A Remake Fic From Mami Ju2E
.
Based On Today, I'm Bidding You Farewell Manga
by: Madarame Hiro
.
Ide cerita milik Madarame Hiro Sensei, dengan penambahan dan pengurangan seperlunya.
.
Main Cast:
Kyuhyun dan Sungmin
.
Other Cast:
Kim Jongwoon (Yesung) dan Kim Ryeowook
.
Warning:
Boys Love, Hints of Sex Activity and Typo (s)
.
enJOY
.
Dendam sudah diputuskan. Aku mulai mengatur rencana, menyusun sebuah skenario agar misiku untuk menghancurkan Kim Ryeowook bisa berjalan dengan sempurna. Kegiatan memata-matai pasangan—ah aku benci menyebutnya—Jongwoon dan Ryeowook aku hentikan untuk sementara waktu. Aku pun mulai mencari tahu semua hal tentang pemuda yang bernama Cho Kyuhyun itu.
Anak tunggal, itu sedikit informasi yang kudapat saat secara tidak sengaja mendengar percakapan para gadis saat aku melewati toilet wanita. Sebelum kalian menuduhku mengintip, akan kujelaskan situasiku, baca lagi kalimatku baik-baik. Saat aku melewati toilet wanita. Ya, begitulah yang terjadi, suara mereka kelewat nyaring dan entah kenapa hari itu adalah hari keberuntunganku, mereka sedang membicarakan Cho Kyuhyun. Satu kesimpulan kudapat, Cho Kyuhyun memang populer di kalangan para gadis. Ini bisa jadi batu sandungan untuk rencanaku nanti.
Pintar, satu lagi informasi yang kudapat saat membaca papan pengumuman di gedung fakultas kami. Cho Kyuhyun adalah satu dari lima mahasiswa yang akan mengikuti kompetisi debat ilmiah mewakili universitas, ia ditunjuk sebagai ketua tim. Kau harus sangat pintar dan jenius untuk diberi tanggung jawab seperti itu, dan Cho Kyuhyun-lah orangnya.
Tampan dan kaya. Meskipun mempunyai kulit yang pucat dan berkacamata layaknya kutu buku alias pemikir yang tak pernah lepas dari hal-hal serius, aku masih menemukan pesonanya yang berbeda bila dibandingkan dengan laki-laki di sekitarnya. Kyuhyun terlihat menawan dengan caranya sendiri, tidak dibuat-buat, begitu natural. Gesture -nya yang terukur dan penuh perhitungan membuktikan bahwa ia adalah seorang yang akan selalu berpikir setiap kali mengambil tindakan. Bukan berarti ia orang yang ribet, ini jelas berbeda. Yang Kyuhyun lakukan terlihat lebih santai namun tetap teratur dan tepat. Hanya dengan memandangi apa yang ia lakukan bisa mengubah cara pandang seseorang mengenai keteraturan tersebut. Wajar jika semua orang ingin dekatnya. Orang yang baik akan membawa pengaruh yang baik pula bagimu. Aku semakin bersemangat mendekatinya.
Tadi aku menyebutnya kaya. Benar sekali. Tapi aku tidak melihatnya mengenakan atribut yang membuatnya terlihat seperti anak orang kaya raya. Secara sepintas kulihat ia begitu sederhana, cara berpakaian, aksesoris yang ia kenakan seperti jam tangan tidaklah terlalu mahal, aku rasa aku pun mampu membelinya. Statusnya sebagai anak orang kayak baru kuketahui setelah aku membuntutinya pulang, ingat aku memiliki keahlian memata-matai seseorang semenjak Kim Ryeowook merebut Jongwoon dariku.
Perjalananku membuntuti Kyuhyun berakhir di sebuah kawasan di pinggir kota yang tidak begitu kukenal. Mobil Kyuhyun berhenti di depan sebuah pintu gerbang bercat hijau lumut dengan ukuran yang sangat besar untuk sebuah gerbang rumah. Pintu gerbang itu pun terbuka, dan yang kulihat hanyalah hamparan rumput hijau yang dibelah oleh sebuah jalan aspal yang tidak kutemui dimana ujungnya. Mobil kyuhyun masuk ke dalam sana, mengikuti jalan aspal tersebut hingga ke ujungnya yang tak bisa ketemui itu, bersamaan dengan itu pintu gerbang besar tadi mulai menutup kembali. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang terlintas dalam bayanganku adalah sebuah mansion. Mungkin jalan aspal tadi adalah jalan setapak mewah menuju pintu rumahnya. Aku merinding ketika membayangkan hal ini, berpikir dua kali untuk melanjutkan rencanaku dan membayangkan bagaimana nasibku jika rencana ini tidak berhasil nanti.
