Mungkin tidak baik jika aku terus menyimpan rasa balas dendam ini, mungkin tidak baik jika aku hanya terus bersembunyi, mungkin tidak baik jika aku terus berpura-pura, sudah saatnya. Sudah saatnya untuk mengakhiri kepura-puraan dan kasus ini.

So Close, Yet So Far Away oleh Naoya Yuuki

VOCALOID © YAMAHA, CRYPTON, ETC.

Miku/Luka

[Blue deep sea]

Polivcelth, gedung bertingkat dua puluh lima itu terlihat begitu tua—kita tidak tahu bagaimana keadaannya di dalam sana, bukan hanya kita, tapi semua orang tidak mengetahui bagaimana isi gedung itu. Jauh di atas lantai gedung itu terdapat sebuah ruang kecil yang tertutup rapat, di ruangan itu terdapat lima buah komputer yang menyala—seluruh layarnya menampakkan sebuah tulisan 'warning!' terus begitu dengan bunyi 'bip' ketika layarnya tiba-tiba menjadi hitam.

Seseorang tidur diruangan itu di atas sebuah ayunan yang digantung pada dua buah sisi dinding, ketika mendengar suara 'bip' dia tersentak dan terjatuh dari ayunan itu.

"Komputer sialan," umpatnya, menarik selimutnya dan kembali tidur.

Rrrr… rrr…!

Getar telepon yang tiba-tiba membuatnya tidak bisa melanjutkan tidurnya kembali, dengan sedikit frustasi orang itu mengambil teleponnya dan mengangkatnya.

"Megurine-san, hari ini kita ada kas—

—Pip—

Megurine Luka, menggeram emosi, mengacak rambutnya dan segera beranjak dari tempat tidur—yang seperti sebuah ayunan miliknya. Megurine Luka memandang wajahnya dibalik pantulan cermin, wajah lelah itu benar-benar membuatnya tampak terlihat mengerikan, yang dia butuhkan sekarang adalah istirahat. Luka benar-benar butuh istirahat, kemarin dia baru saja menyelesaikan kasus pembunuhan dan hari ini dia harus menyelesaikan kasus yang lain—berharap saja itu bukan kasus pembunuhan lagi.

Kasus pembunuhan yang terjadi kemarin adalah kasus pembunuhan yang tak memiliki bukti dan penjelasan tersendiri—seperti, kenapa bisa ada orang yang membunuh tanpa alasan? Oh, kecuali dia adalah seorang psikopat—dan pembunuhannya benar-benar terjadi secara acak.

Megurine Luka dengan tegas mengatakan bahwa pelakunya adalah pembunuh berantai yang dulu pernah menghantui Tokyo. Bagaimana Luka bisa tahu? Tentu saja Luka bisa tahu karena setiap terjadi pembunuhan sang pelaku selalu saja akan menulis ucapan 'terima kasih' atau 'ini bukan balas dendam' dengan darah korban dan pembunuhan yang kemarin sang pelaku meninggalkan tulisan 'terima kasih'—dari dulu hingga sekarang. Walaupun begitu menangkap sang pelaku adalah hal yang sangat sulit, karena ya yang tadi itu, pembunuhannya terjadi secara acak.

Setelah mencuci mukanya Megurine Luka keluar dari kamar mandi kecil itu dan berjalan menuju sebuah ruangan kecil, dia membukanya dan menyeret seseorang keluar dari ruangan itu.

"Bangun, Emilia."

"Hng?" gadis itu membuka matanya dan menguceknya, lalu menatap Luka. "Sudah pagi ya, Luka?" tanyanya.

Megurine Luka mengangguk, dia tengah memakai seragam polisinya, mengancingi kemejanya satu demi satu. "Pulanglah ke rumahmu, orang tuamu akan marah jika kau terus melarikan diri dari rumah seperti itu, aku sebagai polisi merasa bersalah menerimamu tinggal di sini."

"Hehe…" Emilia tertawa. "Orang tuaku tidak akan peduli terhadapku."

Luka menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kenapa?"

Emilia menggelengkan kepalanya, menatap punggung Luka. "Hari ini aku akan pulang larut."

"Kau tidak takut dengan pembunuh berantai diluar sana?" tanya Luka, gadis itu sudah selesai mengancing seluruh kancing kemejanya, Luka mengikat rambutnya dan memakai topi polisinya, lalu memakai sarung tangan hitamnya.

"Pembunuh itu yang akan takut melihatku. Lagi pula aku ada pekerjaan penting hari ini, dan aku harus memperingati satu hal."

Luka tertawa, dia berjalan ke arah Emilia dan mengelus kepalanya. "Aku berangkat ya! Makanan ada di dalam kulkas, hati-hati."

Luka melangkah pergi keluar dari kamarnya, setelah tak melihat punggung Luka lagi Emilia berdiri dan berjalan ke arah sebuah lemari. Gadis itu melirik seluruh pakaian milik Megurine Luka di sana, tidak ada yang menarik perhatiannya, sampai akhirnya matanya berhenti pada sesuatu yang menarik dirinya, Emilia mengambil sesuatu itu dan menatapnya lekat, kemudian dia tersenyum.

