengan gemas.
"Kalau begitu aku masuk ya?"
Kris mengangguk. Ia tetap tersenyum sampai Kyungsoo menghilang di balik pintu.
Salju turun dengan deras hingga mengotori rambut dan jaketnya. Perlahan, senyuman di bibirnya menghilang. Setetes air mata mengalir dari mata kirinya lalu setetes lagi menyusul dari mata kanannya.
Kris menangis dalam diam.
Tangan bergetarnya bergerak menutup pintu coklat tua itu. Kyungsoo bisa merasakan sakitnya perasaan Kris sekarang. Karena dia juga mengalaminya.
Kyungsoo tidak tahu kenapa tubuh, otak dan hatinya tidak pernah berpihak pada Kris yang jelas-jelas mengharapkannya. Kenapa mereka semua malah berharap banyak pada seseorang yang menyakiti mereka? Jika Kyungsoo menerima Kris sejak awal, mungkin saja hidupnya akan berakhir dengan bahagia tanpa kesakitan lagi.
"Ugh…" Tubuh Kyungsoo merosot jatuh ke lantai. Ia merasa nafasnya mulai terputus, dan pandangan matanya berkunang-kunang. Rasa sakit menjalar dari punggungnya entah sejak kapan. Tapi Kyungsoo berusaha menghiraukannya.
"Kyungsoo?" Kepala Kyungsoo mendongak begitu mendengar suara yang begitu dikenalinya. Kai berjalan cepat atau mungkin bisa dibilang berlari mendekatinya.
"Kau tidak apa-apa?" Kai berusaha membantu Kyungsoo berdiri.
"Gwenchana. Aku hanya kelelahan. Kenapa kau disini?" Tanya Kyungsoo saat Kai mendudukkannya di sofa. Pria didepannya itu terlihat sangat khawatir. Terbukti dengan matanya yang bergerak gelisah menatap wajah Kyungsoo yang pucat.
"Baekhyun menyuruhku pulang untuk istirahat. Kau sendiri kenapa bisa kelelahan begini? Kau baru sembuh!"
Kyungsoo tersenyum kecil mendengar perkataan Kai yang kasar namun terdengar manis di telinganya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya dengan perlakuan Kai yang begitu peduli.
"Kau mau teh?" Tanya Kai pada Kyungsoo.
"Boleh. Bagaimana kalau kita buat bersama? Sepertinya menyenangkan."
"Tidak kau disini saja. Sepertinya kau kurang baik."
"Aku baik-baik saja. Ayo ke dapur."
Kyungsoo bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Kai hingga ke dapur. Kai hanya pasrah dengan tarikan tangan Kyungsoo yang menuntut walau terkesan lemas itu. Ia tahu Kyungsoo menyembunyikan rasa sakitnya sekarang. Tapi Kai saat dihadapan Kyungsoo bukanlah Kai yang ada di hadapan Baekhyun. Saat bersama Baekhyun dia adalah seseorang yang sangat peduli dan tak segan mengungkapkan kecemasannya. Tapi didepan Kyungsoo, ia merasa seperti seorang anak remaja yang hanya bisa menyimpan semua perasaannya dalam diam.
Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sesekali terdengar percakapan ringan yang diakhiri dengan tawa kecil lalu hilang beberapa saat kemudian. Digantikan dengan sunyi yang serasa membekukan waktu.
Kyungsoo merasa sedih dengan suasana seperti ini. Pada dasarnya Kyungsoo memang suka ketenangan. Tapi ketenangan kali ini membuat Kyungsoo takut. Detak jantungnya berpacu cepat dan dia takut Kai mendengarnya.
"Ayo minum ini di teras belakang."
"Diluar turun salju, Kyung."
"Tidak apa-apa."
Untuk sekali lagi Kai mengikuti permintaan Kyungsoo dengan berat hati. Ia mengikuti Kyungsoo yang membawa nampa berisi teh ke halaman belakang.
Kyungsoo meletakkan nampan itu di meja. Lalu duduk di salah satu kursi di samping meja itu. Ia menghela nafas pendek hingga membuat beberapa uap muncul keluar dari hidungnya.
"Dingin sekali." Ucap Kyungsoo
"Makanya minumnya didalam saja."
"Tidak-tidak aku hanya bercanda."
Kyungsoo terkekeh hingga menunjukkan gigi-gigi putihnya. Ia lalu menatap hamparan taman belakang yang tertutupi salju tebal.
"Kau baru dari mana?"
"Sedikit berjalan-jalan dengan Kris seongsaengnim."
"Oh begitu. Ngomong-ngomong aku baru sadar kenapa kau memanggil Kris dengan embel-embel seongsaengnim? Dia kan belum lama jadi guru SMA dan mengingat umurmu yang belum genap 20 tahun sepertinya tidak mungkin kau diajar olehnya."
"Entahlah dia cuma seseorang yang kebetulan lewat, dulu. Hehehe… dan sebenarnya aku sudah 20 tahun."
Kai menatap Kyungsoo tak percaya. Pertama kali mereka bertemu 'kan bocah itu masih 19 tahun tapi sekarang tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya sudah 20 tahun. Berarti Kai melewatkan hari ulang tahunnya 'kan?
"Kapan kau ulang tahun?"
"Sekarang tanggal 13 Januari kan? Berarti kemarin."
Kai yang melihat Kyungsoo bicara tanpa dosa itu malah jadi sedikit marah. Entah ini salahnya yang tidak pernah peduli atau salah Kyungsoo yang tidak mau bilang hari ulang tahunnya. Kemarin dia sudah siuman dan seharusnya mereka bisa merayakan hari istimewa itu dengan tiup lilin sambil bernyanyi di dalam kamar inap Kyungsoo.
"Dan kau tahu lagi hari apa ini?" Kai bisa menangkap pancaran kebahagiaan dari mata Kyungsoo. Apa? Apa ini ulang tahun Kris? Apa ini ulang tahun Dokter Kim? Atau ini malah ulang tahun Kai sendiri? Tidak-tidak ulang tahunnya jelas-jelas tanggal 14 Januari. Tepat besok.
"Apa?" Tanya Kai penasaran sekaligus ketakutan. Rasanya sedikit takut mendengar jawaban Kyungsoo setelah ini. Mungkin saja otaknya yang jarang sekali memikirkan hal kecil itu melupakan sesuatu yang sebenarnya penting hari ini.
"Happy Anniversary! Yey~ tepat sebulan kita menikah Kai Ahjushi!"
Kyungsoo tertawa lebar sambil menepukkan tangannya antusias. Tidak ada sedikitpun coretan kesedihan di wajahnya. Padahal Kai tahu persis, hari ini mungkin hari yang tidak pernah ia –atau mereka- tunggu. Terhitung satu bulan sejak mereka mengingat janji suci secara sederhana di gereja itu. Dan selama satu bulan, orang yang selalu dianggapnya anak kecil itu telah merubah pandangannya 180 derajat. Bukankah ini hal yang sangat hebat? Kai yang bodoh dan keras kepala bisa diubah dengan begitu gampangnya oleh Kyungsoo. Walau dia tidak tahu seberapa sulitnya Kyungsoo menghadapi 31 hari itu.
Kai tak bisa berkata-kata. Ia hanya menatap Kyungsoo dengan pandangan tak bisa diartikan. Tentu saja tatapan itu membuat Kyungsoo risih dan pada akhirnya namja manis itu berhenti bersorak-sorak seperti orang orang gila.