Tapi tekadku sudah bulat, aku sudah melangkah sejauh ini, tidak ada alasan untuk mundur sedikitpun. Apapun yang akan terjadi di akhir rencana ini biar kupikirkan nanti, yang penting Kim Ryeowook harus merasakan pembalasan dariku.
.
-KyuMin-
.
Setelah mengumpulkan semua informasi penting mengenai Cho Kyuhyun, aku pun mulai mengatur strategi, merancang sebuah skenario agar aku bisa mendapatkannya dengan mudah. Aku memulainya dengan mengunjungi tempat-tempat yang selalu dikunjungi oleh Kyuhyun, mulai mendekati satu persatu teman dekatnya hingga akhirnya aku berada dalam lingkaran pertemanan mereka. Semua itu kulakukan dengan sangat mulus, tanpa cacat sedikitpun. Aku mulai merasakan kemenanganku akan semakin dekat.
Pesta hallowen, aku merayakannya bersama mereka dan tentu saja bersama penghuni kampus lain. Dan di sinilah langkahku mulai menapaki tangga yang sebenarnya.
"Hey, kau mabuk?" Aku menyingkirkan botol soju yang sudah kosong dari tangan Kyuhyun, lalu memapah tubuhnya, membantunya duduk di sofa yang berada di sudut aula pesta.
"Kepalaku pusing," jawabnya sambil mengusap-usap kepalanya. "Oh Ming, kau datang bersama kembaranmu? Kalian mirip sekali, hehe." Kyuhyun mulai melantur, kurasa ini saat yang tepat untuk mengeluarkannya dari tempat ini, sebelum ia semakin mabuk dan mengatakan hal yang lebih aneh dan juga sebelum rencanaku digagalkan oleh hal lain.
"Sebaiknya aku mengantarmu pulang, kau sudah mabuk." Kataku sambil membantunya berdiri. "Ugh, kau ini berat sekali." Keluhku sambil mengalungkan tangannya ke pundakku.
"Tapi pestanya belum selesai," rengutnya sambil menatap kerumunan pesta di tengah-tengah aula. "Changmin dan Minho masih di sana."
Aku menatap ke arah dua orang sahabat dekatnya tersebut, mereka masih larut dalam pesta, mungkin juga sudah mabuk seperti teman mereka yang kini sedang bersamaku. "Mereka tidak akan berhenti berpesta sebelum benar-benar pingsan atau lupa diri. Kau harus segera pulang, pesta seperti ini tidak cocok untukmu."
"Wae?" bibirnya mengerucut sambil menatap dua sahabatnya tersebut.
"Karena kau harus pulang. Ayo jalan, aku akan mengantarmu." Kataku mulai menarik tubuhnya bersamaku lalu meninggalkan pesta itu dan segala hiruk pikuknya.
.
.
.
Aku mengantarnya pulang. Pulang ke dalam pelukanku.
.
-KyuMin-
.
Sandiwara itu kumulai. Kami berakhir di sebuah hotel. Kyuhyun sudah tidak sadar diri ketika aku memesan kamar untuk kami berdua. Dengan bantuan petugas hotel aku membawanya ke kamar.
"Nah, Cho Kyuhyun. Sekarang kau harus membantuku. Ok?" aku tersenyum penuh kelicikan.
Kyuhyun berbaring di atas ranjang, tidak sadarkan diri. Lalu aku naik ke atasnya, duduk di atas pangkuannya dan mulai melepas satu persatu kancing bajunya. Aku melepas bajunya, disusul celananya dan pakaian dalamnya. Aku harus memastikan bahwa ia benar-benar telanjang besok pagi. Setelah melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya, aku melempar pakaian-pakaian tersebut di sekitar ranjang, agar semua ini terlihat meyakinkan.
"Sekarang giliranku," kataku ketika bangkit dari pangkuannya.
