Sakura
Segera setelah bangun, Ia langsung menuju kamar tamunya. Membuka pintu perlahan dan mendapati Sasuke-nya masih tertidur lelap.
Sasuke-nya masih sama seperti dulu, yang ketika tertidur maka posisinya akan statis memeluk erat guling, tidak berubah. Yang ketika tidur, rambut kelamnya menjadi lebih liar diikuti nafasnya yang teratur, juga tidak berubah. Yang ketika tidur, selimutnya hanya akan sampai menutup pinggangnya, juga tidak berubah. Tidak ada yang pernah berubah dari Sasuke-nya. Sekali lagi tidak ada.
Begitupun dengan kebiasaannya yang akan selalu bangun pukul enam pagi tepat.
Sakura melirik jam meja yang tepat bersebelahan dengan lemari kecil di kamar tersebut. 15 menit lagi menuju pukul enam.
Sebentar lagi Sasuke akan terbangun dan Ia sebaiknya menyiapkan sarapan.
Sakura kemudian menutup kembali pintu tersebut dengan senyum kecil. Paginya indah dan semoga saja akan terus begini.
Hinata
Hinata mengerjapkan matanya berulang-ulang.
Secara alami, Ia segera mencari ipodnya dengan mengikuti ujung dari kabel headsetnya, mengecek jam, kemudian mendapati bahwa Suna belum mencapai pagi, masih pukul empat.
Pantas saja alarmnya belum berkoar.
Memutuskan untuk tidur kembali, Hinata mencoba menutup matanya. Setelah lima menit mencoba, Hinata menyerah. Ia memang sudah terbiasa untuk terbangun pada pukul sebegini sewaktu di Konoha. Meskipun jika saja Hinata ada di Konoha, pasti lain ceritanya. Jika di Konoha, Ia pasti sudah bersiap untuk bekerja. Perbedaan waktu sejam antara Konoha dan Suna ternyata belum membuat Hinata secara biologis terbiasa. Tapi Ia pasti bisa untuk terbiasa.
Ia akan terbiasa. Ia sudah menetapkan agar Suna menjadi rumah barunya.
Tidak bisa tertidur, Hinata akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan menatap langit-langit kamarmya. Secara otomatis, Ia kemudian teringat dengan kotak bekas ramen yang telah Ia sembunyikan di cellar apartemen lamanya.
Hinata mencelos.
Tidak ingin menjiwai makna celosannya barusan, Ia memutuskan untuk bangkit. Ia tidak mau lagi diperdaya oleh otaknya yang akan secara sengaja memutar memori yang ingin dibuangnya.
Pagi itu sebelum bersiap bekerja, Hinata memutuskan untuk mengatur bukunya. Buku kesayangannya yang akhirnya sampai kemarin malam. Hinata menatap sayang ketiga kardus besarnya tersebut kemudian mendapati note kecil dari Ino.
"Aku tidak mau tau, pokoknya ketika kau kembali ke Konoha, kau harus mentraktirku perawatan penuh di salon milik Sakura. Ngurusin buku kamu, susah tau X("
Hinata cuma bisa tersenyum kecil seakan ingin menjawab secara lisan ke Ino, sebelum akhirnya terdiam. Dengan mood yang sedang baik, Hinata mendapati buku Tuf Voyagenya tergeletak di bagian paling muka dari kardus pertama yang Ia buka subuh itu, berbeda dengan yang ada di kardus dalam cellar, buku Tufnya yang ini tersampul plastik dengan rapi.
Senyumnya menghilang.
Niatannya untuk tetap tinggal di Suna semakin kuat.
Sasuke
Sasuke dapat mendengar suara pintu dibelakangnya tertutup kembali. Sakura pasti hendak ke dapur, pikir Sasuke. Matanya Ia buka kembali.
Tercatat sudah hampir sejam lalu Sasuke terbangun. Menghabiskan waktu hampir sejamnya untuk memikirkan apa yang terjadi semalam.
Orangtuanya memang tidak pernah memaksanya untuk urusan ini, namun Ia tidak dapat menjamin semua itu ketika kelak Itachi menikah empat bulan kedepan.
Gilirannya untuk ditanya ini-itu oleh orang tuanya pasti akan segera datang juga.
Ia memang sudah memiliki Sakura sebagai tunangannya. Rasa cinta Sasuke ke Sakura pun tidak bisa ditukar dengan benda apapun didunia ini. Sasuke yakin dengan hal tersebut.
Hanya saja, menikah?
Larut dengan pemikirannya, Sasuke kaget ketika alarmnya berbunyi halus menandakan pagi betul-betul sudah datang. Sudah pukul enam. Sasuke pun bersegera bangkit. Merasa pegal dengan posisinya yang hampir tidak berubah.