"Wae?"
"Apa kamu senang?"
Pertanyaan Kai yang tajam itu membuat Kyungsoo kebingungan. Walau pria didepannya itu sama sekali tidak terlihat marah, tapi berbicara dengan nada rendah dan lirih itu cukup membuat Kyungsoo tahu Kai sedang kesal.
Tatapan mata Kai yang menatap lurus ke arah matanya membuat Kyungsoo semakin tidak mengerti. Tiba-tiba udara di sekitar mereka terasa panas walau jelas sekarang musim dingin. Nafas Kyungsoo tercekat saat menyadari Kai sudah mencondongkan tubuhnya melewati meja dan kini sangat dekat dengan wajahnya.
Kebingungan Kyungsoo malah terjawab dengan sebuah ciuman hangat. Ia bahkan tidak ingat kapan Kai mulai mempertemukan kedua belah bibir mereka. Yang ia lihat sekarang adalah Kai yang memejamkan mata sambil menarik tengkuknya. Bibir Kai mengecap seluruh rasa dari bibirnya. Seperti candu, Kyungsoo mulai terlena dan akhirnya menutup mata untuk menikmati ciuman hangat yang berubah panas itu.
Terhitung 30 detik mereka berciuman sampai akhirnya Kai melepaskan ciuman itu sepihak. Ia kembali menatap Kyungsoo dengan tatapan lurus seperti sebelumnya.
"Apa kamu senang sekarang? Harusnya ciuman seperti itu yang membuatmu senang bukan hari perpisahan seperti hari ini. Apa kamu tidak tahu betapa terlihat jahatnya kau saat bersenang-senang di hari yang sebenarnya menyedihkan?"
"Aku tidak menganggap hari ini menyedihkan! Semua orang di dunia ini pasti senang dengan hari anniversary mereka. Kau ini kenapa?!"
Kai menyadari bahwa nada bicara Kyungsoo mulai naik. Ia kini melihat bahwa Kyungsoo kesal dan ingin meluapkan semua padanya. Begitu pula dengannya sendiri. Dia juga ikut marah melihat Kyungsoo marah. Ini bukan salahku! Enak saja dia tertawa saat tahu akan berpisah denganku. Padahal 'kan dulu dia yang merengek minta dinikahi.
"Aku tahu kau tertawa karena karena akhirnya kita bisa berpisah 'kan? Dasar kau ini! Apa kau tidak ingat dulu kau yang minta dinikahi huh?!"
"Kau ini bicara apa? Aku tidak tertawa karena kita akan berpisah. Aku tertawa karena ini memang hari anniversary kita. Kau ini kenapa negative thinking begitu? Padahal aku sudah menekan dalam-dalam rasa sakitku tapi kau malah bicara begitu! Kau pikir berapa kali kau menyakitiku seperti ini? Seharusnya aku yang marah karena kau tidak ingat hari apa ini!"
"Itu karena aku memang tidak ingin mengingat hari ini!"
"Kenapa? Karena dulu ini hari yang paling kau benci, iya? Karena akhirnya kau harus menikahi orang manja, bodoh, dan keras kepala sepertiku? Kalau kau tidak mau menikahiku, kau bisa suruh orang-orangmu untuk menculikku lalu mengambil sumsum tulang belakangku. Kau bisa saja mencurinya!"
Kai berdiri mengikuti emosinya yang semakin naik. Ia menatap Kyungsoo tajam lalu melemparkan telapak tangannya ke pipi putih orang di depannya. Tidak terlalu keras memang, tapi Kyungsoo sampai terdiam beberapa saat.
Kai mengatur deru nafasnya yang berantakan. Jujur ia tidak menyangka pembicaraan ringan mereka akan berlanjut pada ciuman lalu sebuah tamparan. Tidak! Situasi seperti sangat membingungkan sampai tidak ada seorangpun yang berani memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin mereka akan bercerai dengan rasa benci di hati masing-masing.
Kyungsoo mendongak menatap Kai yang terdiam. Ia menyentuh pipinya yang terasa kebas dan panas. Entah kenapa rasanya jadi sakit sekali seperti ini. Entah kenapa hatinya juga ikut sakit dengan tamparan di pipi yang tidak seberapa.
"Brengsek kau!"
Mata Kai membulat sempurna dengan umpatan Kyungsoo padanya. Kyungsoonya yang polos dan selalu tegar itu sekarang berani menatapnya penuh kebencian juga mengumpat seperti berandalan.
"Terus saja kau sakiti aku! Terus saja kau pukul aku sampai mati! Kau tidak tahu seberapa sulitnya aku hidup dengan bayang-bayangmu! Kau bahkan sama sekali tidak mengingatku. Kenapa kau sangat jahat? Seharusnya aku tetap bersama Kris dari pada bersamamu!"
Perlahan air mata yang Kai benci turun dari kedua manik mata bulat itu. Begitu banyak sampai Kai perlahan sadar apa yang dia lakukan. Rasa takut mulai menyerangnya saat Kyungsoo melepas cincin di tangannya lalu melemparkannya begitu saja. Tapi tubuhnya bahkan tidak bergerak saat Kyungsoo meninggalkannya sendiri di teras belakang yang dingin.
Kyungsoo terisak. Rasa sakit yang menyerang tubuhnya sama sekali tidak dipedulikan lagi. Ia hanya ingin keluar dari tempat ini. Teriakan-teriakan yang menyebut namanya pun seperti angin lalu. Ia telah menyentuh gagang pintu saat merasakan kedua tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Maaf aku yang salah. Kyungsoo maafkan aku."
"Aggh!"
Kyungsoo terus meronta dalam pelukan hangat yang menyakitkan itu. Tapi kekuatan Kai lebih besar. Belum lagi tenaga yang dimilikinya serasa habis untuk menangis dan menahan sakit.
"Lepaskan aku!"
"Tidak! Jangan katakan kau akan pergi bersama Kris. Kau hanya mencintaiku!"
"Bodoh! Tanpa cinta aku juga bisa bahagia dengan orang lain! Aku tidak membutuhkanmu. Kau harus tahu itu! Mpph…"
Kyungsoo merasakan nafasnya dicabut begitu saja. Kai merebut nafasnya tanpa permisi lagi. Bibirnya itu benar-benar melumat habis bibirnya. Seakan-akan tidak mengijinkan satu katapun keluar dari bibirnya. Kyungsoo berusaha mendorong dada bidang didepannya tapi sang pemilik malah menarik tengkuknya untuk memperdalam ciuman.
Suara kecapan terdengar jelas di ruangan itu. Hingga akhirnya Kai melepaskan ciumannya saat merasa Kyungsoo benar-benar akan kehilangan nafasnya.
Kyungsoo hampir mengumpat lagi saat Kai mengucapkan kalimat yang membuatnya membulatkan mata.
"Aku mencintaimu."
Kyungsoo merasakan bulu romannya berdiri di sapu angin yang entah dari mana. Tubuhnya tiba-tiba terasa dingin dengan tatapan Kai yang hangat dan penuh keputus asaan. Pria itu bahkan mungkin melupakan nafasnya hanya untuk berkata kalimat yang selama ini dipertanyakan Kyungsoo.