Aku pun segera melepas semua pakaianku dan membuat diriku sendiri telanjang seperti Kyuhyun, kemudian aku juga melempar pakaianku ke sekitar ranjang, agar semakin meyakinkan. Tak sampai di situ, aku pun mengacak-acak selimut dan bed cover ranjang tersebut, membuatnya terlihat berantakan seolah ada aktivitas liar di sana.
Puas dengan hasil karyaku, aku pun segera bergabung bersama Kyuhyun di atas ranjang. Aku menarik tangannya lalu meletakkannya di pinggangku sehingga terlihat bahwa ia sedang memelukku. Setelah itu aku menarik selimut dan menutupi tubuh kami hingga sebatas pinggang dan memastikan tubuh kami saling bersentuhan hingga esok paginya.
.
-KyuMin-
.
Keesokan paginya aku terbangun dan menemukan Kyuhyun sedang berjalan mondar mandir seperti orang panik di dekat ranjang. Untuk beberapa saat aku hanya memandanginya, dalam hati menertawakan wajah bodohnya yang mungkin saja sedang mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam.
"Kyu," panggil dengan suara serak layaknya orang yang baru bangun tidur.
Kyuhyun terkejut dan berhenti berjalan, dengan hati-hati berputar menghadapku. Ya Tuhan, wajah itu semakin pucat. Aku ingin tertawa melihatnya.
"S-sungmin?" katanya terbata-bata, matanya melebar saat melihatku. Aku hanya berselimut hingga sebatas pinggang, mungkin saja ia shock melihat tubuh indahku. Hohoho!
"Selamat pagi." sapaku dengan senyum termanis meski itu hanya akan membuatnya merasa terguncang. Memang itulah tujuanku.
"Pa-pagi." balasnya masih terbata-bata.
"Apa yang kau lakukan di situ? Kemarilah, temani aku." Kataku sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahku.
"M-ming...s-sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanyanya padaku.
"Hm?" aku memiringkan kepalaku sejenak, "Maksudmu apa?"
Kyuhyun mengarahkan tangannya ke sekeliling kamar, "Ini semua apa? Apa yang terjadi?"
Aku menatapnya dengan heran, akting dimulai. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Memangnya apa terjadi jika kita seperti ini? Kau aneh, Kyu."
"Tidak, tidak, kau harus menjelaskan padaku. Atau sebaiknya kau mengatakan apa yang sebenarnya. Apa yang terjadi?"
Keningku mengkerut, terus menatapnya dengan bingung, "Bukankah apa yang terlihat di sekitarmu sudah mengatakan apa yang terjadi malam tadi."
"Tidak mungkin, kita tidak mungkin—"
"Kita melakukannya, Kyu. Kau dan aku bercinta semalam."
"Ta-tapi—"
"Wae, Kyu? Kau mau menarik kata-katamu semalam?" wajahku berubah murung, seperti anjing kecil yang ditendang oleh majikannya. "Ja-jadi semua yang kau katakan itu tidak benar? Semua itu bohong?"
Akulah yang berbohong.
Kyuhyun semakin panik, "Memangnya apa yang kukatakan?" tanyanya hati-hati.
Aku meremas selimut hotel yang menutupi separuh tubuh telanjangku dengan kuat, berakting seperti seseorang yang dibuang setelah dimanfaatkan.
"Kau tidak ingat?" gumamku semakin sedih, mataku mulai berkaca-kaca. "Kau selalu mengucapkannya setiap kali kau menyentuhku tadi malam."
"A-apa?!"
"Jangan-jangan kau hanya berbohong agar kau bisa menikmatiku tubuhku."
"Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu!" bentak Kyuhyun tidak terima.
"Lalu kenapa bertanya seperti itu padaku?" balasku tak mau kalah. "Kau bertanya seperti itu seolah tidak mengakui apa yang sudah terjadi di antara kita. Kau sudah menyakitiku, apa kau tahu itu?"
"Sungmin, aku tidak bisa mengingat apa-apa."
Aku menatapnya tidak percaya, lalu menutup mulutku dengan kedua tanganku, aku menangis.
"Sungmin...aku—"
"Bagaimana bisa kau lupa? Kau sudah berjanji akan mengingat semua ini ketika kita bangun nanti. Kau sudah janji, Kyu." Kataku sambil terisak.
Kyuhyun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, aku semakin gencar menyudutkannya.