Sasuke menggerutu, lagipula sejak kapan siklus tidurnya berubah?
Ah Sasuke lupa.
Semenjak gadis itu datang dan memporak-porandakan apartemennya.
.
.
.
.
.
Chapter 3 from The Journal of Room 615
Always In My Head
All characters belong to him
Ruangan itu sangat luas, ada jendela besar yang memperlihatkan Suna yang berpasir. Suasana didalamnya hening. Hanya ada Hinata dan bos barunya. Samar-samar Hinata mampu mendengar tetesan air dalam aquarium di dalam ruangan tersebut. Matanya menunduk, namun sekali-kali mengintip gerakan tangan bos barunya itu lewat sela-sela poninya. Bos barunya itu terus menerus membalik CV dan resume yang dibuat Hinata.
"aneh" gumam bos Hinata.
Hinata hanya terdiam, pelan-pelan Ia mencoba untuk menelan ludahnya, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara didepan bos suaranya. Kepalanya tertunduk. Setelah mendengar perkataan bosnya barusan, Hinata makin menundukkan kepalanya.
"apa setiap kali berbicara dengan atasanmu di Konoha kau harus menunduk?"
Hinata sigap menegakkan kepalanya, kembali menatap lurus atasan barunya. Tidak tepat ke matanya sih, hanya sampai dahinya. Tato Ai-nya yang terkenal seantero bumi menjadi fokus pandangan Hinata. Hinata belum kuat menatap langsung mata bosnya.
"dan kini kau hanya menatap dahiku"
Hinata kembali bergerak gelisah, kemudian Ia turunkan pandangannya, menatap langsung mata bosnya. Hijau dan bening. Persis mata Sakura-san.
Bosnya terdiam sesaat dan kemudian mengganti topik pembahasan.
"kau terlambat, dan aku tidak suka dengan kata terlambat"
Hinata merasa sedikit lagi jantungnya lepas. "Lain kali tidak akan saya ulangi lagi, Sabaku-san. Maaf" Hinata mampu merasakan ada aliran keringat menurun dari pelipisnya.
Gaara kemudian membuat panggilan. Tak berapa lama kemudian, muncul seseorang yang Hinata kenali sebagai kakak dari bos barunya. "Hinata! Lama tidak berjumpa!"
Hinata yang merasa bahunya ditepuk dari belakang segera menoleh. Kankuro dengan model rambut coklatnya yang telah dipotong pendek dan face-art ungu di wajahnya menatap hangat Hinata dengan senyumannya.
Kankurou setidaknya hampir tidak berubah. Pikir Hinata sambil membalas senyuman Kankurou.
"Ayo! Kita sedivisi di bagian desain" Kankurou menggandeng lengan Hinata. Kemudian menyengir pada Gaara "Selamat bekerja otouto-chaaaan~"
Hinata yang digamit lengannya, kemudian juga ikut tersenyum ke arah Gaara.
"Kalian berdua pergilah", ditatap oleh dua orang tersebut, Gaara menyerah. Acara menegur Hinata bisa dilanjutkannya nanti. Dia juga masih harus mengurus bisnis ini itu, stress ini itu.
Hinata kemudian akhirnya keluar dari ruangan tersebut dengan helaan nafas lepas.
Kankuro hanya memandang Hinata sambil kembali tersenyum pendek. Hinata yang tidak pernah berubah semenjak Ia mampu mengingat masa kecilnya.
Kankuro tersenyum lagi. Hari-harinya dan adiknya pasti akan segera berubah.
Hinata telah kembali.
Dan semoga semua kebahagiaan dan sinar matahari menyertainya.
.
.
.
.
.
Setelah hampir tiga bulan bekerja di Sabaku Entertainment, Hinata sudah mulai banyak membiasakan diri dengan perbedaan waktu dan pola makan orang-orang di Suna. Hari-harinya sebagai bawahan Kankurou di bagian desain membuatnya sedikit bisa santai. Hinata selalu bersyukur dengan keluwesan sekaligus kesabaran yang dimiliki Kankurou. Tren desain apalagi untuk entertainment audio-visual yang dimiliki oleh Konoha dan Suna sangat berbeda, meskipun secara geografis kedua Negara ini berdekatan dan hanya terpisahkan oleh selat. Dan Kankurou juga dengan sabar mengajarkan Hinata cara membaca kebutuhan hiburan yang diinginkan oleh masyarakat Suna. Satu per satu hingga akhirnya Hinata mulai paham.
Mulai kerasan.
Dan mulai mencintai Suna.