"Takut sekali rasanya saat kau tiba-tiba mengucapkan hari apa ini. Aku takut kau akan bilang bahwa kita akan berpisah. Bahkan saat aku sudah mencintaimu."
Kyungsoo masih diam dan berusaha mencerna perkataan Kai yang serasa seperti mimpi indah baginya.
"Apa sakit? Tamparanku keras sekali tadi ya? Maaf."
Tangannya dengan lembut membelai pipi kanan Kyungsoo yang kena tampar.
Kyungsoo mulai terisak lagi. Ia menundukkan kepala untuk menyembunyikan air mata yang tidak hentinya jatuh. Harga dirinya sebagai pria bisa saja hancur jika terus terlihat lemah seperti ini.
"Bodoh! Kenapa aku harus luluh hanya karena kalimat yang kau katakan. Bodoh…"
Kyungsoo memukul-mukul dada Kai sekenanya. Tidak sakit. Seperti seorang wanita yang merajuk.
Kaki-kakinya mulai melemas hingga akhirnya Kyungsoo terjatuh di pelukan Kai dalam posisi terduduk. Namja itu menatap istrinya khawatir. Tapi Kyungsoo malah tersenyum lalu membelai pipi Kai dengan lembut. Atau mungkin lemah.
"Aku juga mencintaimu. Jauh, jauh sebelum kau sadar bahwa aku mencintaimu."
Kyungsoo menaikkan kepalanya untuk mencapai bibir Kai yang sedikit terbuka. Ia melumat kecil bibir itu. Kai tidak tinggal dia. Ia memeluk erat tubuh Kyungsoo agar ia tidak terjatuh ke lantai. Bibirnya ikut melumat lembut. Berbeda dari sebelumnya yang penuh keputus asaan dan emosi, kali ini keduanya saling mencium atas cinta.
Bibir Kyungsoo terasa bergetar dalam ciuman.
Selamat tinggal
Kai mengernyitkan dahinya disela ciuman. Tiba-tiba Kyungsoo diam dan tangannya terasa basah. Kai membuka mata dan melepaskan ciumannya.
Kyungsoo tergolek tak berdaya dalam pelukannya. Matanya tertutup rapat sementara bibirnya melukiskan sebuah senyuman.
Kai menatap lantai dibelakang punggung Kyungsoo dengan tatapan kosong.
Darah…
*True Love*
Sekolah itu terlihat sangat ramai dengan anak-anak kecil yang berlari-lari. Mereka bermain dengan tawa tapi ada juga yang menangis karena dijahili temannya.
Yura tersenyum menatap anak-anak didiknya yang terlihat bahagia. Musim dingin sudah berganti menjadi musim semi, dan akhirnya anak-anak itu bisa bermain di halaman tanpa takut terkena pilek keesokan harinya.
"Congcaengnim…"
Yura tersentak saat merasakan bajunya ditarik-tarik dibawah sana. Ia bisa melihat dia orang siswanya yang menatap polos kearahnya. Manis sekali.
"Ne Minnie-ya. Ada apa? Kau dijahili Chen chen lagi?" Yura mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Minseok.
"Tidak! Chen chen gak nakal kok congcaengnim." Yura tersenyum pada Jongdae yang berdiri di sebelah Minseok. Bocak berwajah kotak itu mengerucutkan bibirnya saat dikatai nakal.
"Iya-iya. Seongsaengnim tahu Chen Chen bukan anak nakal." Tangan lembut nan halus Yura mengacak kecil rambut kedua anak tersebut. Membuat keduanya mengerang kesal.
"Congsaengnim..." Panggil Minseok lagi. ia terlihat ragu sambil mencolek-colek tangan Jongdae yang ada di sampingnya.
"Wae?"
"Kyungcoo congsaengim mana? Kok gak pelnah ke cini lagi?" Tanya Jongdae pada akhirnya.
Yura tersentak dengan pertanyaan itu. Ia bingung sekali bagaimana caranya untuk menjawab. Sampai akhirnya Min Ah datang lalu menjawab.
"Karena Kyungsoo seongsaengnim sudah pergi ke sana." Jari lentik wanita dewasa itu menunjuk ke langit dengan senyuman manis di wajahnya.
.
Mobil hitam itu terparkir rapi di salah satu basemen gedung pencakar langit. Seorang yang mengendarai mobil itu menghela nafas lelah sembari melihat sebuah kartu undangan di tangannya. Entah bagaimana caranya ia bisa mendapatkan undangan pameran itu. Tiba-tiba saja undangan itu sudah ada di meja kerjanya.
Ah! Mengingat pekerjaan Kris jadi teringat pada statusnya yang kini sudah menjadi wakil kepala sekolah sebuah sekolah elit di Seoul pusat. Bisa dibilang ia menjadi wakil kepala sekolah yang paling baik dari wakil lainnya berkat otak cerdas dan kemampuan berbahasa inggrisnya. Oh… mungkin saja ia tinggal menunggu waktu untuk naik jabatan lagi.
Kris memasuki ruangan besar yang hampir penuh dengan orang-orang berjas mahal dan gaun indah. Ia melangkah dengan penuh percaya diri sambil melihat-lihat foto, guci atau lukisan yang dipamerkan oleh salah satu perusahaan terkenal itu.
"Ah! Bukannya itu dia? Dia lebih tampan dari fotonya."
"Iya benar. Seperti malaikat saja!"
Kris menoleh saat mendengar wanita-wanita anggun di pojok ruangan tengah berbisik-bisik tak jelas. Tapi dari tatapan mereka, Kris jadi mulai curiga. Jangan-jangan objek pembicaraan mereka adalah dia.
Tidak-tidak jangan kePD-an! Kris!
Walau Kris tidak terlalu suka dengan barang-barang semacam barang yang di pamerkan di pameran itu, tapi ia merasa cukup senang bisa datang memenuhi undangan dari perusahaan sekeren Tritani Corp.
Kris terus berjalan. Sampai akhirnya ia menemukan jalannya terputus. Matanya yang terlihat senang itu melemah. Tapi senyumannya tidak luntur sama sekali. Ia berjalan perlahan menuju sebuah foto besar di pojok ruangan itu. Sepertinya foto itu merupakan salah satu benda yang dipamerkan.
Tapi Kris tidak perduli itu barang pameran atau bukan. Matanya hanya terfokus pada foto itu. Dimana seorang anak kecil tengah digendong seorang pria tampan yang berdiri di sebelah pria manis.
Tangan panjangnya menyentuh permukaan foto itu perlahan. Mencoba meresapi gambar itu sampai-sampai air matanya keluar tanpa diperintah.
Foto itu, foto yang diambil sepasang suami-istri di sebuah taman kota. Dengan Minseok, Kris dan Kyungsoo sebagai objeknya.
"Aku mencintaimu Kyung. Aku mencintaimu."
.
Joonmyeon berbaring damai di rumput-rumput yang serasa menggelitik tengkuknya. Ia menatap langit luas yang biru dengan titik awan yang sesekali berbentuk seperti bebek atau hati. Joonmyeon terkekeh pelan.
"Suho!"
Joonmyeon membulatkan matanya saat mendengar suara yang samar-samar hinggap di telinganya. Sedetik kemudian ia memejamkan matanya untuk menyadarkan diri bahwa sang pemilik suara itu sudah tidak ada. Itu hanyalah ilusi.
"Suho hyung!"