"Sepertinya aku benar-benar akan pulang larut."

ooo

Pukul sepuluh pagi di Hotel Barrel telah terjadi sebuah pembunuhan, Luka yang sudah selesai menyelesaikan kasus pencuriannya segera melesat menuju hotel itu. Pelakunya adalah orang yang sama. Dia meninggalkan sebuah tulisan yang berbeda hari itu 'selamat ulang tahun', begitulah kiranya. Luka bukanlah seorang detektif, dia agak kesulitan dengan pemecahan kode yang ditinggalkan oleh si pembunuh, biasanya dia memecahkan kode itu di rumah dengan bantuan Emilia, walaupun kode itu benar-benar tak memiliki arti.

Luka menatap lekat kalimat itu dan kembali membaca kalimat yang ditinggakan si pelaku. Seperti menyadari sesuatu Luka segera bertanya. "Siapa yang hari ini berulang tahun?"

Mereka semua terdiam, tidak ada yang berulang tahun hari ini, apakah Luka bertanya untuk memastikan bahwa sang pembunuh adalah teman dekat dari yang berulang tahun hari ini?

"Apa hari ini korban berulang tahun?" tanya Luka kembali. Tetap tidak ada jawaban. Mereka tidak tahu, ya.

Percuma saja ternyata. Karena frustasi Luka menatap langit-langit hotel, tanpa disengaja dia melihat sebuah ventilasi yang terdapat bercak darah, ada kemungkinan si pembunuh lari melalui ventilasi itu, tapi ventilasi itu terlihat sangat kecil—jika pembunuhnya adalah orang dewasa sepertinya, apakah pembunuh adalah seorang anak kecil?

"Pembunuh masih di hotel ini, cepat kalian menyebar dan periksa seluruh ruang!" perintah Luka. "Kalian berdua! Tolong jaga tempat ini."

Megurine Luka segera berlari ke arah dapur untuk memeriksa, siapa tahu pembunuhnya adalah salah satu dari koki-koki di sana, dan ventilasi itu hanya pengecoh saja.

"Maaf mengganggu, aku akan memeriksa tangan kalian dan tempat ini," ucap Luka. Para koki yang ada di sana bingung, tapi mereka kemudian menuruti ucapan Luka dan segera membersihkan tangan lalu berbaris.

Sementara itu di suatu tempat di hotel yang sama sang pembunuh tersenyum picik di balik topengnya, dia kemudian membuka topeng itu dan keluar dari tempat persembunyiannya.

Selesai memeriksa para koki—dan tidak menemukan apapun—Luka memutuskan untuk kembali ke ruangan tempat terjadinya pembunuhan, saat dia berjalan Luka tak sengaja menabrak seorang gadis berambut twintail dan membuatnya terjatuh, seperti pernah melihatnya sekali Luka dengan refleks menyodorkan tangannya.

"E—"

"Hatsune Miku," potong gadis itu sebelum Luka sempat berkata padanya, gadis itu bangkit sendiri dan mengabaikan sodoran tangan Luka.

"Eh?"

"Senang berkenalan dengan seorang polisi," dia tersenyum kepada Luka. "Megurine Luka."

Gadis itu meninggalkan Luka, Luka tidak akan terkejut bagaimana gadis itu bisa tahu namanya, karena dia memakai seragam polisi dan tanda pengenalnya seharusnya juga dipakainya, Luka memeriksa dirinya sendiri, dia tak menemukan tanda pengenalnya, Luka membalikkan tubuhnya menatap gadis itu namun dia sudah tak di sana.

"Kenapa dia mengetahui namaku?"

ooo

Rrrr… rrr …

Pip—

"Hallo?"

"Hi! Selamat ulang tahun."

"Aku tahu itu pasti ulahmu, sorrow. Jangan meniru gayaku, aku sudah sangat terpojok."

"Maafkan aku. Yang terpenting apakah kau suka hadiah itu, blood?"

"Ya, aku sangat menyukainya. Ngomong-ngomong, aku sudah menemukannya, tak kusangka dia ada di sana, dia juga tipeku."

"Oh ya? Kau tidak bermaksud untuk menjadi seorang lesbian kan?"

"Terima kasih kepadamu yang memberikan hadiahnya. Oh, aku telah jatuh cinta, biarkan saja aku menjadi seorang lesbian, sorrow."

"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, blood?"

"Tentu saja. Aku akan melakukan 'itu'."

"Hahaha, aku tahu kau akan melakukannya! Oh, aku ada pekerjaan, selamat malam, blood."

"Malam."

Pip—

Memangnya apa yang aku harapkan?

Blue deep sea–end!

A/n: Terima kasih telah membaca. Tidak banyak yang dapat kau harapkan dari fanfic ini, aku bukan seorang penulis criminal yang hebat loh. Ngomong-ngomong ini adalah kisah sebelum mereka membunuh satu sama lain. Ceritanya akan banyak yang bolong, tapi aku akan berusaha menutup kebolongannya. Review?