Hinata juga sudah mulai terbiasa bangun dengan efektif, sudah paham jalan pintas ke pusat-pusat keramaian Suna dan tentu saja Hinata sudah mengetahui toko makanan mana yang tetap membuka jasa delivery ketika badai pasir datang. Pada intinya, Hinata baik pikiran, tubuh, dan hatinya telah terbiasa dengan Suna. Ia mulai melupakan kerindangan Konoha, kebisingan Ino, dan….
Semua kenangannya yang berton-ton di ruangan 615.
Kenangan di Konoha Entertainment
Kesusahan mempertahankan gagasan untuk mendebutkan Sharpie.
Dan tentu saja,
Sasuke.
Hinata termangu, kaget mendapati dirinya yang mulai melupakan kapan terakhir kali Ia mematung dan menangis di luar kesadarannya hanya karena secara acak otaknya memikirkan Sasuke.
Hinata bahkan telah lupa kapan Ia betul-betul memikirkan Sasuke.
Yang Hinata pikirkan hanya beberapa list pekerjaan yang harus dilakukannya. Utamanya sekarang, Ia sudah harus memulai membuat laporan pertamanya untuk observasi perubahan tren yang baru-baru ini terjadi di Suna.
Mungkin bila diberi waktu lebih lama, Hinata akan benar-benar kebal dengan Sasuke.
HAHAHAHA.
"Hinata, sudah waktunya makan siang. Mau ikut dengan kami tidak?"
Hinata mendongak dari biliknya, sadar dari pikiran kosongnya barusan, kemudian tersenyum mendapati gerombolan geng divisi periklanan, "Hari ini tidak bisa, aku harus reuni dulu dengan teman lamaku", bahkan saking kerasannya Hinata disini, Ia sudah tidak pernah lagi tersendat jika harus terlibat interaksi dadakan dengan pegawai lain. Gerombolan makan siangnya kemudian perlahan menghilang.
Perlahan keramaian akhirnya benar-benar sudah tertelan dari lantai kantornya, Hinata kemudian melirik jam tangannya, pukul 12.30 tepat dan secara bersamaan hapenya telah berdering. Video call dari Ino. Ino-nya di Konoha. Hinata akhirnya bisa reuni kecil-kecilan dengan Ino. Hinata bisa melihat sahabatnya setelah hampir pula tiga bulan tidak bisa berhubungan dengan intens. Ino jelas terlihat kurusan.
"kau terlihat makin gemuk, Hinata" Ino memulai pembicaraan. Matanya jelas terlihat bergolak, berkilat menahan kangen.
"Dan kau terlihat kurusan Miss Ino, gara-gara kerja atau patah hati?" Hinata bisa melihat dengan jelas Ino yang sebentar lagi akan menjadi drama queen bila tidak segera dihentikan.
"Tidak keduanya Hin. Hanya saja orang-orang di divisi sedang sibuk merancang busana untuk pernikahan Itachi-san bulan depan"
Ah Hinata lupa kalau Itachi-san akan menikah. "Terus, hubungannya denganmu?"
"Yaaa kau tau kan, Ino the Princess, aku diminta merancang busana seragam untuk divisiku. Bahkan Kurenai-sensei sendiri yang meminta. Bayangkan Hin!"
"Astaga Ino!"
"Aku jelas sudah mendapati the leading innovation for fashion, Hin! Hahahahaha"
Tidak terasa sejam habis hanya untuk Ino dan sekotak bento yang telah Hinata persiapkan sebelumnya. Mulut Hinata pegal karena terlalu banyak tertawa, hatinya yang awalnya berat dengan banyaknya list pekerjaan perlahan meringan.
Meskipun Ino dengan begitu banyaknya sifat menjengkelkan yang Ia punya, statusnya sebagai stok utama perubah mood tidak akan pernah berubah di hati Hinata.
Ino mampu membuatnya lebih baik dan lebih bahagia.
Sayang, Hinata tidak tau kapan kemudian Ia akan mampu bertemu lagi dengan gadis pirang tersebut. Bahkan setelah habis video call dengan Ino pun Ia merasa tidak cukup. Harus bertemu. Tapi kapan?
.
.
.
.
.
"Hinataaaaa!"
Saat berbalik, Hinata bisa menemukan kepala Kankurou menyembul dari atas biliknya, memandang Hinata dengan tatapan memelas. Badannya yang tegap perlahan muncul sebagian. Hinata, setelah berbulan-bulan bekerjasama dengan pria diakhir 20an ini paham betul arti tatapan tersebut.
"Ya bosss, ada apa? Apa lagi yang harus aku antar?"
Kankurou nyengir sebentar sembari bangga dengan intuisi Hinata yang tidak pernah berubah, "Laporan ini bisakah kau antarkan ke hotel Mirai? Temari membutuhkannya untuk presentasi dihadapan investor baru"
"dan kenapa bosku yang satu ini tidak bisa mengantarnya sendiri dengan mobil sport barunya?"