Kali ini Joonmyeon tidak bisa menahan gejolak rasa rindunya lagi. Ia terbangun dari posisi tidurnya. Kepalanya menoleh kemana-mana disekitar padang rumput yang hijau itu.
"Suho hyung aku disini."
Suara itu terlalu jelas untuk diabaikan. Akhirnya Joonmyeon menoleh kebelakang dan menemukan seorang berpakaian putih dengan senyum manis yang menjerat setiap orang.
"Yi-Yixing."
"Kya! Aku senang sekali bertemu dengan Suho hyung lagi!"
Joonmyeon mematung di tempat saat Yixing menubruknya. Pelukan namja manis itu serasa menerbangkan rohnya kemana-mana.
"Ku dengar Suho hyung sudah jadi dokter sukses ya? Selamat! Selamat! Aku turut bangga lho. Aduh suamiku ini pendek-pendek tapi cerdas juga."
Yixing terus berceloteh dengan wajah ceria tanpa melepaskan pelukannya dari Joonmyeon. Dimple di pipi kanannya itu semakin membuat kesan manis dari istrinya itu. Joonmyeon ikut tersenyum. Tapi saat mengingat masa lalunya yang selalu membuat Yixing menangis, Joonmyeon tak bisa lagi mempertahankan senyumannya itu.
Bayang-bayang wajah Yixing yang selalu ketakutan jika di sekelilingnya itu membuat perasaannya hancur lebur. Kenapa saat ia hidup ia tidak pernah tersenyum semanis ini?
"Aku ini hebat. Tapi sayang kau tidak disampingku lagi untuk melihatnya."
Joonmyeon mengusap lembut pipi Yixing, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Maafkan aku."
"Kenapa kau minta maaf? Yang salah kan aku."
Yixing menggeleng keras. Senyumannya hilang dan kini ia tak berani menatap Joonmyeon.
"Gara-gara aku, kau harus merawat Kyungsoo sendirian. Aku benar-benar minta maaf."
"Tidak! Aku bahkan tidak bisa menjadi ayah baik untuk anak itu. Maaf aku mengecewakanmu."
"Kau melakukan yang terbaik Suho. Kau ayah yang hebat."
Yixing mendekatkan wajahnya pada wajah Joonmyeon. Mempersingkat jarak diantara mereka hingga akhirnya sebuah kecupan manis itu tercipta dari kedua belah bibir yang selama ini hampir saja tak pernah saling bersentuhan.
Joonmyeon ingin melupakan fakta jika mungkin saja ini adalah sebuah mimpi dalam tidurnya. Ia ingin terus bersama dengan namja didepannya itu.
Yixing melepaskan kecupannya. Ia menatap Joonmyeon lembut. Perlahan namun pasti raga itu menghilang dibawa angin. Persis seperti abu nya yang berterbangan seperti kala itu.
"Kini giliranku untuk menjaga Kyungsoo. Aku mencintaimu Joonmyeon ku…"
.
"Terima kasih untuk semuanya."
Kai tersenyum senang dihadapan Baekhyun dan Chanyeol. Ia melambaikan tangannya saat mobil Chanyeol berjalan menjauhi rumahnya bersama dengan Baekhyun. Akhirnya setelah sekian lama menikah, Kai harus merelakan Baekhyun bersama Chanyeol.
Setelah Kyungsoo meninggal, hubungan Kai dan Baekhyun sama sekali tidak baik. Tidak. Mereka tidak saling menyalahkan atau bertengkar hanya saja semuanya terlanjur berubah. Baekhyun dan Kai sama-sama dirundung rasa bersalah. Baekhyun pun tahu diri bahwa bukan dia lagi yang menempati hati Kai jadi ia memilih untuk menggugat cerai suaminya itu. Lalu memilih tinggal dengan Chanyeol yang menjanjikan kebahagiaan padanya.
Terdengar sangat jahat memang untuk Kai yang selama ini mati-matian berusaha menyembuhkan Baekhyun. Sampai-sampai ia pun kehilangan cintanya sendiri. Tapi Kai merasa itu bukan masalah. Selama Baekhyun senang ia juga ikut senang.
Kai masuk kedalam rumah besarnya yang kini terasa dingin dan kosong. Hanya dia seorang diri disana. Tanpa Baekhyun lagi atau mungkin… Kyungsoo. Mau tak mau sepertinya ia harus menyesuaikan diri dengan keadaannya yang serba sendiri sekarang.
Setelah puas menatapi ruang tamunya, Kai memutuskan untuk pergi kekamar untuk tidur. Berusaha menenangkan hati dan otaknya yang selalu tak tenang beberapa lama ini.
Bagaimana bisa kedua hal ditubuhnya itu tenang jika ia selalu terngiang-ngiang akan kematian Kyungsoo yang tepat didepan matanya. Padahal sebelum itu dia terlihat sehat bahkan mereka sampai bisa bertengkar. Tapi kuasa Tuhan tidak ada yang mengerti. Mungkin begitulah cara Tuhan untuk memisahkan mereka yang selalu saling melukai.
Ia menatap pintu coklat itu dengan ragu. Sejak sang pemilik meninggalkannya, Kai sama sekali tidak berani masuk ke dalam. Takut bayangan buruk itu semakin melekat pada otaknya. Tapi tubuhnya tak mau mengerti. Kakinya melangkah sementara tangannya dengan cekatan membuka pintu itu perlahan.
Angin membelai wajahnya lembut. Kai langsung dihadapkan dengan kamar yang penuh debu serta jendela kamar yang terbuka lebar. Entah sejak kapan jendela itu terbuka yang pasti sudah lebih dari 2 bulan karena selama itu pula Kai tak berani masuk ke ruangan itu. Perlahan kakinya menapaki lantai berdebu dengan hati-hati. Ia bisa melihat sebuah sticky note menempel pada cermin di sebelahnya.
'Aku jelek sekali saat melihat wajahku di cermin ini. Pantas saja ahjusshi tidak tertarik padaku!'
Kai mengernyitkan dahinya. Sejak kapan sticky note itu ada di sana? Kapan Kyungsoo menempelnya? Tapi jika dilihat dari debu yang menempel di kertas itu, bisa dipastikan bahwa sudah sejak lama sekali ia menempel di sana.
Kai mengedarkan pandangannya lagi kesegala arah dan melihat sebuah sticky note merah menempel di gantungan baju.
'Andai aku bisa meletakkan baju ahjusshi di sini sehabis dia pulang kerja…'
Dan akhirnya selama satu jam itu Kai berputar-putar di ruangan itu hingga menemukan banyak sekali sticky note yang menempel di mana-mana.
'Aku juga ingin memakaikan dasi untuk ahjusshi' -disalah satu dasi di lemarinya.
'Menyetrika jasnya setiap hari' – Di sebuah Jas yang sepertinya dibeli Kyungsoo untuknya.
'Tidur bersama dan saling menghangatkan… Impian yang terlalu besar' – Di kepala tempat tidurnya.
'Menonton film bersama sebelum tidur sambil saling bercerita…'
Kai tidak bisa menahan air matanya lagi. Perlahan titik-titik air itu berjatuhan dari matanya yang memerah. Isakan demi isakan keluar dari bibir yang bergetar. Ia ingin menangis lebih keras lagi sebenarnya, tapi hal itu terhenti saat ia mengingat sebuah kaset yang diberikan Kris tempo hari. Tepat setelah mereka menebarkan abu Kyungsoo di laut.