"Semalam kau mabuk, lalu aku mengatarmu pulang. Kau bilang kau mau ke hotel saja karena rumahmu terlalu jauh. Lalu aku mencarikanmu hotel dan memesankan kamar untukmu. Setelah mengantarmu ke kamar, aku memutuskan untuk pulang, tapi kau menahanku. Kau tidak mengizinkanku pulang. Lalu kau mengajakku untuk melakukan itu, aku menolak tapi kau terus membujukku. Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku, kau mengatakannya dengan tulus, aku mempercayainya. Dan...dan setelah itu kita melakukannya."
"Tidak mungkin..." bisik Kyuhyun masih tidak percaya.
"Tidak mungkin apanya? Huh? Kau pikir aku membohongimu? Apa untungnya bagiku jika aku berbohong padamu?" tangisku kian pecah. Aku segera bangkit dari ranjang, dan dengan tiba-tiba aku menjerit sakit. "Akhh!"
Kyuhyun segera bergegas menghampiriku. "Sungmin? K-kau kenapa?"
"Sa-sakit..." kataku sambil meringis, "Di bagian itu masih terasa sakit, Kyu." Lanjutku dengan wajah kesakitan.
"A-apa aku menyakitimu?"
Aku berusaha tersenyum, lalu menggelang, "Tidak, kau tidak menyakitiku. Semalam kau cukup lembut, aku bisa menikmatinya." Jawabku.
"Sungmin..."
"Tidak apa-apa, Kyu. Aku mengerti. Kau mabuk dan itu mengacaukan pikiranmu. Mungkin kata cintamu bukan untukku, tapi untuk orang lain." Aku mengusap air mataku lalu menyentuh tangannya. "Kita anggap saja ini tidak pernah terjadi, jika memang itu yang terbaik. Aku juga tidak mau membuatmu merasa seperti ini. Aku juga salah, seharusnya aku bisa mencegah semua ini terjadi, karena akulah yang paling sadar di antara kita berdua. Aku hanya terbawa perasaan, kupikir cintaku berbalas, ternyata..." aku terdiam.
"Kau menyukaiku?"
Aku mengangguk, "Aku selalu menyukaimu, Kyu. Oleh karena itu aku selalu ingin berada di dekatmu. Sebelumnya aku tidak pernah peduli kau akan membalas cintaku asalkan aku selalu bisa melihatmu," aku mengucapkan kata-kata yang seharusnya aku ucapkan untuk Jongwoon, "tetapi ucapanmu kemarin malam membuatku berharap kembali. Aku betul-betul bahagia ketika mendengarnya, hingga aku putuskan untuk menyerahkan diriku seutuhnya padamu." Air mataku kembali jatuh, oh aktingku memang luar biasa. Kyuhyun semakin tergugah mendengar kebohonganku.
Ia mengusap air mataku, lalu menangkup wajahku dengan kedua tangannya, "Maafkan aku, aku sudah menyakitimu. Aku benar-benar minta maaf, Ming."
"Tidak apa-apa. Aku akan selalu memaafkanmu."
"Jika memang itu yang kuucapkan, maka aku tidak akan menariknya kembali." Katanya sambil mengusap pipiku dengan ibu jarinya, "Aku tidak akan membiarkanmu bersedih. Kita akan mencobanya, Ming. Kau dan aku."
"Benarkah?" senyumku mulai merekah. Kena kau, Cho Kyuhyun!
"Ya," ia mencium keningku.
"Kau tidak bohong kan?" aku memastikan.
"Tidak, aku serius."
Aku pun menangis kembali, kali tangis bahagia yang benar-benar datang dari dalam lubuk hatiku, tangis bahagia karena kemenangan sudah berada dalam genggaman tanganku. Tangis bahagia karena kehancuran Kim Ryeowook sudah ada di depan mata. Aku tidak bisa menyembunyikan senyum licikku.
Kyuhyun memelukku dan dengan itu dimulailah hubungan pura-pura ini.
.
.
.
Tbc
.
Sungmin jahat y? Jd kasihan sama Kyuhyun D:
Okeh, sampai ketemu di chapter selanjutnya.
Sebelum lebaran?
Usahakan jangan ada siders. ^^v
.
-NO COPAST KAY!-
.
-Mami Ju2E-