"Mirai kan tidak terlalu jauh dari kosanmu Hin, aku buru-buru, Tenten…."
Hinata menaikkan alisnya, kaget dengan perubahan mendadak di wajah bosnya, ada detakan tidak pasti yang muncul di dadanya ketika dilihatnya Kankurou tersendat seperti itu. Kankurou yang ditatap seperti demikian, tidak lama melanjutkan kembali perkataannya,
"Dia akhirnya sempat ke sini, dan ku rasa aku tidak mungkin menolak ajakan dinnernya, yaaaa kau tau kan?"
Hinata bisa merasakan detakan jantungnya makin cepat, dan tanpa pemikiran panjang lagi, Ia hanya tersenyum sambil merebut laporan yang tersembunyi di balik tangan kankurou. Bingung dengan reaksi badan dan detakan jantungnya.
.
.
.
.
.
Hotel Mirai, tiga jam setelahnya.
Hinata bisa merasakan atmosfer disekitarnya makin menipis, Ia tidak mampu menarik dan membuang nafasnya seluasa yang bisa Ia lakukan di lobby tadi. Dengan pria bermata kelam didepannya ini, Ia bahkan tidak perlu menatap malam yang menjadi latar berdirinya. Hinata mungkin bisa menyadarkan dirinya bahwa ini pasti hanyalah mimpi.
"Datanglah Hinata, semua orang di Konoha merindukanmu"
suaranya terlalu nyata, ini jelas bukan mimpi. Denyut jantungnya yang makin kencang dan dalam memberikan sakit tersendiri ke tubuh Hinata. Kombinasi tersebut membuat Hinata makin percaya bahwa ini memang bukan mimpi. "Apa maksud anda Uchiha-san?"
"Hei! Dan sekarang kau memanggilku dengan nama belakang, apa hubungan kita sudah mundur terlalu jauh?" Pria itu jelas menyengir kemudian tersenyum jahil menggoda Hinata.
"Bukan begitu…" Hinata bisa merasakan kepalan tangannya menguat, Ia mungkin sebentar lagi akan pingsan.
"lalu kenapa?" Laki-laki itu memandang Hinata lagi, tidak ada lagi tatapan nyengir seperti tadi, kini berganti dengan tatapan kasihan dan rindu, "Aku tidak menerima alasan apapun, datang saja. Kau bisa melihat sendiri kapan itu akan dilaksanakan di internet, aku akan memasukkan namamu di daftar undangan resmi"
Hinata merasa bahunya ditepuk, pria itu akhirnya pergi. Perlahan meninggalkan Hinata dengan tubuhnya yang membeku.
"dan bila kau masih ragu, aku bisa saja membatalkan perjanjian investasi ke Suna barusan"
Hinata tercekat, Ia kali ini benar-benar tidak punya pilihan.
Uchiha memang tidak pernah berubah.
Tbc
Halo halo semua!
Sebelumnya terima kasih karena masih sempat membaca ffn ini dan kemudian mereviewnya.
Jujur saya senang membaca makin banyak review yang positif tapi saya juga tidak menegasikan yang mereview sebaliknya.
Mungkin masih banyak yang ngereview tentang pair mana yang akan muncul, tapi mohon maaf sekali lagi karena saya belum bisa membeberkan karena pertimbangan ini itu, termasuk rancangan akhir cerita yang belum sepenuhnya selesai.
Mohon maaf juga bagi yang sudah follow tapi kemudian harus nunggu lama kelanjutan ffn ini.
Saya berusaha semaksimal mungkin untuk menulis hanya saja banyak tugas akademik. Maaf yaaaa.
Saya masih mengharapkan review dari teman-teman semua agar cerita ini masih bisa lebih bagus lagi kedepannya.
Oh iya, kadang-kadang saya juga sering nulis dikit-dikit di .com, mungkin kita bisa saling share di media tersebut? Hehehe
Salam hangat!
Hinataw.
Tambahan
Ternyata sangat banyak yang mempermasalahkan tentang pair, dan akhirnya saya juga berpikiran untuk lebih baik memfixkan permasalahan ini secepat mungkin. Maaf bila saya perlu mengambil banyak waktu untuk permasalahan ini. Saya sendiri meskipun sudah mengenaL ffn semenjak lama tapi sama sekali tidak mengetahui soal pair war.
Kemudian untuk permasaalahan eyd dan peraturan lain akan saya perhatikan lebih lanjut kedepannya. Terima kasih untuk sarannya.
Bagi yang mau bertanya soal pair atau hal lain yang tidak berkenaan dengan alur cerita, kalian bisa kok PM saya. Saya terbuka dan orangnya woles aja.
Makasih sekali lagi :)