Kris keluar terlebih dahulu dari mobil yang dikendarainya lalu membukakan pintu belakang untuk Joonmyeon yang membawa abu jenazah Kyungsoo dalam guci kecil. Disusul oleh Kai yang keluar setelah Joonmyeon.
Mereka bertiga menghembuskan nafas perlahan di bibir pantai yang sepi itu. Pantai itu bukanlah tempat yang bagus untuk berwisata. Pasirnya kasar, tebing curam dan ombak yang menggulung besar-besar. Disana pula Joonmyeon menyebar sebagian abu Yixing, sang istri beberapa tahun yang lalu.
"Ini," Joonmyeon menyerahkan guci kecil itu pada menantunya. Ia terlihat sangat tegar saat menyerahkan tempat berisi abu anaknya yang meninggal lebih dulu.
"Ayah saja," Tolak Kai secara halus. Rasa bersalah dalam hati pria itu belum hilang sehingga ia bahkan tak berani menyentuh tempat berwarna hitam itu.
"Kau suaminya."
Kris hanya diam menatap mertua dan menantu itu. Kau punya orang-orang yang luar biasa Kyungsoo. Jika kau ingin tahu.
Kai mengambil guci itu dengan ragu lalu membuka tutupnya. Joonmyeon melangkah mundur. Mensejajarkan tubuhnya pada Kris yang berdiri diam. Mereka berdua hanya diam dan melihat Kai yang menaburkan abu Kyungsoo di udara.
Upacara penebaran abu selesai. Ketiga pria paling berharga bagi Kyungsoo itu meninggalkan pantai dengan hati yang campur aduk. Tapi tidak ada yang berniat untuk mengungkapkannya.
"Kyungsoo menitipkan ini untukmu."
"Dari Kyungsoo?"
.
"Halo aku Kim Kyungsoo. Senang bisa bertemu. Umurku hampir 20 tahun dan selama itu aku tinggal bersama ayahku, Kim Joonmyeon. Beliau adalah seorang dokter darah yang sangat tampan dan digilai para ahjumma tetangga. Aku juga punya ibu, tapi beliau sudah meninggal saat melahirkanku karena hemofilia.
Walau umurku belum 20 tahun tapi aku sudah menikah. Kim Jong In adalah suamiku tapi aku sering memanggilnya ahjusshi karena umur kami terpaut lumayan jauh. Walau begitu aku mencintainya.
Suamiku itu punya seorang istri yang cantik. Aku sangat iri padanya. Dia juga memperlakukanku dengan sangat baik. Terima kasih Baekhyun hyung.
Aku juga punya teman yang sangat baik namanya Wu Yi Fan. Dia guruku di Senior High School. Dia juga sangat tampan.
Ah hidupku ini bahagia sekali dikelilingi oleh orang-orang tampan.
Hehehe… itu sekilas tentangku, semoga kalian tidak melupakanku ya.
Emm… Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Bukannya aku berharap untuk mati, tapi tidak ada salahnya 'kan berjaga-jaga?
Terima kasih untuk Ayahku. Kim Joonmyeon yang tampan dengan senyuman malaikatnya. Selama ini kau ayah yang baik. Aku tidak peduli lagi dengan hari ibu atau kado untuk ibu atau kasih sayang ibu. Untukku appa sudah sangat cukup. Terima kasih sudah merawatku dengan susah payah. Meski tanpa ibu kau merawatku dengan sangat baik. Kau mengajariku naik sepeda, membaca, menulis dan memukulku saat aku nakal. Terima kasih atas waktu yang kau berikan padaku. Terima kasih sudah mengijinkanku hidup hingga detik ini."
Pria itu tersenyum manis pada pasien yang terus bicara tentang penyakitnya. Tentang tidak bisa tidur lah, mata mulai merabun dan juga kerutan wajah yang semakin banyak. Walau hal-hal itu bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan penyakit yang ditanganinya, Pria paruh baya itu tetap mencatat dan tersenyum mendengar keluhannya.
"Ibu bisa perbanyak istirahat dan minum air putih. Jika ibu merasa pandangannya kabur, ibu bisa memejamkan mata sebentar. Gunanya untuk mengistirahatkan mata. Ah… resepnya. Ibu perbanyaklah makan makanan bervitamin K agar pendarahan di kepalanya cepat membeku. Semoga cepat sembuh."
"Aigoo… dokter ini baik sekali mau mendengar keluhanku. Istrimu pasti senang menikah denganmu."
Pria paruh baya itu hanya tersenyum tanpa membalas ucapan pasiennya. Setelah pasiennya itu keluar dari ruangannya, barulah pria itu bisa bernafas dengan lega. Ia mendesah pelan begitu kepalanya terasa berat dan juga pengelihatannya yang mengabur. Tangannya meremas-remas pelan rambutnya yang memutih berharap sakitnya mereda.
"Appa!"
Joonmyeon tersentak saat mendengar seseorang berteriak Appa ke arahnya. Di depan pintu, Kai tengah mengintip dirinya sambil membawa sekeranjang jeruk. Pria itu tersenyum cerah sambil melambaikan tangan padanya.
"Jong In kenapa kau disini hah?"
"Memang kenapa kalau aku mengunjungi appaku sendiri. Ya Tuhan appa ku ini sepertinya kelelahan menanggapi pasien eum?"
Kai meletakkan keranjang jeruknya diatas meja lalu berjalan mendekati Joonmyeon yang terlihat meyunggingkan senyum samar.
"Uh… pasti lelah sekali harus berhadapan dengan pasien seharian. Belum lagi kalau operasi."
"Yah begitulah. Menyesal aku masuk kedokteran."
"Wae? Gajinya kan besar."
"Tapi waktuku tersita sangat banyak. Ah iya pijat sebelah situ."
Kai mengerucutkan bibirnya saat akhirnya ia disuruh pijat sana pijat sini oleh ayah mertuanya itu. Sejak Kyungsoo meninggal, tidak bisa dihindari lagi fakta bahwa Joonmyeon harus tinggal sendiri. Terkadang pria yang umurnya hampir kepala 5 itu merasa kesepian jadi dia akan memanggil Kai atau Kris untuk menemaninya.
Percakapan ringan mereka terhenti dengan terbukanya pintu ruangan itu. Kris muncul dengan senyuman khasnya. Namja itu kini sudah tak berambut pirang lagi, ia mengecatnya menjadi hitam atas permintaan pihak sekolah dengan alasan rambut pirangnya terlalu mencolok.
Joonmyeon tersenyum lebih lebar melihat Kris datang. Pria itu langsung berdiri dan memeluk namja tinggi itu seperti memeluk anaknya sendiri.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik sekali. Appa sendiri?"
"Baik walau tubuhku jadi tambah sakit karena dipijat olehnya."
Joonmyeon menunjuk hidung Kai dengan tak berperi kemanusiaan.
"Aku kan berniat baik appa! Lagi pula saat aku kesini kenapa kau malah bicara seperti ingin mengusirku sedangkan kau menanyakan kabar pada Kris? Itu tidak adil!"
"Karena wajahmu sangat menjengkelkan."
"Kenapa menyalahkan wajahku?"
Kris tak bisa berkata apa-apa dengan pertengkaran kecil dua orang Kim itu. ia hanya diam dan mengambil sebuah benda dari tasnya.
"Appa." Panggil Kris.
Joonmyeon akhirnya menoleh dan mendapati Kris tengah menyodorkan sebuah kartu undangan berwarna biru muda. Namja paruh baya itu menerimanya dan membaca isinya. Kai yang penasaran pun ikut membacanya.
Kedua pasang mata itu membulat setelah selesai membaca seluruh surat undangan itu.
"Kau menikah?" Pekik Kai tak percaya. Ia melihat nama Kris dan Tao di surat undangan itu.
"Tentu saja. Umurku ini sudah 30 tahun sudah sangat matang untuk menikah. Kau juga Kai move on dong!"
"Aku sedang berusaha jika kau ingin tahu!"
Kris berdecih pelan lalu kembali menatap Joonmyeon. Pria itu terlihat sedih menatap undangan di tanganya. Entah kenapa Joonmyeon merasa akan ditinggalkan lagi. Walau Kris bukan anaknya, tapi mereka sudah sangat dekat. Kalau akhirnya ia memutuskan untuk menikah, intensitas bertemu mereka pasti semakin sedikit.
"Appa kau tahu kan aku sudah tidak punya orang tua?"
"Ye?" Joonmyeon terlihat bingung dengan pertanyaan Kris yang retoris.
"Kau jadi waliku ya? Duduk di bangku paling depan."
Joonmyeon terdiam. Hatinya tiba-tiba bergetar senang dengan permintaan itu. Seumur hidup ingin sekali ia melihat anaknya menikah dengan bahagia. Melihat pernikahan meriah anaknya di bangku depan. Tapi sampai sekarang itu tidak pernah tercapai, keinginan yang sudah dikubur dalam-dalam itu tiba muncul kembali.
"Tentu. Semoga kau bahagia."
"Waktu sepertinya bergerak sangat cepat. Rasanya baru kemarin aku masih jadi anak-anak dan sekarang aku mengajar anak-anak. Aku berfikir, pasti menyenangkan sekali jika aku punya satu. Maksudku, jika aku punya anak. Tapi sepertinya hal tidak akan pernah terjadi. Tidak apa-apa.
Yura noona, Min Ah noona aku merindukan kalian. Lama sekali tidak berjumpa. Semoga sekolah akan baik-baik saja tanpaku. Ah bodoh! Seperti aku berguna saja."
Ruang kelas itu berubah menjadi ruangan pentas dalam sekejap. Gambar bunga, kupu-kupu, mobil, lebah, rumput dimana-mana. Banyak anak-anak duduk dengan rapi di barisan depan. Lalu dibelakangnya lagi adalah orang tua mereka yang menonton acara perpisahan itu.
Di bangku paling belakang. Kris menyenggol lengan Kai dengan kuat membuat sang korban hampir saja menjerit. Kai melototi Kris yang tersenyum senyum tidak jelas.
"Wae?"
"Mereka lucu ya?" Kata Kris sambil menaikkan alisnya. Ia terlihat sangat antusias dengan anak-anak TK yang tengah mementaskan drama Cinderella.
"Sebentar lagi aku juga akan punya lho… Kau tahu kan, Tao-er ku sedang hamil!"
"Lalu?"
Kai terlihat sangat tidak tertarik dengan arah pembicaraan mereka. Seperti sudah ratusan kali saja ia mendengarnya.
"Aish! Kau kapan menyusul? Umurmu sudah 31! Kyungsoo-"
"Sudahlah. Jangan bicara lagi. Kau bilang anak-anak kecil itu lucu kan? Tonton saja mereka."
Kai berjalan pergi meninggalkan ruangan yang ramai dengan musik dan suara sorak sorai itu. Kris memandang punggungnya dengan tatapan kecewa.
"Lihat apa yang sudah kau perbuat pada suamimu Kyung." Bisik Kris pada angin.
"Hemm… sudah 5 tahun tapi Kai belum move on juga?"
"Aku tidak percaya dia orang yang sesetia itu. Kupikir dulu saat tahu dia menikahi Kyungsoo padahal punya Baekhyun, dia seorang bajingan."
"Ya!"
Kris sedikit berteriak pada kedua wanita cantik yang duduk di sebelahnya. Ia melemparkan tatapan kesalnya ada kedua wanita itu. Beberapa sat kemudian terdengar suara tawa kecil dari wanita-wanita yang ternyata Yura dan MinAh itu.
"Bisakah kalian diam? Dan kenapa kalian di sini? Siapa yang mengurus anak-anak disana?" Kris berkata dengan nada tinggi walau terdengar lirih.
"Ada Nana kok si guru baru itu." Jawab Min Ah. Ia tersenyum penuh kemenangan lalu mulai menonton anak-anak didiknya yang menggemaskan.
Keheningan menyelimuti ketiganya. Mereka hanya bisa berdecak kagum pada penampilan anak-anak 5 tahun didikan mereka itu.
Yura mendesah kecil sambil terus menatap anak-anak di panggung sana. Matanya tiba-tiba mulai memerah dan perlahan air mata mengalir di pipinya.
"Sekolah ini banyak sekali berubah." Ucap Yura yang dibalas 'hem' oleh Kris maupun Min Ah. "Hanya karena seorang anak berumur 19 tahun yang kerja kurang dari sebulan, sekolah ini berubah jadi lebih besar. Harusnya aku berterima kasih padanya."
"Yang membuat sekolah ini besar adalah Kai." Sanggah Kris.
"Tapi Kai dibawa oleh Kyungsoo. Kau juga kan paruh waktu di sini karena Kyungsoo. Padahal sudah jadi guru tetap di sekolah elit." Kini giliran Min Ah yang menyanggah.
"Aku harap sekolah itu akan disukai banyak orang."
"Harapan Kyungsoo sudah terwujud. Sekolah ini disukai banyak orang sekarang."
"Apa kau bilang tadi? Aku tidak dengar." Yura menggoyangkan lengan Kris untuk meminta penjelasan.
"Tidak! Tapi aku yakin dia senang melihat sekolah ini sekarang."
"Yura saem, Min Ah saem, Kris saem!"
"Minseok! Jongdae!"
"Aigoo mereka sudah besar sekarang."
5 tahun berlalu, sekolah kecil yang punya banyak murid tapi sedikit guru itu berubah 180 derajat. Gedung yang lebih bersih, hiasan di sana-sini, tempat bermain yang bagus dan juga guru-guru tambahan yang mulai berdatangan. Walaupun tempat itu terlihat elit, tapi murid tidak semuanya dari kalangan berada. Banyak dari mereka yang berasal dari panti asuhan di sekitar sekolah, atau anak dari keluarga kurang mampu.
Sekolah itu berubah, dan kehidupan orang pun mulai berubah sedikit demi sedikit pula. Semua orang memiliki tujuan maka dari itu mereka mencoba untuk membuang masa lalu dengan menatap masa depan.
Itu semua hal yang wajar. Kyungsoo pun pasti bahagia.
"Kris saem yang tampan dan baik hati. Aku mencintaimu."
2 tahun setelah Kyungsoo pergi dibawa angin, Kris masih hidup sebagai dia yang dingin dan tidak banyak bicara. Seluruh muridnya hanya bisa meneguk ludah jika sudah berurusan dengannya.
Psikopat. Begitulah para murid di sekolah Kris mengajar menyebutnya. Saat seorang siswa membuat keributan maka hukuman menyebalkan telah menanti. Bukan mencabuti rumput lapangan atau mengepel koridor. Tapi sesuatu yang lebih di benci setiap siswa lebih dari apapun. Membuat Karya Tulis Ilmiah dalam waktu 2 hari dalam bahasa inggris jika tidak mau maka bersiaplah untuk menyalin mengkonversi novel bahasa menjadi sebuah skrip drama.
Semua orang membencinya, bahkan guru yang duduk tepat di sebelahnya.
"Panggil aku Tao ya Kris Saem." Itulah awal dari segala awal permusuhan mereka. Hari pertama Kris menginjakkan kaki di sekolah itu, ia langsung membuat masalah dengan guru magang bermata panda. Begitu pria itu memperkenalkan diri, Kris langsung saja tertawa dengan tatapan remehnya.
"Namamu, seperti nama ularku yang sudah mati. Oh… aku jadi merindukannya."
Semua orang tahu keduanya memiliki hubungan yang tidak baik. Dimanapun. Tapi semuanya berubah saat prom night. Tiba-tiba saja Kris melamar Tao dengan tidak elitnya.
"Umurku sudah 30 tahun dan belum menikah. Eum, padahal temanku yang lain sudah punya anak. Umurmu 26 tahun kan? Mau menikah denganku?"
Kris mengatakan hal itu diantara banyak muridnya yang tengah berdansa. Siapa yang tidak terkejut mendengar lamaran guru datar mereka terhadap guru magang yang terkenal paling imut. Belum lagi hubungan mereka yang selama ini selalu diwarnai pertengkarang.
"Baiklah aku terima tatanganmu. Oh! Kau bilang teman-temanmu sudah punya anak kan? Setelah kita menikah, kita langsung membuatnya bagaimana?"
Beberapa saat kemudian Tao menerima lamaran Kris dengan kata-kata yang membuat murid murid di sekitar mereka berdecak kagum.
"Kristao JJANG!"
Dan malam itu berakhir menjadi malam untuk keduanya. Dimana sorak sorai para murid menyertai keduanya yang saling melempar senyum miring.
"Ini khusus untukmu, Kai ahjusshi, ah ani! Mungkin seharusnya aku memanggilmu Kim Saem. Sudah sangat lama kita tidak bertemu sebagai guru dan murid ya? Apa kau mengenalku? Aku seseorang yang kau tolak mentah-mentah di atap sekolah 5 tahun lalu. Orang yang sama dengan murid yang kau cium di kelas paling pojok.
Bukannya aku mau mengungkit masa lalu tapi aku ingin kau mengingatku sebagai salah satu orang yang kau sakiti. Benar juga, dulu aku itu memang anak ingusan yang tidak mengerti apa-apa. Tapi apa detik ini kau masih berfikir seperti itu? Perasaanku dan ucapanku yang kau anggap anak kecil ini, apa kau masih meragukannya?
Apa kau menyesal melakukannya padaku? Ah tidak mungkin! Kenapa juga kau harus menyesal karena melakukan itu padaku kan? Aku bukan siapa-siapa kan?"
Kai berjalan cepat meninggalkan sekolah taman kanak-kanak yang dikelolanya. Percakapannya dengan Kris beberapa waktu belakangan ini benar-benar serasa mengganggunya. Sekuat apapun ia mencari orang lain, bayangan Kyungsoo selalu menyelinap masuk dalam pikirannya. Dengan keadaan seperti itu, bagaimana bisa dia mencari orang lain yang akan mendampinginya kelak?
Bruk!
"Mianhae!"
Kai berdecih pelan dengan pakaian putihnya yang kini berganti warna menjadi kecoklatan. Didepannya, seorang pria berambut coklat muda berusaha membersihkan noda kopi yang menempel di pakaian Kai.
"Maafkan aku tuan, aku tidak lihat jalan tadi."
"Tidak apa-apa aku juga ceroboh."
Pria berambut coklat itu mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah orang yang ditabraknya. Begitu pula dengan Kai yang merasa penasaran dengan orang yang menabraknya itu. Pandangan mereka bertabrakan.
"Kim Saem."
"Taemin?"
.
Lonceng gereja di pusat kota itu berbunyi nyaring. Suara orgen menggema di setiap sudut ruangan besar itu.
Seorang pria cantik dengan tuxedo putih berjalan dialtar dengan senyuman yang mengembang indah. Wajahnya tampak sangat bahagia dengan setetes air mata haru di pipinya.
Seorang lagi dengan tuxedo hitam di depan altar mengulurkan tangannya untuk pria cantik itu. kini keduanya berhadapan dengan sang pastor yang akan mengikatkan mereka dalam sebuah janji suci Tuhan.
"Dengan berkat Tuhan, kau Kim Jongin apa kau menerima Lee Taemin sebagai pasangan hidupmu dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sehat maupun sakit?"
"Ya."
"Dan kau Lee Taemin apa kau menerima Kim Jongin sebagai pasangan hidupmu seperti Kim Jongin menerimamu?"
"Ya."
"Dengan janji suci yang telah kalian ucapkan, kalian resmi menjadi sepasang anak adam yang terikat dalam benar merah yang tak kan pernah putus."
Tepuk tangan terdengar meriah di dalam gereja. Di bangku paling depan, Joonmyeon menatap kedua pria di depan altar itu dengan perasaan haru. Kim Jongin yang selama ini di khawatirkannya akhirnya bisa menemukan orang lain sebagai pasangan hidupnya.
Joonmyeon tidak bisa mengelak ada perasaan tidak rela di hatinya. Tapi mengingat bagaimana hidupnya yang begitu menderita tanpa seorang pasangan hidup, Joonmyeon benar-benar membuang perasaan itu. Ia tidak ingin Kai yang disayanginya ikut menderita seperti dirinya.
"Selamat Kai. Akhirnya kau dengan Taemin hum?"
Kai hanya tersenyum manis dengan ucapan selamat Baekhyun yang terlihat manis dengan setelan pakaian musim gugurnya. Ia bisa melihat mantan istrinya itu menjadi lebih sehat hidup bersama dengan Chanyeol yang ahli dalam bidang kanker. Baru-baru ini juga ia dengar Baekhyun benar-benar bersih dari kanker. Kai hanya bisa ikut senang karena hal itu.
"Ya! Kau sudah menikah 3 kali? Aku dengan Baekhyun saja belum resmi."
Baekhyun segera saja memukul perut Chanyeol yang tiba-tiba curhat.
"Siapa suruh menunggu-nunggu? Haish… lihat perut Baekhyun itu! kalian membuat anak sebelum menikah hah?!"
"Kau dan Taemin juga begitu!"
Ucapan skak mat Baekhyun membuat ketiganya terdiam dengan wajah merah.
"Hei, istrimu sendiri di sana. Cepat hampiri." Baekhyun mendorong-dorong punggung Kai agar pengantin baru itu mendekati mengantinnya.
"Iya-iya aku pergi!"
Kai pergi. Dan Baekhyun menghela nafas panjang.
"Aku harap kau bahagia Kai, Kyungsoo."
"Kau mendoakan mereka bahagia? Lalu bagaimana dengan kita?" Chanyeol bertanya sambil mengelus perut Baekhyun yang benar-benar besar. Menurut USG dia hamil bayi kembar.
"Apanya yang bagaimana dengan kita? Kau melamarku saja tidak pernah! Hah kau menyebalkan sekali!"
"Ya Byun Baekhyun!"
"Walau kau tidak menganggapku siapapun, kau tetap orang yang penting untukku. Dan aku tidak menyesal sudah membuatmu menjadi penting di hidupku. Karena aku mencintaimu. Sangat sangat sangat mencintaimu.
Terima kasih untuk waktu yang sudah kita lalui bersama. Walau aku mati, walau abuku menghilang di bawa angin, atau apapun cara kita berpisah nanti, aku ingin kau mengingatku sebagai orang yang menyayangimu. Selamanya."
.
.
END
.
A/N : Yes END yes! Akhirnya setelah sekian lama… maaf yang menunggu. Padahal aku pikir FF ini gak bakal aku selesaiin. Tapi berkat kalian semua, aku punya kekuatan! Terima kasih! Untuk semua yang membaca Fanfic ini, yang mem Favorit yang mem Follow, yang mereview. Saya tahu Fanfic ini banyak kesalahan di sana-sini. Saya minta maaf karena penulisan saya tidak membaik-membaik juga sejak dulu. Masih banya typo, percakapannya kebanyakan, alur juga lambat. Maafkan saya.
Sebenarnya sudah lama saya melakukan kesalahan yang menjengkelkan. Yaitu updet lama. Kalian tahu hal itu kan? Maaf, tapi menulis bukan prioritas untuk saya. Saya juga harus memikirkan masa depan saya. Apa lagi nilai saya benar-benar buruk. Belum lagi sekarang saya di tempatkan di kelas yang isinya anak pintar semua. *aku kudu piye?
Maaf curhat. Jadi pada intinya saya bukan author aktif seperti jaman baholak dulu itu. lagi pula saya juga merasa author kaisoo makin banyak dan semakin berkualitas. Sudah pasti saya kalah jauh. Maka dari itu, perlahan saya akan mulai berhenti. Bukan sekarang. Saya akan menyelesaikan 2 FF saya dulu.
Terima kasih. Maaf chap ini kepanjangan
Last,
Mind to Review? ^^
.
Epilogue
.
20 tahun setelah dia pergi
.
Pria paruh baya itu meletakkan sebuket bunga carnation diatas baru nisan putih yang bertuliskan Kim Kyungsoo. Pria itu menangkupkan tangannya dan mulai berdoa pada Tuhan untuk membahagiakan hidup istrinya yang sudah meninggal itu di atas sana.
Ia membuka matanya dan menatap nisan Kyungsoo dengan wajah terluka.
"Kau senang? Sekarang kau punya keluarga yang lengkap di sampingmu."
Kai melirik ke kanan dan kiri nisan Kyungsoo. Disana bersemayam Kim Yixing dan Kim Joonmyeon yang baru saja wafat 1 tahun yang lalu. Kedua makam yang sudah Kai kunjungi pula sebelumnya.
"Sudah 20 tahun Kyungsoo-ya. 20 tahun kau menghilang dari pandanganku. Tapi aku tidak bisa melupakanmu. Apa kau bahagia di sana? Aku bahagia, tapi aku yakin aku akan lebih bahagia jika bersamamu. Maaf ya sepertinya aku tidak memperhatikan ayahmu dengan baik. Aku sangat menyesal."
Tetes tetes air hujan menghantam tubuhnya yang terlihat ringkih. Dengan udara dingin yang menyelimutinya, Kai tak bisa lagi menahan air matanya. Tiba-tiba saja saat ia sadar, air itu sudah membuat sungai kecil di pipinya.
"Aku merindukanmu. Aku merindukan matamu, suaramu, tingkahmu, semuanya! Ayo bertemu Kyungsoo-ya! Ayo kita bertemu! Aku tidak tahan lagi. AAA!"
Kai menangis histeris dihadapan nisan Kyungsoo. Tak mempedulikan tubuhnya yang mulai menggigil atau bibirnya yang memucat. Dia hanya ingin Kyungsoo. Kyungsoo nya!
Hujan di sekitar Kai tiba-tiba berhenti. Pria itu tak lagi merasakan dinginnya air hujan yang siap mengikisnya dengan perlahan. Kai mendongak. Ia berharap Kyungsoo yang melindunginya, tapi hanya ada Kris disana.
"Aku dengar kau bertengkar dengan Taemin jadi aku mencarimu. Ayo pulang."
"Tidak sebelum aku bertemu Kyung-"
Bugh!
Sebuah tinju kuat melayang dari tangan Kris yang sebenarnya mulai melemah di makan usia. Pria itu menggeretakkan giginya karena emosi. Payung yang dibawanya pun telah jatuh ke tanah begitu saja.
"YA! Aku tidak peduli kau masih mencintai dia, atau tidak bisa melupakan dia! Sadarlah! Dia sudah mati! Keterlaluan sekali kau menyakiti istrimu karena orang yang sudah mati! Jangan lakukan hal bodoh dua kali!"
Bugh!
Sebuah tinju dari Kai kini menghampiri perut Kris. Pria itu berdiri lalu menggulingkan temannya ke tanah.
"Apa yang kau tahu? Kau mengatakan itu karena kau sudah punya Tao yang kau cintai. Aku? Terjebak dengan orang dimasa lalu yang terobsesi denganku!"
"Apa bedanya Taemin dengan dia?! Mereka sama-sama terobsesi denganmu. Kau tahu bagaimana akhirnya jika kau mengacuhkan mereka. Kau mengalami itu saat bersamanya dulu. Apa kau akan melakukannya juga pada Taemin?!"
"Aku hanya tidak bisa-"
"Kyungsoo tidak akan suka dengan ini. Kita masih hidup, kita masih punya kehidupan untuk dijalani! Kita masih punya kesempatan untuk membahagiakan orang di sekitar kita. Jangan sia-siakan kesempatan itu. Kau tahu kan rasanya menyesal?"
Kai jatuh terduduk di tanah yang mulai berlumpur. Ia mulai menangis keras sampai suaranya terdengar parau. Kris hanya diam sambil menatapnya. Perlahan air matanya pun turun juga.
"Kau bisa menempatkan orang yang meninggalkanmu di sudut hatimu. Biarkan ruang kosong lainnya menjadi tempat orang-orang yang selalu ada untukmu. Itu yang aku lakukan Kai."
Kris bangun lalu mengulurkan tangannya untuk Kai. "Kajja."
Kai menangkap tangan Kris dengan ragu tapi saat ia merasakan lengannya yang lain dirangkul oleh Kris, keraguan itu hilang.
"Aish! Payung ini tidak bisa dipakai lagi. Ini gara-gara kau! Kau harus ganti rugi!"
"Bagaimana kalau tteokbokki?"
"Kau pikir aku anak kecil? Yang lain."
"Soju?"
"Boleh juga. Hei, setelah ini langsung minta maaf pada Taemin. Arraseo?"
"Arraseo seongsangnim."
"…"
Hujan menyamarkan mereka. Hujan menyamarkan suara mereka. Hujan menyamarkan sosok angin yang berhembus dan membawa pesan dari surga.
"Apa itu cinta sejati? Kenapa aku tidak bisa mengerti frasa itu sampai sekarang? Mungkin karena aku ini terlalu mencintai banyak orang. Tapi aku tidak menyesal. Aku tidak pernah ingin menyesali hidup. Dan aku tidak ingin menyesali cinta walau terkadang perasaan itu hanya lewat."
